Dipanggil Uskup

15/09/2014 at 16:13 (novel)

Dengan sepeda motor, Romo Pedro meluncur dari Aliuroba, melalui sisi selatan Ile Ujelewung Kedang, menuju ke Lewoleba. Di sini, ia masih sempat bertemu dengan Romo Deken, yang tidak banyak berbicara dan mukanya tampak sedih. “Pedro, Bapak Uskup sangat marah kepadaku. Mungkin sebenarnya beliau ingin marah kepadamu, tetapi aku yang menjadi sasaran. Aku telah beliau tuduh tidak bisa mendidik dan mengawasimu. Sekarang pergilah.” Sepeda motor Paroki Aliuroba itu ia tinggal di kantor dekenat, ia diantar Albert, sopir Romo Deken ke pelabuhan. Siang itu Romo Pedro naik kapal melalui rute yang sepuluh bulan silam, dilaluinya dengan arah berbeda, dengan perasaan yang juga sangat berbeda.

Ketika itu ia bersemangat untuk bertugas menjadi pastor paroki di Lembata. Kini semangat itu hilang. Yang ada hanya rasa putus asa. Ile Boleng yang dulu dilihatnya sangat gagah, sangat indah, sekarang hanya menjadi sosok yang tak ada artinya apa-apa. “Apakah yang 10 bulan silam membuatku sangat bersemangat? Benarkah karena akan mengabdi dan melayani umat di Lembata? Atau karena ketika itu ada Ola yang mendampingiku? Sekarang ini, semangat itu hilang karena aku telah berbuat salah dengan melanggar tata perayaan ekaristi, atau karena kehilangan Ola?” Romo Pedro tidak mampu menjawab. “Mungkin dua-duanya, mungkin juga karena aku kecewa berat dengan gereja, dengan uskup.”

Sore itu Romo Pedro sudah berada di San Domingo. Semua penghuni kompleks keuskupan itu bersikap sangat dingin. Ternyata malam itu uskup belum bersedia menerimanya. Padahal jelas ia ada di San Domingo, dan sama sekali tidak ada acara apa pun. “Apakah ia sengaja belum mau menemuiku, agar amarahnya reda terlebih dahulu? Atau ia memang takut menemuiku?” Malam itu Romo Pedro juga seperti sedang memutar ulang jarum jam. Ketika itu, 10 bulan silam, ia juga berada di kamar ini, dan sulit tidur, karena uskup memarahinya. Sekarang ia sulit tidur karena tidak tahu apa yang akan dikatakan uskup besuk pagi. “Tidak. Aku tidak mau menunggu sesuatu yang tidak pasti. Akulah yang akan menentukan diriku sendiri. Bukan uskup, bukan siapa pun.”

“Apakah ada komputer yang bisa aku pakai malam ini?” Ternyata tidak ada. “Keterlaluan, bahkan komputer pun tidak boleh aku pakai. Baik. Aku punya kertas, aku punya bolpen, aku punya jempol normal, punya jari-jari lengkap, di kamar ini juga ada meja, ada kursi, aku bisa menulis dengan tanpa halangan apa pun. Romo Pedro lalu menyiapkan kertas, bolpen, dan duduk di kursi, menghadap meja. Tetapi hampir setengah jam ia duduk disana, tak ada satu pun yang bisa ia tulis. “Demi nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus, Amin, Allah Bapa yang ada di Surga, kali ini aku akan mengambil satu keputusan yang sangat penting, berilah aku terang, hingga bisa memilih jalan yang paling baik untuk kemuliaanmu, juga untuk kebaikan umatmu. Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu ……”

Selesai berdoa, kembali Romo Pedro duduk di kursi, lalu menulis surat pernyataan pengunduran diri sebagai imam projo, sekaligus sebagai pastor pembantu di
Paroki Santa Maria Pembantu Abadi, Aliuroba. Ia sama sekali tidak menyebutkan alasan pengunduran diri, juga tidak menyebut-nyebut kasus misa yang dipersembahkannya dengan moke dan jagung titi. Bukan karena seakan-akan hal tersebut tidak terjadi, tetapi karena menurutnya hal tersebut benar di mata Allah, tetapi salah di mata gereja katolik. Setidaknya, Romo Pedro merasa didukung oleh sepertiga dari umat yang menghadiri misa di Gereja Santa Maria Pembantu Abadi, Aliuroba. Kalau ia bermaksud mendirikan gereja sendiri, setidaknya ada umat yang akan mendukungnya.

* * *

Romo Pedro duduk di ruang tamu keuskupan Larantuka. Dia menunggu dipanggil masuk ke ruang uskup. Sekarang dia justru merasa sangat rileks, tidak seperti kemarin. Tetapi para imam, suster, dan karyawan keuskupan itu, semua masih tampak sangat tegang. Romo Pedro lalu dipanggil masuk ke ruang uskup. Dia bersalaman, kemudian dilanjutkan dengan mencium tangan uskup. “Duduk Pedro! Kamu tahu mengapa aku memanggilmu?” Pedro menatap wajah uskup itu dengan tajam. “Bapak Uskup, Aku malah tidak tahu, kalau Bapak Uskup memanggilku. Aku menghadap Bapak Uskup pagi ini, atas kemauanku sendiri, untuk menyerahkan surat pengunduran diri.” Romo Pedro lalu menyerahkan surat itu kepada uskup. Seketika wajah uskup itu tampak berubah. Tangannya agak gemetar ketika menerima surat Romo Pedro.
“Mengapa kamu mengundurkan diri? Karena mau nikah dengan perempuan Manado itu?” Pedro sebenarnya sangat ingin marah, tetapi dia menarik napas panjang, lalu berkata.
“Tidak Bapak Uskup, sudah enam bulan ini aku tidak ada kontak dengannya. Aku juga tidak tahu ia berada dimana, terakhir di Santorini, Yunani.” Uskup itu menjadi sedikit rileks.
“Lalu apa penyebabnya? Mengapa kamu melanggar Hukum Kanonik, tentang tata perayaan ekaristi, yang berlaku bagi seluruh gereja katolik universal?”
“Mengapa gereja katolik universal tidak peduli pada orang miskin? Mengapa orang miskin di negeri ini harus membayar gandum, anggur, bahkan juga kapas, kepada rakyat di negara maju? Apakah gereja juga bagian dari politik kapitalisme global ……..”
“Sudahlah Pedro, kamu jangan khotbah di depanku.”
“Baik Bapak Uskup, mohon maaf.”
“Lalu mau apa kamu setelah tidak menjadi imam?”
“Mohon maaf Bapak Uskup, pertama-tama saya menyatakan tetap akan hidup selibat selamanya. Kedua, saya akan memperjuangkan apa yang tadi telah saya sampaikan kepada Bapak Uskup, sampai berhasil.”
“Baiklah kalau begitu. Aku juga minta maaf Pedro. Uskup juga bisa salah. Aku akan juga mendoakanmu, agar tetap diberi kekuatan oleh Allah.”
“Terimakasih Bapak Uskup, dan mohon berkat.”
“Sama-sama Pedro. Semoga berkat Allah yang Maha Kuasa selalu menyertaimu, Bapa, Putera, dan Roh Kudus.”
“Amin. Sekalian mohon pamit Bapak Uskup. Selamat pagi.”
“Baik Pedro, selamat jalan dan hati-hati.”

Ketika meninggalkan San Domingo, betapa ringan kaki Pedro. Dia lalu memanggil tukang ojek, untuk mengantar ke rumahnya. Ternyata di rumah tempat ia dibesarkan itu, bapak, ibu, saudara-saudara, dan sanak famili, serta para anggota Conferia, sudah menunggu. Mereka menyambut Pedro juga dengan tiga sikap. Ayahnya menentang keras, ibunya mendukung, adik-adiknya abstain. Sepertiga yang hadir di rumahnya menentang, sepertiga mendukung, sepertiga ragu-ragu. Pedro lalu diadili oleh kelompok yang menentang, baru kemudian dibela oleh yang membela. Kelompok yang ragu-ragu tidak mau ikut berbicara. Pedro tidak mengomentari sikap orang tua, adik-adik serta sanak famili ini, melainkan hanya mengatakan, bahwa baru saja ia mengundurkan diri sebagai imam projo, sekaligus sebagai pastor pembantu di paroki Aliuroba.

Suasana yang sudah mulai agak mencair, kembali menegang. Ayahnya kembali marah dan sangat menyesalkan keputusan Pedro. Ibunya justru sangat senang. Adik-adiknya biasa saja. Kembali yang hadir pagi itu terpecah menjadi tiga kelompok. Tentu agak berbeda suasana pertemuan di rumahnya, dengan suasana rapat dewan paroki Aliuroba, terlebih lagi, beda dengan suasana misa, yang dipersembahkannya hari Minggu kemarin. Yang hadir sekarang ini, bagaimana pun tetap bapak ibu, saudara dan sanak famili. Hingga setelah itu suasana mencair, lalu doa dan makan bersama, lalu moke dikeluarkan. Pedro, yang asli Larantuka, dan sebenarnya juga bagian dari kultur keluarga besar itu, tetap masih bingung. Mengapa dulu, ketika dia pulang dari Jakarta bersama Ola, mereka bersikap dingin? Mengapa sekarang lain? Apa karena tidak ada Ola?

* * *

Siang sampai sore, Pedro menyempatkan diri berkunjung ke sanak famili, dan anggota Conferia yang pada pagi hari tidak sempat hadir pada pertemuan di rumahnya. Dia juga mengunjungi teman-teman lamanya. Berganti-ganti ia menemui mereka satu per satu, dan malamnya kembali ada pertemuan di rumahnya, juga doa, juga makan malam. “Suasana seperti inilah yang sebenarnya sangat dia harapkan 10 bulan silam, ketika ia pulang dari Jakarta. Tetapi ketika itu ia terpenjara di San Domingo. Ibu Pedro kemudian bercerita, bahwa ketika itupun sebenarnya sanak famili juga terbagi menjadi tiga kelompok. “Aku sebenarnya ingin sekali bertemu dengan calon menantu aku itu, tetapi bapak, melarang dan mengancamku. Aku takut. Bagaimana dia sekarang? Aku dengar ia banyak sekali membantu paroki Kedang ya?”

“Sayang sekali, gadismu itu cantik, tinggi, putih, anggun, dan sangat baik…..” Pedro ingat, ketika ia berencana masuk seminari, ibunya memang sangat menentang, dan mengatakan bahwa ia sebenarnya akan menjadi aktor atau penyanyi hebat, kalau saja tidak usah menjadi pastor. Sekarang ia memberi komentar tentang Ola, padahal sama sekali belum pernah bertemu, lalu menyebut Ola sebagai calon menantu. “Bukankah ibu belum pernah bertemu dengan Ola? Oh, mendengar dari Suster Gabriella, ya, tetapi Ola tidak sebaik yang diceritakan oleh suster. Tetapi dia memang banyak sekali membantu Paroki Aliuroba. Ibu, dari pagi tadi, aku sudah mengatakan tidak akan menikah dengan siapa pun. Aku akan tetap hidup selibat. Mengapa, karena aku mundur sebagai pastor, bukan karena tergoda perempuan.”

“Lalu karena apa nak? Aku ingin sekali punya cucu dari kamu. Apa karena kamu tidak suka pada Bapak Uskup? Pada Romo Deken? Pada Romo Kepala? O. Pedro, Bapak Uskup itu orang yang sangat baik. Bicaranya sangat lembut. Beliau bijaksana, dan ah, pendek kata, beliau memang sosok yang sangat pantas menjadi wakil dari Bapak Paus, bahkan wakil dari Tuhan Yesus Kristus. Pedro, kamu boleh saja keluar dari pastor, tetapi jangan menyakiti hati Bapak Uskup ya?” Pedro merasa sulit menjelaskan apa alasan ia mundur sebagai pastor. Sebab bagi ibunya, jagung titi dan moke untuk misa tidak jadi soal. Inilah tipikal Katolik Larantuka awal, ketika misionaris Imam-imam Dominikan mengkatolikkan mereka.

“Ibu, aku mundur sebagai pastor, supaya bisa membantu umat yang lebih banyak lagi. Kalau saya hanya menjadi imam katolik, yang bisa saya layani hanya umat katolik. Sekarang saya awam, tetapi masih tetap rasul. Rasul awam, hingga bisa melayani umat Muslim, Kristen, dan lain-lain.” Pedro menduga ibunya akan menjawab bahwa itu bagus nak, dan seterusnya. Benar juga, ibunya mengatakan “Itu sangat bagus Pedro, kamu memang anak ibu yang sebenarnya sangat hebat, tetapi …..”  Ibu Pedro sebenarnya ingin mengatakan tetapi kamu menikahlah, supaya aku punya cucu, kamu jadi pengusahalah, bintang sinetron, pokoknya yang hebat-hebat. Pedro lalu mengalihkan pembicaraan ke hal yang remeh-temeh. Soal makanan, soal teman-teman sebayanya, dan tentu soal Conferia.

Hari itu juga Pedro kontak dengan Romo Alex dan Romo Deken, untuk memberitahu keputusannya. Mereka berdua perlu tahu. Ternyata kabar pengunduran dirinya sudah mereka terima dari keuskupan. Kabar itu pasti akan menyebar lebih luas lagi. Untuk menenangkan diri, Pedro berada di rumah selama tiga hari. Setelah itu ia menghadap Romo Deken, kemudian mengurus kepergiannya dari Aliuroba, serah terima dengan Romo Alex dan lain-lain. Tetapi ia memutuskan tidak ada acara perpisahan dengan umat. Pedro khawatir mereka yang menentangnya akan sangat emosional, hingga umat katolik Aliuroba terpecahbelah. “Setelah itu apa yang harus aku lakukan?” Pedro masih belum bisa memutuskan. * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: