Emas, LSM, Saint-Étienne-de-Tinée

11/08/2014 at 12:21 (novel)

Ada demo tandingan di Lewoleba. Demo itu dilakukan oleh sekelompok masyarakat, yang menyatakan dukungan kepada pemerintah kabupaten untuk melanjutkan proyek tambang emas di Lembata. “Emas untuk kemakmuran Lembata” – “Kami Dukung Tambang Emas” – “Pro Emas Lembata”. Spanduk-spanduk digelar, tetapi spanduk itu rapi. Kainnya bagus, tipografi teks spanduk tercetak dengan mesin-mesin yang hanya ada di Jakarta, paling tidak di Jawa. Tidak mungkin rakyat kecil Lembata mampu mengungkapkan perasaan mereka dengan frasa-frasa yang tertata rapi, dengan tipografi yang terancang baik, dan dicetak dengan teknologi mutakhir. Banyak pihak menduga, bupati dan aparat pemerintah kabupaten berada di balik demo tandingan ini.

Massa yang ikut demo tandingan, tidak sebanyak massa yang berdemonstrasi menolak tambang emas di Lembata. Sebenarnya, rencana penambangan emas di Lembata, baru sebatas adanya MOU antara bupati dengan broker dari Jakarta. Broker inilah nantinya yang kembali akan menjual proyek tambang emas Lembata, kepada investor asing. Yang ke mana-mana memprovokasi rakyat dan menyuap aparat pemerintah, adalah karyawan broker ini. LSM, dan juga gereja katolik kompak menolak proyek ini. Sebab proyek-proyek serupa di kawasan lain, selalu menyengsarakan rakyat, dan sekaligus merusak lingkungan. Yang kaya hanya aparat pengambil keputusan, dan juga aparat keamanan.

Memang ada satu imam katolik di Lembata, yang mati-matian membela proyek, dan memuji-muji bupati. Sejak masih frater, imam ini rajin menulis di koran lokal, yang isinya merupakan sosialisasi proyek tambang. Bupati sangat senang, hingga ketika frater ini ditahbiskan, diselenggarakan pesta yang mewah, yang seluruh biayanya ditanggungnya. Tetapi hampir semua imam katolik di Lembata, berpihak pada rakyat, dan ikut menolak proyek tambang. Banyak di antara mereka yang melakukannya dengan transparan. Romo Pedro, sebagai imam baru agak berhati-hati, meskipun sikapnya juga sangat jelas, yakni ikut menolak tambang emas. Romo Pedro juga heran, mengapa belum ada pernyataan sepatah kata pun dari uskup.

Tetapi Romo Pedro juga ragu-ragu dengan sikap LSM lokal yang demikian bernafsunya menolak penambangan emas, tetapi tidak pernah secara serius memikirkan, bagaimana mengatasi masalah kemiskinan yang merupakan derita rakyat banyak. Sebelum ada emas pun mereka sudah menderita, apalagi nanti setelah tambang dibuka. Tetapi, mengapa LSM-LSM itu baru bersuara sangat keras hanya setelah ada isu tambang emas? Beberapa teman eks seminari Hokeng, sekarang juga duduk sebagai anggota DPRD Lembata. Romo Pedro sangat kecewa terhadap beberapa teman ini. “Anggota DPRD seharusnya membela kepentingan rakyat. Hingga ketika studi banding ke tambang emas yang sekarang sudah beroperasi di beberapa kawasan di luar Lembata, yang disurvei mestinya rakyat setempat, bukan perusahaan tambangnya.”

“Ola, maaf baru sekarang aku bisa kirim e-mail. Beberapa hari ini aku memang sangat disibukkan oleh pekerjaan baru. Rencana proyek tambang emas di Lembata, yang menimbulkan gejolak sosial di lingkungan umat, telah menuntut perhatian kami para imam. Bagaimana natal dan tahun barumu di Lavaux? Transfer uang ke CU itu sudah mereka terima. Mereka senang sekali. Tetapi aku telah memberikan syarat tambahan bagi anggota CU yang akan meminjam uang itu. Syarat tambahan itu, pinjaman harus digunakan untuk usaha produktif. Bukan untuk kebutuhan konsumtif. Mereka setuju. Romo Alex titip salam untukmu, Amin.”

* * *

“Pedro, tiap hari aku membuka e-mail, kadang sampai tiga empat kali, dengan harapan ada kabar dari kau. Tetapi selalu kosong. Aku hanya sibuk menghapus milis-milis yang sampai ratusan itu. Natalku, juga tahun baruku di Lavaux adalah natal dan tahun baru yang juga kosong. Aku memang menikmatinya, aku juga bisa tersenyum, bahkan kadang tertawa, tetapi aku tersenyum sendirian, tertawa sendirian, menertawakan kebodohanku. Tahun baru ini aku akan mengawali hidup baru. Aku sudah tidak ada di Lavaux. Aku sekarang ada di Monaco. Aku tinggal di hotel, kencan dengan banyak laki-laki, aku seleksi yang postur dan wajahnya mirip kamu. Kalau kamu tidak percaya, aku kirimkan foto adegan dengan beberapa lelaki itu. Aku sewa fotografer profesional untuk mengabadikannya. Semoga foto-foto itu menggoyahkan imanmu.”

Hari itu acara Pedro sangat padat. Seharian ia tidak berada di paroki. Ia keliling ke stasi-stasi, untuk meredakan kemarahan umat, yang telah diprovokasi aktivis LSM. Tidak jelas asal-usulnya, tiba-tiba di kalangan umat beredar kabar, bahwa para imam katolik sudah setuju proyek tambang emas. Hingga umat berniat untuk mendemo paroki. Dua orang aktivis kemudian memang menemui Romo Pedro disalah satu stasi. Mereka galak-galak. “Mengapa Romo tidak mau ikut demo? Romo dipihak mana? Pihak rakyat atau bupati? Romo harus tegas memilih, atau seluruh umat di Aliuroba mendemo Romo!” Perasaan Romo Pedro campur aduk antara heran dan marah. “Anak-anak muda ini sebenarnya dibayar siapa?” Romo Pedro lalu berdiri, tangan kirinya bertolak pinggang, tangan kanannya menuding dua aktivis itu.
“Pilih pergi dari sini, atau aku tempeleng kepala kalian!”

Pukul 21.00 witeng, Romo Pedro baru bisa kembali ke pastoran. Dia capek sekali. Pukul 19.00 witeng ia sudah SMS ke Romo Alex untuk makan duluan, sebab ia akan pulang agak malam. Setelah mandi ia hanya minum dan makan pisang. Nafsu makannya hilang. Atau karena tadi siang ia makan terlalu banyak di stasi. Ia segera masuk kamar dan membuka e-mail. Ia kaget sekali melihat e-mail dari Ola penuh dengan foto-foto adegan ranjang. Romo Pedro memperkirakan ada belasan foto, dan semua dengan laki-laki berbeda. Setelah agak lama mengamati, Romo Pedro baru tahu bahwa cewek dalam foto itu Ola sendiri. Dia tidak mau lagi membaca beritanya. Seluruh isi e-mail itu ia delete, lalu komputer ia matikan. “Demi nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus, Amin, Bapa kami yang ada di surga …..”

Ola kecewa berat. Tak ada lagi e-mail dari Pedro. Cinta dan seks ternyata dua hal yang berbeda. “Orang-orang itu memang berwajah dan berpenampilan mirip Pedro, tetapi mereka kan mau meniduriku karena aku bayar?” Ola bete berat. Monaco adalah bagian dari kerajaan bisnis papinya. Dia juga akan diperlakukan sebagaimana layaknya seorang puteri raja. Meskipun ia datang dengan diam-diam, kaki tangan papinya segera tahu posisinya. Siang itu, telepon di kamar Ola berdering. “Selamat siang ibu, saya Romero, saya pembantu Bapak Robby Tambayong, mengapa ibu tiba-tiba ada di Monaco dan kami tidak diberi tahu? Kami ketakutan, sebab papi ibu, pasti akan memarahi kami. Apakah kami bisa bertemu dengan ibu dalam waktu dekat ini?”

Oh my God, orang-orangnya papi ini memang benar-benar mafia gokil. Aku sudah diam-diam datang, mereka tahu juga. Jangan-jangan orang yang saya kencani itu salah satunya juga orangnya papi. Ola menerima Romero di coffee shop, mereka ngobrol akrab. Romero tampaknya orang ranking IV di Monaco. Tetapi tampaknya kekuasaan terbesar justru dipegangnya. Dia khusus mengurus judi, bukan pelacuran, bukan drugs. Kata Romero, sekarang papi sudah mulai meninggalkan bisnis drugs, juga pelacuran, dan hanya konsentrasi di judi. Tapi tampaknya papi juga mulai terjun ke ecotourism. Entah atas saran siapa. Menurut Romero, cewek papi masih sangat banyak dan selalu ganti-ganti. Kebanyakan aktris Hollywood papan menengah.

* * *

Diperlakukan sebagai puteri raja, Ola merasa sangat terbelenggu. Dia harus pindah hotel, hampir tiap hari ada party, dia lalu menjadi bagian dari jetset Monaco. Papinya juga menelepon, biasanya hanya SMS, dan membujuknya untuk menetap di Monaco. “Bukan untuk ngurus bisnis Ola, bukan. Papi hanya minta kamu mengambil keputusan mau apa. Apa mau study lagi, atau mau bisnis, atau masih mau santai-santai, tapi jangan tidak punya keputusan apa-apa. Okeylah, papi sangat, sangat berharap kamu punya cita-cita, punya obsesi, kamu mau jadi biarawati pun, papi akan sangat suport. Tapi jangan tidak punya tujuan apa pun. Papi sedih, kamu satu-satunya puteri papi ….”

“Itulah lagu lama papi. Begitu menyebut -kamulah satu-satunya puteri papi- lalu menangis, katanya ingat mami. Tapi aku curiga di sebelahnya ada gadis belasan tahun yang sedang bugil. Masa bodoh dengan papi. Aku juga tidak mau menjadi tahanan papi seperti sekarang ini.” Pagi itu, hanya membawa tas kecil, Ola meninggalkan kunci di reception, lalu kabur dengan taksi. “Tapi benar juga kata papi, aku tidak punya tujuan.” Jalan sajalah kemana kamu suka, begitu katanya ketika sopir taksi menanyakan tujuannya. Tentu sopir taksi itu bingung juga, nah, ibu sebenarnya mau kemana? Ya, kemana? “Aku ingin ke tempat yang tinggi, dan dingin, mungkin kamu tahu Alpes-Maritimes?”

Wajah sopir taksi itu sumringah. “Ya, ya, ibu ingin rekreasi alam bebas? Para gliding? Caving? Rafting? Hanya akan menyepi di homestay? Bisa. Apa ibu tertarik dengan industri parfum skala rumah tangga? Ibu bisa tinggal disalah satu petani mawar selama ibu suka. Ibu bisa saya antar ke Saint-Étienne-de-Tinée, ah ibu, pokoknya ibu akan enjoy di sana. “Bukan soal enjoy goblok!” Ola menyumpah dalam hati. Tapi bolehlah. Yang penting ia bisa bebas sejenak dari orang-orangnya papi. Taksi itu meluncur ke atas bukit, keluar dari teritori kepangeranan Monaco, belok kiri masuk otoban, ke arah baratdaya. Di Nice, taksi belok kanan dan masuk ke jalan yang terus menanjak. Di kanan tebing curam dan di kiri lembah yang sangat subur.

Saint-Étienne-de-Tinée ternyata sangat jauh dan sepi. Kawasan wisata dengan hotel-hotel, resort dan banyak aktivitas rekreatif maupun sport alam bebas, terletak di sekitar St-Sauveur-sur-Tinée. Jalan dari St-Sauveur-sur-Tinée ke Saint-Étienne-de-Tinée, sempit dan melewati celah dua bukit yang sangat terjal, dengan puncak-puncak Alpes-Maritimesnya yang bersalju. Tetapi bulan Januari ini, di mana-mana salju. Orang-orang main sky dan olahraga musim dingin lainnya. Saint-Étienne-de-Tinée sendiri terletak di sebuah cekungan buntu. Jalan masuk satu-satunya hanya dari arah tenggara, dari St-Sauveur-sur-Tinée. Hingga tempat ini sangat tersembunyi. Ola berharap tidak ada lagi orang-orang yang akan mengganggunya. Baju dan peralatan pribadi bisa dibeli di sini. Hingga ia bisa tinggal sampai kapan pun tanpa diketahui oleh siapa pun.

Ola memilih homestay yang berada di lereng bukit di baratdaya lembah Saint-Étienne-de-Tinée. Dari jendela homestay itu, Ola bisa memandang ke “pusat commune” dengan menara gereja di tengah-tengahnya. Rumah di commune ini, rata-rata bangunan permanen bertingkat tiga, tetapi jarak antara yang satu dengan lainnya sangat berjauhan. Populasi penduduk Saint-Étienne-de-Tinée, memang hanya 1.500 jiwa. Padahal luas keseluruhan areal commune, 173 km2. Namun sebagian besar lahannya berupa tebing bukit, dengan kemiringan 45o. Bahkan menjelang puncak-puncak Alpes-Maritimes, yang tampak hanya dinding granit terjal hampir tegak lurus, berwarna cokelat gelap, karena salju tidak bisa menjamahnya.

Salju Januari memang selalu menyapu dinding-dinding terjal itu dengan lembut. Kadang juga dengan tamparan yang sangat keras. Tetapi dinding itu tetap granit yang dingin dan kaku. Salju itu melemah, mengapung dengan lunglai di antara daun-daun Juniperus yang tak pernah rontok, lalu mengendap di petak-petak terasering. Petugas homestay itu seorang perempuan setengah baya, bertubuh gemuk. Tak ada tamu lain. “Ibu, nama saya Sorell, saya pelayan di homestay ini. Sekarang bukan peak sesion, ibu. Jadinya sepi begini. Kemarin ketika natal dan tahun baru, homestay di sini penuh. Ibu pintar karena memilih datang pada bulan-bulan sepi, hingga bisa mendapatkan pelayanan prima. O, ya, ada pesan dari tuan Romero, ibu harus saya layani dengan sebaik mungkin.”

Romero? Berarti sopir taksi tadi juga orangnya papi, anak buahnya Romero. Kurangajar! Tapi biar saja. Padahal aku sudah mematikan HP, tapi masih saja terlacak. Setiap saat Romero, juga papi, pasti akan bisa menghubungiku. Paling tidak menghubungi petugas homestay yang gemuk itu, untuk mengontrolku. Atau, Homestay ini juga milik Papi? Tidak apa-apa. Aku harus membuka e-mail, kalau-kalau datang kabar dari Pedro. Marahkah ia ketika melihat foto-foto adegan ranjangku? Mengapa tidak ada lagi e-mail dari dia? Apakah dia memang gatèk hingga lupa bagaimana cara kirim e-mail? Terserah. Di sini dingin dan sepi. Aku mau membuat diriku serileks mungkin. * * *

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: