Tim Cikeas

11/03/2014 at 14:14 (novel)

Siang, perumahan Puri Cikeas, Mas Suwito marah besar. “Ini kalian ini ibarat menyalip dari kiri, menggunting dalam lipatan, menusuk teman seiring. Apa sebenarnya mau kalian? Aku ini sudah mati-matian berjuang untuk Pak SBY, bukan hanya dengan omongan, tetapi juga dengan uang. Berapa èm coba yang sudah aku setor ke kalian? Tiba-tiba sekarang kalian bikin manuver. Mau cari muka ke Pak SBY? Aku juga bisa telepon ke Pak SBY sekarang ini juga. Kalian pura-pura bengong, kaget, tidak tahu menahu, tetapi sebenarnya semuanya sudah kalian atur rapi, dengan tujuan satu, yakni menyingkirkan saya, Suwito, dari lingkaran dekat Pak SBY. Ya kan? Lalu sekarang ini kalian kumpul di sini tanpa ngasih tahu saya ini juga bukti kan? Mau mungkir apalagi? Ini sekarang kalian sedang nonton hasilnya kan? Hebat, bisa menaikkan citra Pak SBY sekian persen, sambil menggusur saya sekian meter. Coba sekarang siapa yang mau ngomong ke saya untuk memberikan penjelasan. Saya juga barusan kontak dengan Panglima TNI, beliau mengatakan tidak tahu menahu.”

“Mohon maaf Pak Suwito, dari pagi tadi kami ini sudah kontak Bapak, tetapi mengapa HP Bapak semua tidak bisa nyambung ya? O, Bapak kalau baru saja bangun ya pasti tidak bisa terkontak. Kami juga sempat kontak Ibu, kata ibu, beliau sedang ada di Yogya, apa Ibu tidak kontak ke Bapak? Kami memberitahu Bapak, bahwa kita kumpul hari ini, karena acara di Tengger itu bukan dari kami. Tadi, kami malah mengira, Bapak ada disana dengan Pak SBY. Tetapi kami lihat di tivi kok Bapak tidak kelihatan. Berarti Bapak tidak disana. Ternyata benar. Jadi ini serius Pak, kami juga bingung. Sebab kemarin, Bapak masih menerima laporan hasil Rakor Polkam tentang ijin acara Tengger itu. Beliau mengatakan, ya laksanaken sesuai ketentuan yang ada. Kok tahu-tahu pagi tadi beliau sudah ada disana. Di satu pihak, kami jelas senang, karena Bapak sangat diuntungkan dengan kehadiran beliau di sana. Namun di lain pihak, tanpa ada koordinasi yang rapi, saya takut kalau sebenarnya ada agenda terselubung dari pihak lain, untuk menghancurkan Bapak.”

“Kalau begitu mari kita ke dalam saja, kita harus mengatur ulang rencana B. E, kamu coba ini, cari rokok sebentar ke depan.” Kelompok yang menyebut diri mereka tim Cikeas itu kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan. “Kita tidak boleh ngomong sembarangan di depan banyak orang. Ini sudah sangat serius. Kita sudah dipotong oleh pihak sana. Kalian tahu siapa sebenarnya dibalik manuver ini? Tidak ada yang tahu kan? Namanya Arif, menantu Jenderal Suryo. Ya Pak Suryo yang di Polonia itu, mau yang mana lagi. Ah, kalian ini tahu apa? Arif itu Preskom Garuda Perkasa Holding Company. Yang ngurus acara tengger itu Garuda Perkasa Entertainment. Beberapa minggu yang lalu, Arif ini memang pernah ditegur Pak Suryo. Sebab Jenderal Suryo itu pendukung kuat Sultan. Pak Suryo itu malah labih gila dari saya. Mosok golnya menjadikan Sultan sebagai Raja Indonesia. Katanya kita ini perlu Ratu Adil. Yang layak menjadi Ratu Adil itu hanya yang sudah menjadi raja, yaitu Sultan X. Aku sih iya-iya saja. Nah Pak Suryo ini tahu betul kalau menantunya ada main dengan Timnya Pak SBY. Sampai sekarang saya tidak tahu ini ulah tim yang mana lagi.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan Pak? Mungkin Pak Suwito bisa melalui Jenderal Suryo menghubungi Pak siapa? Pak Arif ya? Lo, kalau Bapak juga kenal baik Pak Arif ya malah lebih bagus lagi. Masalahnya, kalau para donatur tahu bahwa yang mengarange, acara Tengger ini bukan kita, maka kepercayaan mereka ke kita akan berkurang. Mbok ya coba Pak Suwito menghubungi beliau sekarang. Supaya agak jelas begitu.” Suwito lalu menekan-nekan nomor. “Halo, Mas Arif ini ya? Suwito ini Mas, bagaimana kabarnya Ibu? Makin sehat kan? O, ya, ya. saya juga ikut prihatin. Bapak Suryo memang selalu cerita panjang lebar soal Ibu Tyas ini. Anu, begini ini Mas Arif, ini yang mengarange acara di Tengger ini Mas Arif kan? O, ya pasti, maksud saya kan perusahaannya Mas Arif begitu. Ya saya profisiatlah, sebab Bapak SBY bisa hadir di sana. Lo, jadi Mas Arif malah belum tahu? O, belum sempat baca koran belum sempat nonton tivi? Lo ini Mas Arif dimana? O, di Gunung Halimun? Lo, apa mereka tidak sempat lapor ke Mas Arif? O, memang sepenuhnya wewenang mereka ya? Ya sudah, saya juga akan ketemu dengan Bapak Suryo ini sebentar lagi. Terimakasih Mas Arif, ya sampai ketemu lagi.”

“Jadi tampaknya dia juga tidak terlalu tahu detilnya. Ya tadi dia juga mengatakan bahwa pernah ada gagasan bagaimana kalau Pak SBY hadir disana, tetapi kemudian tidak berlanjut. Lalu katanya dia sama sekali tidak tahu menahu. Katanya sih baru di Gunung Halimun. Saya sebenarnya juga agak curiga dengan anak ini. Dia itu sedikit-sedikit ke Gunung Halimun, ke Gunung Gede, ke Ujung Kulon, ke Merapi, saya curiga sebenarnya dia juga pegang proyek. Tidak tahu, tetapi bisa saja ini juga menyangkut Pak SBY. Dia sih katanya profesional, siapa saja akan dilayani, tetapi ya kita lihatlah, sebenarnya dia itu kerja untuk siapa? Ini sekarang sudah terbukti bisa membawa Pak SBY ke Tengger. Nanti akan ada manuver apa lagi. Kalian mestinya memang tidak hanya diam. Iya pasti, aku akan memberikan dukungan penuh. Tetapi jangan hanya saya maksudnya. Kalian itu tahu kan, kalau banyak orang yang tidak suka sama saya? Mereka itu ngiri sebenarnya. Tidak tahu apa yang mereka irikan dari saya.”

Siang itu ada dua tim lagi yang datang ke Cikeas. Boss dua tim ini juga marah-marah, menuduh Tim Cikeas bikin manuver. Setelah dijelaskan panjang lebar oleh Mas Suwito, baru mereka percaya. “Memang seharusnya ada koordinasi yang agak rapi ya. Jangan sampai kita ini sudah kerja keras sekian lama, termasuk mengumpulkan uang, lalu tiba-tiba ada pahlawan kesiangan datang, mengambil alih semua, lalu kita dibiarkan terlantar. Ini yang harus kita jaga. Kita juga tidak tahu mereka itu siapa. Mereka kontak ke dalam melalui siapa, saya juga tidak tahu. Ya ada kemungkinan bisa seperti yang disampaikan oleh Pak Suwito ini. Bisa saja mereka punya jalur khusus ke Pak SBY langsung. Sebab kalau normal, kan harus lewat kita-kita ini. Acara kenegaraan juga tidak. Saya sudah menghubungi Setneg, dan sekretariat presiden, tidak ada acara resmi presiden. Kalau acara pribadi mungkin saja, kata mereka.”

* * *

Rumah Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko, di Polonia, Jakarta Timur. Mas Suwito duduk di beranda, tidak lama kemudian Pak Suryo keluar, menyalami, lalu mereka ngobrol akrab. “Ratih dan Wulan itu nginep di sini, ribut melulu di belakang sana. Arif sedang di gunung mana itu saya lupa. Galunggung? Halimun? Lo kok kamu malah tahu Wit? O, telpon Arif. Tyas juga tidak tahu itu tadi pergi sama siapa, jadi ini tadi dari mana? Cikeas? La aku nonton tivi tadi itu Pak SBY malah ada di Tengger. Arif itu sudah saya bilang dari dulu, harus ikut keluarga mendukung Sultan. Kok, selonang-selonong kemana-mana. Cari duit ya cari duit tetapi prinsip kan harus dipegang, ya to Wit? Kalau kamu, dari dulu kan pasti ikut aku. Sekarang aku mau tanya ya Suwito, Sultan itu paling pas pasangan sama siapa? Ya pasti dia yang RI 1. Coba ayo. Aku ingin ngetes kamu ini. Sama Pak JK? Persis. Pak JK itu hebat. Beliau itu benar-benar cerdas dan tahu posisi. Ya to Wit? Kamu jangan hanya manggut-manggut melulu. Mana ini kopinya kok lama sekali?”

“Jadi jelasnya, kamu ingin saya menegur keras si Arif? Ya itu gampang. Dari dulu aku ini kan selalu keras sama dia. Tetapi Arifnya sendiri yang bandel. Ya kalau dia itu jadi timnya Pak SBY sekalian, saya malah setuju. Lha dia itu kan méncla-ménclé. Ini sekarang dia ke SBY, besuk ke Bu Mega, besuknya lagi ke Sultan. Itu namanya kan méncla-ménclé. Ibaratnya ésuk dhelé soré témpé. Kadang-kadang, kamu itu kan juga begitu kan? Lha ini tadi dari Cikeas ada apa? O, ya memang kalau tugas yang dulu itu tetap harus dijalankan. Kamu itu harus masuk kemana-mana, tapi harus lapor kemari. Sebab kalau saya itu sudah terlalu tua, juga terlalu tinggi. Saya datang ke Cikeas, semua orang ribut, datang ke Kebagusan, semua ribut. Bulan lalu itu saya kan ke Bu JK, bukan Pak JK, urusannya juga urusan anggrek, wah telepon dari mana-mana, katanya saya belok kanan mendukung Pak JK. Sekalian saya ngomong, memang saya mendukung Pak JK untuk jadi RI 2, RI 1nya Sultan. Setelah saya ngomong begitu, baru mereka diam semua. Orang-orang itu kalau kata Wulan dan Ratih itu, sukanya sotoi ya Wit ya?”

“Wito, Wito, ini ceritanya ini, yang datang itu apa benar Nabi Isa? Lha kok si Arif itu bukan ngurusi proyeknya kok ya malah di gunung. Ya, kamu percaya Wit? Kalau saya kok ragu-ragu. Ini jangan-jangan seperti sulapannya itu lo David Koperfil itu. Patung Liberti saja bisa dilenyapkan. Jadi kalau hanya sekadar menurunkan orang di depan Mesjid Al Aqso, itu kan pekerjaan mudah? Lalu dibilang itu Nabi Isa. Lalu kamu juga percaya? Apa buktinya coba? Itu, tadi ketika Pak SBY pidato, masih mendung, lalu ketika dia naik panggung, terus langitnya terang? Kamu itu katanya punya hubungan dengan orang-orang pinter sak jagat. La kok begitu saja gumun. Itu tadi, tinggal panitianya pakai pawang hujan lima saja sudah cukup. Pokoknya, kontraknya itu jam sepuluh langit harus terang. Ya itu memang pekerjaan pawang. Lalu orang-orang gumun. Kok bisa ya? O, berarti ini benar Nabi Isa. Kalau yang Kristen o, benar ini Gusti Jesus! Itu sulap. Memang sulap juga biayanya mahal kan? Dulu waktu mendatangkan David Koperfil itu kan juga mahal sekali.”

“Coba, ini saya tak ngomong sama Arif ya, itu anak memang harus terus diarahkan kok. Ya, ini Bapak, ya Bapak Rif. Ya di rumah di Polonia. Ini saya sama Suwito. Ya tidak ada apa-apa, kamu itu dari dulu memang sentimen bener kok sama Suwito itu. Ya tidak apa-apa, dia tadi dari Cikeas, lalu mampir kemari, ya terus mau pulang. Sebenarnya mau saya ajak ke Sate Kadir tapi bilangnya sudah dari Jagorawi, masuk Jagorawi lagi. Malas dia. Ini lo Rif, Suwito itu protes, kok Pak SBY bisa tampil di acaramu di Tengger itu bagaimana? Mestinya kan Sultan kan? Kok malah kamu jual ke Pak SBY. Lo kamu tidak dibayar oleh Pak SBY? Malah mbayar? Ini kok malah kebalik-balik ini bagaimana to? Jadi ada donatur? Sponsor begitulah ya? Ya memang bukan kamu, ya anak buahmu, lalu? Untuk tim suksesnya Pak SBY? Lalu kamu dapat apa? O, bersihnya dibagi dua antara kamu dengan tim suksesnya Pak SBY begitu? Jadi jelasnya kamu itu ngamen begitu to? Lo, kalau bukan kamu apa Pak SBY yang ngamen?
Ya, ya, kalau begitu nanti kita omonginlah bagaimana Sultan juga kamu begitukan itu ya? Ya, hati-hati ya? Ya ada itu Ratih sama Wulan di belakang sana. Ibunya yang pergi sama eyangnya. Ya sudah.”

“Jadi ini tadi begini Wito, kata Arif, acara ini tiba-tiba ada yang mau membeli, untuk menghadirkan Pak SBY. Lalu terjadilah tawar-menawar antara anak buahnya Arif dengan si donatur. Lalu donatur ini langsung kontak ke Pak SBY, dan ternyata beliau setuju. Jadi Arifnya juga malah tidak tahu. Dia itu ternyata tidak di gunung. Dia itu di resornya Sinar Mas, membuka pelatihan. Resornya itu memang di Gunung Halimun. Saya juga pernah diajak nginep disana kok. Bagus tempatnya, di tengah kebun teh, di pinggiran hutan. Enak tempat itu Wit, kapan-kapan kita ajak orang-orangnya Sultan untuk kongko-kongko disana, bikin kambing guling. Cuma jalan masuknya itu yang minta ampun. Jadi harus bawa yang dobel gardan. Kalau bangsanya Kijang ya susah. Apalagi sedan, ancur Wit. Itu lewat tengah hutan kok. Ya hutan Gunung Halimun, lalu ketemu kebun teh, naik lagi, nah disitu itu resornya. Jalannya yang di kebun teh juga sama-sama hancur. Minta ampunlah kalau jalannya. Kalau pakai heli memang enak Wit, turunnya di lapangan di kebun teh. Iya, ada lapangannya, banyak lapangan disana. Kamu itu kadang-kadang juga keluar kok pintermu itu.”

“Hanya begini ya Suwito, aku ini masih tetap curiga sama si Arif itu. Jangan-jangan dia itu memang sudah nggabung dengan Tim Cikeas sana. Maka cobalah kamu telepon ke orang-orang disana.” Suwito menghubungi Cikeas. “Ini Suwito. Sudah bersama Jenderal Suryo, Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko. Ini aku mau tegasken lagi ya, kalian ini tidak sedang main sandiwara kan? Sandiwara, maksudnya di depanku kalian bilang tidak ada apa-apa, tetapi di belakang kalian main dengan Mas Arif. Saya hanya akan menegaskan itu saja. Sebab beliau, Bapak Suryo ini, minta agar saya menegaskan hal ini ke kalian. Kalau memang kalian tidak kenal dengan Mas Arif ya sudah. Atau mungkin ada tim lain? Siapa? Dari Singapur? Didrop dana dari Singapur. Kalau boleh tahu berapa èm? Tidak tahu ya? Ada sepuluh? Lebih? Wah gila itu orang. Diserahkan ke siapa? Ya sudah kalau memang tidak tahu. Kapan Pak SBY pulang? O, sekarang sudah di Istana? Ya, ya, terimakasih ya atas infonya.”

* * *

Masih di sekitar Cikeas, tim itu terdiri dari lima orang. Mereka masih membicarakan Mas Suwito. “Ini orang yang bernama Suwito ini bisa dipercaya atau tidak sih? Aku sebenarnya agak curiga, juga jengkel. Kok tiba-tiba dia bisa perintah-perintah kita. Memangnya dia itu siapa? Orang partai juga bukan, pajabat bukan, pengusaha juga bukan, dulunya siapa sih yang membawa dia kemari? Kalau kita ini, semuanya kan jelas. Ada yang dari angkatan, dari perguruan tinggi, dan yang paling banyak memang dari Golkar. Suwito ini tidak jelas. Apa kita masih akan terus diam saja dibentak-bentak dia, diperintah-perintah dia? Bos kita itu kan Pak SBY? Apa pernah beliau membentak-bentak kita? Paling banter kalau kita salah kan diingatkan, diluruskan, bahkan kadang juga dibantu memecahkan masalah. Nah ini Suwito, datang-datang langsung ngomel yang tidak karuan juntrungannya. Dan jebul yang tadi dipermasalahkan itu, ternyata orang-orangnya sendiri. Jangan-jangan dia itu orang yang sengaja diselundupkan oleh pihak sana, untuk memata-matai kita?”

“Nanti dulu. Saya juga tidak suka dengan orang ini. Suwito itu memang menyebalkan. Kalau masih pegang pestol, sudah kutembak kepalanya itu. Tetapi soal diselundupkan dan sebagainya, itu tidak benar. Dia itu memang kita minta. Jadi ketika itu, ada orang kepercayaan Bapak, yang memberi masukan tentang sebuah pusaka peninggalan Majapahit, yang sebaiknya dipegang oleh Bapak. Saya lupa nama pusaka itu. Bapak lalu menghubungi para ahli tosan aji, juga bertanya ke ahli-ahli sejarah, apakah pusaka seperti itu memang ada, atau hanya legenda. Ternyata memang benar ada, dan hanya satu. Pusaka ini juga tidak mungkin dipalsukan, karena campuran logamnya sangat khas, dan ada cacatnya. Cacat inilah yang tidak mungkin ada dalam tiruannya. Dari orang Museum Pusat, Bapak mendengar bahwa yang tahu keris itu namanya Suwito. maka Mas Suwito itu pun kami panggil. Jadi bukan Suwito yang datang menawarkan diri, melainkan kita yang mencarinya. Dan dia memang bisa membawa keris itu ke Bapak.”

“Ya tentu Bapak tidak bisa langsung begitu saja percaya. Para ahli tosan aji, para ahli metalurgi, juga ahli isotop radio aktif dari BATAN, diundang Bapak ke Cikeas. Mereka mengatakan yang dibawa Suwito itu otentik. Sebab membedakan keris kuno dengan keris modern itu sangat mudah. Mereka menyarankan Bapak memegang pusaka tadi, dengan tujuan agar bisa lebih dekat dengan masyarakat kecil. Istilah yang populer sekarang ini, wong cilik. Sejak itulah kami ini sering minta bantuan Mas Suwito. Suwito itu memang menyebalkan, tetapi kalau soal pusaka, kemudian soal yang gaib-gaib, dia itu ahlinya. Sebenarnya dia itu juga tidak tahu apa-apa tentang pusaka, tentang yang gaib-gaib. Tetapi jaringan Suwito itu luas sekali. Dia kenal orang-orang keraton, museum, ahli purbakala, para juru kunci makam, dan juga macam-macam dukun. Bapak sendiri sebenarnya kan sangat rasional. Beliau tidak suka dengan yang begini-begini ini. Tetapi beliau juga tidak melarang, sejauh barang itu bisa membuat keyakian kami bertambah kuat. Begitulah cerita soal Suwito.”

“Tetapi begini ya, saya dengar, itu semua juga bagian dari rekayasa. Barang beginian kan nilainya èm-èm-an. Maka ia mulai menggarap orang-orang terdekat Bapak. Dia pasti suruhan orang, yang pintar bercerita tentang pusaka, yang disebut-sebut bisa menjadi syarat untuk seseorang seperti Bapak itu. Setelah umpan masuk, nah, barangnya harus disiapkan. Keris itu biasanya keris baru, tetapi dibuat tampak seperti keris tua. Keris baru, diberi soda juga akan terkikis hingga menjadi sangat tua. Hebatnya jaringan Suwito, dia juga sampai menggarap orang-orang Museum, orang-orang BATAN, orang-orang metalurgi dan lain-lain. Jadi begitu orang-orang itu dipanggil, mereka akan merekomendasikan, bahwa barang itu otentik. Model penipuan seperti ini sebenarnya sudah klasik. Orang datang ke kampung mencari-cari keris pusaka. Tidak lama kemudian datang orang lain lagi mau menjual keris pusaka. Orang kampung itu lalu membelinya. ternyata itu keris biasa yang nilainya sangat rendah.”

“Lho, berarti saya itu juga telah tertipu ya? Diancuk tenan Suwito itu. Tetapi saya akan coba tes itu orang-orang BATAN itu. Mosok sih mereka bisa ikut menjadi bagian dari jaringan penipuan seperti ini? Coba saya teleponnya ya, saya masih menyimpan nomor mereka kok. Mas Broto ini ya? Saya Makmun Mas, dari Jakarta, dari Kayumanis. Ini saya mau minta tolong ke Mas Broto. Ini ada orang yang perlu keris. Tolong dong, tarifnya berapa untuk merekomendasi? Limapuluh juta? Mosok sampai setinggi itu? Ini bukan keris yang èm-èman. Boss ini hanya mau membayar paling tinggi 100 juta rupiah. Apa tidak bisa turun itu Mas Broto? Okey, ya, ya, nanti saya hubungi lagi ….. Ya pantas mereka mau. Limapuluh juta. Gaji mereka setahun juga tidak ada segitu. Waduh, jadi surat keterangan, sertifikat dan lain-lain itu semua bisa diperdagangkan ya? Coba nanti saya akan kontak ke keraton, bisakah ngasih semacam sertifikat keaslian pusaka, dan berapa tarifnya. Kalau benar demikian, O…., Suwito itu memang benar-benar diancuk tenan!”

“Maka itu Mas, dari tadi kan saya sudah mengatakan, bahwa kita harus waspada dengan orang-orang seperti ini. Ideologi Suwito itu kan ideologi fulus. Bagi Suwito, partai itu seperti toko baju. Dia akan masuk toko A, toko B, atau toko C, tidak ada masalah. Yang penting uang mengalir masuk ke kantongnya. Kalau memang demikian, masih lumayan. Yang saya takutkan, sudah uang kita diporoti, ternyata dia adalah bagian dari Tim Sukses lawan. Wah, kalau ini yang terjadi, saya akan lapor Bapak langsung. Biar didor saja Si Suwito itu. Ada yang berani matur tentang hal ini ke Bapak? Kalau ada yang berani, sebaiknya kita laporkan saja si Suwito itu. Sebab begitu ada peluang menempel, orang seperti ini akan segera saja lengket. Tetapi memang ada baiknya kita tes ulang itu keris pusaka dari Suwito itu. Tetapi diam-diam saja, dan ke ahli tosan aji yang benar-benar netral. Disimpan dimana sekarang pusaka dari Suwito itu? Disini kan? Coba nanti saya telepon lagi orang-orang itu.” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: