Pernyataan Mabes Polri

06/05/2014 at 15:19 (novel)

Alexander Sihotang Sarjana Hukum, dari Kantor Pengacara Sihotang & Partners, didampingi oleh Komisaris Besar Polisi Wijayanto, dari Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, menggelar jumpa pers di Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Jakarta. Wartawan media cetak, radio, televisi, kantor berita, dan news dot com, baik dalam maupun luar negeri menyimak dengan takzim. Fotografer dan kameraman berderet di barisan paling belakang. “Saya di sini mewakili Bapak Kapolri, dan hanya mendampingi Pak Sihotang selaku Kuasa Hukum PT Garuda Perkasa Entertainment. Mabes Polri, atas desakan dari berbagai pihak, memang telah memanggil jajaran pimpinan PT Garuda Perkasa Entertainment, sehubungan dengan telah diselenggarakannya dua acara di Tengger dan Parangtritis, dan juga acara-acara lain yang masih akan diselenggarakan, dengan menampilkan seseorang yang menamakan dirinya Jesus Kristus. Selaku kuasa hukum dari PT Garuda Perkasa Entertainment, Pak Alexander Sihotang dari Kantor Pengacara Sihotang & Partners, telah memenuhi panggilan Mabes Polri, dan memberikan keterangan sesuai dengan kapasitasnya.”

“Secara formal, dalam waktu dekat ini Mabes Polri akan memberikan keterangan pers. Tentu setelah mendengarkan pula, keterangan, dan penjelasan dari pihak-pihak terkait yang lain. Sekarang silakan Pak Sihotang.” Alexander Sihotang SH, mengambil mik, menarik napas, lalu mulai menjelaskan. “Jadi, tadi, saya selaku kuasa hukum PT Garuda Perkasa Entertainment, telah memenuhi panggilan dari pihak Mabes Polri, dan telah menjawab serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada klient kami. Pertanyaan pertama adalah motif diselenggarakannya event Tengger dan Parangtritis, serta yang masih berupa rencana, dan akan direalisasikan dalam waktu dekat ini. Saya jawab, bahwa motif kegiatan Tengger hanya bisnis, yakni memperoleh keuntungan finansial. Bahwa kemudian ada kekuatan politik yang memanfaatkan kami, motif kami juga tetap bisnis. Ada pihak donatur yang telah membayar kami dengan nilai cukup tinggi, dan sebagian dana itu kami salurkan ke kekuatan politik bersangkutan. Pertanyaan kedua di sekitar tokoh yang kami tampilkan, yakni Jesus Kristus, atau Isa Al Masih Alaihissalam. Pertanyaan kedua ini antara lain berbunyi, siapa Jesus Kristus itu? Jawab saya, dia itu Nabinya orang Nasrani. Kalau Isa Alaihissalam Nabinya Umat Islam.”

“Penanya membentak saya, Ya, tetapi siapa dia? Saya jawab, sudah jelas dia itu bernama Jesus Kristus, kok masih bertanya siapa dia! Ternyata maksudnya, dia itu otentik atau tidak. Saya jawab tidak tahu karena hasil tes DNA belum selesai. Pertanyaan ketiga, siapa yang membiayai kami? Jawaban saya, lembaga donor dari luar negeri, dan semua ada datanya untuk urusan audit sehubungan dengan PPH 23, 25 dan 29. Pertanyaan keempat, siapa yang berada di belakang PT Garuda Perkasa Intertainment? Jawaban saya, yang berada di belakang PT Garuda banyak sekali. Aparat keamanan, tukang dekor, sound sistem, tim visual, transportasi, akomodasi, konsumsi dan lain-lain. Ternyata kami salah. Yang dimaksud oleh pihak kepolisian adalah kekuatan sosial politik mana yang berada di belakang kami. Tegasnya partai politik mana yang mendanai kami? Berdasarkan bukti-bukti yang berkasnya juga kami bawa, kami justru memasukkan dana ke partai politik, dan capres yang kami ajak kerjasama. Misalnya, dalam acara Tengger, kami membuat kontrak dengan salah satu Tim Sukses Pak SBY. Deal dengan Partai Demokrat malahan tidak ada. Dalam acara Parangtritis, kami mengadakan kontrak dengan Pemprov DIY, dan memasukkan dana untuk Tim Sukses Sultan.”

“Dalam acara di Gunung Gede nanti, kami menjalin kerjasama dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Semua resmi, semua transparan dan semua teraudit. Pertanyaan lebih lanjut adalah, bagaimana hubungan antara PT Garuda Perkasa Entertainment dengan CIA dan Mossad. Kami menjawab dengan tegas bahwa Klient kami tidak mempunyai hubungan apa pun dengan CIA dan Mossad. Sebab klient kami adalah lembaga bisnis. Bukan lembaga intelijen seperti BIN. Mereka mengatakan, bahwa ada indikasi, klient kami ada kontak dengan mereka. Sekali lagi saya tegaskan klient kami sama sekali tidak ada hubungan dengan apa pun dengan lembaga intelijen. Indikasi, bukan merupakan alat bukti pelanggaran hukum, hingga klient kami sama sekali tidak bisa diberi sanksi secara hukum. Kalau lembaga intelijen mengawasi kami, itu mungkin saja. Lalu tadi juga kami sampaikan ke pihak Mabes Polri, bahwa kalau klient kami memang benar telah melakukan pelanggaran hukum, kami siap untuk menjalani proses hukum sesuai dengan ketentuan undang-undang. Sebaliknya, apabila ada pihak-pihak yang merugikan klient kami secara material, maupun moral, kami selaku kuasa hukumnya, juga akan mengambil tindakan hukum sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.”

“Saya selaku Kuasa Hukum, PT Garuda Perkasa Entertainment, juga tidak mengijinkan tamu kami Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam, dipanggil Mabes Polri untuk dimintai keterangan. Tamu Klient kami ini pemegang Paspor Kerajaan Jordania, dan mengantongi visa dari Kedubes RI di Amman. Jadi beliau bukan kategori pendatang haram. Selama di Indonesia, tamu dari klient kami ini juga tidak pernah melakukan pelanggaran hukum, atau perbuatan lain yang mengganggu ketertiban umum. Acara di Tengger dan Parangtritis berjalan dengan sangat tertib, hingga tidak sampai ada korban cedera, apalagi sampai meninggal. Lalu apa dasar hukum Mabes Polri memanggil beliau untuk dimintai keterangan? Karena yang beliau sampaikan ketika tampil di depan publik, semua sudah terekpose di media massa, hingga tidak perlu ada keterangan lebih lanjut. Pemanggilan tamu klient kami, terlebih penangkapan, jelas akan berpengaruh negatif terhadap hubungan RI – Jordania, yang selama ini terjalin dengan sangat baik. Jordania adalah negara sahabat, yang pasti akan merasa sangat terganggu, apabila warga negaranya yang sedang menjadi tamu kehormatan di Indonesia, dipanggil oleh Mabes Polri ……… ”

Belum selesai Alexander Sihotang Sarjana Hukum memberi penjelasan kepada pers, di kursi tengah yang semula kosong, di antara kursi yang ia duduki dengan kursi tempat duduk Komisaris Besar Polisi Wijayanto, telah duduk dengan santainya Jesus Kristus, Isa Alaihissalam. Para insan pers sama sekali tidak tahu, kapan dan dari mana ia masuk ke ruang jumpa pers di Mabes Polri tersebut. Para fotografer dan kameraman serentak mengabadikan kejadian ini. Alexander Sihotang Sarjana Hukum dan Komisaris Besar Polisi Wijayanto, juga kaget. Mereka segera menyalami tokoh tersebut. Jesus mengenakan celana lapangan warna cokelat, T Shirt Taman Nasional Gunung Gede dan Pangrango, serta jaket warna gelap. Rambutnya yang gondrong tersisir rapi, demikian pula dengan kumis, cambang dan janggut yang menjadi ciri khasnya. Suasana jumpa pers menjadi agak gaduh. Kombes Wijayanto mengetuk-ngetuk mik mencoba menenangkan para wartawan. Setelah bersalaman, dengan Alexander Sihotang dan Kombes Wijayanto, Jesus tampak berbisik-bisik dengan mereka berdua. Alexander Sihotang melanjutkan.

* * *

“Rekan-rekan pers, karena tamu dari klient saya, yang tadi saya sebut-sebut, sekarang sudah berada di sini, maka saya akan mempersilakan beliau untuk sekalian memberikan penjelasan.” Alexander Sihotang, kembali membisikkan sesuatu kepada Jesus Kristus, yang kemudian menunjuk ke arah para wartawan. Ternyata di antara para wartawan itu sudah berdiri Romo Sujatmiko, yang kemudian maju ke mik yang sedianya akan digunakan oleh para wartawan yang akan mengajukan pertanyaan. Alexander Sihotang melanjutkan. “Rekan-rekan wartawan, tamu dari klient saya akan berbicara dalam Bahasa Aram, dan akan diterjemahkan oleh Penerjemah beliau Romo Sujatmiko. Silakan. Maka Jesus pun memberikan penjelasan pers, disekitar kehadirannya di Indonesia, maupun kehadirannya saat ini di Mabes Polri. Dia berbicara dengan pelan-pelan, beberapa kalimat, yang kemudian diterjemahkan oleh Romo Sujatmiko ke dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Dalam penjelasannya, Jesus mengatakan bahwa keadaan dunia selama 2000 tahun ini, sudah berubah dengan sangat pesat, namun perangai manusia masih tetap sama.

Ia kemudian juga menjelaskan, daripada panitia mendapat kesulitan untuk menghadirkannya ke Mabes Polri, maka sekarang ia sudah hadir secara sukarela. Kalau Polisi Indonesia akan meminta penjelasan dari dirinya, sebaiknya sekarang langsung saja bertanya di depan para wartawan, bukan secara rahasia di ruang khusus. Ia tidak takut disiksa, sebab sudah berpengalaman bukan hanya dengan siksaan melainkan juga pembunuhan. Kombes Wijayanto tampak manggut-manggut. Tidak lama kemudian HPdi kantongnya berdering, lalu ia menempelkan HP itu di telinga kanannya, sambil sedikit membungkukkan badan ke depan. Ia lalu mencolek Alexander Sihotang, membisikkan sesuatu dari arah punggung Jesus. Alexander Sihotang manggut-manggut. Kombes Sujatmiko kemudian juga mencolek Jesus yang sedang berbicara. Ketika Jesus menengok ke arahnya, Kombes Wijayanto membungkuk hormat. Jesus juga menganggukkan kepalanya. Kombes Wijayanto lalu berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan jumpa pers. Jesus melanjutkan memberi keterangan pers.

Ia mengatakan, bahwa ternyata ia tidak takut datang ke Mabes Polri. Malah polisi yang ternyata takut kepada dirinya, dan kemudian pergi. Wartawan dan juga Alexander Sihotang tertawa tergelak-gelak. Karena banyak sekali wartawan yang mengacungkan telunjuknya tanda ingin mengajukan pertanyaan, maka Alexander Sihotang mempersilakan Romo Sujatmiko maju dan duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Kombes Wijayanto. Alexander Sihotang lalu menunjuk salah satu wartawan untuk mengajukan pertanyaan. Belum sempat wartawan itu berbicara, satu regu Brigade Mobil bersenjata lengkap masuk ke ruang jumpa pers. Mereka menangkap Jesus, memborgolnya dan membawanya pergi. Alexander Sihotang yang mencoba protes dihalang-halangi oleh anggota Brimob itu. Demikian pula para wartawan yang mencoba untuk mengikuti regu penangkap itu. Alexander Sihotang tampak panik. Baru saja ia mengemasi map-map yang terhampar di meja, pundaknya dicolek, ternyata Jesus masih tetap duduk di sebelahnya. Ia mempersilakan Alexander Sihotang kembali duduk, untuk melanjutkan acara. Wartawan yang tampak kebingungan, berebutan mengacungkan tangan, tanda ingin mengajukan pertanyaan.

Romo Sujatmiko mengetuk-ngetuk mik. “Tolong agak tenang saudara-saudara, baru saja saya diberi tahu oleh beliau bahwa waktu kita sangat longgar. Silakan ajukan pertanyaan sepuas-puasnya, beliau akan siap menjawab semua pertanyaan Anda. Setelah tanya jawab itu memuaskan dahaga para kuli tinta, maka mereka pun pergi meninggalkan ruang jumpa pers. Beberapa wartawan yang masih belum puas, segera mendekat ke meja depan untuk mengajukan pertanyaan lebih detil ke Alexander Sihotang, maupun langsung ke Jesus Kristus, melalui Romo Sujatmiko. Namun baru saja mereka mau mengajukan pertanyaan, temen-teman mereka yang di luar memanggil. Mereka lalu berlarian ke ruangan lain. Di sana ternyata sudah ada jumpa pers oleh Kepala Hubungan Masyarakat Mabes Polri. “Saudara-saudara, baru saja Tokoh yang menamakan dirinya Jesus Kristus, dan tampil dalam acara yang diselenggarakan oleh PT Garuda Perkasa Entertainment, telah datang memenuhi panggilan Mabes Polri, dan sekarang sedang dimintai keterangan oleh sebuah tim yang dibentuk oleh Mabes Polri. Beliau datang tanpa disertai oleh seorang pun anggota panitia, juga staf dari PT Garuda Perkasa Entertainment yang tampak ingin lepas tangan ………. dst.”

“Ya, memang benar, yang akan didalami oleh Mabes Polri adalah, siapa sebenarnya jati diri beliau ini. Sebab Mabes Polri wajib melindungi warga masyarakat dari praktek penipuan. Untuk itulah sebuah tim telah dibentuk, termasuk tim yang akan melakukan uji DNA dari tokoh ini. Ada kemungkinan, apabila terdapat pelanggaran hukum, misalnya pemalsuan dokumen keimigrasian, maka Mabes Polri akan menahan yang bersangkutan, juga seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan acara ini. Saya tidak bisa menjelaskan berapa lama beliau akan berada di Mabes Polri untuk dimintai penjelasan. Sekarang ini sebuah tim Buru Sergap, sedang kami kirim ke kantor panitia, juga kantor PT Garuda Perkasa Entertainment untuk membawa paksa beberapa orang yang kami curigai, ke Mabes Polri. Kami belum bisa menjelaskan secara rinci, siapa-siapa saja yang akan kami datangkan secara paksa tersebut. Memang surat pemanggilan sudah kami layangkan sesuai dengan prosedur, namun hanya ditanggapi oleh kuasa hukum dari PT tersebut. Hingga untuk itulah Mabes Polri melakukan pemanggilan paksa terhadap pihak-pihak yang kami curigai.”

“Perlu kami jelaskan, bahwa yang kami panggil dan kami mintai keterangan, bukan Jesus Kristus, Alah Putera yang dimuliakan oleh Umat Kristiani, juga bukan Nabi Isa Alaihissalam, yang dimuliakan oleh Umat Islam, melainkan seseorang yang telah menamakan dirinya sebagai Jesus Kristus, serta Nabi Isa Alaihissalam. Jadi tindakan preventif yang telah dilakukan oleh Mabes Polri, tidak ada kaitannya dengan Iman Umat Kristiani, maupun Iman Umat Islam. Mabes Polri justru terpaksa mengambil tindakan tegas seperti ini, karena dorongan dari institusi keagamaan resmi yang diakui pemerintah Indonesia, yakni Konferensi Waligereja Indonesia, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, dan Majelis Ulama Indonesia. Tiga institusi ini telah dengan sangat baik menangkap gejala keresahan di kalangan umat dari masing-masing agama, yakni Katolik, Protestan, dan Islam. Penjelasan resmi tentang kasus ini hanya akan disampaikan oleh Mabes Polri, hingga rekan-rekan dari media massa, diharapkan cukup bijaksana dan berhati-hati dalam  memberitakan informasi dari lembaga-lembaga lain yang tidak berkompeten, agar masyarakat tidak semakin bingung.”

* * *

Ada 20 wartawan, dan cameraman, 10 dari stasiun tivi nasional, 10 dari stasiun tivi internasional, yang berkumpul di depan wisma Medinilla, Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat. Langit sangat biru, cuaca cerah, tetapi udara tetap sejuk. Di teras Wisma Medinilla duduk Jesus Kristus, diapit panitia, dan Romo Sujatmiko sebagai penerjemah, dan Ketua Tim Sukses Capres Megawati Soekarnoputeri. Pertama-tama panitia menjelaskan, bahwa rencana penampilan Jesus Kristus, bersama dengan Capres Megawati Soekarnoputeri di Alun-alun Suryakencana, Taman Nasional Gunung Gede dan Pangrango, tetap akan dilangsungkan, karena memang tidak ada hambatan apa pun. Baik tamu kehormatan Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam, maupun Capres Ibu Megawati Soekarnoputeri, juga sudah siap untuk tampil di sana. Persiapan dari pihak panitia juga berjalan dengan lancar, karena semua pihak, termasuk pihak aparat keamanan, telah memberikan dukungan sebagaimana yang diharapkan, demi kelancaran acara ini.

Memang panitia juga telah mensinyalir ada pihak-pihak tertentu yang bermaksud menggagalkan acara ini, namun secara teknis panitia tidak mengalami kesulitan apapun untuk mengatasinya. Tiba giliran Jesus Kristus untuk berbicara. “Penguasa lembaga agama di Indonesia, telah melapor ke aparat keamanan, bahwa kehadiran saya, yang mereka sebut sebagai seseorang yang menamakan dirinya Jesus Kristus, telah meresahkan masyarakat, khususnya umat Kristiani dan Muslim. Jaman berubah tetapi watak manusia tidak. Dulu para pemuka Agama Jahudi juga melapor ke aparat Keamanan Romawi, dan mengatakan hal yang sama seperti sekarang ini. Manusia tidak pernah mau belajar. Padahal jelas, Kekaisaran adidaya itu sudah tidak ada, sementara Kerajaan Allah yang dulu teraniaya, sekarang masih ada. Padahal, meragukan kehadiran saya, sama saja meragukan kehadiran Allah yang hidup. Sebab para pemuka agama, lebih senang menyembah Allah yang mati, yang terperangkap dalam lembaran kertas kitab suci. Kertas mereka sucikan melebihi yang lain-lain, sementara hati mereka biarkan berlepotan dosa.”

“Allah yang hidup selalu bersama umat manusia. Dia juga ikut sakit, ikut menderita, ikut tertimpa bencana, dan dijauhi oleh mereka, para penyembah Allah yang mati,  huruf-huruf di kitab suci.” Jesus tidak mau berbicara terlalu banyak. “Ajaran yang telah saya sampaikan 2000 tahun yang lalu, sudah lebih dari cukup. Maka silakan kalau ada yang mau bertanya, ada yang mau mendebat saya, ada yang mau mencerca saya. Pertanyaan gencar diajukan. Jesus menjawab satu per satu dengan sabar, dengan tenang. “Pertanyaan klasik yang selalu diajukan adalah, bagaimana hubungan saya dengan Maria Magdalena, lalu, siapa sebenarnya bapak biologis saya, ada pula yang menanyakan isu tentang kepergian saya ke Tibet, kalau tentang apakah saya benar disalib atau tidak, sudah terlalu ramai diributkan, dan itu membuat saya menjadi sangat bosan mendengarnya, dan juga heran. Apakah mereka itu sudah sedemikian makmurnya, hingga tidak perlu bekerja, tidak perlu melakukan apa-apa, lalu iseng memperdebatkan sesuatu yang tidak banyak manfaatnya bagi sesama?”

“Baiklah, itu pertanyaan tentang siapa bapak biologis saya, ya jangan diajukan kepada saya tetapi ke ibu saya, Bunda Maria. Beliaulah yang paling tahu, siapa bapak biologis saya. O, saya sama sekali tidak pernah marah diberi pertanyaan seperti itu. Bunda juga begitu. Yang akan marah ya para pengikut saya yang kebetulan berotak bebal itu. Mereka yang cerdas pasti tidak akan marah. Memang ketika masih kecil pun, saya juga sudah mendengar banyak isu tentang bapak biologis saya. Ada yang mengatakan seorang serdadu Romawi, ada yang bilang petinggi Romawi, ada pula yang mengatakan seorang Ahli Taurat. Saya tidak pernah peduli, sebab secara hukum bapak saya Jusuf atau Josef, sementara yang mengimani saya, yakin bahwa saya ini Anak Allah. Tentang apa saya pernah ke Tibet, wah, memang waktu itu sudah ada kontak dagang antara Timur Tengah dengan China, dan India. Jadi praktis, perjalanan dari Nazareth ke India, dan Tibet dimungkinkan.

Namun demikian, untuk apa saya ke sana? Menimba ilmu? Di Tanah Judea sendiri, ilmu itu banyak sekali. Memang banyak orang yang berimajinasi, bahwa ajaran Trinitas saya, merupakan contekan dari Tiga Dewa Utama Hindu, yakni Hyang Brahma, Hyang Wisnu, dan Hyang Syiwa. Sementara ajaran cinta kasih saya, dianggap nyontek Ajaran Yang Mulia Sidharta Gautama atau Sang Budha. Tidak apa-apa. Itu resiko orang yang lahir belakangan. Tetapi Anda tahu bukan, bagaimana ajaran keyakinan di masyarakat Mesir, Asiria, dan Babilonia, bisa sama dengan ajaran keyakinan di masyarakat Aztex, Maya dan Inca? Apa mereka pernah saling berhubungan? Jadi Anda sekalian berpikirlah kritis, tetapi sekaligus juga logis. Apalagi? Apakah saya juga pernah pilek, sakit perut, kentut, mencret? Itu pertanyaan bodoh. Ya pastilah. Mengapa tidak ditulis di Injil? Injil bertujuan mencatat ajaran saya, serta sedikit biografi. Nanti ditanyakan juga, bajunya beli dimana? Yang mendanai gerakan saya siapa? Memangnya saya pimpinan LSM?”

Malam itu para penonton tivi di Indonesia, bingung. Jesus hadir dalam acara jumpa pers di Mabes Polri, dan kemudian disiarkan ia ditangkap aparat keamanan. Humas Mabes Polri mengatakan orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus datang dengan sukarela untuk memberikan keterangan. Tetapi pada jam yang sama ia berbicara secara langsung di depan wartawan tivi di suatu tempat yang tidak disebutkan detil lokasinya. Stasiun televisi dihujani pertanyaan dari penonton. “Ini yang benar yang mana sih? Dia ditangkap, atau menyerahkan diri? La kok itu masih ada siaran langsung dari mana itu? Wah pusing aku. Pusing. Tetapi katanya acara di Alun-alun Surya Kencana itu juga akan tetap berjalan sebagaimana biasa? Mana yang benar ini? Mana?” Klik, tivi dimatikan. “Mending duduk slonjor di sini, sambil menyeruput teh hangat, dan mendengarkan suara BCL dari radio tetangga itu. Lo kok diganti dangdut to itu. Wah diganti De Masif, ya sudah, mending masuk kamar dan tidur. Capek aku!” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: