Parangtritis

17/04/2014 at 12:42 (novel)

Empat kursi kelas bisnis Garuda Indonesia, itu masing-masing untuk Bapak Arif Rahman,  Ibu Raden Ayu Siti Suryaningtyas, dua puteri mereka, Raden Ayu Ratih Suryaningmas, dan Raden Ayu Wulan Suryaningrat; dua suster mereka Mbak Diah dan Mbak Suci, sekretaris Ibu Suryaningtyas, serta Pak Bambang, sekretaris Bapak Arif. Supaya tidak harus bangun pagi-pagi, mereka ambil fight pukul 11.00 siang. Sampai Yogya semolor-molornya pukul 13.00, rencananya langsung makan di Hotel Garuda. Arif akan menginap di sini, dan siang ini juga langsung meeting dengan beberapa orang. Pak Bambang akan mendampingi Arif. Narto, sopir Arif, dan Mendos, sopir Tyas, sudah lebih dulu berada di Yogyakarta, naik kereta api. Rencananya, Tyas, Ratih dan Wulan, dua suster mereka Diah dan Suci, serta Ratna, akan menginap di Parangtritis. Tetapi pada detik-detik terakhir, niat itu berubah. Tyas didampingi Ratna sekretarisnya, ingin menginap di Pesantren Cipto Roso, di Bantul. Dia sudah berjanji kepada Kiai Murwito, untuk menginap di sana. Anak-anak, suster, dan Mendos sopir mereka, akan langsung ke Parangtritis. Eyang kakung dan Eyang Puteri mereka sudah seminggu ini ada di sana.

Panggung besar dipasang di ujung timur Parangkusumo, di sebuah gumuk pasir di sudut barat laut pertigaan jalan. Panggung itu menghadap ke selatan, agar yang di atas panggung maupun yang tamu di depannya tidak silau oleh sinar matahari pagi. Di kiri kanan panggung, dipasang tenda ukuran sedang, dan di depan panggung sebuah tenda raksasa dibentangkan, kursi ditata, untuk tamu biasa, VIP dan VVIP. Sound sistem dan sebuah layar raksasa dipasang di ujung barat Parangkusumo, menghadap ke timur. Di belakang panggung, juga dipasang dua layar, satu menghadap ke utara, satu menghadap ke selatan. Panggung raksasa keempat dipasang di ujung timur Parangtritis, persis di depan The Queen of South Beach Resort, Parangtritis, menghadap ke arah barat. Di sepanjang pantai Parang Kusumo dan Parangtritis, juga dipasang puluhan layar ukuran sedang. Sepuluh pawang hujan didatangkan. Bukan untuk mengusir hujan, melainkan untuk mendatangkan mendung, tetapi tidak sampai menjadi hujan, agar tayangan di semua layar itu bisa kelihatan. Dengan matahari pantai bersinar terik pada pagi hari, tayangan setajam apa pun akan kabur hingga tidak jelas ditonton. Panitia tidak mau untung-untungan, meskipun Jusus Kristus sendiri sudah mengatakan, bahwa mendatangkan mendung itu soal kecil baginya. Ketika panitia mengatakan akan mendatangkan 10 pawang hujan, Jesus mengatakan, itu baik sebab akan ada 10 keluarga yang mendapat nafkah.

Sudirman Suitte Room Inna Garuda Hotel, Yogyakarta bertarif US $ 318 per hari. Arif tidak tahu akan berapa hari ada di sana, sebelum bergabung dengan mertua, isteri, dan dua puterinya di Ndalem Parangtritis. Di Inna Garuda sebenarnya juga bermalam beberapa petinggi PT Garuda Perkasa Entertainment, tetapi Arif selaku Preskom Garuda Perkasa Holdings, sama sekali tidak ada urusan dengan mereka. Kali ini Arif sedang berurusan dengan Tim Siluman beberapa Capres, termasuk Tim Siluman Lintas Capres. Arif menerima dana cukup besar dari kelompok Jahudi moderat di AS dan UE, untuk berbagai proyek, guna memperkuat kelompok nasionalis, juga kelompok Islam Moderat di Indonesia. Kalau mau, Arif juga ditawari dana untuk dikucurkan ke Kelompok Islam Fundamentalis, agar mereka bisa sedikit lebih moderat. Arif belum berani memutuskan, akan menerima, atau menolak tawaran itu. Kelompok Jahudi Moderat di AS dan UE, sekarang memang mencoba strategi baru, setelah strategi mereka memrovokasi Protestan Fundamentalis AS dan UE, ternyata justru merusak tata perekonomian dunia, terutama tata finansialnya.

Eyang kakung dan eyang puteri itu senang sekali ada dua cucu mereka datang. Ndalem Parangtritis itu serentak jadi semarak. “Main di pantai boleh, tetapi mandi di laut dilarang ya! Ini tadi sudah makan atau belum? Bunda kok tidak ikut ke sini. Kemana dia? Di Pondok Pesantren Cipto Roso, Hua, ha, ha, ha……, bunda kalian mau jadi santri! Itu bunda kalian mau jadi santri! Dia nginep di sana sama Mbak Retno? Hua, ha, ha, ha……, itu Mbak Retno juga mau ikutan jadi santri! Nanti Eyang Kakung juga mau ikutan nginep di sana supaya jadi santri. O……, kalau hanya nginep saja tidak bisa jadi santri ya? Lalu bagaimana caranya supaya jadi santri? Sekolah? O……, Bundamu itu tidak ikut sekolah ya? Bunda hanya nginep ya? Kalian genduk-genduk kecil ini ketemu sama Kiai Murwito yang sangat baik itu ya? Salaman dan cium tangan? Wah, bagaimana? Kiai Murwito itu baik apa jahat? O…….., Pak Kiai mau mengobati Bunda? Emangnya Bundamu itu sakit apa? Masuk angin, atau ……..” Eyang puteri yang sejak tadi mendengarkan dialog Eyang kakung dengan Ratih dan Wulan segera menyambar. “Sama genduk Ratih dan Wulan ngomong soal sakitnya Bunda segala, sini Nduk, ikut Eyang Puteri saja. Eyang punya sesuatu untuk kalian!”

Udara pagi di Selo sangat cerah. Jesus, didampingi dua orang panitia dan Mbah Dwijo, berjalan-jalan ke arah utara, melalui jalan setapak, di antara ladang yang ditanami kol, daun bawang, wortel, seledri, adas, dan jagung. Di antara petak-petak ladang itu kadang ada rumpun pisang, kadang ada pohon kesemek, dan yang pasti, di semua batas petakan lahan, terutama di tebing terasering, selalu penuh dengan rumput gajah untuk pakan sapi perah. Jesus banyak bertanya tentang tanaman-tanaman itu, juga tentang nasib petani. Kali ini Jesus lebih banyak mendengarkan, juga ketika Mbah Dwijo bercerita tentang Ki Kebo Kanigoro, tentang Mbah Petruk, tentang Gua Jepang, dengan sangat fasih. Sampai sekarang, Mbah Dwijo dan masyarakat Selo tetap tidak tahu, bahwa tamu yang datang itu Jesus Kristus, yang juga dipanggil Isa Al Masih Alaihissalam. Mereka hanya tahu bawa rombongan yang datang itu mau rapat, dan ada turis asingnya. Jalan setapak yang mereka lalui kadang mendaki, kadang datar, kadang lebar dan bersih, sering pula sempit dan ditumbuhi rumput sangat tinggi. Pagi itu, rumput masih basah oleh embun tadi malam. Di kejauhan kabut tampak mengambang sepotong-sepotong. Dan di depan mereka, di selatan sana, tegak dengan kokohnya Gunung Merapi. Dari puncaknya mengepul asap putih yang segera tersapu angin ke arah barat daya.

Tim Siluman II Kanjeng Sultan, berkumpul di salah satu bungalow di The Queen of South Beach Resort, Parangtritis. Sebenarnya jumlah mereka ada tujuh orang, tetapi kali ini yang hadir hanya empat, Prof Moeso guru besar emeritus UGM, Alex redaktur koran nasional, Mas Bowo eselon II di Depdagri, dan Bu Lastri pengusaha nasional. Mereka duduk di teras bungalow, supaya bisa leluasa merokok. “Sebenarnya aku ini ingin minum jus jambu biji, ada tidak ya di sini?” Mas Bowo bertepuk memanggil petugas hotel. “Dik, dik, ada jus jambu biji tidak ya?” Yang ditanya membungkuk memberi hormat, lalu menyarankan. “Mohon maaf, silakan Bapak pesan langsung ke restoran melalui telepon di dalam Pak.” Mas Bowo sewot. “Kurang ajar itu anak. Ditanya baik-baik malah ganti perintah sama orang tua.” Bu Lastri menghardik. “Ya situ saja yang sotoi. Itu tadi petugas lanscape, lu tanya jus jambu. Mana tahu?” Siang itu Mas Bowo memang sedang suntuk. “Mereka itu dimana sih sebenarnya? Atau kalian kasihlah kami ini kontak dengan mereka langsung. Masalahnya apa sih?”

* * *

Para wartawan kegerahan. Bukan karena udara panas, melainkan mereka dimarahi, bahkan diancam akan dipecat oleh redaktur mereka. Richard, wartawan tivi nasional, menggerundel. “Nyaris, sebenarnya nyaris aku dapat lokasi mereka berada. Si Monoz itu tiba-tiba kontak gua, pamer kalau dia diajak panitia inti bersama mereka. Aku tanya kan, dimana? Dia bilang rahasia. Bodohnya dia itu lha kalau dia telepon pakai HP, koordinatnya kan terekam. Aku segera kirim data ke kantor untuk dilacak koordinatnya. Hilang mas data kontak barusan. Aku bilang kontak saja langsung ke HP Monoz, ternyata tidak diaktifkan. Anjrit betul! Hebat juga itu Jesus ya? Jadinya sampai sekarang ya tidak terlacak. Anehnya, mosok selama lima hari ini Monoz tidak mengaktifkan HPnya? Ya mungkin ini campur tangan Jesusnya. Dia sih mau ngapain saja ya bisa. Ini bukan sekedar hebatnya panitia yang ngumpetin dia, tapi ya karena yang diumpetin itu sakti punya. Nyerah deh aku. Coba kalian mau komentar apa? Hasil pelacakan ke Bandungan, ke Tawangmangu, ke Kopeng seperti apa? Nihil kan? Panitianya saja di sini kok. Ya di Yogya sini. Di Inna Garuda, sama di Queen Parangtritis sana.”

“Mereka sebenarnya mau datang kapan sih Chard? Ya Jesus dan rombongannya itu? Langsung besuk? Berarti mereka itu ya cuman di sekitar-sekitar sini saja. Oh, tahu gue. Tempat yang agak mirip-mirip dengan Bromo itu kan Dieng? Lu bawa mobil nggak Chard? Bawa? Yo kita cari di Dieng yo?” Maka lima wartawan itu meluncur dengan Kijang Inova ke Ring Road, masuk Jalan Raya Magelang. “Aku tahu jalan tembus lewat Borobudur, jadi tidak usah masuk Magelang dan Secang. Ya lewat Salaman, terus naik ke Kretek, sudah nyampèk Wonosobo. Jangan takut, gua sudah bolak-balik lewat jalan itu. Jalannya bagus dan sepi. Ya masuknya dari itu setelah Muntilan. Bukan Mungkid, sebelum Mungkid.” Sore itu mereka sudah ada di Dieng. “Lu bilang apa Chard? Kita pura-pura tanya kamar? La kalau masih kosong? O, bilang bukan untuk sekarang. Okey. Memang ya kalau kita tanya nyari orang bisa saja mereka bilang tidak ada, padahal hotel penuh.” Maka mereka pun selalu bertanya, apakah ada hotel kosong. Jawab petugas hotel. “Mau satu RT masuk semua ya masih muat Mas, wong sekarang ini lebih banyak kosongnya!” Lima wartawan itu lalu saling menyalahkan. “Tadi siapa yang punya ide kemari?” Dieng memang lain dengan Bromo. Orang datang ke Dieng bisa PP dari Yogya, dan menginap di Yogya.

Maka, mereka kembali ke Yogya. Ternyata hari itu ada jumpa pers oleh panitia, dan juga oleh Tim Sukses Sultan. Kali ini Tim Sukses Resmi, bukan Tim Siluman. Sejak enam hari yang lalu 10 orang pawang hujan sudah disiapkan. Mereka harus kerja berat. Sebab kalau biasanya mereka menolak hujan, dan menyingkirkannya agar jatuh di lokasi lain, maka sekarang justru harus mendatangkan mendung, tetapi tidak boleh sampai hujan. “Siang tadi kan masih panas terik, sunsetnya juga bagus karena sudah ada sedikit awan, kok tiba-tiba sekarang mendung ya? Apa panitia tidak menyediakan pawang? Kalau besuk pagi sampai hujan, kanjeng Sultan kan malu. Mosok hajatan yang dihadiri beliau sampai kebobolan hujan. Apa panitia itu tidak kuat membayar pawang, atau mereka tidak percaya ya? Ini tiba-tiba mendungnya seperti ini. Kalau bisa jatuh lebat sekali nanti malam, memang bagus sebab besuk di Parangkusumo tidak akan terlalu panas. Tetapi bukankah Kanjeng Sultan itu akan tampil bersama Nabi Isa Alaihissalam? Pasti beliau sudah mengantisipasi hal ini. Nabi Isa itu kan jago untuk urusan yang ghoib-ghoib begini.”

“Tadi itu jumpa persnya ngapain? Cuma teknis ya? Tapi beliaunya belum ikut? Ya beliau dua-duanya, ya Sultannya ya Jesusnya? Belum ya? Ada fasilitas apa saja besuk? Standar biasa ya? Press Centre, Hotspot, wawancara dengan beliau setelah acara formal? Wah itu dia. Kok tumben panitia agak longgar? Mungkin karena di Yogya kali ya? Ini siapa lagi ini sudah tengah malam begini, jangan-jangan dari kantor. Lo, ini Monoz, Lu kok HP tidak pernah diaktifin sih? Apa? Tidak pernah dimatiin? Anjrit bener. Lu ini dimana sih sebenarnya? Di Sala? Di mana? Sela? Di mana itu? Boyolali naik. Emangnya ada hotel di sana? Di rumah penduduk? Anjrit betul. Ya dicari-cari, diuber-uber sampai Dieng segala kagak bakalan nemu. Kamu ngapain baru ngasih tahu lokasi sekarang? Sudah diijinkan panitia. Memang dasar elonya sendiri juga anjrit kok. Lalu sekarang masih di sana? Jam berapa katanya pada mau cabut? Jam lima pagi? Ya udahlah, coba kalau siang tadi kamu telpon, gua akan nyusul ke situ Noz. Ya mosok lu nggak percaya sama gue sih? Ya sudahlah, ini sudah jam segini kok.”

Hotel Inna Garuda di Jalan Malioboro, Yogyakarta, dan The Queen of South Beach Resort di Parangtritis, seperti tidak tidur. Orang silih datang dan pergi tak henti-henti. Jalan raya Yogra Parangtritis sejauh sekitar 25 km, dibuka tutup agar bisa searah. Akhirnya sejak tengah malam, jalan raya Bantul Parangtritis dijadikan satu arah ke arah Parangtritis. Itupun hanya sampai pertigaan setelah jembatan kali Opak. Kendaraan yang akan kembali ke Bantul atau Yogya, harus melalui Seloharjo, Sriharjo, dan Imogiri. Jalan dari jembatan Kali Opak, sampai ke Parangkusumo dan Parangtritis tertutup untuk mobil. Hingga pengunjung hanya bisa berjalan kaki, naik sepeda motor pribadi maupun ojek. Dengan cara ini kemacetan bisa dikurangi. Menjelang subuh, kendaraan sama sekali sudah tidak bisa bergerak. Hingga mobil hanya diperbolehkan sampai Bantul. Selanjutnya harus disambung dengan ojek sepeda motor atau jalan kaki. Mobil panitia juga tidak mungkin bisa masuk, karena padatnya arus manusia. Panitia sudah mengantisipasi hal ini, hingga para tamu VIP dan VVIP, akan diangkut dengan heli, dari Alun-alun Utara ke lapangan di Parangkusumo, beberapa ratus meter dari panggung tempat acara diselenggarakan.

“Jadi Mbak Tyas tidak akan ke Parangtritis sekarang? Memang macet sekali. Kalau Mbak Tyas masih kerasan di Pesantren Cipto Roso ini, saya sangat senang. Pak Arif juga masih di Yogya ya Mbak Tyas? Ini lucu. Bapaknya ada di Yogya sendirian, ibunya ada di pesantrennya Kiai Murwito sendirian, puteri-puterinya bersama eyang kakung dan eyang puteri di Parangtritis. Tetapi saya benar-benar sangat senang Mbak Tyas tampak sehat, tampak gembira, di Pesantren ini. Padahal tidurnya ya hanya di amben bambu, daharnya ya hanya seperti itu. Saya benar-benar bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’alla, bahwa Ibu Tyas ini telah dikaruniai Rahmat dan Hidayahnya. Saya sendiri juga malas untuk ikut ke sana Bu. Pak Bupati sebenarnya mengajak, tetapi ya biar sajalah Pak Bupati dikawal para Camat. Saya akan di rumah saja. Para santri saya bebaskan. Mau datang ke sana silakan, mau tidak datang boleh juga. Sebab sekolah kan juga sedang libur, jadi terserah mereka. Ini tadi siang macetnya sudah luar biasa, saya tidak bisa membayangkan besuk ini. Mungkin jalan Bantul Parangtritis akan ditutup, atau dibuat searah. Barangkali itu lo Mbak Tyas!”

* * *

Pagi itu tidak ada sunrise. Cuaca mendung, tetapi mendung atas. Tidak ada angin, hingga dijamin sampai beberapa saat cuaca akan seperti ini terus. Pantai Parangtritis dan Parangkusumo benar-benar padat dengan manusia. Jalan raya Yogya Bantul macet total. Jalan raya Bantul Parangtritis, baik yang langsung maupun yang lewat Imogiri, sama sekali tidak bisa dilewati mobil karena penuh dengan pejalan kaki. Bahkan sepeda motor pun ikut macet. Pejalan kaki pun hanya bisa bergerak perlahan sekali menuju Parangkusumo. Helikopter Bell dan Super Puma entah sudah berapa puluh kali ulangalik Yogyakarta Parangkusumo. Panitia mencarter sampai lima buah helikopter, hingga para tamu VIP dan VVIP tidak terlalu lama menunggu di Alun-alun utara. Beberapa wartawan asing yang menginap di Hotel Inna Garuda, juga diangkut ke Parangkusuma dengan heli. Cadangan aparat medis, baik dokter, perawat dan apotekernya, yang masih berada di Yogyakarta juga diangkut dengan heli. Suasananya seperti sedang perang. Heli meraung-raung di udara, cuaca mendung, dan jalan raya penuh dengan manusia.

Dua kapal besar buang sauh di lepas pantai Parangkusumo dan Parangtritis. Beberapa speedboat ukuran sedang mondar-mandir dari muara Kali Opak, sampai ke ujung Pegunungan Seribu. Petugas penyelamat pantai didatangkan dari Kuta, Bali, dan berderet pagar betis di sepanjang Parangtritis – Parangkusumo. Semua untuk berjaga-jaga, agar jangan sampai ada orang yang nekad nyebur ke laut dan hanyut. Pukul sembilan pagi, semua kursi tamu telah terisi, kecuali kursi VIP dan VVIP yang baru terisi sebagaian. Sebenarnya para tamu penting dari Yogya maupun Jakarta semua sudah standby, tinggal menunggu diangkut dengan heli ke lokasi acara. Tamu-tamu yang datang dari Jakarta pagi itu, langsung naik heli dari Bandara Adisucipto, ke Parangkusumo. Rombongan Jesus Kristus yang subuh berangkat dari Sela, sengaja tidak dibawa masuk ke Alun-alun utara, melainkan juga naik heli dari Bandara Adisucipto. Mereka terlebih dahulu masuk ke lounge, untuk menunggu, agar Sultan terlebih dahulu berada di Parangkusumo. Hingga ketika tamunya datang, Sultan akan berdiri untuk menyambut dan menyalami. Rencananya, Sultan akan terlebih dahulu berbicara sekitar 15 menit, kemudian Jesus Kristus alias Isa Alaihissalam akan berbicara sekitar 45 menit. Jadi total acara akan memakan waktu satu jam. Tidak ada sambutan lain, tidak ada laporan panitia. Sebelum acara dimulai, publik akan dihibur dengan musik campursari dan kasidahan.

“Saudara-saudaraku, warga masyarakat Yogyakarta, dan juga para tamu yang datang dari luar Yogyakarta, yang saya muliakan Nabi Isa Al Masih Alaihissalam, Assalamualaikum Warachmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera untuk kita semua. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur, ke Hadirat Allah Subhanahu Wa Taala, bahwa atas berkat dan rahmatnya, pada pagi hari yang mendung tetapi tidak hujan ini, kita masih dikaruniai kesehatan, hingga bisa berkumpul di Pantai Parangkusumo, serta Parangtritis ini. Saudara-saudaraku, serta yang saya muliakan Nabi Isa Al Masih Alaihissalam, saya sebagai Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus sebagai Raja Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat, mengucapkan selamat datang, di Parangkusumo dan Parangtritis. Saudara-saudaraku, kalau ada pihak yang menuduh kehadiran saya dalam acara ini sebagai kampanye terselubung, saya nyatakan hal itu tidak benar!” Massa bertepuk tangan gemuruh. Sultan melanjutkan. “Mengapa tidak benar? Karena ini memang terang-terangan kampanye, tidak ada yang terselubung!” Massa tertawa serentak.

Sultan Hamengkubuwono X mengakhiri sambutannya, dengan harapan, agar kunjungan ke Parangtritis dan Parangkusumo kali ini bukan merupakan yang terakhir. Sebab Yogyakarta kaya akan berbagai obyek wisata. Bahkan ada dua obyek wisata Yogyakarta yang sengaja dititipkan lokasinya di Jawa Tengah, yakni Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Seusai Sultan memberi sambutan, pembawa acara mengumumkan bahwa tiba saatnya Jesus Kristus Sang Putera Allah, Nabi Isa Alaihissalam, akan tampil di panggung. Massa bersorak dan bertepuk tangan histeris, mengiringi langkah Jesus. Sebelumnya, Ia berdiri, menyalami Sultan yang baru saja turun dari panggung, membungkuk hormat, lalu ganti berjalan naik ke panggung. Begitu ia sudah berada di atas panggung, yang juga tampak di empat layar besar, puluhan layar ukuran sedang, dan ratusan tivi sirkuit, maka massa serentak diam. Suasana menjadi sangat sunyi. Romo Sujatmiko berdiri di sampingnya. Sekarang ia akan menerjemahkan Bahasa Aram Jesus hanya ke dalam Bahasa Indonesia. Hingga para wartawan asing yang tidak bisa berbahasa Indonesia, masing-masing harus membayar penerjemah profesional.

“Kanjeng Sultan, dan saudara-saudaraku. Saya tahu, dalam hati, Kanjeng Sultan dan saudara-saudaraku semua, tetap masih terus bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang ini. Apa benar Jesus Kristus, Putera Allah, apa betul ia Nabi Isa Alaihissalam? Saya mengatakan, keragu-raguan itu baik. Manusia memang kadang-kadang harus tegas, kadang-kadang harus ragu, kadangkala perlu curiga. Kanjeng Sultan, dan saudara-saudaraku, saya hadir di sini, memang sedang berkampanye untuk Kanjeng Sultan.” Massa bertepuktangan dan bersorak gemuruh berkepanjangan. “Sama dengan ketika sedang di Tengger sana, saya sedang berkampanye untuk Pak SBY. Sebentar lagi, panitia juga akan menghadirkan saya dengan Ibu Megawati, entah di tempat mana saya belum tahu. Saudara-saudaraku, meskipun sedang berkampanye, saya tidak akan memuji-muji Kanjeng Sultan, sambil menjelek-jelekkan Pak SBY, Ibu Mega, dan yang lain-lain. Bagi Allah semuanya baik. Bagi Iblis semuanya menjadi tidak baik. Jadi kalau saudara-saudaraku ingin berada di jalan Allah, pandanglah semua dengan niat baik. Kalau ingin berada di jalan Iblis, lihatlah semua dengan nafsu jahat.”

Saudara-saudaraku, juga Kanjeng Sultan. Anda semua pasti bertanya-tanya. Untuk apa Jesus Kristus, nabi Isa Alaihissalam, tiba-tiba datang ke dunia? Apa sudah saatnya akan kiamat? Benar! Tetapi kedatangan saya bukan untuk mempercepat kiamat, melainkan untuk menyadarkan Anda semua, agar mau mencegah kiamat itu. Kalau ozone yang bolong kalian biarkan menganga, maka petaka Sodom dan Gomora akan terulang. Tidak ada yang bisa mencegahnya, tidak ada yang bisa menghindarinya, kecuali Anda semua, seluruh umat manusia, bersedia bahu-membahu melakukannya. Kalau udara makin panas, maka permukaan laut juga akan naik, maka banjir bandang seperti jaman Nabi Nuh juga akan terulang. Tidak ada yang bisa mencegahnya, tidak ada yang mampu menanggulanginya, kecuali seluruh umat manusia mau rukun, dan bekerjasama mengatasinya. Kanjeng Sultan, dan Saudara-saudaraku, Allah telah menganugerahkan kepintaran, dan kebebasan yang hampir tanpa batas kepada umat manusia. Allah berharap, anugerah itu dimanfaatkan oleh umat manusia untuk memelihara kehidupan. Bukan untuk menghancurkannya, sambil melemparkan tanggung jawab soal kiamat, kepada Allah …….” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: