Montreux-Lavaux

22/07/2014 at 12:44 (novel)

Di kamar hotel, di Lewoleba, malam sudah sangat larut. Ola menangis. Ia merasa telah kehilangan harapan untuk menaklukkan Pedro. Dia memang tulus membantu Paroki Aliuroba, dengan segala macam peralatan. Ia juga menaruh dana abadi berupa deposito, yang bunganya bisa diambil setiap bulan untuk mendanai pembangkit listrik, tagihan telepon, dan juga biaya rutin paroki, karena uang kolekte sangat terbatas, sementara donor individu atau lembaga seperti di paroki kaya di Jakarta, sama sekali tidak ada. “Apakah aku akan kembali ke Jakarta? Atau tunduk pada papi dan ikut ke LA, atau mengurus bisnis di Monaco? Tidak juga. Aku akan menenangkan pikiran di Geneva. Aku akan ke Lavaux, ke Montreux, aku akan menikmati kesunyian kebun-kebun anggur, ketika salju menjadikannya hamparan putih di lereng yang berteras-teras itu.

Tetapi Ola tidak berani melihat wajah Jakarta. “Jakarta hanya akan mengingatkan empat tahun kebersamaanku dengan Pedro. Mungkin kalau aku benar bisa menikah dengannya, paling tidak sudah sempat tidur sekali dua kali, kenangan itu tidak akan terlalu membebani diriku.” Ola merasa ada sesuatu yang belum selesai, tetapi ia sama sekali tidak tahu apa. “Apakah ada flight dari Kupang ke Singapura langsung? Kalau tidak ada aku mau ke Darwin, baru kemudian ke Singapura dan terus ke Milan atau Roma. Dari sana baru ke Cointrin. Aku masih punya visa Australia. Tidak masalah. Barang-barangku yang di Jakarta, biarlah Oom Pieter yang mengurusnya.”
Malam itu menjadi terasa lama sekali. Ia ingin kontak dengan Pedro, tetapi itu tidak mungkin. Dia justru akan merasa aneh kalau malam-malam begini ia menghubunginya. Untuk apa. Biarlah. Nanti kalau sudah di Geneva atau Montreux ia akan menghubunginya hanya dengan e-mail. Dia merasa takut mendengar suara Pedro. Suara itu juga akan mengingatkannya pada tahun-tahun indah di sekitar kampus, di Plaza Semanggi, di Plaza Indonesia, di Plaza Senayan, berapa ratus kalikah ia makan siang atau makan malam dengan Pedro? Ola menghubungi room service, apakah bisa dikirim bir ke kamarnya? Bisa? Apakah ada Guiness? Ya, Guiness saja. Sebab di sini pasti tidak ada Sparkling Wine.

Hari itu pesawat dari Lewoleba ke Kupang tertunda. Harusnya sekitar pukul 12.00 witeng, ditunda sampai pukul 13.00 witeng. Di luar dugaan Ola, aparat kabupaten mengantarnya. Romo Deken karena sangat sibuk hanya SMS mengucapkan selamat jalan, dan terimakasih. Diperlakukan seperti seorang pejabat, Ola menjadi agak kikuk, Ia minta agar dilepas saja di ruang check in. Tetapi ternyata semua sudah diurus oleh aparat kabupaten. Hari itu Ola hanya mengenakan T-Shirt, dan jeans ketat, dengan sepatu hak tingginya. Ia hanya membawa koper medium size, dan tas jinjing ia masukkan ke dalamnya. Dompet dan lain-lain ditaruhnya di tas pinggang. Pesawat Lewoleba Kupang itu sangat kecil. Kalau masih ada flight ke Darwin, ia ingin sekali segera lepas dari Kupang.

Sesampai di Kupang, Ola agak kaget, karena sudah ada dua orang berpenampilan sangat sangar menjemputnya. Mereka diminta Oom Pietter untuk mengurus segala kebutuhan Ola. “Apakah ibu mau terus langsung ke Darwin, apa menginap dulu di Kupang?” Oom Pietter, ternyata dia tahu betul perasan Ola yang sedang kacau. “Apakah masih mungkin sore ini ke Darwin? Airporth masih ada seatnya? Kalau ada saya memang ingin langsung saja. Ya, hotelnya dibatalkanlah, tidak apa-apa kan? DPnya ya biar saja nanti saya ganti. O, ya sudah kalau semua sudah ditanggulangi Oom Pietter. Jadi saya terus masuk, bagasinya bagaimana? Oke, terimakasih banyak.” Ola lalu mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, dan menyelipkannya ke tangan salah seorang penjemput itu.

* * *

Darwin bulan September tetap sama saja, kering. Bintang kelihatan sangat jelas, meskipun pendar lampu kota juga sama kuat dengan Jakarta. Penduduk kota ini hanya 106.000 jiwa. Jadi udara bersih. Hujan memang juga sudah datang September ini, hingga cuaca tidak sekering dan sepanas bulan Juli. Tetapi puncak hujan akan terjadi bulan Januari. Cuaca di Darwin memang sama dengan di Flores, dengan di Lembata, juga di Timor. Sekarang Ola merasa sebagai orang bebas. “Di sini tidak ada yang mengenalku. Pedro juga sudah menjadi masa lalu.” Ola langsung mencari tiket ke Singapura. Ada dua maskapai yang menerbangi Darwin Singapura, Tiger Airways dan Jetstar Airways.

Ola segera mencari taksi ke Central Business District yang banyak hotelnya. Dia tidak ingin menginap di kawasan wisata di pantai, sebab tempat seperti itu juga akan menggugah ingatannya pada Pedro. Setelah mandi, Ola ke resto untuk mencari makan. Dia kaget sekali ketika ada perempuan yang meneriakkan namanya. “Ola, ngapain kamu ada di sini? Sama siapa? Sama Romomu ya?” Ola tidak menjawab. Tetapi matanya berkaca-kaca. “Ola, kamu ada apa? Oya, ini kenalkan Frankie. Dia orang sini, tapi bisa ngomong Indonesia malah juga Jawa. Frankie, ini Ola, Ola, ini Frankie. Kamu mau cari makan kan? Dari tampangmu tampak sekali kalau kamu lapar. Ayo kita cari sea food. Di sini steaknya juga benar-benar steak. Ayo!”

Ola ingin sekali menangis, tetapi itu tidak mungkin dilakukannya. Dia juga tidak mungkin curhat ke Stefanie. Dia sebenarnya anak kedokteran, tetapi menjadi anggota gengnya karena sama-sama Manado. Dia ternyata punya cowok Darwin. Tidak tahu dimana ia bisa menggaet cowok bule itu. Tetapi Ola juga tidak terlalu kagum, karena cowok Stefanie itu jelek sekali. “Apakah karena dia kaya? Tetapi cowok Australia umumnya ya biasa-biasa saja. Apalagi dari Darwin. Tapi itu bukan urusanku bukan?” Stefanie banyak menceritakan Ola kepada Frankie. Sementara info tentang cowok itu seperti disembunyikannya.
“Stef, sory banget ya, aku capek sekali. Besuk aku mau terus ke Geneva, lewat Singapura.”
“Kamu patah hati dicuekin Pedro?”
“Bukan Stef. Dia kan pastor. Aku yang salah telah mengejar-ngejarnya sampai ke Lembata.”
“Lembata? Bukannya dia itu Flores?”
“Lembata itu juga masih Flores. Sekarang dia menjadi pastor paroki di Lembata. Sayang ya ijazahnya?”
“Sayang juga gantengnya, gagahnya, IPnya yang berapa Ola? Tiga koma delapan? Gile! Oke, kami ditinggal saja. Nanti aku yang bayar.”
“Trims ya Stef, Frankie, selamat malam.”

Satu-satunya cara untuk cepat tidur adalah minum sebanyak mungkin. Di sini, Ola bukan hanya bisa minta sparkling wine, tapi juga Cognax dan Vodka. Ola senang sparkling wine, karena manis, alkoholnya sedang, dan karbonnya masih ada seperti bir. Hingga tahu-tahu sudah ngantuk dan tidur. Cognax, terlalu tinggi alkoholnya, dan Vodka terlalu harum. Tapi kali ini sparkling wine itu tidak terlalu mujarab. Ola sebenarnya tidak suka merokok, tapi kali ini bolehlah. Dia kembali memanggil room service dan minta sebungkus Davidoff. Ola terbatuk-batuk, meski baru mencoba satu dua isapan. “Sebenarnya aku tidak memerlukan minuman, tidak memerlukan rokok, aku memerlukan ketenangan. Apakah aku masih bisa berdoa?”

Tapi aku tidak berani berdoa. Aku takut tiba-tiba Tuhan datang, paling tidak malaikatnya, dan langsung memarahiku habis-habisan. Aku lebih takut lagi kalau yang datang itu malaikat pencabut nyawa. Kalau aku mati sendirian di kamar hotel ini, meski pun kemudian ada otopsi, orang-orang pasti menuduhku telah OD. Papi dan adik-adikku juga akan malu sekali. “Tuhan, kamu belum mau mengirim malaikat pencabut nyawa itu kan? Janganlah sekarang Tuhan. Mengapa kamu diam saja Tuhan? Apakah kamu bisu? Atau aku yang sebenarnya telah tuli. Ya, aku telah tuli hingga tidak pernah mampu menangkap firmanmu. Okelah Tuhan, lama-lama aku ngantuk juga.”

* * *

Akhir September. Ola transit di Singapura. Hanya sebentar, sebab sore itu juga ia akan langsung ke Milan, dengan  Singapore Airlines. Maskapai ini sebenarnya juga terbang ke Roma, tetapi dia lebih senang ke Milan, karena jaraknya dengan Geneva lebih dekat. Kalau tidak ke Geneva, Ola juga ingin jalan darat langsung ke Montreux di Kanton Vevey, lewat Simplon Pass, atau Great Saint Bernhard Pass. Tidak jadi masalah harus melintasi Italia, sebab ia masih punya visa di hampir semua negara Uni Eropa. Swiss International Airlines sebenarnya juga ada yang terbang langsung ke Zürich lewat Bangkok. Tetapi Ola tidak suka Zürich. Dia lebih suka Geneva, entah mengapa. Mungkin karena danaunya, mungkin karena puncak-puncak Alpinanya, barangkali karena kebun-kebun anggurnya, tetapi mungkin juga karena ia senang mendengar orang-orang ngomong Perancis. Di Zürich, semua orang ngomong Jerman.

Sebenarnya Ola juga tidak bisa ngomong Perancis. Ia memang pernah kursus di Pusat Kebudayaan Perancis, tetapi hanya betah beberapa bulan lalu macet. Tetapi kalau hanya sekadar komunikasi di airport, hotel, restoran, dan taksi, tidak ada masalah. Kalau perlu juga pakai bahasa Tarsan. Padahal sebenarnya banyak juga orang Perancis yang bisa ngomong Inggris. Tetapi gengsi mereka sangat tinggi. Jika ada orang ngomong Inggris, selalu saja dicuekin. Dulu pernah ada dosen Atma yang sengaja ngomong Jawa dengan siapa pun di Paris. Jawa halus lagi : Nyuwun sewu, kawulo nderek tanglet, punopo panjenenganipun pirso …… Siasat ini berhasil. Orang Perancis itu segera bertanya : Do You speak English? Oh yes of course! Dan bahasa Inggris orang Perancis itu juga sangat bagus.

Terbang limabelas jam, dan hanya transit sebentar di Mumbai, merupakan siksaan tersendiri bagi Ola. Satu-satunya kegiatan dan juga kewajiban hanyalah mengisi slip imigrasi. “Andaikan di sampingku ini ada Pedro!”  Ola ingin sangat rileks dan tidak mau diganggu siapa pun. Maka ia memesan dua tiket kelas bisnis. Hingga dua kursi besar di bagian depan Jumbo Jet itu ditempatinya sendirian. “Aku benar-benar ingin sendirian. Kecuali yang duduk di sebelahku ini Pedro. Aku memang sangat boros. Tetapi biarlah. Aku boros juga tidak akan jatuh miskin, aku menghemat juga tidak akan tambah kaya. Untuk apa? Yang penting aku merasa hepi.” Dan ketika pramugari mulai menawarkan wine, kemudian cognax, Ola menyambutnya dengan sangat bergairah.

Aneh, Ola terpaksa dibangunkan oleh pramugari ketika transit di Mumbai. Juga ketika sudah tiba di Malpensa. “Ini sudah sampai Milan? Aduh, seperti mati aku tertidur. Padahal aku sama sekali tidak minum obat apapun. Kalau karena minum, aku juga minum tidak terlalu banyak. Barangkali karena sekarang sudah ganti suasana. Baguslah. Aku akan cari mobil dan drivernya, aku akan jalan darat lewat Simplon. Sebenarnya dari Milan ke Montreux lewat Great Saint Bernhard Pass, atau Simplon Pass, jaraknya sama saja. Kalau lewat Great Saint Bernhard lebih lama di Italia, kalau lewat Simplon lebih lama di Swisnya. Tetapi aku lebih enjoi lewat Simplon.” Sopir Italia itu hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar Ola ingin lewat Simplon Pass.

Sopir itu bahasa Inggrisnya sangat bagus. Dia mengaku sudah punya anak empat. Empat? Dari satu istri? Dia bingung bukan hanya karena aku ingin lewat Simplon. Padahal sudah ada terowongan sebelum Gondo, di perbatasan Italia Swis,  langsung ke Brig. Dari sini ke Sierre, dan di Sierre ini ada jalan tol ke Sion, Martigny, Aigle, dan Montreux. Tetapi aku tidak ingin masuk terowongan. Aku ingin naik ke Simplon. Harus. Sopir itu akhirnya tertawa. Aku menjanjikan tip yang cukup besar untuk ukuran sopir di Milan. Okey? Dan perjalanan panjang itu pun dimulai, tapi kembali aku tertidur. Mungkin inilah yang disebut sebagai tidur-tidur ayam. Setengah tidur, setengah terbangun. Dan tahu-tahu aku sudah berada di ketinggian 2005 m. dpl. Di pos imigrasi pun, aku masih seperti setengah mimpi.

September sebenarnya belum terlalu autum. Tetapi udara sudah sangat dingin. Aku minta sopir itu ikut makan dan minum. Ini juga surprais baginya, sebab biasanya dia harus bayar sendiri. Aku ingin sekali menangis, tetapi ketahuan oleh sopir itu. “Ibu tidak apa-apa? Apa saya melakukan kesalahan?” Tidak-tidak, aku hanya ingat pada mami. Aku dulu pernah diajak jalan dari Milan lewat Simplon oleh Mami. Waktu itu Mami sudah sakit-sakitan, papi sudah lebih banyak di Vegas. Sekarang mami sudah tidak ada. Okey, tidak ada masalah. Mami sudah lama sekali pergi. Aku ceritakan hal itu pada sopir. Dan ia memberikan empati yang tinggi. Aku bilang, perjalanan masih sangat panjang dan jangan mengantuk!

* * *

Dari waktu aku masih SD, Montreux sama sekali tidak berubah. Yang beda cuma sekarang kebun anggur itu memerah karena autum. Buahnya habis dipanen. Aku akan menunggu sampai seluruh kebun itu rontok daunnya, dan kemudian semuanya menjadi putih. Dulu ketika dengan mami kesini, selalu pas panen anggur. Aku pernah ikut panen, dan itu menyenangkan sekali. Aku akan natalan dan tahun baruan, sendiri di tepi danau Geneva ini. Danau Geneva dari udara tampak seperti lengkungan kujang yang membentang dari timur sampai ke barat. Tepi bagian selatan ikut wilayah Perancis, sementara bagian utara dan pojok tenggara serta barat daya, ikut Swis, dan dibagi menjadi dua wilayah: Canton of Geneva, serta Canton of  Vaud.

Montreux adalah satu dari 382 municipalities, di seluruh Vaud. Persisnya, Montreux terletak di Vevey, salah satu dari 19 distrik di Vaud. Dari 19 distrik itu, tujuh di antaranya terletak persis di tepi danau Geneva. Semuanya merupakan penghasil anggur untuk wine. Di Lavaux, salah satu distrik itu, ada sekitar 830 hektar kebun anggur terasering yang dibangun para rahib Katolik  pada abad ke 13. Lahan-lahan anggur terasering ini, memperoleh sinar matahari yang terpantul oleh permukaan danau, dan juga oleh dinding granit pegunungan Alpina. Hingga wine yang dihasilkannya memiliki cita rasa sangat khas. Sejak bulan Juli, 2007, kebun-kebun anggur di Lavaux ini dijadikan World Heritage Sites oleh UNESCO.

Aku sudah puluhan kali kemari. Yang paling mengesankan tentu ketika liburan dengan Mami, sebelum ia meninggal. Tetapi, belum pernah aku datang ke Geneva, ketika  autum, dan kemudian akan menikmati winter yang dingin sendirian. Tetapi aku merasa sangat, sangat nyaman. Montreux, maukah kau mendinginkan hatiku? Saljumu yang jatuh di cermin danau. Patung perunggu Freddie Mercury yang mengepalkan tinjunya sambil menatap puncak bersalju yang runcing. Aku akan tinggal di hotel mana ya? Tapi yang jelas aku harus memilih kamar yang menghadap ke danau. Mungkin suit room, bisa pula cukup yang de luxe, atau yang standar tidak jadi soal. Sekarang bukan sedang peak seasion, kamar pasti banyak yang kosong.

Chateau of Chillon, kastil tua di pinggir danau itu, apakah aku bisa ketemu hantu-hantu abad 11 yang gagah dan tampan? Kalau bisa harus yang setampan Pedro! Mengapa Pedro lagi? Tidak. Mengapa aku harus datang lagi ke kastil itu? Untuk apa? Barangkali aku bisa ketemu dengan laskar Romawi yang berbaju zirah, bertameng serta membawa tombak? Tidak, semuanya tidak. Aku harus check in, harus mandi, harus ganti baju. Sejak dari Darwin, aku belum juga ganti baju, belum mandi, bahkan juga lupa beol. Aku masih sangat terkesan dengan wajah sopir Italia itu ketika menerima tip. Jumlah tip itu sama besar dengan biaya sewa mobilnya. Dia kaget, tidak percaya, bingung, akhirnya dengan terbata-bata mengucapkan terimakasih berulangkali.

Di restoran Hotel Splendid itu Ola seperti baru saja meletakkan beban yang sangat berat. Dia memesan steak, roti perancis, keju alpina, sparkling wine dan kopi. Tetapi tak ada nafsu untuk makan. Hanya perutnya tetap harus diisi. Dari kemarin ia hanya makan di pesawat dari Darwin ke Singapura, makan di Cangi, di pesawat dari Singapura ke Milan, dan tadi siang di Simplon Pass ia hanya makan snack dan ngopi. Perut ini memang harus diisi, Ola minta operator musik di restoran itu untuk diputarkan lagu-lagu  Freddie Mercury. Memang sangat jadul bukan? Tetapi ini kan kotanya Freddie. Malam itu Ola bisa benar-benar tidur, bukan tidur-tidur ayam. * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: