Ekaristi Itu

08/09/2014 at 11:55 (novel)

Beberapa bulan ini, ada sesuatu yang hilang. Romo Pedro yang sekarang merasa menjadi makin tua itu, sangat kehilangan Ola. Memang dia seperti lidah api yang akan membakar apa saja yang berada didekatnya. Tetapi ketika lidah api itu tidak hadir lagi di e-mail, maka monitor komputer ini menjadi dingin. Bahkan, karena tidak ada lidah api, maka komputer itu juga buram dan gelap. Romo Pedro benar-benar kehilangan Ola. Tiap malam, sebelum doa pribadi, dia selalu menyempatkan diri untuk membuka-buka e-mail. Dia juga iseng membuka Kompas Online. Sebab di Larantuka, di Hokeng, di Ledalero, terlebih di Wisma Unio, dia sudah terbiasa membaca Kompas, membaca Tempo, membaca Hidup, tetapi di Aliuroba? Web, blog, dan milis ternyata mampu menggantikannya. Ketika, tidak juga menemukan e-mail Ola, dia lalu membuka-buka blog, membuka-buka web, dan tampaklah wajah yang selama ini sangat dirindukannya.

Bukan. Bukan Ola, dia memang merasakan kehilangan Ola, tetapi sekarang yang ditemukannya adalah gadis Jawa yang dulu pernah menemaninya nonton wayang itu. Sekarang ia juga tahu namanya, bukan Lastri, Larasati, atau Ratri, tetapi Tanti, lengkapnya Mahartanti. Ya, ternyata sekarang ia telah menjadi perupa hebat. Tampil di banyak seminar, wajah dan karyanya dimuat di koran dan majalah. Tetapi ia mengatakan bahwa karya-karya instalasinya yang hebat itu justru menghabiskan uang. Ia baru mendapat uang ketika “memburuh” mengerjakan disain grafis untuk iklan rokok, mobil, sabun mandi, dan HP. Tetapi dialah orangnya, dan Romo Pedro segera mengirim e-mail singkat.

“Mbak Tanti, saya Pastor Pedro, yang dulu sekali, pernah Mbak temani waktu dengan frater-frater projo di Yogyakarta, menonton wayang kulit di suatu tempat, yang namanya saya juga lupa. Masih ingatkah Mbak pada saya? Setelah selesai dari ekonomi Atma Jaya Jakarta, saya ditugaskan Bapak Uskup untuk menjadi pastor paroki di Aliuroba, di Kabupaten Lembata, NTT. Saya sebenarnya selalu ingat pada Mbak Tanti, tetapi saya telah kehilangan kontak. Ternyata dari web, saya melihat foto Mbak, yang sekarang sudah menjadi perupa hebat. Tapi Mbak, mengapa dulu Mbak sangat lembut dan santun, tiba-tiba sekarang ngepunk seperti yang di foto itu? Maaf ya Mbak, saya ini pastor Flores yang kurangajar. Salam. Pedro.”

“Romo Pedro yang ngganteng, aku jelas masih sangat ingat pada Romo. Sebenarnya ketika itu aku sangat grogi, karena itulah untuk pertama kalinya saya berkesempatan duduk sangat dekat dengan seorang cowok setampan Romo. Di ISI tidak pernah ada cowok seperti Romo. Karena sudah tahu bahwa yang aku temani seorang Romo,  aku jadi tidak berani kurangajar. Romo, aku sebenarya kan juga Katolik. Romo tidak tahu kan? Karena waktu itu, saking kikuknya, aku berusaha untuk sesopan dan seformal mungkin. Romo, apakah Romo masih ngganteng seperti dulu? Apakah kita masih mungkin untuk bertemu sebelum kita sama-sama meninggal? Aku jadi ngepunk, karena seni yang aku geluti memang punk. Tetapi Romo, saya tetap Katolik, dan sampai sekarang juga belum punya pacar. Apakah Romo mau mendoakan aku agar punya pacar? Berkah Dalem Romo! (artinya, berkat Anda Romo), Mahartanti.”

Romo Pedro seperti menemukan gairah hidup baru. Tetapi dia tetap kecewa. Bukan karena Ola tidak pernah kirim e-mail lagi. Toh sekarang sudah ada gantinya, Tanti. Pedro kecewa karena gereja tetap tidak terlalu peduli dengan kemiskinan di sekitarnya. Dirinya sebagai bagian dari hirarki, sebenarnya ingin sekali berbuat banyak. Dia ingin sekali memberontak. Mengapa ekaristi harus dengan anggur dan gandum yang diimpor? Mengapa bukan dengan moke dan jagung titi? Mengapa sekarang orang Lembata lebih banyak makan mi dan roti? Mengapa di Hokeng, juga di Ledalero, juga di biara-biara, selalu ada roti dari gandum yang diimpor? Mengapa rakyat negeri miskin ini harus terus memperkaya negeri maju?

* * *

“Mbak Tanti, kalau Mbak di Yogyakarta memberontak dengan senirupa punk, saya di pelosok Lembata, di Aliuroba, juga akan memberontak, dengan misa menggunakan moke dan jagung titi. Mbak Tanti, moke adalah tuak dari pohon lontar, yang didestilasi, hingga kadar alkoholnya mencapai lebih dari 30%. Kalau didestilasi dua kali, kadar alkoholnya mencapai 60% hingga ketika dibakar bisa nyala. Jagung titi adalah emping jagung. Biji jagung putih disangrai, dan ketika masih panas dipukul di alas batu, hingga menjadi pipih. Aku sedang merencanakan missa menggunakan moke dan jagung titi. Saya sudah konsultasi pada pastor kepala. Dia menyarankan agar saya mengurungkan niat itu. Tetapi Mbak, saya sudah tidak bisa mundur lagi. Bagaimana komentar Mbak? Salam, Pedro.”

Dan pada misa di Gereja Santa Maria Pembantu Abadi, Aliuroba, tangan Romo Pedro gemetar. Dalam homilinya Romo Pedro mengatakan bahwa dirinya akan memberontak pada liturgi gereja. Dia akan minum moke, bukan anggur, dan akan membagi-bagikan jagung titi, bukan hosti dari gandum. Demi mendengar homili Romo Pedro, sepertiga umat meninggalkan gereja, meskipun tetap tanpa ribut. Dua pertiga umat tetap berada dalam gereja. Romo Pedro merasa mendapat dukungan dari sebagian besar umat di Aliuroba. Tetapi ketika komuni dibagikan, hanya separo dari umat yang masih ada di gereja yang menyambut. Berarti hanya sepertiga dari umat Aliuroba yang setuju misa dengan moke dan jagung titi.

Separo dari umat memang masih ada dalam gereja, dan tidak pergi. Tetapi mereka juga tidak bersedia ikut menyambut. Berarti umat terbelah menjadi tiga. Sepertiga menentang dengan keras. Sepertiga menerima dengan tulus, dan sepertiga lagi tidak mau menentang, tetapi juga tidak mau menerima. Misa itu berakhir dengan kehebohan. SMS dari mereka yang menentang, menerima, maupun yang ragu-ragu, sehabis misa terus meluncur ke mana-mana, diforeward, sampai Lewoleba, sampai Larantuka, sampai Hokeng, sampai Kupang, sampai Ledalero, sampai Jakarta, dan tak lama kemudian sampai Vatikan.

Uskup Larantuka marah besar. “Pedro itu memang telah rusak semenjak kenal dengan perempuan Manado yang binal itu.” Di Ledalero berita itu juga menjadi bahan diskusi sangat serius. “Dia benar. Kita memang sudah sejak lama mendiskusikannya. Tetapi Anda semua ingat kan? Pater Rektor dengan tegas melarang kami mendiskusikannya. Menjadikan materi diskusi pun sudah dilarang, Pedro ini berani-beraninya melakukan dalam misa hari Minggu di gereja. Gila memang dia.” Reaksi yang agak dingin justru datang dari Romo Alek, pastor kepala di Aliuroba. “Saya hormat padamu Pedro! Aku, sebenarnya juga Romo Deken, sangat setuju dengan yang kamu lakukan. Tetapi kami tidak pernah berani mendiskusikan, apalagi melakukannya.”

Minggu itu, HP Romo Pedro penuh dengan SMS, dan sambungan. Isinya berupa dukungan, caci maki, dan penyesalan. Komposisinya kurang lebih sama. Sepertiga mendukung, sepertiga mancacimaki, sepertiga tidak mencacimaki, tetapi menyesalkan. Dia siap dengan semua itu. Bahkan sebenarnya, dukungan dari sepertiga umat itu sudah lebih dari cukup. Sebab dalam bayangannya, hanya akan ada satu dua umat yang mendukungnya. Dan Romo Deken sebenarnya juga mendukungnya? Ini sesuatu yang sangat membanggakan. Tetapi mengapa belum juga ada e-mail dari Ola? Terakhir dia di Amesterdam, menyamar sebagai PSK, dan kemudian dimana itu? Kemudian tak ada kabarnya lagi. Jangan-jangan ia terbunuh, atau diculik, atau?

Tetapi tidak mungkin. Ketika dimana itu, di kawasan pegunungan di Perancis Tenggara, Saint-Étienne-de-Tinée. Ketika itu Ola merasa dirinya sudah bebas dari pengawasan Papinya. Ternyata di sana ia sudah disambut oleh orang-orang papinya. Pedro yakin Ola sehat-sehat saja. Tetapi mungkin ia sudah tidak mau menghubunginya lagi. Atau ia sudah menemukan lelaki idamannya, atau malahan sudah menikah? Bukankah itu sangat baik baginya, juga bagi Ola sendiri? Tetapi mengapa ia merasa kehilangan? “Mbak Tanti, saya mau curhat tentang Ola, Anda mau kan?” Dan cerita tentang Ola lalu sampai ke Yogyakarta, dan kemudian juga ke Jakarta.

* * *

Malam itu, ada rapat dewan paroki Gereja Santa Maria Pembantu Abadi, Aliuroba. Romo Pedro tidak diikutsertakan, karena rapat malam itu membahas kejadian tadi pagi. Suara dewan paroki juga terbelah tiga. Tetapi mereka sepakat, bahwa masalahnya akan diserahkan kepada uskup. Uskuplah yang akan memutuskan, hukuman apa yang akan ditimpakan kepada Romo Pedro. Yang jelas uskup sangat marah. Meskipun kesepakatan sudah didapat, rapat malam itu berkepanjangan sampai menjelang tengah malam. Anggota dewan paroki yang menentang, mengusulkan agar Romo Pedro dipersonanongratakan.

Mereka yang mendukung, minta agar tradisi ini dilanjutkan, dengan resiko mereka dipersonanongratakan oleh hirarki gereja katolik. Pihak yang ragu-ragu, minta agar semua diendapkan terlebih dahulu. Tetapi ada satu anggota dewan yang sangat keras tuntutannya. Kalau perlu pastor gila itu malam ini juga diusir dari Aliuroba. Romo Alex sabagai ketua dewan paroki berusaha meredakan. “Semua kan ada aturannya, dan yang berhak memutuskan adalah Bapak Uskup. Jadi kita harus bersabar. Bahkan Romo Deken pun juga telah minta semua pastor dan umat di Dekenat Lembata,  untuk tetap tenang dan tidak bertindak anarkis.

Romo Pedro sama sekali tidak menduga, bahwa berita tentang misa dengan moke, dan jagung titi telah menyebar sampai ke Yogyakarta. Ketika membuka e-mail dari Tanti, Romo Pedro terkejut. “Romo, aku ikut prihatin dengan yang tadi pagi terjadi di Aliuroba. Teman-teman punkist di Yogya mendukung penuh tindakan Romo Pedro. Berita itu kami terima melalui e-mail dari teman-teman di Jakarta. Aku doakan Romo tetap kuat, dan kami sedang merencanakan untuk membuat satu heppening art, di depan gereja Kota Baru, untuk memberikan dukungan kepada Romo. Teman-teman Punkist di Jakarta dan Bandung juga merencanakan aksi serupa. Maju terus Romo, Mahartanti.”

Tetapi gereja katolik adalah kekuasaan yang sangat tua dan besar. Tidak mungkin seorang pastor di sebuah paroki kecil dan miskin, di sebuah negeri yang mayoritas umatnya Muslim, bisa mengubah liturgi, terlebih menyangkut tata perayaan ekaristi. Sudah berapa tokoh yang menjadi korban, dari kekuasaan gereja? Mulai yang dibakar, disalib, dikucilkan, bahkan Galileo Galilei pun pernah dikucilkan, dan baru direhabilitasi beberapa abad setelah ia mati. Tetapi semua sudah ia lakukan. Pikiran Romo Pedro lalu menjadi lebih enteng. Malam itu ia justru bisa tidur sangat nyenyak. Beda dengan seminggu sebelumnya, ia tidak pernah bisa memejamkan mata dengan mudah.

Dalam tidur nyenyaknya itu, dia bermimpi bertemu dengan Ola dan Tanti sekaligus. Sepertinya pertemuan itu terjadi di salah satu mall di Jakarta. Tidak seperti biasanya, mimpi kali ini full collor. Padahal biasanya mimpinya selalu hitam putih. Dalam mimpi itu Ola maupun Tanti seperti sedang antre untuk menerima komuni. Tetapi antrenya bukan di gereja, melainkan di sebuah restoran cepat saji sambil membawa nampan. Dia bukan sedang menjadi imam, melainkan juga ikut antre menerima komuni. Di restoran cepat saji itu ternyata hanya disajikan moke dan ikan mentah. Mengapa ikan mentah? Apakah ini sashimi? Tetapi mengapa ikannya masih hidup? Mengapa Ola dan Tanti mau saja menerima ikan yang masih menggelepar-menggelepar itu?

Tiba-tiba uskup datang. Dia memandang tajam mata Pedro, lalu jari telunjuknya menuding lurus ke wajah Pedro. Tetapi uskup itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Uskup itu lalu berubah wajah menjadi Romo Alex yang tertawa-tawa, kemudian menyanyi-nyanyi, lalu ia mengambil moke dan diguyurkan ke semua orang. Bunyi guyuran itu demikian kerasnya hingga ia terbangun. Ternyata memang benar tadi itu suara tawa dan nyanyian Romo Alex. Bunyi guyuran itu ternyata juga benar suara guyuran air di kamar mandi. Ternyata hari sudah pagi. Hari Senin yang baru, yang lain dari Senin-Senin sebelumnya. * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: