Kabut

24/02/2014 at 16:13 (novel)

Rapat Koordinasi Bidang Politik dan Keamanan, memutuskan, agar satu, Acara Menampilkan Jesus di kawasan Tengger, Jawa Timur, dianggap illegal, karena tidak ada ijin dari Kapolri. Dua, Direktur Utama PT Garuda Perkasa Intertainment dan Ketua Panitia akan dimintai keterangan. Tiga, Orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus harus dideportasi secepatnya, dengan alasan, kehadirannya di negeri ini sudah membuat resah warga masyarakat. Empat, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dinyatakan tertutup untuk umum, semenjak pengumuman ini disampaikan, sampai dengan jangka waktu yang belum ditentukan. Aparat keamanan, akan dikerahkan ke Kawasan Tengger, dengan instruksi yang cukup jelas. Apabila ada yang mencoba menerobos masuk ke kawasan ini, akan diberitahu secara persuasif. Kalau yang bersangkutan membangkang, akan ada tembakan peringatan yang diarahkan ke atas. Kalau juga masih bandel, kaki mereka akan ditembak. Kalau masih juga melawan, akan langsung ditembak sampai mati.

Polisi, dengan dibantu oleh tentara, segera diberangkatkan ke Tengger. Jalan masuk ke kawasan ini ternyata macet total. “Kodok dua enam ke Kampret empat, ya ini Kodok dua enam, Kodok dua enam ke Kampret empat; di sini Kodok dua enam sudah siap di dua P dan segera naik ke dua T,  jalan macet total, keranjang tidak bisa masuk, kodok-kodok akan dilepas dan melompat ke dua T, Kodok dua enam ke Kampret empat.  Aparat keamanan dengan susah payah juga harus berjalan kaki ke Tengger lewat Tosari, ada yang lewat Sukapura, Ngadisari, Cemoro Lawang. “Bubarkan mereka dengan gas air mata, dengan bom asap, dengan kanon air!” Yang diberi tugas berdiri tegap, memberi hormat dan menjawab: “Laksanakan!” Tetapi kodok-kodok yang sudah di lapangan menggerutu. “Laksanakan sendiri saja! Ojek sepeda motor pun susah masuk, apalagi panser, apalagi truk, kami ini jalan kaki sekarang.” Yang di Jakarta tambah marah. “Kalian ini goblok semua, kerahkan heli, semprotkan gas air mata dari heli!” Yang di lapangan, kodok-kodok itu, tambah jengkel. “Kabut setebal ini heli juga bisa apa? Datangkan saja seratus heli, paling juga hanya akan muter-muter sebentar di sekitar Malang dan Pasuruan, lalu pulang ke Juanda atau Abdulrachman Saleh.”

Pada hari H itu, kabut tebal menyelimuti dataran tinggi Tengger. Kabut itu seperti selimut yang dihamparkan, nyangkut tertahan Gunung Munggal, Penanjakan, Batok, Bromo, Widodaren, Ider-ider, dan oleh tebing yang memagari Lautan Pasir. Maka Lautan Pasir itu tetap terang benderang. “Tuan, ini mukjizat lagikah?” Tanya ketua panitia kepada Jesus. “Jangan sedikit-sedikit dikaitkan dengan mukjizat. Coba tanya penduduk setempat.” Penuntun kuda itu, menjawab. “Ini memang biasa Pak, namanya kabut atas. Kabut yang hanya bergerak di atas sana, sementara di bawah tetap terang, sebab angin bertiup perlahan, dengan arah tetap, dan berlangsung agak lama. Bisa sampai sore begini terus Pak, dan dijamin tidak akan hujan.”  Bola matahari memang tampak di balik kabut, seperti bolam lampu putih dengan kaca susu. Jesus mengingatkan Ketua panitia. “Benar kan kata mereka? Ini gejala alam biasa? Makanya jangan sotoi, sedikit-sedikit dikaitkan dengan Mukjizat.” Demi melihat Jesus yang rileks, Ketua Panitia itu memberanikan diri bertanya.

“Gusti Jesus, eh Tuan, Tuan ini fasih sekali Bahasa Indonesia, tetapi mengapa kalau dalam acara resmi harus berbicara Bahasa Aram dan diterjemahkan?”
“Aku ini Allah Putera, ngomong apa saja bisa. Ngomong Jowo yo iso. Rak nggih ngoten to Pak?” Tukang Kuda, yang diajak ngomong, menjawab.
“Nuwun inggih, sendiko dawuh!”
“Tetapi untuk acara resmi, memang harus Bahasa Aram, itu kan kalian sendiri yang bikin aturan. Bukan saya, lalu saya sebagai tamu, harus patuh pada aturan main panitia. Maka nanti Romo Sujatmiko dan Pak Eric tetap masih akan menjadi penerjemah.”
“O, Tuané niki jebule nggih iso ngendikan Jowo? Untung mboten kulo rasani. Nek kulo rasani rak nggih ngertos to nggih Tuan?”
“Ya ngerti to Pak.”
“Niki terus mandap to?”
“Iyo!”
“Winginé, niko Panjenengané kok nitih napa niko, sing kados kapal, nanging andap, talingané njaplang dawa?”
“Kuldi, panitia nyilih saka Taman Safari Pandaan. Aku diapusi, jarené ditekakké saka Yordania, sak pawangé sisan.”
“Uwis. Panitia tak senèni. Aku ini Allah Putro kok diapusi.”

Wartawan Majalah Katolik, yang asli Flores, dan tidak tahu Bahasa Jawa, bertanya ke panitia. “Mereka itu ngomong apa Pak?” Panitia menjelaskan. “Itu tukang kudanya bilang, o, ternyata Tuannya ini bisa ngomong Jawa. Untung tidak digerundelin dengan bahasa Jawa, sebab pasti tahu. Lalu tukang kudanya juga menanyakan keledai yang kemarin dipakai ke Penanjakan. Dijawab kalau sudah dipulangkan ke Taman Safari Pandaan. Sebab kemarin itu panitia telah bohong mengatakan bahwa keledai itu didatangkan langsung dari Jordania lengkap dengan pawangnya.” Si Wartawan Flores itu tidak ikut ke Penanjakan. “O, jadi waktu ke Penanjakan naik keledai ya? Dan memang panitia bilang kalau didatangkan dari Jordania? Benar? Ya sampeyan ini juga aneh-aneh saja kok, Putera Allah kok dibohongi. Maksusnya supaya surprais begitu kan? O, waktu itu beliau juga menyatakan senang begitu? Ya, untung sampeyan tidak dikutuk menjadi kodok atau belalang. Mereka tampaknya asik itu ya ngobrolnya? Tetapi saya ya tidak mungkin ikut nimbrung.”

Meskipun panitia, yang bekerjasama dengan Pemkab Pasuruan, sementara sudah menutup pengunjung yang membanjir mau naik, namun kerumunan manusia masih menyemut di sepanjang jalan dari Bromo Cottage, Tosari, ke Penanjakan. Sebab tampaknya banyak di antara pengunjung yang lebih senang duduk-duduk dimana saja, di sepanjang jalan itu, hingga mereka yang masih akan berjalan menuju Lautan Pasir menjadi sulit untuk bergerak. Tampaknya, sebagian besar dari lautan manusia itu tidak peduli lagi bahwa acara segera dimulai. Bagi mereka acara itu menjadi tidak terlalu penting lagi. Sebab sebenarnya mereka bisa mendengarkan dan melihat acara itu dimana saja, melalui siaran langsung radio dan televisi. Tetapi berada di Tengger pada saat perhelatan akbar ini berlangsung, mempunyai makna tersendiri bagi sebagian besar yang datang. Maka rombongan Jesus yang rencananya akan naik kuda, diubah dengan naik jip. “Kuda akan susah bergerak di antara lautan manusia seperti ini.” Kata panitia.

* * *

Melihat tayangan langsung dari Tengger, pihak pemerintah marah-marah. “Jadi kamu bilang, pemerintah tidak mungkin membubarkan acara ini? Pemerintah itu punya aparat, punya tank, panser, gas air mata, kanon air, helikopter, kalau perlu mereka yang membangkang bisa ditembak di tempat. Itu Bupati Pasuruan dan Probolinggo sedang apa? Sedang ngopi di pendopo kabupaten sambil ngobrol sama stafnya ya? Itu Panglima Kodam V Brawijaya, juga ada dimana? Sedang main golf sama konglomerat Surabaya? Kapolda Jatim juga lagi ngapain? Kok bisa acara sudah dilarang, tetap berlangsung dengan mulus, tanpa ada tindakan apa pun dari aparat? Kalian ini sedang sibuk apa saja? Aku akan laporken ke Bapak Presiden, agar kalian semua itu diganti. Kewibawaan pemerintah akan hilang kalau sudah ada larangan, tetapi acara tetap saja masih terus berlangsung. Akan ditaruh dimana muka pemerintah ini? Habis sudah. Tidak ada lagi wibawa itu. Kalian ini bagaimana sih? Kalau polisi memang tidak bisa mengatasi masalah, aku akan perintahken ke Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan udara untuk menyerbu ke sana!”

“Lapor Pak Pemerintah, saya Bupati Kabupaten Pasuruan. Lain kali Pak Pemerintah, kalau mau melarang itu jangan acaranya besuk pagi, baru hari ini dilarang. Kalau acaranya di Senayan, Balai Sidang, atau TIM, acara nanti pukul 20.00, pukul 18.00 dilarang ya akan patuh. Ini Tengger Boss. Tengger! Sampeyan ini sebagai aparat pemerintah pernah ke Tenggar atau belum? Minimal Anda bisa tanya, Tengger itu berapa luas sih? Anda tahu, sejak jumpa pers seminggu yang lalu, manusia sudah berdatangan ke Tengger. Ini sudah ada jutaan rakyat di sini. Rakyat manusia Indonesia, bukan rakyat Kamboja, bukan rakyat monyet atau kecoak. Kalau Pak Pemerintah mau nembak atau ngebom mereka, silakan. Heli mau dikerahkan? Silakan datang dan sekalian masuk ke Kawah Bromo atau Jonggring Saloko di Semeru sana! Sampeyan itu kerjanya cuma nongkrong di Jakarta, begitu ada masalah di daerah jadi sotoi lagi. Kalau mau melarang itu ya sebulan lalu, jadi artisnya tidak usah sempat datang. Acara di Tengger hari ini, kok baru tadi malam dilarang. Datang ke Pasuruan sini kalau mau dikeroyok massa!”

“Siap Pak! Saya Pangdam V Brawijaya. Melaporkan, perintah sudah dilaksanakan, tetapi keadaan di lapangan tidak memungkinkannya. Massa tidak mungkin dibubarkan. Petugas juga sulit untuk membekuk panitia, serta dirut Garuda Perkasa. Orang yang menamakan diri sebagai Nabi Isa juga sulit didekati aparat intel, sebab Kapolda Jatim sudah terlanjur memberi arahan untuk mengamankan suasana, dalam arti event tetap harus berlangsung dengan sukses. Penjagaan oleh panitia dengan aparat sewaan juga sangat ketat. Laporan selesai.” Kemarahan aparat pemerintah di Jakarta memuncak. “Diancuk semua kalian ini. Ya Pangdamnya, ya Kapoldanya, itu Bupatinya, itu diancuk semuanya! Saya akan turun tangan langsung. Ngurus hal kecil seperti ini saja kalian tidak becus. O, iya itu Gubernur barunya itu juga sekalian diancuk! He ajudan, siapkan heli, granat, M 16 dengan amunisinya. Aku mau maju perang! Jangan tanya A atau B atau C. Laksanakan perintah secepat mungkin, atau kalian ikut kebagian diancuk dan saya pecat!”

“Saya selaku Bupati Probolinggo, tentu akan patuh pada pemerintah pusat. kalau memang acara ini dilarang, ya akan saya laksanaken. Tetapi orang-orang Jakarta itu memang kebangetan. Acara hari ini kok melarangnya tadi malam sudah pukul 22.00. Itu kan menunjukkan arogansi luar biasa. Ya kalau acaranya di alun-alun Probolinggo, pas acara sedang berjalan distop juga bisa. Ini di Lautan Pasir di Tengger, yang hadir jutaan orang. Dari data Retribusi Probolinggo selama seminggu ini sudah ada hampir tiga juta orang. Belum yang masuk melalui Pasuruan, baik lewat Tosari maupun Nongkojajar, belum yang lewat Malang, dan pasti ada yang dari Lumajang. Yang akan tampil juga Nabi Isa Alaihissalam. Itu orang Jakarta memang selalu bikin pusing yang di daerah ini. Kalau memang saya dipersalahkan, dan akan dipecat, akan saya lawan. Rekan saya Bupati Pasuruan lebih keras lagi. Dia mengatakan, yang memilih saya sebagai Bupati bukan Menteri Dalam Negeri, tetapi Rakyat. Yang bisa memecat juga rakyat.”

Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, meski mendapat laporan bertubi-tubi tentang acara Tengger, tetap tenang. “Ya Rakor Polkam kan sudah jelas rekomendasinya, bahwa acara ini illegal. Mau apalagi? Mereka tetap melangsungkannya? Ya distop. Tidak bisa, ya diambil tindakan sesuai dengan hukum yang berlaku. Kamu ini mau minta petunjuk apalagi? Sejauh disana tidak ada huru-hara, tidak ada yang tewas, semua berjalan dengan tertib, kamu mau apalagi? Kamu yang mau bikin kacau? Itu kan cara-cara lama. Saya tidak mau lakukan itu. Kalau sudah selesai, dan terbukti mereka tidak mengindahkan larangan pemerintah, pihak-pihak terkait harus bertanggungjawab. Tidak usah pusing. Kamu ini ribut karena tidak kebagian jatah ya? Yang lain-lain sudah dapat, kamu belum? Memangnya lagi bokek?  Biar sajalah semua berjalan dengan baik, besuk kita gelar lagi Rakor Polkam, untuk membahas hal itu. Ya kalau kamu mau ke sana untuk perang silakan saja, saya tidak akan melarang.”

Maka, aparat keamanan pemerintah pusat itu segera meluncur ke Halim dengan paralatan perang. Herkules sudah disiapkan. Aparat itu naik, Herkules take off menuju Bandara TNI AU Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur. Herkules landing dengan mulus. Di sini sudah disiapkan heli Super Puma buatan IPTN, lengkap dengan senapan mesin dan amunisinya, serta granat dan bom. Aparat keamanan pemerintah pusat itu segera naik ke heli, lalu mengudara. “Ini kita sudah di atas Tengger? Kok cepat sekali ya? Padahal baru berapa menit kan? O, Tengger itu memang persis di atas Abdulrahman Saleh ya? Lalu bagaimana? Kita tidak mungkin mendarat di Lautan Pasir? Kabut apa ini kok tebal sekali ya? Memang di sini selalu berkabut ya? Alternatifnya? Dengen jip lewat Tumpang dan Gunung Ider-ider? Okey. Kita kembali ke Abdulrahman Saleh dan ganti jip. Tangan aku ini sudah gatal dan hanya bisa diobati dengan menembak mati para diancuk itu. Jelas acara sudah dilarang sesuai dengan rekomendasi Rakor Polkam, kok masih terus berlanjut. Kalau bukan aku sendiri yang turun tangan, mau siapa lagi coba?”

* * *

Lautan Pasir, lautan manusia, kabut di atas sana, lampu sorot, pentas dengan latar Gunung Batok, sound sistem super canggih sekian megawatt, tamu VIP dan VVIP duduk nyaman di jok empuk, yang dari seminggu lalu sudah diangkut dari Pendopo Kabupaten Pasuruan. Jesus Kristus, Isa Al Masih Alaihissalam, turun dari jip. Anounser mengumumkan bahwa Jesus sudah datang. Turun dari jip, Jesus disambut oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, didampingi oleh Bupati Pasuruan dan Probolinggo. Mereka bersalaman, kemudian berpelukan, dan duduk di kursi VVIP. Pembawa acara mengumumkan, bahwa Bapak Presiden akan memberikan sambutan. Lautan manusia bergemuruh bertepuk tangan. Di langit heli meraung-raung sebentar, tetapi tidak bisa turun, tidak bisa menembak, dan juga tidak bisa menjatuhkan bom. Presiden naik ke podium berlambang Garuda Pancasila, yang selalu dibawa dari Jakarta. AC Allah telah membuat pagi itu tetap sangat sejuk, dan berudara segar.

“Saudara-saudara setanah air, Yang Mulia Nabi Isa Al Masih Alaihissalam, atau Tuhan Jesus Kristus, Assalamualaikum Warachmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera untuk kita semua. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur, ke Hadirat Allah Subhanahu Wa Taala, bahwa atas berkat dan rahmatnya, pada pagi hari ini, di Lautan Pasir, di dataran tinggi Tengger, kita semua masih tetap dikaruniai kesehatan, hingga bisa menghadiri acara ini. Saudara-saudara, berkat kehadiran Yang Mulialah, maka pagi ini, cuaca benar-benar sangat bersahabat. Tidak panas, tidak hujan, berkabut tebal, tetapi cuaca tetap terang benderang. Yang Mulia, dan saudara-saudara semua, saya atas nama pemerintah, dan bangsa Indonesia, mengucapkan selamat datang kepada Yang Mulia, yang telah berkenan datang ke negeri kami, yang sebagian besar penduduknya, merupakan umat Yang Mulia. Baik yang Kristen Protestan, yang Katolik, maupun yang Islam. Saya yakin, kehadiran Yang Mulia, akan membawa kebaikan bagi bangsa ini, maupun bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.”

“Yang Mulia, dan saudara-saudara semua, saya hadir di tengah-tengah saudara semua, bukan untuk kampanye. Lihat, tidak ada satu pun atribut Partai Demokrat, di sekitar tempat ini. Yang ada justru atribut Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Tetapi poster dan spanduk-spanduk itu sudah dipasang sejak lama, dan tidak ada kaitannya dengan acara kita ini. Selain tidak untuk berkampanye bagi Partai Demokrat, kehadiran saya pada pagi yang sejuk ini,  juga tidak untuk berkampanye sebagai calon presiden. Sebab jadwal kampanye memang belum tiba. Bahkan jadwal pendaftaran para Capres ke KPU, juga belum tiba. Jadi, yang perlu saya tekankan, bahwa saya hadir di sini, hanya dengan maksud satu, yakni memberikan penghormatan, kepada Yang Mulia Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam. Hal ini perlu saya tekanken, sebab sekarang ini, saya sebagai pribadi, maupun sebagai Presiden RI, selalu banyak disorot, dan diisukan macam-macam. Yang Mulia, dan saudara-saudara sekalian …………”

Jip perang itu menanjak dari Tumpang menuju Gunung Ider-ider. Niatnya mau jalan cepat, tetapi jalanan juga macet total, karena imbas lautan manusia ternyata sampai kesini juga. Sinyal HP timbul dan tenggelam. Dalam keadaan seperti ini yang berperan tetap HT. “Elang dua kontek, elang dua kontek, di sini elang dua, ganti. Ya, di sini elang dua, apa? Elang dua mengkopi, garuda satu ada di padang rumput? Yang benar? Coba dikopi lagi?” HT segera dimatikan. “Letnan, coba berhenti dulu. Apa di sini ada tempat yang bisa dapat sinyal?” Yang dipanggil letnan berdiri menegakkan badan, memberi hormat dan menjawab. “Siap Jenderal, sebentar lagi akan ada ketinggian, disana ada sinyal.” Jip tetap tidak bisa tancap gas karena lautan manusia makin menyemut. “Letnan, stop di sini dulu, kita lari ke bukit itu, siapa tahu disana ada sinyal. Maka jenderal dan letnan itu lari menuju bukit kecil. “Benar kan firasatku, di sini sinyalnya bagus sekali. Coba ya saya kontak Panglima. Halo, elang dua kontak elang satu, konfirmasi, apa benar garuda satu ada di Tengger? Benar? Letnan, perang batal, kita ke Malang lagi!”

“Iyalah, you tidak usah worrylah, ai sudah instruksiken agar ijin disusulken, dengan tanggal kemarin. Okey, semua okey, ai sudah perintahken bahwa skenario A dibatalken dan diganti dengan minus A. Semua sudah okey. Ai akan terus pantau, banyak orang ai ada di lapangan. Dont worry. Ya, ya, thanks, okey, terimakasih sudah kontek ai.” Tayangan langsung acara Tengger itu telah mengubah skenario A menjadi minus A. Artinya dibalik. Ijin dari Kapolri disusulkan, dan semua harus dibuat serapi mungkin. Rakor Polkam juga berubah agendanya. Bukan lagi akan memanggil Ketua Panitia, direktur Garuda Perkasa, Bupati Probolinggo dan Pasuruan, melainkan justru mendukung  mengamankan acara. Bupati Pasuruan dan Probolinggo mesem-mesem menebar senyum. “Siapa sih tadi orang Jakarta yang misuh-misuh diancuk tadi? Sampeyan tidak tahu ya? Dia juga tidak menyebut nama kok. Ya biarin saja. Tadi saya juga bilang silakan pecat, sebab yang milih saya itu rakyat, maka yang bisa memecat saya juga rakyat.”

Bandar Udara Abdulrahman Saleh, Pangkalan TNI AU, Malang. “Pukul berapa pesawat ke Jakarta berikutnya? Ya, saya diinsud dan langsung dicekin, dan dibording sekalian. Ya yang pertama? Apa? Sudah tidak ada sit? Tidak mau tahu, pokoknya siang ini juga aku sudah harus ada di Jakarta lagi. Ini semuanya memang benar-benar diancuk. Siapa sih yang ngerjain saya ini? Saya sudah jengkel dan siap untuk bela negara, kok tahu-tahu Pak SBY ada disana. Apa tidak diancuk itu namanya? Sudah, aku mau tidur dulu sejenak, kalau ada telepon diterima saja ya Let, tapi aku jangan dibangunin.” Maka tak lama kemudian, nun di atas Lautan Pasir di Kaldera Tengger, kabut tersibak. Matahari pegunungan itu dengan hangat menyapu lautan pasir, juga lautan manusia. Ketika itulah Jesus berjalan diapit panitia, naik ke atas panggung. “Dia memang benar putera Allah!” Yang lain menyahut. “Aku yakin ini sungguh Nabi Isa Alaihissalam!” Di tengah lautan manusia, terdengar: “Ini cecurut sebelas ke kadal empat, ya cecurut sebelas ke kadal empat ganti, kok tahu-tahu garuda satu ada di sini, ganti……”

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: