Upaya Penangkapan

03/06/2014 at 12:02 (novel)

“Aku, Suwito, merasa sangat terhina! Apa kalian ini tidak merasakan hal yang sama seperti saya? Ki Gendheng Saèstu, dan Ki Dhudha Bodho, Paranormal nasional, bisa dengan sangat mudah dilecehkan oleh pesulap asing yang tidak ketahuan juntrungannya. Itu Eddy Gombal dan Petrus Wedhus, mampu melawan komandan, berani desersi tanpa bisa ditangkap dan dihukum. Lha kok melawan satu manusia bule seperti itu kalah. Jelas dia itu bukan hanya sekadar punya Kutang Anta Kusuma, dan Kulit Kerbau Landoh, melainkan juga menguasai Aji Panglimunan, hingga bisa datang dan pergi, tanpa kelihatan oleh siapa pun, kecuali mereka yang juga menguasai ilmu tadi. Saya menduga, sekarang ini sedang ada negosiasi, akan diserahkan ke Capres mana Kutang Anta Kusuma serta Kulit Kerbau Landoh itu. Tetapi memang sudah jelas, bahwa barang itu dia miliki. Kalau orang sudah kebal peluru, itu jelas mengenakan Kutang Anta Kusuma dan Kulit Kerbau Landoh. Tidak ada alternatif lain. Tidak usah berteori macam-macam.”

“Ajian apa pun, ilmu apa pun, selalu menyisakan titik lemah. Sayangnya, titik lemah itu, hanya yang bersangkutan yang tahu. Ya itu lho, seperti Samson itu. Kekuatan luar biasa yang dimilikinya, ternyata ada para rambut gondrongnya. Ketika rambut gondrong itu dipotong, kekuatannya punah. Yang bisa merayu hingga rahasia ini keluar dari mulut Samson, adalah Delilah. Apa BIN itu sudah sedemikian loyonya, hingga tidak mampu menyusupkan agennya ke dalam sana? Atau jangan-jangan ini semua justru proyek BIN. Kalau demikian halnya, kita harus melawan mereka secara total, dengan mengerahkan seluruh potensi masyarakat. Sepertinya, PT Garuda Perkasa itu juga hanya sekadar alat. Aku, Suwito, menjadi agak sedikit bingung. Ini hajatan siapa, dan agendanya apa? Yang akan didorong itu Pak SBY, Bu Mega, Pak JK, Kanjeng Sultan, atau siapa? Jangan-jangan, secara diam-diam mereka itu telah menyusun skenario canggih, untuk memuluskan jalan bagi Pak Prabowo?”

“Kalau demikian halnya, aku, Suwito, mengaku kalah. Aku kalah canggih dengan mereka. Nur, Mbak Nur! Ini Suwito Mbak Nur. Yo Suwito Si Kenthir itu to, Suwito mana lagi? Aku perlu beras Mbak Nur. Wah sampeyan ini kok judes amat to. Ya tahu kalau beli beras itu di Pasar Induk Cipinang. Aku ini justru mau ngasih proyek ke Mbak Nur. Untuk proyek bagi-bagi sembako, ada berasnya, ada minyak gorengnya, ada gulanya, ya macam-macamlah, tetapi yang pokok beras. Tidak tahu berapa ratus ton perlunya. Yo untuk sak Indonesia, tetapi aku hanya mendapat bagian menyalurkan di Jawa Barat, DKI, dan Banten. Ngerti Mbak Nur, ngerti. Ada uang ada barang. Maunya trasfer atau cash. Iyo, aku juga tidak akan membayar pakai cek. Sampeyan itu kan sudah tidak mungkin percaya lagi sama Si Suwito. Maka aku akan membayar pakai transfer atau cash. Aku perlu pertama hanya seratus ton. Ini tahap awal lo Mbak. Tahap berikutnya aku belum tahu.”

“Pak Suryo! Ini Suwito Pak! Konstelasi sekarang ini membuat saya bingung Pak! O, Bapak juga bingung? Sama dengan saya kalau begitu Pak. Ini petanya berubah dengan sangat cepat, dan berpotensi menjadi bola liar. Kalau ada yang cekatan menangkap bola itu, dialah yang akan menjadi Raja Indonesia ya Pak? Ah, Bapak ini kok malah bertanya raja apa? Raja Indonesia Pak! Bapak kan selalu menceramahi saya, bahwa Indonesia itu perlu Raja, perlu Ratu Adil, bukan kepala batu yang bawa-bawa bedil. Lha kok sekarang Bapak malah berubah. Saya Suwito, tetap pada prinsip Bapak Suryo. Sekali Ratu Adil, tetap Ratu Adil. Sekali Sultan tetap Sultan. Lho, kok Bapak ini malah berubah? Lalu Ratu Adilnya siapa Pak? Belum tahu? Tetap Sultan, tetapi tidak tahu Sultan ke berapa? Wah, ya repot Pak kalau begitu. Yang repot itu pendukung Bapak seperti saya ini, Si Suwito. Ibarat saya sudah tancap gas penuh, tiba-tiba Bapak menginjak rem. Tiba-tiba bensin habis. Kalau bensin habis, kendaraan bisa mogok lo Pak!”

“Romo Bonnie, ini Suwito Romo! Ini teman-teman di lapangan mohon petunjuk dari Romo, kapan harus bergerak. Romo bilang harus dilawan, harus digasak, harus dihancurkan? Ya kami siap. Mau seribu, dua ribu lima ribu, siap. Kalau di atas sepuluh ribu memang agak repot Romo. Itu terlalu berat. Truknya tidak muat Romo. Truk biasa tidak akan muat. Ya diperlukan truk tronton, dan itu sewanya lebih tinggi. Romo kan tahu, saya ini bagaimana kerjanya. Lo, kok Romo malah kendor. Ini orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus ini memang harus ditangkap, harus disalib seperti dulu. Sekarang salibnya jangan salib kayu, tetapi salib beton. Pakunya Romo? Tidak usah dipaku. Langsung kita pasangi bom di sekujur tubuhnya, lalu kita ledakkan. Selesai. Romo, Suwito ini menjadi militan karena bergabung dengan Romo lo. Maka tolong Romo, jangan surut lo! Wah, ya lain soalnya kalau Romo sudah ditegur Bapak Kardinal. Tetapi Romo tetap akan lanjut?”

Di luar udara cerah. Matahari terik. langit biru dan hanya sedikit berawan. Suwito berada dalam BMW seri terbarunya. Udara AC yang sejuk, dan lembut, mengantarkan aroma jasmine absolute yang khusus diimpor dari Spanyol. Dari perangkat sound sistem, mengalun irama Ludruk Jawa Timuran, kadang diseling musik pengiring Reog Ponorogo. Nun di depan hidungnya selembar layar monitor bisa dilipat dan dibuka, sebagai televisi, maupun komputer. Sekretarisnya yang duduk di depan, siap untuk menyajikan apa saja sesuai dengan titah Sang Majikan. “Sekarang kita ke mana Pak?” Suwito bingung. “Terserah kamu sajalah No! Jangan, aku sedang malas ke Cikeas. Ke Polonia juga tidak. Ke Kebagusan? No! Ke Menteng pulang maksudmu? Juga jangan. Begini saja. Hubungi Romo Bonnie, minta dia datang ke tempat biasa sekarang juga! Ya ke Grand Indonesia. Iya sekarang kita ke sana. Bilang pada Romo itu, ini sangat penting. Suasana sudah sangat genting. Jadi katakan bahwa Romo harus datang.”

* * *

Coffee Shop Grand Indonesia    , Suwito tidak perlu menunggu terlalu lama. Romo Bonnie datang bersama dua orang, Pendeta Albert dan Ustad Yusman. Romo Bonnie memperkenalkan mereka berdua kepada Suwito. Mereka bersalam-salaman, lalu mengambil tempat duduk. Suwito memanggil petugas coffee shop, ia memesan expresso keduanya, lalu mempersilakan Romo Bonnie dan dua temannya untuk memesan minum, dan makanan. Romo Bonnie bertanya kepada Pendeta Albert dan Ustad Yusman, lalu menyampaikan pesanan mereka bertiga kepada petugas coffee shop. Mereka berempat menyalakan rokok. Seketika udara disekitar meja mereka menjadi sesak oleh asap, tetapi bagi mereka suasana menjadi rileks dan nyaman. Meskipun baru bertemu untuk pertamakalinya, Suwito, Pendeta Albert dan Ustad Yusman langsung akrab. Mereka saling bertanya dan menjelaskan latar belakang masing-masing. Romo Bonnie paling aktif memberikan penjelasan, baik kepada Suwito, maupun kepada Pendeta Albert dan Ustad Yusman.

“Pak Suwito, maaf, bebarapa hari terakhir ini saya memang harus agak mengendorkan diri. Saya memang ditegur oleh atasan. Biasa, mereka itu kan pengecut, karena sebenarnya lemah. Padahal kalau mau menang, kita itu harus kuat. Pluralitas itu sangat penting. Maka lihat, Pak Suwito itu nasionalis, kami bertiga ini agamis dan lengkap, saya Katolik, Pak Albert Protestan dan Pak Yusman Islam. Memang kami sengaja tidak mengajak teman-teman yang progresif dari Hindu dan Budha, supaya gerak kami bisa lebih leluasa. Intinya, kita memang harus gerak cepat. Satu-satunya cara untuk memenangkan perjuangan hanya dengan mengerahkan massa. Mereka harus kita bagi dua. Massa pertama bergerak ke atas untuk mendemo Istana, DPR, KWI, PGI dan MUI. Massa kedua untuk mengepung lokasi yang diduga kuat menjadi tempat persembunyian panitia, bersama ‘tukang sulap’ mereka itu. Dalam tiga hari ini koordinasi akan selesai, hingga hari keempat mereka sudah akan gerak. Pak Albert dan Pak Yusman ini bukan orang miskin, jadi tujuan mereka bergerak bukan uang melainkan perjuangan.”

“Terus terang Pak Suwito, kami bertiga ini sangat tidak rela, apabila junjungan kami dipakai untuk main-main. Jesus Kristus itu bagi umat Katolik dan Protestan adalah Allah Putera, Dia itu Tuhan Allah Pak Suwito. Kok dibuat mainan! Bagi Pak Yusman juga sama. Nabi Isa Alaihissalam, itu juga Nabinya umat Islam. Sekarang Nabi Isa itu dijual seperti mereka menjual tukang sulap David Copperfield. Kan kurangajar itu. Jadi percayalah, kami sama sekali tidak memerlukan uang. Yang kami perlukan hanya dorongan moral dari Pak Suwito, juga dari teman-teman yang lain. Saya tahu Pak Suwito dekat dengan mereka, hingga bisa menyuplai kami dengan info mutakhir yang akurat. Memang kami juga sudah kontak dengan teman-teman lain yang juga seide. Mereka setuju untuk segera bergerak. Bapak Kardinal? Biar saja. Beliau tahunya kan beres. Kemarin itu saya memang ditegur, karena beliau lebih banyak menerima informasi dari teman-teman yang banci, teman-teman yang nyalinya kecil. Tetapi pada prinsipnya, beliau juga tidak rela kalau Allah Putera dilecehkan.”

Rekan saya Pak Albert, dan Pak Yusman juga sudah geregetan. Alasan geregetan Pak Albert, pasti sama dengan saya. Pak Yusman agak beda. Beliau ini justru merasa acara-acara yang diselenggarakan dengan seakan-akan menghadirkan Nabi Isa Alaihissalam ini, berpotensi mengusik kerukunan antar umat beragama, khususnya antara umat Islam dengan Nasrani, yang selama ini sudah sangat kondusif. Potensi konflik horisontal, menjadi sangat terbuka. Demikian kan Pak Ustad? Maka beliau juga jengkel sekali, karena umat akan diadu domba untuk kepentingan para Capres. Bahkan beliau lebih jauh lagi melihat adanya upaya untuk memperpolitikkan agama. Agama akan dijadikan sarana untuk meraih kekuasaan secara kasar dan brutal. Ini yang beliau sangat tidak suka, dan sudah lama memendam keinginan untuk menertibkan masalah ini. Jalan kemudian menjadi terbuka, ketika kami bertiga berkumpul, dan Puji Tuhan, ternyata pak Suwito juga mempunyai keprihatinan yang sama.”

“Jadi langkah kami ini praktis saja. Akan ada antara 3.000 sampai 5.000 massa yang mendemo DPR, Istana, KWI, PGI dan MUI secara beruntun. Tuntutannya adalah tangkap dan adili orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus, berikut panitia dan PT yang mendatangkannya. Massa dengan jumlah sama juga akan dikerahkan untuk mengobrak-abrik kantor PT apa itu yang mendatangkan orang ini, lalu panitia yang dibentuknya. Saya dengar di dalam kepanitiaan ini juga ada pastor Katoliknya, tetapi saya tidak peduli. Sikat saja semuanya! Mereka itu bikin acara sebenarnya kan demi fulus. Beda dengan kami-kami ini yang murni berjuang. Selain menyerbu PT dan Panitia, massa juga akan mencari dan menangkap biang kerok semuanya ini, yakni orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus itu. Apakah ia kebal peluru, apakah bisa menghilang, saya tidak peduli. Kalau massa yang datang ribuan, ya tinggal tangkap saja, langsung dipukuli ramai-ramai, siram bensin lalu dibakar.”

“Tetapi usul Pak Suwito itu bagus juga ya? Dipantek di salib beton, dipasangi bom di seluruh tubuhnya lalu diledakkan. Ya itu lebih atraktif. Hanya begini Pak Suwito ya, kami bertiga memang sama sekali tidak memerlukan uang, ini murni perjuangan. Tetapi massa itu perlu bus atau truk yang harus disewa. Mereka juga perlu air minum dan nasi bungkus. Para Korlap itu juga perlu honor. Untuk memancing huru-hara juga diperlukan bom. Belum untuk spanduk, poster, selebaran, saya tidak tahu persis rinciannya, tetapi nanti akan ada yang menghitung dan mengajukan. Mereka profesional, hingga pertanggungjawabannya juga jelas. Biasanya setelah acara selesai mereka akan laporan, disertai dengan analisis dampak politis, sosial, ekonomis, dan kulturalnya. Yang penting pak Suwito, tujuan utama perjuangan kita ini bisa tercapai. Kita ini kan orang yang berlatar belakang berbeda-beda, tetapi punya idealisme sama, yakni memperjuangkan pluralitas demi kemaslahatan umat.”

* * *

Kebun Raya Cibodas, Kabupaten Cianjur Jawa Barat, kembali dibanjiri pengunjung. Pedagang makanan, minuman, cendera mata, sopir angkot, dan tukang ojek, kembali bisa mencari nafkah. Baru saja dapat satu kali Sabtu dan Minggu,     keadaan normal ini berlangsung, sekitar 2.000 massa yang mengatasnamakan diri mereka Aliansi Islam Kristiani, merangsek masuk di gerbang Kebun Raya Cibodas. Mereka bersenjatakan pentungan, pedang, golok, samurai, clurit, dan bambu runcing. Beberapa di antara mereka membawa senjata api organik, dengan rangkaian amunisi diselempangkan menyilang di pundak mereka. Rombongan massa ini bisa masuk tanpa rintangan berarti. Sejak para tamu itu meninggalkan Wisma Medinilla dan Sakura, kebun raya ini praktis hanya dijaga satpam. Maka, rombongan besar massa itu dengan mudah masuk areal kebun raya secara paksa. Sambil memeriksa seluruh kawasan kebun raya, mereka  membabat koleksi tanaman apa saja yang mereka jumpai di sepanjang jalan. Aparat keamanan kebun raya tidak berdaya untuk mencegahnya.

Allahuakbar!!! Halleluya!!! Kantor Kebun raya itu mereka serbu. Para staf dan karyawan berlarian menyelamatkan diri. Kantor itu mereka obrak-abrik. Salah seorang di antara mereka berteriak. “Bukan di sini, tetapi di sana, di atas sana.” Maka rombongan massa itu bergerak menuju Wisma Medinilla dan Sakura, di bagian atas kebun raya. Wisma itu kosong. Massa marah. Allahuakbar, ayo kita bakar!!! Helleluya, mari kita hajar!!! Dua bangunan antik itu berkobar. Massa bersorak-sorai. Mereka juga merusak greenhouse di belakang dua wisma itu. Allahuakbar, mari kita babat habis tanaman najis dari negeri kapitalis ini!!! Ayo teman, ayo! Halleluya, mari kita sikat habis tumbuhan kaum sinkretis!!! Beberapa orang ternyata sudah menyiapkan gergaji mesin. Ayo kita robohkan simbol penjajahan itu! Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!!! Halleluya, Halleluya, Halleluya!!! Chainsaw menderu-deru dalam udara pegunungan yang sejuk. Pohon agatis berumur ratusan tahun bertumbangan.

“Katanya markas mereka di Kebun Raya Cibodas? Mana? Pasti mereka sudah mencium rencana kita ini. Kita mau ke mana sekarang?” Karena tidak menemukan yang mereka cari, massa itu pergi dari Kebun Raya Cibodas, dengan meninggalkan beberapa batang pohon raksasa tumbang, koleksi tanaman rusak, kantor dan greenhouse hancur, serta dua guesthouse terbakar habis. Baru saja mereka keluar dari gerbang Kebun Raya dan hendak naik ke atas truk, Pasukan Brigade Mobil dibantu TNI AD datang, mereka segera menangkap beberapa orang yang diduga sebagai pimpinan massa tersebut. Sisa massa dibiarkan pergi, dengan pengawalan beberapa jip aparat keamanan. Sementara itu di depan Gedung DPR di Senayan, Jakarta, massa juga menggelar demo. Tuntutan mereka adalah “Tangkap dan hukum mati, orang yang menamakan dirinya Jesus Kristus/Isa Al Masih!” Dari gedung DPR MPR, mereka menuju Istana, kemudian rencananya akan ke kantor KWI, PGI dan MUI, dengan tuntutan sama.

Beda dengan massa yang merusak Kebun Raya Cibodas, massa pendemo ini berperilaku tertib. Mereka diangkut dengan puluhan truk, metromini, dan angkot. Aparat kepolisian berjaga-jaga. Keberingasan hanya mereka ungkapkan dalam bentuk yel-yel, spanduk, poster, teriakan, dan orasi. Sepintas mereka tampak beringas dan menakutkan, tetapi tidak ada perilaku destruktif yang mereka lakukan. Persis di depan Istana Merdeka mereka menggelar orasi. Wartawan televisi dan media cetak mengabadikan mereka. Polisi hanya memperbolehkan para pendemo ini berada di ujung jalan simpang Monas, dan tidak mengijinkan mereka mendekat ke gerbang istana. Sama dengan ketika di komplek DPR, mereka juga hanya berada di trotoar, dan tidak ada yang diperbolehkan masuk ke komplek DPR. Dari Istana Merdeka, mereka bermaksud menggelar demo di kantor MUI di Mesjid Istiklal. Tetapi kembali aparat keamanan tidak mengijinkan mereka masuk ke komplek mesjid, kecuali untuk salat.

Menanggapi aksi demo, dan terutama tindakan anarkis di Kebun Raya Cibodas oleh Aliansi Islam Kristiani, MUI, KWI, dan PGI, menggelar jumpa pers bersama. Tiga lembaga ini menyatakan, menyesalkan adanya tindakan anarkis, oleh kelompok masyarakat yang menamakan diri mereka Aliansi Islam Kristiani. Tiga lembaga ini juga menyatakan, bahwa Aliansi Islam Kristiani, tidak ada kaitan sama sekali dengan MUI, KWI, dan PGI, karenanya, tiga lembaga ini menyatakan tidak ikut bertanggungjawab terhadap perusakan fisik yang dilakukan oleh Aliansi Islam Kristiani di Kebun Raya Cibodas. Selanjutnya tiga lembaga ini berjanji, akan memeriksa lembaga, maupun perorangan, di lingkungan intern mereka, dan akan mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung, telah terlibat dengan kelompok yang menamakan diri Aliansi Islam Kristiani. Namun di lain pihak, MUI, KWI, dan PGI, juga menghimbau kepada aparat keamanan, untuk mengambil sikap tegas terhadap siapa pun, termasuk lembaga, yang membawa-bawa nama Jesus Kristus, dan Isa Alaihissalam, untuk tujuan non keagamaan.

“Saya sangat kecewa dengan pernyataan KWI. Ini merupakan salah satu bukti bahwa mereka yang duduk di sana, semuanya pengecut dan banci. Kita harus terus sikat habis mereka.” Komentar Romo Bonnie. Ustad Yusman menimpali. “Harusnya MUI itu memang dibubarkan saja. Lembaga ini terlalu banyak bertenggangrasa! Kalau perlu kita memang harus menghajar MUI sekalian ya Romo?” Pendeta Albert juga geram. “Kita punya lembaga memang seperti anjing ompong. Kerjanya cuma menggonggong, tanpa pernah menggigit. Kita harus kasih mereka shock therapy lebih keras lagi, biar sadar kalau mereka itu harus action, bukan hanya talk. Bagaimana komentar Anda Bapak Suwito?” Suwito, yang sedari tadi hanya manggut-manggut, mendeham beberapa kali. “Andaikata saya punya sahabat seperti Romo Bonnie, Ustad Yusman, dan Pak Pendeta Albert, maka kondisi Indonesia akan bisa sama dengan Amerika Serikat makmurnya. Sayang sekali. Tetapi kita memang harus terus bergerak. Mereka yang seperti banci itu memang harus terus kita hajar ya Romo?” * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: