Mossad

17/03/2014 at 16:04 (novel)

Komplek Pelatihan BIN, Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Di ruang makan, para instruktur ngobrol santai, tentang orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus. Mereka merasa telah kecolongan. Salah seorang di antara mereka mengatakan telah menghubungi koleganya di Yordania. Dari Amman, diberitakan bahwa paspor atas nama Jesus Binti Jusuf itu memang asli, dikeluarkan kantor imigrasi Amman, atas permintaan sebuah EO di Amman sendiri. Kantor imigrasi Jordania itu mempertanyakan, apa benar ini Jesus Kristus, Isa Al Masih itu? EO itu menjawab benar, maka tanggal lahirnya diisi 25 Desember 0001. Karena akte lahir tidak mungkin diperoleh, maka dibuatlah akte berdasarkan berita acara yang dibuat oleh Pemerintah Israel, bersama dengan Pemerintah Otoritas Palestina. Berita acara itu menyatakan, bahwa berdasarkan saksi-saksi, dan pengamatan para petugas Israel dan Palestina, maka benar bahwa Jesus Kristus itu telah turun dari langit, di halaman Kubah Sakhrah, di Kota Tua Jerusalem.

Jadi ketika menyeberang dari kawasan Otoritas Palestina ke Jordania, Jesus belum berpaspor. Dia hanya menggunakan pas masuk sementara. Paspor baru dibuat di Amman, dan Kedubes RI di sana mengeluarkan visa. “Apa teman-teman di Kalibata sudah dapat sample rambutnya? Ya dari roomboy di hotel tempat nginapnya itu? Sudah? Lalu tes DNAnya sudah dapat?” Lab tempat tes DNA itu ketakutan. Pertama hasil tes itu menunjukkan bahwa rambut itu bukan rambut manusia tetapi bulu simpanse. Padahal yang mereka tes jelas empat utas rambut manusia yang dibungkus rapi. Sebelum dilakukan tes, dicek bahwa empat rambut itu memang berasal dari satu orang. Tes kedua dilakukan. Hasilnya, diperoleh DNA sperm whale, paus kepala besar. Kemudian tiga orang secara serentak mengetes sample yang sama. Hasilnya DNA burung perkutut, kodok dan iguana. Petugas lab itu segera mengembalikan empat helai rambut yang sebagian sudah mereka potong untuk dites, ke kantor Kalibata.

Rencananya empat helai rambut itu akan dikirim ke empat lab berbeda. Baru saja mereka selesai rapat, HP salah seorang anggota berdering. “Halo, ya saya sendiri, ini dari siapa? Roomboy Bromo Cottage? Saya tidak ada urusan dengan Anda kan? Apa? Memerlukan rambut? Saya tidak pernah memesan rambut tamu hotel ke Anda kan? Dia baru saja potong rambut? Dia itu siapa?” Kata roomboy itu, tamu yang bernama Jesus itu minta dipanggilkan pemotong rambut. Katanya ia akan merapikan rambut dan brewoknya. Setelah selesai, rambut itu ia minta untuk dikumpulkan, lalu dibungkus rapi. Roomboy itu bertanya, ini untuk apa Tuan? Jesus lalu menulis nomor HP. “Coba hubungi nomor ini. Ia perlu rambut saya.” Anggota itu segera mematikan HPnya. HP itu berdering lagi. Bahkan setelah baterainya dicopot pun tetap berdering.  Ia lalu membuang HP itu ke dalam got, dan lari ke ruang bossnya. “Kamu itu dari mana kok lari-lari seperti orang ketakutan begitu? Ini ada telepon untuk kamu!”

“Saya menduga, jangan-jangan ini pekerjaan Mossad atau Shin Bet. Sebab CIA masih tidak bisa membuat yang sedemikian canggihnya. Kok roomboy hotel bisa tahu nomor HP anggota kita? Ini kan edan! Saya masih terus bertanya-tanya, apa sebenarnya agenda Mossad dengan melakukan hal ini? Kecurigaan saya kepada Mossad ini tidak berlebihan, sebab tiba-tiba dengan mudahnya Pemerintah Israel mau ikut membuat berita acara resmi tentang kedatangan Jesus Kristus. Ini memang juga menyangkut bisnis, dan kita tahu bahwa Jahudi itu pebisnis hebat. Sampai-sampai di Uni Eropa dan AS, sebutan untuk orang yang sangat kikir adalah “Jahudi”. Bisnis dan politik memang sangat kait mengait. Yang jelas, Israel, tentu juga melalui AS, sangat berkepentingan dengan Indonesia. Kita ini negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Bahkan kalau orang-orang luar sana bilangnya lebih simpel, Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia. Hanya yang masih harus terus kita cermati adalah motiv dari proyek ini: ingin membuat kekacauan, atau justru mau meredamnya?”

“Kamu siapa namanya? Alex? Alex siapa ya? Alex Tomohon? Apa kamu memang dari Tomohon? Kamu siapa kok pakai bawa-bawa Mossad segala? Angkatan berapa kamu? Kamu belum kenal aku? Aku Paul, Paul Gunung Kidul, makanannya tiwul. Jangan nyengir dulu kamu Lex. Aku empat setengah tahun ditaruh Pak Benny di sana, dua tahun di Tel Aviv, dua setengah tahun di London. Jadi tahu apa kamu tentang Mossad? Empat setengah tahun di sana Lex, aku tidak pernah tahu Mossad itu binatang apa, makanannya apa, dia binatang melata atau vertebrata, aku buta. Kalau aku ditanya orang tentang Mossad, maka yang bisa aku lakukan hanya menggeleng. Aku tidak pernah kenal anggota mereka, apalagi para bossnya. Mossad itu angin. Kita tahu kehadirannya, tanpa bisa melihat sosoknya. Kita hanya tahu ada angin karena daun-daun bergerak, bendera berkibaran. Tetapi anginnya seperti apa, tidak pernah ada orang tahu. Melihat pun susah, apalagi menangkapnya. Jadi masih mau ngomong tentang Mossad Lex? Tetapi maaf Lex, sebenarnya ini tadi kamu sedang mau ngomong tentang Mossad, atau mukjizat? Mosok ada telepon tanpa baterai bisa bunyi?”

“Pak Paul, kerja Mossad memang penuh mukjizat. Jadi yang mau saya sampaikan dua-duanya. Pak Paul ingat Operasi Entebbe, atau Operasi Halilintar? Tanggal 27 Juni1976, pesawat Airbus A300 Air France dengan nomor penerbangan F-BVGG, take off dari Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, dengan tujuan Bandara Charles De Gaulle, Paris, dan transit di Athena, Yunani. Di atas Yunani, pesawat berpenumpang 248 orang dengan
12 awak ini dibajak oleh Populer Front for the Libration Palestine, dan dibawa ke Bandara Entebbe, Uganda. Pemerintah Perancis, maupun Uganda tak berdaya. Sampai tanggal 3 Juli 1976, pembajak masih di atas angin. Karena 94 di antara sandera itu warga negara Israel, malam itu 100 Pasukan Komando Israel diterbangkan ke Entebbe. Jarak yang ditempuh 3.580 km, lewat Mesir dan Sudan. Pesawat Komando Israel itu lolos dari layar radar. Pada dini hari, 4 Juli 1976, sandera berhasil dibebaskan dan dibawa kembali ke Tel Aviv. Delapan pembajak dan 45 tentara Uganda tewas, 11 pesawat rusak. Hanya empat sandera tewas, 10 terluka, dan satu pasukan komando Israel gugur. Ini Mossad yang hebat, atau mukjizat Pak Paul?”

* * *

Israel memang bangsa keras kepala, tetapi lebih sering terlunta-lunta. Abraham, Ibrahim, nenek moyang bangsa ini, datang ke Tanah Kanaan, pegunungan dan lembah di sekitar Sungai Jordan, Danau Galilea, serta Laut Mati. Abraham datang dari Mesopotamia, lembah di antara Sungai Tigris dan Euphrat. Abraham berada di Tanah Kanaan sebagai pendatang, atas nama Jahwe. Ketika Abraham datang, di Tanah Kanaan telah ada banyak suku lain, termasuk Palestina. Ketika itu, antara 2000 sd.1500 SM,  Tanah Kanaan berada di bawah kekuasaan Mesir. Yang disebut Bani Israel, adalah 12 orang cicit Abraham, cucu Ishak, atau anak Jakob dari dua isteri dan dua pembantunya. Mereka adalah Reuben (1), Simeon (2), Levi (3), Judah (4), Dan (5), Naphtali (6), Gad (7), Asher (8), Issachar (9), Zebulun (10), Joseph (11), dan Benjamin (12). Abraham pernah mengungsi ke Mesir karena Tanah Kanaan dilanda bencana kelaparan. Demikian juga dengan 12 Bani Israel beserta keturunannya. Populasi Bani Israel di Mesir bertambah banyak, dan derajat mereka turun dari Keluarga Joseph Sang Raja Muda, menjadi budak.

Musa telah membebaskan Bani Israel dari perbudakan di Mesir. Peristiwa ini dirayakan Bani Israel sebagai Hari Raya Paskah. Yang kemudian berhasil membawa masuk bangsa ini kembali ke tanah Kanaan, bukan Musa melainkan Josua.  Bani Israel berhasil kembali ke Tanah Kanaan dengan cara berperang, membunuh, dan menjarah. Puncak dari kejayaan Israel adalah ketika tahun 1047 – 1007 SM, Saul menjadi raja Israel, disusul oleh Daud (1007 – 970 SM), dan Solomon (979 – 938 SM). Pada pemerintahan Solomon inilah Bait Suci, Bait HaMikdash, dibangun. Setelah pemerintahan Solomon, Kerajaan Israel terus mundur, bahkan terpecah dua, yakni Israel di utara dengan ibukota Samaria, dan Judea di selatan dengan ibukota Jerusalem. Tahun 586 SM, Raja Nebuchadnezzar dari Babilonia, Mesopotamia, menaklukkan Israel, dan menghancurkan Bait Suci. Warga Israel, yang kemudian juga disebut Jahudi, diangkut ke Babilon sebagai budak. Mereka yang tidak tahan, kabur ke Mesir, Arab, dan negara-negara lain. Beruntung, tahun 537 SM, Raja Cyrus,  pengganti Nebuchadnezzar, berbaik hati  membolehkan warga Jahudi pulang, dan membangun kembali Bait Suci mereka.

Namun Bangsa Jahudi tetap tidak bisa merdeka. Setelah lepas dari Babilonia, tahun 550 -333 SM mereka dikuasai Kekaisaran Parsi. Tahun 331 – 305 SM, Israel ditundukkan Aleksander Agung dari Turki. Setelah itu berturut-turut tahun 305 – 198 SM berada di bawah kekuasaan Ptolomeus, Mesir, 198 -141 SM dibawah Seleucids, Mesopotamia,  141–63 SM dijajah Hasmonean,  63 SM – 330 diperintah Romawi, 330 – 638 dibawah Konstantinopel, Bizantium, 638 – 1099 dikuasai Kekalifahan Islam, 1095 – 1291 ditaklukkan Tentara Salib,  1187 – 1260 dibawah Kesultanan Ayubiyah Mesir, Damaskus, 1260 – 1516 dibawah Kasultanan Mameluk, Mesir, tahun 1516 – 1917 dikuasai Kasultanan Ottoman, Turki, dan 1918 – 1948 diambil Inggris, yang kemudian menyiapkan Mandat Palestina. Mandat ini membagi Negeri Palestina menjadi dua: Israel dan Palestina. Hingga praktis, Israel sebagai bangsa merdeka, hanya pernah terjadi selama 461 tahun, dari 1047 SM sampai 586 SM, dan 61 tahun dari 1948 sampai sekarang.

Pada perang melawan Romawi tahun 60 – 70, dan tahun 130an, populasi penduduk Israel turun drastis. Sebagian yang masih selamat diusir dari tanah Kanaan. Pada tahun 628, Kaisar Heraklius dari Bizantium, memerintahkan pembunuhan, dan pengusiran besar-besaran terhadap orang Jahudi. Populasi Umat Jahudi, terselamatkan setelah tahun 685 – 705, Abdul-Malik bin Marwan, khalifah kelima dari Bani Umayyah,  Mekah, menaklukkan Jerusalem. Tahun 687 – 691, ia mendirikan Kubah Shakhrah, Qubbat As-Sakhrah,  atau The Dome of The Rock, di bagian utara reruntuhan Bait Suci Jahudi. Kubah Shakhrah yang berlapis emas, sering dianggap Mesjid Al Aqsa. Sebenarnya As-Sakhrah bukan mesjid, melainkan cungkup untuk melindungi batu besar Baitulmuqaddis, tempat Nabi Muhammad SAW berdiri untuk diangkat ke Sidratul Muntaha, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Masjid Al Aqsa sendiri, yang dibangun tahun 685 dan baru selesai 1035, berkubah abu-abu, dan terletak di ujung selatan fondasi Bait Allah, di kompleks Kota Tua Jerusalem. Berada di bawah Kesultanan Mameluk, dan Utsmaniyah, Bangsa Jahudi justru mendapat perlindungan.

Pembantaian Jahudi memang pernah dilakukan oleh Kaisar Romawi tahun 70 dan 132, Kaisar Bizantium tahun 628, Tentara Salib tahun 1095 – 1291, dan Hitler, Nazi tahun 1930 -1940an. Penguasa Muslim, termasuk Mameluk dan Otoman memperlakukan Bangsa Jahudi sangat baik. Mengapa? Kemungkinan besar karena Kekhalifahan dan Kasultanan Islam, merasa bahwa Ibrahim adalah nenek moyang bersama Islam, melalui Ismail, dan Jahudi, melalui Ishak. Dengan fakta seperti ini, Penguasa Muslim, Kekhalifahan maupun Kasultanan, tidak pernah berbuat kejam terhadap Bangsa Jahudi. Namun sikap Islam yang baik ini, justru menjadi bumerang bagi Islam sendiri. Mandat Palestina yang diusulkan Inggris setelah selasai Perang Dunia I, tidak pernah mendapat kata sepakat baik dari Palestina, maupun dari Jahudi. Tahun 1945, Inggris menyatakan menarik diri dari Mandat Palestina. PBB yang baru dibentuk pada 1945, menyetujui Mandat Palestina pada 29 November 1947.

Mandat ini ditolak oleh negara-negara Arab, sebab Israel dengan populasi jiwa hanya 30%, mendapat areal lahan sebesar 55%. Sebelum PBB menyelesaikan Mandat Palestina, pada tanggal 14 Mei 1948, David Ben-Gurion memproklamasikan kemerdekaan Israel dari Inggris. Tahun 1948 terjadilah perang Arab Israel pertama. Israel dikeroyok oleh Saudi Arabia, Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon dan Irak.  Dalam waktu singkat Israel berhasil menguasai Jasirah Sinai. Atas tekanan AS dan Uni Soviet, Israel dipaksa mundur dari Sinai. Selanjutnya, tahun 1956 Israel melancarkan Perang Suez, tahun 1967 Perang Enam Hari, 1973 Perang Yom Kippur, 1982 Perang Lebanon, 1987 Perang Intifadah, 1991 Perang Irak,  tahun 2000 Perang Intifadah Al Aqsa, 2006 Konflik Israel-Lebanon, dan awal 2009 Perang di Jalur Gaza dengan Hamas. Ribuan tahun berperang, menjadi budak, menjadi negara terjajah, telah membuat Israel merasa harus mempunyai aparat intel yang tangguh: Mossad dan Shin Bet.

* * *

“Mas Arif, ini teman-teman dari BIN bertanya, apa benar Mas Arif sedang kerja untuk Mossad? Saya kira wajarlah mereka bertanya seperti itu bukan?” Arif, yang secara mendadak ditembak dengan pertanyaan seperti ini, menjawab dengan rileks. “Memangnya kalau iya terus BIN mau ngapain? Mau minta bagian?” Paul Gunung Kidul, Senior BIN itu, juga rileks.
“Memangnya kalau iya terus Mas Arif mau ngasih berapa?” Arif tetap masih rileks.
“Ya sebanyak teman-teman BIN minta. Mau satu èm, dua èm, tiga èm, maunya berapa?” Sekarang paul itu yang bernafsu.
“Serius ini Mas Arif?” Arif tetap masih tenang.
“Yang bilang kalau saya sedang guyonan siapa? Mau minta berapa?”
“Ya terserah Mas Ariflah, maunya ngasih berapa? Tapi ini saya juga serius Mas, benar ada kontak dengan mereka?”
“Mereka siapa? Mossadmu itu maksud lo?”
“Iya, sebab teman-teman BIN mulai curiga, siapa dibalik acara Tengger ini? Awalnya kami curiga CIA, tetapi indikatornya kurang kuat mengarah kesana. Yang kuat malah Mossad. Jadi bagaimana Mas Arif?”
“Maksud lo, Mossadnya atau duitnya?”
“Ya dua-duanya Mas. Kalau Mossadnya ya, berarti ada embel-embelnya dong?”
“Mossadnya tidak. Duitnya kalau teman-teman perlu, kontak saja Aris Bagio. Bilang saya yang suruh. Memang dari awal mereka sudah nganggarin kok.”
“Ini Pak Aris yang mana ya Mas?”
“Direktur keuangan gua. Eh, Pak Paul, bilang sama teman-teman BIN, Mossad bisa saja ikut main lo. Tetapi gua sama sakali tidak tahu, dan juga tidak akan pernah mau tahu. Yang gituan itu kan bagian elo, Pak! Bagian gua kan duitnya.”
“Serius ini Pak?”
“Nah, elo dididik Mossad tahunan, kayak gini masih bingung. Minta juga dong bagian dari mereka, jangan hanya ngompasin gua!”
“Maunya mereka ngapain Mas?”
“Ya ngasih duit gua. Maksud yang lain, ya urusan BIN, bukan urusan gua!”
“Memang sampeyan itu benar-benar diancuk kok Mas.”
“Nah, elo sendiri memangnya bukan biangnya diancuk?”
“Ha, ha, ha….. kita ini selalu cocok karena sama-sama biangnya diancuk ya Mas Arif?

Suroso hanya salah satu dari puluhan staf di lingkup PT Garuda Perkasa Grup. Ia staf Boss Wisnu Wardana, Direktur Utama Garuda Perkasa Holding Company. Tetapi peran sebenarnya lebih dari itu. Ia sangat sederhana, pendiam, jujur, selalu patuh, dan sangat sopan kepada siapa pun. Meski hanya staf, yang arti harafiahnya pembantu, ia orang kesayangan Pak Wis, dan sering kontak secara rahasia dengan Boss Arif. Hari itu ia disuruh Pak Wis untuk mengantar surat ke Boss Arif. “Kamu diminta Pak Wis buru-buru pulang atau tidak Ros?” Suroso menjawab dengan sangat sopan. “Tidak Pak, beliau kan meeting sampai malam nanti. Saya bebas, tapi kalau Bapak perlu saya, saya harus lapor dulu ke Ibu Dessy.” Arif minta Suroso lapor ke Bu Dessy, bahwa ia akan agak lama dengan dirinya.

“Ibu Dessy ya? Ini Suroso ibu, ya, sudah, ini saya sedang berada di depan Pak Arif Bu. O, tidak ada masalah apa-apa Ibu, hanya saya akan agak lama di sini ibu, tidak ada apa-apa ibu, hanya Pak Arif mengajak saya main catur. Mohon ijin ya Ibu? Ya, terimakasih ibu, selamat sore.” Halaman Rumah Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko itu luas dan sejuk. Pohon cemara laut, dan mahoni menjulang sangat tinggi. Di salah satu petak halaman rumah yang luas itu, Arif dan Suroso duduk berhadap-hadapan di bangku taman. Di depan meja mereka terbentang papan catur. Selama ratusan kali main catur, Arif belum pernah sekali pun bisa mengalahkan Suroso. Meskipun Suroso selalu memberitahu, bagaimana seharusnya mengalahkannya. Tetapi bagi Arif, itu tidak terlalu penting.
“Menurut kamu bagaimana upaya kita ini?”
“Sukses pak, tetapi baru kulitnya.”
“Maksud kamu?”
“Plan satu kita membackup calon nasionalis. Israel sangat berkepentingan dengan ini. Plan dua kita, membackup NU, dan mencegah Muhamadiyah dikooptasi oleh radikalis. Plan tiga, ini yang mungkin susah Pak, mengubah mereka menjadi lunak dan tidak radikal. Sebab yang radikal itu tetap perlu ada.”
“Plan empat masih ada lo Roso?”
“Apa itu Pak?”
“Habisi mereka!”
“Itu proyek lain lagi Pak. Kita harus dibayar mahal!”

“Tetapi heran lo Roso, manuver mereka juga hebat. Prabowo mereka garap intensif. Setelah Pak JK mengumumkan mau maju, mereka juga mulai berupaya menempel ke sana. Jadi sebenarnya mereka juga cerdas, dengan memanfaatkan ujung tombak nasionalis. Kalau Prabowo itu Roso, sudah sejak Dangrup dulu mereka garap. Maka ada istilah militer hijau dan militer merah putih. Mereka itu kecolongan ketika 1999 menggarap Amien Rais untuk menciptakan Poros Tengah. Langsung saja Mossad memasang Gus Dur di sana, dan ambruk manuver mereka itu. Aku tidak tahu, apakah Gus Dur tahu tentang hal ini atau tidak, tetapi ketika beliau jadi presiden, sayap militer hijau dihabisin, meskipun tidak pernah bisa 100%. Sekarang pun kader mereka masih ada yang eksis di AD. Tetapi tadi kok kamu bilang baru kulitnya itu tadi bagaimana?”
“Peluang nasionalis kalah masih besar Pak.”
“Lo, Golkar memang melemah, tetapi PDIP dan Demokrat kan menguat?”
“Maksud saya presidennya Pak. Kalau Poros Tengah II solid, lalu uang Prabowo tambah liquid, sementara suara nasionalis terbagi antara Mega, SBY, JK, dan Sultan, maka peluang Prabowo untuk lolos sangat besar.”
“Kita memang masih sulit meramal akan seperti apa konstelasi capres cawapres nasionalis pasca Pemilu Legislatif, dan tugas kita hanya membackup mereka. Kalau konstelasinya Mega dan SBY RI 1, lalu JK dan Sultan RI 2, akan aman. Salah satu dari mereka atau malah dua-duanya, akan lolos ke putaran II. Kalau Konstelasinya SBY-JK, atau Mega-JK, malah peluang untuk hanya satu putaran cukup besar. Sebab mesin Golkar, PDIP, dan Demokrat, sampai sekarang tetap paling solid. Meskipun pundi-pundi Golkar dan PDIP agak kempes setelah krisis finansial kemarin ini.”
“Jadi habis ini Pak Sultan ya Pak?”
“Maksudmu acara kita? Kalau lokasinya Parangtritis dulu, ya jelas Pak Sultan. Untuk Bu Mega saya masih bingung lokasinya. Di Surya Kencana terlalu sulit. Memang Tengger itu paling top ya Roso? Kalau Pak JK, agak lebih simple. Di Senayan juga okey. Bu Mega itu harus kolosal seperti Tengger, tapi di mana ya?”
“Usul saya ini Pak ya, Bu Mega dan Pak Sultan itu disatukan di Parang Tritis saja.
Lebih mudah ngurusnya.”
“Itu kalau konstelasinya sudah jelas. Sebenarnya kemarin itu Sultan sudah mau nyerah, jadi wakilnya Bu Mega. Tim suksesnya masih ragu. Ada yang maunya sama Pak JK, nunggu pinangan Pak SBY, malah ada yang tetap ngotot Sultan RI 1. Tapi saya dengar, sultan juga jengkel karena dimintai setoran.”
“Sebenarnya di Surya Kencana juga masih mungkin untuk diset lo Pak. Juga kolosal, malah dugaan saya bisa lebih simple dan efektif dibanding Tengger.”
“Saya juga berpikiran begitu. Teman-teman JIL bagaimana? Masih solid?”
“Sudah lama saya tidak ada kontak dengan mereka Pak. Tetapi saya dengar mereka juga sedang banyak proyek.”
“Bukan soal proyek. Itu mereka masih dihajar sama kelompok apa itu, kemarin-kemarin itu?”
“Ya masih Pak, tetapi sudah tidak segencar dulu. Tidak tahu kenapa kok sekarang agak kendor.” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: