Tim Sukses Sultan

10/04/2014 at 15:14 (novel)

Pemilihan umum memang perlu uang. Dengan uang, para calon bisa memperkenalkan dirinya sejelas mungkin kepada rakyat. Dengan uang pula rakyat bisa tahu, kualitas para calon. Mereka yang kualitasnya paling baiklah yang layak untuk dipilih. Maka iklan ditayangkan di televisi, disiarkan radio, dipasang di koran dan majalah, baliho, poster dan spanduk terpasang di mana-mana. Sosoknya seragam, gambar wajah dan slogan-slogan yang manis, tanpa informasi apa pun. Padahal rakyat yang mengeluarkan uang untuk membeli koran dan majalah, rakyat yang sudah membeli produk yang diiklankan di televisi, perlu info dasar. Siapa nama calon itu, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, alamat, pendidikan, pekerjaan/profesi sekarang, dan program yang dia ajukan sebagai calon anggota legislatif. Tetapi info itu tidak pernah ada. Rakyat sengaja dibiarkan tetap buta, hingga harus meraba-raba dalam gelap. Padahal yang akan dipilih banyak. Ada 38 partai, hampir dua kali lipat dari partai peserta Pemilu 2004 yang hanya 22. Lebih banyak 10 partai dibanding Pemilu 1999 yang diikuti 34 partai. Meskipun, masih kelihatan sedikit bila dibandingkan dengan pemilu 1955, yang diikuti oleh 172 partai politik. Masing-masing partai akan mengajukan beberapa calon, untuk DPRD Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR Pusat, dan DPD.

Pemilihan pasangan presiden dan wakil presiden, akan lebih sederhana. Sebab calonnya lebih sedikit, dan yang dipilih hanya presiden dan wakilnya. Maka pemilihan umum untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, Kabupaten dan Kota, serta DPD, menjadi sulit untuk dilaksanakan oleh rakyat kecil. “Aku bingung Nduk, ini coblosannya itu katanya gambarnya banyak sekali ya? Lo bukan dicoblos tapi dicontrèng? Nyontrèngnya pakai apa ya? Pakai pensil? Balpèn? Spidol? Partainya ada berapa to Nduk? Ada 38? Banyak sekali ya? Lalu mana yang harus dipilih? Lo, yang dicontrèng itu partainya, atau orangnya? Kalau Partainya gampang sajalah. Ibumu ini tidak akan memilih partai yang macam-macam itu. Tinggal partainya Pak Harto, Bung Karno, atau Gus Dur. Partainya Pak Harto itu Golkar Nduk, partainya Bung Karno PDIP, partainya Gus Dur yang ijo-ijo gambar NU itu lo. Yang lain-lain embuh aku tidak tahu. Yaitu, paling gambar matahari partainya Pak Amien Rais. Lalu gambar kepala garuda pothol, partainya Pak Prabowo. Dia itu kan menantunya Pak Harto kan? Lo wis pegatan to Nduk? Cerai dia sama anaknya Pak Harto ya? Yang menjadi istrinya Pak Prabowo itu siapa to Nduk? Mbak Tutut, atau Mbak Mamiek? Titiek? O, puterinya Pak Harto itu ada tiga to? Puteranya juga tiga ya? Tetapi aku emoh, milih partai kepala garuda pothol itu. Ya masih lebih baik partainya Pak Harto. Ya tidak peduli sekarang yang mimpin siapa. Pokoknya kan partainya Pak Harto to Nduk?”

“Lo jebul yang harus dicontreng itu orangnya ya? Ibumu ya tidak tahu mereka to Nduk. Mau milih yang mana? Ya paling ibumu akan mencontreng yang sering muncul di tivi. Kan banyak penyanyi dan pemain sinetron kan? Kalau pusing-pusing tidak usah dicontreng juga boleh. Katanya tidak ikut nyontreng juga tidak dihukum kok. Atau cukup datang saja ke tempat pungutan, lalu nyontreng partainya saja. Terserah orang Ibu juga tidak kenal mereka kok. Kalau Pak JK ya Ibu tahu. Wong dia itu Wakilnya Pak SBY kok. Yang lain-lain itu embuh Nduk. Ini pemilu ini sebenarnya untuk apa to Nduk? Kalau kata  eyang buyut ya Nduk, dulu pada jaman Belanda itu tidak pernah ada pilihan seperti ini, yang ada hanya pilihan lurah, tetapi rakyatnya makmur, barang-barang murah, maling tidak banyak. Itu kata eyang buyutmu lo. Kalau ibumu ya tidak tahu. Kalau eyangmu kan pada jaman Belanda masih kecil. Ibu ini dulu ketika pemilu tahun berapa itu, yang jaman Bung Karno itu, ya masih kecil to Nduk. Tetapi ibu ingat, ketika itu diajak eyangmu, eyang buyutmu, ke tempat coblosan. Ada dapur umum, lalu anak-anak itu dikasih nasi bungkus, lauknya itu daging Nduk!”

“Kalau presidennya Nduk, kalau Kanjeng Sultan jadi calon, ibu akan memilih beliau. Tidak ada pilihan lain. Ya hanya Kanjeng Sultan itulah yang layak ibu pilih. Yang lain-lain ibu tidak tahu. Kalau Kanjeng Sultan tidak maju. Ibu akan pilih Pak SBY atau Ibu Mega. Tidak yang lain. Ibu tidak suka yang lain. Tidak suka itu ya bagaimana ya? Seperti kamu tidak suka sayuran itu lo. Kamu itu sukanya kan daging, dan ikan. Sayuran emoh. Tidak suka ya emoh. Kecuali memang tidak ada yang lain. Kanjeng Sultan tidak ada, Ibu Mega tidak ada, Pak SBY tidak ada, maka ibu terpaksa memilih Pak JK. Mengapa? Ya karena Pak JK sudah pengalaman jadi wakil. Kalau Pak Prabowo kan belum. Kanjeng Sultan Nduk? Memang Kanjeng Sultan belum berpengalaman sebagai presiden maupun wakil presiden, tetapi beliau itu kan raja. Kanjeng Sultan itu penguasa Yogya dan juga Laut Kidul. Laut Kidulnya itu sangat penting Nduk! Penting! Siapa pun yang berkeinginan menguasai negara Indonesia, harus menguasai Laut Kidul. Kanjeng Sultan itu bersuamikan Nyai Roro Kidul lo! Kalau kencan di mana? Ya di Parangtritis sana. Di Parangkusumo sana. Beliau bermeditasi, Kanjeng Ratu Kidul datang, lalu mereka bersatu. Lo, bersatunya itu goib Nduk. Bukan saru!”

“Ibu itu memang disuruh Mas Kardi untuk milih Sultan. Ya Mas Kardimu itu to Nduk. Mas Kardi itu memang apa itu, dia itu bagian yang kampanye itu lo. Apa? Tim Sukses? Ya itu, Mas Kardi itu, Tim Sukses. Ya untuk menjadikan Sultan sebagai presiden. Yo bukan Raja to Nduk. Ya tidak bisa. Raja Yogya ya raja Yogya. Indonesia itu republik, jadi presiden. Biar saja itu Ndoro Suryo itu, ke mana-mana bilang begitu. Ibu juga tidak suka kok sama Ndoro Suryo itu. Biar saja dia kaya, biar saja dia jenderal ibumu tidak takut. Dia itu inginnya kan Kanjeng Sultan menjadi Raja Indonesia. Namanya saja Republik Indonesia kok punya raja. Memang Ndoro Suryo itu sudah kebanyakan duit kok. Orang kalau kebanyakan duit kelakuannya jadi aneh-aneh. Ya waktu itu memang pernah datang ke rumah Nduk. Bukan menanyakan kesehatan ibu, bukan ziarah ke makam bapakmu, yang dia sampaikan hanya soal Sultan dan Sultan terus. Ibu juga sudah bilang, bahwa ibu ini juga mendukung Kanjeng Sultan, tetapi bukan untuk menjadi Raja. Tetep saja Ndoro Suryo ngotot. Ya terserah. Dia mau apa terserah. Ibu hanya mau manut kepada pemerintah. Bukan kepada Ndoro Suryo!”

“Minggu lalu itu ada orang datang, katanya utusannya Ndoro Suryo. Ibu diminta tanda tangan. Ibu bilang tidak bisa tanda tangan, karena tangan ibu gemeteran. Disuruhnya cap jempol. Untuk apa? Katanya untuk memberikan dukungan kepada Kanjeng Sultan sebagai Raja Indonesia. Katanya Kanjeng Sultan akan menjadi Ratu Adil. Ibu tidak mau. Nanti kalau ketahuan polisi, ibu bisa ikut diciduk. Kalau disuruh mendukung Kanjeng Sultan menjadi Presiden, ibu mau. Kalau menjadi raja ibu tidak mau. Sultan itu sudah menjadi Raja Yogya. Itu cukup. Kalau mau maju, sebagai presiden, wakil, atau menteri. Kalau gubernur, sekarang ini Kanjeng Sultan sudah Gubernur Ngayogyokarto. Itu orang-orang itu marah, lalu bilang sebenarnya kalau ibu teken katanya ada uangnya. Nah itu orang-orang itu mengapa tidak bilang dari tadi? Maka ibu ya lalu cap jempol dan diberi seratus ribu lo Nduk! Lumayan. Dulu itu orang-orang Bu Mega juga datang tetapi hanya memberi lima puluh ribu. Juga lumayan itu Nduk. Mudah-mudahan nanti orangnya Pak SBY juga datang ya Nduk ya? Kalau orangnya Pak Prabowo itu pelit. Kesini bolak-balik tidak pernah ninggali apa-apa.”

* * *

Sebuah rumah bergaya country di Parangtritis, Yogyakarta. Ini salah satu tempat peristirahatan keluarga Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko. Hari itu habis santap siang, Raden Tumenggung duduk di singgasana, sebuah sofa besar. Ia diapit oleh Mas Suwito, Amir, Lukas, dan Siboro. Di kursi lain berderet dan bergerombol para nayoko projo. Sebagai tim sukses Sultan, mereka mengadakan pertemuan informal. Tak jauh dari rumah itu deburan ombak Laut Kidul bergemuruh. Turis lokal berseliweran, meskipun ini bukan hari libur, dan masih merupakan jam kerja. Di luar udara panas, meskipun angin telah membantu mengurangi rasa panas itu. Di dalam rumah ini sejuk, AC Split 2,5 PK dipasang di mana-mana. Pohon sawo kecik, tanjung, dan trembesi juga sudah sangat rimbun hingga suasana halaman rumah lebih teduh dibanding rumah-rumah lain. Meskipun ruangan ber AC, para hadirin tetap merokok kretek maupun putih. Raden Tumenggung mengisap Romeo & Julieta Short Churchills, buatan Cuba. Dia sebenarnya sudah dilarang merokok oleh dokter, terlebih merokok cerutu. Tetapi jawaban Raden Suryo adalah, “Dokter, kalau detik ini juga saya mati karena merokok, saya iklas. Umur saya sudah 70 tahun, jadi memang sudah saatnya!”

Asap tembakau, dua  buah fan penyedot udara, kopi, teh, soft drink, cendol, bir, Raden Tumenggung menggebrak meja. “Semua sudah gila! Termasuk menantuku Arif itu. Berkali-kali dia memang mengatakan tidak berurusan langsung dengan eksekutif di kantornya, tidak berpihak ke salah satu partai, ke salah satu calon, prakteknya kita tidak tahu. Saya juga curiga Suwito ini sebenarnya mata-matanya SBY. Bagaimana Suwito kamu?” Suwito tetap cengar-cengir, mengambil gelas, dituangi bir, lalu disodorkan ke Raden Tumenggung. “Ini Pak, biar ngomongnya lebih kenceng!” Raden Tumenggung tersenyum kecut. “Kampret kamu itu Wito! Kita ini sedang serius, kamu itu guyonan terus. Kita ini sedang dikerjai orang. Tim kita ini akan dipecah belah, akan dicaraiberaikan. Kamu malah cengèngèsan begitu. Tak tempèlèng ndhasmu pecah Wit! Mikir, itu panggung sudah dibangun, layar sudah dipasang, sound sistem. Ini hajatan besar Wit. Amir, Salim, kalian ini dari tadi juga bengong terus. Bagaimana ini, Sultan kita mau ditampilkan di sini, bersama Nabi Isa, kita sebagai Tim Inti sama sekali tidak diajak rembugan.”

“Sekarang siapa yang masih tidak setuju kalau Sultan mau saya jadikan Raja Indonesia? Siapa? Siapa yang tidak setuju kalau kita punya Ratu Adil? Orang tua seperti saya ini pengalamannya sudah seabreg. Saya ini pernah menjadi tangan kanannya Bung Karno, abdinya Sultan IX, lama membantu Pak Harto, kok kalian masih mau membantah. Ini semua taktik! Tapi jangan diomongkan kemana-mana ke siapa-siapa. Suwito ini mulutnya sukanya keceplosan melulu. Ini Taktik. Sultan X itu sekarang sudah gubernur. Kalau hanya jabatan Menteri, sudah di tangan! Kalau kita mematok target Wapres, dapatnya menteri. Kalau mematok presiden, dapatnya wapres. Maka aku akan mematok target Sultan Sebagai Raja Indonesia, sebagai Ratu Adil. Kalau target tercapai, itu bagus. kalau hanya dapat presiden. Lumayan kan? Jadi, kerja itu harus taktis dan strategis. Tidak ngamuk bak-buk asal pukul, kecapekan, lalu lawan memukul dan kita jatuh. Amir ngomong! Suwito nanti saja. Dia itu dari kemarin-kemarin sudah terlalu banyak bacot. Bosen aku mendengarnya. Ayo Amir!”

“Ngomong apa Pak Ya? Saya itu malah bingung. Saya itu sebenarnya mau disuruh kerja apa? Saya itu guru. Ini tadi sudah mbolos. Ijin sama kepala sekolah. Kalau Salim sebagai aparat Pemkab, di kantor atau di luar kantor sama-sama tidak kerja. Pekerjaanmu itu apa Lim? Duduk, baca koran, ngobrol, ngopi, mengisi TTS, lalu pulang. Katanya kita ini Tim Inti. Tim Suksesnya Sultan itu kok banyak sekali ya? Semua ngaku sebagai tim sukses. Ada wartawannya, ada aktivis LSM, ada dosen UGM, ada politikus, semua tim sukses. Kalau mau, Pak Suryo, kita ini diresmikan sebagai tim perklenikannya Sultan begitu saja kenapa sih? Saya ini hanya guru. Salim itu hanya aparat rendahan di Pemkab. Ditarik-tarik ke sini ini kan hanya karena kami-kami ini sedikit bau paranormal begitu kan? Kalau tidak mana ada orang yang mau melirik kami. Nggih ngoten to Mas Suwito? Panjenengan sendiri kan juga begitu. Coba kalau hanya Suwito dari Jombang, lalu menyodorkan diri, diseret satpam keluar. Tetapi karena faktor Ki Joko Piturun, Kutang Onto Kusumo, Apa lagi Pak Wit? Nah mereka mau tidak mau memperhatikan kita-kita ini. Akan tetapi, anggarannya itu mana? Mana? Dari dulu cuma, pokoknya ada, pokoknya ada. Ada itu mana?”

“Amir, Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko, paling tidak suka kalau ada orang belum mulai bekerja sudah ribut soal duit. Ya, memang kamu benar. Maksudnya, daripada ribut belakangan, begitu bukan? Memang kita ini bernama Tim Siluman. Jangan tertawa kamu Lim. Amerika yang negeri adidaya itu pun punya pesawat siluman, yang bisa tidak tertangkap oleh radar lawan. Semua Capres sekarang ini pasti punya beberapa tim resmi, tim bayangan, tim tidak resmi, dan tim rahasia atau tim siluman. Kita ini masuk kategori tim siluman. Jadi jangan tanya SK, jangan tanya honor. Uang operasional memang harus ada. Suwito, jadi Amir dan Salim ini belum kamu kucuri dana ya? Mereka tidak mungkin bisa gerak kalau kamu tidak kucurkan dana. Cepat sana, kamu pegang cash atau tidak? Kalau tidak ya pakai cek biar nanti mereka cairkan. Telebanking juga bisa, tapi apa mereka sudah ada rekening? Kalau mereka tidak cepat bergerak, kita akan didahului lawan. Kalau Gerindra dan Prabowo biar saja. Dalam dunia pewayangan itu ada Cakil, ada Ksatria. Cakil memang harus keluar duluan, pecicilan kesana-kemari, tetapi begitu Arjuna, Satria Piningit itu keluar, habislah si Cakil.”

“Yang aku khawatirkan sekarang ini, ternyata ada tim siluman lain. Suwito, kamu tahu bagaimana tiba-tiba Sultan akan tampil besuk ini di sini? Ya bukan di Parangtritis tetapi di Parangkusumo. Tidak tahu kan? Aku ini kan mertuanya Arif. Tetapi sepertinya aku ini cuma dikentuti sama dia. Suwito, sekarang kamu dengan Amir dan Salim gerak. Cari tahu, agenda apa yang dirancang oleh pihak sana, supaya antisipasi kita juga jelas. Cek, apakah Ki Joko Piturun masih tetap berada dalam posisi aman. Besuk Arif akan datang dengan Tyas, Ratih dan Wulan, serta suster mereka. Aku akan damprat itu Arif, bagaimana kok Suwito tidak diajak ngomong. Bagaimana tiba-tiba Sultan akan ditampilkan tanpa agenda jelas. Ini untuk menaikkan pamor Sultan, atau justru untuk menjerumuskannya. Sebab kalau SBY sudah tampil di Tengger sana, lalu Sultannya baru sekarang, sama saja dengan memosisikan Sultan sebagai orang kedua. Padahal target Sultan bukan sekadar menjadi RI 1, melainkan Raja Indonesia I. Nama Sultan bukan lagi Hamengkubuwono X, melainkan Hamengku Indonesia I.”

* * *

“Entah sejak kapan, entah siapa yang melansir pertama kali, kita ini mendapat julukan baru sebagai tim sukses lintas Capres. Padahal aslinya, kita ini jelas Tim Rahasia Sultan X. Karena banyaknya tawaran dari pihak luas kepada Sultan, maka tim kita inilah yang diminta untuk berunding. Akhirnya tim kita kenal dengan satu dua tim lawan, lalu hampir semuanya punya kontak. Kita lalu tahu banyak tentang formasi kekuatan secara keseluruhan. Akhirnya, kita tidak hanya sekadar menjadi tim sukses Sultan, tetapi sudah menjadi tim sukses lintas Capres. Enaknya, kita bisa makan dimana-mana. Datang ke Tim Sukses Ibu Mega, lalu ikut makan. Datang ke Tim Sukses Pak SBY, ikut makan lagi. Datang ke Tim Sukses Pak Prabowo, langsung nimbrung makan. Sialnya, kalau kita dianggap sudah makan di tim sebelumnya, hingga di mana-mana tidak ditawari makan. Padahal perut dari pagi belum terisi. Yang kita emban kali ini menjadi sangat berat. Luar biasa berat. Hanya kita masih punya semangat bukan? Saya juga baru nyadar ya, ternyata tim kita ini yang kualitasnya paling baik.”

“Memang tidak pernah ada dalam cerita, bahwa ada orang memuji-muji lokomotiv alias kepala kereta api. Ambon, Ambon!” Yang disebut Ambon melotot. “Maksud loh…..?” Kardi terpaksa menjelaskan. “Yang dipuji-puji pasti kepala sendiri. Edhasé dhéwé!” Si Ambon tambah marah. “Gué kagak muji-muji kepala sendiri. Yang aku puji-puji kan tim ini. Apa mata eloh udah picek? Doktornya ada berapa hayo? Ada penyanyi sohor, pelukis, penyair, budayawan, wartawan, kolumnis, pengusaha, jenderal purnawirawan, apa kurang komplit? Kita kan juga tim yang sejak dari dulu kompak. Kita juga satu-satunya tim yang tidak pernah memikirkan duit……!” Kardi memotong. “Setuju, Kangmas Ambon. Hanya orang kentir yang memikirkan duit. Duit kok dipikirin. Duit itu ya diterima. Kita semua memang tidak ada satu pun yang memikirkan duit. Menerima la iya to?” Ambon bangkit dari kursi, menggerak-gerakkan badan seperti gerakan senam, memutar-mutar lengan, sambil mengepalkan telapak tangan, siap untuk menempeleng. “Coba rasakan tempelengan saya ya Pak Dé. Eloh ini sudah kelewatan memang. Ayo kita mau ngapain sekarang?”

“Sebelum Pemilu Legislatif selesai, kita memang tidak usah ngapa-ngapain. Kita kumpul-kumpul makan Soto Kadipiro, Sate Samirono, dan Ayam Goreng Tohjoyo. Duitnya dari mana? Ya bantingan to Mbon! Dasar Ambon yang paling jarang membanting uang. Ambon dan Manado itu biasanya tidak pelit. Ini ada Ambon satu kok pelitnya minta ampun. Kamu itu bukan miskin Mbon. Kamu itu pelit. Coba sekarang dompet dibongkar, siapa yang uangnya paling banyak. Berani taruhan, pasti Ambon. Ya habisnya mau ngapain? Semua sudah ada yang ngurus. Kalau soal formasi Capres, Cawapres, sebelum Pemilu Legislatif ada hasilnya, tidak akan ada yang berani ngomong apa pun. Ya PDIP, ya Golkar, Demokrat, PAN, Gerindra, PKS, semua masih diam seribu bahasa. Baru ada ceritanya sekarang ini ya, jabatan wakil presiden lebih menentukan dibanding presidennya. Siapa pun capresnya, sulit untuk menang tanpa disertai cawapres yang tepat. Saya tidak bilang kuat tetapi tepat. Kalau ngomong paling kuat, sesuai hasil pooling indpenden, ya SBY Sultan. Tetapi itu mustahil bukan?”

“Kok kamu pakai tanya mengapa? Ya karena Pak SBY tidak suka sama Sultan. Mengapa lagi? Kamu masih ingat kan waktu gempa dulu? Pak SBY sudah ada di sini, gubernurnya belum ada. Kemana coba? Ya itu antara lain yang bikin jengkel pak SBY. Tapi namanya juga politik. Kalau perolehan suara PDIP nomor satu, Golkar nomor dua, lalu Ibu Mega berpasangan dengan Pak JK, ada kemungkinan Pak SBY tidak akan ragu-ragu menggandeng Sultan. Jadi politik itu ibarat bola. Dengan mudahnya menggelinding kesana kemari, tergantung siapa yang menendangnya. Beda dengan dadu. Kemungkinannya memang hanya ada enam, hingga bisa diperhitungkan secara matematis, dengan teori kemungkinan. Artinya setiapkali dadu dilempar, masing-masing angka bisa keluar dengan kemungkinan seperenam. Kalau bola tidak bisa. Maunya ditendang ke tengah gawang, bisa melenceng ke kiri, ke kanan, atau melambung ke atas. Ditendang asal-asalan, ternyata malah masuk. Itulah bola, itulah pula politik.”

“Jadi aku akan tanya ya Mbon, ya. Kalau kamu, inginnya Sultan itu jadi apa, lalu berpasangan dengan siapa?” Si Ambon menyedot kereteknya dalam-dalam, dan mengembuskannya ke atas. “Eloh ini pakai tanya-tanya segala Pak Dé! Jelas di lingkungan Sultan itu kan juga ada banyak suara, dan saya tetap konsisten agar Sultan jadi RI 1. Di Golkar sendiri, yang tampaknya kompak itu, sebenarnya kan juga ada banyak faksi. Ada yang ingin Pak JK tetap berpasangan sama Pak SBY. Ada yang ingin Pak JK jadi RI 1. Ada yang ingin ada dia cukup jadi RI 2. Ada yang ingin agar Golkar menjaring calon alternatif melalui DPC dan DPD. Yang kurangajar, ternyata ada yang ingin agar Pak JK itu secepat mungkin digusur dari Golkar. Maka ketika Pak JK mengumumkan kesiapannya untuk maju sebagai RI 1, sebenarnya hanya untuk meredam perpecahan di dalam. Ya, Pak Dé, Eloh kan tahu, di sini ada yang ngebet Sultan jadi wakilnya Bu Mega. Ada yang ngotot Sultan pasangan sama Pak JK. Ada yang kasak-kusuk agar Sultan dilamar Pak SBY. Dan mereka yang ingin agar Sultan maju sendiri, juga masih sangat kuat.”

“Pertanyaan saya itu cukup jelas Mbon! Kamu ingin Sultan jadi apa, dan berpasangan dengan siapa? Itu jelas kan? Bukan soal formasi pasangan capres cawapres pasca Pemilu Legislatif. Aku kan tahu elonya bukan pakar politik. Maka yang aku tanya, keinginanmu pribadi.” Ambon menguap, meski tidak sedang ngantuk. “Aku jelas ingin Sultan jadi presiden diusung Golkar, wakilnya Pak JK! Kalau hanya target wakil sih sudah lebih jelas konstelasinya. Selain alternatif tadi, agak berat bagi Sultan untuk maju sendiri sebagai RI 1. Kecuali ada hil yang mustahal. Baru siapa pun bisa naik. Hil yang mustahal itu ya seperti waktu Pak Harto menggantikan Bung Karno, seperti waktu Habibie menggantikan Pak Harto, Gus Dur menggantikan Habibie, dan Megawati menggantikan Gus Dur. Waktu SBY terpilih oleh rakyat menggantikan Mega pun, sebenarnya juga ada unsur hil yang mustahal itu. Yakni, dia seakan-akan teraniaya. Maka, kalau bisa direkayasa, seakan-akan Sultan itu teraniaya, hil yang mustahal itu  bisa saja terjadi.” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: