Atmajaya – Jakarta

16/07/2014 at 11:22 (novel)

Pedro. Sekitar empat tahun kamu pulang pergi dari Kramat Tujuh ke Kampus Semanggi. Kamu memang harus mengulang. Sebab mata kuliah S1 Teologimu, tidak ada yang nyambung dengan S1 Ekonomi. Tetapi ketika melihatmu pertama kali, aku sama sekali tidak mengira bahwa kamu adalah pastor. Kamu sangat gaul. Bahkan dengan si brengsek Ucok pun, kamu bisa jadi sohib sekali. Anak-anak, juga dosen, selalu memanggilmu dengan Romo. Aku tahu itu. Tetapi dari pertamakali kudengar panggilan itu, aku mengira itu hanyalah sapaan kampus. Sama dengan Bernadeth yang dipanggil Bu Menteri, atau Nina yang dipanggil Suster.

Tetapi ternyata kamu benar seorang pastor. Ketika kamu mengajakku ke Kramat Tujuh, aku baru benar-benar percaya bahwa kamu seorang pastor. Kramat Tujuh ternyata Wisma Unio, tempat tinggal para Imam Projo. Aku yang bodoh Pedro. Padahal tampak dengan jelas, bagaimana para dosen sangat hormat padamu. Aku kira mereka hormat karena prestasi kamu yang menonjol. Ternyata mereka itu hormat padamu karena kamu imam katolik. Mengapa kamu mau saja ketika aku ajak ngedugem? Kamu memang selalu bilang tidak bisa pulang terlalu malam, karena aturan wisma sangat ketat. Bodohnya aku, Pedro. Aku mengira bahwa mami kamu galak hingga selalu melarangmu pulang malam.

Aku juga telah terus terang menyatakan cintaku, dan mengajakmu untuk menikah. Tentu dengan resiko kamu harus meninggalkan imamatmu, juga dengan resiko Uskup akan menghentikan biaya kuliahmu. Tetapi aku juga siap menanggung semua resiko itu. Aku siap membiayaimu bukan hanya untuk S1 di Atma ini, tetapi juga S2, dan S3. Terserah kamu akan mengambil dimana. Di US, di UK, di Jepang, Belanda,  Jerman? Kamu juga tidak perlu takut tidak punya pekerjaan. Kamu bisa memimpin perusahaanmu sendiri. Kalau kamu gengsi karena modalnya dari Papi, aku siap mencarikan pinjaman modal. Kalau modal itu bisa kamu lunasi, bukankah perusahaan itu menjadi milikmu sendiri?

Tetapi kamu menolak. Kamu tidak mau meninggalkan imamatmu hanya dengan alasan mau menikah. Kamu memang juga mengatakan bahwa setiap saat siap untuk meninggalkan imamatmu, tetapi dengan alasan yang juga sangat teologis, minimal menyangkut hal-hal yang sangat prinsipil di sekitar liturgi dan hukum gereja. Oke, aku lalu tidak akan terlalu ngotot untuk mengajakmu menikah. Tetapi aku sangat berharap kamu mau tidur denganku, tanpa resiko. Kalau perlu aku juga siap membuat surat pernyataan bahwa afair kita ini bukan dalam rangka menjebakmu untuk bersedia menikah. Tetapi kamu juga menolak. Apa kamu impoten Pedro?

Aku yakin tidak. Aku lalu bertanya, bagaimana selama ini kamu menyalurkan hasrat seksualmu? Juga kolegamu sesama imam? Kamu lalu menjawab bahwa hal itu bukan untuk disampaikan kepada siapa-siapa, kecuali kepada bapa pengakuan. Yah, kamu memang seperti hidup di abad pertengahan Pedro. Padahal di abad pertengahan pun imam-imam bahkan uskup, kardinal, mungkin juga paus, telah berselingkuh, bahkan sampai punya anak. Apa kamu bilang? Sekarang pun Uskup di Indonesia juga ada yang sampai punya anak? Hati-hati kamu bicara Pedro! Itu sebuah fitnah besar, sebab kamu tidak pernah punya bukti-bukti. Kamu bilang konon bukan?

Pedro, aku takut kalau-kalau kamu tidak mau denganku, karena papiku seorang pengusaha kemaksiatan. Yah itulah yang menyebabkan diriku tidak mau ikut Papi ke LA. Aku juga tidak mau disuruh kuliah di Roma sambil mengurus bisnis di Monaco. Aku memilih kuliah di Jakarta, di Atma, karena mami dimakamkan di sini. Aku masih ingin dekat dengan mami. Mami dulunya juga sama sekali tidak tahu bisnis papi. Dia baru tahu setelah aku dan tiga adik laki-laki lahir. Mami lalu sering sakit-sakitan, sampai akhirnya meninggal. Begitu tahu bisnis papi, mami selalu mengingatkan agar bisnis itu segera ditinggalkan. Tetapi papi tidak akan pernah mampu. Kamu tahu kan Pedro, bisnis papi bukan hanya judi, tetapi juga pelacuran, dan drugs.

* * *

Acara retret itu selalu rutin diselenggarakan panitia di kawasan Puncak, kabupaten Bogor. Padahal di Jakarta juga banyak tempat retret yang representatif. Misalnya di Wisma Kanossa di Pondok Aren, Bintaro. Tetapi anak-anak selalu mintanya di atas. Kurang asyik kalau masih di bawah. Tidak dingin, dan juga ngapain retret di Jakarta? Maka panitia pun selalu mencari tempat di sepanjang jalur Ciawi Puncak. Itu pun kalau masih dekat-dekat dengan Ciawi, anak-anak protes. Kurang dingin katanya. Maka panitia selalu memilih tempat, paling dekat di Cisarua. Makin ke atas makin bagus. Terlebih kalau bisa melewati kebun teh.

Pemandangan di kebun teh di kawasan Puncak itu memang indah. Bangkok, Singapura, Kualalumpur, Manila, tidak punya tempat seperti Puncak. Dari Kualalumpur, untuk sampai ke Cameroon Highland, perlu waktu setengah hari. Dari Manila ke Baguio, juga dari Bangkok ke Ciangmai, malahan harus naik pesawat. Di Jakarta, kalau tidak macet, hanya perlu waktu satu sampai dua jam, suasananya sudah benar-benar berganti. Dari panas menjadi sangat dingin. Dari bangunan pencakar langit dan rumah-rumah kumuh menjadi kebun teh yang sangat lapang dan hijau. Dari udara yang penuh asap knalpot ke udara cerah, kadang berkabut, tetapi tetap bersih.

Dalam suasana seperti ini, anak-anak tidak pernah memikirkan materi retret. Itu tidak penting-penting benar. Yang utama mencari pasangan, dan sejenak melupakan rutinitas perkuliahan, dan Jakarta yang bising serta sibuk. Sebagai idola, Ola selalu diperebutkan oleh banyak cowok. Bukan hanya karena dia cantik, tinggi, proporsional, berkulit putih, berambut bagus, tetapi juga karena dia kaya, sangat kaya, dan gampangan. Ola mudah saja diajak kencan oleh siapa pun, tanpa pernah merasa bersalah pada siapa pun. “Aku memang naksir berat sama Pedro. Tetapi dia tidak mau sama aku. Andaikan dia maupun, aku tetap harus bisa kencan dengan siapa saja. Apa salahnya kencan?

Kali ini ada empat cowok yang sama-sama berusaha mendekati Ola. Sementara Ola juga berusaha sangat keras mendekati Pedro. “Sudahlah Ola, lupakan saja itu cowok banci, eh maaf, dia kan Romo, jadi janganlah kamu menambah dosa asalmu dengan menggoda seorang pastor. Kamu pilihlah satu di antara kami yang empat ini, atau dua juga boleh, tiga juga bisa, empat-empatnya kami juga tetap mau kok,” dan semalaman anak-anak itu hampir pasti tidak ada yang sempat tidur. Panitia selalu berusaha dengan sangat ketat, agar dalam acara retret seperti ini tidak ada minuman beralkohol, dan drugs. Sebab anak-anak pecinta alam Atma, juga Trisakti, terlebih IKJ, sangat lekat dengan drugs.

Karena Pedro selalu mengelak untuk berdua dengan Ola, dia lalu memilih untuk mengambil empat cowok itu sekaligus. “Apa kamu kuat melayani kami berempat sekaligus Ola? Sokurlah kalau kuat.” Lalu mereka ada yang main gitar, ada yang gaple, ada yang diskusi sangat serius, dan kebanyakan lalu berusaha mencari tempat mojok sampai pagi. Romo dan dosen pembimbing, panitia yang sepuh-sepuh, setelah makan malam, setelah doa malam, sebentar ikut berbasa-basi, tetapi tak lama kemudian lalu pamitan untuk tidur, sampai pagi. Panitia yang tidak tergolong jadul, ikut bergabung dengan anak-anak, sekaligus untuk menjalankan tugas kontrol.

Sepulang retret, anak-anak tampak loyo. Semua kecapekan dan ngantuk. Kembali kuliah, kembali terjebak kemacetan Jakarta, lalu menjadi sesuatu yang sangat tidak menarik. “Bagaimana kalau retret dilakukan tiap weekend? Atau paling sedikit sebulan dua kali?” Pedro kadangkala juga merasa geli dalam hati. “Aku ini imam dan sudah ditahbiskan. Umurku juga sudah lebih tigapuluh, hingga tergolong kelompok kasepuhan. Tetapi sekarang harus ikut jadi muda lagi. Harus ikut gaple, ikut main gitar, menyanyi, bahkan juga diajak mojok oleh Ola. “Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu, datanglah…..”

* * *

Sebenarnya, aku sama sekali tidak mengira bahwa Ola itu sangat kaya. Aku memang beberapa kali mendengar selentingan dari teman, bahwa papinya Ola itu raja judi. Tetapi yang saya tangkap, papinya Ola, tukang main judi. Ternyata dia punya jaringan bisnis raksasa yang membentang dari Las Vegas sampai Monaco. Ola, apakah papimu itu Cina, atau Manado? Kamu sendiri tidak tahu. Apakah papimu benar-benar misterius hingga silsilahnya pun dirahasiakan? Oh, jadi kamu juga masih punya oma dan opa dari papimu? Kan mereka bisa ditanya, apakah mereka Cina atau Manado. Katamu campur-campur ada belandanya juga?

Baiklah, aku memang tidak takut dengan kemaksiatan. Jadi aku tidak mau denganmu, bukan karena papimu punya bisnis judi dan lain-lain. Aku tidak mau  denganmu karena aku seorang imam, titik. Bukan karena latar belakang papimu. Aku sungguh tidak pernah takut dengan kemaksiatan. Orang-orang yang takut kamaksiatan, lalu berusaha keras menghancurkannya, sebenarnya mereka lemah. Mereka juga tidak bisa menghargai hukum alam, yang juga merupakan bagian dari hukum Allah. Sebab kemaksiatan, juga kejahatan, adalah bagian dari keseimbangan hidup. Dalam diriku pun ada dorongan yang sangat kuat untuk berbuat jahat, untuk berbuat maksiat. Batas antara baik dan buruk dalam diri seseorang, sungguh sangat tipis.

Semakin tinggi status sosial, ekonomi, politik, juga kesucian seseorang, semakin kuat pula dorongan untuk berbuat jahat dan maksiat. Ola, menjadi orang baik, bukan berarti harus menjauhi atau menumpas kejahatan, tetapi dengan cara berusaha tidak ikut arus. Ola, aku sebenarnya kagum padamu. Mencintaimu? Tentu gradasi cinta itu sangat luas. Kalau cinta dalam arti antara laki-laki dan perempuan, aku tidak merasakannya dengan kamu. Aku justru tergetar ketika bertemu dengan gadis Jawa seperti yang telah berulangkali aku ceritakan padamu, dan kamu selalu cemburu berat itu. Tetapi salahkah kalau aku tetap baik denganmu? Bukankah aku tidak berharap apa pun darimu selain hanya kebaikan itu sendiri?

Ternyata empat tahun itu sebentar sekali. Aku banyak tahu tentang kesepianmu, kesiasiaanmu, tanpa aku bisa membantumu. Sebab kalau aku mau membantumu, berarti telah mengorbankan sesuatu yang jauh lebih berharga. Aku sama sekali tidak takut dengan Uskup, bahkan juga dengan neraka sekali pun. Tetapi aku tidak berani melanggar sumpahku sendiri. Aku sudah berjanji untuk tetap menjadi imam katolik. Memang ketika itu aku juga berkata dalam hati, bahwa bisa saja sumpah ini aku langgar. Tetapi alasannya bukan karena perempuan. Aku tidak mau seperti banyak teman-teman imam, yang dengan mudahnya meninggalkan keimamannya, hanya karena ingin menikah.

Atmajaya, kampus itu telah memberiku banyak sekali pelajaran. Bukan itu Ola. Bukan ekonomi mikro, atau makro, atau teori-teori yang rumit itu. Bukan kapitalis, bukan sosialis, bukan ekonomi pasar, bukan soal WTO, moneter, atau persaingan global, melainkan soal kesetiaan pada janji. Memang benar Ola, menjadi manusia yang baik, meskipun dengan meninggalkan keimaman, tetap lebih baik daripada tetap menjadi imam yang bermasalah. Aku juga tahu bahwa banyak teman imam yang sangat bermasalah, sementara mereka yang meninggalkan keimamannya, kemudian bisa menjadi ayah yang baik, dan bisa lebih bermanfaat bagi sesama.

* * *

Ola, satu tahun tinggal di Unio, dan kuliah di Atma, aku sangat terkejut. Pertama karena kamu naksir aku. Kedua aku baru tahu kalau imam-imam di Jakarta sangat dimanjakan keadaan, juga dimanjakan umatnya. Di paroki kaya, umat bukan hanya sekadar mengantar makanan ke pastor, tetapi juga HP, sepeda motor, bahkan mobil. Kamu tahu Ola, sepeda motor besar yang aku pakai sehari-hari itu, yang kadang kamu boncengi kalau aku tidak mau masuk ke mobilmu; itu juga dari umat. Tahu-tahu di wisma Unio sudah ada sepeda motor, ada BPKB, ada STNK, ada kunci, dan siap untuk aku pakai. Aku sebenarnya kikuk diperlakukan seperti ini, tetapi Bapak Uskup mengatakan: “Pakai saja!” Aku harus patuh pada titah Uskup.

Ketika siang-siang, kamu mengajakku makan di lounge Hotel Sultan, sebenarnya aku sudah curiga. Mengapa kalau hanya makan tidak di Plaza Semanggi yang tinggal jalan kaki? Ternyata kamu sudah booking kamar. Aku sangat kaget ketika itu. Tapi Ola, aku lebih kaget lagi ketika ada teman imam yang cerita padaku, bahwa ia sudah biasa seperti itu dengan seorang ibu, yang ada anaknya, ada suaminya. Mereka katanya secara rutin ke Putri Duyung Cottage di Ancol. Katanya Putri Duyung aman karena mobil langsung masuk garasi, langsung ditutup, dan resort itu hanya milik mereka berdua, kalau di hotel, salah-salah kepergok orang yang mereka kenal di loby.

Aku makin kaget lagi ketika ada teman imam dari Flores, yang bercerita ditawari oleh kelompok ibu-ibu dengan terus terang. “Pastor, kalau ingin menyalurkan hasrat seksual, dengan kami saja, biar aman.” Kami Ola! Jadi bukan hanya satu dua orang, tetapi sekelompok ibu-ibu. Dan dalih mereka adalah, supaya aman. Sebab kalau sampai dengan yang masih gadis, resiko hamil, resiko menuntut dikawini, akan sangat besar. Dua tahun, kemudian tiga tahun di Jakarta, aku makin tahu, bahwa cukup banyak imam katolik yang sudah luntur keimamannya. Aku malu Ola bercerita kepadamu, tetapi itulah kenyataannya. Aku juga bersyukur karena masih bisa bertahan pada rel yang dibenarkah oleh Allah.

Tetapi aku juga salah Ola. Aku tidak mampu menolak kebaikanmu. Aku juga terlalu lemah untuk menjaga jarak denganmu. Tetapi itu manusiawi bukan? Atmajaya, ternyata juga tampak megah hanya dari luarnya. Aku tahu Ola, di dalamnya juga ada korupsi, ada ketidakadilan. Dan ternyata bukan hanya di Atma. Juga di keuskupan agung, di tarekat-tarekat, bahkan juga di KWI. Beberapa teman imam menjadi frustrasi. Sayangnya, mereka kemudian ikut hanyut terbawa arus. Mungkinkah aku juga akan bernasib sama seperti mereka? Tetapi tahu-tahu kuliahku selesai. Empat tahun ternyata menjadi sangat singkat.

Aku juga tidak tahu harus bertugas dimana, dan sebagai apa setelah lulus ini. Semua terserah Uskup dan kuria keuskupan. Sebagai imam projo, aku harus patuh pada keputusan Uskup. Kalau disuruh memilih, sebenarnya aku ingin sekali bisa mengambil S2, juga S3, di luar. Tetapi Uskup pasti keberatan. Larantuka sungguh kekurangan imam. Aku kira bukan hanya Larantuka tetapi di mana-mana gereja selalu kekurangan imam. Dan aku siap untuk ditempatkan dimana saja, termasuk menjadi pastor pembantu di sebuah paroki. Yang jelas aku harus segera pulang ke Larantuka, lalu lapor kepada Uskup.

O, ya, benarkah kamu serius mau mengantarku sampai ke Larantuka? Aku tentu senang kamu ingin mengantarku kesana. Tetapi orang-orang itu pasti akan heboh. Kalau kamu bijaksana, janganlah ikut ke Larantuka. Tapi itu bukan mauku. Baiklah, kalau kamu memang ngotot begitu, tidak apa-apa. Aku siap untuk diisukan macam-macam. Aku siap untuk dimarahi Bapak Uskup, siap untuk dihukum, apa pun bentuknya hukuman. Sebab hanya Allah yang tahu, bahwa kita memang tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar hukumNya. Baiklah Ola, kamu akan mengurus tiket sendiri, atau bagaimana? * * *

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: