Pernyataan Vatikan

10/06/2014 at 13:12 (novel)

Dari Executive Old City Rooms, di lantai 6, Hotel King David, Jerusalem, pemandangan ke Kota Tua di arah timur itu benar-benar lapang. Sementara persis di arah barat, terletak Komplek Young Men’s Christian Association, yang lebih populer disebut YMCA Jerusalem. Dari jendela Executive Old City Rooms itu, tampak dengan jelas Gerbang Jaffa, salah satu dari delapan gerbang masuk ke Kota Tua Jerusalem. Persis di sisi kanan Gerbang Jaffa, tampak menjulang Menara Daud, sisa benteng purba, yang mampu menunjukkan kemegahan Kerajaan Israel Kuno. Sedikit di kanan Menara Daud, jauh di belakang sana, tampak kubah kuning keemasan The Dome of The Rock. Kubah ini berdiri megah di tengah pelataran fondasi Bait Suci Israel, yang pernah dihancurkan  Nebuchadnezzar, dibangun kembali Cyrus, dan dihancurkan lagi oleh Kekaisaran Romawi. Selain The Dome of The Rock, di sisi selatan reruntuhan Bait Suci berdiri Mesjid Al Aqsa, dan Museum Islam. Dan jauh di belakang sana, tampak samar Bukit Zaitun.

Keseluruhan 14 kamar Executive Old City itu telah dibooking oleh pemerintah Israel. Di 14 kamar itu menginap sebuah tim rahasia dari Vatikan, Jordania, Palestina, dan Israel sendiri. Tim ini tidak untuk mengurus konflik Israel-Hamas di Jalur Gaza, atau merundingkan rencana perdamaian Istael Palestina. Tim ini sedang membahas kebenaran turunnya Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam, di halaman The Dome of The Rock beberapa waktu yang lalu. Inisiatif pembentukan tim diprakarsai oleh Tahta Suci dari Vatikan. Israel, Palestina, dan Jordania segera menindaklanjuti dengan membentuk tim serupa, yang akan melayani tim dari Vatikan. Maka, pada hari yang telah disepakati bersama, tim ini berkumpul di King David Hotel, Jerusalem. Mereka akan menginap selama beberapa hari, sampai diperoleh kejelasan tentang kebenaran fakta turunnya Jesus Kristus, Nabi Isa Alaihissalam, di pelataran The Dome of The Rock. Tahta Suci Vatikan, menginginkan penjelasan rinci dari tiga negara, yang secara langsung menangani hal ini.

Dalam breakfast, Tim dari Vatikan, Israel, Palestina, dan Jordania itu ngobrol akrab. Jumlah keseluruhan mereka belasan orang. Mereka berkomunikasi menggunakan  bahasa Inggris, kadangkala campur Arab. Tim Vatikan dan Israel, selain bisa berbahasa Inggris, semuanya fasih berbahasa Arab. Sementara Tim Palestina dan Jordania yang pasti bisa berbahasa Arab, semuanya juga fasih berbahasa Inggris. Ketika Tim Israel dan Palestina berbisik-bisik dalam bahasa Jahudi, Tim Vatikan dan Jordania ganti ngobrol dengan bahasa Latin. Ternyata mereka semua juga menguasai bahasa Jahudi, dan juga bahasa Latin. Jadilah mereka tertawa terbahak-bahak bersama-sama. “Berarti tidak ada satu pun rahasia yang bisa kita sembunyikan.” Kata tim dari Vatikan itu. “Atau, ada yang akan kalian bisikkan dengan bahasa Jepang, atau Mandarin? Kalau itu, kami tidak akan tahu. Okeylah, jadi nanti siang ini kita akan ke lokasi, Anda akan memberikan penjelasan, dan juga bukti-bukti bukan?”

Sejak peristiwa mukjizat Lourdes tahun 1858, Vatikan memang ekstra hati-hati dalam menyikapi berbagai berita tentang mukjizat, terutama mukjizat penampakan. Mukjizat Lourdes adalah penampakan Bunda Maria di gua Massabielle, di kaki pegunungan Pyrenees, di Lourdes, Perancis Selatan. Di Gua itu Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadette Soubirous, gadis berusia 14 tahun, sebanyak 18 kali. Lourdes sekarang telah menjadi tempat ziarah umat Katolik paling populer di dunia. Popularitas Lourdes bahkan mengalahkan Jerusalem, dan Vatikan. Dengan sekitar lima juta pengunjung setiap tahunnya, Ziarah Lourdes telah menjadi sebuah ajang bisnis yang sangat menarik. Hingga banyak pihak yang kemudian mengklaim adanya penampakan serupa. “Dengan teknologi mutakhir sekarang ini, siapa pun akan bisa membuat penampakan yang sangat spektakuler, dan umat yang sederhana akan langsung percaya.” Kata salah seorang tim dari Vatikan itu.

Dengan sebuah bus kecil berkapasitas 20 tempat duduk, tim gabungan itu meninggalkan Hotel King David, menuju Dinding Ratapan, di sisi barat bagian selatan Tembok Bait Suci. Kota Tua Jerusalem yang dari kamar Executive Old City, Hotel King David tampak di bawah sana, terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama berupa fondasi Bait Suci, yang berada di sudut tenggara. Sudut timur laut terus ke tengah membentuk huruf L terbalik, adalah Muslim Quarter. Fondasi Bait Suci, dengan The Dome of The Rock, Mesjid Al Aqsa, dan Museum Islam, merupakan bagian dari Muslim Quarter. Bagian tengah sisi selatan adalah Jewish Quarter, bagian Umat Jahudi. Sisi barat daya adalah Armenian Quarter, bagian Gereja Ortodoks, dan sisi barat laut adalah Christian Quarter, bagian umat Katolik dan Protestan. Bus rombongan Tim Gabungan itu berhenti di Jewish Quarter. Melalui tangga melengkung di sisi kanan Dinding Ratapan, rombongan masuk ke pelataran The Dome of The Rock dari Gerbang Mugrabi. Setelah melalui deretan pohon juniperus yang rimbun, mereka naik ke pelataran di sisi selatan.

Meskipun ini wilayah Muslim Quarter, tim Israel justru paling antusias  menjelaskan tentang The Dome of The Rock. “Di antara kalian ini, kami umat Jahudi yang paling tua. Apalagi dibanding Protestan yang baru ada abad 16. Kami sudah ada di sini 1500 tahun SM. Di dalam kubah itulah terdapat batu, yang merupakan titik paling suci bagi bangsa kami. Memang nasib kami jelek, Kenisah kami ini dihancurkan Babilonia, dibangun lagi, dihancurkan lagi oleh Romawi. Pernah Romawi mau membangunnya lagi, tapi mau dipakai untuk memuja Jupiter, maka Umat Jahudi marah dan terjadilah Perang Bar Koba yang berakhir dengan pembantaian bangsa kami. Lalu Islam masuk dan membangun kubah emas ini. Islam mengklaim bahwa di atas batu Baitulmuqaddis inilah Nabi Muhammad SAW berdiri untuk diangkat ke Sidratul Muntaha, oleh Malaikat Jibril dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Kalian, Katolik, juga pernah menguasai The Dome of The Rock, yang kalian jadikan gereja, selama Perang Salib. Lalu Mesjid Al Aqsa itu kalian jadikan istana untuk ‘Raja Jerusalem’ Baldwin I. Sekarang, kami tinggal mendapat bagian secuil tembok di sisi barat bagian selatan tadi.”

* * *

Satu-satunya Royal Suite Room di lantai 6 King David Hotel, dibooking khusus untuk meeting tim gabungan. Rekaman audio visual dari Kantor Berita Reuters diputar berulangkali. Seorang ahli IT dari Vatikan memeriksa dengan cermat rekaman audio visual tadi. Dokumen-dukumen dipaparkan. Hasil tes DNA juga dibuka. Tim Vatikan mengamati, dan kemudian memeriksa semuanya dengan cermat berulangkali. Sesekali Tim Vatikan itu mengajukan pertanyaan kepada Tim Israel, Tim Jordania, dan Tim Palestina. Satu hal yang tidak bisa mereka jawab dengan memuaskan adalah, siapa yang pertamakali menerima informasi, tentang akan datangnya Jesus Kristus ini, dan mengapa harus turun di pelataran di depan The Dome of The Rock. Tiga tim dari Israel, Jordania dan Palestina memberikan jawaban yang sama, yakni mereka hanya diminta menangani legalitas formal kedatangan Jesus tersebut. Yang meminta sebuah perusahaan konsorsium Event Organizer Multinasional. Tim Vatikan itu mendesak, bukankan itu sebuah perusahaan yang saham mayoritasnya dikuasai oleh etnis Jahudi?

Ketua Tim Israel itu agak jengkel, karena Ketua Tim Vatikan dalam meminta penjelasan bergaya seperti seorang boss kepada bawahannya. “Kalian ini, para Penguasa Tahta Suci Vatikan, kadang memang susah untuk berkomunikasi dengan baik. Kami ini, pemerintah Israel, Palestina, dan juga Jordania, bukan sedang membuat atraksi David Copperfield, yang ditonton orang banyak dan disiarkan ke seluruh dunia. Peristiwa turunnya Jesus itu sangat kami rahasiakan. Hingga kami juga meminta otoritas Muslim Quarter untuk sementara menutup kawasan tersebut, dengan ganti rugi yang cukup tinggi. Tadi Anda kan melihat sendiri rekaman yang dibuat wartawan CNN itu? Apakah Anda menganggap CNN bisa kami beli? Hasil penelitian tim IT Anda juga menunjukkan bahwa rekaman itu otentik. Sekarang kalian masih mengejar, bisa saja rekamannya asli, tetapi Jesusnya yang hasil rekayasa. Rekayasa bagaimana lagi, dan untuk apa? Sekarang Anda malah menuduh kami sedang menggarap Indonesia, karena di sana ada 200 juta penduduk yang mayoritas Islam. Itu kan tuduhan yang benar-benar gegabah.”

“Sekarang kalian lihat ini hasil tes DNAnya. Kalau Vatikan juga akan melakukan tes DNA sendiri, juga silakan. Tim dari Jordania setiap saat bisa meminta rambut tokoh ini langsung dari Indonesia. Ini hasil tes DNAnya tidak pernah ada yang benar. Simpanse, marmut, kodok, iguana, apa ini bukan edan? Di Indonesia banyak hal aneh yang terjadi di sekitar tokoh ini. Apakah kalian menganggap itu juga hasil rekayasa? Romo Sujatmiko, yang kalian ijinkan cuti, bukankan masih tetap bersama dia? Kami tim Israel justru curiga bahwa Romo Sujatmiko itu sengaja kalian pasang untuk terus memonitor keadaan ……” Ketua Tim Vatikan itu yang sekarang ganti marah. Dia berdiri dan menuding Ketua Tim Israel. “Yang mencari penerjemah bahasa Aram dan sekaligus bisa bahasa Indonesia siapa? Di dunia ini hanya ada tiga orang yang menguasai bahasa Aram dengan baik, dan salah satunya ya Sujatmiko itu! Sekarang kalian menuduh kami memata-matai proyek kalian! Ini sebenarnya proyek kalian kan? Tidak usah berdalih macam-macam, sebab kami juga punya banyak bukti otentik.”

Ketua Tim Israel yang makin jengkel ikut berdiri. Dia mengambil HP. “Saya ada nomor kontak Romo Sujatmiko. Kamu juga punya kan? Sekarang siapa yang terlebih dulu akan ngomong langsung dengan dia? Saya atau kamu? Oke, ini saya sudah tersambung. Saya harus ngomong pakai apa? Inggris, Latin, Arab, atau Jahudi? Oke, Bahasa Latin ya?” Ketua Tim Israel itu lalu berbicara dengan Romo Sujatmiko menggunakan bahasa Latin, tetapi dijawab dengan bahasa Aram. Hingga tidak ada seorang pun di antara yang hadir tahu maksud Romo Sujatmiko. “Halo, ini Romo Sujatmiko bukan? Halo? Ya, ya, ya, ini kami sedang meeting gabungan, dengan tim dari Vatikan. Ya, mereka sekarang ada di depan saya. Lo ini tadi siapa yang berbicara? Beliau? Bicara apa ini tadi beliau? Apa? Coba Romo sendiri yang menjelaskan ke mereka. Ya mereka memang tidak percaya meskipun sudah melihat, dan memeriksa semua dokumen yang kami siapkan. Silakan!”

“Bapa Kardinal, saya Sujatmiko. Ini tadi, beliau mengatakan dalam bahasa Aram, bahwa Bapa Suci, dan seluruh Kuria Roma, kok masih lebih banyak mengurus kerajaan dunia, bukan kerajaan surga? Ya, beliau tahu kalau sedang ada meeting di sini. O, setelah itu beliau masih tetap berbicara bahasa Aram dengan saya, tetapi beliau mengomentari anak-anak di perkebunan teh Malabar, yang sedang bermain kejar-kejaran. Saya sehat Bapa Kardinal, ya saya tetap menjalankan tugas yang saya terima dari Bapa Kardinal. Apakah ada sesuatu yang akan Bapa Kardinal sampaikan? Belum ada? Kalau begitu selamat sore, ya di Indonesia sudah sangat sore Bapa Kardinal.” Telepon dimatikan. Ketua Tim Israel dan Ketua Tim Vatikan itu saling berpandang-pandangan. Ketua tim Palestina dan Jordania juga saling berpandang-pandangan. Lalu ketua Tim Palestina menyela. “Apa sebaiknya mereka kita tinggalkan berdua saja, biar lebih leluasa berunding?” Semua yang berada di Royal Suite Room itu lalu tertawa berderai.

Ketua Tim Vatikan itu kemudian kembali duduk dan berbicara sangat serius. “Memang kami juga tahu, ini otentik. Bapa Suci bisa kontak dengan beliau. Tetapi sebagai lembaga, kami perlu bukti-bukti. Lalu Anda semua pasti tahu, yang akan kami umumkan seperti apa. Jangankan Jesus Kristus yang kembali datang ke dunia, Bapa Suci Yohanes Paulus II yang hidup lagi pun, kami sudah akan sangat kerepotan. Berarti Gereja Katolik punya dua orang Bapa Suci bukan? Lalu sekarang ini, berarti ……” Tiba-tiba HP Ketua Tim Vatikan itu berdering. Dari HP itu terdengar suara yang berat, dalam bahasa Latin. “Tolong kalian lebih memperhatikan Jesus yang hidup, Jesus yang masih menderita, Jesus yang masih miskin, dan bukan Jesus yang sudah mati. Akulah Jesus yang hidup itu….. Klik.” Ketua Tim Vatikan itu buru-buru membuat Tanda Salib, lalu berdoa. “Ya Tuhanku Allah Putera, selama ini hambamu memang telah berbuat dosa, tetapi sebentar lagi kami akan santap siang bersama dengan teman-teman, dari Israel, bangsa yang dahulu telah membunuh Paduka, Amin.”

* * *

Rumah Arif di Kawasan Sentul, kabupetan Bogor, tersembunyi di antara pohon-pohon lamtoro dan albisia, yang melambai-lambai diterpa angin. Langit biru jernih, hingga matahari terlihat putih dan terasa tajam sekali di mata. Rumah yang anggun dan terletak di lahan menyerupai bukit itu, dilengkapi dengan gerbang dan pos satpam. Enam orang satpam bertugas bergantian dalam tiga shift masing-masing dua orang. Pagi itu sekitar pukul setengah sembilan, sebuah ojek sepeda motor menderu-deru menyusuri jalan yang menanjak tajam. Di belakang tukang ojek itu, seorang lelaki setengah baya, berperawakan kecil, mengepit sebuah tas berukuran sedang. Lelaki itu berbaju putih lengan pendek, tetapi warnanya sudah tidak putih lagi. Bercelana panjang warna cokelat, tetapi warnanya sudah tidak cokelat lagi. Ia mengenakan sandal kulit hitam yang warnanya juga sudah tidak hitam lagi. Ojek sepeda motor itu dihentikan satpam ketika akan masuk ke gerbang rumah Arif. Lelaki itu turun, lalu membayar ongkos ojek. Satpam menghardik.

“Saudara ini mau kemana ya? Ya ini memang rumah Bapak Arif, saudara ini ada keperluan apa ya? Bertemu Pak Arif? Pak Arif tidak ada. Ya tidak tahu kemana, sudah beberapa hari ini tidak ada di sini. Ibu Arif ada, tetapi saya tidak berani mengijinkan saudara masuk kalau tidak ada ijin dari beliau. Mau menunggu di sini? Tidak bisa. Ini Pos Satpam, bukan ruang tunggu. Kalau mau menunggu ya di luar situ.” Maka lelaki itu pun menuju ke tepi jalan dan duduk di sana menunggu. Setelah sekitar sepuluh menit menunggu, ia mengeluarkan HP lalu menghubungi Ibu Arif. “Mbak Tyas, ini Kiai Murwito. Saya sedang menunggu di luar, karena tidak boleh masuk sama satpam……” Raden Ayu Siti Suryaningtyas, berlari dari dalam rumah sambil menangis. Sesampai di depan Kiai Murwito, dia mencium tangannya sambil bersimpuh, dan tangisnya bertambah keras. Dua satpam itu kebingungan. Kiai Murwito berdiri, lalu menuntun Ibu Arif yang masih tetap menangis melalui gerbang, menuju ke dalam rumah.

Dua Satpam itu mengikuti masuk ke dalam rumah, dan dibentak oleh Kiai Murwito. “Sudah, kamu jaga di depan sana saja!” Raden Ayu Siti Suryaningtyas, setelah reda dari tangisnya, bertanya. “Pak Kiai naik apa tadi? Mengapa tidak telepon supaya bisa dijemput sopir? Naik kereta dan turun di Jatinegara seperti biasanya itu? Lalu naik angkot? O, naik bis, lalu ganti angkot, lalu, o, naik angkot, lalu ganti bis, lalu ganti angkot dua kali, lalu naik ojek? Yu Min, ini Pak Kiai ini dibuatkan minum, Pak Kiai mau minum apa? Ini tasnya dibawa ke kamar sana. Ya, ampun, Ratman sama Pardi tadi bagaimana to, kok Pak Kiai tidak boleh masuk? Aduh, Man……!” Kiai Murwito berdiri. “Sudah Mbak Tyas, mereka satpam yang baik. Mereka menjalankan tugas dengan baik. Ya memang harus begitu seorang satpam, jangan malah dimarahi mereka. Mas Arif belum bangun atau kemana Mbak? Oh, di luar kota. Kapan beliau pulang? Nanti? Pak Suryo dan Bu Suryo? Sebentar lagi akan datang? Wah, beruntung saya ini!”

Malam itu Arif belum bisa pulang, tetapi Pak Suryo dan Bu Suryo datang. “Ini ada tamu, tetapi tuan rumahnya malah tidak ada. Aku dan ibumu ini juga tamu di sini, ya kan Pak Kiai? Kita ini tamu bukan?” Kiai Murwito mesem-mesem. “Kata Mbak Tyas, saya diminta menganggap ini rumah sendiri, sebab ketika di Bantul, beliau juga saya minta menganggap Pesantren Cipto Roso itu rumah beliau sendiri. Pak Suryo dan Bu Suryo, saya senang sekali, sejak pulang dari Bantul, Mbak Tyas banyak sekali berubah. Bapak sudah tahu bukan?” Tiba-tiba saja Raden Tumenggung Bagas Suryo Sentiko, mendekat ke Kiai Murwito, memeluknya sambil menangis sesenggukan. “Terima kasih Pak Kiai….. terima kasih sekali …….” Bu Suryo, sebenarnya juga tidak bisa menahan haru, tetapi ia mencoba bertahan. “Bapak ini, ya sudah to Pak, kita memang sangat bersyukur kepada Allah, bahwa Tyas sudah diberi petunjuk untuk berjalan di jalan Allah, melalui perantaraan Pak Kiai. Kami sangat…. berterimakasih kepada Pak Kiai, apalagi Pak Kiai sekarang ada di sini ya? Kami senang….. sekali.”

Setelah santap malam, mereka duduk jagongan di ruang tengah. Di depan mereka terpampang layar televisi datar besar sekali, entah berapa inci, yang sedang menyiarkan berita. ” …… pagi tadi Konferensi Waligereja Indonesia, dalam sebuah jumpa pers, telah menyampaikan pernyataan resmi dari Paus Benediktus XVI, yang mereka terima dari Vatikan. Paus Benediktus XVI menyatakan, bahwa Tahta Suci, selama ini sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengan event organizer, atau pun pihak-pihak lain, yang mengadakan aktivitas, dengan menampilkan figur dengan nama Jesus Kristus, di beberapa tempat di Indonesia. Karenanya, Tahta Suci juga tidak berada dalam posisi berkewajiban, untuk menjelaskan kepada umat katolik di seluruh Gereja Katolik Universal, tentang hal-hal yang menyangkut aktivitas tersebut. Sesuai dengan laporan dari Gereja Katolik Indonesia, melalui Konferensi Waligereja Indonesia, Tahta Suci menyatakan, bahwa aktivitas event organizer tersebut sepenuhnya menjadi urusan Pemerintah Indonesia, bukan urusan Gereja Katolik.

Selang beberapa saat kemudian, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia juga membacakan pernyataan dari World Council of Churches. Sama dengan Tahta Suci, WCC juga mengatakan bahwa Penampilan Jesus Kristus yang dilakukan oleh sebuah EO di Indonesia, sama sekali tidak terkait dengan masalah keagamaan, khususnya Agama Kristen Protestan. Karenanya WCC menganggap bahwa segala dampak yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut, sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemerintah Indonesia, dan WCC sama sekali tidak akan ikut campur tangan. WCC juga telah meminta PGI agar tidak ikut terlibat dengan permasalahan tersebut. Majelis Ulama Indonesia, kemudian juga membacakan pernyataan dari Organisation of the Islamic Conference. CIC juga menyatakan tidak ada hubungan dengan EO yang menampilkan figur Nabi Isa Alaihissalam di Indonesia. Kiai Murwito nyeletuk. “Semua orang sudah tahu tentang yang mereka bacakan itu. Yang umat ingin tahu dari mereka, dan mereka tidak menjelaskannya adalah, benarkah yang tampil itu Jesus Kristus, atau Nabi Isa Alaihissalam, atau bukan? * * *
Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: