Romo Deken

30/06/2014 at 13:27 (novel)

Pantai Larantuka yang suci. Gunung Ile Mandiri yang suci. Reinha Rosari yang teramat suci. Mengapa Pedro telah mengotori pantai yang suci ini dengan membawa-bawa perempuan? Apakah masih diperlukan moke? Apakah juga harus ada doa-doa, nyanyian, sambutan-sambutan, jamuan makan malam yang kudus? Apakah masih diperlukan pelukan, tangisan? Mungkin semua lebih baik diam. Langit lebih baik menutup diri dengan awan. Tapi mungkinkah September ini langit Flores berawan? Angin dari selatan sana juga diharap datang untuk mendinginkan cuaca yang sangat panas. Tapi angin selatan itu hanya mau datang pada bulan-bulan Juni, Juli, dan Agustus. September angin sudah mulai bergeser ke barat.

“Kami sebenarnya sangat takut. Kami takut kehilangan seorang imam bernama Pedro! Bunda Maria, selamatkanlah Pedro kami! Atau lebih baik perempuan itu kita seret ke pantai, kita ikat di sampan kecil, lalu ditarik dan dilepas di Laut Sabu sana?
“Aku sama sekali tidak menduga, para anggota Conferia akan bersikap sekeras itu terhadapku. Apakah salahku? Apakah aku sudah benar-benar merebut Pedro mereka? Bukankah Pedro mereka itu masih utuh?” Pedro sangat yakin. “Tidak ada yang salah. Conferia itu memang harus bersikap begitu. Juga Uskup. Aku juga masih harus menunggu keputusan akan ditempatkan dimana. Ada kemungkinan aku akan dibuang jauh, dan disarankan untuk bertobat.”

Hari masih sangat pagi. Masih sangat gelap. Tetapi orang-orang Larantuka sudah banyak yang bangun. Sebagian besar bergerak mengarah ke pasar. Ada yang naik sepeda motor, tetapi kebanyakan menggunakan angkutan kota. Angkutan umum di Larantuka adalah minibus kecil dengan asesoris mencolok, dan musiknya menggelegar sangat keras. Ikan, sayuran, kemiri, mete, ketika hari mulai siang, kesibukan beralih ke pelabuhan. Puncak kesibukan di pelabuhan itu, akan terjadi tengah hari, ketika kapal dari Lewoleba, dan Kupang datang. Ketika itulah gerobak dorong akan saling berebut tas penumpang. Calo-calo mobil carteran membujuk penumpang, dan akan mengikutinya terus sampai salah satu menyerah.

Bisa penumpangnya yang menyerah, bisa calo itu yang mundur, kalau ternyata penumpang itu sudah ada penjemputnya. Mengapa tidak diatur rapi, dengan nomor urut, dengan tarif yang pasti? Seorang penumpang bule yang akan turun dari kapal, marah-marah karena tasnya diambil begitu saja, dan ditaruh di sebuah mobil carteran oleh seorang calo.
“Kapan Larantukamu ini akan tertib Pedro?”
“Sebenarnya sangat mudah menertibkan mereka, kalau aparat pemerintah dan pemimpin gereja mau melakukannya. Apakah kamu jadi akan ke Maumere sekarang? Bagaimana dengan tiketmu? Bagaimana dengan hotel di Maumere yang sudah dipesan kemarin? Bukankah pesawatmu pagi-pagi sekali?”
“Aku sudah batalkan semua. Aku akan menunggu sampai nasibmu jelas Pedro.”
“Tapi sampai kapan? Tidak ada yang tahu sampai kapan nasibku jelas.”
“Aku tidak peduli. Aku toh tidak akan merepotkan dan membebani siapa pun di Larantukamu ini. Aku bisa tinggal di hotel ini sesuka hatiku. Kalau perlu hotel ini akan aku beli.”
“Janganlah begitu Ola. Bukankah kamu juga banyak sekali urusan di Jakarta?”
“Kalau mengikuti kata Papi, aku memang harus sangat sibuk untuk mengurus bisnisnya di Monaco, di Genting Highland, dan entah dimana lagi. Sementara ia sibuk sendiri dengan perempuan-perempuannya di Las Vegas sana. Dan adik-adikku yang ketika mama meninggal masih sangat kecil, tak ada yang berani protes.”
“Ola, kamulah sebenarnya yang jadi pokok soal, hingga sikap Uskup, Conferia, dan keluargaku menjadi sangat dingin dan kaku terhadapku. Janganlah kamu menambah masalah lagi dengan berlama-lama di sini.”
“Kalau mereka menganggap diriku sebagai masalah, maka aku akan semakin lama tinggal di sini.”
“Ola, kamu memang selalu keras kepala. Mudah-mudahan dalam beberapa hari ini, ketegangan akan mereda. Aku tetap ingin menjadi seorang imam yang baik. Dari dulu kamu sudah tahu itu bukan?”

* * *

Angin dan ombak, kapal-kapal datang dan pergi dari pelabuhan, dari tempat penurunan ikan. Matahari terlalu panas pada siang hari. Hujan biasanya baru akan datang pada bulan-bulan November, bahkan bisa pula baru pada bulan Desember, dan hanya akan berlangsung selama tiga bulan. Tetapi malam hari tetap dingin, meskipun tidak sedingin bulan Juli, puncak datangnya angin selatan. Pedro berusaha tidak tegang dan stres. Dia tetap berhubungan dengan orang-orang, dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan Uskup, dengan sikap yang sangat biasa. Tetapi justru merekalah yang selalu tampak kaku dan serba salah.

Sekitar satu minggu Pedro menunggu. Ola entah sudah pergi kemana saja. Ia tetap tinggal di hotel. Mobil carteran dari Maumere dengan sopirnya, tetap dimintanya menunggu. Entah berapa biaya yang harus dikeluarkannya. Tetapi tiap sore, ia selalu kelihatan ada di Hotel, kadang tampak makan ikan bakar entah dengan siapa. Ternyata dalam waktu sangat singkat, ia sudah banyak kenalan di Larantuka. Ya, dengan kecantikannya, dengan kepintarannya, dengan uangnya, siapa pun pasti mudah diajak bersahabat olehnya.
“Ola, ternyata dugaanku benar. Aku ditugaskan di tempat yang jauh.”
“Dimana, di Amerika Latin?”
“Di Lembata.”
“Masih di Keuskupan Larantuka ini bukan?”
“Ya.”
“Berarti tidak jauh. Bertugas sebagai apa kamu di Lembata?”
“Pastor pembantu di sebuah paroki. Tapi aku belum tahu di paroki mana. Aku harus menghadap Pastor Dekenat, yang mengepalai 13 paroki di Lembata.”
“Kapan kamu berangkat?”
“Besuk.”
“Aku ikut.”

Lembata itu, pulaukah, atau masih di daratan Flores ini? Harus naik apakah dari Larantuka kesana? Hanya bisa naik kapal? Berapa lama? Tiga jam? Apakah kapalnya bagus? Wow, Lembata itu kampungnya Pak Keraf itu ya? Yang orang-orangnya suka menangkap ikan paus? Wow, itu hanya di desa Lamalera? Apakah Lembata itu cukup besar? Apakah orang-orangnya juga miskin seperti di Larantuka ini? Ada yang miskin, ada yang tidak miskin? Ya, itu pasti. Di Jakarta pun ada yang kaya, dan ada yang miskin. Juga di NewYork, Paris, Tokyo. Tapi disana orang-orang miskin itu diurus pemerintah, dengan uang pajak dari orang-orang kaya. Ya, ya, saya ingat. Dulu di kampus pernah ada anak-anak Flores, yang meributkan berita kelaparan di Lembata, yang muncul di koran-koran.

Sekarang ada pesawat dari Lembata ke Kupang? Darimana? Dari Lewoleba? Kalau begitu aku bisa membatalkan tiket dari Maumere ke Jakarta. Lebih baik aku pulang dari Kupang. Biarlah. Aku senang bisa mengantarmu sampai ke tempat tugas yang baru. Di Jakarta, aku mengira kamu akan ditugaskan di Larantuka ini. Jadi aku urus tiket segala macam untuk pulangnya. Tapi ternyata kamu tidak jadi ditugaskan di Larantuka. Jangan pernah mengatakan dibuang, Pedro! Aku sudah bisa minta mobil ini kembali ke Maumere bukan? Tetapi bagaimana nanti di Lembata? Apakah ada mobil yang bisa disewa? Tetapi kamu belum tahu harus bertugas dimana. Apakah tidak semua paroki di Lembata bisa didatangi mobil? Semua sudah bisa bukan? Harus mobil dobel gardan?

Ya, mudah-mudahan September ini belum hujan. Kalau jalannya rusak, naik turun, dan berlumpur, pasti tidak mungkin dilewati mobil. Bahkan mobil dobel gardan pun juga tidak mungkin bisa lewat. Apakah di Lembata sudah ada listrik? Sudah ada telepon? Kalau parokimu itu belum ada listrik, belum ada telepon, bolehkah aku pasang genset, aku taruh antena untuk telepon satelit? Aku harus tetap bisa berhubungan dengan Romo Pedroku. Aku heran. Mengapa kamu tidak mau jadi bintang sinetron atau penyanyi? Suaramu sangat bagus bukan? Nah, kamu juga pernah cerita bahwa sebenarnya ibumu juga ingin kamu menjadi selebritis. Kamu gagah, sangat tampan, tetapi mengapa justru menjadi imam yang harus tidak menikah seumur hidup? Mengapa Pedro? Kamu bilang ini panggilan? Siapa yang memanggil? Tuhan?

* * *

Kapal dari Larantuka ke Lewoleba hanya dua kali sehari, pagi dan siang. Kapal itu tidak besar. Tidak seperti Rinjani, Kerinci, atau Tampomas yang menenggelamkan ribuan penumpangnya di perairan Masalembo. Tidak pula seperti kapal feri yang menghubungkan Merak Bakauhuni, atau Ketapang Gilimanuk. Tetapi kapal Larantuka Lewoleba juga tidak sekecil perahu-perahu nelayan. Ada ruang untuk duduk penumpang, yang dilengapi AC dan televisi. Ada anjungan dan buritan yang terbuka untuk menaruh barang-barang bawaan penumpang. Ya, aku ingat Pedro! Berulangkali Marcel selalu membanggakan Lembatanya.

Dia selalu mengatakan, datanglah ke pulauku di timur sana. Naiklah kapal dari Larantuka ke Lewoleba, dan kamu akan menyaksikan keindahan bukit-bukit di Solor dan Adonara. Dan gunung Ile Boleng, di Adonara, serta Ile Ape di Lembata, akan menyongsong kedatanganmu. Tapi jangan datang pada bulan-bulan Desember sampai Februari. Sebab gelombang pasang, arus deras, dan badai yang akan menyongsong kedatanganmu. Kalau mau, datanglah bulan Mei! Lewoleba ternyata tak seramai Larantuka, apalagi Maumere. Ini ibukota kabupaten Lembata bukan? Di Flores ini, kota terbesar di manakah Pedro? Ende? Bukan Maumere ya? Tetapi mengapa kapal-kapal besar, dan pesawat terbang datangnya ke Maumere dan bukan Ende?

Sudahlah Pedro, kalau kamu tidak mau jadi aktor atau penyanyi, jadilah bupati, atau gubernur. Katanya Flores akan menjadi provinsi ya? Maukah kamu jadi gubernurnya Pedro? Siapa yang akan menjemput kita Pedro? Mobil dekenat? Aneh, aneh sekali Pedro. Mengapa aku bisa datang ke pulau yang maaf, masih sangat primitif seperti ini. Kita akan menginap dimana? Ya, bukan kita tetapi aku dan kamu. Kamu pasti akan menginap di pastoran bukan? Aku harus mendapatkan hotel yang ber AC. Ini tadi kamu bicara dengan siapa? Romo Deken? Siapa itu? Dia ingin bicara denganku, oh my God!

“Selamat siang Romo, saya Ola, teman kuliahnya Romo Pedro. Romo sudah memesankan hotel untuk saya? Aduh saya sangat berterimakasih Romo. Juga mohon maaf, saya telah merepotkan Romo. Apakah saya diperkenankan mengundang makan malam Romo? Wow, saya benar-benar mendapat kehormatan kalau Romo bersedia. Terimakasih banyak Romo.”
“Pedro, mengapa Romo Dekenmu ini beda sekali dengan uskupmu? Dia lebih pantas menjadi Uskup daripada uskupmu itu. Mengapa ini bisa terjadi Pedro?”
“Ola, ada banyak sekali persyaratan untuk menjadi Uskup. Pertama harus ada yang mengusulkan. Untuk bisa diusulkan, kandidat Uskup harus tidak terlalu pintar, harus tidak terlalu baik, harus tidak terlalu populer. Jadi jelas?”
“Tidak.”
“Memang banyak hal yang tidak perlu dijelaskan hingga menjadi benar-benar jelas. Yang jelas, nanti malam kamu harus mentraktir makan Romo Deken.”

Ikan bakar. Di Nusa Tenggara Timur, juga di Indonesia Timur pada umumnya, janganlah makan selain ikan serta hasil laut lainnya. Udang, kepiting, kerang, sotong, itulah produk utama di pulau-pulau terpencil ini. Romo Deken. Dia ini setara dengan bupati, bukan? Lebih hebat dari bupati? Mengapa Pedro? Bupati Lembata hanya memimpin delapan kecamatan, sementara Romo Deken memimpin 13 paroki? O, itu ya? Berarti bukan soal jumlah kecamatan atau parokinya. Romo Deken lebih didengar oleh umatnya, sementara bupati tidak? Pedro, katamu Lembata ini pulau Katolik, tetapi mengapa itu ada mesjid sangat besar?

Benar kamu Pedro. Teman-teman papi juga sering heran seperti itu. Bukankah Indonesia itu the biggest Muslim country in the word? Mengapa kamu Katolik? Tanya teman papi. Ya, di Lembata ini pasti juga ada umat Islamnya. Tetapi di sini aman bukan? Maksudku tidak seperti Ambon, tidak seperti Poso. Aku memang tidak takut. Tetapi bertanya boleh bukan? O, ya, Romo Deken itu mengapa begitu baik terhadapku ya Pedro? Padahal informasi tentang diriku yang datang kepadanya, pasti sangat, sangat negatif. Mengapa beliau tidak termakan isu itu Pedro? * * *

Fragmen Novel Lembata

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: