Aliuroba

07/07/2014 at 13:33 (novel)

Di Lewoleba, hanya ada dua hotel melati, dan satu penginapan yang sangat sederhana. Salah satu dari dua hotel itu masih baru, terletak di pantai. Disitu juga ada restoran yang cukup representatif. Disitu pulalah Ola mengundang Romo Deken dan Pedro untuk makan malam. “Tapi hanya sekadar makan malam saja ya? Kalau ngobrol nanti lain kali kita atur waktunya. Sebab malam ini saya harus misa di rumah umat, juga memberikan sakramen minyak suci disana, agak di ujung kota sana. Tapi terimakasih banyak, atas traktirannya.”

Meskipun mengatakan hanya akan makan malam, dan ngobrolnya nanti saja, namun Romo Deken tetap saja cerita panjang lebar tentang Lembata. “Pedro ditugaskan Bapak Uskup di Lembata, berarti dia harus bertugas sebagai pastor pembantu di Paroki Aliuroba. Itu di ujung timurlaut Lembata sana. Sebab hanya paroki itulah yang pastornya kurang. Tepatlah kalau Pedro menjadi pastor pembantu di Aliuroba. Sebab parokinya bernama Santa Maria Pembantu Abadi. Ini merupakan pemekaran dari paroki Lewoleba. Dulu, tahun 1929, ada tiga paroki yang diresmikan serentak, yakni Santo Antonius di Kalikasa, Santo Laurensius di Hadakewa, dan Santa Maria Pembantu Abadi di Aliuroba.”

“Paroki tertua di Lembata ini pastilah Santo Petrus dan Paulus di Lamalera, yang diresmikan keberadaannya tahun 1886. Saya dulu juga pernah bertanya-tanya, mengapa misi pertama justru datang di tempat sesulit Lamalera. O, ya, ibu belum pernah ke Lamalera bukan? Desa itu curam, dan berbatu-batu. Di Lembata ini, gereja Katolik berkembang secara tak disengaja. Ya, orang beriman pasti mengatakan itu berkat Roh Kudus, atau yang semacam itulah. Tetapi faktanya, dulu memang ada dua misionaris Eropa dari Solor yang terdampar di Lamalera.”

“Ketika itu gereja dan biara mereka di Mananga, Solor, diamuk massa. Para misionaris dibunuh, dan kompleks misi itu dibakar. Hanya dua misionaris yang berhasil lolos ke pantai, lalu naik sampan kecil, hingga terdampar di Lamalera. Mereka ditolong oleh para nelayan disana. Setelah berhasil mengkatolikkan orang-orang Lamalera, dua misionaris ini akhirnya juga terbunuh. Berkat darah dua misionaris inilah akhirnya gereja katolik berkembang di Lembata. Begitulah sampai kemudian Lembata menjadi satu dekenat tersendiri, dari keuskupan Larantuka, dengan total 13 paroki. Paroki paling muda ya  Santo Wilhelmus, di Ledobelolong, yang baru diresmikan Bapak Uskup tahun 2004 yang lalu.”

“Tahun 1985, Paroki Aliuroba juga dimekarkan. Stasi Hoeleaq yang banyak warga Muslimnya, sejak 1985 menjadi Paroki Salib Suci, Hoeleaq. Ya, di Kedang ini memang banyak sekali Muslimnya. Terutama di pantai timurlaut sana.  Kedang sendiri sebenarnya kan nama etnis. Kalau kecamatannya Omesuri di sebelah barat, dan  Buyasuri di bagian timur. Kedang, ke-nya, diucapkan bukan seperti ke pada kelapa atau kedai, melainkan ké pada kécap, atau kémah. Kedang sebenarnya merupakan etnis tersendiri. Kalau kita bicara Lembata, etnis yang paling dominan ya Lamaholot.”

“Ibu akan di Lembata sampai kapan? Ya, saya sangat senang kalau ibu bisa agak lama di sini. Itu lebih bagus lagi kalau Ibu bisa mengantar Romo Pedro ke Aliuroba. Ya, dia memang harus kesana. Sebab semenjak Romo Toni pensiun, paroki itu hanya punya satu imam, Romo Alex. Belakangan ini memang semakin banyak imam yang pensiun, tetapi yang ditahbiskan hanya satu dua. Di Lembata ini, sekarang sudah projo semua. Kalau dulu SVD, dulunya lagi Yesuit. Yang pertama datang ke kawasan NTT tahun 1600an Dominikan.”

“Dominikanlah sebenarnya yang telah berhasil mengkatolikkan Flores. Tetapi Katolik Flores, khususnya Larantuka, ya masih adat animisme. Yang berhasil membangun struktur gereja dengan standar liturginya adalah Yesuit. Lalu SVD masuk untuk mengembangkan pendidikan dan mengatasi masalah kesehatan. Sebenarnya projo diharapkan bisa membantu umat mengatasi kemiskinan. Tetapi susah dan pasti akan makan waktu sangat lama. Oke, ibu, saya segera pamitan, dan terimakasih atas makan malamnya.”

* * *

Ola, ada masalah kalau kamu ikut ke Aliuroba. Kata Romo Deken, disana tidak ada wisma tamu. Aliuroba itu desa kecil. Disana memang sudah ada listrik PLN, tetapi PLN sendiri juga baru punya genset kecil yang hanya dihidupkan pada malam hari. Tower HP memang sudah dibangun, tetapi kalau ada angin kencang sinyalnya putus-putus. Kamu akan menginap dimana nanti Ola? Baiklah kalau begitu. Kamu bisa saja tidak usah menginap, sebab paling lama Lewoleba bisa ditempuh dalam tiga jam. Bisa, aku kira mobil Romo Deken bisa disewa. Sebab orang-orang kalau kemari juga sering menyewa mobil Romo.

Tetapi, mau apakah kamu sampai ingin ke Aliuroba? Kalau kamu memang mau membantu-bantu paroki kampung itu, memang harus bicara dulu dengan Romo Alex, juga Romo Deken. Kamu mau membantu apa? Pembangkit listrik panel surya dan angin? Apakah itu tidak mahal sekali Ola. Ya, aku tahu. Kamu memang kaya raya. Papi kau maksudku. Tetapi apa itu tidak berlebihan? Kamu akan pasang antena parabola untuk telepon satelit? Apakah pulsanya tidak mahal sekali? Ola, kamu harus melihat dulu Aliuroba. Aku lebih senang kalau kamu bukan membantu hal-hal yang tidak terlalu urgent seperti itu, tetapi membantu umat Aliuroba yang rata-rata masih miskin.

Kalau begitu terserah kamulah. Tetapi tetap saya sarankan, kamu bicara dululah dengan Romo Alex. Oh, kamu sudah mendapat ijin dari Romo Deken? Kapan kamu bicara dengan dia? Mengapa aku sama sekali tidak tahu? Dan Romo Deken senang sekali? Wah, ternyata di sini kamu diterima dengan sangat baik. Tidak seperti di Larantuka sana. Ola, aku juga ikut senang kalau orang-orang itu senang atas kehadiranmu. Kamu juga sudah kontak bupati? Untuk apa? Di sini sedang ada masalah antara rakyat dengan bupati, dan aparat pemerintah kabupaten semua. Ya tentang rencana pemerintah untuk menambang emas, dan itu sebagian besar di Kedang sana.

Apa pun alasanmu Ola, saya sarankan kamu tidak usah berurusan dengan bupati. Aku memang tahu bahwa kamu licik seperti ular dan binal seperti kuda liar. Atau kamu memang benar-benar ular? Kamu mau mengharapkan apa dari bupati? Bukankah kamu sangat kaya? Tetapi itu lebih tidak masuk akal lagi. Kamu ingin agar bupati lebih memperhatikan umat di Aliuroba? Benar Ola, bupati itu memang sangat memperhatikan masyarakat Kedang, tetapi mereka yang Muslim. Dia memang katolik, sangat katolik. Tetapi itulah politik yang korup. Bupati itu berusaha keras mengambil hati masyarakat Kedang yang muslim, untuk melawan umat katolik, juga pastor-pastornya, yang semuanya menentang tambang emas.

Ketika di Atma, aku memang banyak terlibat dengan anak-anak yang demo di Jakarta sana. Tetapi saya memang kecewa berat dengan anak-anak itu. Mereka sudah jelas menentang penguasa yang korup, demi rakyat yang masih miskin. Tapi untuk bikin-bikin acara, mereka juga tidak segan-segan minta duit ke bupati. Sebagai pastor, saya kecewa berat dengan mereka. Barangkali kalau kamu ketemu bupati, juga akan langsung dicurigai. Bupati curiga, LSM dan para pastor yang menentang tambang emas juga curiga. Apakah tidak lebih baik kamu jangan bertemu bupati dalam waktu dekat ini? Tetapi terserahlah.

Lewoleba memang sangat panas, juga pada malam hari. Hingga kamar ber AC menjadi mutlak bagi Ola. Malam itu dia terima SMS dari papinya. Katanya dia sedang ada di Tokyo. Ola hanya membalas singkat, bahwa ia sekarang ada di NTT, untuk urusan gereja. Papinya memuji. Dia sangat senang kalau puteri sulungnya mau aktif membantu gereja. Uang? Ah, Ola, apakah papimu pernah menolak permintaan uang darimu? Andaikan kau ingin membeli tugu Monas sekalipun, papimu pasti akan memberi. Apalagi untuk membantu gereja.

Tetapi, di Lembata tidak ada bank kecuali BRI. Dan untuk apa uang di Lembata? Kalau kamu mau membantu panel surya, kincir angin, semuanya kan harus dipesan di Jakarta. Komponen panel surya malahan harus diimpor. Uruslah dengan Oom Pieter. Kamu tidak akan mampu mengurus tetekbengek seperti itu. Komputer, jaringan telepon satelit. Ya kamu bilang saja sama Oom Pieter. Dialah yang tahu hal-hal seperti itu. Kalau komputer kan murah. Komputer secanggih apakah yang kamu inginkan? Papi di Tokyo bukan urusan perempuan Ola. Ini murni urusan bisnis.

* * *

Kedang. Gunung Kedang itu berdiri dengan angkuh setinggi 1.213 meter di atas muka laut. Tidak terlalu tinggi dibanding gunung-gunung di Jawa yang lebih dari 3.000 meter di atas muka laut, tetapi itulah simbol masyarakat Kedang. Sebenarnya nama lengkap gunung itu Ile Ujelewung Kedang. Tetapi orang-orang hanya menyebutnya sebagai gunung Kedang. Ile sendiri berarti gunung. Hingga ada Ile Mandiri, Ile Boleng, dan Ile-ile lainnya. Gunung ini dilingkari oleh jalan raya. Di bagian utara, jalan ini menyusuri pantai, dengan lerengnya yang curam dan terjal berbatu-batu. Batu-batu besar ini terus terhampar sampai ke puncak Ile Ujelewung Kedang.

Jalan raya di pantai utara ini, kadang-kadang melewati celah di antara dua batu besar. Mobil yang berpapasan harus saling menunggu, guna memberi kesempatan kendaraan di depan lewat terlebih dahulu. Kampung-kampung Muslim berderet di sepanjang jalan raya bagian utara Kedang ini, terus sampai ke sisi timur. Kawasan ini memang relatif makmur, karena jalur perdagangan utama di Lembata terentang dari Wairiang di ujung timur laut Lembata, sampai ke Lewoleba di bagian tengah. Wairiang adalah kota kecamatan Buyasuri. Di jalur jalan raya Wairiang Lewoleba inilah, terletak  kota pelabuhan alam Balauring.

Ketika jalan raya Wairiang Lewoleba ini masih mulus karena baru saja diaspal, jarak ini bisa ditempuh dalam waktu hanya sekitar dua jam. Karena beberapa ruas mengalami rusak parah, maka jarak Lewoleba Wairiang akan memakan waktu lebih dari tiga jam. Jalan ini naik turun dan berbelok-belok, kadang menyusuri pantai dengan pohon-pohon kelapa, kadang naik ke bukit-bukit yang dipenuhi batang-batang eukaliptus yang putih dan licin. Tetapi jalan raya ini sangat sepi. Yang melintas hanyalah truk yang merupakan angkutan orang dan sekaligus barang. Mobil pribadi jarang sekali, kecuali mobil aparat kabupaten, dan tentu saja mobil Romo Deken.

Paroki Aliuroba terletak di bagian selatan gunung Ile Ujelewung Kedang. Setelah Wairiang, jalan ini kadang beraspal, kadang hanya berupa makadam. Kalau kita datang dari Wairiang, paroki itu ada di sebelah kiri, beberapa puluh meter masuk ke dalam, dengan jalan makadam yang agak menurun. Gereja itu menghadap ke selatan di lokasi yang agak tinggi. Gedung parokinya hanya berupa rumah biasa yang sangat kecil, terletak persis di depan gereja, agak ke bawah. Disinilah Pedro, seorang imam diosesan, harus mengabdikan dirinya sebagai pastor pembantu. Ada delapan stasi di paroki ini, yang harus didatangi pastor secara bergiliran.
Tetapi Pedro bukan sekadar imam. Dia tidak hanya lulus S1 teologi, syarat untuk bisa ditahbiskan menjadi imam. Dia juga lulus S1 ekonomi dari Atmajaya, Jakarta, dengan IP 3,8. Dia gagah, tampan, dan kulitnya juga tidak sehitam orang-orang Larantuka pada umumnya. Wajahnya tipikal para bintang bola dari Italia. Suaranya juga sangat bagus. “Mengapa kamu memilih jalan hidup seperti ini Pedro?” Ola menangis ketika melihat kondisi paroki Aliuroba. “Dengan S1 ekonomi dari Atma, kamu kan bisa duduk di ruang AC di sebuah kantor di Sudirman atau Thamrin, ke mana-mana naik mobil, apalagi bahasa Inggrismu sangat bagus. Mengapa Pedro?”

“Inilah pilihan, untuk mengimbangi mereka yang otaknya pas-pasan, yang moralitasnya sangat buruk, tetapi bisa duduk di Senayan, bisa berada di sekitar sirkel kekuasaan. Termasuk kekuasaan keuskupan, bahkan juga KWI. Dan ini adalah pilihan dengan kesadaran penuh. Bukan karena keterpaksaan.” Pastor Alex menyambut kedatangan Pedro dengan pelukan hangat. Dia kakak kelas jauh ketika di Hokeng maupun Ledalero. Hingga praktis di seminari menengah maupun tinggi, Romo Alex tidak pernah bertemu dengan Pedro. Dia asli dari Adonara.
“Tapi Pedro, bukankah kamu ditaruh di Aliuroba ini karena dibuang?”
“Siapa bilang? Ketika ditahbiskan sebagai imam, aku memang sudah mengucapkan janji bersedia ditugaskan dimanapun, di wilayah keuskupan Larantuka, atau dimana saja, karena keuskupan Larantuka juga bagian dari Gereja Katolik Universal. Sudahlah Ola, katanya kamu juga akan bertemu dengan camat Buyasuri di Wairiang?”

* * *

Selama 10 hari Ola berada di Lembata. Dia tetap menginap di Lewoleba, tetapi sempat ke Aliuroba tiga kali. Satu kali ketika mengantar Romo Pedro, satu kali dengan kepala dinas PU kabupaten, dan kemudian dengan teknisi yang dikirim Oom Pieter. “Ya memang begitulah Oom, kalau memasang panel surya atau kincir angin perlu waktu sangat lama, karena harus disurvei, dibuat perencanaannya, diajukan anggarannya, ditenderkan dan lain-lain. Tapi Oom sudah dikontak Papi kan? Oke, jadi dananya tidak ada masalah kan? Memang, semua harus disesuaikan dengan anggaran. Tetapi Oom, saya juga ada uanglah, untuk tambahan, dan Oom juga wajib membantu kan?”

“Benar Oom, tetapi begini, pasti ada kan yang sekarang ini Oom tugaskan untuk ke Lembata segera? Jangan lewat Maumere, tetapi Kupang. Tapi ke Kupangnya harus Minggu, Selasa, atau Jum’at; sebab pesawat Kupang Lewoleba hanya tiga kali seminggu, Senin, Rabu, dan Sabtu. Nah, begini Oom, tolong teknisi Oom itu diminta untuk membawa satu set komputer, satu set parabola untuk telepon satelit, dan genset yang sekitar 2000 atau 3000 wat, atau apa itu Oom ukurannya? KWA, KVA, terserahlah Oom, yang ready stock sajalah, bisa yang bensin atau solar tidak masalah. O, harus bensin? Ya Oom? O, kalau yang kapasitasnya kecil.Ya, ya, makasih ya Oom.”

Ola lalu menunggu. Tetapi dia tidak perlu terlalu kesepian. Boni, anak wakil bupati, tiba-tiba datang ke hotel, memperkenalkan diri, dan menawarkan bantuan. “Apakah Mbak, tidak ingin ke Lamalera? Rugi lho Mbak kalau sudah di Lembata tetapi tidak sampai ke Lamalera? Benar Mbak. Itu kampungnya Pak Keraf. Bokap saya kan juga dari sana. Memang kalau sudah bulan-bulan seperti ini, mereka tidak lagi menangkap paus. Puncaknya kan bulan Juni dan Juli. Tetapi kampung itu memang sangat eksotis. Ya, pasti kita tidak berdua saja. Kan harus ada sopir, ada yang harus mengurus logistik.”

“Benar Mbak, ini kan Lembata, bukan Jawa. Oh, maaf, Mbak ini Menado kan? Bukan? Oh, kelahiran LA, besar di Jakarta? Maaf, tetapi memang di sepanjang jalan dari Lewoleba sampai ke Lamalera sama sekali tidak ada warung. Jadi andaikan Mbak mau menginap di Lamalera, selain pesan, ya, sudah ada penginapan, AC ada, dan kita juga harus sekalian pesan menunya, atau kita bawa logistik sekalian dari Lewoleba. Maaf, ini bukan inisiatif pribadi saya Mbak. Ini amanat dari Bapak Bupati. Beliau sebenarnya berharap bisa bertemu dengan Mbak. Hingga apabila Mbak berkenan, saya diminta beliau untuk mengatur jadwalnya.”

Ola sama sekali tidak tertarik dengan Lamalera. Mungkin lain kali, mungkin pula tidak sama sekali. Dia tak bisa membayangkan, bahwa mamalia raksasa itu harus dibunuh, dengan alasan apapun. Bukankah masih ada ikan-ikan lain? Tetapi kalau memang itu sudah tradisi orang-orang Lamalera, dan disenangi oleh para antropolog, disenangi oleh wisatawan minat khusus, ya terserah. Tetapi Ola lebih tertarik untuk mengikuti jadwal Romo Deken. “Kalau diperkenankan, saya ingin sekali mengikuti Romo berkunjung ke paroki-paroki yang dekat sini. Bisa kan Romo?”
“Kalau Ibu Ola ingin mengikuti kunjungan saya, saya sangat senang. Besuk ini saya akan ke paroki Santo Petrus dan Paulus, di Lamalera.”
“Lamalera? Tidak Romo. Kalau ke Lamalera saya tidak ikut.”
“Mengapa? Ibu takut pada orang Lamalera, atau pada ikan paus? Sekarang sedang tidak musim tangkap paus.”
“Tidaklah Romo, saya hanya akan ikut ke paroki yang dekat-dekat dengan Lewoleba. Supaya tidak usah menginap dan bisa kembali ke Lewoleba. Soalnya saya harus selalu menunggu berita dari Jakarta. Saya takut di Lamalera tidak ada sinyal.”
“Memang benar Bu, kalau begitu jadwal kunjungan ke Lamalera saya undur, Ibu akan saya ajak ke Hadakewa, dan Kalikasa. Bagaimana?” * * *

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: