Mas Suwito

04/02/2014 at 11:35 (novel)

“Suwito, Suwito, kamu ini kok bisa kenal sama Pak SBY, sama Bu Mega, sama Pak JK, sama Kanjeng Sultan, sama Pak Prabowo, sama Gus Dur, sama siapa lagi itu, Pak Amien, Pak Wiranto, Pak Din, sama Mbak Tutut, pengasihanmu apa to Wit? Ilmumu itu nyari dari mana? Diberi sama Mbah Ragil ya? Kamu bilang tinggal di Mèntèng itu hebat Wit? Tidak. Kamunya saja yang gèér. Buah mèntèng itu tampaknya saja manis. Tapi rasanya Wit? Asem kecut sekali. Maka kamu itu Suwito, kemana-mana menebar pesona lewat mobil sedan bagus, sedan BMW. Padahal aku tahu hatimu Wit. Aku tahu hatimu itu tetap asem Wit. Ya asem seperti buah mèntèng itu lo! Beda sama aku ini. Meski ke mana-mana cuma naik Mikrolèt, tapi kan hidupku ini manis. La wong aku tinggalnya di Kayumanis kok! Maka aku ini tidak perlu macam-macam seperti kamu itu. Sebenarnya kamu itu kan kurang pédé kan? Menghadapi ngalam donya ini kamu minder kan Suwito?”

“Aku tahu, sebenarnya kamu itu ingin menunjukkan kepada sanak sedulurmu, bahwa kamu itu dekat dengan para pejabat, dengan orang-orang hebat, maka tembok di rumahmu itu penuh dengan foto-foto kamu sedang bersalaman dengan orang-orang hebat tadi. Padahal Suwito, yang hebat ya tetap orang-orang tadi. Bukan kamu! Lalu yang paling sering nonton foto-fotomu itu cecak yang merayap-rayap di tembok itu. Apa lagi? Kamu itu kan kebangetan tenan to kurang pédénya. Itu badanmu itu harus dibalut pakai apa itu namanya jasmu itu? Armani? Diego Armani? Ya kalau di kampung kita di Jombang sana, kang Armani itu kerjanya ngojek sepeda motor. Lalu tanganmu itu mengapa harus diberi jam Rolex lapis emas? Mengapa tidak lapis legit saja to Suwito? Lapis legit kan manis? Kamu ini memang nyata sekali kurang pédé. Kamu itu dimana-mana sudah dipanggil mas, kok masih kurang percaya diri hingga tangannya diberi jam tangan emas. Gespermu itu gesper apa Wit? Gucci? Jadi sabukmu itu buatan Gucci di Tegal sana? Ya pantes saja bagus. Aku pernah diajak ke Gucci sama Mas Jalal. Itu kan tempat yang bagus. Ada pemandian air panas, ada hotelnya, udaranya dingin lo Wit. Sepatumu itu apa Wit?  BalSBardolinof Bally? Lho, Bali kok nulisnya begitu to Wit? Bali itu ya B – a – l – i. Nulis Bali kok Bally, supaya tampak gagah begitu ya? Berarti kamu ini sebenarnya belum gagah. Maka tiap hari badanmu harus digagah-gagahkan.”

“Kamu itu HPnya merek apa itu? Blèk Bèri? Blèk itu kan kaleng wadah biskuit? Kalau beri-beri ya penyakit! Untuk apa? Fisbuk? Apa itu? Aku bingung Wit. Kamu itu deket-deket presiden, deket-deket mentri, deket-deket sultan, kok mainannya blèk wadah biskuit. Walah, jebul bisa untuk motret to HPmu itu? Mbok ya aku ini dipotret to Wit. Dikirim ke mana? Milis? Fisbuk? Masuk internet? Emoh aku! Kalau masuk tivi aku mau. Masuk hotel di Gucci sana ya seneng. Masuk hotel itu namanya cek-in to Wit? Dulu, aku pernah diajak cek-in oleh Oom Wondo. Dulu sekali. Lalu pulangnya aku dikasih uang, tapi ibu aku malah marah-marah. Tetapi kalau kamu yang ngajak cek-in aku emoh. Wong kamu itu selalu kurang pédé kok. Tapi aku ini heran. Orang-orang gedé itu kalau kamu datangi kok terus rontok dompetnya. Apa kamu ini pernah belajar ilmu gendam to Wit? Kalau pengasihan itu bukan untuk begituan itu lo. Kayaknya kalau pengasihan itu untuk demenan. Kalau anak-anak sekarang bilangnya selingkuh.”

“Suwito, Suwito! Pekerjaanmu itu apa sih? Kalau aku ditanya orang-orang kampung di Jombang sana, Nduk-Nduk, Suwito itu kerjanya apa to? Aku kan bingung Wit. Apa coba? Pekerjaan itu kan guru, camat, dokter, polisi, tentara, tukang batu, bakulan, tani, lha kamu ini apa? Aku hanya melihat kamu itu pakai setelen bagus, sepatu bagus, dasi bagus, jam bagus, mobil bagus, ketemu orang-orang penting, lalu kamu terima duit. Lha kok enak tenan to yo? Kamu itu makelaran tanah, atau dukun to Wit? Kok kadang-kadang kamu datangi tempat-tempat angker, lalu kamu nginap di sana. Apa? Kamu itu dukunnya para calon presiden? Dukun itu kan gondrong, brewokan, kumisan, jenggotnya panjang, baju dan celananya komprang hitam-hitam, kepalanya pakai udeng. La kamu ini? Klimis begitu kok bilangnya dukun. Jangan-jangan kamu itu tukang hipnotis? Itu Yu Giyem itu katanya pernah disenggol orang di Senen, lalu dia tidak sadar, dan semua barang yang diminta orang itu, dia berikan begitu saja. Malah dia itu diajak ke ATM untuk ngambil duit ya manut saja.”

“Jangan-jangan pekerjaanmu itu menghipnotis orang-orang kaya itu, lalu mereka tidak sadar, dan apa saja yang kamu minta akan dia berikan begitu saja. Ati-ati lo Suwito. Nanti kalau sedang apes, kamu akan ditangkap polisi, diborgol lalu disuruh tidur di Cipinang sana. Aku itu sebenarnya sudah lama agak curiga sama kamu. Maka kalau teman-teman, dan sanak famili dari Jombang semua menempel ketat ke jasmu itu, aku emoh. Aku harus menjaga jarak. Padahal aku ini masih sepupumu kan? Aku juga malas ketemu kamu, karena kamu itu bukan hanya asem di dalam hati, tetapi juga asem kalau ketemu aku. Mosok di depan orang banyak kamu bilang: Ini Mbakyu siapa ya? Juga dari Jombang? Sepupuku? Mbakyu Nur Hasanah? Anaknya Pak Dé Hamdan dan Budé Prapti? Prèk! Kamu boleh saja menghina aku, pura-pura lupa, pura-pura tidak kenal. Tetapi kamu akan kualat kalau sampai menghina bapakku dan ibuku. Yang ngongkosi sekolah kamu itu siapa to Suwito? Kan Pakdému Hamdan dan Budé Praptimu itu to?”

“Jakarta ini memang seperti mesin cuci super canggih, dengan deterjen super hebat. Baju-baju murah yang dimasukkan kesana akan segera luntur warnanya, dan kelihatan warna aslinya yang belang-belang. Baju-baju putih yang ikut masuk ke sana juga akan ikut kena lunturan warna, dan juga ikut menjadi belang-belang. Kecuali baju mahal yang dicelup daun tarum biru dan kulit soga coklat, hingga jadi hitam. Dicuci pakai apa saja ya tetap hitam. Kena lunturan warna apa saja ya tetap hitam. Suwito, anak Jombang yang dulu colun, ngajinya katam, pemalu, kok sekarang jadi dukunnya para calon presiden. Jadi presiden kok pakai dukun. Dan dukunnya kok ya Suwito. Apa orang-orang itu tidak tahu kalau mereka diakali sama Suwito? Katanya mereka itu punya tim sukses? Ternyata yang sukses ya timnya itu, dengan Suwito. Kalau calon presidennya, yang akan sukses ya hanya satu. Kan tidak mungkin ada 10 calon, lalu semuanya jadi. La nanti dinding kantor akan penuh karena harus memasang10 gambar presiden, dan 10 gambar wakil presiden.”

* * *

“Yu Nur, Mbakyu Nur Hasanah, apa Mbakyu sudah pernah bisa ketemu Mas Suwito? Kata Bu Dé Prapti, rumah Yu Nur dan rumah Mas Suwito berdekatan? Tapi dekat-dekatnya Jakarta memang tetap sangat jauh ya Yu Nur? Yang aku dengar dari teman-teman, Mas Suwito itu sekarang hebat. Katanya dia itu dipercaya oleh Pak SBY, dipercaya Ibu Mega, dipercaya Pak Jusuf Kalla, dengan Gus Dur juga sangat dekat, terakhir yang saya dengar, sekarang Mas Suwito juga menjadi tim suksesnya Sultan ya? Wah, pasti sudah kaya sekali sekarang Mas Suwito itu. Tetapi kata Bu De Prapti, Mas Suwito tidak pernah menengok Jombang. Apa Mbakyu sering pulang ke Jombang? Kalau aku sendiri kan sudah lebih dari lima tahun ini tidak pernah bisa pulang. Pesawat Abu Dhabi-Jakarta-Surabaya kan mahal sekali to Mbakyu? Lebih baik duit itu aku kirim saja, bisa untuk macam-macam, sisanya ditabung. Mbakyu ini belum juga niat nyari pasangan to? Wah, memang kalau sudah biasa hidup sendiri, nyari pasangan itu akhirnya juga malas ya Mbakyu? Apa Mbakyu tidak ingin ikut ke Emirat, atau ke Qatar? Di sini nyari uang gampang lo Mbakyu. Orang Jombang juga banyak.”

“Mas Suwito itu sekarang kerjanya apa to Mbakyu, kok bisa sehebat itu? Seminggu yang lalu Kadir kan pulang ke Jombang karena haul kakeknya. Di Jakarta dia mampir ke rumah Mas Suwito. Kata Kadir, Mas Suwito itu tidak punya kantor, juga tidak kerja apa-apa. Tetapi sekarang penampilannya luar biasa. Jasnya bagus, jamnya bagus. sepatunya bagus, gespernya bagus, mobilnya saja BMW kok. Lalu itu lo Mbakyu, di rumahnya itu, dipasang foto-fotonya dengan Pak SBY, dengan Gus Dur, dengan Bu Mega, dengan Sultan, dengan Pak Amien Rais, dengan Pak Jusuf Kalla. Kadir sampai tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat foto-foto itu. Rumah Mas Suwito itu juga bagus sekali, dan di Mèntèng lo Mbakyu. Katanya rumah Mas Suwito itu tidak jauh dari rumahnya Pak Harto di Jalan Cendana. Wah, saya sebagai Arek Jombang benar-benar ikut bangga dengan prestasi Mas Suwito ini. Yang Kadir benar-benar terkesan, katanya Mas Suwito bilang begini: Dir, yang bisa menjadikan mereka itu presiden, ya hanya saya. Saya tinggal pilih, siapa yang paling baik untuk rakyat. Itu yang akan saya jadikan presiden!”

“Katanya, Kadir juga bilang, lo Mas, yang bisa menjadikan mereka presiden kan rakyat to Mas? Kalau rakyat masih memilih Pak SBY, ya pak SBY yang jadi presiden. Kalau rakyat memilih Bu Mega, ya Bu Mega yang jadi presiden. Katanya Mas Suwito lalu mengambil Kulit Kebo Landoh, sebesar dompet, lalu Kadir disuruh mengantonginya. Mas Suwito menyuruh anak buahnya mengambil golok, dan membacok Kadir berkali-kali. Kadir ketakutan, tetapi herannya Mbakyu, Kadir tidak luka sedikitpun. Lalu Kadir diajak ke kamar, di sana ada lemari besi. Ketika lemari besi itu dibuka, didalamnya ada gombal lusuh dan keris gerang. Kadir, kata Mas Suwito, ini Kutang Onto Kusuma, dan ini Keris Kiai Joko Piturun. Kutang Onto Kusumo adanya di Mesjid Demak, dan Keris Kiai Joko Piturun di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Kok Bisa ada di sini Dir? Ya karena aku sudah ditunjuk oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, untuk memegang agemannya ini, dan juga diperintah oleh Pangeran Hario Mangkubumi untuk dititipi keris ini.”

“Kadir ya tambah heran to Mbakyu. Dia bertanya, kok terus Mas Suwito bisa menjadikan mereka itu presiden, to Mas? Kata Mas Suwito, lha ini Dir, Kutang dan Keris inilah salah satu sarat untuk memerintah Indonesia. Kutang dan keris ini yang punya kan saya. Yang di Mesjid Demak dan di Keraton Yogya itu hanya duplikatnya. Kalau duplikatnya sih banyak, dan mereka yang punya duplikatnya selalu mengatakan bahwa miliknya itu asli. Saya lain Dir. Saya bisa membuktikan bahwa ini asli. Lalu Mbakyu, Kadir diberi keris yang katanya akan selalu melindunginya dari ancaman mara bahaya. Untuk sipat kandel, katanya. Kadir senang sekali. Jadi Mas Suwito itu benar-benar hebat ya Mbakyu? Saya juga baru tahu sekarang ini. Yang bisa membuat seseorang menjadi presiden, ternyata orang Jombang. Minggu lalu Kadir langsung mengumpulkan teman-teman dari Indonesia untuk makan-makan, sambil mendengarkan cerita tentang kehebatan Mas Suwito. Kata Kadir, dia sudah mantap untuk menyerahkan kembali Kiai Joko Piturun, dengan tambahan Kutang Onto Kusuma, kepada Sultan Jogja. Artinya, Mas Suwito sudah mantap ingin menjadikan Sultan sebagai Presiden 2009 – 2014.”

“Tapi Mbakyu Nurhasanah, aku juga heran dengan Kadir itu. Setelah acara makan-makan itu, ia mengedarkan lis, agar orang-orang yang hadir itu menyumbang. Ya ada yang menyumbang satu juta, dua juta, tiga juta, ada pula yang lima juta, malah katanya kemarin itu bossnya Mas Marwoto menyumbang 20 juta. Aku menegur Kadir, katanya Mas Suwito itu kaya Dir, kok minta sumbangan? Kata Kadir, ini bukan untuk Mas Suwito, tetapi untuk Tim Suksesnya Sultan. Aku juga balik tanya ke Kadir. Sultan yang membentuk Tim Sukses, kok kita-kita disuruh menyumbang? Kadir marah lo Mbakyu. Katanya, Din, kalau kamu keberatan nyumbang ya tidak usah nyumbang, tetapi jangan mengaruhi yang lain-lain. Saya ya lalu diam saja to Mbakyu. Sejak itu saya mulai agak curiga dengan Kadir. Wong sekarang itu sedikit-sedikit menerima telepon dari Mas Suwito. Sebentar-sebentar ia SMS ke Mas Suwito. Dan Mbakyu, kalau ada telepon dari Mas Suwito, Kadir itu tampak senang sekali lo Mbakyu.”

“Maka Mbakyu, aku telepon Mbakyu ini, pertama-tama ya ingin bersilaturahmi dengan Mbakyu, karena adikmu Si Nurdin ini, juga kangen sama Mbakyu Nur Hasanah. Tapi Mbakyu, yang juga tidak kalah pentingnya, aku ini ingin mendengar kabar tentang Mas Suwito itu lo. Kadir memang juga ngasih nomor teleponnya Mas Suwito. Ya telepon rumahnya, ya telepon HPnya, alamat emailnya, email itu yang di internet itu lo Mbakyu, yang di komputer itu. Padahal aku ini kan tidak pernah internetan. Aku juga males untuk menelepon Mas Suwito langsung. Selain itu juga takut. Kalau tiba-tiba dia bilang, Din, kamu membantu aku jadi Tim Suksesnya Sultan di Emirat ya? Aku kan sulit untuk menolaknya to Mbak. Tim Sukses itu ternyata kerjanya harus minta-minta uang. Lha Kadir itu buktinya. Ngajak orang makan-makan, jebulé terus minta duit. Selama ini aku memang sehat-sehat saja Mbakyu. Saya sudah menabung cukup, dan tahun ini Mbakyu, pas lebaran nanti, aku mau ke Jombang. Aku pasti akan mampir ke Jakarta, dan menemui Mbakyu.”

* * *

Sore itu Nur Hasanah sangat capek. Pagi dia di Pasar Jatinegara, siangnya ke Pasar Induk Cipinang, kembali lagi ke Jatinegara, lalu ke bank. Memang ada dua orang yang membantunya di Jatinegara, dan Bu Joyo sudah berkali-kali menegurnya. “Genduk, Mbok ya sudah to, kamu itu tidak usah ikut jualan. Kamu tinggal di sini saja menemani aku dan Pak Dému. Ya kalau mau ke Jatinegara cukup datang saja sebentar, seperti kalau kamu ke Cipinang itu lo. Di Jatinegara itu, Surtinah kan sudah bisa dipercaya, tinggal nambah orang satu lagi. Di Cipinang itu, Ngatiman kan juga bisa jalan bagus. Tapi kamu ini memang demen nyusahin badan. Kontrak di Kayumanis itu memang enak, kalau ke Jatinegara dekat, ke Cipinang juga tidak jauh. Tetapi rak yo enak di sini to Nduk.” Tinggal di Kayumanis bagi Nur Hasanah memang jelas lebih enak, meskipun sendirian.  “Di Pasar Minggu itu juga ada dua pembantu kok. Bu Joyo itu memang ada-ada saja. Omset di Jatinegara kan juga masih kecil kalau harus nambah orang.”

Sore itu Nur Hasanah ingin menikmati kesendiriannya, dengan menonton tivi, sambil makan ayam goreng Si Kabayan yang dibelinya di sebelah jembatan rel di pinggir kali Jatinegara. Tetapi HPnya memanggil. “Ya Ibu. Sudah di rumah. Memang sampai agak malam, tadi ke bank juga, lalu balik lagi ke Jatinegara, lalu beli ayam goreng. Ini baru mau makan. Sudah sih Ibu, sudah mandi. Ada apa Ibu? Suwito ke Pasar Minggu? Minta duit ya Ibu? Malah mau ngasih duit? Untuk apa? Buka selepan di Jombang? Wong dia saja sudah tahunan tidak pernah ke Jombang kok. Saya dimintanya ke Menteng? Tidak Ibu, kalau Suwito yang perlu saya, ya suruh saja dia datang ke Jatinegara. Ya ke pasar. Kalau dia ngajak makan atau apa, ya kasihan Surtinah dan Pardi. Aku ini kan cari duit Ibu. Sudahlah Ibu, Ibu tenang saja, lalu hati-hati dengan Suwito ya Ibu. Salam untuk Bapak, selamat malam. Kurangajar itu Suwito. Dia itu siapa kok nyuruh-nyuruh aku datang ke Menteng? Memangnya aku ini anak buahnya?” Nur Hasanah lalu menghubungi Mas Suwito.

“Suwito, ini Mbak Nur. Kamu tadi ke Pasar Minggu? Ada apa? Selepan? Tidak. Kalau kamu mau buka selepan urus saja sendiri, cari orang sendiri. Pak Joyo dan Bu Joyo tidak perlu uang. Aku juga tidak perlu uang. Kalau kamu kelebihan uang, ya ditaruh saja di bank. Kalau mau usaha selepan ya diurus sendiri. Enak saja nyuruh-nyuruh orang. Mbantu orang miskin? Ya dibantu saja! Pak Joyo, Bu Joyo, dan saya kan bukan pengurus orang miskin! Tadi kamu juga pesan ke Bu Joyo minta aku ke Menteng? Ke rumahmu maksudnya? Suwito, kalau kamu yang perlu sama aku, ya datang ke Jatinegara. Bukan aku yang sowan ke rumahmu. Urusan apa? Aku tidak ada urusan dengan para calon presiden. Mau SBY, mau Mega, Sultan, Jusuf Kalla, Mbak Nur ini tidak kenal mereka, juga tidak ada urusan dengan mereka. Ya terserah. Yang perlu rakyat itu mereka. Kalau rakyat tidak milih mereka, ya tidak ada yang jadi. Yang akan jadi presiden kan cuma satu Suwito, bukan lima-limanya akan jadi presiden semua. Mereka yang perlu nasi, perlu beras, dan yang jualan beras itu aku, dan teman-teman pedagang semua. Kami ini yang bayar retribusi, kami tidak perlu para calon itu. Diancuk kamu itu Wito! Aku ini pedagang beras, urusannya cari untung. Dagang beras tidak ada urusan dengan perjuangan, dengan Pemilu. Orang-orang yang ngurus pemilu itu yang justru perlu aku. Mereka perlu nasi, mereka perlu beras! Sudah, aku mau makan, perut aku laper.”

Ayam goreng Kabayan itu, kata Bu Joyo, dulunya di depan Bioskup Jaya. “Di mana to Ibu Bioskup Jaya itu? O, yang sekarang jadi gedung itu ya?” Lalu kata Bu Joyo, dari sana digusur ke bunderan jalan Slamet Riyadi, lalu digusur lagi ke trotoar Slamet Riyadi yang sempit, lalu dikembalikan lagi ke bunderan, lalu pindah ke dekat jembatan rel, dan yang di bunderan juga tetap buka. Kata Bu Joyo, dulu dia dengan Pak Joyo langganan makan sejak masih di depan Bioskup Jaya. Di sana juga ada kios jamu, sekalian Bu Joyo minum jamu di sana. “Wah Genduk, dulu ramai sekali lo. Kalau aku dan Pak Dému itu datang sekitar jam tujuh begitu, harus antré menunggu yang lain selesai makan. Sebab bangkunya sedikit, yang makan banyak. Bioskupnya juga ramai sekali. Waktu itu ke Pasar Minggu ya naik austin, naik oplet. Ke Gandaria, ke Senen, ke Kota, semua naik Austin. Ya waktu itu kamu belum lahir to Genduk. Aku lupa apa waktu itu Hamdan dan Prapti sudah nikah apa belum ya lupa.”

Sambil menyantap ayam goreng, tempe, sambel, lalapan, dan petai goreng, Nur Hasanah menatap layar tivi, sambil tangan kirinya memencet-mencet remote. SBY lagi diwawancarai presenter tivi, dia ganti chanel, Iklan Gerindra, dengan wajah Prabowo, dia ganti chanel lagi. Ada debat antara PDIP dan Golkar. Nur Hasanah lalu mematikan tivi. “Orang-orang ini sedang pada gélok semua. Tiap hari yang diurus caleg-caleg-caleg, lalu capres-capres-capres, dan ujung-ujungnya ya duit. Nyari duit dan nyebar duit kok gampang amat. Aku ini seharian nyiduki beras, ngangkat karung, nimbang, ngitung  pendapatan, kok ya tidak seperti mereka itu ya? Mending menikmati ayam goreng ini saja. Padahal ini ayam biasa, ayam negeri, bukan ayam kampung. Tetapi karena bumbunya bener, masaknya serius, rasanya jadi enak. Digusur-gusur terus, tetapi ya tetap saja bisa slamet sampai sekarang. Apa karena mereka jualan di Jalan Slamet Riyadi ya kok selalu slamet terus?”

Rumah kontrakan itu bukan rumah petak, dan sebenarnya cukup besar untuk ditempatinya sendiri. “Surtinah itu aku suruh nginep di sini saja supaya dekat Jatinegara, juga tidak mau. Malah milih ikut kakaknya di Bekasi. Ya sudah, aku bisa bebas malang-megung sendirian, bugil juga tidak apa-apa, wong tidak ada siapa-siapa. Ini HP bunyi lagi. Halo, o, Ibu nggih? Siapa? Suwito. Bilang kalau aku mau buka selepan di Jombang? Ibu seneng karena aku pulang kampung? Ngomongnya kapan Bu? Ya Si Suwito itu ngomongnya sama Ibu kapan? Kemarin? Tadi pagi dia ke Bu Joyo. Ya, dia nyuruh-nyuruh Bu Joyo buka selepan, aku yang ngurus. Barusan aku omelin dia. Ya memang Suwito itu diancuk! Mosok aku disuruh sowan ke rumahnya. Aku mau datang ke rumahnya itu ya suka-suka aku. Bukan karena dia yang nyuruh-nyuruh. Tidak Bu, aku sudah omeli dia. Aku bilang kalau kamu mau buka selepan ya buka saja sendiri tidak usah nyuruh-nyuruh orang. Ya dia masih mau ngomong macam-macam tapi aku bilang cukup sebab mau makan, lalu HP kumatikan.” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: