Amsterdam – Jagung Titi

26/08/2014 at 14:25 (novel)

“Pedro, mengapa kamu tidak pernah membalas e-mailku, apakah kamu marah, sedang sangat sibuk, atau ada masalah lain di Aliuroba? Ola mengawali e-mailnya, dan kemudian bercerita bahwa dari Lourdes ia dan Pater Bona kembali ke Toulouse. Mereka masih menginap dua malam di kota kecil dekat Lourdes ini, untuk menunggu jadwal penerbangan. Ola dengan KLM ke Amsterdam, sedangkan Pater Bona kembali ke Roma. “Bagaimana ziarah kita Pater?” Pater Bona hanya memandangi Ola. Setelah tertegun cukup lama, baru dia bisa menjawab: “Kapan kita akan bisa bertemu lagi Ola?” Tanpa menunggu, Ola langsung menjawab: “Nanti kalau Pater selesai study dan kembali ke Indonesia, kita pasti akan ketemu lagi.”

Ola hanya pernah sekali ke Amsterdam, dan itu pun tidak lama. Kali ini Ola juga tidak tahu mengapa harus ke Amsterdam. Benar juga kata papinya, ia tidak pernah punya tujuan yang jelas. Kali ini, Ola menginap di hotel bintang lima, di pusat kota. Amsterdam, hanyalah sebuah kota kecil, meskipun merupakan kota terbesar di Negeri Belanda. Sepeda merupakan sarana transportasi favorit. Jarang ada mobil atau sepeda motor hilang. Tetapi orang sering kehilangan sepeda. Bus, kereta api, trem, dan kanal-kanal kota ini juga dirancang untuk dilewati perahu. Termasuk perahu untuk paket wisata kanal. Meski tertata rapi, kota ini termasuk yang paling tidak aman di Eropa. Ola memilih menitipkan barang-barang berharganya di deposit box di reception.

Setelah tertidur sangat nyenyak semalaman, Ola bangun dengan badan yang segar. Baru saja selesai mandi, telepon kamar berdering, “Apakah breakfast ibu diantar ke kamar, atau ibu akan langsung  ke ruang breakfast di coffee shop?” Ola menjawab akan turun. Begitu keluar kamar, dari lorong menuju lift, aroma kopi tercium sangat tajam. Pagi itu, ruang breakfast sudah penuh dengan orang, tetapi masih ada beberapa  meja yang kosong. Ola minum grape fruit pekat yang pahit, asam, dan dingin, untuk membantu membangkitkan asam lambung. Kemudian mengambil roti perancis, dan butter, lalu minum kopi. Tetapi selesai makan roti, Ola masih merasa agak lapar. Ia kemudian mengambil sereal, tetapi baru dimakan beberapa sendok, ternyata perutnya sudah tak muat.

Ola sengaja tidak menghubungi kerabat dan kenalannya di Belanda. Dia takut, mereka segera akan saling menjemput, kemudian mengajak ke rumah atau apartemen masing-masing. Kali ini, ia tidak ingin kebebasan dan kesendiriannya terganggu. HP juga sudah sejak dari Lourdes ia matikan. Pagi itu ia hanya naik bus, kemudian berjalan-jalan di pertokoan, minum di kafe, kembali ke hotel, makan siang lalu kembali tidur. Ola masih merasa sangat capek, karena ziarah spiritualnya dengan Pater Bona di Lourdes, memang sangat menguras keringat. Saking capeknya, maka ketika bangun hari sudah sangat gelap. Maklum, ketika winter seperti sekarang ini, pukul empat sore, hari juga sudah mulai gelap.

Malam itu Ola tidak ke mana-mana. Setelah mandi ia makan malam di restoran. Ia memesan sup sarang burung sebagai apetizer, sirloin steak medium, kentang mayonis, salad, desertnya ia minta apa saja yang ada, kemudian red wine, dan kopi hitam. Ola makan dengan sangat enak. Entah mengapa kali ini dia juga sangat menikmati red wine. Rasa sepet red wine yang berasal dari kulit buah, dan lapisan luar biji anggur itu, terasa enak di mulut sehabis makan steak. Terlebih setelah makan seafood. Kemudian ditutup dengan black coffee tanpa gula. Memang harus tanpa gula. Ola ingat, dulu maminya malu sekali ketika dalam sebuah jamuan resmi di Guangzhou, sehabis makan seafood, ia minta teh manis. “Ola, harusnya chinese tea, dan chinese tea selalu tanpa gula!”

* * *

Setelah pengalaman berkencan dengan macam-macam sosok cowok di Monaco, kemudian dengan Pater Bona di Lourdes, Ola lalu ingin sekali berkencan dengan lelaki hidung belang yang keluyuran di De Wallen, Amsterdam. Dia pun iseng malam itu keluyuran di jalanan di red-light district, meskipun tetap harus mengenakan pakaian tebal karena udara sangat dingin. Untuk jaga-jaga ia juga mengantongi Compact semiautomatic Smith & Wesson – CS45, dengan satu magazen peluru tajam. Kemana pun, Ola memang selalu membawa pestol, meskipun barang itu lebih sering berada dalam koper, atau deposit box di hotel. Sejak masih SMA dulu, papinya membekali Ola dengan pestol, yang bersurat ijin resmi, dan tiap tahunnya harus selalu diperbarui.

Dari hotel, Ola naik taksi, sampai De Wallen, yakni red-light district di Amsterdam. Dia lalu bergaya sebagaimana layaknya PSK yang lain. Dia sempat ngobrol sebentar dengan satu PSK, dari Filipina. Tak perlu menunggu lama, ada dua negro dari Afrika, dengan bahasa Belandanya yang patah-patah mencoba menawarnya. Ola bertanya, apakah mereka bisa bahasa Inggris. “Oh yes.” kata mereka berdua serentak, kemudian mulai menawar. Ola geli sekali sebab dirinya ditawar hanya 20 Euro. Padahal tarif  kamarnya, semalam 65 Euro belum termasuk tax & service. Tetapi ia langsung mengiyakannya. Mereka akan memakai Ola bergantian. Ia pun ikut ke hotel tempat menginap dua pria negro itu, sebuah hotel, mungkin bintang satu atau tanpa bintang, yang sangat kumuh.

Janjinya memang untuk short time, tetapi tampaknya mereka berdua masing-masing ingin dua kali. Ola protes dan minta tambahan bayaran. Mereka berdua sepakat. Padahal, tanpa dibayar, atau harus membayar pun, Ola akan bersedia. Ola sangat menikmati suasana slum itu. Dua negro itu entah dari negara mana di Afrika sana, yang entah untuk urusan apa harus ke Negeri Belanda, dan tentu ingin sekali menikmati perempuan kulit putih. Ola meskipun berdarah Manado, juga ada Belandanya, ada Chinanya, hingga penampilan, wajah, dan kulitnya tipikal perempuan kulit putih. Malahan jauh lebih sensual dibanding perempuan Belanda asli. Dua negro itu menanyakan nama dan alamat, dan Ola asal menyebut nama serta alamat yang entah ada atau tidak di Amsterdam ini.

Begitu kembali ke kamarnya sendiri, Ola langsung berendam di air hangat. Seluruh pakaian yang tadi dikenakannya dia taruh di tas loundry. Setelah ganti baju, dia naik ke kafe, minta gin dan kopi. Ada Oom-oom yang kemudian mendekatinya, Ola mengatakan hanya ngobrol, tanpa sentuhan, tarif 20 Euro per jam, plus bayar minum. Oom itu setuju. Mereka kemudian ngobrol selama sekitar 1,5 jam. Dia ternyata dari Afrika Selatan, dan ke Belanda untuk urusan keagamaan. “Apakah Anda Pendeta Protestan?” Tanya Ola sekenanya. “Ya, saya pendeta. Ada yang aneh dengan saya?” Tiba-tiba muncul keinginan Ola untuk mendapatkan pengalaman baru,  dengan seorang Pendeta Protestan dari Afrika Selatan ini. Maka ia pun mulai membuka front, yang segera mendapat respon.

Maka dari kafe itu, Ola bukan masuk ke kamarnya, melainkan ke kamar si Oom sampai pagi. Ola mengaku dari Filipina. Nama, dan identitas, termasuk asal-usul PSK yang tadi ditemuinya di red-light district, disebutkannya kepada Oom itu. Si Oom pendeta itu percaya begitu saja. Paginya, setelah menerima bayaran, 150 Euro, tanpa mandi, Ola segera kabur dari kamar Oom itu di lantai 8, dan menyelinap ke kamarnya sendiri di lantai 3. Seharian Ola hanya tidur, dan sarapan serta makan siang dimintanya untuk diantar ke kamar. Ola membuka laptop, dan mencari-cari e-mail dari Pedro. Ternyata tidak ada. “Biarlah, aku akan tetap mengirimkan cerita tentang pengalaman  di Amsterdam ke Pedro.”

* * *

Suguhan yang paling sering dimakan Romo Pedro ketika berkunjung ke umat, adalah jagung titi. Selain teh dan kopi manis. Sebab tuak dan moke, hanya disajikan dan diminum pada peristiwa-peristiwa khusus. Jagung titi adalah butiran biji jagung, yang digoreng tanpa minyak, kemudian ditaruh di alas batu yang lebar dan rata, dan dipukul dengan batu pemukul sampai menjadi pipih. Setelah itu jagung titi dijemur sampai kering, kemudian disimpan, atau dijual ke pasar. Jagung titi dikonsumsi setelah digoreng biasa dengan minyak. Proses ini sama dengan pembuatan emping melinjo di Jawa. Hingga orang-orang di luar Flores, banyak yang menyebut jagung titi sebagai emping jagung.

Jagung yang ditanam di Flores, termasuk di Lembata, adalah jagung putih, atau jagung tepung. Jenis jagung ini beda dengan jagung kuning untuk pakan ternak, juga beda dengan jagung manis, dan juga lain dengan jagung berondong. Di Jakarta, Romo Pedro beberapa kali berkesempatan menyantap jagung manis di restoran cepat saji, juga jagung berondong atau pop corn di Bioskup 21. Di Wisma Unio, secara rutin juga ada sayur asem, yang menggunakan jagung muda. Kadang jagung manis, kadang jagung kuning biasa. Jagung putih di Flores rasanya lebih enak. Barangkali karena alam Flores mirip dengan Amerika Tengah, tempat asal-usul jagung. Bangsa Portugislah yang pertama kali membawa jagung ke Flores.

Di pastoran Aliuroba, kadang-kadang juga ada jagung titi. Entah siapa yang membawanya, tahu-tahu di dapur sudah ada jagung titi. Kadangkala, ibu yang bertugas belanja, iseng membeli jagung titi. Sejak masih kecil di Larantuka, Romo Pedro suka jagung titi. Dia dan teman-teman sebayanya, sangat sering main misa-misaan, dengan anggur dari sirup merah, dan jagung titi sebagai hosti. Ketika itu ia belum menerima komuni pertama, hingga tidak tahu bagaimana rasa hosti. Menurut kakak-kakak mereka, hosti yang diterima dalam misa adalah daging Kristus, hingga tidak boleh dikunyah, dan harus ditelan secara langsung. Tetapi jagung titi, dengan kulit bijinya yang sangat keras itu, tidak mungkin ditelan langsung.

Meskipun anak-anak terlebih dahulu mencelupkan jagung titi itu ke dalam sirup, tetap saja harus dikunyah terlebih dahulu, sebelum ditelan. Dalam misa, terutama misa dengan umat terbatas, kadang-kadang hosti terlebih dahulu dicelupkan ke dalam anggur, sebelum diterima sebagai tubuh Kristus. Hosti yang sudah dicelupkan ke dalam anggur sebagai darah Kristus, lebih mudah ditelan, dibanding hosti sebagai roti kering. Hosti yang belum diberkati oleh imam, memang belum suci. Hingga ketika menjadi putera altar, Romo Pedro dan teman-teman suka mencuri hosti, dan memakannya seperti mengkonsumsi jagung titi. Sekarang, sebagai pastor pembantu di  Paroki Santa Maria Pembantu Abadi, Aliuroba, Romo Pedro kembali bertanya-tanya.

“Mengapa misa tidak boleh memakai jagung titi? Bukankah hosti yang terbuat dari gandum, yang kemudian diterimakan kepada umat sebagai tubuh Kristus, sebenarnya hanyalah simbol. Kalau hanya sekadar simbol, seharusnya bisa diganti-ganti. Bisa jagung titi, bisa keripik singkong, keripik talas, keripik keladi. Atau, kalau harus dibuat menjadi bentuk hosti, bulatan pipih, tipis, dan putih, mengapa harus dari bahan gandum? Bukankah beras, jagung, singkong, keladi, talas, semuanya bisa dibuat tepung, kemudian juga dibuat sebagai hosti? Mengapa harus gandum yang diimpor dari Eropa dan Amerika Serikat?

Gandum yang diimpor itu juga dibuat mi, dan roti. Yang makan mi, umumnya juga orang-orang miskin, terutama di kawasan suburban. Juga di sekitar paroki Aliuroba. Mengapa orang miskin di sini, harus membayar petani gandum Eropa dan Amerika yang sudah sangat kaya?” Dulu, di Ledalero, memperdebatkan hal seperti ini pun tabu. Mengapa gereja menjadi seperti kembali ke abad pertengahan, hingga memperbincangkan hal yang sangat masuk akal, dan menyangkut kepentingan orang-orang miskin, masih tetap ditabukan? Apakah gereja memang lebih berpihak kepada petani gandum di negara maju, dengan tetap mewajibkan hosti terbuat dari gandum? Bukankah Allah memberi anugerah kebebasan kepada manusia, untuk selalu berpikir dan mempertanyakan semua hal? * * *

 

Fragmen Novel Lembata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: