Rapat Presidium

22/01/2014 at 15:34 (novel)

Setiap hari, kantor Românã Associatio Pro Transvehendis Itinerantibus Missionariis, atau yang lebih dikenal dengan PT RAPTIM, sudah sangat sibuk. Tetapi pagi itu staf PT Raptim beberapa kali lipat lebih sibuk. Mereka seperti tidak sempat bernapas. Secara mendadak, anggota presidium Konferensi Waligereja Indonesia harus datang ke Jakarta, untuk rapat di kantor KWI, yang masih satu komplek dengan kantor PT RAPTIM. Mereka ada yang datang dari Padang, Palangkaraya, Semarang, Kupang, Maumere, Palembang, Sintang, Makasar, dan Jayapura. Semua tiket pesawat mereka, harus diurus serentak oleh staf PT RAPTIM. Tetapi mereka sudah biasa seperti itu. Sekarang ini hanya anggota presidium yang tiba-tiba akan ke Jakarta. Dulu, entah kapan, secara mendadak semua uskup harus segera datang ke Jakarta. Lalu kalau ada peristiwa penting, misalnya ketika Paus Yohanes Paulus II wafat, tiket perjalanan uskup yang akan ke Vatikan, juga harus mereka urus. Maka, sesibuk apa pun, sepadat apa pun pekerjaan itu, mereka tetap menjalankannya dengan ringan.

Namun kesibukan staf PT Raptim, juga staf KWI, kali ini, juga dipicu oleh merebaknya informasi tentang kedatangan Tuhan Jesus ke dunia, bahkan lebih spesifik lagi ke Indonesia. “Kalau Tuhan Jesus kembali datang ke dunia, berarti dunia akan kiamat ya tante? Iya kan? Aduh bagaimana ya kita semua? Berarti dunia akan binasa, kantor ini, rumah kita, orang-orang yang kita kasihi, semua akan binasa bukan? Padahal aku ini belum nikah lo Tante? Bagaimana ya? Tanganku sampai gemetar lo. Mencet-mencet HP dan komputer sampai salah-salah melulu. Bagaimana ya Tante? Mengapa Tante tenang-tenang saja? Ya jelas tenang ya Tante? Kan Tante sudah menikah, sudah punya anak. Lha aku ini bagaimana ya Tante? Pacar aku jauh lagi. Dia sekarang kan ada di Jayapura Tante. Apakah lebih baik aku menyusul dia ya? Tapi ini aku harus menginsud tiketnya Monsinyur Padang. Bagaimana ya Tante? Apa aku mengajukan cuti saja ya Tante?”

“Ah embuh Tien! Aku tenang karena imanku kuat. Wong Tuhan Jesus datang kok kamu malah panik. Kalau yang datang itu Lucifer, rajanya para setan, kamu takut itu bisa dimengerti. Kamu itu aneh kok Tien. Malah mau nyusul pacar segala macam. Kamu sudah gatel ya? Kenapa tidak segera nikah saja? Tuhan Jesus datang ya mestinya kita semua senang. Ini Tuhan Jesus datang kan bukan dalam rangka kiamat, melainkan dalam rangka memantau Pemilu. Kamu tahu kan Tien, Indonesia itu negara Muslim terbesar di dunia. Bukan Arab lo Tien. Arab itu penduduknya sedikit. Makanya Presiden Barack Obama menjadi presiden Amrik, itu juga kehendak Tuhan Jesus lo Tien. Maksudnya, supaya Amerika memperbaiki hubungan dengan negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Maka Allah Bapa kemudian mengutus Puteranya untuk memantau Pemilu di Indonesia. Sebab Pemilu di negeri Muslim terbesar di dunia ini sangat penting di Mata Allah. Kamu itu kok malah mengait-ngaitkan kedatangan Tuhan Jesus dengan kiamat to Tien? Bikin Tante ikut takut kamu ini!”

“Iya itu Tante. Titien itu memang bawel kok. Sudah dibilang kita semua sedang sibuk kok dianya ngajak ngrumpi terus. Ini tiket Monsinyur Ambon juga masih belum beres. Lo, dia bukan ikut rapat kok Tante. Dia mau ke Paris, katanya ada sidang apa soal HAM gitu lo Tante. Ini tiketnya Suster Lusi juga kacau. Dia mintanya flight pukul 08.00. tapi kan jadi tidak nyambung dengan yang Balikpapan – Tarakan ya Tante? Itu Joko juga ngaco. Johanesburg kok dia bilangnya di Argentina. Kan di Afrika Selatan ya Tante? Ah aku mau ke kantin dulu ah. Kok jam segini sudah laper ya Tante? Nanti kalau ada telepon tolong suruh kontak ke HP ya Tante? Itu Tony kalau terima telepon untuk aku sukanya dicuekin, langsung ditutup begitu saja. Dia kan sentimen sama aku Tante. Itu Si Titien kok ribut terus soal kiamat itu kenapa sih Tante? Emangnya film apa itu yang tentang Tuhan Jesus itu? Pasion-pasion begitu itu, bukannya dilarang diputar di sini? Lho, ini tadi  bukan soal film to Tante?”

“Dasar yang bego ya Cisca itu ya Tante? Masak dia kagak tahu kalau Tuhan Jesus telah datang? Dia kan selalu pamer, mentang-mentang cowoknya di Frankfurt. Dia kan kagak tahu kalau disono cowoknya sudah digaet cèwèk Jerman. Tangan aku masih terus gemeteran lo Tante. Itu Bapak-bapak Uskup itu akan berapa hari sih di sini? Kok ini Monsinyur Palembang hanya nginep semalam? Ya ini mintanya sudah ada flight ke Palembang lagi? Berarti kan hanya semalam beliau di Kemiri. Tante, tadi malam liat tivi kan? Beritanya banyak tapi kok gambarnya hanya yang dari Bali itu melulu ta tante? Ya itu tentang kedatangan Tuhan Jesus itu lo Tante. Ah Tante ini memang Jaka Sembung, nggak pernah nyambung kalau aku ajak ngomong. Tapi kalau dengan Mas Joko kok nyambung terus sih Tante? Sekarang di mana ya Tuhan Jesus itu? Kata penyiar tivi, di Bali tidak ada. Apa sudah di Jakarta ya Tante? Kalau di Jakarta aku pengin ketemu lo Tante!”

“Ketemu Tuhan Jesus Tien? Itu kan artinya mati? Emangnya kamu udah mau mamphus Tien? Aku sih emoh. Hiii, serem Titien ini. Mati kok seneng. Katanya tadi takut kiamat, katanya tadi takut semua binasa. Kok lalu mau ketemu Tuhan Jesus? Tadi katanya kalau Tuhan Jesus datang berarti kiamat. Kalau Tuhan Jesus sudah ada di Jakarta, berarti Jakarta kiamat dong Tien? Emangnya kata Kitab Suci begitu ya Tante? Emangnya Tante tahu kalau di Kitab Suci dibilangnya begitu? Kok Tante hafal sih isi kitab suci? Mana Tante, oooo, apa ini Tante? Konkordansi Kitab Suci, ooo, ada kamusnya to? Ya jelas Tante bisa hafal, ada kamusnya kok. Curang, Tante curang! Aku juga bisa kalau cuma baca disitu. Tetapi memang benar ya Tante, kalau Tuhan Jesus datang lalu kiamat? O, terbalik ya Tante? Kalau kiamat maka Tuhan Jesus datang ya? Untuk mengadili orang hidup dan orang mati? Semua orang mati akan bangkit dari kuburnya? Termasuk fosil Pithecanthropus erectus itu ya Tante?”

* * *

Pembahasan tentang kedatangan Jesus Kristus dalam rapat Presidium KWI, berjalan dengan sangat cepat. Tidak ada ketegangan sama sekali, tidak ada perdebatan. Diputuskan bahwa KWI akan mencermati berita-berita tentang Kedatangan Jesus Kristus yang dilansir oleh media massa. KWI berpendapat, berita itu belum tentu benar. Semua masih sangat sumir. Sebab bisa saja Kantor berita Reuter sedang ingin mencari sensasi, lalu menyiarkan foto-foto yang sudah diolah secara digital, hingga seakan-akan Jesus Kristus telah mendarat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Bisa pula foto itu otentik, namun orang yang wajahnya mirip dengan Jesus kan banyak sekali. Bahkan, sampai sekarang, Gereja Katolik sendiri tidak pernah bisa memutuskan, seperti apakah wajah Jesus itu. Sebab lukisan-lukisan dan patung Jesus, kebanyakan berasal dari abad pertengahan, sementara Jesus hidup pada awal milenium.

Masih menurut KWI, kisah kehidupan Jesus lebih merupakan peristiwa iman, dan bukan peristiwa sejarah. Sumber peristiwa iman itu adalah Kitab Perjanjian Baru, terutama empat Injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Keempat Injil ini, baru ditulis antara tahun 50 sampai dengan tahun 90, sementara Jesus sudah wafat pada tahun 33. Dalam keempat injil itu juga tidak ada diskripsi yang cukup jelas tentang wajah Jesus. Peninggalan arkeologis dari sekitar abad I SM dan Abad I M, juga sama sekali tidak memberi petunjuk, bagaimanakah wajah Jesus. Hingga KWI sama sekali tidak berani memberi konfirmasi, apakah yang diberitakan mendarat di Bandara Ngurah Rai, benar Jesus atau bukan. Dalam hal ini, KWI akan terus berkonsultasi dengan Tahta Suci, baik langsung dengan Bapa Suci, maupun dengan Kuria Roma, agar tidak terjadi kekeliruan dalam menyikapi pemberitaan tentang Jesus Kristus belakangan ini.

Kalau Konferensi Wali Gereja Indonesia, lembaga tempat para uskup bermusyawarah guna mengambil keputusan sudah memberikan keterangan kepada publik, maka Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia sama sekali tidak mengeluarkan pendapat. PGI diketahui telah mengundang gereja-gereja yang menjadi anggotanya, untuk berkumpul di Kantor PGI di Jalan Salemba Raya, Jakarta, tetapi usai pertemuan itu, sama sekali tidak ada penjelasan apa pun. Menurut salah seorang Pendeta, pemimpin salah satu gereja di Sulawesi, PGI belum menganggap perlu untuk mengomentari pemberitaan mengenai kedatangan Jesus Kristus yang banyak dilansir media massa. PGI hanya akan menghimbau, agar umat Kristen Protestan tetap berpegang teguh pada Iman Kristiani, yang hanya bersumber pada Kitab Suci. Masalah keagamaan yang berada di luar konteks kitab suci, tidak perlu ditanggapi dengan emosional. Dalam waktu dekat ini, PGI juga akan berkonsultasi dengan Dewan Gereja-gereja Sedunia, agar ada koordinasi dalam penentuan sikap.

Rapat KWI malah mengalokasikan waktu cukup banyak, untuk membahas kondisi politik nasional menjelang Pemilihan Umum untuk memilih anggota legislatif, presiden dan wakil presiden. Seluruh uskup anggota Presidium KWI sepakat, bahwa  para politikus kita yang akan memperebutkan kursi DPRD Kota/Kabupaten, Provinsi, DPR Pusat, dan DPD, banyak yang tidak dikenal oleh para pemilihnya. Termasuk mereka yang beragama Katolik. Para anggota presidium ini juga menyesalkan, bahwa ada imam, bahkan juga uskup, yang terlalu jauh ikut campur tangan dalam politik praktis, dengan cara membiarkan, atau bahkan mendukung, para calon anggota legislatif, melakukan kampanye terselubung melalui institusi gereja. Secara individual, maupun kolektif, para anggota presidium ini menghimbau agar para imam agak menahan diri, hingga tidak terseret dalam arus deras politik praktis Indonesia, menjelang Pemilu 2009.

Kebijakan yang digariskan oleh Bapa Suci dari Vatikan, tetap menjadi acuan KWI dalam menghadapi Pemilu 2009. Para imam, biarawan, biarawati, rahib, terlebih para uskup dan uskup agung, tidak boleh terlibat dengan politik praktis. Sanksinya cukup jelas, bahwa mereka yang terlibat dengan politik praktis, harus mengundurkan diri dari status imam, biarawan, biarawati, rahib, uskup, dan uskup agung. Hingga, yang bisa dilakukan oleh hirarki gereja, hanyalah memberi petunjuk kepada umat, agar mereka yang akan menggunakan hak pilih mereka, bisa memilih calon anggota legislatif, yang mereka anggap paling baik. Pemuka gereja tidak boleh langsung memberi petunjuk kepada umat, pilihlah si A, bukan si B atau si C. Sebab dengan demikian, pejabat gereja tersebut sudah berfungsi sebagai alat kampanye bagi calon bersangkutan. Untuk itu KWI dalam waktu dekat ini, akan mengeluarkan surat gembala, yang bisa menjadi panduan bagi umat, yang akan menggunakan hak pilih mereka, pada Pemilu 2009.

“Ini mau ada Pemilu, orang Indonesia itu kok aneh-aneh. Sudah calegnya mémblé semua, termasuk para caleg yang Katolik, ada orang memanfaatkan figur Alah Putera untuk menangguk keuntungan. Mau bisnis ya bisnis. Jangan lalu Tuhan Jesus dibawa-bawa. Itu siapa ya yang didapuk jadi Jesus itu ya? Kok wajahnya juga mirip sekali ya? Waktu saya amati rekaman foto di Ngurah Rai itu, memang benar ada luka di tangan dan kakinya. Ya tetapi bisa saja kan itu bagian dari trik. Memoles tangan dan kaki hingga kelihatan seperti luka kan mudah sekali. Ini presidium memang harus segera membentuk tim untuk meneliti kasus ini, hingga penjelasan kepada umat harus benar dan akurat. Kalau penjelasan KWI tidak meyakinkan, umat bisa bingung. Ada-ada saja ulah orang sekarang. Itu Julia Kim dari Naju, Korea, yang memromosikan penampakan Bunda Maria, akhirnya kan juga diekskomunikasi. Tetapi umat Katolik kok ya tidak kapok ya? Malah teman uskup Indonesia ada yang mendukungnya!”

* * *

Diam-diam, Sekretariat Jenderal KWI, menghubungi 37 keuskupan di Indonesia, terutama Keuskupan Surabaya dan Malang, agar siaga satu, dalam menghadapi isu tentang kedatangan Jesus Kristus. Semua keuskupan diminta untuk waspada, jangan sampai umat terprovokasi, hingga perhatian mereka terbelokkan dari Pemilu 2009, ke menyambut kedatangan Jesus Kristus. Sebab sudah ada beberapa imam yang berkhotbah kepada umatnya. “Saudara-saudaraku, iman kita yang paling tinggi adalah kepada Allah Tritunggal Mahakudus, yakni Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus. Kami, para imam ini, hanyalah gembala, kami hanyalah para Abdi Allah. Bukan hanya kami tetapi juga para uskup, uskup agung, kardinal, bahkan Bapa Suci di Vatikan pun, hanyalah sekadar Abdi Allah. Dan sekarang, Sang Putera Allah itu telah datang kembali ke dunia ini, dan puji syukur, Allah Putera itu telah memilih Indonesia kita ini sebagai negara yang pertama Beliau kunjungi.”

Imam lain tidak setuju dengan pendapat imam ini. “Allah Putera dari mana? Allah dari Hongkong? Pada jaman ultra modern ini, kita juga harus ultra waspada. Siapa saja kan bisa berdandan seperti Jesus, lalu mengklaim dirinya sebagai Putera Allah. Lha nanti kalau ada seribu orang yang mengaku Putera Allah, gereja kan pusing. Allah Putera yang mana? Jesus yang mana lagi? Jesus itu ya hanya satu, yakni yang ada di Kitab Perjanjian Baru, ada di empat Injil. Tidak ada Jesus lain. Jesus itu tidak ada dalam novel, tidak ada dalam film, apalagi sinetron. Maka kalau mau ketemu Jesus ya hanya dalam perayaan ekaristi, bukan di novel, bukan di film, bukan di televisi, apalagi di Gunung Bromo! Jesus tidak punya gunung. Yang punya gunung ya Musa, yakni Gunung Sinai. Jesus punyanya bukit, yakni Bukit Zaitun, dan bukit Golgotha. Maka saya menganjurkan kepada seluruh umat di paroki saya untuk tidak berangkat menemui ‘Jesus’ di Bromo. Datang ke Bromo untuk melihat Jesus, adalah  sinkretisme, dan berarti dosa!”

Uskup Malang, segera memberi perintah kepada para Pastor Paroki se Keuskupan Malang, terutama Pastor Paroki Pasuruan dan Probolinggo, agar melarang umatnya datang ke Tengger. “Mempercayai yang akan tampil di Tengger sebagai Jesus Kristus, sama dengan menyembah berhala, berarti telah menyembah Allah selain Tuhan Allah sendiri. Itu merupakan dosa pelanggaran terhadap 10 perintah Allah. Jadi di semua gereja paroki, gereja stasi, dan kapel-kapel, harus dipasang pengumuman pelarangan ini. Dalam waktu dekat ini Keuskupan Malang akan mengeluarkan Surat Gembala yang berisi pelarangan datang ke Tengger. Siapa tahu sebenarnya ada agenda terselubung, dibalik pengerahan massa dengan iming-iming penampakan Jesus Kristus ini. Siapa tahu ini hanyalah trik sebuah partai politik besar untuk menggalang kekuatan. Bisa pula ini merupakan kampanye terselubung salah satu calon presiden kita, Jadi sekali lagi, saya serukan kepada umat di Keuskupan Malang, agar tidak datang ke Tengger.”

Uskup Surabaya justru bersikap lain. “Silakan saja umat di Keuskupan Surabaya, datang ke Tengger. Saya tidak punya wewenang untuk melarang umat yang mau piknik. Mau ke Tengger, ke Baluran, ke Tretes, ke Kuta, ke Hawaii, ke Kutub Utara, silakan, sebab yang mereka gunakan uang mereka sendiri. Kecuali mereka akan minta ongkos ke Keuskupan Surabaya, maka saya pasti akan menolaknya. Orang mau piknik, dan menonton orang yang menamakan dirinya Jesus kok dilarang. Kalau ternyata yang hadir itu benar-benar Jesus, ya malah kebeneran toh? Saya akan datang untuk menyembahnya. Saya ini kan salah satu Hamba Jesus. Kalau ternyata mereka ditipu, ya rasain sendiri. Umat di Keuskupan Surabaya kan bukan anak-anak TK yang harus dituntun ketika menyeberang jalan. Silakan saja datang ke Tengger kapan pun. Mau menyewa mobil keuskupan ya silakan. Di sana mau berdoa ya boleh. Berdoa kepada Allah bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, asal dengan hati bersih. Kalau ternyata event di Tengger itu kampanye Parpol atau Capres, ya silakan saja mau diikuti atau tidak diikuti, Gereja tidak akan campur tangan urusan politik. Kalau mereka merasa tidak cocok, lalu segera pulang, itu juga urusan masing-masing.”

Wartawan bingung. “Ini ada uskup dari dua keuskupan yang bertetanggaan, kok komentarnya saling bertolak belakang? Bagaimana ini KWI, bagaimana Vatikan. Lo, Indonesia kan juga punya Kardinal kan? Kok Kardinalnya belum bersuara?” Kardinal, demi mendengar gerundelan wartawan, segera bersuara. “Kalian mau suara saya bagaimana? Melengking dengan nada sopran? Atau menggelegar bernada bariton? Atau malahan bass? Atau kalian ingin suara Kardinal mengaum keras seperti singa gurun? O, kalian ingin pendapat Kardinal tentang acara Tengger itu? Tentang ada dua uskup yang beda sikap? Itu biasa. Keuskupan itu otonom. Uskup itu harus mengambil keputusan, dan tidak bisa diganggu gugat oleh uskup yang lain. Kalau keputusannya melanggar Hukum Kanonik, Bapa Suci akan memberikan sanksi sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. Jadi kalau Uskup Malang melarang, ya itu memang sikapnya. Tidak bisa kalian persalahkan. Kalau Uskup Surabaya tidak melarang, itu juga sikapnya, dan tidak boleh kalian anggap keliru. Sebab yang bisa membenarkan, atau mempersalahkan uskup hanyalah Tahta Suci di Vatikan.”

“Tetapi Bapa Kardinal, umat kan jadi bingung kalau begini?” Kardinal mesem-mesem. “Santo Petrus, Paus Pertama itu, juga kebingungan, juga pernah sangat putus asa. Jadi kalau umat bingung, itu lumrah. Imam, uskup, kardinal, bahkan Bapa Suci juga manusia yang bisa bingung, bisa gundah, bisa putus asa. Itulah gunanya doa, untuk menguatkan diri, agar Roh Allah bekerja. Kalau kita iklas membuka hati, dan membiarkan Roh Allah bekerja, maka masalah seberat apa pun akan selesai dengan baik. Jadi umat di Keuskupan Malang harus patuh pada perintah uskupnya. Umat di Keuskupan Surabaya juga harus bersedia mendengar, dan mengikuti petunjuk uskupnya. Jadi jangan sampai umat di Keuskupan Malang ikut perintah Uskup Surabaya, sebaliknya umat di Keuskupan Surabaya justru ikut Uskup Malang. Kalian, para wartawan ini, kan juga harus patuh pada Pemred kalian kan? Kalau kalian ikuti perintah Pemred koran tetangga, Pemred kalian akan marah kan?” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: