Arif

28/01/2014 at 13:36 (novel)

Arif Rahman, suami Raden Ayu Siti Suryaningtyas, menantu Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko, bapak dua orang anak, adalah pengusaha papan atas Indonesia. Dia Presiden Komisaris PT Garuda Perkasa Holding Company. Anak perusahaannya bergerak dalam bidang jasa entertainment, wisata alternatif termasuk adventure, pelatihan manajemen, pengembangan SDM, sampai ke jasa public relation. Di antara sekian banyak perusahaannya, yang menjadi tulang punggung adalah PT Garuda Perkasa Entertainment, dan PT Garuda Perkasa Adventure.  PT GPE menyelenggarakan pertandingan olahraga memperebutkan gelar kejuaraan internasional, mendatangkan penyanyi kelas dunia, serta membawa rombongan kesenian kita ke berbagai negara. PT GPA, menangani arung jeram, diving, layang gantung, terjun payung, tracking, hiking, dan highrope untuk awam. Klient PT GPE adalah manajer atlet serta penyanyi papan atas dunia. Klient PT GPA adalah perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia.

Arif Rahman adalah pengusaha sukses, dan diterima dalam pergaulan elite Indonesia. Meskipun latar belakangnya muram, Arif tidak pernah mengalami trauma berkepanjangan dengan pengalaman buruk itu. Seluruh keluarga Arif, orang tua, saudara-saudara, paman, uwak, semua terbunuh akibat kebijakan DOM Aceh, dalam memerangi GAM. Arif tidak tahu, siapa yang membunuh keluarganya. Ayahnya jelas ditembak TNI. Salah satu adiknya dianiaya GAM sampai tewas. Yang lain-lain ia tidak tahu. Sejak awal Arif sudah sangat kaya, karena kakek dan neneknya, baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, adalah keluarga kaya di Bireun. Tinggal ada satu orang paman dari pihak ibunya yang selamat. Tetapi anak-anak pamannya ini semuanya juga tewas sebagai korban DOM. “Rif, pamanmu sudah atur, agar harta ini sebagian diwakafkan, sebagian lagi untuk anak yatim korban perang, dan selebihnya untukmu sendirian. Gunakan sebaik mungkin untuk kebaikan bangsa. Bukan bangsa Aceh, tetapi Bangsa Indonesia!” Arif menitikkan air mata, dan berjanji untuk melaksanakan amanah ini sampai berhasil.

Selama kuliah, Arif menjadi aktivis menentang ketidakadilan pemerintah Orde Baru. Dia berpacaran dengan Raden Ayu Sri Suryandari, anak keempat Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko. Tahun 1996, Raden Ayu Sri Suryandari, yang akrab dipanggil Ndari di kalangan aktivis, hilang diculik Tim Mawar. Hampir tiga tahun Arif limbung. Untung dia punya saluran untuk menyeimbangkan dirinya. Dia masuk gua, rafting, hiking, sampai ke Aconcagua, sampai ke Kilimanjaro, yang belum sempat dilakukan hanya ke Everest. Pada suatu hari, Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko memanggil Arif. “Nak Arif, sudahlah, kita harus mupus. Aku, dan ibumu, sudah iklas kehilangan Ndari. Nak Arif juga harus iklas. Aku, dan juga ibu, sekarang ini justru sangat memprihatinkan keadaan Si Tyas!” Arif, segera menangkap sasmito ini. Sinyal ini mengatakan, bahwa ia harus menikahi Tyas, Raden Ayu Siti Suryaningtyas, anak bungsu Raden Tumenggung.

Beda dengan kakaknya yang dikenal luas sebagai aktivis kampus, Tyas justru sangat kuper. Tidak pernah punya pacar, tidak pernah punya geng, tidak pernah ikut aktivitas ekskul. Kelebihan Tyas adalah kecantikannya. Tubuhnya proporsional, kulitnya hitam manis, dan wajahnya tipikal gadis jawa. Arif menyanggupi permintaan Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko, untuk menikah dengan adik pacarnya. “Masa lalu memang tidak mungkin dibuang. Tetapi aku hidup di masa kini, untuk menuju masa depan, aku harus pragmatis.” Pernikahan itu dilangsungkan dengan sangat sederhana, sebab tetap disertai dengan rasa duka yang mendalam, karena nasib Raden Ayu Sri Suryandari yang tidak pernah jelas. Paman Arif, satu-satunya keluarga yang masih hidup, datang ke Jakarta, untuk meminang, selanjutnya bertindak sebagai wali bagi Arif yang sudah yatim piatu.

Usai menikah, sampai dengan punya anak satu, Raden Ayu Siti Suryaningtyas adalah ibu rumah tangga yang baik, bahkan sangat baik. Mereka tinggal di Bukit Sentul, Kabupaten Bogor. Meskipun kalau dihitung-hitung, mereka lebih sering berada di Polonia. Setelah melahirkan anak pertama, perangai  Raden Ayu Siti Suryaningtyas menjadi agak aneh.
“Mas Arif, kamu itu kan kakak kandungku, bukan suamiku!”  Katanya pada suatu hari. “Kakak kandung bagaimana? Bukan suami bagaimana?”
“Ya kakak kandungku, Mas Arif itu kan kakaknya Mbak Ndari kan? Suamiku itu ya Dokter Robert yang Kristen itu!”
“Apa?” Arif benar-benar kaget, tetapi tetap mengira, istrinya hanya sekadar bercanda. Tetapi berulangkali hal ini dikemukakan kepadanya. Dokter Robert adalah teman kuliah seangkatannya, juga seangkatan Ndari, tetapi dari Fakultas Kedokteran. Berarti Tyas sudah sejak lama menaruh hati pada Robert.  Arif lalu dengan hati-hati menceritakan kondisi istrinya kepada Bapak dan Ibu Mertuanya. Dia juga konseling dengan Susan, temannya dari Psiko UI, yang sekarang sudah buka praktek sendiri. “Ya itu memang wajar terjadi Rif, sekali-sekali kamu ajak lah istrimu itu kemari. Ya kamu musti bagi-bagi rejeki ke akulah sedikit. Aku bagi-bagi jasa ke kamu. Itu kan namanya adil. Tidak apa-apa. Itu gangguan yang bisa dialami siapa saja. Hanya istrimu itu rapuh, maka gangguan itu menjadi seperti sekarang ini. Kalau kamu itu Rif, seandainya yang mengalami seperti kamu itu aku, barangkali akan menjadi lebih parah dari istrimu lo Rif. Ini serius. Aku benar-benar salut padamu Rif. ”

Sejak itulah Arif menjadi pelanggan Psikolog Susan.  Bahkan pada akhirnya, setelah anak keduanya lahir, Susan menganjurkan agar Tyas dibawa ke Psikiater. “Sudah waktunya Rif. Dia harus diobati, dan itu bukan lagi wewenang psikolog. Kamu bawalah ia ke dokter Bambang. Dia sekarang yang terbaik setelah dokter Anton tidak ada. Tidak usah takut Rif, istrimu pasti akan sembuh. ” Arif lalu menjadi pelanggan dokter Bambang, juga teman seangkatannya dari UI. “Ya aku mau kalau diobati dokter Bambang. Kalau diobati dokter Robert ya tidak mau. Itu kan suami sendiri, ya Mas Arif?” Arif mengangguk-angguk. “Kapan kamu mau ketemu dokter Robert suamimu itu? O, dia sedang ke luar negeri ya? Kapan pulangnya? Tidak tahu? Mengapa tidak ditelepon saja? Tidak tahu nomor teleponnya? Masak nomor telepon suami sendiri tidak punya? Nanti Mas carikan nomor telepon suamimu itu ya? Pokoknya kakak kandungmu ini akan selalu memenuhi permintaan adik tercintanya.”

* * *

Bulik Wardojo adalah salah seorang adik Raden Ayu Retno Hastuti. Dia janda, suaminya, Kolonel Wardojo gugur dalam Operasi Seroja di Timor Timur, yang sekarang menjadi Negara Timor Leste.    Bulik Wardojo sangat prihatin melihat kondisi keponakannya, Raden Ayu Siti Suryaningtyas, istri Arif. “Kasihan ya, anak cantik-cantik seperti itu kok menderita. Itu pasti ada yang pernah naksir, tetapi tidak kesampaian, lalu mencari srono, agar Tyas menderita. Mbak Tutik, sampeyan ini mbok ya mencari tahu,  siapa-siapa sajakah yang pernah naksir si Tyas? Dari situ kan bisa dicari petunjuk guna-gunanya itu datang dari mana. Sebab semua penyakit pasti tersedia obatnya, setiap guna-guna juga pasti ada penolaknya. Mas Suryo itu juga sama saja. Anak sendiri kok dicuekin begitu. Kasihan kan si Arif itu pontang-panting sendirian. Sudah sibuk urusan kantor, organisasi, sekarang ditambah lagi istrinya sakit. Kasihan juga itu dua genduk yang masih kecil-kecil itu ya. O, tetapi dengan anak-anaknya, dengan lingkungan di luar rumahnya dia normal kok ya?”

“Ya, kata Arif dia juga masih mengantar anak-anaknya ke sekolah, voli dengan ibu-ibu di komplek perumahan. Di luar rumah dia normal. Hanya dengan Arif dia itu bagaimana ya? Kok tahu-tahu nganggap Arif kakaknya itu bagaimana? Kamu pernah mempertemukan Tyas dengan siapa itu? Dokter Robert ya? O, terus bagaimana Rif? Biasa? Biasa bagaimana? Tetap menganggap kamu kakaknya atau bagaimana? Lo, kok lucu? Kok tiba-tiba dia normal itu bagaimana? Malah memperkenalkan kamu ke dokter Robert sebagai suami yang baik? Wah, dia malah banyak bercerita bahwa kamu pernah hampir gila karena Mbak Ndari hilang segala? Ya sebenarnya dia waras to Rif. Jangan-jangan dia itu hanya pura-pura tidak normal, agar kamu lebih memperhatikannya? Ya tidak tahulah kalau seperti ini, si Tyas ini. Lalu kata dokter-dokternya itu dia sakit apa? Nah benar kan. Ini bukan penyakit sakbaéné lo Rif. Sudahlah, jangan ragu-ragu lagi, nanti Bulikmu ini yang akan membantu mencarikan penangkalnya. Ini kan pasti ada yang mengirim guna-guna. Ada orang yang iri padamu Rif. Hanya sekarang ini kita belum tahu siapa. Besuk Bulikmu ini akan menghubungi orang pintar Rif. tenang sajalah kamu.”

Aris Subagyo, Direktur Keuangan PT Garuda Perkasa Holding Company, juga berpendapat sama dengan Bulik Wardojo. “Mohon maaf ya Pak Arif. Itu gerahnya ibu itu, menurut teman-teman, sepertinya bukan gerah biasa Pak. Tetapi sekali lagi ini mohon maaf lo Pak Arif. Sebab mungkin saja Bapak tidak berkenan dengan hal ini.” Arif menjawab dengan santai. “Tidak usah takut Mas Aris, maksud kalian istriku disantet orang begitu kan? Ya Bulik Wardojo juga mengatakan begitu. Kalau menurut kalian, seperti itu, saya akan senang kalian ikut memperhatikan. Tetapi tidak usah mencari-cari dukunlah. Bukan, saya tidak marah. Saya justru senang kalian ikut prihatin. Saya percaya santet. Kalian tahu kan saya orang Aceh? Santet itu memang ada. Kekuatan supra natural itu ada. Bagaimana melawannya? Kita ini kan Muslim, melawannya ya harus dengan cara-cara Islam. Yakni dengan menjalankan syariat seiklas mungkin, dengan membantu mereka yang kekurangan, dengan dikir, dengan salat tahajut, tidak ada cara lain.”

“Mohon maaf Pak, apakah semua itu sudah Bapak lakukan? Oh ya, bukan hanya oleh Bapak, tetapi terutama juga oleh Ibu?” Arif kaget dengan pertanyaan itu. Semula dia mengira, direktur keuangan ini akan menyarankanya mencari dukun. Ya, selama ini dia, juga Tyas, memang telah melalaikan itu semua. Dia tidak pernah salat. Bahkan salat Jumat pun ia lalaikan. Apalagi Tyas. Dia baru akan melakukan salat pada Idul Fitri, dan  Idul Adha. Jadi setahun hanya dua kali. Paling ditambah dengan apabila ada sanak famili atau teman meninggal, dan disalatkan. “Mas Aris, terimakasih mengingatkan saya. Memang selama ini hal yang saya katakan tadi, justru saya lalaikan. Saya akan sangat memperhatikan teguran Mas Aris ini. Sekali lagi terimakasih.” Maka Arif pun kemudian dihantui oleh perasaan bersalah yang mendalam. Dirinya kadang merasa capek luarbiasa, padahal tidak ada hal apa pun yang membuatnya capek. Dia bekerja seperti biasa, bahkan sebagai Preskom, tidak ada kewajiban untuk datang ke kantor tiap hari. Lalu apa yang membuatnya capek?

Maka ia pun dengan sangat hati-hati mengajak Tyas istrinya untuk salat. “O, jadi Mas Arif, sekarang sudah bertobat ya? Sekarang sadar, bahwa meniduri adik kandungnya sampai hamil itu dosa ya? Mas Aris, sudah berapa kali aku ingatkan, aku ini adik kandungmu. Aku ini bersuami Mas, tetapi Mas ini masih terus nekat. Bagaimana kalau dokter Robert tahu Mas? Bagaimana kalau dia tahu bahwa dua anak itu bukan darah dagingnya? Aku malu Mas, malu sekali. Dilihat tetangga kiri kanan, dilihat bapak ibu, kakak-kakak yang lain, aku malu sekali Mas. Apakah Mas Arif tidak malu? Ya jelas tidak malu. Kalau malu kan sudah dulu-dulu. Tidak usah sampai menunggu ada anak dua. Kasihan ya dokter Robert itu. Bagaimana aku harus menjelaskan padanya Mas? Bagaimana coba? Bagaimana aku harus matur sama Bapak Ibu Mas? Bagaimana? Apa Mas Arif berani mengatakan hal ini pada Bapak Ibu, pada dokter Robert? Takut kan? Aku juga takut sekali. Aku tidak tahu harus bilang apa pada mereka. Sekarang tiba-tiba mau mengajak saya salat. Enak saja bertobat setelah semua rusak. Tidak bisa begitu Mas. Allah tidak akan dengan mudahnya memaafkan dosa kita…..”

“Ya sudah. Ayo ganti baju kita ke dokter Robert ya? Ratih dan Wulan mau diajak atau tidak. O, mereka ada di Polonia di tempat eyangnya ya? Ya kita pergi berdua saja ya?” Maka sore itu Aris berkunjung ke ruang praktek dokter Robert. “Wah, ada kejutan besar nih. Boss besar, dengan nyonya besar datang, ayo, pasien sudah habis kok. Kalian ini kok ya bisa pas ya datangnya? Bagaimana kabarnya?” Arif, yang berada di belakang istrinya berkedip-kedip sambil menunjuk ke istrinya memberi kode. Dokter Robert manggut-manggut. “Ini hanya mampir, mau ngajak makan malam, atau ada yang sakit? O, hanya mampir. Bagaimana kabarnya nyonya besar kita ini?” Raden Ayu Siti Suryaningtyas, yang disebut nyonya besar, mesem-mesem, lalu nyerocos bercerita. “Ya ini to Robert, Mas Arif ini kadang tidak tahu waktu. Kerja, kerja, kerja! Kesehatan dirinya tidak pernah dipikirkan. Katanya sih memikirkan aku. Memangnya kamu lihat aku ini sakit Robert?  Tidak kan? Cobalah kamu suruh suamiku ini periksa ke lab, gulanya, kolesterolnya, asam uratnya, jangan-jangan fungsi levernya, atau ginjalnya, atau malah jantungnya…..”

* * *

Direktur Utama PT Garuda Perkasa Holding Company, lulusan London Business School, masih muda tetapi matang karena kaya pengalaman. Dia minta waktu untuk bertemu dengan Arif. “Saya minta waktu untuk bertemu Pak, apa bisa sekarang? Ya memang sangat urgent. Jangan di teleponlah Pak. Ya, saya akan segera meluncur.”

Nama Dirut itu Wisnu Wardana, orang-orang memanggilnya Pak Wis, anak-anak muda memberinya julukan double double yu. Meskipun boss besar, penampilan Pak Wis sangat simpel. Baik pakaiannya, mobilnya, juga rumahnya. Orang-orang menyebutnya sebagai minimalis. Yang lain mengkritisinya sebagai pelit. Padahal ia paling murah hati dalam hal menraktir makan. Bahkan tak jarang Preskom Arif pun ikut pula ditraktirnya. Orang-orang lalu menyebutnya sebagai “nyogok” dan cari muka. Siang itu, dia bergegas dari kantor pusat PT Garuda Perkasa Holding Company di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, menuju ke Sentul. Arif sudah menunggunya.
“Tampaknya ada susuatu yang sangat serius Wis?”
“Iya Pak. Acara Tengger itu terancam batal. Ijin dari Kapolri belum turun. Mereka minta satu em.”
“Ah, masak sampai sebesar itu Wis?”
“Benar Pak, bahkan salah satu staf di sana sempat telepon Bapak Suryo.”
“Lo ada urusan apa mereka dengan mertuaku?”
“Entah dari mana, mereka tahu, kalau Garuda itu perusahaan bapak, dan Pak Suryo itu mertua Bapak. Maka mereka minta Pak Suryo, agar beliau menekan Bapak, dan Bapak lalu menyelesaikan yang satu em itu.”
“Lo emangnya aku ngutang sama mereka?”
“Ya, tetapi kalau yang ini tidak dibereskan, mereka tidak akan melepas ijin. Ya, sebenarnya bukan ijin Pak, sekarang istilahnya kan surat tanda terima pemberitahuan kegiatan.” Tetapi esensinya sama.”
“Itu kamu uruslah Wis, Preskom kan tidak boleh terlalu jauh campur tangan ke masalah teknis. Tetapi katanya Bapak bilang apa ketika ditelepon dari Mabes?”
“Katanya sih Pak Suryo marah-marah, malahan mau ngomong sendiri ke Kapolri. Tetapi staf tadi tidak kalah galaknya, dan mengatakan yang nyuruh telepon ke Pak Suryo justru Kapolri. Dan katanya ketika Bapak menelepon Kapolri, beliau didamprat, ini kan bukan masalah ijin to Pak Suryo. Ini sampeyan ini kayak tidak pernah jadi pejabat saja. Ini kami kan perlu heli, perlu beberapa jip dan truk, perlu logistik. Acaranya massal, di tempat terbuka lo Pak. Apa ini semua harus keluar dari kantong pemerintah? Lalu katanya, Bapak ganti yang marah-marah. Lo, kalau memang begitu namanya kan bukan ijin, namanya cost, dan itu ada itung-itungannya. Lalu tidak tahu kelanjutannya, tetapi ya sampai sekarang ijin tidak keluar.”
“Kamulah Wis, yang harus turun tangan. Jangan serahkan ke anak buah kalau sudah begini. Temui itu Kapolri. Aku males urusan demikian, dan ini bukan bagian Preskom kan? Apalagi?”
“Lalu ini Pak, sekarang ini Tamu Agung Kita, Nabi Isa Alaihisallam, sudah ada di Tengger. Maksud saya, beliau itu dikenal sebagai Nabi yang bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Bahkan orang mati pun bisa dihidupkan lagi. Apa tidak sebaiknya Bapak membawa Ibu ke Tengger?”
“Itu ide bagus Wis. Tetapi jangan dalam waktu dekat ini. Tidak ada lagi? Ini saya juga ditunggu Pak Kamto dari Tim suksesnya Pak SBY. Sudah ya?”

Mereka yang mengaku sebagai Tim Sukses Pak SBY itu ada lima orang. Salah satu diantaranya bertindak sebagai juru bicara. Namanya Sulistyo, rekan-rekannya memanggil Pak Sulis.
“Jadi ini begini ya Pak Arif, yang ingin menangkap pekerjaan ini antreannya panjang sekali. Semua ingin memperebutkan pekerjaan ini, sebab kemungkinan besar, bahkan hampir pasti, Pak SBY itu akan terpilih untuk keduakalinya. Nah mereka yang memperebutkan pekerjaan ini, berharap nantinya, pada periode keduanya, mereka akan bisa mendapat, ya, semacam jatah di pemerintahan, atau minimal tetap mendapat pekerjaan, begitulah ceritanya Pak Arif.” Sambil menyimak lawan bicaranya, Arif manggut-manggut.
“Lalu maksudnya bagaimana?”
“Ya ini kami kan juga heran to Pak Arif. Kok Pak Arif datang sendirian, padahal kami berlima. Ya bukan merasa dilecehkan, tetapi bagaimana gitu lo!”
“Tolong to the point ya Pak Sulis. Saya ini Preskom. Posisi saya bukan negosiasi, juga bukan sedang antre untuk diberi pekerjaan. Beberapa hari yang lalu, saya ditelepon Pak SBY, apakah bisa bantu-bantu. Saya bilang ke beliau, saya ini profesional. Siapa saja akan saya bantu. Nah, sekarang ini, saya hanya mau tanya, Anda ini mau dibantu kayak apa? Perusahaan saya itu banyak. Apa Anda perlu pengembangan SDM, ke-PR-an, atau apa? kalau sudah jelas, saya akan lihat, mana perusahaan saya yang cocok dengan pekerjaan ini, baru kemudian proses administrasinya dimulai. Ini saya belum tahu apa-apa kok, sudah dibilang ada yang antre segala.”
“Oh, maksud kami bukan begitu Pak Arif. Saya malah baru tahu sekarang kalau Pak SBY sendiri yang kontak Bapak. Jadi problematik kami sebenarnya cukup banyak Pak. Sebab kami tidak punya semacam thank-thank yang handal. Jadi terus terang kami ingin memasukkan staf bapak, ke dalam bagian dari Tim Suksesnya Pak SBY….”
“Nah, maaf saya potong ya Pak Sulis. Itu yang saya tidak mau. Sekarang Anda tinggal pilih, saya ada dua perusahaan yang bisa membantu. Pengembangan SDM, ini bisa dimanfaatkan oleh partai untuk meningkatkan kemampuan caleg mereka, dan ke-PR-an, yang bisa mendukung kampanye. Hanya itu. Adventure jelas tidak ada kaitannya. O, ya, Garuda Entertainment juga bisa diminta jasanya untuk teknis menggarap event. Silakan. Tinggal sampeyan akan kontak mereka, atau mereka yang kontak sampeyan? Ini saya juga masih banyak acara, jadi bagaimana?”

Malam itu, Arif merasa sangat capek. Ratih dan Wulan, dua puterinya yang cantik-cantik, dan sedang lucu-lucunya, diculik oleh eyang puterinya, dan dibawa ke Polonia, bersama dengan dua suster, dan seorang sopir. Di rumah tinggal ada dua pembantu perempuan, seorang sopir, tukang kebun, dan Budi, staf rumah tangganya. Tyas istrinya sudah tidur. Oleh dokter Bambang, dia memang rutin diberi valium agar bisa tidur dengan nyenyak. Arif mandi, minta dibuatkan kopi pahit, lalu duduk di beranda. Budi mendekat, dan bertanya. “Bapak, tadi aku melihat di tivi, acara di Tengger itu sudah disiarkan lo.” Arif kaget. “Disiarkan bagaimana maksudmu? Sudah ada di Tivi? Apa urusan dengan Mabes Polri sudah beres?” Sebenarnya Arif ingin tahu lebih lanjut, tetapi kemudian ia berpesan pada Budi. “Bagini ya Bud, ada telepon dari siapa pun, termasuk dari Eyang Kakung, termasuk dari Pak SBY sekalipun, bilang kalau Pak Arif tidak bisa diganggu. Tahu?” Budi menegakkan badan, dan menjawab dengan mantap. “Siap Pak, laksanakan!” Sambil menyeruput kopi pahitnya, Arif bergumam. “Kayak tentara saja lagakmu itu!” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: