Alun-alun Surya Kencana

14/05/2014 at 15:15 (novel)

“Suwito, Suwito, kamu itu masih inget aku kan? Aku ini Nur Hasanah, Wito. Mabyu Nur. Kemarin aku nonton tivi, katanya Ibu Megawati itu mau pidato di Alun-alun Surya Kencana. Itu alun-alun kota Bogor atau Bandung? Seingetku, Surya Kencana itu adanya di Bogor. Apa kamu bilang? Di Gunung Gede? Kamu itu kok ngawur to Wito. Ngawurmu itu ko ya kebangetan. Alun-alun kok di gunung. Alun-alun itu tempat yang lapang, rata, ada pohon beringinnya, ada penjual dawet, ada penjual bakso, di bagian barat ada mesjid, ada pendopo kabupaten, ada pasar, lalu ada terminal bis. Itu namanya alun-alun. Kalau pas musim hujan alun-alun ditumbuhi rumput hijau. Kalau kemarau panjang, rumputnya kering, dan banyak debu dimana-mana. Begitu Wito! Kamu itu mentang-mentang aku dagang beras kamu boss. Boss itu ya bossok! Busuk hatimu itu! Orang Jombang itu kalau lupa sama tanah kelahirannya, akan dikutuk oleh roh para pinisepuh yang sudah almarhum. Kamu akan dikutuk menjadi kuda, dikutuk menjadi ular, bisa-bisa kamu dikutuk menjadi cacing yang terperangkap di aspal panas.”

“Suwito, kalau kamu bener bahwa Alun-alun Surya Kencana itu ada di gunung, harus jalan lewat hutan, ya aku tidak bisa ikut ke sana. Padahal aku ini ingin melihat Ibu Megawati pidato. Ya sudah, melihat di tivi saja. Meskipun melihat di tivi itu tidak marem. Ya biar saja. Lalu Ibu Mega itu naik apa ke sana? Kalau jalan kaki ya pasti tidak mungkin kuat. Wong badannya gemuk, pantatnya besar seperti itu kok mau jalan naik gunung. Kalau dia ya mestinya naik helikopter ya? Tetapi apa helikopternya kuat ya? Mestinya ya kuat sebab pabriknya pasti sudah merancang sebaik mungkin. Ibu Mega itu kata di tivi itu, akan pidato bersama dengan Nabi Isa. Kok Nabi Isa hidup lagi? Lalu naik apa Nabi Isa ya? Nabi Isa kok ikut kampanye to? Kampanye itu harusnya ya dengan artis dangdut, dengan campursari, ini kok malah nanggap Nabi. Nabi kok ditanggap untuk ngeramaiin kampanye. Bu Mega itu kok ya aneh-aneh saja to? Kalau dulu ketika di Bromo dan Parangtritis itu kan bukan kampanye. Pak SBY menyambut Nabi Isa ya biasa wong dia presiden. Pak Sultan nyambut Nabi Isa ya wajar wong dia itu raja Yogya. La sekarang ini Bu Mega kan calon presiden, la kok kampanye ngajak Nabi?”

“Tetapi ya biar saja, aku itu dari dulu selalu mantep memilih Bu Mega. Ya biar gemuk, biar kata orang pantatnya segede truk, sekali Bu Mega tetap Bu Mega. Budé Joyo sih milihnya Pak SBY. Aku emoh. Pak SBY itu kalau meringis kan jelek. Pak JK juga. Kalau Bu Mega itu kalau mèsem, apalagi kalau tertawa wah kata simbah dulu, seperti Bung Karno. La iya to Mbah, wong Bu Mega itu jelas anaknya Bung Karno kok. Kalau yang mèsemnya benar-benar bagus itu ya Pak Harto. Pokoknya aku ini kalau memilih presiden yang pertama saya lihat ya mulutnya. Kalau mulutnya itu mèsem dan bagus, memilihnya itu mantap. Kalau pak Prabowo itu aku juga emoh. Terlalu gemuk dan sepertinya badannya itu glombyor-glombyor begitu lo, dan jarang mèsem. Ya jelas masih mending Pak SBY kalau badannya. Bu Mega memang lebih gemuk, tetapi ya biar saja wong itu pilihanku kok! Lagi pula, dia kan anaknya Bung Karno, dan mèsemnya tetap oké.”

“Wito, Wito, sebenarnya kamu itu orangnya siapa? Pak SBY ditempel, Sultan ditempel, Bu Mega ditempel, Pak JK juga ditempel, Pak Prabowo juga kamu dekati. Kamu itu ndukung siapa? Ya tidak bisa kalau kamu mau mendukung semua. Mendukung satu saja kalau yang didukung Bu Mega kan sudah berat sekali. Kok kamu itu mau mendukung semua. Badanmu itu kan kecil to Wito? Salah satu sajalah. Yang akan naik jadi presiden itu kan cuma satu. Kan tidak mungkin Pak SBY, Bu Mega, Sultan, Pak JK, Pak Prabowo, semua akan jadi presiden, lalu tinggal di Istana Merdeka bareng-bareng. Kalau mereka kemudian kerja bareng-bareng, itu bagus. La kalau kemudian mereka korupsi bareng-bareng, negara ini ya bangkrut. Orang korupsi itu bagaimana to? Uang bukan miliknya kok tenang saja diambil. Aku itu ada orang belanja beras dompetnya ketinggalan ya hanya saya singkirkan, tidak berani aku membukanya. Ketika orangnya datang mengambil, aku suruh hitung uangnya, ya masih utuh.”

“Budé Joyo itu sering mengeluh pada saya. Sekarang ini nduk, keadaan kok seperti ini ya? Kapan keadaan yang seperti ini akan berakhir. Orang seperti kita ini inginnya kan aman, lalu pasti. Sekarang ini selain tidak aman, juga tidak pasti. Tiap saat keadaan berubah. Orang dagang itu kan harus ada rasa aman dan rasa pasti. Kalau harga tiba-tiba bisa ambleg, bisa membubung tinggi, semua akan susah. Petaninya susah, pedagangnya susah, yang mau makan nasi juga susah. Kalau yang mau makan tinggal menyendok, ya tidak apa-apa. Rakyat kecil itu kerja hari ini untuk beli beras hari ini juga. Kalau tidak ada kepastian bagaimana? Upahnya tetap, tapi beras tiba-tiba bisa naik. Untuk bisa makan pun mereka susah. Apalagi untuk senang-senang. Hanya saya juga heran lo Nur, kata Budé Joyo, itu kere-kere itu, gelandangan itu, kok hidupnya seperti seneng terus ya Nduk? Wah, Budé, Budé, mana ada kere hidupnya seneng? Tertawa tidak selalu seneng lo Budé! Tertawa itu juga bisa berarti sedih, jengkel, atau marah.”

“Aku sebenarnya ingin sekali ke Alun-alun itu, tetapi harus berjalan kaki? Harus lewat hutan? Harus naik gunung? Ibu Mega itu memang aneh-aneh kok. Ya maklum. Puteri Bung Karno, jadi ya pasti banyak yang aneh-aneh. Kampanye kok ya di gunung. Kalau di alun-alun Bogor, di alun-alun Cibinong, orang seperti saya bisa datang dengan mudah, tidak usah jalan kaki. Nabi Isanya nanti naik apa ya? Kalau Nabi pasti bebas. Dia bisa naik kuda, bisa ikut naik helikopter, bisa saja dia pergi sendiri, terbang seperti Raden Gatotkaca. Sebenarnya kalau Nabi tidak usah terbang juga sampai. Dia bilang aku mau ke Jogja, detik itu juga sampai Jogja. Aku mau ke Ambon, detik itu juga sudah ada di Ambon. Tetapi menjadi Nabi juga banyak tidak enaknya. Tugas dari Allah pasti macam-macam. Ya aku saja oleh Budé Joyo diberi tugas macam-macam, Pak Carik diberi tugas macam-macam oleh Pak Lurah. Nabi pasti disuruh ngurus orang-orang berdosa oleh Allah. Urusan sama orang baik-baik saja sudah susah, apalagi ngurus orang jahat. Tetapi Nabi harus manut sama Allah.”

* * *

Alun-alun itu luas, berbentuk seperti bulan sabit, melengkung dari arah barat daya memanjang menuju timur laut. Dari alun-alun itu, ke arah barat laut, Gunung Gede tampak seperti gundukan yang penuh ditumbuhi perdu. Rumput, rumpun edelweis, suara elang jawa kadang kedengaran jauh sekali melengking, ketika pagi dan cuaca cerah. Sepi, dingin, dan biasanya dari Desember sampai Maret, kawasan ini tertutup untuk umum. Dengung lalat terdengar sangat jelas dan keras, dalam sepi yang sebenarnya itu, ketika tak ada suara apa pun, ketika angin juga mati. “Tuan, kita bisa menjangkau alun-alun ini dari tiga titik. Pertama dari Pos Gunung Putri, di atas Cipanas. Kedua dari Pos Cibodas, dan ketiga dari Pos Selabintana. Rute terakhir ini jarang sekali dilalui pendaki. Dari Pos Gunung Putri, para pendaki akan langsung sampai di Surya Kencana. Dari Pos Cibodas, kita akan terlebih dahulu ketemu Puncak Gunung Gede. Kalau kita kembali melalui rute Cibodas, tidak akan ketemu Surya Kencana. Apabila kita turun dari Puncak Gede melalui rute Gunung Putri, pesti akan melalui alun-alun yang luas ini. Meskpun tidak seluas Lautan Pasir di Bromo saja.”

Helikopter itu takeoff dari Lapangan Cipanas, terus membubung ke atas, hanya dalam hitungan menit, alun-alun itu sudah berada di depan. “Lucu juga ya? Sebenarnya saya ini bisa saja terbang sendirian. Bahkan tidak usah terbang, kalian mengatakan ingin saya hadir dimana, maka saya sudah akan hadir di tempat itu. Tetapi sekarang ini semua terserah panitia. Dalam acara ini, panitia menjadi lebih berkuasa dari Allah Putera.” Sebuah helipad darurat terpasang di bagian ujung alun-alun, di arah timur laut. “Inilah alun-alun itu Tuan. Panggung di sana itu, letaknya persis di tengah-tengah, di bagian dari lengkung alun-alun yang terluas. Kalau di Tengger, latar belakang panggung Gunung Batok, maka di Surya Kencana ini latar belakangnya Gunung Gede. Layar besar akan dipasang di arah rute Gunung Putri, dan Selabintana. Di sana agak di ujung timur laut sudah dipasang helipad darurat. Ini tenda-tenda untuk tamu VIP dan VVIP, itu tenda untuk kru dan peralatan mereka. Sama halnya dengan di Tengger, acara akan diselenggarakan sekitar pukul 10 pagi. Saya tidak tahu, kalau cuaca cerah apakah gambar di layar itu akan kelihatan cukup jelas?”

Beberapa hari terakhir kesibukan di alun-alun meningkat. Toilet mobil ditaruh dalam jarak setiap 50 m, di sepanjang lengkung alun-alun. Para pekerja menginap dalam beberapa buah tenda regu. Perapian dipasang setiap sore dalam potongan-potongan drum. Kayu bakar didatangkan langsung dari bawah, juga dengan heli. Dapur umum dengan kompor gas, panci-panci, cerek, penggorengan, dandang, beberapa tukang masak dari asrama tentara direkrut untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi para pekerja di alun-alun ini. Kabel listrik dan selang air darurat ditarik dari Gunung Putri ke Surya Kencana. Sebuah tenda khusus dengan fasilitas hotspot diperuntukkan khusus bagi para wartawan dalam dan luar negeri. Ada lagi tenda yang difungsikan sebagai toko darurat yang menjual kebutuhan sehari-hari. Panitia kawatir, para pengunjung kehabisan logistik. Kepala Taman Nasional langsung melakukan pengecekan tetek-bengek detil persiapan acara ini, dan setiap perkembangan harus dilaporkan ke Dirjen PHKA. “Sebagai birokrat, kita jelas netral dan tidak mendukung siapa-siapa dalam kampanye Pemilu 2009 ini. Tetapi kalau ada pihak yang memerlukan fasilitas kita, harus kita layani sebaik mungkin. Apalagi dalam acara ini akan hadir banyak wartawan asing. Jadi pelayanan kita harus lebih baik lagi.”

“Kamu itu ngomong kok ya selalu salah. Mau ada wartawan asing, hanya ada wartawan bodrek, tidak ada wartawan, pelayanan tetap harus standar. Pelayanan kepada siapa pun harus kita berikan sebaik mungkin. Teman-teman birokrat itu biasanya baru akan memberikan pelayanan baik, apabila ada atasan mau datang. Pelayanan untuk publik justru harus dilakukan dengan serumit mungkin, dengan sesulit mungkin. Setelah publik bingung, mereka bisa diberi tawaran kemudahan, dengan bayaran lebih tinggi. Ngurus KTP, SIM, STNK, paspor, pajak, ijin usaha, semua sama. DPR dan DPRD sejak era reformasi juga seperti menemukan lahan baru. Eksekutif yang sebelumnya suka ngerjain pengusaha dan rakyat, sekarang ganti dikerjai DPR dan DPRD. Tawar menawar setoran menjadi hal yang biasa. Ini saja, proyek kita ini, baru bisa mulus setelah kita tambal DPR Pusat dan DPRD. Kalau tidak, jangan harap persetujuan mereka bisa keluar. Alasannya pasti macam-macam. Ini seperti hukum karma. Para eksekutif yang menjadi raja pada era Orde Baru, sekarang harus menghadapi raja baru, bernama DPR dan DPRD. Persiapan kita kali ini bagaimana?”

“Beres Pak, di sepanjang track dari tiga titik pendakian sudah kita bangun pos-pos darurat, masing-masing dengan tiga petugas. Ada logistik air minum, snack, dan obat-obatan. Track Selabintana tetap kita sediakan petugas juga, meskipun tidak sebanyak track Cibodas. Yang benar-benar kita perkuat yang dari Gunung Putri. Tetapi ngomong-ngomong, ini yang datang kemari ini benar Nabi Isa Pak? Bukannya tidak yakin, saya ini memang sama sekali tidak tahu. Nabi Isa itu sebenarnya nabinya orang Islam, atau nabinya orang Kristen ya Pak? Katanya Nabi Isa itu orang Israel? Ya bukannya usil ingin tahu, tetapi saya ini memang benar-benar tidak tahu. Memang saya tidak peduli. Bagi seorang Muslim seperti saya ini, yang penting ya Pak Kiai, Pak Ustad, dan para pengurus mesjid. Nabi-nabi itu cukup kami dengar kalau ada ceramah dari Pak Ustad dan Pak Kiai itu. Kami-kami ini kan memang malas membaca Pak! Jadi kami ini memang tidak terlalu tahu tentang nabi-nabi itu. Kata Pak Ustad nabi itu jumlahnya banyak sekali, semuanya beragama Islam, dengan Nabi Adam sebagai nabi pertama. Nah ini yang saya agak bingung Pak. Yang menyiarkan Islam itu kan Nabi Muhammad SAW, sebagai nabi terakhir. Lha, kok nabi-nabi sebelumnya juga beragama Islam itu bagaimana ya Pak?”

“Sudahlah kamu jangan lalu meributkan soal nabi. Cukup Nabi Isa yang akan datang ini saja yang kita urus, bersama dengan Ibu Mega. Kita memang kader PKS, tetapi kita juga aparat, hingga mengurus Ibu Mega sebagai Ketua PDIP juga wajib. Apalagi beliau itu Puteri Bung Karno. Memang banyak teman kita yang tidak suka, tetapi ya maklum mereka itu fanatiknya memang luar biasa. Terserah, yang menggaji kita itu pemerintah, bukan mereka itu. Besuk ini kita pasti akan kerja lebih berat lagi. Untung ada tambahan honor yang lumayan dari panitia. Untung juga ada tambahan tenaga sukarela dari para pecinta alam itu. Kalau tidak, kita ini akan mampus semua. Mau diberi honor berapa pun kita ini tidak akan mampu mengurus. Kita jalan sedikit saja sudah capek, sekarang harus naik gunung. Untung juga ada heli ya? Jadi kita tidak terlalu capek. Kalau tidak mungkin saya sudah pingsan. Kita bukan jagawana, urusan kita administrasi, umur juga sudah mulai lanjut. Jadi harus sadar diri. Kerja berat harus mulai agak dikurangi. Memang kalau melihat honornya ya lumayan lo sebenarnya.”

* * *

Sejak dua hari sebelum acara berlangsung, pengunjung sudah berdatangan ke Alun-alun Surya Kencana di Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango. Mereka membawa tenda, logistik, dan peralatan memasak. Hampir semuanya menyewa porter. Puncak kedatangan pengunjung adalah sehari sebelum acara berlangsung. Banyak di antara mereka akan mulai mendaki dari Gunung Putri sore hari, paginya menghadiri acara dan langsung turun. Panitia menyediakan heli khusus untuk mengangkut mereka yang kecapekan dan sakit, serta mendatangkan logistik. Potongan drum untuk tempat api unggun diperbanyak, sebab mereka yang datang pada dinihari diperkirakan akan sangat kedinginan hingga memerlukan penghangat. Pedagang sarapan, mulai dari bubur ayam, nasi uduk, nasi goreng, ketupat sayur, didatangkan. Hingga para pengunjung yang baru saja datang dan tidak membawa logistik tidak akan kelaparan. “Surya Kencana memang agak beda dengan Tengger. Tengger memang bisa massal, dan murah. Ini lain. Semua harus diangkut dengan heli. Mereka yang ingin datang harus naik heli atau jalan kaki naik gunung. Jadi meskipun skalanya lebih kecil, kualitas acara ini diharapkan lebih unggul.”

“Benarkah ini acara kampanyenya Ibu Mega? Mengapa Tuhan Jesus Kristus kita mau mendampingi Ibu Mega berkampanye? Ketika di tengger Pak SBY hadir sebagai Presiden RI. Ketika di Parangtritis, Sultan Hamengku Buwono X hadir selaku Gubernur DIY. Sekarang ini, Ibu Megawati hadir di Alun-alun Surya Kencana sebagai Ketua PDI Perjuangan, sekaligus sebagai kandidat presiden dalam Pilpres 2009 bukan? Itulah yang saya herankan, mengapa Tuhan Jesus Kristus kita bersedia dimanfaatkan oleh Ibu Mega ya? Apa kelas beliau tidak turun? Harusnya kalau Tuhan Jesus Kristus kita itu mau turun tangan, ketika Barack Obama dari Partai Demokrat di AS berkampanye, beliau menemani. Jadi martabat beliau tidak turun. Sekarang ini, beliau hadir di negeri dengan mayoritas penduduknya Muslim, dan menemani salah satu Capres yang juga Muslim. Inilah yang saya sebagai umat Kristiani merasa kurang pas. Mengapa beliau tidak mendukung Partai Damai Sejahtera, atau partai-partai lain yang Kristiani? Kalau ada dukungan dari beliau, kan lain? Ini kok malah mendukung partai besar.”

Dini hari, Alun-alun yang tinggi, dingin, tetapi terang benderang. Suasananya seperti pasar malam, tetapi tidak berisik. Balai Taman Nasional memang tidak mengijinkan adanya bunyi-bunyian, radio, dan lain-lain sebelum dan sesudah acara berlangsung. Selama acara berlangsung, penggunaan pengeras suara juga dibatasi, cukup bisa didengarkan dalam jarak dekat, dan tidak sampai menimbulkan satwa liar terganggu. Menjelang pagi, pengunjung yang tiba di alun-alun semakin banyak. Sejak setengah enam pagi, heli sudah mulai datang untuk membawa peralatan yang masih harus didatangkan. Pukul tujuh pagi, tamu-tamu juga mulai didatangkan dengan heli. Dimulai dari yang kurang penting, lalu agak penting, sampai tamu-tamu yang sangat penting. Mereka dipersilakan melihat-lihat pemandangan di Alun-alun, atau langsung duduk di tenda yang sudah disediakan. Pukul setengah sepuluh, Megawati turun dari helipad dan dikawal menuju kursi kehormatan. Pukul sepuluh kurang seperempat Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam juga turun dari heli, dan segera diantar ke kursi kehormatan.

Para wartawan dalam dan luar negeri, diberi kesempatan mengabadikan Megawati bersalaman dengan Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam. Tidak ada sambutan macam-macam, pukul sepuluh tepat, pembawa acara mengumumkan, bahwa Ibu Megawati Soekarno Puteri, Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Calon Presiden dalam Pemilihan Presiden RI 2009, akan tampil ke panggung untuk berpidato. Dia bangkit dari tempat duduknya, menghadap ke Nabi Isa, membungkukkan badan, lalu didampingi dua ajudan menuju panggung. Ketika menaiki tangga panggung, salah satu ajudan menuntunnya. Di depan podium yang sudah disediakan, Ketua PDI Perjuangan itu diam sejenak. Ajudan meletakkan teks pidato persis di depan Megawati, sambil menunjukkan mana yang harus dibaca. Megawati membetulkan letak kacamatanya, menatap seluruh audiens, mengangkat tangan kanannya ke atas, mengepalkannya, lalu berteriak keras: “Merdeka!”, dan serentak seluruh pengunjung menyambutnya “Merdeka!”  Sekali lagi Megawati berteriak “Merdeka!” sambil tetap mengacungkan tangan kanannya yang terkepal. Massa menyambutnya “Merdeka!” Demikian dilakukannya sampai sebanyak tiga kali.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Massa serentak menjawab. “Walaikumssalam!” Mega melanjutkan. “Terimakasih, terimakasih. Pertama-tama, saya selaku Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, menghaturkan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya, kepada Yang Mulia, Nabi Isa Alaihissalam, yang telah berkenan hadir di antara kita semua. Selamat datang di Indonesia, khususnya di Alun-alun Surya Kencana. Yang Mulia, dan saudara-saudara semua, saya tidak perlu bercerita panjang lebar. Saudara-saudara semua telah sama-sama mengalami, bagaimana kondisi kehidupan kita semua selama lima tahun terakhir ini. Bencana silih datang berganti-ganti, PHK terjadi di mana-mana, harga sembako juga semakin melambung, dan kehidupan rakyat kecil menjadi semakin sulit. Apakah kalian semua mau semua ini segara berubah?” Massa menjawab serentak “Mau!” Megawati melanjutkan. “Baiklah. Kita harus sama-sama mengubah keadaan ini hingga menjadi lebih baik dalam lima tahun yang akan datang. Apakah saudara-saudara semua bersama saya siap untuk mengubah keadaan ini? Bagaimana? Siap?” Massa menjawab serentak “Siap!!!” Megawati melanjutkan lagi. “Apakah saudara-saudara siap memenangkan PDI Perjuangan dalam Pemilu 2009. Baimana? Siap?” Masa serentak menjawab. “Siap!!!”  Mega mengakhiri. “Terimakasih, Walaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh!”

Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam, menyalami Megawati, yang baru saja turun dari panggung. Pembawa acara mengumumkan, bahwa Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam, berkenan untuk naik ke atas panggung dan berbicara. Jesus lalu berjalan ke atas panggung, juga diapit oleh panitia. Di atas panggung, Jesus meraih mik, menarik kabelnya hingga putus, lalu melemparkannya ke samping. “Ini alat buatan manusia, saya akan berbicara pelan-pelan saja tanpa alat ini. Apakah yang di sana bisa mendengar?” Serentak massa menjawab. “Bisa!” Jesus melanjutkan. “Tolong, panitia mematikan kamera itu.” Panitia lalu mematikan kamera. Tetapi gambar di layar tetap kelihatan. Pengeras suara juga tetap hidup. Sementara panitia dan teknisi masih kebingungan, Jesus melanjutkan. “Marilah kita kembali lebih percaya kepada kebaikan Allah, dan bukan lebih percaya kepada benda-benda buatan manusia. Marilah kita kembali berbuat baik seperti kebaikan yang telah digariskan oleh Allah, dan bukan kebaikan yang dibuat oleh manusia. Apakah kalian masih mendengarkan saya? Apakah kalian masih mendengarkan?”  Serentak massa menjawab. “Mendengar!” Jesus melanjutkan. “Baiklah, saya akan melanjutkan ……….”  * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: