Tenun Tradisional – Santorini

02/09/2014 at 15:45 (novel)

Ketika berada di Jakarta, dan mencoba mengenakan “kain sarung nasional” Romo Pedro merasa kagok. Sebab kain sarung nasional lebar, tetapi pendek. Kainnya juga sangat tipis. Lain dengan sarung flores yang tebal, sempit, tetapi panjang. “Andaikan sarung flores itu dijahit bagian bawahnya, kemudian salah satu sisinya diberi resluiting, maka jadilah sliping bag tradisional. Malam itu, Romo Pedro mengenakan sarung tradisional flores yang baru saja dibelinya di pasar Holeaq, lalu membuka e-mail, dan membaca pengalaman Ola di Amsterdam. “Pedro, aku bukan hanya berpengalaman kencan dengan seorang imam katolik, tetapi juga dengan pendeta protestan. Malam itu, aku sempat melayani tiga laki-laki……”

“Pertama, aku menyaru sebagai PSK, lalu ditawar dua negro asli dari Afrika, dan aku dipakainya berdua bergantian. Pedro, laki-laki negro rasanya beda lho dengan laki-laki bule atau Asia. Pedro, aku mereka bayar 40 Euro. Lalu malam itu aku di kafe dan ketemu pendeta protestan dari Afrika Selatan. Pedro, aku semalaman kelonan sama dia, dan dibayar 150 Euro. Apakah kamu tidak cemburu Pedro? Bagaimana keadaan di Aliuroba?” Masih sangat banyak tulisan Ola di e-mailnya, tetapi Romo Pedro segera mendeletenya. Dia lalu membuka-buka web. Ada feature di Kompas, tentang tenun tradisional Flores, yang dipuji-puji oleh si wartawan. Tetapi pada akhir featurenya, si wartawan menulis, bahwa benang untuk kain tenun itu harus didatangkan dari Surabaya.

Romo Pedro penasaran. Dia lalu browsing informasi tentang benang, dan kapas. Ternyata kapas yang ditenun di Indonesia, baik tenun tradisional maupun pabrik, 95% harus diimpor dari Amerika Serikat, sebagian lagi dari Kazakstan. “Jadi kita hanya bisa memenuhi kebutuhan kapas kita 5%?” Romo Pedro melanjutkan browsing, dan kaget bahwa bahan untuk kain ternyata macam-macam, bukan hanya sebatas kapas. RRC dan India yang penduduknya di atas 1 milyar jiwa, ternyata bisa tidak impor kapas, karena juga menanam rami, yute, kenaf, agave, dan pisang abaca. Romo Pedro lebih kaget lagi demi tahu bahwa kain kafan Yesus, ternyata tidak terbuat dari kapas, tetapi rami. Juga kain yang digunakan untuk membebat mumi para fira’un Mesir Kuno.

Karena sudah terlalu malam, Romo Pedro mematikan komputer, berdoa, dan tidur. Tetapi malam berikutnya ia kembali browsing. Rami ternyata juga mudah ditanam, termasuk di Indonesia. Sebab rami merupakan tanaman tropis, sementara kapas tanaman sub tropis yang perlu cahaya matahari 17 jam. “Mengapa gereja, dalam hal ini keuskupan, juga tarekat-tarekat, tidak pernah membicarakan hal ini? Kalau pemerintah Indonesia, Romo Pedro maklum. Mengapa gereja tidak tahu bahwa gombal yang kita pakai ini, kain merah putih yang kita kibar-kibarkan sebagai bendera, juga perangkat imamat berupa stola, kasula, dan alba, semua bahannya berasal dari Texas, Amerika Serikat?”

Pedro menarik napas panjang. Komputer ia matikan. “Demi nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus, Amin. Bapa kami yang ada di surga ……” Selesai doa, Romo Pedro tetap tidak bisa tidur. Ada dua hal yang mengganggu pikirannya. Pertama, ia terganggu dengan kelakuan Ola yang makin gila. “Apakah saya cemburu? Apakah saya boleh cemburu pada Ola? Siapakah Ola? Apakah maunya dia?” Hal kedua yang menyebabkan ia susah tidur adalah informasi tentang umatnya, juga rakyat Indonesia, yang ternyata harus diberi baju, celana, kain sarung, juga BH dan celana dalam, oleh para petani kapas dari Texas, Amerika Serikat. “Dan gereja katolik diam saja. Mungkinkah gereja sebenarnya juga merupakan bagian dari kapitalisme global?”

* * *

Pagi itu langit kota Amsterdam terlihat sangat cerah dari jendela hotel. Ola ingat, dulu ia diajak Oom Pietter ke Keukenhof melihat bunga-bunga tulip aneka macam yang bermekaran. Timbul niatnya untuk bernostalgia ke sana. Dia pun kontak ke reception untuk pesan taksi. “Ibu mau kemana? Ke Keukenhof? Belum buka ibu! Ya, sekarang memang sudah pukul sembilan pagi ibu, maksud saya hari ini tidak buka. Bukan, Keukenhof memang hanya dibuka selama tiga bulan dalam setahun, yakni pada bulan Maret, April, dan Mei ketika spring. Tetapi kalau ibu mau melihat-lihat bunga tulip, juga bunga-bunga lainnya, bisa ke Aalsmeer. Kami bisa pesankan kendaraan dan guidenya, ibu. Bagaimana? Ya, Aalsmeer adalah pusat industri bunga terbesar di dunia, ibu.”

Okeylah. Apalah namanya, melihat-lihat bunga kan juga menyenangkan. Pedro, aku menjadi semakin bosan dengan apa saja. Bagaimana pun juga, papiku memang ada benarnya. Aku harus punya tujuan hidup, obsesi, atau keinginan. Tetapi, bukankah keinginanku adalah menikah, paling tidak bisa berdekatan, sokur bisa tidur, dengan kamu, Pedro? Apakah keinginan seperti itu salah papi? Tetapi aku lebih beruntung dari papi. Mungkin keinginan papi juga sama dengan keinginanku, yakni selalu ingin berdekatan dan tidur dengan mami. Tetapi itu semua tidak mungkin lagi bisa terjadi. Mami tidak mungkin bisa tergantikan oleh siapa pun. Mungkinkah itu yang membuat papi terus berganti-ganti perempuan?

Belum sempat Ola memutuskan mau ke Aalsmeer atau tidak, ada telepon lagi dari reception. Ola mengira petugas reception akan menanyakan kepastian kepergiannya,  tetapi ternyata tidak. “Ibu, selamat pagi, ini ada telepon dari US, apakah ibu mau terima? Bukan ibu, bukan dari papi, karena yang menelepon perempuan. Okey ibu, saya akan menyampaikannya agar ia titip pesan saja.” Tidak lama kemudian, ada petugas hotel yang mengetuk pintu, dan menyampaikan pesan telepon tadi. “Inilah nomor teleponku, kalau Anda bersedia menghubungi, atau apakah aku boleh kontak kamu 10 menit lagi? Cukup penting.” Nama pemberi pesan : Melina. “Siapa Melina? Rasanya aku tidak punya kenalan bernama Melina. Tapi okeylah aku akan tunggu 10 menit lagi.”

Sepuluh menit kemudian telepon berdering. “Selamat pagi ibu, ini telepon yang tadi, apakah sekarang ibu bersedia menerima? Okey ibu, diterima ya?” Ternyata Melina salah satu pacar papi. Katanya ia sudah lama sekali ingin ketemu denganku, tetapi baru berkesempatan sekarang. Dia lalu ngomong lama sekali di telepon, sampai tangan Ola  kesemutan. Tidak, katanya ia tidak pernah minta uang ke papi. “Untuk apa minta uang ke papimu? Aku punya uang banyak. Aku ini aktris Hollywood, meski bukan yang top-top sekali. Ola, kalau kamu mau buka aku punya web, akan segera tahu siapa aku. Karena penasaran, Ola buka internet. Pertama-tama yang ia cari e-mail dari Pedro. Ternyata kosong. Ada apa kamu Pedro? HPmu juga selalu kamu matikan. Apa kamu sengaja ganti nomor?

Dari internet, Ola tahu bahwa Melina boleh juga, dan kalau dia hemat, tidak perlu menggerogoti uang papi. “Ola, sekarang ini aku ada di Santorini, apakah kamu yang mau kemari, atau aku ke Amsterdam? Tidak penting-penting benar, tetapi ada baiknyalah kita ketemu dan ngobrol.” Santorini? Dimana itu? “Aku tidak tahu Ola, Aku dari LA, ke New York, terus ke Athena. Aku memang ada acara di Athena, dan di sini aku disarankan teman untuk sekalian ke Santorini. Lalu aku terima SMS dari papimu agar mencarimu. O, mudah melacakmu. Papimu kan kasih nomornya Fleureete di Roma. Aku kontak dia, dia mengatakan kamu baru saja dari Lourdes dan sekarang ada di Amsterdam. Aku telepon saja hotel-hotel bintang empat dan lima di sini, dan ketemu kan? Datanglah ke Santorini Ola.”

* * *

Ola menghubungi reception, apakah ada penerbangan langsung dari Amsterdam ke Santorini. “Sebentar ibu, saya hubungkan dengan counter KLM ya? Jangan ditutup ibu.” Setelah menunggu sejenak, Ola sudah terhubung dengan bagian tiketing KLM. Selamat pagi ibu, ibu mau kemana? Santorini? Maksud ibu ke Thera? Ya, Santorini itu pesawatnya ke Thera, dari Amsterdam tidak ada yang langsung ibu, tetapi dari Brusels ada, hanya tidak setiap hari. Tetapi ibu bisa beli tiket KLM ke Thera, dan bisa memilih transit di Milan, Roma, atau paling baik di Athena. Dari Athena, pesawat ke Thera paling banyak, atau kalau mau, dari Athena ibu juga bisa naik kapal cepat. Bagaimana ibu? Hari ini? Sebentar ibu ya. Bisa, ada yang pukul 11.30, langsung ke Athena. Kemudian ibu pindah pesawat, Olympic Airlines, atau yang cocok waktunya, sebentar, Aegean Airlines lebih tepat ibu.”

Ola buru-buru berkemas. Membayar bill-bill, taksi sudah menunggu, dan kemudian ia sudah harus mengisi slip imigrasi dalam penerbangan ke Athena. Di sini ia hanya transit sekitar 1,5 jam, lalu sore itu juga ia sudah mendarat di Thira National Airport, di kota Kamari, Santorini. “Melina, aku sudah mendarat di Thera, kamu ada di hotel apa? Kirini Hotel? Okey. Apa? Seribu Euro? Apa ada masalah dengan 1000 Euro semalam? Ya, aku sudah ada di taksi sekarang, ya benar, sebentar lagi aku akan sampai.” Melina ternyata tidak seperti foto-foto yang ia pasang di internet. Lebih cantik, lebih anggun, dan seperti ada magnet yang melekat dalam dirinya. Di loby Kirini Hotel, mereka berdua berpelukan sangat akrab, padahal baru ketika itulah mereka bertemu.

Santorini adalah pulau vulkanis di laut Aegean, sekitar 200 km dari Athena. Santorini Purba adalah sebuah pulau vulkanis besar yang makmur dan berperadaban tinggi, bernama Minoan. Luas pulau Minoan 90.623 km², dan ketika meletus sekitar tahun 1.600 SM, seluruh kerucut pulau vulkanis itu lenyap. Letusan Minoan adalah erupsi vulkanis terbesar yang pernah tercatat oleh manusia. Selain sumber tertulis di Mesir kuno, info tentang letusan Minoan, juga diperoleh melalui peninggalan arkeologis di Santorini maupun pulau Kreta. Akibat letusan dahsyat ini, seluruh peradaban Minoan kuno di Minoan sendiri maupun di Pantai Utara pulau Kreta lenyap. Letusan Krakatau purba, Pompei, atau Tambora, terlalu kecil dibandingkan dengan letusan Minoan.

“Indah kan Ola? Tidak salah kan aku memintamu kesini? Sebentar lagi kita akan menyaksikan sunset yang luar biasa.” Mereka berdua lalu duduk di teras hotel, dan menyaksikan matahari turun dengan sangat perlahan di cakrawala. Tangan Melina dilingkarkan ke leher dan pundak Ola. Tepat ketika seluruh bola matahari itu tenggelam, Melina memeluk Ola sangat erat. Pelukan yang berbeda dengan pelukan ketika tadi mereka berdua saling bertemu di loby hotel. Kini Ola merasakan getaran yang lain sama sekali, dengan ketika ia berdekatan dengan Pedro. Dia lalu berusaha melepaskan pelukan Melina, menggenggam erat telapak tangannya, dan menggandengnya masuk ke dalam kamar.

Suit room Kirini Hotel. Tumpukan bangunan moderen di tubir sisa kerucut gunung api purba. Seleret cahaya jingga yang tersisa di jendela. Tak sempat cover bed dibuka, tak sempat lampu utama dimatikan. Bahkan gerendel pintu pun tak sempat mereka pasang.
“Melina?”
“Ya.”
“Aku berada dimana sekarang?”
“Di suit room Kirini Hotel, di Santorini, Ola.”
“Tidak.”
“Tidak?”
“Tidak. Sekarang aku sedang melayang-layang di atas pencakar langit di kota New York.”
“Bukan.”
“Bukan, Melina?”
“Bukan. Sekarang kamu sedang menyelam di pasir Sahara disiang hari, yang sangat panas. Kamu rasakan panasnya Ola?”
“Ya, aku merasakan panas itu. Melina?”
“Ya.”
“Mengapa aku bisa berenang-renang dengan ringan di pasir panas ini?”
“Aku tidak tahu. Mengapa tanganku gemetar Ola?”
“Melina?”
“Ya.”
“Aku harus bagaimana?”
“Terserah.”

“Pedro, mengapa kamu tidak mau lagi mengirim kabar kepadaku? Aku kedinginan Pedro. Aku menggigil di atas salju putih di petak-petak kebun anggur di Lavaux. Mengapa wajahmu sebentar tampak sebentar hilang di danau Geneva yang berkilauan?  Pedro, air suci Lourdes, juga tak mampu memuaskan dahagaku. Red-light district di Amsterdam yang berisik itu, juga menjadi sangat sepi Pedro. Aku yakin parokimu yang senyap di Aliuroba sana, masih lebih ramai dari sepiku di Santorini ini. Padahal aku ada di kamar yang tarifnya 1000 Euro semalam. Melina bilang aku sedang berenang-renang di panas pasir Sahara?  Benarkah pasir sahara itu panas Pedro?”

Di bagian paling akhir dari e-mail itu, Ola menulis : Aku ada di Santorini, Yunani, bersama Melina. Dia pacar papiku. Berarti dia perempuan Pedro.” Itulah e-mail terakhir dari Ola, yang sempat dibaca Pedro. Karena tidak pernah dibalas, lama-lama Ola putus asa. “Sudahlah, barangkali Pedro sudah sangat sibuk, atau ia merasa sangat terganggu oleh email-emailku. Baiklah, mulai sekarang sebaiknya aku tidak lagi berkirim e-mail padanya. Juga SMS, apalagi telepon. Barangkali memang sudah saatnya aku melupakanmu Pedro! * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: