Kebun Teh Malabar

28/05/2014 at 16:48 (novel)

Masih ada beberapa acara yang direncanakan akan menampilkan Jesus Kristus. Pertama acara di Gelora Bung Karno di Senayan, yang akan dihadiri khusus oleh para kader Partai Golkar. Ketua Partai diharapkan bisa tampil bersama Jesus Kristus. Kedua, acara di areal persawahan yang baru saja dipanen, di Karawang, yang akan dihadiri oleh para kader Partai Gerindra. Calon presiden dari partai ini, juga diharapkan bisa tampil bersama Jesus Kristus. Tetapi peristiwa penyerbuan di Wisma Medinilla di Cibodas itu, telah membuat panitia was-was. “Saya tidak takut dengan keselamatan Beliau, tetapi keselamatan massa. Kalau orang-orang itu nekad, maka massa akan menjadi korban, dan kita semua yang repot. Jadi untuk sementara kita harus membiarkan semua mengendap terlebih dahulu. Tidak, kita jangan memutuskan acara itu batal. Kita katakan ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan. Mereka memang terdesak jadwal Pilpres bulan Juli, tetapi kita yang menentukan. Bukan sebaliknya. Jadi tidak usah takut. Sponsor? Kontrak kita menyebut minimal tiga kali tampil, dan itu sudah kita laksanakan.”

Sudah beberapa hari ini Kebun Raya Cibodas sepi. Pengelola kebun raya telah menutup tempat kebun koleksi tumbuh-tumbuhan ini bagi pengunjung yang akan berekreasi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, lembaga induk dari Kebun Raya Cibodas, kemudian menyatakan keberatan kalau Jesus Kristus tetap tinggal di Wisma Medinilla. “Kalau pengunjung tetap diijinkan masuk, keamanan para pengunjung itu sendiri tidak terjamin. Sebab bisa saja ada tim pembunuh bayaran yang ikut menyusup masuk. Kalau Kebun Raya ditutup untuk umum, sampai kapan? Dan Kebun Raya akan merugi, karena tidak ada uang masuk. Pemerintah Kabupaten Cianjur juga keberatan, karena retribusi macet. Tukang parkir, penjual makanan dan suvenir juga tidak bisa mendapat rejeki.” Maka panitia dan PT Garuda Perkasa Entertainment memutuskan untuk memindahkan akomodasi tamu agung ini ke lokasi yang juga dirahasiakan. Sebuah helipad darurat dibangun di dekat gerbang masuk kebun raya. Di sana, di dekat kolam dengan air mancur, ada lapangan yang relatif datar. Besuk pagi, Wisma Medinilla dan Sakura di Kebun Raya Cibodas, harus sudah dikosongkan.

Seorang pedagang bakso di pinggiran tempat parkir berharap. “Ini hari Selasa. Kalau Sabtu ini kebun raya jadi dibuka, lumayan. Pasti pengunjung akan penuh. Hingga dua hari itu, Sabtu dan Minggu saya akan bisa sedikit menutup kerugian selama kebun raya ditutup. Memang waktu ada acara di Surya Kencana itu, saya juga panen. Meskipun pengunjung paling banyak berangkat dari Gunung Putri, tetapi yang dari Cibodas juga masih banyak. Pokoknya selama lima hari di sekitar acara di Surya Kencana itu pedagang makanan di sini benar-benar panen. Lalu ketika kebun raya ditutup, kami paceklik. Mudah-mudahan Sabtu dan Minggu besuk ini kami sudah bisa jualan dengan normal. Seperti ini biasalah Pak. Kadang pas liburan sekolah justru sepi. Kadang hari biasa malah ramai sekali. Memang orang cari makan itu ada pasang-surutnya. Saya tidak menyalahkan panitia, tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak menyalahkan Ibu Mega, yang salah saya sendiri mengapa mau jadi tukang bakso, dan mengapa mau jualan di sini. Coba saya jadi karyawan kebun raya di dalam sana! Ada atau tidak ada pengunjung, tetap akan terima gaji. Tidak ada pengunjung malah justru enak. Kebun tetap bersih, tidak ada tanaman yang rusak.”

“Kang Anih, kita ini ternyata hebat ya? Kata Nabi Isa itu, kita hebat karena bisa bercakap-cakap dengan pohon. Apa? Kamu bilang bercakap-cakap dengan batu juga bisa? Tetapi batunya akan tetap diam saja, tidak bisa menjawab. O, iya, ya. Pohon juga begitu ya? Tetapi pohon itu hidup kang Anih. Batu tidak hidup. Kamu bilang batu juga hidup? Hidup bagaimana? O, ia keluar dari perut bumi masih panas, masih cair, lalu dingin dan membeku, lalu menggelinding-menggelinding. Itu yang kamu bilang hidup? Terserahlah. Kalau pohon, tanaman, kalau kita ajak ngomong, kita sayangi dengan sepenuh hati, memang akan tampak senang lalu tumbuh subur. Saya itu punya tanaman kuping gajah di rumah. Kalau tanaman itu saya diamkan saja, tidak pernah saya urus, atau saya urus ala kadarnya, tumbuhnya juga hanya ala kadarnya. Ketika saya merawatnya dengan sungguh-sungguh, pohon itu juga tumbuh dengan subur, daunnya lebar-lebar dan banyak, warna hijaunya mulus seperti beludru, alur urat daunnya yang putih juga seperti perak. Benar lho Kang Anih!”

“Ya sono kamu nyusul Nabi Isa ke surga sono! Nyusul ke surga berarti kamu harus mati dulu. Mau mati cepat? Beli racun tikus atau nyamuk, dan minum. Kamu akan ketemu Nabi Isa Alaihissalam. Yang kemarin nginep di wisma? Iya benar. Itu kan lagi inspeksi mendadak, sidak! Sekarang ya sudah pulang ke surga sana. Naik apa? Lo, Sep, kamu tidak tahu tadi itu helikopter turun di dekat gerbang sana. Itu kan membawa Nabi Isa. Ya dibawa terbang ke langit sana. Turunnya di mana? Ya tidak turun-turun. Helikopternya itu terus terbang tinggi, sampai ke dekat matahari sana, lalu pintu dibuka, dan Nabi Isa keluar masuk ke pintu surga. Malaikat Jibril sudah menyambut membukakan pintu. Kamu mau nyusul ke sana? Kalau orang seperti kamu itu harus mati dulu. Tidak bisa seperti Nabi Isa terbang pakai helikopter lalu mengetuk-ngetuk pintu seperti kamu pulang ronda. Nabi Isa itu memang diistimewakan sama Allah, hingga dia sampai sekarang belum mati-mati. Nabi Isa baru akan mati, nanti setelah datang hari kiamat. Kapan? Lha kamu kemarin tidak mau tanya langsung ke Nabi Isa.”

Setelah tamu-tamu itu meninggalkan wisma, Mang Kukuh mengambil sprei, sarung bantal, dan handuk, untuk dicuci. Sampai di kamar depan lantai dua Wisma Medinilla, ia kaget sebab melihat handuk itu kotor. Ia mengambil handuk itu, membentangkannya, sambil mengamati. “Lho, ini bukan kotor melainkan ada gambarnya. Lho, ini kan gambar Nabi Isa yang menghuni kamar ini? Wah, gawat. Saya harus lapor ke Ibu Cicih, staf kebun raya yang khusus menangani wisma. Ibu, ini bukan salah saya lho ibu. Tadi setelah para tamu itu pergi, saya membersihkan semua kamar. Di kamar depan lantai dua Medinilla, saya menemukan ini ibu. Saya temukan, handuk ini sudah seperti ini. Jadi bukan saya yang mengotorinya. Saya tidak akan dihukum kan ibu? Maka handuk ini saya serahkan ibu ya? Kalau saya harus mengganti harga handuk ini tidak apa-apa, tetapi saya jangan dipecat ya ibu? Anak saya masih kecil-kecil. Istri saya hanya bisa membantu jualan makanan di rumah. Tolong ya ibu ya?”

* * *

Kebun teh ini berhawa sangat sejuk, sekitar 25° C pada siang hari dan 15° C pada malam hari, karena berada pada ketinggian rata-rata 1.500 meter di atas permukaan laut. Terletak di kawasan Bandung Selatan, Perkebunan Teh Malabar dibangun oleh Karel Albert Rudolf Boscha pada tahun 1890. Meskipun hanya berjarak sekitar 45 km dari Bandung,  untuk sampai ke kebun teh ini bisa makan waktu sekitar tiga jam dari Bandung. Sebab jalanan selalu macet, terutama di pasar Banjaran. Kadang-kadang, mengambil jalan memutar lewat Soreang meskipun lebih jauh, malah cukup lancar. Sebelum sampai ke kebun teh Malabar, kita akan lewat kota kecamatan Pangalengan, yang terkenal karena susu serta kentangnya. Jarak antara Pangalengan dengan Malabar, hanya sekitar dua kilometer. Di kebun teh ini ada Wisma Boscha, atau Wisma Malabar, yang dibangun oleh Karel Albert Rudolf Boscha pada tahun 1894, sebagai rumah pribadinya. Pada tahun itu, Boscha juga mendirikan Wisma Melati I dan II untuk deputy managernya. Dua wisma ini, sampai sekarang kondisinya masih sangat baik. Selain dua wisma ini, sekarang juga ada guest house baru, yang dibangun awal tahun 2000an.

Boscha yang lahir di S’Gravenhage, Negeri Belanda, datang ke Indonesia, yang ketika itu masih bernama Hindia Belanda, pada tahun 1887. Awalnya ia belajar membudidayakan teh di Sinagar, Sukabumi. Tahun 1890, ia membangun perumahan untuk buruh perkebunan dengan arsitektur Sunda, dan selanjutnya membuka hutan untuk ditanami teh. Sejak tahun 1996, Boscha menjadi manajer perkebunan teh Malabar, sampai meninggal tahun 1928. Di Malabar, Boscha juga membuka kebun pembibitan teh, yang sekarang sudah berupa pohon yang menjulang tinggi. Pabrik Teh Tanara, yang kemudian ganti nama menjadi Pabrik Teh Malabar, dibangun tahun 1905.  Sekolah pertama untuk anak-anak buruh perkebunan dan pabrik, dibangun pada tahun 1913, di kebun Ciemas. Boscha juga membangun kolam pemandian air panas alami Tirta Camelia, dan pembangkit listrik tenaga air di Curug Cilaki. Sekarang ini, nama Boscha justru tidak identik dengan teh, melainkan dengan Observatorium Boscha di Lembang, yang juga didirikannya. Selain itu ia juga mendirikan sekolah Bala Keselamatan bagi penyandang tuna rungu dan tuna wicara, Telefoon Maatschappij voor Bandung, serta kompleks Nederlands-Indische Jaarbeurs,yang kini menjadi kantor Kologdam.

Boscha menjadi ketua Biro Spesialis Teh pada tahun 1910, ketua Pertanian Percobaan pada tahun 1917, dan anggota dewan penyantun Tehnische Hogerschool, yang sekarang lebih dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung. Meskipun sukses dalam karir, kehidupan pribadi Boscha tidak terlalu sukses. Ketika datang ke Jawa tahun 1887, Boscha mengajak istrinya, yang hanya tahan tinggal selama tiga bulan di negeri jajahan ini. Ia kemudian memutuskan untuk tidak menikah, namun memelihara nyai. Istilah yang digunakan pada waktu itu, bagi perempuan pribumi yang dijadikan gundik oleh para Toean Olanda. Tahun 1923, Boscha jatuh dari kuda, terkena infeksi, dan kemudiam meninggal. Ia dimakamkan di tengah perkebunan teh Malabar. Makam Boscha yang antik ini berada di bawan pohon-pohon besar, yang menjadi semacam oasis di tengah hamparan terbuka kebun teh yang membentang luas. Di sebelah barat rumah kediaman Boscha, ada sebuah bukit yang disebut Gunung Nini. Disinilah dulu, Boscha sering duduk sambil mengawasi kebun tehnya yang membantang luas dari Situ Cileunca di timur laut, sampai Gunung Wayang dan Windu di barat daya sana.

Sejak nasionalisasi perkabunan asing tahun 1957, Perkebunan Teh Malabar dikuasai oleh pemerintah, dan sekarang menjadi Badan Hukum Milik Negara, di bawah PT Perkebunan Nusantara VIII, Jawa Barat. Rumah dan makam Boscha, Wisma Melati, pembangkit listrik kincir air, kolam renang air panas, perumahan karyawan, dan bangunan gedung Sekolah Rakyat, semua peninggalan Boscha itu sampai sekarang masih utuh. Rumah Boscha memang pernah terbakar sebagian, tetapi kemudian dibangun kembali, tetap dengan arsitektur aslinya. Di rumah ini kita masih bisa menjumpai barang-barang peninggalan Boscha. Mulai dari mebel, foto-foto, jam, dan piano. Banyak karyawan perkebunan yang percaya, bahwa sampai sekarang Roh Boscha masih terus hidup dan menyertai mereka mengelola perkebunan teh Malabar. Makam Boscha sendiri, sampai sekarang juga menjadi salah satu obyek wisata yang menarik. Banyak juga yang datang ke makam ini untuk berziarah, sambil membawa cerutu, wisky, apel dan anggur merah kesukaan Sang Boss Besar. Cerutu itu harus dinyalakan, dan Juru Kunci makam akan berkomunikasi dengan Boscha dalam Bahasa Belanda.

Sejak tiga hari belakangan ini, di lingkungan Perkebunan Teh Malabar, sibuk luar biasa. Kebun bibit teh yang biasanya tampak seperti hutan, mendadak dibersihkan oleh para buruh perkebunan. Kebun pembibitan teh ini memang akan langsung dilihat oleh para tamu yang datang ke Malabar, khususnya yang akan menginap di Wisma Boscha. Makam Boscha memang selalu tampak bersih dan terawat, hingga tidak ada aktivitas mendadak di sana. Jalan menuju Gunung Nini juga dibersihkan. Demikian pula dengan saung di puncaknya. Kolam air panas, dan kincir air juga dibersihkan dan dirapikan. Sebuah helipad darurat dibuat di lapangan sepak bola. Dan yang paling mendapatkan perhatian adalah Wisma Boscha dan Wisma melati. Debu, dan kotoran yang menempel di dinding, di jendela, semua disapu dan dilap. Perapian juga dinyalakan. Kayu kering disiapkan, dan sebagian ditumpuk di depan perapian di Wisma Boscha, maupun di Wisma Melati I dan II. Semua guest house Perkebunan Teh Malabar ini sudah dibooking oleh PT Garuda Perkasa Entertainment selama satu bulan penuh.

“Rombongan dari mana yang mau menginap di sini? Dari Baghdad? Dari Jordania? Wah kalau orang-orang Arab yang datang biasanya banyak rewelnya. Pengalaman kita dengan tamu-tamu Arab kan kebanyakan begitu ya Pak? Memang ada juga yang baik. Kalau sudah baik kelewatan baiknya. Tetapi yang baik hanya sedikit, yang banyak rewel-rewel. Lo, bukan dari Arab mereka? O, orang Indonesia. O, mereka itu Tim Sukses Capres. Tim suksesnya siapa? Pak SBY, Pak Prabowo? Bu Mega, atau siapa? Kalau timnya Pak Prabowo, biasanya agak royal mereka. Asal jangan tim sukses Pak Wiranto. Uang mereka sedikit. Padahal Pak Wiranto, Pak SBY dan Pak Prabowo itu kan sama-sama jenderal ya? Kok ada jenderal yang banyak uangnya, ada jenderal yang sedikit uangnya itu bagaimana ya? Meskipun tidak banyak uangnya, asal mereka membayar penginapan, membayar makan, kami harus melayani sebaik mungkin. Ada tip atau tidak, besar atau kecil, terserah yang memberi.”

* * *

“Bolehkah saya tidak tinggal di rumah yang sangat bagus ini, tetapi menumpang di salah satu keluarga di bedeng buruh itu? Jangan takut, dulu saya biasa tidur di lantai dengan alas jubahku. Kalian ingat, aku juga lahir di gua kandang hewan, di malam gurun yang dingin?” Panitia kaget, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tiga orang panitia terpaksa harus ikut menginap di bedeng, membaur dengan para buruh petik, buruh babat, dan buruh pabrik. Satu peleton polisi berpakaian preman juga harus menyebar dan membaur dengan masyarakat. Satu peleton lagi di pecah menjadi dua, separo di Wisma Melati, separo di Wisma Boscha. Satu peleton lagi tinggal di Pangalengan. Awalnya, panitia bermaksud menempatkan Jesus di rumah Pak Ujang, yang secara ekonomis cukup baik, dengan rumah yang relatif tertata. Pak Ujang selain karyawan perkebunan, juga menjabat sebagai juru kunci Makam Boscha. Ternyata Jesus menolak. Tolong biarkan saya menginap di rumah buruh yang paling miskin, yang anaknya masih kecil-kecil, yang bedengnya sangat jelek. Kalau tidak ada yang mau menemani saya, tidak apa-apa. Ketika berdoa di Taman Zaitun, sesaat sebelum ditangkap, saya juga sendirian.”

Maka Jesus pun tinggal di rumah Mang Rohim. Rumahnya memang paling jelek, juga sempit. Ia tinggal bersama Imah istrinya, serta Aman dan Astri, dua anak mereka yang baru berumur lima dan tujuh tahun. Mang Rohim, dan Imah merasa sangat bangga. Awalnya mereka menolak, dengan alasan tidak layak, malu, dan sebagainya. Setelah panitia panjang lebar menjelaskan, kemudian menyebutkan bayaran yang akan diterimanya, maka Rohim dan Imah langsung bersedia, dan kemudian merasa mendapatkan kehormatan yang luar biasa. “Baru kali ini ada tamu aneh seperti ini. Tamu mah biasanya menginap di wisma. Kalau tidak di wisma di rumah Pak A-dé-èm. Ini tamu bisa membayar mahal, tetapi minta ditempatkan di rumah jelek, di keluarga miskin.” Mereka, juga seluruh masyarakat Perkebunan Teh Malabar, kecuali Administratur atau Pak A-dé-èm, dan para stafnya, yang tahu bahwa tamu inilah yang selama ini selalu muncul di televisi, dan disebut Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam. Mereka harus merahasiakan hal ini kepada anak buah, terutama kepada para buruh perkebunan.

Kepada Mang Rohim, Imah, dua anak mereka, dan juga kepada seluruh karyawan perkebunan, Jesus diperkenalkan sebagai Tuan John, salah satu kerabat Boscha, dari Negeri Belanda. Maka sejak itulah Tuan John diterima Rohim, Imah dan dua anak mereka bukan hanya sebagai tamu, melainkan sebagai keluarga baru. Tiap malam, Tuan John bercerita kepada Aman dan Astri. “Kalian jangan terlalu banyak menonton televisi, melainkan harus lebih banyak membaca!” Anak-anak itu sebenarnya juga heran. “Kok Tuan John bisa berbahasa Indonesia? Apa pernah tinggal di Indonesia?” Tuan John menjawab. “Saya belajar Bahasa Indonesia di sekolah. Di Negeri Balanda, negerinya Tuan Besar Boscha, Bahasa Indonesia diajarkan di sekolah, seperti anak-anak di sini belajar Bahasa Inggris. Kamu nanti juga harus rajin belajar Bahasa Inggris, hingga bisa bersekolah di luar negeri. Bukan melanjutkan kerja bapak dan emak, sebagai karyawan perkebunan, dan pabrik.”

Nasib anak-anak buruh perkebunan, di mana pun, baik perkebunan swasta maupun BUMN, memang sudah dipastikan sejak mereka lahir. Mereka harus menjadi pewaris sekaligus penerus profesi orang tua mereka. Mereka yang terpaksa keluar dari lingkungan perkebunan, juga sulit untuk meraih posisi sosial, ekonomi, dan kultural yang lebih baik. Mereka yang harus keluar dari lingkungan perkebunan, tetap mencari nafkah di sektor informal, menjadi buruh pabrik, atau bekerja kasar lainnya. Mereka yang sempat mengenyam pendidikan sampai SMA, juga hanya bisa menikmati posisi sedikit lebih baik dari posisi para pekerja kasar, yakni di bagian administrasi, keuangan, dan paling tinggi di jajaran staf. Beda dengan anak para Sinder, dan Administratur. Sinder adalah kepala satuan kebun atau afdeling, dan pabrik. Hingga ada istilah sinder kebun, dan sinder pabrik. Administratur adalah pucuk pimpinan tertinggi di sebuah perkebunan, yang berada di bawah Direksi PTPN.

Keadaan ini berubah, sejak era reformasi, tahun 1998. Seorang buruh pabrik yang tidak lulus SD, tetapi aktif di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, tiba-tiba bisa menjadi anggota DPRD Kabupaten. Tiba-tiba saja buruh itu bisa duduk sejajar dengan Bupati, juga dengan Administratur Perkebunan. Tiba-tiba buruh itu bisa menikmati godaan untuk ikut korupsi. Tiba-tiba saja dia bukan hanya bisa punya sepeda motor, melainkan mobil. Dia bisa tinggal di rumah bagus, yang di lingkungan perkebunan, hanya bisa ditempati oleh Pak A-dé-èm, atau Pak Sinder. Tiba-tiba saja buruh perkebunan itu bisa menikmati makan di restoran, atau di ruang pesta, yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi Pak A-dé-èm dan Pak Sinder. Para buruh yang naik pangkat ini, memang ada yang mensyukuri keadaan, lalu berusaha menjalankan fungsi barunya sebaik mungkin. Pendapatan yang tiba-tiba menjadi cukup besar, mereka tabung, dan juga mereka gunakan untuk hal-hal yang strategis. Namun, mereka yang bisa berperilaku seperti ini, jumlahnya sangat sedikit.

Yang paling banyak terjadi, mereka mabuk, dan lupa diri. Karena bisa memperoleh uang dengan cara sangat mudah, mereka juga segera membuangnya dengan cara yang sangat mudah pula. Minum minuman keras, berjudi, dan main perempuan, atau main laki-laki, adalah cara paling mudah untuk menghamburkan uang. Beberapa di antara mereka kemudian naik kelas dengan menenggak narkotika, dan obat-obatan psikotropika. Maraknya pemberitaan koruptor tertangkap, di media massa, bukan membuat mereka jera, melainkan justru memacu untuk melakukan hal yang sama, dengan resiko yang sama pula. Ibarat laron atau serangga lain, yang demikian tertarik pada api. Mereka tahu bahwa mereka yang masuk ke dalam api itu akan mati dan langsung terbakar. Tetapi daya tarik api itu memang luarbiasa. Naluri untuk mendekat ke api, jauh lebih kuat dibanding pengetahuan tentang resiko yang akan ditimbulkannya. Maka, mereka yang naik pangkat tiba-tiba ini pun, secara tiba-tiba pula menjadi mabuk dan lupa segala-galanya. * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: