Udak

30/09/2014 at 15:43 (novel)

Udara malam bulan Juli di kampung Udak luar biasa dingin. Padahal siangnya sangat panas. Bulan Juli adalah puncak udara dingin mengalir dari Antartika,  menyapu daratan Australia Barat, menyeberang Laut Timor, melompati Pulau Sabu, Rote, dan Timor Barat, masuk Laut Sabu, membelai pohon-pohon Reo, lontar, batang-batang kelapa, enau, asam, dan eukaliptus, yang memenuhi lereng selatan Lembata. Sebagian angin dingin itu mendarat di Lamalera, Lerek, dan ada yang menerjang Wulandoni, merayap naik ke Stasi Lewuka, dan kampung Udak. Kampung kecil itu menggigil. Padahal udara sangat cerah. Meski bulan mati, bintang-bintang tampak gemerlap di langit. “Kalau kabut turun, udara malah tidak sedingin ini, Romo.”

“Sebab kabut adalah selimut yang diturunkan Allah, hingga pohon-pohon tidak terlalu kepanasan atau kedinginan.”  Kalimat tadi diucapkan oleh Kakek Tarsi, yang seluruh rambutnya telah memutih. Dia hanya tinggal berdua dengan istrinya, yang juga sudah sangat tua. Tetapi mereka berdua masih sehat dan gagah. Mereka masih pergi ke ladang, naik lewat Kerbau Kenoki, dan menebas kaliandra. Mereka berdua juga masih mengangkut kayu bakar dari hutan. Padahal anak-anak dan cucunya telah melarang keras mereka melakukan hal itu. “Kalau kami turuti mereka, Romo, kami akan sakit-sakitan lalu cepat mati. Maksud mereka baik. Tetapi salah. Kalau Romo dan Bapak Pedro ini sudah tak bisa lagi menahan dingin, di dapur masih ada api cukup besar. Kayu bakar juga banyak. Sambil minum kopi, dan makan ubi, Romo!”

Anak kakek Tarsi delapan orang. Perempuan tiga, laki-laki lima. Ada yang jadi imam dua orang, ada yang jadi dosen, perempuannya satu jadi suster, semuanya di luar Lembata. Ada yang di Jakarta, Yogya, Surabaya, Larantuka, bahkan anak perempuannya yang jadi suster bermukim di Johannesburg, Afrika Selatan. Di kampung Udak ini, kakek Tarsi ditemani oleh Ansel, keponakan laki-lakinya, Bertha, isteri Ansel,  serta Anas dan Cecil, dua anak perempuan  mereka yang masih sangat kecil. Rumah yang mereka tempati menghadap ke timur, sebenarnya sangat kecil, tetapi merupakan rumah terbesar di kampung Udak. Sebab umumnya rumah di Udak berukuran kecil-kecil. Rumah itu sudah berdinding tembok. Menurut kakek Tarsi, itulah rumah berdinding tembok pertama di Udak.

Pedro dan Romo Zebua, tiba di Udak minggu malam, dan hari sudah mulai gelap. Ketika itulah orang-orang Udak sibuk mengemas dagangan mereka, sayuran, tomat, ubi kayu, ubi jalar, keladi, pisang, dan lain-lain. Sebagian dari dagangan yang mereka panen dari ladang-ladang mereka di balik Kerbau Kenoki, mereka taruh di pinggir jalan, dan tidak mereka bawa pulang. Sebab nantinya, lokasi itu akan dilalui oleh kendaraan, yang akan membawa hasil panen mereka ke Lewoleba. Kendaran itu berupa truk sedang, yang diberi atap dan bangku di kiri kanannya. Truk inilah kendaraan angkutan barang dan sekaligus orang di Lembata, juga di Flores pada umumnya. Jarak antara Udak dengan Lewoleba, sebenarnya hanya 20 km. Tetapi jarak itu harus ditempuh oleh truk yang sarat muatan, selama tiga jam. Sebab jalannya makadam, dan sebagian masih berupa tanah telanjang terdiri dari lempung merah, yang kalau hujan, sama sekali tidak bisa dilewati.

Kalau musim penghujan datang, truk-truk dari Lewoleba ke Udak itu harus memutar lewat  jalan ke arah Lamalera. Tetapi di jalan menurun di Puor, menjelang Lamalera, truk belok kiri, terus menuruni lereng bukit sampai ke pantai, kemudian menyusuri pantai sampai Wulandoni. Antara Wulandoni Luki, truk naik lagi lewat tanjakan yang sangat terjal ke Semaki, Lewuka, dan sampailah di Udak. Truk dari Udak juga akan kembali memutar lagi lewat jalan tadi. “Kalau kemarau seperti ini memang enak Romo.” kata Kakek Tarsi. “Orang-orang yang ke pasar tidak usah memutar.” Meski tidak jalan memutar, mereka yang sudah siap-siap sejak pukul 6 sore, baru akan berangkat pukul 8 malam. Sampai di Lewoleba pukul 11 malam, lalu mereka tidur di pasar menjaga dagangan mereka. Pukul lima pagi sudah mulai jualan, paling cepat pukul 12 siang mereka kembali dari Lewoleba,  dan baru akan sampai di rumah sekitar pukul 3 sore.

* * *

Kawasan dari Puor, Udak, Kalikasa, terus sampai ke Lerek, tanahnya sangat subur. Tanah di kawasan itu adalah muntahan material vulkanis dari gunung Ile Labalekang, yang terletak di atas Lamalera dan berketinggian 1.620. Inilah gunung tertinggi di Lembata. Sekarang, Ile Labalekang sudah tidak aktif lagi. Tidak seperti Ile Ape di ujung utara Lembata, yang tiap saat masih mengepulkan asap vulkanisnya. Tanah material vulkanis ini sangat subur, dan menjadi lebih subur lagi setelah disapu udara dingin dari Antartika. Pada musim kemarau yang paling kering sekali pun, tanah tetap gembur, dan basah di bagian bawahnya. Tidak seperti di lereng Utara Lembata, yang tanahnya lempung merah, hingga kering kerontang dan pecah-pecah pada musim  kemarau, dan becek pada musim penghujan.

Pagi itu, Pedro dan Romo Zebua berboncengan sepeda motor, naik dari Udak ke Kerbau Kenoki. Jalannya terus menanjak tajam. Sebab jarak yang hanya 2 km itu, telah mengubah elevasi dari Udak yang 632 m. dpl, menjadi 967 m. dpl di Kerbau Kenoki. Selanjutnya bukit-bukit dari Kerbau Kenoki ke kampung Uruor sana, berelevasi antara 800 sd. 900 m. dpl. Sebagian dari bukit-bukit itu sudah menjadi lahan pertanian yang sangat subur. Elias, salah seorang anak Udak, dulu pernah mengikuti kursus pertanian di Bajawa. Pulangnya dia membawa benih kaliandra. Benih itu ditanamnya di atas desa Udak, di bawah Kerbau Kenoki. Kaliandra itu tumbuh sangat subur. Kemudian masyarakat ikut menanamnya di sekitar Kerbau Kenoki.

Dalam waktu hanya dua tahun, sebagian kawasan gersang itu menjadi  hijau. Orang-orang Udak lalu menebas kaliandra itu, membakarnya, dan menanaminya dengan jagung, padi ladang, ubi kayu, keladi, dan juga sayuran yang mereka jual ke pasar Lewoleba setiap Senin. Pedro dan Romo Zebua berhenti di Kerbau Kenoki. Dari sini tampak Wulandoni dan Laut Sabu. “Pada musim penghujan ketika cuaca sedang sangat cerah Pedro, daratan Timor kelihatan dari sini. Inilah lahan yang harus kamu garap bersama orang-orang Udak itu. Bagus juga kalau kamu mengajak mereka menanam gandum. Sebab selama ini mereka sudah biasa menanam jagung dan padi ladang. Caranya sama kan Pedro? Bagaimana, setelah melihat bukit-bukit gundul, panas dan jauh itu, apakah semangat kau tetap menyala?”

“Sayang sekali Pedro, Elias yang dulu mulai menghijaukan kawasan ini dengan kaliandra, sekarang malah jadi TKI di Malaysia. Pasti karena penghasilan petani di sini sangat rendah. Kamu tahu Pedro, ongkos truk ke Lewoleba, Rp 25.000,- sekali jalan. Berarti PP sudah Rp 50.000,- dan mereka hanya berjualan seminggu sekali, setiap senin. Pendapatan mereka dari tomat, ubi kayu, pepaya, pisang dan lain-lain itu pasti sangat rendah. Apakah kol, wortel, apa itu, daun sop, dan kentang juga bisa ditanam di sini ya Pedro? Kalau bisa, pasti pendapatan mereka bisa lebih baik. Di Bajawa kan banyak sekali orang menanam sayuran bagus-bagus seperti di Jawa, dan hasilnya mereka jual di Ende. Di sini aku yakin juga bisa Pedro.”

“Pedro, di Udak ini juga sudah ada kelompok tani. Engkau nantinya bisa bimbing mereka supaya lebih baik lagi. Aku dapat laporan, tabungan mereka di CU juga banyak. Mestinya mereka kan bisa beli truk sendiri. Sebab, dengan ongkos Rp 50,- per orang  per minggu, kalau ada 20 orang anggota, berarti sudah Rp 1 juta sebulan kan Pedro? Berarti sebenarnya mereka bisa beli truk sendiri, karena bisa dioperasikan tiap hari sebagai angkutan umum. Aku berharap banyak pada kau Pedro. Ya, kalau pacar kau yang kaya-raya itu masih ada, dia pasti akan mau bantu-bantu. Sayang ya Pedro? Tetapi tidak apa-apa. Aku akan kumpulkan uang juga dari teman-teman. Untuk back up engkau supaya tidak kehabisan tenaga.”

* * *

Sejak itulah Pedro berada di Udak. Tidak ada listrik. Tidak ada komputer. Pedro juga tidak mau pegang HP. Padahal di Udak, sekarang sudah ada sinyal. “Aku harus pegang cangkul, sabit, dan parang.” Tak ada lagi e-mail. Bagaimana dengan Ola? Apakah suatu ketika ia bisa bertemu lagi dengannya? Suatu ketika dia pasti bertemu dengan laki-laki yang mencintainya, dan juga dicintainya, dan mereka akan menikah, lalu punya anak, lalu sibuk, dan dirinya akan segera dilupakan. Memang begitulah seharusnya. Tetapi, apakah benar kata Romo Zebua bahwa ia bodoh, bahkan sangat bodoh? “Bisa saja saya sangat bodoh. Batas antara bodoh dan pintar sebenarnya juga sangat tipis. Sama tipisnya dengan batas antara kebaikan dan kejahatan, antara benci dan cinta, antara, tertawa dan menangis.”

Romo Zebua minta Pedro tinggal di rumah Kakek Tarsi. Pedro mau, tetapi hanya untuk sementara. “Kalau boleh Romo, aku akan di gunung saja, tinggal di ladang. Aku akan buat pondok dari bambu, atap daun alang-alang, yang penting bisa untuk tidur. Barang-barangku biarlah aku titipkan di rumah Kakek Tarsi. Sebagian juga akan aku tinggal di Kalikasa. Biarlah dipakai mereka yang memerlukan. Romo, aku juga sedang kirim surat ke teman di Jakarta, untuk dikirimi buku dan bahan-bahan lain tentang gandum, anggur, dan rami. Aku yakin teman itu mau bantu. Aku akan transfer uang kalau ia sudah mengirim nomor rekeningnya.” Roma Zebua sebenarnya mengkhawatirkan Pedro, kalau ia tidur di ladang. Sebab dia akan semakin terkucil, dan takut kalau ada apa-apa. Tetapi ia tetap mengijinkannya.

Begitu Romo Zebua mengirim SMS ke Pak Martin, Ketua Stasi Lewuka, maka umat di Udak segera bergotong royong membangun pondok di tengah Belukar di pinggang bukit. “Membangun pondoknya di sini saja Bapak Pedro, supaya kalau Bapak Pedro mengambil air tidak terlalu jauh. Di lembah di bawah itu, di bawah pohon kemiri yang sangat besar itu, ada mata air yang tidak pernah kering pada kemarau sepanjang apapun. Nanti kami akan membuat bedeng untuk mandi, juga lubang untuk buang air. Kami akan mengalirkan air ke bedeng mandi ini dengan bambu, hingga Pak Pedro bisa mandi di pancuran. Tetapi dingin sekali di sini Pak Pedro!” Pondok itu bertiang kayu eukaliptus yang cukup besar. Sebenarnya Pedro ingin tiang itu dari kayu kaliandra, tetapi orang-orang melarang. “Nanti cepat lapuk Pak Pedro!”

Jadilah pondok kecil itu. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, atapnya daun gelagah dan alang-alang. Di pondok itu ada balai-balai kecil dari bambu. Pedro membawa cerek, panci, penggorengan, piring, ember plastik, gayung, lampu kapal, tikar dan lain-lain peralatan rumah tangga. Dia akan memasak di tungku dengan kayu bakar. Malam pertama tidur di pondok, Pedro kedinginan luar biasa. Padahal ia sudah menutup tubuhnya dengah selimut tebal. Semalaman ia tidak bisa tidur. Untung dia sudah mengumpulkan banyak kayu bakar. Hingga ia membuat api dan menyeret tikar di dekat api, lalu tidur di sana. Paginya, dengan dibantu masyarakat, Pedro membuat lubang tidur, tidak jauh dari pondoknya.

Lubang itu digalinya di sebuah tebing. Lebarnya 1,5 m  panjangnya 2 m dan dalamnya 2,5 m. Bagian tebing kiri,  kanan, dan belakang lubang itu,  oleh orang-orang diberi tiang-tiang kayu eukaliptus sebesar lengan, supaya tidak longsor. Bagian atas lubang itu juga dipasang balok-balok eukaliptus, ditutup plastik, diberi ventilasi buluh bambu, dan kemudian ditimbun tanah berikut rumput. Di dalam lubang itu kemudian ditaruh balai-balai bambu kecil, dan tikar. Pintu masuk di bagian depan, di tebing, diberi tutup dari anyaman bambu. Tidur di lubang itu benar-benar hangat, meskipun di luar suhu udara dingin sekali. Kalau hujan turun, lubang itu tetap kering, karena terletak di lokasi yang agak tinggi. * * *
Fragmen Novel Lembata

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: