Kiai Murwito

24/03/2014 at 14:48 (novel)

Mohamad Murwito seorang kiai dari Bantul, Yogyakarta. Pesantrennya bernama Cipto Roso, berkapasitas sangat kecil, dengan Mesjid yang juga kecil dan sederhana. Penampilan Kiai Murwito sendiri juga sederhana. Kemana-mana memakai kemeja lengan pendek yang tidak pernah dimasukkan. Celana panjangnya biasa, ia jarang bersepatu, melainkan mengenakan sandal kulit. Kiai Murwito juga jarang sekali memakai peci, apalagi surban. Orang yang belum mengenalnya secara dekat, tidak akan tahu bahwa ia seorang kiai. Gaya bertutur Kiai Murwito sangat santun. Bicaranya pelan tetapi dengan intonasi jelas, dengan jeda yang juga cukup. Ketika berbicara dengan siapa pun, wajahnya selalu mencerminkan kecerahan. Bahkan ketika melayat pun, dia tidak pernah mengubah penampilan wajahnya, hingga tampak muram atau seperti mau menangis. Ia tetap berwajah cerah, tetapi tentu dengan sebuah empati yang mendalam. Maka setiap kali Kiai Murwito datang melayat, keluarga yang sedang berduka itu seperti orang kepanasan yang mendapat siraman air yang dingin dan jernih.

Kiai Murwito baru berusia 48 tahun, tetapi kiai-kiai sepuh menaruh hormat padanya. Kiai Murwito dihormati bukan karena dia hebat, melainkan justru karena sangat sederhana. Pesantren Cipto Roso memang sengaja dibuat tetap kecil oleh Kiai Murwito.  Di pesantren itu hanya ada satu Madarasah Aliyah, dengan tiga kelas. Masing-masing kelas hanya mampu menampung paling banyak 50 murid. Hingga satu madarasah  itu paling banyak hanya bisa menampung 150 murid. Kapasitas asrama Pesantren Cipto Roso juga dibatasi paling banyak 100 anak. Diharapkan 50 anak Madarasah Aliyah itu akan tinggal di luar pesantren. Pesantren Cipto Roso, menerima santri laki-laki, maupun perempuan, dengan asrama terpisah. Meskipun bangunan mesjid di seluruh kawasan Bantul sudah ditembok semua, Kiai Murwito tetap mempertahankan mesjidnya dari kayu. Demikian pula dengan bangunan sekolah, demikian pula dengan asrama para santri. Banyak yang akan membantu Madarasah dan Pesantren Cipto Roso, tetapi Kiai Murwito sangat selektif. Kalau bantuan itu untuk membangun sarana fisik, Kiai menolak. Kalau untuk membangun spiritual, diterima.

“Pendidikan itu bukan ilmu, bukan buku, bukan baju, bukan sepatu, bukan bangku, bukan komputer, bukan gedung, bukan mobil, melainkan akhlak! Pendidikan itu bukan untuk membuat anak menjadi hebat, melainkan untuk mengarahkannya menjadi orang baik. Pendidikan bukan untuk mencetak dokter, insinyur, guru, pengusaha, anggota legislatif, jenderal, dan lain-lain, melainkan untuk membuatnya menjadi seorang ayah atau ibu yang baik bagi anak-anak mereka, dan juga bagi masyarakat. Itu yang saya yakini, kalau sampeyan punya keyakinan lain, ya sumonggo mawon. Saya tidak akan pernah memaksakan keyakinan saya ini, kepada orang yang keyakinannya berbeda. Tetapi nyuwun tulung, saya juga jangan dipaksa untuk berubah keyakinan, dan mengikuti keyakinan sampeyan, yang tidak pernah saya yakini kebenarannya. Maka silakan kirim anak sampeyan ke sekolah hebat, ke pesantren hebat, supaya anak sampeyan ikut menjadi hebat. Kalau sampeyan ingin anak sampeyan menjadi orang baik, cobalah dikirim kemari. Insya Allah dia akan menjadi anak baik.”

“Kiai Murwito punya hubungan baik dengan siapa saja. Termasuk dengan mereka yang prinsip-prinsip hidupnya bertentangan dengan prinsip hidup yang ia yakini. “La kalau saya hanya gaul dengan orang yang sepikiran dengan saya, dengan orang-orang biasa, saya tidak akan teruji. Maka saya harus banyak gaul dengan pejabat korup, pengusaha kaya yang arogan, selebritis terkenal yang kawin-cerai, jenderal yang galak, dan lain-lain. Tujuannya bukan untuk mengajak mereka menjadi baik, tetapi untuk menguji iman saya sendiri. Apa bener Murwito itu bisa tahan uji kalau diiming-imingi uang, kekuasaan, dan paha mulus. Dan saya tidak pernah akan dinyatakan lulus dengan nilai baik, sebelum mati. Jadi ujian berat itu akan berlangsung terus sepanjang hidup. Kemarin lulus, mungkin hari ini tidak. Hari ini lulus, mungkin besuk tidak. Besuk tidak lulus, saya harus bekerja keras agar besuknya lagi lulus. Dalam menghadapi ujian ini, saya juga sering tidak lulus. Nilai dari Allah SWT kepada saya juga sering merah. Saya tidak perlu sedih, dan harus berusaha lagi agar besuknya nilai itu kembali biru.”

“Maka, meskipun dicaci-maki banyak orang, saya tetap saja berhubungan baik dengan Kanjeng Sultan. Dulu dengan Romo Mangun, dengan para mantan anggota PKI, dengan beberapa germo di Sarkem, juga dengan Pak Suryo yang sering dibilang Jenderal Korup. Pak Kiai Mur ini kok dekat-dekat dengan Pak Suryo to? Dia itu kan korup? Ya biar. Yang katanya korup kan dia, bukan saya. Apa saya harus hanya bergaul dengan KPK? Apa hanya dengan Departeman Agama dan MUI? Lha di sana juga ada korupsi. Pak Kiai, jangan dekat-dekat dengan Romo Sindhu lo, dia itu kan Kristen, orang Kristen itu kalau mati akan dipentang di kayu salib lo! Nanti Pak Kiai ikut-ikutan kalau mati dipentang di kayu salib! Orang sudah mati, mau dipentang di kayu salib, di kayu segitiga, diceburkan ke laut, ya sudah tidak merasa apa-apa. Kalau masih hidup dipentang di kayu salib, baru terasa sakit. Dulu, dengan Romo Mangun, saya ini sering sama-sama pusing melihat ulah umat. Umat saya bilang, Nabi Isa itu tidak pernah disalib! Baca coba Al Quran, yang disalib orang yang diserupakan dengan dia oleh Allah SWT.”

“Dia juga bukan Putera Allah. Dia itu nabi biasa! Nabi Isa Alaihissalam itu juga tidak bermaksud membuat agama baru, tetapi mempersiapkan agama Islam yang akan diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Kalau kemudian ada agama baru, itu tidak sah, tidak sesuai dengan ajaran Nabi Isa, tidak sesuai dengan perintah Allah.  Lalu umatnya Romo Mangun marah, dan mencari-cari kejelekan Islam. Orang yang suka begini ini, bukan hanya akan mempermasalahkan agama yang berbeda, melainkan juga dalam satu agama. Sama-sama Islam kan ada Sunni ada Syiah. Syiah itu kecil sekali, hanya sekitar 10%, dan hanya di separo Irak, sedikit di Iran. Yang 90% Sunni dengan mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Mazhab Hanafi sekitar 45%, dominan di Pakistan, India, Bangladesh, sebagian Sri Lanka, Maladewa, Mesir Utara, separo Irak, Syria, Libanon, Palestina dan Chechnya. Maliki 25% dan dominan di Afrika. Syafii 28% dan berada di Turki, separo Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, sebagian Sri Lanka, Malaysia, dan Brunei. Hambali hanya 5% adalah Islam di Saudi Arabia. Sama-sama Syafii, NU dan Muhamadiyah juga sering tidak akur.

* * *

Rumah Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko di Polonia, Jakarta Timur, ramai. Anak-anak, menantu, cucu, keponakan, menantu keponakan, cucu keponakan, teman, sahabat, sanak famili, relasi bisnis, relasi politik, semua kumpul. Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko selalu membisiki tamunya: “Ini sebenarnya dalam rangka penggalangan kekuatan bagi Sultan!” Tetapi secara formal, undangan yang dikirim adalah acara pengajian dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW. Kiai aneh dari Bantul didatangkan ke Polonia Jakarta. Nama Kiai itu Murwito. Pesantrennya bernama Cipto Roso. Selain diminta untuk memimpin pengajian, Kiai Murwito secara khusus juga diminta bantuannya untuk kesembuhan Raden Ayu Siti Suryaningtyas, puteri bungsu Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko, isteri Arif Rahman, ibu dari Ratih dan Wulan. Sebenarnya, sudah lama Raden Ayu Retno Hastuti, “Bu Suryo” curhat kepada Kiai Murwito tentang sakitnya Tyas. Kiai mengatakan, ya nanti kalau Allah mau menyembuhkannya, dia akan sembuh Bu! Dan kini, Kiai itu secara resmi diminta bantuannya untuk kesembuhan Tyas.

“Ini Mbak Tyas, isterinya Mas Arif kan? Masih ingat saya, Kiai Murwito?”
“Ya masih ingat to Pak Kiai, saya kan pernah ke pesantrennya Pak Kiai di Yogya sana, di jalan yang mau ke Parangtritis itu lo! Kalau mau nginep di Parangtritis kan Bapak sering ngajak mampir ke Pak Kiai?”
“O, masih inget Mbaknya ini, tapi dulu sekali itu ya? Masih kecil waktu itu Mbak Tyas ya?”
“Ya, Pak Kiai, setelah kuliah saya hampir tidak pernah ke Parangtritis. Paling juga cuma ke Yogya, itu pun pasti sama teman-teman.”
“La Mbok sekarang ganti puterinya yang cantik-cantik itu diajak ke rumah Pak Kiai yang jelek!”
“E, tidak jelek lo rumah Pak Kiai itu. Saya itu kalau diajak Bapak atau Ibu mampir ke sana rasanya kan mak nyes, begitu. Rumah Pak Kiai itu adem. Kalau di rumah di Parangtritis itu kan panas. Di sini juga panas Pak Kiai.”
“Mbaknya ini bagaimana to? Rumah di Parangtritis ber AC, di sini ber AC, rumah saya berangin, kok malah dibilang rumah saya dingin.”
“Bener lo Pak Kiai, saya lalu jadi ingin ke sana lagi ngajak anak-anak. Boleh kan Pak Kiai?”
“Walah, Pak Kiai yang jelek ini ya senang sekali to Mbak, kalau Mbaknya ini mau rawuh ke sana. Kapan? Ini harus beneran lo! Bukan untuk membohongi Pak Kiai.”
“Pak Kiai, Pak Kiai, siapa yang berani bohong ke Pak Kiai? Sultan saja katanya takut sama Pak Kiai? Kalau saya bohong ya akan kualat to Pak Kiai.”

Pengajian itu khusuk. Dilanjutkan dengan santap malam, dan ramah tamah. Sebenarnya Kiai Murwito sudah dibookingkan kamar di Hotel Fiducia di Otista. “La untuk apa tidur di hotel membuang-buang uang. Wong mlungker di karpet situ juga tidur kok.” Bu Suryo meggeleng-gelengkan kepala. “Pak Kiai yang satu ini memang susah. Dari Yogya sudah dipesankan tiket dua dengan Bu Murwito, tidak mau. Katanya yang mau pengajian kan bukan ibunya, lalu maunya sendirian naik kereta klutuk turun di Jatinegara, dari Jatinegara naik Mikrolet, lalu sambung ojek, dijemput juga tidak mau. Ya sudah, wong kersané mengkono kok. Sekarang dipesankan kamar supaya bisa istirahat juga emoh. Ya sudah, kebetulan ngobrolnya bisa sampai pagi di sini. Memang ada yang mau saya tanyakan serius ke Pak Kiai, sini Eyang Kakung ke sini, juga Nak Arif itu!” Bu Suryo lalu berbisik-bisik ke Kiai Murwito. “Ini lo Pak Kiai, tentang Tyas ini, sakitnya itu sakit apa to? Sakit kok aneh begitu. Kemarin-kemarin, anehnya hanya sama Arif, sekarang sama Ratih sama Wulan juga sudah begitu. Anak-anak itu ngadu, Eyang-eyang, masak Bunda bilangnya Ayahanda Arif itu bukan Papah Wulan sama Ratih, kata bunda Papah Arif itu Pakdenya Ratih sama Wulan. Memang Papah Arif itu benar kakaknya Bunda ya Eyang? Lalu kata Bunda, Papahnya Ratih dan Wulan itu yang sebenarnya, katanya dokter siapa Dik? Dokter Robert ya? Emangnya benar begitu Eyang?”

“Ibu, dan Bapak Suryo, juga Mas Arif. Mbak Tyas itu tidak sakit. Dia hanya merasa bersalah, sebab telah menikah dengan calon suami kakaknya. Mbak Tyas juga sangat tidak rela kakak yang sangat dibanggakannya itu tidak ada lagi. Ini yang menyebabkan Mbak Tyas itu gerah begitu. Mohon maaf kalau pendapat saya ini salah. Ibu Suryo itu kan sudah lama cerita ke saya, lalu juga sering telepon, lalu saya othak-athik-gathuk, ya itulah pendapat saya. Lalu saran saya, Bapak dan Ibu Suryo, juga Mas Arif, tetap berobat ke dokter, tidak usah mencari-cari dukun ke mana-mana. Dukun itu singkatan dari ada duit rukun. Saran saya, sebaiknya Mbak Tyas itu jangan sering-sering berada di rumah ini. Saya dengar dari Mas Arif, tadi siang, ada yang menyarankan, rumah di Sentul itu yang jahat, lalu Mbak Tyas disarankan untuk kembali ke sini. Saran saya sebaliknya. Mbak Tyas akan lebih sehat kalau tinggal di Sentul. Bukan di sini. Tidak ada rumah yang jahat. Yang jahat itu ya manusianya. Rumah di sini ini, akan terus menggugah ingatan Mbak Tyas pada kakaknya yang sudah tidak ada. Lalu rasa bersalahnya timbul. Maka, dia pura-pura punya suami yang jadi dokter itu, dan menganggap suaminya sebagai kakak kandungnya.”

Arif merasa mendapat pencerahan baru. Padahal, apa yang disampaikan oleh Kiai Murwito tadi, sudah puluhan kali dikatakan oleh Psikolog Susan, dan Psikiater Bambang. Tetapi ketika yang mengatakan Kiai Murwito, kedengarannya lain. Mak Nyes! Tyas sendiri juga langsung mengatakan ingin ke Bantul, ke rumah Kiai Murwito. “Pak Kiai ini ilmunya ilmu apa sih, kok saya mendengar bahwa kiai-kiai sepuh hormat, bahkan takut sama Pak Kiai?” Kiai Murwito mendehem-dehem. “Ilmu saya bukan datang dari guru, tetapi langsung dari Allah. Semua orang diberi ilmu itu, tetapi banyak yang tidak mau pakai. Ilmu itu adalah ilmu jujur dan lurus. Kiai-kiai sepuh itu takut sama saya yang mereka takuti apa? Saya tidak punya jabatan, tidak punya kekuasaan apa-apa, kok mereka takut?” Mereka itu sebenarnya takut pada diri sendiri, takut pada Allah, karena tidak mengamalkan ilmu yang sudah diturunkan Allah SWT. Mereka sudah tidak jujur dan tidak lurus. Kiai kok urusannya sama kekuasaan, sama politik, sama bisnis. Kiai itu kodratnya mengurus umat agar akhlaknya baik.”

Setelah Pak Suryo, Bu Suryo, dan Arif, selesai membicarakan ihwal sakitnya Tyas dengan Kiai Murwito, saudara-saudara yang lain dipanggil untuk ikut bergabung. Pak Suryo lalu membuka pembicaraan, meminta pendapat Kiai Murwito tentang peluang Sultan untuk menjadi Presiden. Kiai Murwito menjawab. “Peluang Sultan itu hanya wakil presiden. Kecuali beliau dicalonkan oleh Golkar sebagai presiden, dengan wakil pak Jusuf Kalla, itu baru peluangnya agak besar.” Pak Suryo kecewa mendengar penjelasan Kiai Murwito. “Caranya bagaimana Pak Kiai agar peluang Sultan itu besar?” Kiai Murwito sambil tersenyum-simpul menjawab. “Sultannya sendiri harus menganut ilmu Allah tadi, yakni ilmu jujur dan lurus. Pak Harto dan Bung Karno itu dulu dipilih jadi presiden juga karena jujur dan lurus. Mereka baru mulai belajar bengkok-bengkok setelah lama menjadi presiden. Saya ini juga sudah lama menjadi kiai, hingga takut mulai belajar yang bengkok-bengkok.”

* * *

“Ini diundang pengajian habis mahrib, kok jam sepuluh baru nongol ini bagaimana Mas Suwito ini. Pak Kiai, ya inilah yang namanya Mas Suwito. Ini Pak Kiai Murwito dari Bantul. Nah saya akan tanya langsung ke Pak Kiai, kalau Suwito ini lurus atau bengkok?” Tetap sambil tertawa-tawa, Kiai Murwito menjawab. “Masnya ini kadang-kadang lurus, kadang-kadang bengkok. Kalau menerima uang tangannya harus lurus begini, ya kan Mas? Lalu kalau uang sudah diterima, ya harus bengkok, untuk memasukkan uang itu ke dalam saku jas atau celana. Saya kalau mengambil nasi ya harus lurus. Memasukkan nasi ke mulut, tangannya harus bengkok.” Mas Suwito tertawa terbahak-bahak, diikuti Pak Suryo, Bu Suryo dan yang lain-lain. “Makan dulu, ini makan dulu. Ini sate dan gule dari mana hayo? Ini Sate Kadir. Habis saya itu tadi jengkel Wit. Saya itu sudah janjian sama Laksamana Husein mau makan sate Kadir. Lo baru ingat kalau sekarang ini pengajian. Ya sudah to Wit, saya telpon saja untuk diantar kesini, sekalian untuk makan malam. La ini khusus untuk kamu!”

“Ini bagaimana ini Wit. Kamu harus banyak bantu-bantulah. Kamu ini kalau sedang diperlukan menghilang, menghilang terus, kalau tidak diperlukan tahu-tahu mak jedhul datang. Yaitu kelakuan Si Suwito. Tadi ketika kamu belum datang, saya sudah ngomong sama Arif. Ternyata dia itu memang punya pandangan jauh ke dapan. Ini nanti dia mau bikin acara lanjutan di Parangtritis, Nabi Isa akan tampil seperti di Tengger tetapi didampingi Kanjeng Sultan. Ya tetap akan diekspos ke mana-mana. Lalu Sultan akan bilang juga, kalau dia mendampingi Nabi Isa Alaihissalam, sebagai Raja Yogya, sekaligus sebagai Gubernur DIY. Ya persis seperti Pak SBY kemarin itu. Ini cantik Wito! Cantik! Caranya itu benar-benar cantik. Nah kata Arif lagi, dia juga masih akan membuat acara dimana itu katanya di alun-alun mana itu, dan Nabi Isa akan didampingi oleh Bu Mega. Jadi tidak terlalu mencolok begitu. Tetapi saya memang makin yakin bahwa Arif itu menantu yang baik. Menantu yang akan patuh pada mertua. Ya memang itu perlu sebab dia itu kan yatim piatu toh? Bagaimana pendapatmu Wit?”

“Saya itu agak beda Pak. Saya masih tetap yakin, bahwa Mas Arif itu punya agenda tersendiri, yang masih terselubung, yang kita belum tahu. Jadi pesan saya, Bapak harus ekstra hati-hati. Sebab Mas Arif itu menantu, sekaligus juga musuh. Ini kan repot Pak? Musuh, tetapi sekaligus juga menantu. Saya juga mulai ragu-ragu dengan Nabi Isa ini. Kalau benar ini Nabi Ngisa, berarti kiamat sudah dekat. Ya to Pak Kiai? Ini, kalau Nabi Ngisa ini datang, kan berarti kiamat sudah dekat kan? Ya benar kan? Nabi Isa itu kalau kata orang-orang itu memang tidak jadi disalib seperti yang diyakini umat Nasrani. Dia diangkat ke langit oleh Allah SWT. Yang ditangkap serdadu Romawi itu murid Nabi Isa, yang oleh Allah SWT dibuat mirip Nabi Isa. Jadi sampai sekarang, Nabi Ngisa itu masih hidup, hanya tidak ada seorang pun yang tahu ada di mana. Yang tahu ya Allah sendiri. Beliau itu kan baru mau datang pas hari kiamat, lalu Allah SWT juga akan mencabut nyawa beliau, supaya beliau itu mengalami meninggal. Maka saya mulai ragu-ragu dengan Nabi Isa ini. Kalau menurut pak Kiai bagaimana?”

“Kalau menurut saya, orang mau percaya boleh, tidak percaya juga boleh. Agama itu terutama bukan soal benar atau salah, tetapi yakin atau tidak yakin. Nabi Isa akan datang lagi di Quran juga begitu, di Injil juga begitu. Tinggal kita percaya pada Injil, Al Quran, atau percaya pada dongeng, dan kasak-kusuk. Kalau saya bilang semua agama itu baik, nanti didamprat para Kiai Sepuh. Saya tidak takut dengan Kristenisasi. Maka para santri saya, saya ajari pula Agama Kristen Protestan, Katolik, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, dan Kejawen. Ini juga dicurigai para Kiai Sepuh. Mereka mengatakan saya penganut Zionisme. Wah, saya senang dituduh demikian. Ini inspirasi baru. Santri saya beri tambahan pelajaran agama Jahudi, dan saya suruh belajar tentang Israel. Saya tambah dibenci para Kiai Sepuh. Kamu itu nantangin saya ya Mur? Kata salah satu Kiai Sepuh itu. Saya mengatakan, tidak Pak Kiai. Kata dia lagi, kok aku bilang kamu itu Agen Zionis, malah santrimu kamu beri pelajaran agama Jahudi? Saya katakan Agama Jahudi itu induk dari Nasrani dan Islam, jadi kata-kata Pak Kiai telah memberi inspirasi kepada saya untuk mengajar mereka dengan mata pelajaran baru. Lalu kapan mereka belajar Quran? Saya jawab mereka sudah khatam semua, tetapi tetap saya wajibkan tiap hari terus membaca dan mendiskusikannya.”

“Saya juga sampaikan ke para Kiai Sepuh itu, bahwa sambil belajar agama-agama lain, saya tantangin mereka. Kalau kamu menganggap Kristen lebih baik, silakan masuk Kristen, saya akan dukung! Mereka menjawab, yang ajarannya paling hebat itu Budha. Lo mengapa kamu tidak masuk Budha? Mereka cengèngas-cengèngès saja dan tidak bisa menjawab. Lalu saya tanya mereka: Bu Kiai Murwito dengan Bu Sinden Sunyahni itu cantik siapa? Ya cantik Bu Sinden, kata mereka. Lo, kok saya tidak meninggalkan Bu Kiai dan menikah dengan Bu Sinden? Mereka tetap pringas-pringis tidak bisa menjawab. Lalu saya katakan. Agama selalu punya kelebihan dan kekurangan, karena yang Maha Sempurna hanya Allah. Jadi kita ini manganut Islam, bukan karena kita menganggap Islam yang terbaik, tetapi karena kita ingin menjadi orang baik, bahkan menjadi yang terbaik. Ada jaminan kalau kalian pindah agama akan menjadi orang yang lebih baik dari sekarang? Ada jaminan kalau Kiai Murwito cerai dengan Bu Kiai lalu menikah dengan Bu Sinden akan lebih berbahagia? Para santri tertawa, dan ada yang mengatakan, kalau Pak Kiai menikah dengan sinden, akan  diamuk oleh putra-putri Pak Kiai.”

“Jadi saya tetap tidak bisa menjawab pertanyaan Mas Suwito, apa yang kemarin tampil di Tengger itu benar Nabi Isa, atau hanya seseorang yang berdandan seperti Nabi Isa, saya tidak tahu. Kalau saya sudah ketemu dia, baru saya bisa diyakinkan, atau malahan dibuat tidak yakin. Kalau sekarang tidak bisa. Nanti katanya beliau akan tampil di Parangtritis. Saya akan coba melihat, apa benar ini Nabi Isa Alaihissalam, atau selebritis. Kalau saya masih belum bisa yakin, ya tidak apa-apa. Dia tidak rugi, saya juga tidak rugi. Bahkan ketika saya yakin kalau dia Nabi Isa pun, dia tidak diuntungkan, karena pengikutnya sudah milyaran,  saya juga tidak akan mendapat tambahan santri baru. Maka hidup ini bagi saya, agak beda dengan Mas Suwito itu.” Suwito kaget lalu agak mendongak. Kiai Murwito menambahkan. “Memang jauh sekali bedanya kan? Mosok Mas Suwito tidak melihat perbedaan itu? Saya jelek dan miskin, Mas Suwito ngganteng dan kaya. Urusan saya mengajar para santri, Mas Suwito mengajar para calon presiden, jadi beda kan?”

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: