Kalikasa

22/09/2014 at 11:35 (novel)

Paroki Santo Antonius, Kalikasa, berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan mobil atau sepeda motor dari Lewoleba. Sebagian jalannya beraspal mulus, tetapi menjelang masuk ke Kalikasa rusak berat. Di sepanjang kiri kanan jalan dari Lewoleba, tampak tanah-tanah gersang dengan tegakan pohon eukaliptus. Kalikasa juga sebuah paroki tua, yang diresmikan tahun 1929, bersamaan dengan Paroki Santo Laurensius, Hadakewa; dan Paroki Santa Maria Pembantu Abadi, Aliuroba. Ketiganya merupakan paroki tertua ke empat di Lembata, setelah  Paroki Santa Maria Banneux, Lewoleba, 1926; Paroki Hati Amat Kudus, Lerek, 1920; dan Paroki Santo Petrus dan Paulus, Lamalera, 1886. Gereja dan Pastoran Kalikasa terletak di ketinggian 582 m. di atas muka laut. Udaranya cukup sejuk, dan sebagian besar umatnya berprofesi sebagai petani.

Di Kalikasa ada dua imam projo. Romo Zebua sebagai pastor kepala, dan Romo Ignas sebagai pastor pembantu. Romo Zebua sekitar lima tahun lebih tua dari Pedro, sedangkan Romo Ignas baru setahun ditahbiskan. Romo Zebua asli Flores. Sebab ayah dan ibunya sama-sama orang Lio. Tetapi logat bicara, dan watak sehari-hari Romo Zebua, seratus persen Batak. Sebab Ayahnya mengajar di Tapanuli, tempat Romo Zebua lahir, dan dibesarkan. Ayah Romo Zebua tidak mau anaknya jadi Kapusin. Hingga ia dimasukkan Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Ketika di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta, Romo Zebua juga mengambil Sastra Jawa di UGM. Hingga meski berpenampilan Flores, dan bergaya Batak, Romo Zebua sangat menguasai kultur Jawa.

“Pedro, kau di sini dululah sementara agar hatimu sedikit dingin.”
“Apakah Romo tidak takut kepada Bapak Uskup, dan juga Romo Deken?”
“Mereka berdua yang takut sama aku. Uskup kita itu apa? Tidak pantas dia jadi uskup. Yang pantas jadi uskup itu orang seperti aku ini. Kalau Romo Deken orangnya baik. Tapi dia juga takut sekali sama aku. Lagipula kau ini bodoh sekali Pedro. Aku biasa misa pakai moke, pakai jagung titi, pakai keripik singkong. Tapi misa pribadi. Jadi yang tahu hanya Allah. Uskup tidak tahu, Romo Deken tidak tahu. Kalau kau kasih umat moke dan jagung titi, rusaklah gereja. Syech Siti Jenar dibunuh para wali, bukan karena ajaran dia salah, tetapi karena memberi ajaran benar kepada orang yang salah. Lagi pula, kata uskup kau punya selingkuhan?”
“Tidak benar Romo, aku dan Ola hanya sahabat, dan dia banyak membantu Aliuroba.”
“Itu lebih bodoh lagi Pedro. Kalau ada perempuan seperti itu, harus ada asmara, harus ada seks. Jalani saja. Kalau tidak namanya bodoh.”
“Apakah Romo juga begitu?”
“Kalau aku pasti begitu. Tetapi aku tidak pernah ketemu orang seperti Ola kau itu. Jadi belum pernah begitu. Maksud aku belum pernah ketahuan.”
“Apakah Romo bersedia membimbingku?”
“Aku selalu siap membimbing siapa saja, kemana saja. Mau ke neraka aku bisa bawa, mau surga ada koneksiku. Mau surga dunia juga mudah pula.”
“Saya serius Romo.”
“Apa kau kira aku sedang tidak serius Pedro? Aku juga sangat serius. Lebih serius dan juga lebih pintar dari kau. Maksud aku, aku omong seperti itu, hanya dengan orang seperti kau. Bukan dengan umat.”

Pedro memutuskan untuk menetap sementara di Kalikasa. Sehari-hari ia bekerja apa saja. Mulai dari menyapu, mengepel, membersihkan kebun, mencuci piring, mengupas ubi kayu, memotong dan membelah-belah kayu bakar, mencari rumput untuk kambing, dan lain-lain pekerjaan yang mengucurkan keringat. Pelan-pelan semangatnya pulih. Badannya juga lebih segar. Wajahnya kelihatan bersinar, meskipun tubuhnya lebih kurus. “Romo, aku minta ijin untuk tidak makan mi, dan roti, serta hanya akan makan satu kali dalam sehari. Ini akan saya lakukan, sampai ada gandum dan anggur tumbuh di Lembata.” Romo Zebua tertawa. “Itu salah satu bukti lagi, bahwa kau benar-benar bodoh, dan juga sentimental. Tetapi lakukan saja, tidak apa-apa.”

* * *

Di Kalikasa, Pedro tidak punya apa-apa lagi, kecuali sedikit tabungan di bank. “Sedikit itu berapa? Seribu, dua ribu, sejuta, dua juta?”  Tanya Romo Zebua sangat galak. “Sekitar limapuluh juta Romo?” Romo Zebua makin galak. “Darimana kau punya uang sebanyak itu? Dari selingkuhan kau itu? Korupsi? Kalau dari selingkuhan kau, harus kau kembalikan ke dia secepatnya. Nanti aku ganti. Aku akan kumpulkan teman-teman untuk membantu kau, agar punya modal. Entah kau akan usaha apa. Bagaimana pun kau mantan imam, dan keluar dengan cara terhormat, bukan dengan menghamili gadis-gadis. Darimana uang itu?” Pedro menarik napas panjang. “Romo, uang itu adalah tabungan sejak aku masih di bangku SMP, sampai dengan di Atma Jaya, Jakarta. Setelah di Aliuroba aku tidak bisa lagi menabung.”

Romo Zebua tertawa lagi. “Sekarang aku makin yakin, kau memang orang yang paling bodoh di seluruh bumi ini. Harusnya kau minta satu milyar kepada Ola kau itu. Hanya punya tabungan 50 juta, dan itu hasil menahan lapar, menahan haus, menahan banyak kesenangan, sejak dari SMP. Begini, kau sekarang tidak ada HP, tidak ada sepeda motor, tidak ada komputer, apa tidak perlu itu semua, hingga kau tidak lenyap begitu saja dari peredaran. Aku takut setelah tidak diorbit, kau kehabisan minyak, nyalimu jadi ciut, lalu sakit dan mati. Sayang orang seperti kau kalau mati muda Pedro.”  Sekarang Pedro yang ganti tertawa. “Romo, sementara aku belum memerlukan barang-barang itu.”

“Pedro, aku minta kau tinggal di Kalikasa, itu cuma untuk sementara, agar pikiran kau tenang. Aku takut kondisi psikis kau kemarin itu, akan bikin kau kehilangan orientasi. Padahal kau adalah orang yang sangat aku harapkan. Apakah kau tetap imam atau awam tidak soal. Dari kenal kau di Larantuka dulu, aku sudah tahu engkau bisa diharapkan. Aku tanya pada kau sekarang. Apa kau tidak rugi tetap di Lembata ini. Padahal kau bisa jadi orang lebih hebat lagi di Jakarta. Kau bisa kerja kantoran, mengajar, dan lanjutkan study. Nanti kalau kau sudah hebat, baru kau pikirkan Lembata. Aku pikir itu lebih baik daripada kau tetap ada di sini. Bagaimana menurut kau sendiri?”

“Romo, dalam hal ini aku beda pendapat dengan Romo. Kalau sudah di Jakarta dan hidup enak, aku pasti akan lupa pada Lembata, seperti yang lain-lain. Lalu kalau mereka balik ke pulau ini, yang mereka lakukan hanya merampok. Ya merampok kekayaan Lembata, juga uang pusat, dan uang dari luar negeri yang dialokasikan untuk pulau ini. Jadi aku akan mulai dengan apa yang aku miliki, untuk memperbaiki keadaan di sini. Dan untuk itu aku sangat mengharapkan bantuan dari Romo Zebua, yang sangat saya percaya.” Sekarang wajah Romo Zebua sangat serius. “Persis, yang kau sampaikan itu, memang persis seperti yang aku sudah duga. Aku sangat paham karakter kau. Baiklah. Aku pasti akan bantu, tetapi kau cerita dulu, apa rencana kau?”

“Aku mau bertani Romo. Aku memilih Kalikasa, karena hanya ada dua Paroki yang agroklimatnya cocok untuk menanam gandum, yakni Kalikasa dan Lerek. Lerek tidak aku pilih, karena terlalu jauh dari Lewoleba. Aku juga akan menanam anggur, dan rami. Kalau gandum dan anggur bisa dihasilkan di Lembata, bahan untuk anggur misa tidak perlu diimpor…..”
“Dan kau juga tidak perlu pakai moke bukan?”
“Ya, itu juga. Lalu kalau orang-orang tidak lagi menanam padi ladang dan jagung, maka mereka juga tidak perlu menjual jagung dan beras dengan harga murah, tetapi membeli mi dan roti dengan harga beberapa kali lipatnya. Kalau rami sudah bisa menghasilkan bahan benang, maka para penenun tradisional itu juga tidak perlu mendatangkan kapas dari Amerika. Dan untuk itu semua aku perlu lahan Romo.”
“Itu yang harus kita lakukan Pedro. Tetapi kau tak usah takutlah, tentang itu. Tanah kosong di Kalikasa masih luas. Nanti kita omong-omonglah dengan camat, dengan kepala desa, juga dengan umat kita.”

* * *

Proses mendapatkan tanah pertanian di Paroki Kalikasa, sebenarnya sangat mudah. Tinggal berunding dengan umat, lahan mana yang belum mereka garap. Lalu mulai saja membabat alang-alang serta belukar, membakarnya, dan nanti ketika hujan turun, tanah itu langsung ditanami, tanpa dicangkul terlebih dahulu. Setelah proses itu dijalankan selama beberapa tahun, baru administrasi ke kepala desa dan camat dilakukan. Ketika rencana Pedro ini disampaikan Romo Zebua ke masyarakat Kalikasa, maka mereka sangat senang, tetapi sekaligus juga heran. “Mengapa Romo Pedro setelah tidak lagi menjadi imam malah akan menjadi petani? Mengapa tidak menjadi guru saja?”

“Aku sebenarnya tidak akan menjadi petani, tetapi tetap menjadi guru. Yakni guru bagi petani-petani di sini. Aku akan menanam gandum, yang harganya lebih baik dibanding jagung atau padi ladang. Juga anggur, agar kita tidak hanya bisa minum moke, tetapi juga anggur, seperti yang diminum para Romo itu. Tetapi pertama-tama aku justru yang akan berguru pada ibu-ibu dan bapak-bapak di sini. Bagaimana cara memegang cangkul, bagaimana cara mengayunkan parang untuk menebas alang-alang. Itu semua saya masih sangat awam. Jadi, sebelum aku menjadi guru untuk para petani di sini, saya sangat berharap ibu-ibu dan bapak-bapak bersedia dengan sabar membimbingku terlebih dahulu.”

Tetapi sebenarnya hal itu juga tidak terlalu perlu. Karena selama sebulan di paroki Kalikasa, sebenarnya Pedro sudah menjadi bahan pembicaraan masyarakat. Ada yang memujinya, bahwa Pedro adalah mantan Romo yang rajin dan rendah hati, karena mau membersihkan kebun, memangkas pohon-pohon, mengepel, dan lain-lain. Tangan Pedro memang langsung lecet-lecet, kemudian menebal dan mengeras. Kulitnya juga menghitam. Adapula masyarakat yang mencemoohnya. Itulah kalau imam menghujat Roh Kudus. Tubuh Kristus itu harus terbuat dari gandum, tanaman yang suci. Bukan jagung titi. Darah Kristus juga harus terbuat dari anggur merah, supaya persis darah. Kok dia berani-beraninya mengganti dengan moke. Makanya dia dipecat sebagai imam oleh Uskup, dan sekarang sengsara.”

Mereka yang senang mendengar Pedro akan menjadi petani, segera mengadakan pertemuan adat. Lereng gunung Ile Kerbau, yang ketinggiannya antara 800 m. sd. 1.000 m. dpl, masih banyak yang kosong, berupa padang alang-alang dan belukar. Tanah ini berupa punggung bukit, yang pada musim kemarau kering kerontang. Lembahnya yang memanjang ke bawah, masih cukup basah hingga menjadi kebun kemiri. Lereng Ile Kerbau, bisa dijangkau dengan jalan kaki dari Kalikasa ke Kolirerek. Dari Kolirerek masih ada jalan yang menanjak, melalui padang sabana, kemudian menuruni lereng selatan Ile Kerbau yang sangat terjal, menuju desa Bakan dan terus ke Mudalerek. Dari Mudalerek masih ada jalan setapak di antara hutan belukar, sampai ke kampung Udak dan Lewuka, yang juga merupakan stasi dari Paroki Kalikasa.

“Pedro, kalau kau mau, sebenarnya masih ada lahan kosong lebih luas, antara Kerbau Kenoki, di atas kampung Udak, sampai ke Uruor sana. Aku kira kau urus Ile Kerbau juga sudah bongkok punggung kau Pedro. Untuk urus itu lahan, kau bisa tinggal di Kolirerek. Hanya begini Pedro, jalan Kolirerek ke Bakan, juga Kalikasa ke Lewoleba, adalah jalur mati. Ke depan, akan lebih baik kau pilih, bukit-bukit antara Udak dan Uruor. Sebab jalan Lewoleba  di Pantai utara Lembata sampai Wulandoni di pantai selatan, nantinya akan jadi jalur penting di Lembata. Dan jalan itu lewat lahan kosong itu. Kalau kau garap itu lahan, tinggal saja di Udak. Itu nantinya akan jadi tempat bagus Pedro, sebab Wulandoni akan dibangun jadi pelabuhan besar yang bisa lengsung ke Kupang.” * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

1 Komentar

  1. ekwuta said,

    Saya suka sekali saat baca ini. Semua tentang Kalikasa dan (Lembata) umumnya saya baca secara jelas dari seorang yang bukan anak asli dari Lembata. Dulu di Hokeng, ada banyak teman dari paroki ini, tapi cerita tentangnya hanya begitu-begitu saja. Saat saya baca ini, saya seperti mengalaminya, bahkan ada di sana saat itu. Terima kasih Abang F. Rahardi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: