Pernyataan Bersama KWI dan PGI

22/04/2014 at 15:33 (novel)

Konferensi Waligereja Indonesia, dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, mengeluarkan pernyataan bersama menanggapi terselenggaranya acara di Tengger dan Parangtritis. Majelis Ulama Indonesia, ikut mendukung pernyataan KWI dan PGI tersebut, tetapi MUI akan mengeluarkan fatwa tersendiri. Dalam pernyataan tersebut, dua lembaga yang representatif mewakili umat Katolik dan Protestan ini, mengatakan, bahwa acara di Tengger dan Parangtritis yang menghadirkan seseorang yang menamakan dirinya Jesus Kristus, adalah peristiwa politik. Bukan peristiwa keagamaan. Hingga KWI maupun PGI sama sekali tidak mau terlibat maupun ikut campur tangan. Sebab dalam dua acara tersebut, para pejabat tinggi pemerintahan yang hadir di sana, maupun orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus, juga sama sekali tidak membicarakan masalah keagamaan. Masalah keagamaan yang sedikit disinggung dalam acara tersebut, bersifat sangat umum, dan lebih bernuansa sosial kemanusiaan, hingga tidak bisa dikaitkan dengan lembaga-lembaga keagamaan, yang secara resmi merupakan wakil gereja, Umat Katolik, dan Umat Protestan di Indonesia.

Mendukung pernyataan bersama KWI dan PGI, Majelis Ulama Indonesia, juga mengeluarkan fatwa, yang isinya menegaskan, bahwa seluruh Umat Islam Indonesia, diharapkan tetap berpegang teguh pada Al Quran. Kitab Suci Al Quran, telah dengan sangat jelas dan juga final, menulis tentang Nabi Isa Alaihissalam, melalui Surat Al Baqarah 2:87,136; Surat Aali ‘Imraan 3:45,46,49,52,58,59,61,84; Surat An Nisaa 4:156,157,158,159,163,171,172; Surat Al Maa-Idah 5:46,72,75,78,110,111,112,114,116;  Surat Maryam 6:85; Surat Al Mu’Minuun 23,24,25,26,30,34; Surat Al Ahzaab 33:7; Surat Asy Syuuraa 42:13; Surat Az Zukhruf 43:57,58,59,61,63; Surat Al Hadiid 57:27; dan Surat Ash Shaff 61:6,14. Karena belakangan ini di Indonesia hadir seseorang yang disebut-sebut sebagai Nabi Isa Al Masih Alaihissalam, maka seluruh umat Islam diminta untuk waspada. MUI mensinyalir, ada sebuah indikasi, bahwa kehadiran orang yang disebut sebagai Nabi Isa ini, direkayasa oleh kaum Zionis Israel, guna melemahkan Umat Islam di Indonesia. Sebab dengan adanya seseorang yang ditampilkan seakan-akan sebagai Nabi Isa, yang dalam agama Kristen Protestan dan Katolik, disebut sebagai Jesus Kristus, Allah Putera, maka akan ada pertentangan pendapat di kalangan akar rumput. Dalam keadaan seperti inilah Kaum Zionis, dan juga Komunis akan bisa memperoleh keuntungan.

KWI, dan juga PGI, kemudian menghimbau umat Katolik dan umat Kristen Protestan, untuk tidak melibatkan diri dengan kegiatan, yang menghadirkan seseorang, yang menamakan dirinya sebagai Jesus Kristus. Jesus Kristus dalam agama Kristen Protestan dan Katolik, hanyalah yang terdapat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Dalam jumpa pers di Pendopo The Queen of South Beach Resort, Parangtritis, yang dihadiri oleh wartawan dalam dan luar negeri, kopi surat pernyataan bersama KWI dan PGI, serta Fatwa MUI itu diserahkan kepada Jesus. Wartawam meminta kepada Romo Sujatmiko untuk menerjemahkan pertanyaan mereka secermat mungkin, agar Jesus bisa menangkap pertanyaan mereka dengan tepat. Jesus memotong. “Iki rak bocah Semarang to? Iso ngomong Jowo yo? Aku ini Allah Putro kok kok paido! Ini Romo Sujatmiko duduk di sini sebagai penerjemah, sebenarnya bagian dari atraksi. Supaya para wartawan asing itu yakin, supaya lebih dramatis. Aku ini ngomong Jowo iso, Arab oke, arep njaluk boso apo?” Wartawan itu tersipu. Romo Sujatmiko lalu menyampaikan pertanyaan wartawan tadi dalam bahasa Aram. Wartawan asing mengira, barusan Jesus juga berbicara dalam Bahasa Aram, tetapi mengapa para wartawan Indonesia banyak yang tertawa?

Jesus kemudian memberikan tanggapan. “Apa yang dikemukakan dalam pernyataan bersama oleh KWI dan PGI, yang juga didukung oleh MUI, melalui pernyataan tersendiri, semuanya benar secara normatif. Namun selain menjadi sesuatu yang tekstual dalam kitab suci, Jesus Kristus, dan Isa Alaihissalam, juga tetap merupakan sesuatu yang kontekstual. Jesus juga Allah yang tetap hidup. Jesus juga simbol penderitaan, simbol keberpihakan, simbol pembebasan, simbol keselamatan. Sayang, bahwa umat manusia sekarang lebih mementingkan Jesus Kristus, Allah Putera, Nabi Isa Alaihissalam, yang sudah dimampatkan, sudah dipadatkan hingga menjadi huruf-huruf, yang dicetakkan dengan tinta di atas kertas, kemudian dipres dijepit di antara dua lembaran kertas. Yang tertulis di Kitab Suci itu, adalah Jesus yang mati. Sementara Jesus yang hidup selalu berada di antara umat manusia. Nabi Isa Alaihisalam yang hidup, juga berada di sana, dan bukan hanya di antara Umat Islam. Jadi jangan Anda mempertentangkan saya dengan para pejabat agama di KWI, di PGI, dan di MUI. Mereka harus menjalankan tugas mereka dengan baik, saya juga harus menjalankan pekerjaan saya dengan baik pula. Masih ada pertanyaan? Apa? Maria Magdalena kamu katakan PSK, apa itu PSK? Lonte? Itu Pelacur bukan? Kamu Katolik atau Protestan? Katolik ya? Di sini ada yang Katolik atau Protestan, yang bisa menjawabnya?”

Seorang wartawan Protestan mengacungkan tangan, lalu menjawab. Dalam Injil, tidak pernah disebut-sebut adanya pelacur. Dalam Lukas 7:36-50 hanya disebutkan “Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Jesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Jesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakiNya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.”  Perempuan berdosa itu juga bukan Maria Magdalena yang disebut dalam ayat lain, yakni Lukas 8:1-3 sebagai berikut. “Keduabelas muridNya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan yang berbuat zinah, perempuan lain lagi, dalam Yohanes 8:11, juga tidak pernah disebut sebagai pelacur. “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian.” Kemudian Jesus menjawab: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Jadi perempuan yang mengurapi kaki Jesus, perempuan yang berbuat zinah, dan Maria Magdalena, adalah tiga figur yang berbeda, dan mereka hanya disebut seorang berdosa, dibebaskan dari tujuh roh jahat, dan berbuat zina, bukan pelacur. Mendengar penjelasan itu Jesus manggut-manggut.

“Jadi sudah cukup jelas ya? Bahwa Maria Magdalena bukan pelacur, lalu saya adalah guru dari semua murid maupun pengikut saya. Maria Magdalena adalah seorang perempuan yang kuat. Sama dengan Bunda saya Maria. Orang percaya, bahwa merekalah yang berdiri di bawah kayu salib, ketika saya dieksekusi. Jadi ia seorang perempuan yang tabah, bukan pelacur yang merayu saya. Kalian yang Katolik dan Protestan, agak cermatlah membaca Kitab Suci, ya benar, yang Islam pun juga harus cermat membaca dan menangkap isi Al Quran. Kembali ke KWI, PGI dan apa yang satu? MUI, itu adalah lembaga yang kuat. Mengapa saya tidak lapor ke mereka? Siapa tadi yang bertanya itu? Saya kesini diurus oleh sebuah Event Organizer. Jadi urusan dengan perijinan, saya tidak tahu. Seharusnya KWI dan PGI kalau ingin tahu tentang saya, bertanya kepada Event Organizer. Tetapi barangkali mereka sangat sibuk, hingga cukup membuat pernyataan tertulis. Memang umat Katolik dan Protestan, harus patuh pada KWI dan PGI. Umat Islam harus patuh pada MUI. Itulah ajaibnya, tiap hari dalam doa, dalam ibadat, mereka selalu menyebut nama saya, bukan nama KWI, tetapi dalam praktek kehidupan, mereka lebih memperhatikan himbauan KWI, dan melupakan ajaran saya.”

* * *

Seorang Uskup yang tidak bersedia disebutkan jati dirinya, mengajak makan siang Romo Vikaris Jenderal, dan Romo Vikaris Episkopal di keuskupannya.  Sambil menyantap makan siangnya, uskup itu menggerundel. “KWI membuat pernyataan bersama seperti ini, sebenarnya tidak tepat. Pernyataan itu menyatakan sesuatu yang sebenarnya sudah sangat jelas. Kalau acara di Tengger dan Parangtritis itu memang mereka anggap hanya sebagai peristiwa politik, bukan peristiwa keagaamaan, la ya sudah. Mengapa harus bikin pernyataan segala? Pernyataan itu secara tersirat juga sudah menjatuhkan vonis, bahwa yang datang ke Indonesia ini hanya orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus. Yang kita sembah, Allah Putera itu, bukankah juga orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus? Yang kita sembah itu, namanya kan bukan Prawiro, bukan Robert, bukan Yunus to? Itu juga sudah sangat jelas, tetapi masih pula dibuat pernyataannya. Yang saya takutkan Mo, kalau ternyata yang datang itu benar junjungan kita lalu bagaimana? Ini Presidium KWI ini sepertinya hanya mau cari muka saja. Ya nggak tahu mau cari muka ke pemerintah, atau ke Vatikan.”

Romo Vikjen dan Vikep itu agak bingung. “Monsinyur, bukankah monsinyur juga angota presidium, dan hadir dalam rapat yang menghasilkan pernyataan ini?” Uskup itu manggut-manggut. “Ya memang benar. Aku sudah katakan semua itu kepada presidium. Mereka jawabnya mudah saja, yakni divoting. Karena yang tidak setuju hanya saya, ya kalah. Harus ikut yang banyak. Bagus, bahwa sampai sekarang, Bapa Suci sama sekali belum mengeluarkan pernyataan apa pun. Repotnya, kalau pernyataan Vatikan berbunyi, bahwa benar yang datang itu Jesus Kristus, lalu bagaimana? Yang sangat saya takutkan, mereka itu, dengan dukungan MUI, juga akan melapor ke Mabes Polri. KWI dan PGI sama-sama merasa terganggu, karena ada lembaga yang mendatangkan seseorang, yang menggunakan atribut, bahkan nama, yang menyamai figur yang menjadi selama ini disembah oleh Umat Katolik serta Protestan. MUI katanya malah lebih keras, menuntut bahwa siapapun yang mengaku-ngaku sebagai Nabi Isa Alaihissalam, harus ditangkap oleh aparat keamanan, diadili dan kalau perlu dihukum mati dengan cara disalib. Katanya KWI, PGI, dan MUI itu lembaga keagamaan. Acara yang mereka permasalahkan mereka sebut sebagai acara politik, tetapi lembaga itu menanggapi acara tersebut, bahkan kemudian menuntut, dengan cara-cara yang juga bersifat sangat politis.”

“Lalu kalau menurut Monsinyur, kita harus bagaimana? Kalau usul saya, kita harus tetap patuh dengan yang sudah digariskan oleh KWI, sambil terus mencermati perkembangan selanjutnya.” Uskup itu agak cemberut mendengar pertanyaan dan usulan Vikjennya. “Pertanyaan dan Usul Romo Vikjen itu sama dengan pernyataan KWI. Kita patuh pada yang digariskan KWI itu jelas, mengapa harus disebutkan? Keputusan KWI yang strategis, pasti harus melalui Sidang Pleno, yang kita ada di dalamnya. Presidium biasanya mengambil keputusan yang mendesak, tetapi tidak terlalu strategis. Semuanya harus dipatuhi. Saya justru berharap Romo Vikjen dan Vikep memberi masukan kepada saya, bukan malah minta petunjuk seperti imam dan umat biasa. Bagi saya, tidak penting apakah yang tampil itu Jesus asli atau hanya selebritis, sebab yang disampaikannya itu memang penting dan mendesak untuk gereja saat ini. Meskipun saya Uskup, yang bisa menegur dan menasehati bukan hanya Bapa Suci. Umat pun bisa menasehati saya. Misalnya ketika mereka mengeluh bahwa kotbah saya jelek. Saya sangat berterimakasih, karena keluhan itu bagi saya sebuah nasehat bagus.”

“Monsinyur, mohon maaf kalau saya sebagai Vikep, selama ini lebih banyak diam. Saya diam saja, dipersalahkan umat, dan juga beberapa romo. Saya bicara soal ini tadi, Jesus Tengger dan Parangtritis, juga dipersalahkan macam-macam, saya bicara lagi dipermasalahkan lagi. Maka Monsinyur, saya kemudian menghitung untung rugi. Saya diam dipermasalahkan, ya tidak rugi apa pun. Saya sudah susah-susah berbicara, dipersalahkan. Ini yang tidak enak Monsinyur. Apa yang dirasakan Monsinyur, sebenarnya juga saya rasakan pula. Umat kita menderita, kita mengatakan, gereja kan bukan kantong ajaibnya Doraemon, apa saja bisa diperoleh dari sana. Itu memang benar, tetapi menjadi tugas gereja untuk menguatkan, dan mengembalikan semangat umat. Ini memang telah dilakukan, tetapi energi dan intensitas untuk itu, tidak terlalu besar. Tidak sebesar ketika dalam Tata Perayaan Ekaristi Baru, gereja harus mengubah kalimat. Tuhan besertamu, dan besertamu juga, menjadi Tuhan besertamu, dan beserta Rohmu. Sebab untuk itu buku harus dicetak baru, diubah dan disesuaikan dengan TPE Baru. Kemudian ada proyek, ada anggaran yang cukup besar. Dan imam serta umat juga sedikit bingung.”

“Romo Vikjen dan Vikep, apakah Anda berdua percaya bahwa yang tampil di Tengger dan Parangtritis itu benar-benar Jesus, atau bukan? Romo Vikep ragu-ragu? Ya, lalu Romo Vikjen yakin itu bukan Jesus? Saya justru percaya penuh bahwa itu benar Jesus. Kalau saya ditanya mengapa percaya, memang agak sulit untuk menjelaskan, tetapi terasa di hati. Sebelumnya saya juga ragu-ragu, lalu tidak percaya. Terutama karena dia tampil bersama pejabat pemerintah, wah ini hanya kampanye politik, lalu figur agama dibawa-bawa. Kemudian saya ngobrol dengan Uskup Surabaya. Dia bertanya kepada saya, mengapa Monsinyur mempercayai Jesus, orang yang hidup di tanah Israel 2000 tahun yang lalu? Bukankah Monsinyur tidak pernah ketemu dan kenal dia? Juga tidak pernah ada pemaksaan? Orang memang boleh percaya kepada Jesus, kepada Muhammad, kepada Sidharta Gautama, kepada Sang Hyang Brahma, Wisnu dan Syiwa, tetapi boleh pula tidak percaya kepada siapa pun. Itu Uskup Surabaya itu memang agak kurang ajar. Dia juga mengatakan, kalau agama-agama itu baik, mengapa kita tidak boleh memeluk semuanya saja sekaligus ya? Saya lalu mencermati, yang disampaikan orang ini, melulu hanya kebaikan. Bukankah tugas utama kita juga menyebarluaskan kabar baik?”

“Hanya begini ya Romo Vikjen dan Romo Vikep, yang saya sampaikan ini tadi sifatnya pribadi. Sebagai Uskup, saya tetap harus sejalan dengan yang sudah digariskan oleh Presidium KWI. Tentu sambil menunggu perkembangan lebih lanjut. Kalau ternyata kemudian ada upaya penangkapan dan sebagainya, saya akan mengusulkan ada sidang pleno, dan saya akan ngotot menyatakan bahwa itu semua tidak benar. Sebab secara formal kita ini pengikut Jesus, tetapi dalam praktek berbuat seperti ahli kitab, dan penguasa Jahudi serta Romawi. Ya seperti tadi yang Romo Vikep telah kemukakan tadi. Tetapi yang punya pendapat seperti saya ini, di KWI hanya minoritas. Meskipun Romo, sekarang saya agak berbesar hati, sebab makin banyak uskup-uskup muda yang terbuka dan egaliter. Jadi saya mulai agak ada temannya. Meskipun yang muda tetapi tertutup dan berpandangan sangat konservatif juga ada. Ya saya sebagai sesama uskup tidak perlu menyebut nama, tentu Romo Vikjen dan Romo Vikep sebenarnya juga sudah tahu.”

* * *

Coffee Shop Grand Indonesia, Jalan Thamrin Jakarta, Romo Bonnie menyeruput Expresonya. Ini sudah cangkir kedua. Di sekelilingnya ada aktivis LSM, ada polisi, ada seorang Kiai, ada pendeta Protestan, dan Mas Suwito. “Ini kita harus gerak cepat! Harus kita hajar mereka itu. Sekarang mereka sudah berhasil menjual Ibu Mega ke pihak luar. Harus kita gagalkan. Pernyataan bersama KWI dan PGI, terlalu lembek. Itu pernyataan banci. Apalagi MUI, ya jelas kalau Umat Islam itu harus berpegang pada Al Quran. Anak kecil juga sudah tahu! Seharusnya mereka lapor ke polisi, agar semua yang terlibat dengan acara Tengger dan Parangtritis itu ditangkap, diadili, dan dihukum seberat-beratnya. Lalu badut yang mereka beri peran Jesus itu juga harus ditelanjangi, lalu dideportasi ke negara asalnya. Kalau dia bilang turun langsung dari surga, harus dideportasi ke surga, alias dieksekusi mati. Di pihak kita ada Mas Suwito. Mau apa lagi? Yang paling saya takutkan, kalau hal semacam ini dibiarkan, gereja akan kosong, mesjid juga kosong, kolekte tidak masuk, gereja ambruk, dan mesjid serta mushola ditinggalkan umatnya. Kalau ini terjadi, mereka akan bertepuktangan keras!”

Mas Suwito, menyeruput Cappuccinonya, sambil menyedot keretek dalam-dalam. “Saya memang benar-benar kagum sama Romo Bonnie ini. Kalau semua Romo dalam gereja Katolik seperti Romo Bonnie, Indonesia ini akan cepat maju. Saya akan dukung Romo, dan juga teman-teman semua untuk bergerak. Kita tidak bisa tinggal diam. Kalau saya bilang mendukung, Romo pasti tahu, bahwa masalah logistik tidak perlu dirisaukan lagi. Di belakang saya ada banyak sekali ATM. Ada BCA, ada Mandiri, ada BRI, ada BII, jadi amanlah ke mana Romo akan bergerak, dengan siapa, dan kapan. Mau mulai malam nanti semua juga sudah siap. Ya logistiknya, ya personilnya, ya transportasinya, ya senjatanya. Mau pentungan, samurai, slepètan, atau malah bom sekalian? Suwito sudah siapkan semua. Goal kita itu kan sudah jelas, Ibu Mega tahun ini harus kembali naik lagi. Dan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Maka kalau sekarang ada yang akan menampilkan Ibu Mega dengan Nabi Isa Alaihissalam, sama seperti Pak SBY dan Sultan, itu namanya sebuah pelecehan. Saya sebenarnya sudah puluhan kali mengatakan langsung kepada Ibu Mega, agar jangan mau. Tetapi Bapaknya maunya kan lain? Jadi kita harus menggunakan strategi baru. Untuk itu saya percaya 200% kepada Romo kita ini.”

Mata aktivis LSM itu berbinar-binar. Sudah lebih dari lima bulan ini dia luntang-lantung. Teman-temannya yang selama ini rajin memberi job, sekarang semua sibuk kampanye. ATM mereka juga hanya bisa diklik dengan PIN kampanye. PIN lain tidak berlaku. Sementara dia sendiri, tersingkir dari bursa Caleg. Bahkan partai yang paling kecil dan paling gembel pun, menolaknya. Memang banyak temannya yang menawari pekerjaan, tetapi harus ngantor tiap hari, harus berpakaian rapi, harus mengetik, harus ikut meeting, dan yang paling ditakutkannya adalah, ada target. Kalau target tidak tercapai, ya wassalam. Maka semua ditolaknya. Ia ingin ada job rutin, meski hanya sebagai Korlap tidak apa-apa, yang penting bisa numpang makan, bisa numpang mejeng di depan kameraman televisi. Sejak job itu seret, wajahnya memang relatif jarang mèjèng di televisi. Maka kumpul-kumpul sekarang ini sangat diharapkan bisa memperbaiki nasib. Kalau ngumpul awalnya sudah di Grand Indonesia, maka proyeknya pasti juga Grand. Apalagi ia harus kerja dengan Romo Bonnie, yang sejak dulu memang sudah sehati.

Pendeta Protestan itu tidak merokok. Dia tampak tersiksa dengan asap tembakau dari meja ini, juga dari meja-meja yang lain. Tetapi toleransinya masih tinggi. Dia minum jus semangka. “Saya sarankan, kita sedikit berhati-hati. Bergerak itu maksudnya apa? Sekadar demo, membuat kekacauan, atau sampai ke perusakan dan pembunuhan? Kalau kita yang diserang, kita yang dianiaya, tidak apa-apa. Itu bagian dari perjuangan. Tetapi kalau sudah sampai ke mengacau, merusak, apalagi membunuh, itu sudah melawan ajaran cinta kasih Jesus Kristus. Maka saya sarankan, kita harus ekstra hati-hati. Saya tetap akan mendukung gerakan untuk perbaikan nasib bangsa, tetapi tetap harus dihindari penggunaan cara-cara kekerasan. Saya ini kan pendeta, yang juga harus jadi contoh bagi para jemaat. Kalau pendetanya preman, bagaimana dengan jemaatnya? Meskipun tadi yang disampaikan Pak Suwito itu, saya setuju 100%. Tahun 2009 ini, Ibu Mega harus kembali memimpin Bangsa Indonesia. Itu saya setuju, dan memang tidak ada alternatif lain lagi. Untuk itu saya tidak ada kompromi!”

Tensi Romo Bonnie naik. “He Bung! Jadi pengikut Jesus itu tidak boleh lembek! Kita harus berani. Jesus itu sampai disalib pun tidak takut. Bung ini telah salah menafsirkan ajaran cinta kasih Jesus. Cinta kasih itu artinya, kalau kita dicintai, ya harus ganti mengasihi. Kalau gereja kita dibakar, markas mereka ganti kita bom. Di sini ada Pak Kiai yang ada di pihak kita. Santri Pak Kiai ini akan ada di barisan depan gerakan kita. Ajaran Jesus kalau ditampar pipi kiri berikan sekalian yang kanan, sebenarnya merupakan ajaran untuk membela diri. Artinya, pertama-tama pipi kiri kita ditampar orang. Jesus mengatakan berikan yang kanan, begitu musuh ingin menampar pipi kanan, langsung secepat kilat, dengan sekuat tenaga, kita sodok ulu hati atau kemaluannya. Maka ia akan roboh seketika. Memahami ajaran Jesus tidak bisa hanya secara lurus dan harafiah. Kita harus cerdas! Kita harus mengembangkan makna ajaran tersebut secara kontekstual. Gereja itu bisa bertahan selama 2000 tahun karena cerdas dan kuat. Bukan lembek dan banci. Maka kalau Bung sebagai pendeta takut untuk ikut bergerak, tidak apa-apa. Memang tidak semua harus ada di barisan depan. Harus ada yang bersedia  mengurus dapur umum!”

Sampai larut malam mereka ngedugem di Coffee Shop Grand Indonesia. Dilanjutkan dengan santap malam, lalu bubaran. Kiai yang ikut pertemuan itu juga banyak terlibat dengan urusan politik. Dia juga bukan Kiai Murwito yang sederhana dan lembut hati. Tetapi sambil pulang ke hotelnya di Jalan Raden Saleh, Pak Kiai itu terus bergumam. “Katanya saya itu diundang untuk menggalang kekuatan bagi Ibu Mega, melalui gerakan damai. Apakah sekarang gerakan damai memang sudah berubah seperti yang dikatakan Romo tadi? Kalau memang benar, saya kok lebih baik disebut pengecut, penakut, pengkhianat, atau apa saja, asalkan saya tidak ikut-ikutan yang seperti itu tadi.” Maka, malam itu, dalam kondisi lelah yang bertumpuk-tumpuk, Pak Kiai itu tertidur dengan sangat pulasnya. Dalam tidur itu dia bermimpi tangan dan kakinya dipegangi oleh orang banyak, lalu salah seorang di antara mereka itu memukuli dadanya, perutnya, kepalanya, sampai babak belur. Selintas, Pak Kiai ini melihat, orang yang memukulinya itu, wajahnya mirip dengan Romo Bonnie. * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: