Kaldera Tengger

10/02/2014 at 14:43 (novel)

Kaldera Tengger, lembah Lautan Pasir yang menganga luas dikitari tebing curam,  adalah mega amphiteater berkapasitas jutaan penonton. Bromo dan Batok adalah properti panggung, sunrise dan kabut adalah lighting penuh kejutan. “Tuan, hari ini kita akan melihat persiapan acara kita di Lautan Pasir, ya di Kaldera Tengger yang kemarin kita lihat dari Penanjakan itu, waktu melihat sunrise itu. Kita akan mengarungi Lautan Pasir dengan Jip, naik ke tebing Gunung Ider-ider, di batas bagian selatan Lautan Pasir, lalu turun ke Tumpang, dan kembali ke Resor ini lewat Nongkojajar. Hallo semua, apa kita sudah siap? Sudah ya? Mari Tuan.” Sehabis breakfast, sekitar pukul delapan, rombongan berangkat dari Bromo Cottage, menuju ke atas. “Kita akan melalui jalan kemarin itu Tuan. Kalau kemarin kita ke arah kiri, sekarang akan ke kanan, dan turun ke Lautan Pasir.” Rombongan itu menggunakan lima buah jip, satu Land Gruiser, satu CJ 7, satu Toyota Hardtop, dan dua Land Rover. Jesus naik Land Gruiser, yang berada di tengah. Di depan Hardtop dan CJ 7, di belakang ada dua Land Rover. Pelan-pelan, lima jip itu merayap menuruni tebing kaldera, menuju Lautan Pasir. Di depan, di arah selatan, berdiri dengan kokohnya Gunung Batok.

Di bawah, di Lautan Pasir itu, sudah terpasang beberapa tenda, beberapa jip diparkir, puluhan teknisi dan tenaga kerja sibuk memasang sound sistem, empat buah layar raksasa, panggung, kursi-kursi untuk VIP dan VVIP. Sebuah tenda induk berfungsi sebagai kantor sekaligus tempat menaruh perlengkapan panitia. Genset sengaja disembunyikan di sisi barat, dibalik Gunung Batok, hingga suaranya bisa sedikit teredam. Panggung itu dibangun setinggi dua meter menghadap ke Timur Laut, dengan latar belakang Gunung Batok. Letak panggung persis sebelum jalan dari arah Penanjakan itu pecah dua. Ke kiri langsung ke Puncak Bromo, lewat belakang Pura, yang lurus ke arah Cemoro Lawang. Layar besar pertama ditaruh persis di belakang panggung, di kaki Gunung Batok. Layar kedua dipasang di arah berlawanan, di tebing Gunung Penanjakan. Layar ketiga berada di Barat Laut, dekat jalan turun dari Penanjakan, dan layar keempat di tenggara, dekat jalan turun dari Cemoro Lawang. Semua persiapan itu dilaporkan panitia kepada Jesus Kristus. “Tuan akan datang dari arah ini tadi, kemudian istirahat di antara tamu VVIP, lalu naik ke panggung itu untuk berbicara. Pengunjung yang tidak bisa melihat Tuan secara langsung, bisa melihat melalui empat layar proyektor ini, yang di sana itu, ini yang di belakang kita dan yang di kiri, di arah sana. Acara ini akan disiarkan secara langsung oleh CNN ke seluruh dunia?”

Rombongan melanjutkan perjalanan memotong jalan melalui depan pura. “Ini seperti sebuah Sinagoga?” Jesus menunjuk ke arah Pura. “Bukan Sinagoga Tuan, itu Pura, tempat ibadat umat Hindu.” Mereka tidak menuju tangga Gunung Bromo, melainkan melintasi bagian tengah Lautan Pasir, ke sisi Timur Bromo, ke arah selatan menuju kaki Gunung Ider-ider. Di sini iring-iringan jip itu menanjak, memanjat tebing Gunung Ider-ider. Sesampai di puncak tebing, jalan sempit itu menurun bercabang dua. Jalan pertama menurun menuju kampung Ngadas. Jalan kedua naik menyusuri gigir tebing ke arah timur, lalu turun ke Ranu Pane. Di salah satu gigir Gunung Ider-ider ini, rombongan berhenti. Bromo dengan ketinggian 2.392 m dpl, adalah puncak paling pendek di seluruh kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, seluas 50.276,3 hektar, yang berada di empat kabupaten: Pasuruan, Malang, Lumajang dan Probolinggo. Puncak paling tinggi Gunung Penanjakan, 2.770 m dpl. Nomor dua Gunung Widodaren, 2.614 m dpl, kemudian Gunung Ider-ider 2.527 m dpl, Gunung Mungal 2.480 m dpl, kemudian Gunung Batok 2.440 m dpl.

Cuaca pagi itu sangat cerah, hingga di selatan sana, tampak hutan berbukit-bukit, dusun Ranu Pane, dan di latar belakang menjulang Gunung Semeru setinggi 3.676 m dpl.
Secara periodik setiap sekitar 10 sampai 15 menit, dari puncak Semeru itu menyembul asap putih keabu-abuan, yang membubung ke angkasa dan tak lama kemudian diseret ke arah berhembusnya angin. Dari arah bawah ada dua buah jip dari Tumpang yang dicarter  para pendaki Gunung Semeru.  Mereka harus melalui rute ini, untuk menuju Ranu Pane. Selain dari Tumpang, Ranu Pane juga bisa dijangkau dari Desa Senduro, Lumajang, yang terletak disisi timur Semeru. Ranu Pane adalah kampung yang terletak di tengah-tengah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Di sini ada dua danau kecil (ranu), yakni Ranu Pane di sebelah tenggara kampung Ranu Pane, dan Ranu Regulo di sebelah timur Ranu Pane. Di selatan Ranu Pane, dibalik jajaran bukit berhutan lebat, ada danau Ranu Kumbolo yang lebih besar. Di Ranu Kumbolo inilah biasanya para pendaki Semeru bermalam, sebelum melanjutkan perjalanan lewat Tanjakan Cinta ke Kali Mati dan Arcopodo.

Meskipun matahari sudah bersinar cukup terik, tetapi udara di gigir bukit yang merupakan kaki Gunung Ider-ider ini tetap sejuk. Paling tinggi, suhu udara siang hari di Dataran Tinggi Tengger, hanya sekitar 20° C. Sementara suhu malam hari, terutama menjelang pagi, rata-rata sekitar 3° C. Ketika cuaca cerah, tidak ada angin, pada dini hari bulan-bulan Agustus, dan September, suhu udara bisa turun sampai di bawah 0° C. Ketika itulah akan turun frost, kabut es, yang oleh masyarakat setempat disebut embun upas. “Selamat pagi, Bapak-bapak ini juga mau naik?” tanya anak-anak muda itu. “Selamat pagi, kami akan ke Tumpang. Kami dari Bromo.” Dua jip itu terseok-seok menyisir gigir bukit, di ujung timur, mereka berbelok menuruni lereng selatan gunung Ider-ider. Setelah melihat-lihat Lautan Pasir dan Bromo di utara, serta Ranu Pane dan  Semeru di selatan, rombongan itu turun dari ke arah Tumpang, belok kanan ke Nongkojajar, dan naik lagi menuju Penanjakan, lalu turun ke Bromo Cottage. Makan siang sudah disiapkan.

Syahdan, orang pun mulai berdatangan ke Tengger. Hotel-hotel di Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lawang, Pandaan, Tretes, Batu, dan terutama di Tosari, Sukapura, Ngadisari, dan Cemoro Lawang, semua sudah dipenuhi tamu. Warung tiban bermunculan di Lautan Pasir. Anak-anak muda pecinta alam memasang tenda di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan panitia. Wartawan dalam dan luar negeri standby. Tetapi ijin dari Kapolri tetap masih belum turun. “Bagaimana kalau sampai detik terakhir ijin belum juga turun? Sebab Mabes Polri mengatakan, ijin akan keluar, kalau ada rekomendasi dari KWI. Sementara sampai sekarang, KWI tidak pernah menjawab, ajuan permintaan rekomendasi dari panitia.” Ketua Panitia lalu menghubungi Jesus Kristus yang sedang ngobrol dengan wartawan Majalah Hidup. “Tuan, maaf mengganggu, sampai sekarang ijin dari Kapolri masih tetap belum turun.” Jesus mendehem, lalu menjawab. “Apakah Putera Allah yang ingin menyapa manusia, memerlukan ijin dari manusia ciptaannya sendiri? Jalan terus saja, tidak akan ada apa-apa.”

* * *

Rapat Koordinasi Bidang Polkam memutuskan, bahwa acara yang diselenggarakan oleh PT Garuda Perkasa Entertainment di Kawasan Taman Nasional Tengger, Jawa Timur adalah illegal. Aparat keamanan segera akan memanggil penanggungjawab acara tersebut. Menteri Dalam Negeri telah menegur Gubernur Jatim, yang dinilainya lalai dan membiarkan acara ini terpublikasikan ke seluruh dunia. Sebaliknya, Bupati Kabupaten Malang, Walikota Malang, Bupati Pasuruan, dan Probolinggo, menolak untuk menghentikan aktivitas ini. Bagi mereka, acara ini akan mendatangkan pemasukan yang lumayan di tengah krisis ekonomi berkepanjangan. Sebab orang akan berduyun-duyun mendatangi kawasan Tengger. “Biar saja menteri dan gubernur melarang. Bupatinya kan saya. Silakan dipecat kalau bisa. Saya menjadi bupati bukan ditunjuk menteri dan gubernur, melainkan dipilih rakyat. Yang bisa memecat saya rakyat, bukan menteri dan gubernur. Ya kan rekan-rekan? Sekarang sudah bukan jamannya lagi sedikit-sedikit dilarang, sedikit-sedikit diarahkan. Emangnya kita-kita ini kuda yang harus dikendalikan oleh Jakarta dan Surabaya?”

Menteri Hukum dan HAM segera memanggil Direktur Jenderal Imigrasi. “Manusia yang menyatakan dirinya sebagai Jesus Kristus ini sebenarnya siapa? Paspornya paspor mana? Kerajaan Jordania? Jadi memang benar namanya Jesus Kristus? O, cuma Jesus doang? Jesus Binti Jusuf? Lho, kalau di Quran kan Isa Binti Maryam. Lalu visanya dari Kedubes kita di Amman? Berarti dia masuk Indonesia secara legal. Tujuan kedatangannya? Untuk entertainment? Ya legal berarti. Secara hukum kita tidak bisa menangkap dia dan mendeportasikannya, sebab Jordania adalah negara sahabat. Kok dia bisa mendapat paspor Jordania ya? Coba kamu kontak pemerintah Jordania, paspor ini dikeluarkannya kapan, dan orang ini lahirnya kapan dan dimana? Sudah kamu hubungi? Jadi paspor baru ya? Lahirnya tanggal 25 Desember tahun 0001, di Bethlehem? Gila kamu itu? Mana ada orang lahir tahun 0001 sekarang masih hidup? Tapi ya sudahlah, berarti kita sudah kecolongan. Kalau sudah begini ini, kita-kita juga kan yang akan menanggung akibatnya? Kita yang akan repot. Sudah, sekarang saya harus lapor Presiden.”

Menteri Kehutanan juga memanggil Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. “Anda ini bagaimana? Ada Taman Nasional kita diacak-acak orang kok diam saja. Tidak lapor ke saya. Sebenarnya Anda ini masih mau jadi Dirjen, atau sudah mau dipensiunkan? Ini kalau sudah sampai menjadi konsumsi pers seperti ini, kita kan repot meredamnya. Itu kalau ada jutaan orang masuk Taman Nasional, masalah sampah bagaimana? Belum lagi masalah orang kencing dan berak? Anda itu katanya Doktor Kehutanan dari British Columbia, kok soal-soal seperti ini bisa sampai tidak tahu itu bagaimana? Ini barusan saya disemprot Presiden, sebentar lagi pasti akan dipanggil DPR. Anda tahu kan, kalau Pak SBY itu sedang mengupayakan agar citranya di masyarakat semakin membaik. Kok upaya yang sudah dibangun susah payah oleh Tim Sukses Beliau, Anda rusak sedemikian mudahnya. Ini UNEP, dan WWF, pasti akan segera melayangkan surat protes mereka. Yang saya takutkan, Greenpeace akan segera datang ke Jakarta dan menggelar demo di depan Istana. Kalau ini sampai terjadi, habislah kita.”

“Sudah Pak?”  Menteri Kehutanan itu tambah meluap amarahnya. “Apanya yang sudah? Aku ini sejenak berhenti ngomong, karena haus dan mau meneguk air putih ini. Kok Anda berani-beraninya menyela! Aku ini menteri tahu? Tidak usah pakai membela diri, tidak usah mencari-cari dalih untuk menyelamatkan diri, sebab nasib Anda sudah jelas. Aku akan rekomendasikan ke Presiden, agar Anda diganti oleh mereka yang kapabel. Ternyata S3 Kehutanan dari Kanada tidak menjamin kualitas kinerjanya.  Mending aku ini yang hanya S1 dari Kehutanan UGM, tapi bisa jadi menteri. Harus bagaimana lagi aku ngomong ke Pak Presiden ini nanti. Atau Anda sekalian ikut saja ke Istana sore ini nanti, biar disiapkan sekalian SK Pemberhentian Saudara! Saya malu sekarang ini. Malu! Di mana-mana ketemu orang yang ditanya soal Tengger. Ketemu orang yang ditanya soal Tengger. Aku sampai bilang begini: Memangnya aku ini Lurah Tengger apa kok kalian enak saja tanya-tanya soal Tengger? Apalagi para wartawan itu! Yang diuber-uber ya amplop, amplop, dan amplop, lalu kalau tidak kita siapkan, aku yang akan diperasnya!”

“Sudah Pak? Maksud saya, sekarang saya sudah boleh berbicara? Panitia, dan PT Garuda Perkasa Entartainment, sudah sejak jauh hari mendapat ijin resmi penggunaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, untuk kegiatan ini. Ini Pak kopi ijinnya, yang tanda tangan juga Bapak sendiri. Sesuai dengan kesepakatan, pihak panitia juga sudah setor ke KBN sebesar empat èm. Sebenarnya panitia memang sudah menganggarkan sepuluh èm, tetapi yang enam èm, katanya untuk Tim Suksesnya Pak SBY. Saya tidak tahu Tim Sukses yang mana, dan yang saya takutkan, jangan-jangan Pak SBY sendiri juga tidak tahu hal ini. Wong Bapak saja juga tidak tahu kok. Saya juga baru tahu kemarin setelah marah-marah ke Kepala Taman Nasional. Jadi ini legal formal, dan ada dukungan politis, terutama dari Partai Demokrat. Lalu tentang lingkungan Pak, panitia sudah menyediakan ratusan mobil toilet, dan ribuan tempat sampah portable. Yang Pak Menteri juga perlu tahu, Pemkab Pasuruan, Probolinggo, dan Malang, telah menargetkan retribusi langsung masing-masing paling sedikit dua èm. Belum lagi pemasukan dari tax and service hotel serta restoran. Taman Nasional juga menargetkan pendapatan dari tiket masuk, tetapi nilainya tidak sampai èm.”

“Yang saya dengar Pak, ijin dari Kapolri sampai sekarang justru belum turun. Ya biasalah Pak, kalau dari sana biasanya baru akan beres pada detik-detik terakhir. Ini hajatan besar Pak. Jadi saya memang ekstra hati-hati. Di tingkat pelaksanaan, Kepala Taman Nasional, sudah berkoordinasi dengan empat kabupaten sekaligus: Pasuruan, Probolinggo, Malang, dan Lumajang. Sebab diduga akan ada massa yang masuk melalui Senduro ke Ranu Pane dan Gunung Ider-ider. Pemerintah Kabupaten juga sudah mengerahkan aparat kepolisian. Mereka yang akan masuk ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger diperiksa ketat. Untunglah Pak, panitia telah berbaik hati mendatangkan metal detector, hingga aparat kepolisian dan taman nasional, agak diringankan kerjanya. Selain tidak boleh membawa senjata api dan senjata tajam, pengunjung juga dilarang membawa minuman keras. Sebenarnya ini memang sudah standar sehari-hari kami, hanya sekarang ini pemeriksaannya lebih ketat lagi. Jadi sekali lagi, saya mohon Bapak masih tetap bisa mempercayai kami-kami yang di lapangan ini.”

* * *

“Saya selaku Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia, menyatakan, bahwa KWI sama sekali tidak berurusan dengan Acara Penampilan Jesus Kristus di Tengger. Sesuai dengan hasil rapat Presidium yang lalu, sikap KWI sudah sangat jelas, yakni, Jesus Kristus sebagai Putera Allah, hanya bisa ditemukan dalam perayaan Ekaristi, bukan dalam diri orang yang menamakan dirinya sebagai Jesus Kristus, dan akan tampil di Tengger. Maka, dalam hal ini KWI juga menghimbau kepada seluruh umat Katolik di Indonesia, bahkan juga umat Katolik di negara-negara lain, untuk tidak datang ke Tengger. Kebijakan ini juga sudah dilaporkan ke Bapa Suci di Vatikan, dan diteruskan ke para uskup di seluruh Indonesia. Namun demikian, KWI juga tidak bisa melarang, apabila ada keuskupan yang tidak melarang umatnya untuk datang ke Tengger. Sebab 37 keuskupan di Indonesia, untuk hal-hal yang tidak secara langsung menyangkut hukum gereja, bisa membuat kebijakan masing-masing, tanpa harus berkonsultasi dengan keuskupan lain, maupun KWI. Dalam waktu dekat ini, Sekretariat Jenderal KWI,  juga akan berkoordinasi dengan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, menyangkut permasalahan umat Kristiani belakangan ini.”

“Begini ya rekan-rekan wartawan, terutama Wartawan Hidup itu ya? Kalian ini tidak usah meributkan kebijakan saya selaku Uskup Surabaya, dengan kebijakan keuskupan lain, bahkan dengan kebijakan KWI. Anda sebagai wartawan harus cermat. KWI tidak pernah melarang umat Katolik untuk datang ke Tengger. Sebab KWI memang tidak punya kewenangan untuk itu. KWI hanya menghimbau. Yang dilarang adalah menyembah Kristus yang tidak sesuai dengan hukum gereja. Itu yang tidak boleh. Dalam hal yang satu ini, saya juga bersikap sama dengan KWI. Juga uskup-uskup lain. Orang-orang Katolik yang datang ke Tengger itu kan hanya sekadar ingin tahu. Apa benar yang hadir di sana itu Jesus. Kan boleh saja orang ingin tahu? Kecuali, kalau orang yang menamakan dirinya Jesus ini, kemudian mempersembahkan misa di sana, lalu umat Katolik mengikutinya, kemudian menerima Sakremen Ekaristi, nah, ini yang tidak boleh. Sebab begini ya saudara-saudara, sekarang ini kan siapa saja bisa menamakan dirinya Jesus, lalu dengan teknologi modern membuat keajaiban-keajaiban, membuat mukjizat. Kalau sudah demikian, bisa kacau kan?”

“Ya saya ini memang Kardinal Indonesia. Tetapi jangan kalian ini, para wartawan, memaksa-maksa saya untuk mengatakan, apakah yang sekarang berada di Tengger itu benar Jesus Kristus atau bukan. Saya kan di Jakarta, dan memang tidak akan datang ke Tengger, takut berdesak-desakan, terinjak-injak. Kan saya sudah tua? Jadi saya tidak tahu apa itu benar Jesus Kristus atau bukan. Teman-teman kalian kan sudah ke sana? Tanya dong sama yang sudah kesana itu. Memang saya adalah Kardinal, pembantu Bapa Suci, tetapi setiap harinya tidak ada tugas rutin khusus selaku Kardinal. Tugas rutin saya ya sebagai uskup agung. Saya jelas tidak akan menganjurkan umat saya untuk ramai-ramai datang ke Tengger, tetapi sebaliknya kalau ada yang mau ke sana juga tidak akan saya larang. Kalau para imam di keuskupan saya ini akan datang ke sana, terutama imam projonya, ya akan saya tanya dulu. Kamu itu sedang mengajukan cuti lalu mau piknik, atau mau apa ke Tengger sana? Dan saya yakin, imam-imam saya tidak akan ada yang seperti itu. Yang bukan imam projo masih punya atasan masing-masing, yang tentu akan mengambil kebijakan yang sama.”

“Sebagai pengelola Majalah Katolik, kita mutlak harus mengirim wartawan ke sana. Kita mengirim wartawan ke sana, itu tidak ada kaitannya dengan percaya atau tidak percaya, juga tidak bertentangan dengan himbauan KWI. KWI itu menghimbau, agar umat Katolik tidak berduyun-duyun datang ke Tengger, sebab kalau lima juta umat Katolik itu semuanya datang ke Tengger, gereja akan kosong, kolekte tidak masuk. Jadi himbauan KWI ini sudah jelas. Karena sebagian besar umat tidak akan datang ke Tengger, maka kita wajib untuk meliputnya. Memang, masyarakat Katolik pasti sudah mendapat berita dari televisi, koran, majalah umum, bahkan juga internet dan SMS. Maka, hasil liputan kalian kelasnya juga jangan kelas SMS. Kalian wajib untuk memberi pencerahan kepada pembaca. Pertanyaan pokok mereka adalah, ini benar Jesus asli, atau Jesus gadungan. Menjawab pertanyaan ini pasti tidak mudah. Mukjizat ketika jumpa pers kemarin, belum menjawab pertanyaan tersebut. Maka yang perlu kalian lakukan, sebenarnya sederhana sekali.”

“Coba kalian dekati Romo Sujatmiko, atau roomboy Bromo Cottage. Minta ke mereka, agar bisa memperoleh sample rambut orang itu. Nanti kita tes DNAnya. Memang tes DNA mahal, tetapi kalau hal ini bisa kita lakukan, majalah kita akan unggul dibanding tivi sekalipun, yang beritanya hanya berita ècèk-ècèk gaya infotainment. Coba kalian lihat tayangan tivi apa kemarin itu?  Pertanyaannya kan ngawur sekali: Bagaimana sebenarnya hubungan Anda dengan Maria Magdalena? Apakah Anda pernah sempat menikah? Itu kan khas infotainment. Pertanyaan mereka sungguh tidak bermutu. Tetapi saya senang. Sebab dengan demikian, ada peluang bagi Anda semua untuk tampil. Kalau hasil kerja kalian hebat, maka majalah kita ini akan menjadi rujukan media sedunia. Apa kalian tidak bangga kalau hal ini bisa terjadi? Kalian akan diwawancarai CNN, Al Jazzera, New York Times,  Yumiuri Shimbun, dan lain-lain. Kalian bukan lagi sekadar wartawan, melainkan sudah sebagai nara sumber. Ini peluang besar, yang kalian bisa memanfaatkannya, bisa pula melewatkannya.”

“Cecurut sebelas ke kadal empat, ya cecurut sebelas ke kadal empat ganti. Oke, cecurut sebelas akan melaporkan bahwa semut sudah mengerumuni sarang, ya sarang sudah penuh dengan semut ganti. Cecurut sebelas melaporkan bahwa tidak mungkin menghalau semut-semut ini, dengan cara apa pun tanpa membahayakan mereka ganti. Cecurut sebelas juga baru saja ketemu dengan tikus delapan, ya tikus delapan ganti. Benar, tikus delapan mengatakan bahwa keberadaan merpati sudah terdeteksi ganti. Menurut tikus delapan, merpati sulit diberi umpan ganti. Cecurut sebelas sekarang sedang di lokasi syuting, ya di lokasi syuting ganti. Tidak tahu, cecurut sebelas tidak tahu kalau tikus sepuluh sudah meluncur kemari ganti. Tadi selain tikus delapan, cecurut sebelas juga ketemu dengan tikus duapuluh ganti. Cecurut sebelas tetap masih kenyang, ya cecurut sebelas tetap masih kenyang ganti. Cecurut sebelas akan kontèk sepuluh menit lagi ganti. Ya sepuluh menit lagi ganti.”

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: