Tim Sukses Mega

17/02/2014 at 15:51 (novel)

“Ibu Mega itu Puteri Bung Karno. Ibu Mega itu juga bisa belajar dari kesalahan masa lalu. Ibu Mega itu juga sudah kenyang teraniaya, terutama pada jaman Orde Baru.  Ibu Mega juga sudah biasa dikhianati, ditinggalkan oleh mereka yang pernah dibesarkannya. Ibu Mega juga tidak pernah berniat untuk membasmi hama kutu loncat. Tahu kan apa yang aku maksud? Sebab kita harus jujur, bahwa tahun 1999 juga banyak kutu loncat yang pindah dari Pohon Beringin, ke Tengkuk Banteng Gemuk. Memang Ibu Mega juga banyak cacatnya. Beliau sangat menyadari hal itu. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Beliau juga banyak sekali menghadapi ancaman. Tetapi beliau juga punya kekuatan, beliau juga punya peluang. Itulah yang selama ini selalu kita SWOT. Tugas kita adalah mengubah kelemahan menjadi kekuatan, dan menjadikan ancaman menjadi peluang. Semua itu sudah sama-sama kita ketahui, sudah sama-sama kita sepakati. Yang jadi masalah, adalah mereka-mereka yang masih bercokol di PDIP, tetapi hatinya ada di Demokrat. Ini yang agak susah.”

“Mas-mas, jangan ngomong muter-muter begitu. To-the-point saja, sampeyan itu maunya apa? Kami-kami ini mau disuruh ngapain? Katanya minggu lalu Masnya ini mau ketemu dengan Pak Arif? Ya sudah diceritakan saja hasilnya seperti apa, lalu kita mau bagaimana, lalu kami-kami ini harus mengerjakan apa? Mari kita bicara yang praktis-praktis saja, kita bicara yang penting-penting saja. Siapa sebenarnya yang mau jadi pasangan Ibu? Apa Pak Sultan? Apa Pak Hidayat? Atau Pak Prabowo? Atau siapa? Saya ini tentara, jadi kerjanya itu harus cepat, harus tegas, tanpa basa-basi. Kalau komandan bilang tembak, ya kami akan tarik pelatuk. Kalau komandan bilang serbu, ya kami pasti akan bergerak maju. Tolong yang agak tegas sedikit, sebab yang di seberang sana itu tentara semua. Pak SBY tentara, Pak Prabowo tentara, Pak Wiranto tentara, Pak Sutiyoso tentara. Hanya Pak Sultan dan Pak Kalla yang bukan tentara. Tetapi Pak Kalla kan pengusaha yang juga biasa berpikir cepat. Pak Sultan memang lamban tetapi beliau Raja Jawa. Kalau sudah berbicara akan langsung dipegang oleh seluruh orang Jawa. Ibu kita itu selama ini memang agak lamban. Biar saja, sebab yang harus gerak cepat bukan beliau, tetapi kita!”

“Saudara enak saja ngomong gerak cepat, gerak cepat. Ibu itu justru sudah nguber-uber kita semua. Tetapi saudara semua tahu kan? Golkar yang partai besar itu pun sekarang ini lamban sekali geraknya. Mengapa? Gizi mereka juga parah. Bahkan lebih parah dari kita. Mesin uang mereka sedang kolaps sekarang ini. Nah kalau saudara memahami hal ini, maka harusnya tahu, mengapa kita juga sedikit lamban. Yang gizinya cukup sekarang ini hanya Demokrat dan Gerindra. Hanura malah sudah kehabisan amunisi dari awal. Demokrat sudah jelas. Orang sebodoh apa pun tahu, dari mana mereka mendapat gizi cukup. Yang banyak dipertanyakan kan Gerindra. Ada yang bilang itu duitnya Thaksin, duitnya Sultan Brunei, duit dari Yordania dan lain-lain. Kita tidak usah meributkan hal itu. Gizi kurang tidak jadi soal. Ingat kan tahun 1999, bagaimana kondisi gizi kita? Parah sekali kan? Kita semua modal dengkul. Kok bisa? Kondisi 2004 lebih baik. Ketika itu Ibu incumbent, partai ada uang. Kok yang menang Golkar yang ketika itu justru kacau? Kok Ibu juga kalah dalam Pilpres putaran II?”

“Sebenarnya kita punya harapan Mas. Kita bisa mengulang sukses 1999, partai kita menang. Tetapi yang berat kan mendorong Ibu supaya jadi presiden. Pak SBY pun sebenarnya juga berat. Yang enteng itu Pak JK. Beliau itu kalau hanya ingin jadi wapres, sekarang ini sudah di tangan. Kalau beliau jadi pasangan Pak SBY, peluang Pak SBY paling besar. Andaikan beliau maju sendiri, dengan mesin Golkarnya meskipun bensinnya seret, juga oke. Misalnya pasangan dengan Pak Sultan. Bisa Pak Sultannya yang I, bisa pula yang II tidak ada masalah. Itu kalau Golkar menang di legislatif. Kalau Golkar nomor dua seperti 1999, Pak Kalla tinggal negosiasi dengan Ibu, maka peluangnya juga paling besar. Ini kombinasi paling tepat: Perempuan – Laki-laki, Jawa – Luar Jawa, Pendiam – Banyak Omong, Lamban – Gesit; dan jangan lupa Mas, di belakang beliau berdua ada PDIP serta Golkar. Jadi aman. Ini peluang paling baik bagi kita semua. Pak SBY itu memang bisa maju dengan pasangan bukan Pak JK, tapi pemerintahannya akan kacau. Sebab akan ada dua partai besar yang jadi oposan, ya kita dengan Golkarlah, kok masih tanya siapa.”

“Nanti dulu. Pak SBY itu bagaimana pun incumbent. Gizinya cukup. Dia bisa berpasangan dengan Pak Hidayat Nur Wahid, bisa dengan Ibu Sri Mulyani. Jadi tanpa Pak Kalla pun, Pak SBY itu tetap bisa punya peluang cukup besar. Kalau sudah jadi, tentang akan dijegal-jegal DPR seperti apa pun, beliau akan bisa mengatasi. Saudara ini kok seperti tidak tahu moral anggota DPR kita sih? Pak SBY dengan Bu Sri Mulyani itu peluangnya juga besar. Kemungkinan kondisi negara akan membaik cukup besar. Tetapi tenang saja saudara-saudara. Para Boss Besar tidak akan tinggal diam. Bu Sri Mulyani itu kan tidak disukai oleh para Boss Besar kita. Ingat dulu waktu Bu Miranda mau jadi Gubernur BI itu? Fit and Propertest sudah, rekomendasi dari Ibu juga sudah di kantong. Anggota Komisi 9 juga sudah diamankan. Bu Miranda itu blundernya ketika dalam Fit and Propertest ngomong mau menindak para Boss Besar, yang disebutnya sebagai konglomerat hitam. Malam itu juga habis dia. Uang dari Singapura malam itu turun ke Komisi 9 dengan jumlah jauh lebih besar lagi. Paginya, ketika hasil pilihan dihitung, yang jadi Pak Burhanudin, yang sama sekali tidak dijagokan!”

“Mas-mas, tolong tidak usah terlalu mendalam menganalisis lawan. Kita sendiri bagaiamana? Kita harus konsentrasi ke Ibu. Mereposisi ibu agar bisa beda dengan citra yang selama ini sudah melekat di masyarakat, kan tidak mudah? La itu lo, katanya Mas ini akan kontak Pak Arif? Hasilnya bagaimana? Lo, jangan sepelekan dia! Pak SBY pakai dia, Demokrat pakai, Golkar juga pakai dia. Dan ini Mas, yang heboh di Tengger ini, kan yang dapat proyek Pak Arif? Lo bukan! Ini tidak ada hubungannya dengan orang-orang Kristen kok. Tidak ada sama sekali. Ini murni bisnis, dan katanya juga soal kemanusiaan. Yang justru saya takutkan Mas, jangan-jangan proyek ini ada kaitannya dengan manufer Pak SBY. Sebab ini memang agak misterius kok. Dan kita juga belum tahu, acaranya itu nanti seperti apa? Ya kalau Pak SBY bisa memanfaatkan Nabi Isa Alaihissalam untuk mengumpulkan massa, lalu atribut Demokrat dipasang, lalu Pak SBY tampil, habislah ibu. Itu yang harus kita waspadai. Itu yang kami ini menunggu, dengan Pak Arif  itu hasilnya bagaimana?”

* * *

“Orang-orang yang di Lenteng Agung itu memang sudah keblinger semua. Partai kok dianggap seperti perusahaan. Bu Mega itu puteri Bung Karno, beliau itu pewaris Tahta Bung Karno. Kok dicari-cari kelemahannya, diapakan tempo hari itu? Di SEWOT? Ya siapa yang tidak akan sewot kalau pimpinan partainya dibuat main-main seperti itu. Kunci utama agar Ibu Mega bisa kembali naik, hanya satu. Beliau itu harus pegang Mas Suwito, sebelum ia terpegang oleh Pak SBY. Sekarang ini dia memang lebih condong ke Kanjeng Sultan. Nah, mestinya kan gampang. Kalau Kanjeng Sultan bisa menjadi wakilnya Ibu, semua akan selesai. Semua akan beres. Mas Suwito itu jangan dibuat main-main lo. Di tangannya sudah tergenggam seluruh Pulau Jawa, ya Ujung Kulon, Gunung Srandil, Gua Semar, Lawu, Alas Purwo, semua sudah ia kuasai. Jangan tanya soal Umbul Pengging, Tidar, itu kecil. Tidar itu memang penting karena ini kan pakunya pulau Jawa. Tetapi Mas Suwito itu pintar. Yang dia pegang bukan tengahnya, tetapi dua ujungnya, yaitu Ujung Kulon dan Alas Purwo. Ya selesailah pulau Jawa. Ayo, mau ngomong apa kamu Min? Jangan guyonan lo. Ini serius!”

“Paké, Paké, Ngadimin itu kan selalu serius to Paké! Bapaké saja yang suka pikun. Ya kan? Sudah Pikun kan? Aku kenal baik Suwito Paké! Sejak ia kabur dari Jombang, aku sudah kenal dia. Kungkumnya Suwito di Pengging kan aku yang ngajak Paké! Jadi aku ini tahu benar kelemahan Suwito. Benar memang, ia sudah pegang ekor dan moncongnya Pulau Jawa. Dia juga pegang pusernya Pulau Jawa, yaitu Gua Semar. Tetapi ujung jari Suwito belum bisa menyentuh kontolnya Pulau Jawa. Gunung Srandil itu kan hanya pringsilannya Pulau Jawa. Bukan kontolnya. Padahal Paké, kontolnya Pulau Jawa itu hampir putus, dan mau lepas. Paké, ini bagaimana to? Kontolnya pulau Jawa itu ya Nusakambangan. Dan disinilah letak kelemahan Suwito, juga Sultan. Yang selama ini memegang kontolnya pulau Jawa itu Kasunanan Surakarta. Paké mosok lupa? Kanjeng Sunan Pakubuwono XII itu dulu sedikit-sedikit kan selalu bilang Si Kontol Panjang. Beliau kemudian memang membelokkan, maksudnya Situasi, Kondisi, Toleransi, Pandangan dan Jangkauan! Tetapi yang beliau maksud sebenarnya ya Nusakambangan itu.”

“Wah, memang Cah Bagus tenan kamu itu Min! Bagus! Aku memang lupa yang ini. Benar! Di Nusakambangan itu, di Karang Bandung, kan memang ada Cangkok Wijaya Kusuma. Iyo Min, la kamu itu kok ya baru ngomong sekarang. Jadi kita memang tidak bisa mengabaikan Kasunanan, meskipun secara politik tidak ada apa-apanya, tetapi ya itu tadi, kamu itu nyebutnya kok tepat bener: Kontolnya Pulau Jawa! Ya bagaimana orang hidup kalau tidak punya yang satu ini ya Min? Memang ketika kerajaan pecah jadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, ada kesepakatan bahwa Kasunananlah yang melanjutkan tradisi mengambil Cangkok Wijaya Kusuma dari Karang Bandung untuk syarat jumenengan. Kasultanan merelakan hal ini. Hanya soal Gunung Merapi, memang ada kesepakatan lain. Kasultanan menyembah dari arah selatan, dengan Juru Kunci Mbah Maridjan sekarang ini, dan Kasunanan dari arah Selo dengan Juru Kunci Mbah Dwijo. Untung kamu ini mengingatkan aku Min!”

“Makanya, Paké! Sekarang terus terang, Paké punya kontak dengan orang kunci di Kasunanan atau tidak? Aku punya lo Paké! Jangan dihina Ngadimin ini Paké. Mbah Dwidjo aku kenal baik. Paké kan hanya kenal nama. Aku sering nginep di rumahnya. Mbah Maridjan itu kan hanya hura-huranya saja kalau soal Merapi. Mbah Dwidjo tidak. Paké tidak tahu kan kalau tiap tahun ada slametan di Pasar Bubar, di bawah Puncak Garuda? Ya, Paké ini bagaimana. Ya di Merapi to Paké. Dan itu semua Mbah Dwidjo yang berperan. Nah, kalau begitu Paké, logistik ya jangan didrop ke Suwito semua. Harus ada yang ke Ngadimin to Paké. Ya tidak usah urusan dengan Lenteng Agung, tidak usah urusan dengan Tim Sukses. Langsung saja menghadap Bunda. Jangan ke Ayahanda. Nanti langsung dipotong. Orang saya pernah diminta Bunda untuk mengambil air di Sendang Drajat di Puncak Lawu, baru saja mau berangkat, Ayahanda tahu langsung saya disemprot. Apa itu klenik seperti itu? Ngabis-ngabisin logistik. Tahu kan kalau kondisi kita sekarang beda dengan 2004, dan macam-macamlah Paké. Jadi bagaimana?”

“Ini yang saya tidak berani ngomong Min. Kamu harus usaha sendiri. Ya jelas tidak beranilah aku. Apalagi kalau sama Ibu harus ngomong soal kontol segala macam kan bisa repot Min. O, ya benar ya. Bilangnya bukan kontol tetapi lingga. Ya, ya, kamu itu sebenarnya memang encer kok Min utekmu itu. Tetapi saya tetap tidak sanggup kalau harus memotong logistiknya Mas Suwito, lalu didrop ke kamu. Tidak sanggup Min. Atau begini. Kita ketemu Ibu berdua, kamu yang ngomong, aku yang memperkuat. Bagaimana? Ya gampang kalau hanya ketemu Bunda. Tetapi harus kamu sendiri yang ngomong ke Bunda. Kamu itu kan tahu, kalau aku ini susah ngomong kan Min? Ya maksud aku kalau harus ngomong formal ke Bunda, bukan ngomong seperti sekarang ini. Tetapi benar ya kamu ada kontak dengan Kasunanan? Dengan Sinuwun langsung? Jangan sembrono lo Min. Ini serius. Ini menyangkut soal masa depan bangsa. Kalau Ibu tidak bisa naik lagi, kamu lihat kan selama lima tahun ini? Bencana, bencana, bencana, seperti tidak ada habis-habisnya.”

“Jadi Paké ini tidak percaya kalau Ngadimin kenal sama Sinuwun Surakarta? Ya sudah. Kalau dengan Sultan X saya memang tidak kenal Paké. Tetapi dengan Sinuwun, ya Sinuwun XII, ya yang XIII, Ngadimin kenal baik. La wong Sinuwun XIII itu sudah bolak-balik jalan sama Ngadimin kok Paké. Ya jalan kemana-mana. Ya kalau Paké tidak percaya ya tidak apa-apa. Ingat Pake, keraton di Jawa itu ada berapa? Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, Pakualaman, Kasepuhan, dan Kanoman. Nah, kalau kita ngomong yang paling tua, memang Kasepuhan di Cirebon. Tetapi kalau kita ngomong yang punya garis dengan Majapahit, ya jelas Kasunanan. Maka, siapa pun yang akan menguasai Indonesia, pertama-tama harus menguasai Jawa. Ini kan yang juga dilakukan Londo kan Paké? Lalu kalau mau menguasai Jawa, ya harus menguasai keratonnya. Ini juga dilakukan Londo kan Paké? Makanya, jangan sedikit-sedikit Mas Suwito, sedikit-sedikit Mas Suwito. Ngadimin ini juga penting lo Paké!”

* * *

“Mestinya Ibu Mega itu masuk Face Book. Litbang kan bisa mengurusnya. Ingat lo, Obama itu bisa menang, antara lain juga karena faktor Face Book. Lha kok ini semua orang sudah ada di Face Book, Bunda malah belum. Anak-anak buah Bunda malahan yang pada berebut masuk Face Book, dan Bundanya ditinggalkan. Sebenarnya sekarang ini juga belum terlambat. Mengapa Abang tidak mau kasih saran ke Bunda? Apa Abang kira ini bukan hal yang serius? Serius ini Bang. Ya, ya, memang benar. Bunda itu juga perlu les privat Public Speaking. Beda Bang, kalau bokapnya jelas beda. Bung Karno itu tokoh besar. Guru Orasinya siapa coba? Haji Omar Said Tjokro Aminoto, ya mertuanya sendiri. Lo, Abang kita ini bagaimana? Sebelum menikah dengan Bu Fat, ibunya Bunda, Bung Karno itu kan menikah dengan Utari, Puteri Pak Tjokro. Lalu Utari dicerai, dan beliau menikah dengan Bu Inggit. Jadi Bu Fat itu isteri ketiga Bung Karno. Tetapi dengan Utari dan Bu Inggit, Bung Karno tidak punya anak. Justru karena itu Bang. Saya menyarankan agar Bunda itu sedikit dipoles begitulah Bang.”

“Memangnya Bunda kita itu penyok-penyok lalu harus dipoles dengan dempul, diamplas, lalu dicat Duco begitu? Bunda kok kau samakan dengan mobil. Saran kau itu, Abang sudah lakukan lama. Kau lihat tidak penampilan Bunda sekarang? Lain kan? Sebenarnya ini sudah Abang lakukan ketika Bunda naik tahun 2001 dulu. Tetapi ya memang tidak mudah mengubah karakter orang yang sudah seusia Bunda itu. Tetapi yang tadi kau bilang fis buk itu barang apa itu? Bukannya kita sudah ada apa itu namanya? Web? Ya kan sudah ada kan? Lalu yang kau maksud itu yang bagaimana? Pokoknya yang lebih canggih begitu? Tetapi nanti mahal? Kalau itu memang ada manfaatnya, nantilah aku usulkan ke Bunda. Pokoknya kalau urusan dengan Bunda, serahkan saja ke Abang, semua akan beres. Saya memang lihat, tim kreatif kita juga lemah. Tetapi jangan sampai ke Ayahanda. Kau kayak tidak tahu saja? Kalau sudah sampai ke beliau, ya serba susah jadinya. Ya aku akan tetap usaha, tetapi tidak bisa janji. Abang ini kan gatèk kalau soal-soal begituan. Ya kau bikinlah tertulis, nanti aku sampaikan.”

“Abang kita ini memang gatèk bener kok. Web dan Face Book ya lain to Bang. Agak susah Bang menjelaskan sesuatu yang Abang tidak tahu. Pokoknya itu yang berhubungan dengan komputer dan internetlah. Abang ini tahunya teknologi kan hanya SMS. Selebihnya nol. Padahal di rumah kan ada komputer. Anggota DPR kan juga dapat jatah Laptop. Yang pakai Laptopnya siapa itu Bang? Sekretaris atau anak? Nganggur? Abang sebenarnya kan bisa belajar. Itu kan barang kelihatan Bang. Kalau Bunda ya lain. Bunda sudah terlalu tinggi untuk urusan seperti itu. Yang lain-lain saya kira juga begitu. Meski pun Bunda jelas tidak bisa disamakan dengan Obama. Orang Amerika pun, yang tua-tua juga gatèk. Ketika Obama memanfaatkan Face Book, sebenarnya kan dalam upaya merangkul yang muda-muda. Nah, di negeri kita, yang muda-muda juga masih banyak yang gatèk. Paling tidak mereka tidak kuat beli alatnya. Jadi meskipun upaya itu ditempuh Bunda, hasilnya belum tentu efektif.”

“Begini, meskipun Abang ini gatèk, tetapi bisa menangkap yang kau maksudkan. Yang abang sampai sekarang tetap bingung, itu orang-orang yang suka ke Kebagusan itu ada apa dengan mereka? Yang Abang tahu, mereka itu kalau ketemu Bunda, ngomongnya kelenik terus. Abang sampai pusing mendengar mereka. Itu yang namanya Suwito itu, bawa-bawa keris segala. Untuk potong apa itu keris? Untuk tusuk siapa? Ujung-ujungnya mereka minta duit. Tidak tahu itu. Bunda itu kadang juga mudah sekali kemakan hal-hal begitu. Katanya ada harta karun peninggalan Bung Karno segala. Ini tadi yang kau bilang tadi apa? Fis-buk? Ya, sudah ada itu internet canggih, kok mereka masih bawa-bawa keris segala. Tetapi aku pernah sampaikan ke Bunda, beliau bilangnya Yo Wis Bèn! Apa itu artinya Wis Bèn? Biarin begitu ya? Ya tidak bisa mereka dibiarin begitu saja. Kita musti agak keras ingatkan Bunda. Dulu Suwito, sekarang itu ada siapa itu yang dipanggilnya Paké itu? Sama yang anak muda itu, yang juga Jawa toh? Itu juga keleniknya kuat kan?”

“Tetapi soalnya, pihak sana mainannya juga begitu Bang. Kayak Abang tidak tahu saja. Semua mainannya begituan. Nah, repotnya kadang Bunda kita juga percaya. Padahal, kita semua harusnya mendorong Bunda agar bisa sedikit gaul. Obama itu kan karena ia agak gaul, maka para pemilih muda jatuhnya ke dia. Abang ingat kan ketika jaman Pak Surjadi dulu? Ya ketika masih PDI itu? Ya, ketika anak-anak ABG pakai mobil bokap mereka, dipilox, diberi spanduk merah, persis Bang. Abang masih ingat kan itu semboyan mereka: Metal, Merah Total! Anak-anak muda itu potensinya luar biasa. Clinton dulu, waktu pilihan yang pertama dulu, juga ditolong oleh generasi Baby Booming! Ini yang orang-orang deketnya Bunda kadang susah untuk diajak ngomong. Mereka tahu itu semua, mereka setuju, tetapi kalau mau diajak jalan mereka malas. Ya mereka kan generasi 70an, paling banter 80an. Sementara yang sekarang umur 18 sampai 20an, akhir tahun 1980an dan awal 1990an baru lahir. Para remaja tahun 80an, belum tahu HP, tidak kenal SMS, belum ada Face Book. Mereka yang lahir tahun 1990an, begitu remaja sudah petentang-petenteng pegang HP.”

“Iya, itu semua Abang juga tahu. Tetapi, lalu musti bagaimana kita? Musti kita apakan Bunda kita ini? Kan tidak mungkinlah Bunda kita suruh nyanyi duet dengan BCL? Tetapi bisa juga ya? Kan Pak SBY nyanyi sama Keris Patih? Tetapi apa itu tidak norak? Kau berpendapatlah, jangan hanya diam seribu bahasa begitu. Bunda saja sekarang sudah bisa lancar bicara kok kau malahan ikut diam seribu bahasa. Dengan siapa sebaiknya Bunda berduet? Apa dengan Inul? Nanti malah dikira pornoaksi. Apalagi dengan Dewi Persik ya? Bisa menjadi sasaran Demo Bunda kita. Kau mestinya bentuk tim kecillah. Siapa tahu kalau Bunda naik kau bisa jadi Dirjen ABG. Ya itu, Dirjen yang mengurus para ABG itu. Mereka kan juga harus diurus kan? Ya maksud Abang agar tidak terjebak dengan narkoba begitulah ceritanya. Pokoknya kan harus ada dalihnya, kalau akan membuat Direktorat Jenderal baru. Atau sekalian bikin Departemen baru. Ya paling tidak semacam Menteri Negara Urusan Peran ABG.” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: