Proyek A

21/05/2014 at 10:37 (novel)

Ki Gendheng Saèstu dan Ki Dhudha Bodho, manggut-manggut. “Kami siap untuk menangkapnya. Ini memang bukan urusan polisi, tetapi tugas kami. Tetapi bagaimana dengan KWI, PGI dan MUI? O, begitu. Jadi yang melapor ke polisi malah justru tiga lembaga ini. Kalau demikian halnya, kami berani melaksanakan. Kalau ini hanya perintah Kapolri, atau malah Presiden sekali pun, kami tetap takut. Sebab andaikan KWI, PGI dan MUI marah, yang kemudian diikuti oleh umat Katolik, Protestan dan terutama umat Islam di seluruh Indonesia, habislah kami. Bapak-bapak dan ibu-ibu semua juga harus percaya pada kami berdua. Yang perlu dicatat, yang akan bekerja bukan hanya kami berdua melainkan ada sekitar 23 orang teman, jadi termasuk kami berdua total akan ada tim beranggotakan 25 orang. Tim ini akan dipecah masing-masing lima orang yang akan menangani empat arah mata angin. Dua orang akan menjadi koordinator tim berikut wakilnya, dan tiga orang, termasuk kami berdua yang akan bertanggungjawab terhadap keseluruhan operasi ini. Kami yang akan sepenuhnya mengendalikan.”

Eddy Gombal adalah Kolonel AD desersi, sementara Petrus Wedhus Letnan Dua desersi. Mereka berdua juga manggut-manggut. “Kami ini sudah berpengalaman merekrut dan menggerakkan Korlap. Kami berdua ini ibarat siluman. Jejak kami selalu terlihat, tetapi kami berdua selalu selamat. Yang ditangkap, yang dihukum mati, yang ikut meledak bersama bom, bukan kami melainkan para kroco itu. Kami berdua adalah “untouchables”. Sebenarnya di belakang kami ada seorang Brigjen Purnawirawan yang sangat peduli dengan rakyat kecil, baliau sangat menginginkan adanya perubahan. Beliau sangat prihatin dengan kondisi negara, lebih khusus lagi dengan kondisi TNI yang menurut beliau sudah sangat bobrok. Beliau miskin, sangat militan, dan kalau perlu juga bersedia gugur demi perjuangan. Kami semua non partisan, non sektarian. Ideologi kami adalah profesionalitas. Bisnis kami adalah demo, kerusuhan, penculikan, teror, dan pembunuhan. Tetapi kami tidak bertanggungjawab terhadap dampak dari perbuatan kami. Itu 100% tanggungjawab pemberi order. Sukses melaksanakan tugas, bagi kami lebih penting dari pada uang.”

“Nama saya Suwito. Ideologi saya uang. Bisnis saya apa saja asal menghasilkan uang. Agama saya menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang. Agama saya? Jelas Agama Islam. Ini bukan Islam yang disyiarkan oleh Nabi Muhammad SAW, melainkan Ingsun Slamet. Ingsun itu saya, slamet itu selamat. Jadi agama saya, yang penting saya selamat. Orang lain celaka, masuk bui, mati dan masuk neraka, bukan urusan saya. Agama saya tidak punya Nabi, tidak punya kitab. Tempat ibadah saya ada di mana-mana. Di restoran, di lobby dan kamar hotel, di panti pijat, di lokalisasi PSK, di kantor partai politik, di rumah tokoh tim sukses. Ibadah kami adalah mengintimidasi siapa saja sesuai order, meneror siapa saja sesuai pesanan, tetapi saya tidak suka kekerasan, apalagi pembunuhan. Biarkan saya orang-orang itu menjadi tua dan mati dengan sendirinya. Itu lebih menghemat waktu, tenaga, dan ongkos. Soal pembunuhan dan penghilangan jejak, urusan Eddy Gombal dan kawan-kawan. Saya tidak mau urusan yang seperti itu. Bagi saya yang penting ada uang masuk, lalu order sudah dilaksanakan. Siapa yang melaksanakan, bagi saya tidak penting.”

“Order membunuh Nabi Isa Alaihissalam? Kalau bisa menangkap hidup-hidup? Kalian sudah gila semua ya? Saya memang algojo. Tetapi saya pilih-pilih order. Saya hanya mau membunuh orang, kalau yang bersangkutan memang bersalah, dan merugikan rakyat banyak. Biasanya saya terima order justru dari polisi. Mereka mengatakan begini. Orang seperti ini, kalau ditangkap, kemudian diadili, paling lama kan dihukum sekitar lima tahun. Lalu setelah dipotong remisi dan lain-lain, paling lama ia menjalani hukuman tiga tahun. Kalau dia rajin nyogok jaksa, dan orang-orang Lembaga Pemasyarakatan, maka dua sampai dua setengah tahun sudah bisa bebas, lalu kembali berkarya. Maka, para polisi lalu memberi mandat kepada saya untuk segera memensiunkan orang-orang seperti ini. Saya bebas. Mau saya tembak, saya tikam, saya kerjai hingga mobilnya kecelakaan, saya racun, tidak jadi masalah. Anggaran dari Polisi biasanya sangat terbatas. Maka saya juga diberi keleluasaan oleh Polisi untuk fundraising. Biasanya saya lalu menghubungi para pihak yang selama ini dirugikan oleh yang bersangkutan. Tetapi membunuh Nabi Isa Alaihissalam? Sorry ya!”

“Pak Wis, Pak Wis, saya dengar info, katanya ada gerakan untuk membunuh Nabi Isa Alaihissalam. Ini bagaimana Pak Wis? Yang bertanggung jawab terhadap keselamatan beliau adalah PT Garuda Perkasa Entertainment. Kita bisa repot kalau sampai upaya pembunuhan ini berhasil. Pak Wis tidak takut? Mengapa Pak Wis? Memang kadang-kadang efek dari teror itu lebih jahat dari pada tindakan langsungnya. Sebagai staf PT Garuda Perkasa Entertainment, saya tetap akan menjalankan tugas sebaik mungkin. Hanya sedikit banyak, kinerja saya akan terganggu. Mungkin memang itu yang diharapkan oleh para penebar teror itu ya? Saya tidak tahu siapa dalang dari aktivitas ini. Golkar? Ah, tidak mungkin Pak Wis. Sejak awal kita kan sudah mengagendakan acara penampilan Nabi Isa dengan pak JK. Tidak mungkin Pak Wis. KWI dan PGI? Saya juga agak ragu-ragu kalau mereka berbuat sejauh itu. Ah, terserahlah, saya tidak peduli siapa pelakunya, siapa dalangnya, sebagai staf PT Garuda, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengamankan beliau. Pak Wis, mengapa sebagian besar bangsa ini masih tidak percaya kalau yang kita datangkan ini benar Nabi Isa ya?”

“Beres Pak Dé. Saya sudah drop ke mereka semua. Baru separo memang. O, saya tidak berani langsung ngedrop penuh ke mereka. Takutnya begitu sudah didrop 100%, mereka foya-foya lalu tidur. Jadi biar saja. Janji saya ke mereka. Kalau mereka berhasil, baru yang 50% bisa mereka ambil. Lo, Nabi Isa, Jesus Kristus itu kan juga manusia kan? Memang saya tahu Pak Dé, maka saya minta Ki Gendheng Saestu, dan Ki Dhudho Bodho, untuk membantu manangani hal ini. Yang saya dengar, mereka akan mengerahkan sampai 20 paranormal untuk membackup proyek ini. Kata Kolonel Eddy, proyek ini dia beri nama Proyek A. Tidak tahu mengapa Pak Eddy menamakannya begitu. Bagi saya yang penting dengan kehadiran Pak Eddy, dengan adanya Ki Gendheng Saestu, peluang untuk gagal menjadi sangat kecil. Saya memang belum ambil Pak Dé. Ya uang dari Pak Dé itu cukup. Kan masih ada sisa proyek Medan kemarin Pak Dé. Memang KWI dan PGI juga sudah menyiapkan. Bukan formal Pak De, ya orang-orang dalamlah. Tetapi secara formal memang tidak melibatkan dua lembaga ini.”

* * *

Rapat konsultasi antara KWI, PGI dan MUI, di Departemen Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta. Rapat membahas isu akan adanya penangkapan dan pembunuhan terhadap Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam. Rapat dipimpin oleh Sekjen Departemen Agama, mewakili Menteri Agama yang berhalangan hadir karena harus mendampingi Wakil Presiden yang sedang mengadakan kunjungan ke Aceh. Sekretaris Eksekutif KWI, mewakili Ketua dan Sekjen KWI yang juga berhalangan hadir melaporkan adanya gerakan lintas agama yang liar dan tidak terkontrol. Mereka masing-masing mengatasnamakan Katolik, Protestan dan Islam, lalu merencanakan pembunuhan terhadap orang yang selama ini menamakan dirinya Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam. Sekjen PGI yang juga mewakili Ketua PGI yang sedang berada di New York, juga melaporkan hal yang sama. Pihak Protestan yang terlibat dengan aktivitas liar ini cukup banyak, tetapi mereka sebenarnya kelompok minoritas. HKBP, yang merupakan gereja Lutheran satu-satunya di Indonesia, Gereja Kristen Calvinis yang terbanyak pengikutnya di Indonesia, sama sekali tidak terlibat. PGI sedang meneliti, kelompok mana saja yang terlibat dengan agenda ini.

Salah seorang wakil ketua MUI, yang mewakili Ketua MUI yang juga berhalangan hadir, dengan tegas menyatakan, bahwa mereka tidak ada urusan dengan acara Nabi Isa Alaihissalam, dan juga tidak tahu menahu dengan adanya rencana pembunuhan. Hingga mereka yang terlibat dengan rencana pembunuhan ini, adalah oknum yang mengatasnamakan MUI. Maka dengan ini MUI menyatakan tidak bertanggungjawab atas segala hal yang akan terjadi sebagai dampak dari aktivitas oknum tersebut. MUI akan mengambil segala tindakan terhadap karyawan, staf dan segenap jajaran pimpinan MUI yang diketahui ikut terlibat dengan permasalahan ini. Ketua MUI telah memberikan pengarahan kepada para ulama di seluruh Indonesia, agar tidak gegabah, dan mengambil tindakan sendiri-sendiri. Semua harus terkoordinasi dengan aparat terkait, khususnya aparat Departemen Agama, aparat Pemerintah daerah, dan MUI sendiri. Maka, dengan ini MUI menghimbau kepada seluruh umat Islam di Indonesia, agar tetap tenang, namun bersikap waspada terhadap aneka hasutan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Selesai rapat konsultasi, KWI, PGI dan MUI mengadakan jumpa pers. Wakil Ketua MUI menjadi juru bicara, didampingi Sekretaris Eksekutif KWI, Sekjen PGI dan Sekjen Departemen Agama. “Saudara-saudara, saya telah ditunjuk oleh rekan-rekan dari KWI dan PGI, untuk menjadi juru bicara dalam acara jumpa pers ini. Ya, saya sendiri dari MUI. Ini Bapak Sekjen Departemen Agama mewakili Bapak Menteri. Dari KWI ini rekan Sekretaris Eksekutif, dan dari PGI Sekjennya. Tadi baru saja kami mengadakan rapat konsultatif, sehubungan maraknya pemberitaan tentang acara penampilan orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus, atau Isa Al Masih. Kami sengaja menyebut beliau dengan orang yang menamakan dirinya sebagai Jesus Kristus alias Isa Al Masih, sebab kami belum punya cukup bukti, bahwa yang hadir itu benar Jesus Kristus, dan atau Nabi Isa Al Masih Alaihissalam. Kapan kami akan bisa diyakinkan, kami sendiri tidak tahu. Kemungkinan besar, yang selama ini diributkan oleh media massa itu, justru hanya seorang aktor, atau tukang sulap semacam David Copperfield. Mengapa kami beranggapan demikian? Ya karena sekarang ini peralatan sulap sudah sedemikian canggihnya, hingga apa pun bisa dilakukan ……..”

Belum selesai Wakil Ketua MUI itu berbicara, di sebuah kursi yang masih kosong, di deretan kursi wartawan paling depan, tiba-tiba telah duduk Jesus Kristus alias Isa Al Masih. Para wartawan gaduh dan sibuk mengabadikan. Para tokoh yang sedang duduk di depan, mereka abaikan. Sampai Sekjen Departemen Agama mengetuk-ngetukkan palu ke atas meja. “Saudara-saudara saya harap tenang ya. Tenang, ini kantor bukan pasar. Tolong ya kembali ke tempat masing-masing.” Mereka sebenarnya juga kaget, karena tiba-tiba saja orang yang mereka sebut-sebut itu sudan berada di antara mereka. “Ini sulap apa lagi, siapa di antara kalian yang telah menjadi agen mereka? Kok tiba-tiba dia bisa hadir di sini? Tolong segera dipanggilkan satpam.” Jesus memandang mereka yang ada di depan dengan sorot mata tajam. “Tidak usah kalian panik dan takut. Aku tidak akan menyantap kalian. Aku bukan tukang sulap, dan juga bukan aktor. Aku juga tidak pernah menamakan diriku sebagai Jesus Kristus, apalagi sebagai Isa Al Masih. Sebab yang memberi nama saya jelas ayah ibu saya, juga para pengikut saya, atas petunjuk Allah. Saya juga tahu kalian tidak suka dengan kehadiran saya di sini.”

“Tidak usah memanggil satpam atau polisi untuk menangkap saya. Kalau kalian ingin membunuh saya, tidak usah menyuruh orang lain, silakan bunuh sekarang juga. Itu di meja kelian telah saya sediakan alat pembunuh. Ada pistol, bedil, golok, pedang, pisau, racun serangga, tali untuk menjerat leher. Mau apa lagi?” Tiba-tiba di atas meja, di depan para pejabat itu, telah tersedia pestol, senapan, magasen, amunisi, pisau, golok pemotong daging, pedang, tali, dan racun serangga serta gelasnya. Para wartawan gaduh. Para pejabat di depan mereka termangu-mangu, wajah mereka agak pucat. “Kelihatan kalian tidak berani bukan? Kalau begitu saya akan panggilkan para algojo kalian. Tolong para wartawan agak mundur sedikit. Ya silakan. Di sisi kiri ruang pertemuan itu tiba-tiba telah berderat, Ki Gendeng Saèstu, Ki Dhudha Bodho, Kolonel desersi Eddy Gombal, Letnan Dua desersi Petrus Wedhus, dan Suwito. Mereka terheran-heran, mengapa sekarang berada di satu ruangan yang asing. Jesus mendekati mereka, dan menyalaminya satu per satu sambil memperkenalkan diri. “Saya Jesus Kristus, Isa Al Masih.”

“Bapak-bapak, itu di meja sana ada alat untuk membunuh saya. Tidak usah saya disantet. Silakan tembak, tusuk atau bacok. Kalau Anda semua mengira saya bukan Jesus tetapi jagoan, itu di pojokan ada ranting bambu wulung, ada pelepah keladi, dan ranting serta daun kelor. Mau apa lagi? Lo kok tidak kunjung ada yang mau membunuh? Apa perlu satu regu eksekutor?” Tiba-tiba di ruang itu sudah ada satu regu pasukan entah apa yang bertubuh kekar. Para wartawan sibuk memotret, dan mengabadikan adegan ini dengan kamera tivi mereka. “Tidak ada yang berminat? Silakan ayo!” Jesus menyodorkan tangannya ke  para algojo itu, tetapi mereka tetap saja diam. “Benar tidak ada yang mau? Kalau demikian, saya akan pergi. Selamat tinggal.” Sosok Jesus itu tiba-tiba menghilang. Ia kembali ke Wisma Medinilla di Kebun Raya Cibodas. Mereka yang berada di ruang jumpa pers itu kebingungan. “Ini senjata ini mau diapakan ini?” Tanya yang satu. “Lo, kok saya tiba-tiba ada di sini ini bagaimana?” Tanya yang lain. “Pak Suwito kok juga ada di sini sih?”

* * *

Ruang tengah lantai satu, Wisma Medinilla, Kebun Raya Cibodas, malam itu terang benderang. Api di perapian sudah menyala. Api itu bukan hanya menyala, tetapi sudah membara. Kayu yang dimasukkan ke dalam perapian, akan langsung terbakar. Jagung manis dan ubi cilembu sudah disiapkan untuk dibakar. Seorang petugas wisma, dan pembantu yang dibawa panitia, standby untuk melayani para tamu. Kopi, teh, jahe panas tinggal menyeduh. Jesus duduk di salah satu kursi. Di kursi lain juga duduk panitia, staf PT Garuda Perkasa Entertainment, dan beberapa karyawan kebun raya. Di luar sana kabut turun disertai gerimis. Angin juga bertiup sangat kencang. Jendela-jendela dan pintu ditutup rapat, agar angin dingin itu tidak menyerbu masuk. Para karyawan kebun raya itu heran. Tamu ini seperti orang bule, tetapi kok bisa bahasa Indonesia, malahan juga fasih ngomong Sunda? Dan seperti yang mereka lihat di tivi, katanya ini Nabi Isa Alaihissalam. Mereka lalu memberanikan diri untuk bertanya.

“Mohon maaf Tuan ya, apakah memang benar Tuan ini Nabi Isa Alaihissalam? Kalau benar, bagaimana Tuan bisa berbahasa Indonesia, dan juga Sunda?” Jesus menjawab. “Terimakasih. Ini Pak siapa? Pak Anih? Itu Pak siapa? Pak Usep. Yang itu siapa? Pak Nana. Ya, benar, saya Nabi Isa. Mengapa bisa berbahasa Indonesia, kemudian Sunda? Saya akan ganti bertanya. Pak Anih, Pak Usep dan Pak Nana kerjanya apa? Merawat pohon dan tanaman. Apakah tanaman bisa berbicara bahasa manusia? Tidak? Oke. Apakah Pak Anih, Pak Usep dan Pak Nana menguasai bahasa pohon? Tidak? Oke. Apakah Bapak-bapak ini sering berkomunikasi dengan pohon-pohon itu? Setiap hari? Kok bisa? Berkomunikasi dengan hati. Persis Pak Anih, Pak Usep dan Pak Nana, berkomuninasi dengan hati. Jadi yang penting ya Pak, bukan soal bisa berbahasa Inggris, Arab, atau China, melainkan, bagaimana kita bisa berbicara dengan hati. Memang benar juga, kalau Nabi, mau berbicara dengan bahasa apa saja bisa. Ya, siapa Pak? Nabi Sulaiman? Benar, Nabi Sulaiman Alaihissalam, malahan bisa berkomunikasi dengan segala macam binatang ……….”

Gubrak! Tiba-tiba pintu depan, dan belakang wisma, serentak dibuka dengan paksa dari luar. Angin dingin dengan kabut dan gerimis menyerbu masuk. Sekitar dua puluh orang berseragam tentara, tetapi tanpa tanda pangkat dan identitas, berlarian masuk. Seragam dan sepatu lars mereka basah kuyup. Tangan mereka masing-masing memegang M16 yang sudah terkokang dan siap ditembakkan. Salah seorang di antara mereka, mengenakan jas hujan. Di tangannya tergenggam tongkat komando. Tampaknya ia komandan pasukan tak beridentitas ini. “Mana yang bernama Jesus Kristus, alias Isa Al Masih? Ini ya?” Komandan tadi menuding Jesus yang duduk di kursi, dengan tongkat komandonya. “Yang lain silakan minggir ke sini, ya ke arah sini.” Orang-orang yang duduk mengelilingi Jesus itu ketakutan, dan minggir ke arah kiri. Tiga orang anggota pasukan memegang lengan Jesus, menariknya berdiri dari kursi, lalu menyeret dan mendorong ke arah tembok di dekat perapian. “Cukup! Tembak……..!!!”

Pasukan tak dikenal itu mengacungkan M16 mereka, lalu terdengar berondongan peluru, disertai gemerincing selongsongan yang berhamburan di lantai. Suara tembakan beruntun dari belasan senapan M16 itu benar-benar memekakkan telinga. “Cukup! Lo, benar dia  tidak mempan peluru. Berarti benar dia mengenakan Kutang Onto Kusumo, atau Kulit Kerbau Landoh! Seret dan bawa dia!” Empat orang lalu menggelandang Jesus keluar ruangan. Mereka menggunakan lima buah jip yang diparkir di halaman belakang. Dalam deras gerimis, angin dan kabut Cibodas yang dingin, mesin jip itu menderu, lalu menjauh, menuruni kawasan kebun raya. Orang-orang yang berada dalam Wisma Medinilla masih kebingungan. Mereka yang di Wisma Sakura juga berhamburan keluar, menuju Wisma Medinilla. Di tengah kebingungan dan ketakutan itu, Jesus menenangkan. “Sudah, jangan takut, mereka sudah pergi. Ayo kita duduk-duduk lagi, dan melanjutkan cerita kita, melanjutkan makan jagung bakar, dan minum jahe panas. Ayo, mereka sudah jauh, dan tidak akan datang lagi, karena aku juga tetap akan bersama mereka.”

Malam itu gerimis terus turun berkepanjangan disertai angin kencang. Kadang gerimis itu sebentar berubah menjadi hujan yang sangat deras. Kilat dan petir silih berganti. Cuaca Cibodas terasa makin dingin. Panitia menghubungi aparat keamanan di Kabupaten Cianjur. Tidak lama kemudian tiga peleton anggota brimob datang ke areal Kebun Raya Cibodas. Satu peleton menjaga pintu masuk di jalan raya Cimacan, satu peleton berada di pintu masuk kebun raya, dan satu peleton lagi berada di sekeliling Wisma Medinilla dan Sakura. Beberapa anggota Brimob diminta ke dalam, karena para karyawan kebun raya itu masih ketakutan. Mereka tidak bersedia berada di dalam, lalu duduk-duduk di beranda depan dan belakang. Malam itu gerimis terus berlanjut. Sungai Ciliwung meluap, dan Jakarta Banjir. Burung hantu bertengger di sebuah cabang mati, sambil matanya mengawasi rumput di bawahnya. Dia tidak terlalu peduli dengan hujan. Ia berharap di rumputan itu melintas tikus, atau ular    untuk disambarnya.

Tetapi tikus dan ular itu ternyata lebih senang berada dalam lubang mereka yang aman. Biasanya ketika hujan sudah reda, ketika langit kembali cerah, lalu bintang, juga bulan, berpendaran di atas sana, maka tikus-tikus itu akan mulai memburu apa saja yang bisa dimakan. Terutama sisa-sisa makanan yang ditinggalkan para pengunjung berceceran di rumputan itu. Ular juga tahu, hingga ketika itulah ia akan keluar untuk menyergap tikus itu. Sebenarnya burung hantu itu juga tahu, bahwa sekarang ini belum saatnya tikus dan ular itu keluar. Tetapi dia berharap ada kodok yang akan berlompatan keluar dari kolam di bawah sana. Kodok hijau adalah santapan yang cukup lezat, dan biasanya akan senang bercengkerama keluar dari parit dan kolam, justru ketika hujan turun berkepanjangan. Ketika itulah, di bawah lampu kebun raya, kodok-kodok itu, bersama dengan cecak, akan berpesta menyantap serangga malam. Maka burung hantu itu terus saja menunggu, sambil sesekali melengkingkan jeritannya,yang pendek namun keras dan tajam. * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: