Mukjizat Kana

28/01/2014 at 13:43 (novel)

Mereka mengaku sebagai reporter, cameraman, presenter, lengkap dengan seluruh kru dari beberapa stasiun televisi nasional di Jakarta. Mereka berkendaraan mobil, beriring-iringan, naik dari Kota Pasuruan, ke arah selatan, menuju Tosari. Mereka bermaksud meliput acara jumpa pers Jesus Kristus, yang tiga hari lagi akan tampil di di depan publik di Lautan Pasir, Kaldera Tengger. Mereka menyanyi-nyanyi, sambil menikmati udara pegunungan di pagi yang cerah. Mereka sama sekali tidak menduga, akan dicegat oleh sekelompok petugas berseragam jas dan dasi, beberapa di antaranya berambut cepak dan mengenakan stelan safari. Iring-iringan mobil itu terpaksa berhenti, masing-masing pimpinan kru keluar, lalu mendatangi para petugas itu. Dengan sangat pédé mereka minta agar para petugas itu minggir, sebab mereka mau lewat. Para petugas itu ganti menanyakan kartu identitas untuk mengikuti jumpa pers.

“Lo, Anda ini siapa kok berani menghalang-halangi perjalanan jurnalistik kami? Kami ini jurnalis yang dijamin Undang-undang Pers, untuk membantu masyarakat memperoleh informasi.”
“Kami tidak menghalang-halangi Mas, tetapi mana tanda pengenalnya?”
“Lha ini kan jelas, kami ini semua kan sudah memakai tanda pengenal? Masih kurang apa lagi?”
“Ini lo Mas, tanda pengenalnya seperti ini! Punya atau tidak?”
“Lo, itu tanda pengenal apa? Itu kan bukan kartu pers kan? Kartu apa itu?”
“Ini tanda pengenal yang kami buat untuk ikut acara jumpa pers.”
“Kalian ini bagaimana? Ini kan tempat umum kan? Kami ini sedang menjalankan tugas jurnalistik, dan dilengkapi dengan tanda pengenal, bahkan juga surat tugas. Kami juga sudah lapor ke aparat Pemkab Pasuruan, kok Anda menghalang-halangi?”
“Ya kalau Mas-mas punya tanda pengenal, silakan masuk, kalau tidak ya silakan pergi.”
“Enak saja, sebentar.”

Sang juru bicara itu lalu mengubungi seseorang, yang entah siapa, dan entah di mana. “Halo, Pak Wondo ya? Ini petugasnya ini sok-sok amat. Mosok kami tidak boleh masuk. O, ya, ya. Ya pak. Ya, ada, kami memang sudah siapkan kok. Ya, trims ya Pak. Okey.” Sang juru bicara itu lalu kembali ke mobil, ia lalu bisik-bisik dengan teman lainnya yang masih ada dalam mobil. Bisik-bisik ini kemudian disampaikan oleh orang lain lagi ke rombongan dalam mobil di belakangnya, demikian terus estafet sampai ke mobil yang paling akhir. Rupanya mereka mengumpulkan uang yang kemudian ditaruh dalam sebuah amplop cokelat besar. Setelah selesai memasukkan uang, mereka lalu dengan senyum simpul maju lagi ke petugas yang menghadang di depan.
“Jadi ini tadi ya maaf ya Pak, kami sebenarnya ya sudah menyiapkannya, tetapi tampaknya ada kekeliruan teknis. Kami kira kami harus menyerahkannya di dalam sana, tetapi ternyata harus di sini. Ya ini biasalah untuk acara-acara infotainment hal seperti ini memang sudah sangat biasa. Kadang kami yang menerima, kadang pula justru harus memberi. Maaf tadi itu lo Pak.’
“Ini maksudnya apa?”
“Ya inilah Pak sekedar untuk uang rokok.”
“Kami semua tidak merokok. Kalau Mas-mas ini tidak punya tanda pengenal, tidak boleh masuk.”
“Ya jangan kaku begitu to pak dengan insan pers. Nanti Bapak yang rugi sendiri lho!”
“Silakan Anda pergi, kami tidak akan rugi.”

Di tengah negosiasi antara aparat keamanan dengan para pemburu infotainment ini, di belakang ada rombongan lain yang datang dengan dua mobil. Petugas terpaksa mengatur agar rombongan yang baru datang itu bisa lewat, sebab jalannya sangat sempit, dan di kiri jurang, di kanan tebing bukit yang terjal. Setelah dua mobl itu bisa lewat, salah seorang di dalamnya turun, menunjukkan tanda pengenal, dan tanpa banyak bertanya, para petugas itu mempersilakan mereka berjalan terus.
“Lo, itu mereka yang datang belakangan kok malah didahulukan sih Pak? Apa mereka membayar lebih banyak? Apa bayaran kami kurang? Bilang saja Pak kalau yang dari kami ini kurang!”

Salah satu petugas segera merangsek maju, dan bermaksud menempeleng juru bicara kru tivi itu, tetapi petugas lainnya buru-buru mencegah.
“Maaf, itu tadi rombongan dari NHK, Jepang. Ini dari CNN dan LKBN Antara juga belum datang. Masih ada beberapa rombongan yang baru pagi ini akan datang. Jadi silakan kalian kalau masih tetap mau di sini meminggirkan kendaraan, agar jangan mengganggu mereka yang akan lewat. Kalau mau ke Bromo ya silakan lewat jalan sana itu lo. Tetapi kalau mau masuk ke Bromo Cottage, memang harus punya tanda pengenal.”

Maka, rombongan pers infotainment itu pun kemudian meminggirkan mobil mereka. Mereka tetap berharap, para petugas itu berubah sikap, dan membolehkan mereka masuk. Ya, mereka sudah biasa menunggu semalaman, bahkan sehari semalam, hanya untuk mendapatkan rekaman gambar seleb kenamaan yang sedang berselingkuh. Maka, sekarangpun mereka juga siap menunggu sampai para petugas itu lengah. Tetapi tampaknya tidak. Sebuah jip meluncur dari atas, dan isinya petugas bersenjata. Mereka dengan sopan meminta agar para kru infotainment itu pergi. Maka, tanpa menunggu senapan dikokang, para kru itu pun mundur, lalu membelokkan kendaraan mereka menuju kaldera Tengger. “Ya daripada pulang dengan tangan kosong, lebih baik ambil gambar-gambar di Tengger. Nanti wawancara dengan penduduk Tosari yang bekerja di Bromo Cottage. Itu saja sudah lumayanlah.”

Para pemburu infotainment pergi. Wartawan Bodrek datang. Mereka berombongan mencarter angkot, ada pula yang naik ojek. Niat mereka hanya satu, siapa tahu ada pembagian amplop dalam acara ini. Paling tidak, lumayanlah bisa dapat makan gratis. Kalau acara berlangsung pukul 10.00, ini merupakan indikasi, bakal ditutup dengan makan siang. Sebab biasanya acara akan molor sampai setengah sebelas, bahkan kadang jam sebelas, tanya jawab biasanya juga agak berkepanjangan, dan pasti panitia sudah menyediakan makan siang. Makan siang di resor bintang tiga seperti ini, pasti enak-enak. Kapan lagi dapat makan gratis dan enak, kalau bukan dalam acara-acara seperti ini. Tetapi kembali petugas keamanan mencegat mereka. “Lo, kok kami tidak boleh masuk ini alasannya apa? Mereka boleh kok kami tidak? Ini kan diskriminatif to Pak?” Para petugas itu tenang. “Maaf ya Dik ya, jumpa pers ini memang sangat dibatasi pesertanya, semua sudah didaftar, dan diberi tanda pengenal jauh hari. Jadi maaf ya?”  Para wartawan “bondo rekaman” alias bodrek ini mengalah. Mereka menggerutu karena sudah keburu mengeluarkan ongkos untuk patungan mencarter angkot, dan sebagian dengan naik ojek sepeda motor.

“Masih ada yang ditunggu atau sudah habis ya Pak?” Tanya seorang petugas kepada komandannya. Sang Komandan, dengan HT di tangan bertanya ke komandan lain yang berada di Bromo Cottage. “Ada satu yang masih ditunggu, tetapi tampaknya mereka ditinggal saja. Katanya mobil mereka kejeblos ke selokan di bawah sana, dan sedang diusahakan untuk diangkat. Kalau nanti mereka datang disuruh langsung masuk saja. Tapi ini tadi sudah dimulai kok acaranya. Jadi portalnya dipasang saja ya Mas? Saya akan kencing sebentar. Wah, di udara dingin seperti ini, sudah membatasi minum, masih saja kencing melulu. Dinginnya memang luarbiasa ya Mul?” Yang dipanggil Mul masih sibuk dengan HPnya, dan hanya melambaikan tangan kepada Sang Komandan, pertanda ia memperhatikannya. Menjelang pukul sepuluh, gumpalan kabut mulai datang satu-satu. Ketika gumpalan putih itu menerjang, rasa dingin makin menyeruak ke dalam jaket, ke dalam kemeja dan jas.

* * *

Ruang pertemuan Bromo Cottage itu sebenarnya sangat luas, tetapi sekarang tampak menjadi sangat sempit. Fotografer dan cameraman berderet di jalur paling belakang, di depannya para reporter dengan perekam suara dan pencatat. Beberapa di antara mereka langsung mencatat dengan Blackberry, yang langsung online dengan kantor mereka. Jesus duduk di depan, diapit oleh dua penerjemah. Yang pertama akan akan menerjemahkan kata-kata Jesus, yang diucapkan dalam bahasa Aram, ke dalam bahasa Inggris. Penerjemah kedua, akan menerjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Sebab cukup banyak wartawan Indonesia, yang Bahasa Inggrisnya sangat lemah. Sebelum acara dimulai, wartawan Jawa Pos sempat nyeletuk, dan kemudian diterjemahkan oleh Romo Sujatmiko, penerjemah dari Bahasa Aram ke Inggris, yang sebenarnya juga bisa berbahasa Indonesia, bahkan fasih ngomong Jawa. “Tuhan, itu tadi bertanya, apakah Anda tidak kedinginan kok hanya pakai kaus oblong?”
“Jangan panggil aku Tuhan. Tuan sajalah, atau Guru. Dulu saya terbiasa dipanggil Guru. Menjawab pertanyaan tadi, di sini tidak terlalu dingin dibanding dengan di Surga.”

Semua wartawan tertawa. Acara lalu dimulai. MC memberi pengantar bahwa yang duduk di depan adalah Jesus Kristus, yang juga disebut Isa Al Masih Alaihissalam, diapit oleh penerjemah, Romo Sujatmiko, yang langsung didatangkan dari Vatikan, karena dialah satu di antara tiga orang di dunia ini, yang menguasai Bahasa Aram dengan baik. Di sebelahnya Pak Eric, yang akan menerjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Sebelum Jesus mulai bicara, MC juga menjelaskan, bahwa tamu agung ini beberapa hari yang lalu telah turun dari Surga di depan The Dome of The Rock, yang berada di atas fondasi Bait Suci. Petugas lalu menayangkan rekaman visual peristiwa ini. Tampaknya hanya ada satu rekaman yang dilakukan oleh cameraman CNN, dengan perjanjian baru boleh disiarkan setelah ada jumpa pers. Dalam rekaman itu tampak seleret cahaya di atas langit Jerusalem yang biru bersih. Dari cahaya itu turunlah sosok Jesus yang berjubah, gondrong, bercambang, dan di tangan, serta kakinya ada bekas luka. Sesampai di bawah, dia disalami oleh tim penjemput, konsorsium beberapa EO papan atas dari Eropa dan Jepang. Jesus langsung digandeng, dan dikawal ketat menuju Jip Militer yang sudah menunggu.

“Sebenarnya kan banyak Paparasi yang juga menunggu di sana kan? Kok mereka tidak bisa merekam gambar tadi ya? Atau jangan-jangan ini tadi tipuan?” MC lalu mempersilakan Jesus untuk mulai berbicara. Awalnya Ia berbisik-bisik dengan Romo Sujatmiko. Lalu ia berbicara dalam Bahasa Aram, dengan nada bariton, tegas, intonasi jelas. Romo Sujatmiko menerjemahkannya ke Bahasa Inggris, lalu Pak Eric ke Bahasa Indonesia. “Saya tidak akan memperkenalkan diri, karena sudah sangat terkenal. Saya juga akan menegaskan, bahwa kedatangan saya ke dunia, bukan dalam rangka kiamat, seperti yang tertera pada kitab suci.” Pak Erik berhenti. Romo Sujatmiko memberi isarat agar Jesus kembali berbicara. Romo Sujatmiko menerjemahkannya, disusul Pak Eric. “Anda semua pasti ragu-ragu, apakah benar saya ini Jesus Kristus. Saya sudah biasa diragukan seperti itu, bahkan kemudian diadili, dan dihukum mati.” Seperti bisa menebak keragu-raguan pers dunia, Jesus lalu menawarkan mukjizat. Serentak para wartawan, fotografer dan cameraman menjawab. “Pesta perkawinan Kana!”

Romo Sujatmiko menerjemahkan teriakan wartawan kepada Jesus. Jesus lalu berbisik ke Romo Sujatmiko, yang kemudian meminta panitia mendekat. Romo Sujatmiko minta panitia menyediakan air sebanyak enam galon. Sebab dalam Injil Yohanes 2:1-11, Jesus menampilkan mukjizat pertamanya dalam sebuah pesta perkawinan di Kana, dengan mengubah enam tempayan air menjadi anggur. Maka panitia pun membawa enam galon air ke dalam ruang pertemuan, dan menaruhnya di atas meja. Jesus lalu berbisik ke Romo Sujatmiko. “Tolong salah satu galon dibuka, dan semua diminta untuk mencicipi.” Ketika tutup galon itu dibuka, terdengar bunyi letupan, tampak air berbusa keluar, dan bau sparkling wine merebak. Petugas Bromo Cottage heran, sebab itu tadi memang galon air minum biasa. Tetapi para wartawan menganggap ini semua trik. Mereka yakin, galon itu sudah diisi sparkling wine sebelumnya. Panitia lalu membagikan gelas, dan menuangkan isi galon itu ke masing-masing gelas wartawan, fotografer, serta kameraman. Fotografer dan kameraman semua menolak sebab mereka sibuk mengabadikan peristiwa ini.

Rasa air dari galon itu ternyata dua macam. Ada wartawan yang tetap merasakannya sebagai air, ada yang sebagai wine, dan ada seorang wartawan yang tersedak keras, lalu jatuh pingsan, sebab gelas yang diminumnya ternyata air aki. Petugas medis buru-buru menolong. Ternyata itu wartawan Al Jazeera TV. Panitia panik, petugas Bromo Cottage ketakutan. Tiga orang dokter menyatakan wartawan tadi telah menenggak air aki, dan berusaha keras untuk menyelamatkan nyawanya. Jesus mengatakan, isi galon itu memang tetap air. Akan menjadi berasa anggur, tetap air, cuka, atau air aki, sangat bergantung pada keyakinan masing-masing. Mereka yang tadi masih merasakan yang mereka minum air, mencoba sekali lagi, dan sekarang mereka benar-benar mencicipi champagne. Wartawan Al Jazeera itu tak tertolong, meskipun tiga dokter itu telah berusaha keras untuk menolongnya. Jesus lalu berkata kepada Romo Sujatmiko, meminta agar wartawan Al Jazeera itu bangun sebab sebenarnya ia tidak apa-apa. Dan seketika, wartawan itu bangun, lalu tampak kebingungan. Karena merasa sangat haus, ia lalu meminum air dari dalam galon itu, dan sekarang rasanya segar seperti air Zam-zam.

Meskipun sudah berusaha meyakinkan para wartawan dengan mukjizat Kana, Jesus tahu bahwa sebagian besar wartawan itu masih tidak terlalu yakin, bahwa ia benar Jesus Kristus Putera Allah, atau Nabi Isa Al Masih Alaihissalam. Maka ia kemudian kembali berbisik ke Romo Sujatmiko, yang kemudian menerjemahkannya ke Bahasa Inggris, dan Pak Eric menerjemahkannya dari Inggris ke Bahasa Indonesia. “Silakan para fotografer, dan kameraman memeriksa hasil rekaman mereka.” Maka para fotografer dan kameraman itu mencoba melihat hasil rekaman mereka. Sebagian tidak menemukan hal-hal yang aneh. Mereka hanya merekam Jesus, yang didampingi Romo Sujatmiko, Pak Eric, dan para petugas Bromo Cottage. Juga acara minum air dari galon. Tetapi beberapa fotografer dan kameraman menemukan adegan porno dalam kamera mereka, ada pula yang rekamannya berubah menjadi film kartun. Mereka mencoba melihat-lihat kembali rekaman barusan, dan tetap saja yang mereka dapat film porno dan gambar kartun. Menanggapi protes mereka, Jesus hanya berucap, “Silakan membeli dari mereka yang berhasil memotret dan merekam.”

* * *

Siang itu juga, seusai jumpa pers, Jesus segera diamankan panitia, ke salah satu bungalow. Sementara para wartawan, fotografer, dan cameraman bersantap siang. Mereka yang rekaman visual, dan jepretan kameranya berubah menjadi adegan porno, dan foto kartun, sibuk bernegosiasi dengan kolega mereka yang berhasil merekam gambar. Sebab tanpa hasil foto atau rekaman visual, mereka bisa dipecat. “Aku masih bingung.” Kata fotografer Yumiuri Shimbun dengan Bahasa Inggrisnya yang khas Jepang, tadi itu aku sudah lihat hasil jepretanku, bagus-bagus, kok jadinya foto adegan ranjang begini. Ini sulap modern, atau memang dia itu benar Jesus ya?”

“Anda ini sudah diingatkan oleh Allah, agar jangan ragu-ragu. Caranya, dengan mengubah hasil foto Anda menjadi foto-foto adegan ranjang. Tetapi sudah begitu pun, Anda masih juga tetap ragu-ragu. Harusnya orang itu tegas. Kalau percaya ya percaya penuh. Kalau tidak percaya ya tidak percaya penuh. Jadi kalau Anda tidak percaya bahwa dia itu Isa Al Masih, sekalian tidak usah datang. Kalau berniat datang, harus percaya penuh. Kalau percayanya setengah-setengah hasilnya ya fofo-foto seperti itu. Coba lihat! Asik juga ya? Siapa sih ini yang lagi begitu? Kok seperti kenal dia ya? Lho, lho, ini kan foto saya sendiri, sedang main sama selingkuhan saya? Kalau ketahuan istri bagaimana ini nanti? Aduh, apa salah saya ya? Mohon ampun Nabi Isa Alaihissalam. Saya kapok. Saya tidak akan berselingkuh lagi. Saya tidak akan menodai kesucian pernikahan. Tolong dong itu foto dihapus dari file ya sobat. Ini saya ganti dengan foto-foto saya. Anda ambil foto-foto saya gratis, tetapi foto-foto selingkuh saya itu dihapus ya? Plis, itu demi keutuhan rumah tangga kami. Sobat, ambil ini foto-foto saya, bagus kok. Paling yang akan saya gunakan hanya satu dua saja.”

Suasana makan siang di Bromo Cottage yang indah, dengan menu yang istimewa itu, menjadi gaduh. Para fotografer dan kameraman saling meneliti hasil kerja mereka. Dari sekitar 100 fotografer dan kameraman, hanya ada sekitar separo yang hasilnya normal. Lainnya berubah menjadi gambar-gambar kartun, adegan ranjang, rekaman perang di Jalur Gaza, serta adegan singa mengejar gazele. “Ini adegan ranjang siapa lagi ini yang di kamera saya ini. Kok seperti Anda ya sobat. Oh iya benar. Ini kan Anda. Hayo sama siapa lagi ini? Sama isteri? Bohong ah. Masak isteri Anda semuda ini? Ini kan pantesnya menjadi anak Anda kan? Lo ini, Mister! Ini foto Anda lo. Waduh, ini lagi. Kok foto bugil isteri saya juga muncul di kamera Anda ini bagaimana? Duh Gusti. La kok isteri saya juga begitu sama siapa ini? O, ampun Gusti, ternyata dia selingkuh sama bossku sendiri. Mister, saya beli rekaman ini berapa pun Anda minta. Ternyata, perempuan yang sangat saya percayai itu, yang telah melahirkan anak-anak……. Ya ampun, jangan-jangan dua anak itu bukan anak aku. Ya, ya, waktu itu aku memang sempat bilang, ketika hamil kamu terlalu membenci boss aku sih, jadi anak kita mirip dia kan? Ternyata memang anak dia! Gusti Jesus, terimakasih.”

Siang itu, dalam suasana sejuk udara Tengger, santap siang dengan beragam menu istimewa, suara gaduh para fotografer dan kameraman, ternyata sama sekali tidak ada transaksi apa pun. “Tadi itu sebenarnya aku keceplosan ketika bilang berapa em pun akan aku bayar. Andaikan benar duit dari mana? Untung cuma barter. Tadi itu, kameraman dari mana tadi ya, yang di kameranya justru ada rekaman gambar pembunuhan kepala negara mereka. Ternyata pembunuhnya justru yang sekarang berkuasa, sementara yang bukan pembunuhnya dipenjara, bahkan sudah ada yang dihukum mati. Ini bisa menjadi bukti untuk menjebloskan presiden yang sekarang ini sedang berkuasa ke penjara. Tapi biarlah, yang penting aku tidak jadi kehilangan uang, tetapi juga tidak dipecat dari pekerjaan. Bagi Allah, ternyata tidak ada hal yang mustahil.”

Kameraman Al Jazeera TV, justru belum sempat memperhatikan hasil rekaman gambarnya. Sejak dari tadi dia menangis sesenggukan, sambil memeluk sang wartawan, yang tadi sudah dinyatakan meninggal oleh dokter. Mereka berdua berkomunikasi dalam bahasa Arab. “Ada apa sesungguhnya, hingga Énté dari tadi terus memeluk-meluk Ané sambil nangis?” Sang kameraman masih belum bisa menjawab dengan jelas. Produser mereka yang kemudian menjelaskan. ” Énté sudah mamphus tadi itu. Dokter mengatakan yang Énté minum itu air aki, dan Énté sudah dinyatakan mati. Énté sudah tak ada nafasnya. Énté musti segera temui itu Nabi Isa Alaihissalam, mohon ampun, bersyukur dan berterimakasih karena telah beliau ampuni. Tadi Énté dihidupkan lagi oleh Nabi Isa Alaihissalam.” Wartawan itu masih kebingungan. “Jadi Ané tadi sudah mati, dan dihidupkan lagi oleh Nabi? Siapa Nabinya? Jadi benar yang sedang kita liput ini Nabi Isa Alaihissalam?”

Siang itu, setelah suasana gaduh saling barter foto dan rekaman gambar, setelah gambar-gambar itu dikirim ke media masing-masing, para pekerja pers itu bisa bersantap siang dengan lebih nyaman. Keelokan Pegunungan Tengger jadi kembali kelihatan. Setelah santap siang selesai, para pekerja pers itu akan diajak turun ke lautan pasir, naik tangga Bromo, dan kembali lagi ke Bromo Cottage. Saat itu juga televisi seluruh dunia sudah menyiarkan peristiwa yang terjadi baru saja. Meskipun adegan barter gambar, yang sebenarnya juga bisa menjadi adegan yang cukup menarik, sayang tidak sempat terekam. Maka milyaran manusia di planet ini, seperti tersedak tenggorokannya. “Nabi Isa Alaihissalam datang? Jesus Kristus, Sang Putera Allah itu telah tiba? Berarti sekarang ini dunia telah memasuki fase kiamat? Seorang anggota tim sukses Pilpres di Jakarta, nyeletuk. “Boléh jugé diényé ini kité jadiin votegeter untuk Caprès kité yé?”

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: