San Domingo

26/06/2014 at 14:14 (cerpen)

Selamat sore, ini belum malam bukan? Lihatlah laut itu masih berkilau memantulkan cahaya matahari. Adonaramu itu, Solormu itu, gunung Ile Mandiri bagai tembok tinggi memagari Larantukamu ini. Selamat sore, marilah kita duduk sebentar melepas penat, setelah lebih dari tiga jam diperam dalam perut minibus. Memang ada AC yang sangat dingin, tetapi aku tidak bisa merokok. Kamu akan batuk-batuk. Juga sopir yang sudah sangat tua itu. Cuaca akan baik-baik saja bukan? Pedro. Romo Pedroku yang tampan. Duduk dululah di sini, dan lihat itu kapal datang dan pergi. Perahu-perahu yang moncongnya meninggi itu. Anjungankah namanya moncong kapal itu? Romo Pedroku duduklah sebentar.

Ini hotel terbaik di kotamu bukan? Aku tahu, bangunan paling baik di kota ini pasti rumah bupati, dan juga rumah Uskup. San Domingo yang tadi kita lewati itukah rumah uskupmu? Biarlah. Dia pasti akan membenciku. Dia pasti akan menyebutku lonte atau iblis betina, sebab aku telah berani menggoda Romo Pedronya yang gagah. Acaramu akan sangat padatkah? Pastor Pedroku, kamu akan segera menghadap Uskup di rumahnya yang bagus itu? Lalu ayah ibumu, lalu adik-adikmu, sepupu-sepupumu, seluruh anggota Conferia itu, semua akan menyambutmu dengan nyanyi-nyanyian, sambutan-sambutan, lalu akan ditutup doa, lalu makan bersama, lalu doa lagi.

Aku ingin sekali melihat wajah ayah ibumu. Benarkah mereka keturunan raja-raja? Atau opsir-opsir portugis yang gagah berani? Aku senang dengan hotel yang menghadap ke pantai seperti ini. Jalan di sini seperti lilitan sabuk yang mengikat pinggang Ile Mandiri. Kapela Tuan Ma di sebelah itu, patung Rainha Rosari, nanti aku akan makan ikan bakar, tapi Romo Pedro, kamu pasti akan melarangku. Sebab keluarga besarmu pasti sudah menyiapkan santap malam. Tapi aku takut, jangan-jangan mereka marah atas kehadiranku bersamamu di kota ini. Dimanakah aku taruh kopi Hokeng yang tadi kita beli di Boru?

Ola, Luciola, kamu jangan terlalu gila. Agak sopan sedikitlah di kotaku ini. Bagaimana pun, aku tetap seorang imam diosesan. Orang-orang memanggilku dengan sebutan Romo. Ya, di Flores memang aneh. Imam diosesan atau imam projo di bawah keuskupan, selalu disebut Romo. Sementara para imam anggota ordo dan tarekat, selalu dipanggil Pater. Kalau di Jawa, apalagi di Jakarta, semua akan dipanggil dengan sebutan Pastor. Ingat kan, ketika di Jakarta, aku membolehkan kamu ikut ke Larantuka, asal bisa menjaga diri. Biarlah barang-barangku tetap ada di mobil, sebab aku belum tahu harus tidur dimana. Mungkin di San Domingo, mungkin di rumah. Aku juga tidak tahu kapan Bapak Uskup akan menerimaku. Dari tadi aku kontak dengan Romo Vikjen tetapi tidak bisa. SMSku juga tidak dibalas.

Barangkali mereka semua sudah tahu kalau aku datang denganmu, dan mereka marah. Tetapi kamu tidak perlu takut. Sebab kita tetap masih berada di rel yang benar. Kamu juga tidak perlu kesepian Ola, sebab Suster Ambrosia akan menemanimu. Selamat sore. Sekarang sudah mulai agak dingin. Aroma laut juga sudah mulai tercium, bahkan dari kamar hotel yang ber AC. Pedro, aroma itu pulalah yang katamu pernah dirindukan oleh orang-orang Portugis. Katamu, mereka telah banyak membunuh penduduk asli di gunung sana, yang mereka anggap kafir. Mereka juga telah memperkosa gadis-gadis. Tetapi benarkah leher imam-imam Dominikan itu juga banyak yang tertebas parang, dan dada mereka tertembus tombak? Selamat sore.

* * *

Matahari September jatuh dengan agak tergesa-gesa di pangkal batang ketapang, di ujung pantai. Larantuka tampak letih, dan kemudian selat itu makin gelap. Dari beranda hotel ini, pulau Solor dan Adonara tampak mulai pudar. Pastor Pedro pergi membonceng sepeda motor. Siapakah anak muda yang tadi menjemputya dengan sangat tergesa-gesa? Fraterkah dia? Suster Ambrosia, apakah Anda akan tetap duduk-duduk di teras ini, atau akan memesan kopi? Atau aku bisa membuatkan Anda kopi Hokeng yang tadi kami beli? Itulah malam pertama Ola berada di Larantuka. Doa, basa-basi, makan malam bersama Suster Ambrosia, malam lalu lewat begitu saja, dan Uskup itu sangat marah.
“Pedro, kamu saya kirim ke Jakarta, apakah hasilnya?”
“Saya dapat ijasah S1 Ekonomi dari Atmajaya, Bapak Uskup.”
“Bukan itu maksudku.”
“Ya, saya dapat ilmu, yang harus segera saya gunakan untuk membantu umat di Keuskupan Larantuka. Begitulah Bapak Uskup.”
“Bukan itu. Aku tanya tentang perempuan Manado yang kamu bawa ke Larantuka ini.”
“Bapak Uskup, dia bernama Luciola, teman kuliah saya di Atmajaya. Dia memaksa saya untuk mengantar sampai ke Larantuka.”
“Ya, dia mencintaimu dan selalu mengejar-ngejarmu.”
“Benar Bapak Uskup.”
“Dan kamu sebagai Imam telah bersalah dan berdosa di hadapan Allah, karena telah meladeni perempuan itu. Apakah kamu juga mencintainya?”
“Tidak Bapak Uskup.”
“Apakah kamu akan meninggalkan imamatmu dan menikah dengan perempuan itu?”
“Tidak Bapak Uskup.”
“Cukup. Aku belum bisa memutuskan. Apa yang nantinya akan aku putuskan harus aku konsultasikan terlebih dahulu dengan kuria keuskupan. Untuk sementara kamu tinggal di San Dominggo.”
“Terimakasih Bapak Uskup, selamat malam.”
“Malam.”

Luciola, gadis Manado itu, memang dijuluki “kuda binal” oleh geng ekonomi di Atmajaya. Tapi bagi Pedro, kuda binal seperti Ola tidak akan pernah bisa mengganggu imannya. Lain dengan gadis Jawa yang bermata teduh, berperangai lembut dan sangat sopan itu. Benarkah ia jatuh cinta pada gadis Jawa itu? Bukankah ia hanya bertemu sekali dan, bahkan tak ingat lagi siapa namanya? Lastri, Larasati, atau Ratrikah namanya? Tetapi sampai sekarang, ia tidak pernah mampu menghapus bayangan gadis Jawa itu. Ketika itu kuliah sedang kosong. Ia diajak ke Yogya oleh teman-teman Imam Diosesan. Mereka ada pertemuan Unio Regio Jawa. Karena tidak ada kegiatan, ia ikut para frater projo yang semuanya Jawa, untuk menonton wayang kulit.

Seorang gadis Jawa, mahasiswi ISI, kemudian menemaninya sebagai penerjemah. Ketika Pedro bersalaman dengannya, ada getaran sangat kuat yang merayap lewat telapak tangan dan sorot matanya. Padahal, selama menemaninya, gadis Jawa itu sangat formal, seperti seorang guide profesional. Malam itu, bandrek panas, wayang kulit yang tidak terlalu ia ketahui jalan cerita serta tokoh-tokohnya, dan tentu saja gadis Jawa yang bersuara lembut, dan duduk dengan sangat santun itu, semua telah menggetarkan perasaan Imam Pedro. Seandainya, seandainya ia bukan seorang imam katolik, dan Ola berperilaku seperti gadis Jawa itu.

Meskipun Ola sebenarnya sangat cantik, tinggi, berwajah indo, berkulit putih, dan berpenampilan sangat sensual. Tapi bagi Pedro, Ola hanyalah sahabat yang menyenangkan. Meskipun semangat Ola untuk mengejar-ngejar dan menaklukan dirinya luar biasa. Tetapi, mengapa mata Uskup itu demikian tajam menatap Pedro? Apakah seorang imam sudah berdosa hanya karena dikejar-kejar oleh seorang gadis Manado? Apakah ia telah berdosa karena memperbolehkan Ola mengantarnya sampai ke Larantuka?  Apakah duduk berdua dalam pesawat dari Jakarta ke Denpasar, lalu dari Denpasar ke Maumere, dan dari Maumere dengan minibus carteran meliuk-liuk di jalanan yang banyak tikungan, sudah merupakan dosa? Siapakah yang berdosa?

* * *

Udara malam Larantuka. Bunyi tokek yang sangat dekat di telinga. Malam dengan lampu 15 wat yang temaram di mata. Pedro capek sekali. Tetapi matanya sulit terpejam. HP ia matikan agar Ola tidak menghubunginya. Kasur itu tampak sudah lama sekali tak digunakan. Meskipun sprei baru saja diganti, Pedro merasa kasur itu sangat dingin. Dia lalu bangkit, mengambil rosario, berlutut di depan salib, lalu mulailah dia ucapkan doa yang sudah dihafalnya sejak umur tiga tahun. Sepi. Tapi doa Pedro sulit untuk sempurna. Telinganya masih sayup mendengar suara perahu motor di kejauhan. Mungkin perahu nelayan. Mungkin perahu barang dari Solor.

Tapi ia harus berkonsentrasi pada doanya. Dua ekor cicak berkejaran di langit-langit kamar sambil memperdengarkan bunyi cerecaknya yang sangat keras. Kotoran cicak itu jatuh tepat di pergelangan tangannya. “Bapa kami yang ada di surga…..” Kotoran cicak itu tetap melekat di pergelangan tangannya, kecil sekali agak panjang, warnanya hitam, dan sedikit ada putihnya. “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertaMu…..” Bunyi cicak yang makin keras di pojokan kamar, telah menambah sepi itu menjadi semakin senyap. Sorot mata Uskup masih membayang sangat jelas di pikiran Pedro. Suaranya juga sangat berat. “Berilah kami rejeki pada hari ini…..” Mesin perahu itu makin mendekat. Apakah akan mendarat di bawah sana?

San Domingo, komplek keuskupan itu, terletak agak di ketinggian. Di sisi kirinya ada teluk kecil dengan lembah dan kuburan. Perahu nelayan sering berlindung di sana ketika arus sangat kuat. “Doakanlah kami yang berdosa ini….” Butir rosario itu ditekannya dengan ibujari dan telunjuk. Apakah Ola juga belum tidur? Tampaknya doa juga bisa tidak terlalu mujarab untuk menenangkan pikiran. Pedro berpindah ke tempat  tidur. Ia duduk bersila, tetap memegang rosario. Doa dilanjutkan dengan mangatur napas dan mengosongkan pikiran. “Apa yang kamu dapatkan dari Jakarta?” Pertanyaan Uskup itu masih melekat di telinga Pedro. Padahal tadi ketika mandi, telinga itu sudah digosoknya berulangkali dengan sabun, lalu diguyur air.

Handuk kering juga telah melap telinga itu sampai benar-benar bersih. Tetapi bunyi cicak, perahu motor, dan pertanyaan Uskup itu masih terus menempel disana. “Bapa kami yang ada di surga…” Apakah surga benar-benar ada? Pedro menarik napas sedalam mungkin. Irama napas itu dia sesuaikan dengan kalimat-kalimat doanya. Telinga dan matanya mulai bersih. Tetapi aroma parfum Ola, dan juga bau keringatnya selama perjalanan tadi siang, tercium sangat jelas. Aroma itu terasa menempel di rongga hidungnya. Pedro menarik napas panjang lagi. “Salam Maria penuh rahmat …..” Tetapi benarkah wajah Maria seperti yang ada di lukisan-lukisan itu? Atau seperti Pietanya Michael Angelo?

Siapakah nama gadis Jawa yang menemaninya nonton wayang dulu? Lastri, Larasati, Ratri? “Terpujilah Engkau di antara wanita …..” Pedro menarik napas panjang lagi. Rakyat di Keuskupan Larantuka memang sangat miskin. Ya, Uskup mengirimnya ke Jakarta memang untuk belajar ekonomi, agar bisa membantu umat Larantuka yang miskin itu. “….. seperti pada permulaan, sekarang, dan sepanjang segala abad. Amin” Doa selesai. Doa yang sangat tidak sempurna. Tapi biarlah. Manusia memang tidak pernah ada yang sempurna. Tetapi doa Pedro kali ini bukan sekadar tidak sempurna. Doa itu juga sudah dikotori tahi cicak, disusupi bau parfum dan keringat Ola, dan suara perahu itu seperti ratapan rakyat miskin Larantuka yang  jauh dari jangkauannya. * * *

Fragmen Novel Lembata

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: