Sela

04/04/2014 at 16:11 (novel)

Iring-iringan mobil itu merayapi jalan raya yang menanjak berliku-liku. Kadang di kiri jurang, di kanan tebing terjal, kadang sebaliknya. Tebing-tebing itu selalu penuh dengan rumput gajah untuk pakan sapi perah. Sering pula jalan raya itu meliuk-liuk di antara ladang jagung, dan tembakau. Iring-iringan mobil itu berasal dari Bandar Udara Adisucipto Yogyakarta. Dari Adisucipto, mereka mengarah ke kanan menuju Surakarta. Di Klaten, mereka berbelok ke kiri menuju Boyolali. Di Boyolali iring-iringan mobil berbelok lagi ke kiri, ke arah Sela. Makin lama udara terasa semakin sejuk. Di jendela mobil selintas tampak dua gunung. Di kiri Merapi, yang puncaknya selalu mengepulkan asap putih, dan di kanan Merbabu dengan dua puncaknya, Sarip dan Kenteng Sanga. Selo adalah sebuah kecamatan yang terletak persis di celah antara Merbabu dan Merapi. Kecamatan Selo masuk Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selo adalah kawasan tertinggi di jalan raya Boyolali – Blabag, Magelang. “Inilah kawasan wisata  yang namanya Selo Tuan. Kota kecamatan ini diapit dua gunung. Itu namanya yang berasap itu Merapi, ini yang di kanan Merbabu.”

Di Selo ada sebuah resor sederhana, namanya Selo Pass, meskipun lokasinya tidak pas berada di puncak ketinggian. Kemudian ada pula guest house Pemkab. Boyolali, dan puluhan homestay. Rombongan besar itu ada yang menginap di guest house Pemkab Boyolali, ada yang di homestay. Rombongan utama yang membawa “tuan” ini bermalam di sebuah homestay di sebelah kanan Pasar Selo dari arah Boyolali, agak sedikit masuk ke dalam. “Tuan, di sinilah kita akan bermalam. Ini rumah rakyat yang dijadikan menginap para turis. Kebetulan ini rumah Pak Dwijo, Juru Kunci Merapi Kasunanan Surakarta.” Homestay Pak Dwijo ini hanya berkamar empat, hingga rombongan lain berpencar menginap di beberapa homestay di sekitar rumah Pak Dwijo. Rombongan memarkir mobil di halaman rumah, tas-tas diturunkan, para penumpang turun. Pak Dwijo menyambut. Dia menyalami “turis asing” itu, serta rombongan yang mengantarnya. “Sugeng Rawuh, saya sampaiken kepada tuan. Ya inilah rumah saya tuan. Lha ini anak saya Pardi.” Pak Dwijo mempersilakan rombongan itu masuk ke dalam rumah. Di dalam sudah disiapkan kopi, dan teh panas.

Ruang tamu itu berukuran sekitar empat kali sepuluh meter, dan menjadi tampak sempit sekali, karena disesaki oleh dua pasang meja dan kursi tamu, dengan rak-rak yang berisi macam-macam. Di dinding ruang tamu itu juga terpasang Foto Bung Karno, Presiden Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati, Susilo Bambang Yidhoyono, Sunan Pakubuwono XII, dan foto Mbah Dwijo sendiri. Di dalam ada empat kamar dengan masing-masing satu tempat tidur kapasitas dua orang, ruang makan, televisi 24 inci dengan karpet yang digelar di depannya. Di belakang lagi ada dapur dan kamar mandi. Pak Dwijo, dan anaknya Pardi tinggal di semacam paviliun di bagian paling belakang rumah yang dijadikan homestay itu. Di halaman rumah ada nursery sederhana yang menjual aneka tanaman hias, benih stroberi, dan toko kelontong yang baru satu tahun ini dibuka. “Turis Asing” itu duduk di salah satu kursi, rombongan pengantarnya ada yang ikut menemani, ada yang buru-buru menanyakan letak toilet, ada pula yang masih mengeglesot di lantai, di teras depan.

Pak Dwijo, dan para pemilik homestay di Selo, memang melihat di televisi, acara penampilan Nabi Isa Alaihissalam di Tengger. Tetapi mereka sama sekali tidak mengira, kalau rombongan turis lokal dan turis asing yang menginap di Selo ini, adalah rombongan Nabi Isa Alaihissalam. Para wartawan pun kembali  terkecoh. “Dulu, mereka boleh menipu kita. Kita mencari ubek-ubekan di Bali, ternyata adanya di Tengger. Sekarang kita harus atur strategi. Memang harus tetap ada wartawan yang mencari rombongan ini di hotel-hotel di Yogyakarta. Tetapi, kita juga harus mengejar mereka ke Kaliurang, Tawangmangu, dan Bandungan. Kemungkinan besar mereka nginap di Bandungan. Tetapi di dekat Candi Borobudur itu juga ada resor bintang. Coba ada yang nyambangi ke sana. Dan itu lo, siapa tahu rombongan itu justru sudah ada di Queen of The South Beach Resort, di Parangtritis sana. Pokoknya kita tidak boleh terkecoh untuk yang keduakalinya.” Para wartawan itu sama sekali tidak memperhitungkan Selo, sebab kawasan ini belum tumbuh sebagai tempat tujuan wisata, dengan hotel dan resornya. Obyek wisata yang sudah ramai justru Keteb Pass, yang juga belum dilengkapi hotel serta resor.

Hanya ada satu wartawan dari Majalah Hidup, yang terselip di antara rombongan itu. Namanya Monoz. “Saya pesan ya Pak Monoz, ini bukan untuk semacam wawancara eksklusif atau yang semacam itu. Boleh saja nantinya bahan dari Selo ini dimuat di majalah, tetapi harus ada tenggang waktunya. O, ini majalah mingguan ya? Kalau begitu ya tidak apa-apa keluar minggu depan ini. Sebab kalau langsung keluar besuk, atau besuknya lagi, wartawan lain akan berdatangan kemari, dan kami semualah yang akan kerepotan melayani mereka. Tamu Agung kita kan juga capek. Ini beruntung sekali lo Pak Monoz bisa ikut rombongan inti ini. Sebab rombongan wartawan resmi, semuanya kan menginap di Yogyakarta. Panitia inti sudah ada di Hotel Queen di Parangtritis sana. Ini kok Pak Monoz bisa nyelip di antara kami ini yang memasukkan siapa?” Monoz, wartawan Majalah Hidup itu juga bingung. “Saya juga tidak tahu Pak, tiba-tiba saja saya diminta untuk berangkat ke Selo, lalu harus ketemu dengan Bapak. Ya tugas biasa dari Kantor. Tidak tahu siapa yang menghubungi Hidup. Tetapi, saya tetap bisa memperoleh waktu untuk ngobrol dengan beliau kan Pak?”

Ketika iring-iringan rombongan itu merayapi jalan raya Boyolali Selo lewat Cepogo, cuaca pagi masih sangat cerah. Ketika rombongan tiba di Selo, matahari juga masih menyiram kawasan Selo dengan panasnya yang lembut. Tetapi tidak lama cuaca meredup, kabut turun disertai angin dingin dan titik-titik air yang segera mengembun di mana-mana. Rombongan inti yang menginap di rumah Mbah Dwijo, siang itu makan nasi jagung, dengan urap daun adas, gulma othok-owok, sambel orek, ikan asin, tempe goreng, dan kerupuk karak. “Ini menu kami sehari-hari Tuan.” Seluruh tamu, termasuk Jesus Kristus, menyantap makanan itu dengan sangat nikmat. Disajikan pula buah kesemek. “Lho, ini kok ada buah persimon?” Tanya salah satu peserta rombongan. Mbah Dwijo menjawab, “Ini namanya buah kledung Pak. Di sini banyak pohon kledung, dan sekarang sedang saatnya berbuah. Selain jagung, sayuran, adas, dan kledung, di Selo juga banyak sapi perah, ini benar-benar susu murni. Coba silakan dicicipi.”

* * *

“Jadi sekarang kita akan berangkat mendaki Gunung Merapi Tuan. Kita akan berangkat sekitar pukul delapan malam. Dengan berjalan perlahan-lahan, kita akan sampai di Pasar Bubar sekitar pukul 12 malam. Di sini kita bisa beristirahat sejenak, baru kemudian mendaki menuju sisa-sisa Puncak Garuda, dan menikmati sunrise.” Puncak garuda di sisi utara, juga Geger Boyo di sisi selatan, adalah kubah lava dari letusan tahun-tahun terdahulu. Pada letusan tahun 2006 Puncak Garuda dan Geger Boyo, runtuh, tetapi tumbuh kubah baru yang lebih tinggi dari Puncak Garuda. Letusan tahun 1994, telah membuat track jalur selatan melalui Desa Kinahrejo, tempat tinggal Mbah Marijan, hancur total karena tersiram awan panas. Namun para pendaki “gila” masih dimungkinkan untuk mendaki jalur selatan ini. Pada letusan tahun 2006, track jalur selatan ini tambah hancur, karena tertimpa reruntuhan kubah Geger Boyo, yang ambrol. Sejak itu, pendakian hanya bisa dilakukan dari jalur utara, melalui kota kecamatan Selo. Selain jaraknya lebih dekat, jalur ini merupakan rute pendakian paling aman.

“Siap Tuan? Kita akan berangkat sekarang! Pak Monoz jadi ikut kan? Tidak apa-apa, kita akan berjalan pelan-pelan. Katanya sambil mau ada yang ditanyakan sama beliau? Ya sekarang inilah saatnya.” Rombongan pendaki malam itu hanya terdiri dari delapan orang, meskipun seluruh rombongan yang menginap di Sela, berjumlah 30 orang. Dari delapan orang yang ikut mendaki ini pun, tiga orang adalah penduduk Selo, terdiri dari seorang pemandu, dan dua orang porter. Tiga orang lain sudah berangkat terlebih dulu menuju Pasar Bubar, membawa air, kompor gas, cerek, gelas, gula-kopi-teh, penggorengan, sutil, minyak goreng, snack berupa jadah dan tempe bacem. Begitu rombongan tiba di Pasar Bubar, mereka sudah siap dengan jadah dan tempe hangat, serta kopi dan teh panas. Dari rumah Mbah Dwijo, rombongan diangkut dua buah jip. Setelah menuruni jalan kampung sekitar 50 meter menuju jalan utama di depan pasar, rombongan  belok kanan, menuju arah Blabag. Sekitar 500 m, dari pasar, iring-iringan berbelok ke kiri menuju New Selo. Dari sini jalan terus menanjak tajam dengan tingkat kemiringan ada yang mencapai 45°

New Selo adalah lokasi start pendakian. Di sini ada tempat parkir, gardu pandang, dan shelter untuk berteduh. Di atas shelter itu terpasang huruf-huruf dari kerangka dan plat besi, NEW SELA, yang bisa terbaca dari bawah sana. Di sisi kiri New Selo, ada jalan setapak, yang biasa dilalui para pencari rumput, kayu bakar, serta penduduk Selo. Melalui jalan setapak yang sangat kecil inilah pendakian Merapi dimulai, masing-masing orang, termasuk Jesus Kristus, harus membawa lampu senter. Jalan itu melintasi ladang yang ditanami aneka sayuran, singkong, jagung, keladi, dan ganyong. Di batas terasering, saling berbagi tempat, tanaman adas dan rumput gajah. Sekitar setengah jam perjalanan, rombongan masuk ke kawasan reboisasi. Akasia gunung tampak mendominasi kawasan ini. Jalan mulai menanjak dan berbatu-batu. Jalan terus menanjak, dan di bawah tampak kerumunan lampu kota Selo, di langit tampak bintang yang sangat terang karena langit bersih. “Pak Monoz, katanya mau sambil ngobrol sama beliau? Kok jalannya jauh di belakang terus? Kita istirahat di sini!” Rombongan sampai ke Patok I, yang juga disebut Watu Belah, atau Selokopo Ngisor. Gundukan batu-batu besar akasia gunung, dan udara terasa makin dingin.

“Jangan terlalu lama istirahat ya? Kita jalan lagi.” Jalan dari Patok I sedikit menurun lalu menanjak lagi, dan terus menanjak. Sesekali rombongan harus berjalan dengan merayap. Angin terasa makin kencang dan sangat dingin. “Kalau kita berhenti terlalu lama, dingin ini akan makin terasa, ya Tuan?” Rombongan sampai ke Patok II atau Selokopo Nduwur. Sedikit di atas Patok I jalan menjadi datar dan luas, ada sebungkah batu besar mirip tubuh seekor gajah, hingga orang-orang menamakannya Watu Gajah, kadang juga disebut Gajah Mungkur. Jalan memang mendaki lagi tetapi tidak setajam antara Patok I ke Patok II, sampai kemudian mereka tiba di Pasar Bubar. Ini adalah sebuah cekungan lembah yang diapit batu-batu serta tebing, sementara di depan sana Puncak Merapi menantang untuk didaki. Disebut Pasar Bubar karena angin yang terjebak di lembah ini menimbulkan gema yang gemrenggeng, mirip dengan suara pasar yang ramai. Karena tidak ada kios, warung dan orang-orang yang berjualan, maka pasar itu dianggap sudah bubar.

“Pukul berapa ya? Baru pukul satu malam? Berarti kita berjalan cukup cepat. Ayo, jadah dan tempe hangat sudah siap, siapa mau teh, siapa mau kopi? Susu juga ada. Itu Pak Monoz katanya ada yang mau ditanyakan?”  Monoz mendekat ke Jesus dengan takut-takut. “Siapa dia ini? Wartawan? Apa yang akan ditanyakan? Apa saya benar Jesus atau bukan? Jadi kau, sepanjang perjalanan, pikiranmu hanya terkonsentrasi pada keinginan untuk menanyakan yang ini tadi? Kamu tidak akan pernah menemukan jawabnya! Mengapa? Seharusnya kau nikmati udara bersih, langit cerah, cuaca dingin, di bawah sana lampu-lampu, ini gunung apa di depan kita ini, kok besar sekali? Merbabu? Indah bukan? Itu kota mana yang sangat jauh itu? Surakarta? Solo? Mengapa kamu tampak seperti tidak happy dengan ini semua Pak Monoz? Mengapa kamu ikut rombongan ini? Hanya karena diberi tugas boss? Itulah sebabnya kamu tidak happy. Sebab kamu tidak jujur! Iya, kamu sebenarnya ingin sekali datang ke acara di Tengger kemarin. Allah mengabulkan keinginanmu itu. Maka kamu sekarang diistimewakan. Wartawan lain mencari-cari saya di bawah sana, kamu bersama saya di tempat ini.

“Jadi masih akan bertanya saya ini benar Jesus Kristus itu, atau hanya badut? Sekarang aku yang akan bertanya, menurut kamu aku ini badut, atau benar Jesus Kristus?
Tidak bisa menjawab? Kalau kamu sulit untuk menjawab, maka juga akan sulit untuk menerima jawaban dari saya. Kalau aku mengatakan sebenarnya hanya aktor yang didandani dan berperan menjadi Jesus, kamu ragu-ragu. Ketika aku menjawab bahwa benar aku inilah Jesus Kristus itu, kamu juga akan tetap ragu-ragu. Sebab pada dasarnya kamu sudah ragu-ragu. Hilangkan keragu-raguan itu! Bantah: You itu hanya badut! Atau bersujud mencium tanah, sambil menyatakan: Memang benar Paduka Jesus Kristus Putera Allah. Atau: Prek! Emang gua pikirin? Elo mau Putera Allah kèk, Putera Sampurna, Putera Jawa Kelahiran Sumatera, gua kagak ada urusan! Maka Pak Monoz, ayo salaman dengan saya. Hidup tidak cukup hanya lurus, tidak cukup hanya jujur. Hidup harus kuat, harus bersemangat, harus total membuka diri terhadap yang di sekitar kita, termasuk yang tidak kita sukai. Maka Roh Allah bisa masuk dan bekerja.”

Pasar Bubar, gundukan batu-batu, pasir, kerakal, muntahan material vulkanis dari puncak Merapi. Sepi, hanya gemrenggeng angin yang terperangkap di lembah ini. Dingin. “Kalau kita berhenti terlalu lama memang akan semakin dingin, tetapi biar saja. Waktu masih agak longgar. Nanti kita akan naik, dengan perhitungan, pas sampai di atas pas matahari terbit. Tetapi harus hati-hati, dari Pasar Bubar ini ke sisa puncak Garuda, tidak ada track. Kita akan merangkak di antara celah batu-batu, pasir, dan kerikil vulkanis. Senter harus tepat diarahkan ke tempat yang akan kita injak.” Sambil menyeruput kopi panas, sambil mengunyah jadah dan tempe bacem hangat, Monoz mulai berpikir, jangan-jangan ini Jesus beneran? Kalau ya, berarti gua dapat materi liputan yang langka, bersama Jesus di tempat setinggi ini? Tiba-tiba orang didepannya menepuk pundaknya. “Nikmati kopi, jadah, dan tempe  hangat, di udara sedingin ini. Jangan mulut mengunyah tempe, tetapi otak memiikirkan yang lain. Hidup jadi tidak selaras.”

* * *

“Ini menginap di mana dia ini ya? Di Yogya tidak ada. Di Parangtritis tidak ada. Di Kaliurang kosong. Bahkan ada teman yang melacak sampai ke Bandungan, Kopeng, Tawangmangu, Baturaden, Guci, semua kosong. Padahal di Bromo jelas sudah tidak ada. Apa malah ke Bali ya? Jangan-jangan dibalik. Ketika kita mencari-cari di Bali, dia disembunyikan di Bromo. Ketika kita mencari-cari di Yogya dan Jawa Tengah, ia justru disembunyikan di Bali. Coba kita kontak teman-taman di Bali! Siapa? O, sudah ada yang kontak ke sana juga kosong ya? Padahal jelas. Sebagian panitia sudah ada di Garuda, sebagian lagi langsung ke Queen of South Beach, Parangtritis. Tetapi dianya tidak ada. Ini, kita memang sudah merencanakan, mau menjebak Jesus Kristus alias Isa Al Masih ini, dengan pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati kita semua. Sebenarnya dia ini pernah disalib dan meninggal lalu bangkit lagi seperti keyakinan umat Nasrani, atau benar telah diselamatkan oleh Allah, dengan cara langsung dianggkat ke langit, lalu disembunyikan untuk datang lagi pada hari kiamat, seperti keyakinan Umat Islam?” HP wartawan itu berdering. “Ya, saya ini Richard, lo kamu di mana Noz? Bersama dia? Di mana? Rahasia? Anjrit lo!”

Pagi, ruang tamu rumah Mbah Dwijo yang sempit, panitia, Jesus Kristus, wartawan Monoz, duduk-duduk santai, sambil menikmati susu murni, dan singkong goreng. Setelah selesai berbicara serius melalui HP, Monoz memberanikan diri bertanya kepada Jesus. “Apa Pak Monoz? Mereka bertanya, apakah aku ini pernah disalib atau tidak? Apakah aku ini Putera Allah atau bukan? Memang mereka senangnya meributkan hal-hal yang tidak perlu. Ada korupsi mereka biarkan, ada ketidakadilan mereka cuèk, ada kekejaman terhadap rakyat yang lemah, mereka pura-pura tidak tahu. Tetapi soal saya disalib atau tidak, mereka sampai bisa saling bunuh-membunuh. Mereka selalu menuntut, yang benar siapa? Kami, atau mereka? Aku selalu mengatakan kalian tidak ada yang benar satu pun. Sebab perintahku bukan itu, melainkan cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Perintahku kalian abaikan, yang bukan aku perintahkan justru kamu jadikan alasan untuk saling membunuh. Memangnya kalau aku ini benar mati di kayu salib, orang Islam harus dipaksa jadi Nasrani? Lalu kalau benar aku ini tidak pernah disalib semua Nasrani harus masuk Islam?”

“Marilah kita sama-sama meneguk susu murni yang baru saja dianugerahkan Allah melalui seekor sapi. Lalu mari kita makan singkong goreng ini, sebagai ‘manna’ yang ditebar Allah di ladang-ladang Pak Tani. Kalian ini sukanya hanya menuntut pada Allah, minta-minta pada Allah. Termasuk Pak Monoz ini. Aku tahu itu karena aku ini Allah Putera. Anaknya sakit berdoa minta pada Allah, kantongnya kosong berdoa minta pada Allah agar kantongnya selalu penuh, di kantor sedang ada masalah, berdoa minta pada Allah agar masalah selesai. Anda ini telah tidak utuh melihat Allah yang maha sempurna. Anda hanya melihat Allah seperti biro konsultasi, ATM, atau dukun. Segala hal harus diatasi Allah. Padahal Allah juga maha lemah, maha miskin, maha tertindas, maha menderita. Derita Anda itu Pak Monoz, sebenarnya derita pura-pura. Beda dengan derita Allah yang sudah sangat serius. Allah juga ikut menjadi korban Lumpur Lapindo, Allah juga tewas dan luka-luka di Jalur Gaza, Allah juga dikejar-kejar Tramtib di Jakarta sana, Allah juga diperas oleh preman, oleh polisi, oleh aparat pemerintah yang korup. Anda selalu minta-minta pada Allah, kapan bisa gantian membantu Allah Pak Monoz?”

“Tidak usah sedih Pak Monoz, aku ini kan hanya badut yang sedang berperan sebagai Jesus, karena dikontrak oleh PT Garuda Perkasa Entertainment.” Monoz lalu takzim memandangi Jesus. “Tuan, lalu harus bagaimana saya, kalau yang saya lakukan selama ini, ternyata salah menurut Tuan?” Jesus mengernyitkan dahi. “Anda ini memang sungguh pelit ya? Susah sekali untuk memberi, dan selalu hanya meminta-minta. Kali ini Anda minta petunjuk. Anda ini bebas. Mau apa saja bebas. Sekali-sekali berilah petunjuk pada Allah yang tersesat jalan, sekali-kali berilah nasehat pada Allah yang sedang bingung, sekali-sekali tuntunlah Allah yang sedang berjalan tertatih-tatih dan mau jatuh. Kalau semua itu Anda lakukan Pak Monoz, otomatis Allah akan selalu bekerja dalam diri Anda, hingga Anda tidak usah minta-minta, tidak usah repot memohon-mohon, tidak usah merengek-rengek di depan Allah. Anda merekam suara badut ini bukan? Mudah-mudahan itu pemberian Allah terakhir, karena Anda memintanya. Selanjutnya Anda akan lebih banyak memberi, hingga tanpa pernah Anda minta sekalipun, Allah akan selalu memenuhi kebutuhan Anda.”

“Pak Monoz, saya sedih melihat mereka yang berbondong-bondong ke Lourdes minta kesembuhan dari simbok saya, mereka yang datang ke Gua Kerep untuk minta agar usahanya sukses juga dari simbok saya. Bukannya saya ngiri karena kalah ngetop dari nyokap, tetapi kasihan pada mereka itu. Setelah minta-minta pada simbok saya dan terkabul, yang dibantu malah orang-orang yang sebenarnya tidak memerlukan bantuan. Misalnya, jalan ke lokasi para peminta-minta itu diaspal mulus, bangunannya dibuat seperti istana, patungnya dibuat sebagus mungkin. Sementara Allah yang terlunta-lunta, dan sebenarnya sangat memerlukan bantuan, tidak mereka gubris. Tahu mengapa mereka didera sakit? Tahu mengapa usaha mereka bangkrut? Karena telah melupakan Allah yang miskin, telah menolak Allah yang sakit, telah menindas Allah yang lemah. Mereka minta-minta pada simbok saya, sambil menangis meratap-ratap, sementara hatinya tidak pernah terbuka karena telah digembok Iblis. Hingga yang membantu dia sembuh, yang membantu dia sukses, sebenarnya bukan simbok saya, melainkan Iblis.”

“Ya, nyokap saya memang Baik. Di lokasi pemujaan untuk dia pun, Iblis tetap ia biarkan buka praktek. Sikap nyokap saya terhadap Iblis, lain dengan sikap aparat keamanan terhadap pedagang kakilima atau PSK. Nyokap saya membiarkan Iblis buka praktek di Lourdes, di Kerep, di Puhsarang, karena mayoritas orang yang datang kesana, dari rumah sudah berbekal Iblis yang sama. Untuk piknik, untuk mencari kekayaan, untuk minta kesembuhan, sementara dilain pihak ia tetap membuat sakit banyak orang, tetap membiarkan sengsara banyak manusia. Mereka yang hatinya terbuka terhadap Bunda, selalu bisa kontak langsung dengan beliau kapan pun, dan di mana pun mereka mau.” Monoz asik mencatat mesti alat perekamnya juga tetap berfungsi baik. Memang harus begitu wartawan yang baik. Dia mendongakkan kepalanya, memandang Jesus lalu bertanya. “Mengapa Allah tidak menghukum mereka, yang datang ke Bunda Maria dengan hati tidak bersih itu?” Jesus menjawab. “Karena mereka sudah dengan sangat baik menghukum diri mereka sendiri!”

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: