BUNUH DIRI MEMANG ENAK DAN PERLU

17/06/2014 at 13:55 (artikel)

Makalah untuk diskusi Bale Sastra Kecapi “Sastra dan Bunuh Diri”
Cemara 6 Galeri, Jumat, 23 Januari 2009 pukul 15.00-18.00 WIB

F. Rahardi

1.  Bunuh diri adalah anugerah Ilahi

Allah menciptakan banyak misteri. Salah satunya misteri kematian. Manusia tidak pernah tahu, kapan ia akan mati, di mana, dan dengan cara apa. Kecuali mereka yang telah mencapai tahap Kewalian seperti Gus Miek (KH Hamim Tohari Djazuli, Kediri 17 Agustus 1940 – Surabaya 5 juni 1993). Gus Miek bukan hanya tahu persis kapan ia akan meninggal, melainkan juga jalannya nasib, termasuk kematian semua orang yang dilihatnya.

Tidak usah menjadi Gus Miek, melalui bunuh diri, Allah memberi pilihan: Kalau mau, siapa pun bisa menentukan sendiri kapan ia akan mati, dimana, dan dengan cara bagaimana. Misalnya dengan gantung diri, menembak kepala sendiri, minum racun, terjun dari lantai 20, tidur melintang di rel ketika kereta api lewat, dan lain-lain cara. Ini merupakan keMahaikhlasan Allah, bahwa siapa pun mampu menolak takdir, dan menyingkap misteri kematian. Meskipun, upaya ini bisa gagal apabila tidak dilakukan dengan cermat.

Kebebasan mutlak dari Allah ini tentu mengandung resiko: Pelaku bunuh diri akan dianggap pengecut, tidak bertanggungjawab, semua agama mengutuk tindakan bunuh diri. Selain merupakan pilihan, bunuh diri juga sebuah keperluan. Siapa pun yang sudah tidak mampu menahan beban penderitaan hidup, diberi kebebasan oleh Allah, untuk mengakhiri penderitaan itu melalui bunuh diri.

2.  Bunuh diri massal sebagai kenikmatan

Narkoba sering dianggap sebagai perangkat bunuh diri secara nikmat dan pelan-pelan. Juga rokok, makanan enak, seks bebas yang beresiko mendatangkan AIDS. Secara global, manusia sekarang ini juga sedang melakukan bunuh diri massal. Caranya, dengan membakar minyak bumi, gas, dan batubara dalam volume luarbiasa. Terjadilah pemanasan global, yang bisa berakibat es kutub mencair, dan New York, Tokyo, Paris, Hongkong, Jakarta, akan tenggelam.

Ini juga pilihan yang diberikan oleh Allah. Orang Eropa, sebenarnya cukup berjemur di pantai Laut Tengah pada musim dingin. Tapi membosankan kalau tiap musim dingin ke Laut Tengah. Sekali-sekali ingin pula ke Pattaya, Hawaii, Bali, Maladewa, Virgin Island, dengan Jumbo Jet 747, dengan jutaan liter avtur yang dibakar di langit, dan tiap tahunnya suhu udara akan terus naik. Kenikmatan itu harus dibayar mahal termasuk oleh masyarakat adat Badui Dalam, yang sampai sekarang masih patuh pada titah Allah, untuk menjaga alam.

Itu semua bunuh diri secara fisik. Penyebabnya fisik, dampak yang ditimbulkannya juga fisik. Ketika kata Revolusi dijadikan mantra oleh Sukarno, dan Pembangunan dipakai sebagai sihir oleh Soeharto, maka Indonesia sebenarnya juga sedang bunuh diri. Dampak dari mantra Revolusi, dinikmati oleh mereka yang hidup susah pada tahun 1960an. Dan penderitaan akibat sihir pembangunan, sekarang ini sedang sama-sama kita nikmati.

3.  Pembebasan dan Bunuh Diri

Yesus adalah pembebas (penyelamat) bagi Umat Nasrani. Selama 300 tahun sepeninggalnya, umat Nasrani dihajar penguasa Romawi. Upaya mematikan penyelamatan Yesus ini gagal. Nasrani (Ortodoks, Katolik, dan kemudian Protestan), menjadi agama besar. Ketika itulah pembebasan, dan penyelamatan, berubah menjadi proses bunuh diri massal. Kekejaman Gereja Katolik pada abad pertengahan, adalah upaya bunuh diri, yang kemudian melahirkan gerakan reformasi, serta kontra reformasi, sebagai “penyelamatan kedua”.

Retorika, pada awalnya juga merupakan “pembebasan”. Melalui retorika, Homo sapiens bisa menggunakan bahasa lisan dan tulis, bukan sekadar untuk berkomunikasi.  Melalui retorika, bahasa menjadi sebuah seni berkomunikasi dengan efektif. Pada zaman Kekaisaran Romawi, retorika menjadi salah satu mata pelajaran wajib di sekolah. Retorika kemudian menjadi alat bunuh diri, pada abad pertengahan, ketika digunakan untuk propaganda dogma agama. Sampai sekarang, retorika lebih banyak menyajikan kebohongan, dan bukan lagi pembebasan.

Agama terutama doa, dan sastra, terutama puisi, diharapkan bisa menjadi penangkal bunuh diri massal akibat sampah retorika dan propaganda politik. Karena sangat sering dimanipulasi, maka tanah air menjadi frasa bunuh diri. Demi membela tanah air, demi keharuman tanah air, saudara setanah air, dan lain-lain yang semuanya telah menjadi sampah frasa. Ketika itulah Sutardji menulis sebuah puisi berjudul Tanah Air Mata, yang membebaskan hati dari tindihan propaganda penguasa.

4.  Puisi bunuh diri

Amir Hamzah (1911 – 1946), adalah salah satu pembebas Bahasa Indonesia, dari kungkungan tradisi Bahasa Melayu. Kungkungan ini telah menjerat leher, hingga Genre Poedjangga Baroe pada umumnya seperti sedang mau gantung diri. Setelah terselamatkan oleh Amir Hamzah, Bahasa Indonesia kemudian diberi vitalitas oleh Chairil Anwar. Setelah Chairil, bermunculanlah Rendra, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Sejalan dengan itu puisi Indonesia kembali menemukan jalan buntu.

Lirik kuat Amir Hamzah, dan vitalitas yang dibawa Chairil Anwar, di tangan para penyair medioker menjadi seperti narkoba. Sangat dinikmati, sambil merusak diri sendiri. Tahun 1970an, dikenal istilah “puisi gelap”. Remy Silado, kemudian mencanangkan gerakan “puisi mbeling”, yang disusul oleh peristiwa pengadilan puisi. Gerakan penyelamatan ini berhasil memunculkan figur Sutardji Calzoum Bachri, Darmanto Yatman, dan yang lebih kemudian Afrizal Malna.

Puisi Indonesia kembali terselamatkan dari upaya bunuh diri. Tetapi pada tahun 2000an ini, puisi kita juga kembali menenggak narkoba. Hampir semua penyair tergoda untuk memrosa. Padahal hakikat puisi adalah esensi. Sementara prosa perlu pernak-pernik tokoh, alur, dan latar. Siklus bunuh diri dan penyelamatan, memang sejalan dengan Dialektika Hegel (Stuttgart, 27 Agustus 1770  – Berlin, 14 November 1831): Tesis – Anti Tesis dan Sintesis. Supaya ada pembebasan, bunuh diri massal, memang selalu  perlu.

Cimanggis, 21 Januari 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: