Via Dolorosa

08/10/2014 at 11:16 (novel)

Tiap pagi, kegiatan rutin Pedro adalah merebus air. Dia selalu menaruh tunggul kayu kering di atas api pada sore hari, dan pagi harinya tunggul itu masih membara. Hingga ia tidak kesulitan untuk menyalakan api. Meskipun menyimpan teh, kopi dan gula, ia tidak minum kopi atau teh pada pagi hari, melainkan hanya air putih hangat. Mengikuti adat masyarakat setempat, ia kemudian makan buah sirih, dengan buah pinang muda dan kapur. Ketika hal ini dilakukannya, kepalanya pusing sekali. Ternyata pada buah pinang muda itu ada zat yang bersifat narkose. Tetapi dengan makan sirih, kondisi tubuhnya menjadi tetap segar sampai siang hari, meskipun tanpa makan apa-apa, dan hanya minum air putih. “Pantas, orang-orang itu kondisi tubuhnya kuat sekali, ternyata karena makan sirih.”

Pedro lalu mengasah parang sampai tajam. Ia menggosok-gosokkan mata parang itu di batu asah, yang sedikit-sedikit ia beri percikan air, dari wadah kaleng bekas di dekatnya. Batu asah itu tergerus, dan air percikan itu dengan cepat menjadi cairan kental berwarna abu-abu kehitaman. Mata parang itu sedikit-sedikit juga terkikis, hingga tampak menjadi lebih putih dan berkilauan. Hal ini dilakukannya pada keduabelah mata parang. Setelah parang itu tajam, mulailah ia membabat alang-alang, gelagah, dan belukar, termasuk belukar berduri. Ia mulai bekerja sekitar pukul delapan pagi. Saat orang-orang dari Udak, dan dari Uruor juga berdatangan ke ladang mereka. Pagi hari, udara masih segar, dan panas matahari belum datang. Tetapi lewat pukul sepuluh, panas mulai datang.

Tubuh Pedro berkeringat, dan hancur. Bukan hanya telapak tangannya saja yang lecet-lecet, tetapi juga seluruh tubuhnya juga kena duri, dan tergores tepi daun gelagah, yang ternyata tajamnya luarbiasa. Telapak kakinya juga hancur karena terkena sisa tunggul kayu yang sebagian telah dimakan rayap. Ternyata bukit gundul itu dulunya juga hutan, dan masih banyak sisa tunggul kayunya. Awalnya Pedro ragu-ragu. Apakah aku mampu menebas lereng bukit yang cukup luas ini sendirian? Tetapi ia lalu ingat. Yang harus dia pikirkan dan dinikmati, bukan hasil, melainkan proses. Pukul sebelas siang biasanya ia istirahat, lalu merebus ubi kayu, atau keladi, menggoreng ikan asin, dan membuat sambal. Ia lalu makan.

Tekad Pedro sudah bulat. Ia hanya akan makan ubi kayu, ubi jalar, dan keladi, dengan ikan asin, sayuran daun ubi kayu atau pepaya, dan sambal. Ia tidak akan makan nasi. Terlebih mi atau roti. Itu makanan dari gandum, yang hanya akan membuat rakyat Amerika menjadi semakin kaya, sementara rakyat di negeri miskin menjadi semakin miskin. Pukul satu siang Pedro mulai lagi menebas alang-alang. Inilah saat-saat Via Dolorosa tiba. Panasnya luar biasa. Tubuh yang luka-luka tergores daun gelagah, menjadi sangat perih dan gatal terkena keringatnya sendiri. Tetapi ia ingat, bahwa ia toh tidak akan mati, hanya karena kepanasan, dan kecapekan. Kalau haus, ia tinggal berjalan beberapa meter, dan disana ada cerek berisi air, dan ada gelas.

“Ini belum seberapa Pedro!” katanya pada diri sendiri. “Kamu tahu bukan, bahwa 2000 tahun silam, Yesus juga sangat kepanasan di Via Dolorosa. Tubuhnya bukan hanya luka-luka karena tergores daun gelagah Pedro. Punggungnya hancur karena disesah dengan cambuk berbandul tajam. Sementara di kepalanya ditusukkan mahkota duri. Dia sampai terjatuh tiga kali Pedro, karena kecapekan menggotong balok kayu, yang akan digunakan untuk menyalibnya. Dia juga kepanasan, ngantuk karena semalaman tidak tidur, kesakitan, bahkan kehabisan darah, karena disesah, dan harus berjalan membawa beban berat, untuk dibunuh sebentar lagi. Tetapi dia jalani proses itu dengan baik Pedro. Jadi jangan kamu mengeluhkan penderitaanmu, yang sebenarnya sama sekali bukan penderitaan.”

Dia lalu kembali bersemangat mengayunkan parang. Alang-alang lebih mudah ditebas, dibanding gelagah. Sebab gelagah itu berbatang keras sebesar jari, dan pangkal batangnya jauh lebih keras lagi. Gelagah juga berukuran lebih panjang dibanding alang-alang. Setapak demi setapak, lereng bukit yang beralang-alang, bergelagah dan berbelukar itu terbuka. Bekas tebasan, dalam waktu singkat menjadi layu dan mengering, karena udara kering dan sangat panas. Aroma daun alang-alang, gelagah, belukar dan rumput yang layu tertimpa matahari itu, ternyata sangat harum. Pedro belum pernah mencium aroma seharum dan sesegar itu. Dan dia sangat menikmatinya.

* * *

Musim kemarau di NTT, berlangsung selama sembilan bulan, dari Maret sampai November. Sementara musim penghujannya hanya tiga bulan, dari Desember sampai Februari. Meskipun kadang-kadang, Oktober atau November juga sudah mulai turun hujan, dan Maret serta April, juga masih ada sisa gerimis. Orang-orang mulai menebas hutan dan sabana, pada bulan Juli. Sebab ketika itu alang-alang, gelagah dan belukar juga sudah mulai mengering. Penebasan bisa berlangsung sebulan, sampai dua bulan, tergantung luasnya lahan, serta tingkat kesulitan hutan. Lahan yang sudah tertebas, akan dibiarkan selama satu sampai dua bulan. Baru kemudian dibakar. Pembakaran selalu dilakukan beberapa saat sebelum hujan datang.

Kalau hitungan ini meleset, petani bisa repot. Kalau pembakaran terlambat dilakukan, sampai turun hujan, maka lahan tersebut akan nganggur. Sebab tidak bisa dibakar, dan akibatnya juga tidak bisa ditanami. Kalau pembakaran dilakukan jauh sebelum hujan datang, maka alang-alang, gelagah dan belukar akan tumbuh lagi dengan sangat suburnya. Sebab alang-alang gelagah dan belukar, adalah tumbuhan bandel. Meskipun ditebas dan dibakar, tunggulnya tetap akan bisa tumbuh lagi dengan sangat subur. Kalau petani segera menanami lahan yang sudah terbakar itu, maka alang-alang, gelagah dan belukar yang tumbuh, akan kalah oleh jagung, ubi kayu, atau padi ladang. Orang-orang, biasanya juga membongkar tunggul-tunggul gelagah itu setelah lahan dibakar.

Pedro, menjumpai lahan yang sudah ditebas dan dibakarnya, penuh dengan batu-batu besar kecil. Di sela-sela batu itu, memang ada tanah vulkanis yang sangat subur. Kemiringan lahan itu sekarang juga tampak cukup jelas, yakni antara 20 sd. 45°. Pedro lalu kembali menjalani Via Dolorosa. Tiap hari dia berganti-ganti antara menebas lahan, dengan membongkar batu-batu itu, dan menumpuknya berderat, mengikuti kontur. Dia menyusun batu-batu itu dari bagian paling bawah, sampai ke bagian paling atas, hingga membentuk terasering. Orang-orang Udak dan Uruor heran, untuk apa Pak Pedro mau capek-capek menyusun batu-batu itu? Supaya bagus, atau supaya apa?

Batu-batu besar kecil itu, kadang hanya diungkit dengan linggis besar, dengan batang kayu eukaliptus sepanjang tiga meter yang  lurus sebesar lengan, lalu digelindingkan ke bawah. Tetapi kadang-kadang, batu itu juga harus diangkat satu per satu. Di tengah terik matahari, batu di pundaknya dirasakannya seperti kayu salib. Batu-batu itu kadang menimpa kakinya dan membuatnya memar serta lecet-lecet. Tetapi anehnya, sekarang Pedro merasa tubuhnya menjadi sangat kuat. Sering batu yang digelindingkannya dari atas, keterusan agak ke bawah, hingga Pedro harus mengungkitnya, atau malah mengangkatnya kembali ke atas. Anehnya, ia seperti memiliki kekuatan ekstra. Padahal, menu yang dimakannya sekarang, sangat rendah gizi.

Selain karena faktor makan sirih, Pedro menduga, bahwa kalau seseorang bisa menyatukan diri dengan apapun yang digelutinya, maka energi Ilahi akan datang menyertainya, lalu kekuatan yang selama ini tak pernah disadarinya akan muncul dengan sendirinya. Ia sekarang bisa mengayunkan parang dengan biasa-biasa saja, tanpa perlu mengerahkan tenaga, tetapi batang belukar sebesar lengan akan tertebas hanya dengan dua atau malah sekali ayunan parang. Tengah hari itu, di bawah terik matahari yang menyengat, ia lalu berlutut, Demi nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus, Amin, Bapa, aku bersyukur, sangat bersyukur, karena telah berkenan menurunkan energimu, hingga sesuatu yang dulunya aku anggap sulit, sangat sulit, bahkan hampir mustahil, ternyata bisa kujalani dengan mudah ….”

Pedro beruntung. Sebab energi Ilahi itu memang hanya akan turun, apabila seseorang bisa menyatukan diri dengan pekerjaan apapun yang digelutinya, dengan hati yang bersih dan iklas. Meskipun menghadapi Via Dolorosa, Pedro tidak berkeluhkesah, tidak menganggapnya sebagai penderitaan, melainkan justru menikmatinya. Orang-orang Udak pun heran. “Ternyata Bapak Pedro tidak seperti anggapan kami sebelum ini. Dulu kami mengira Bapak Pedro lemah, lalu akan pergi dari sabana ini. Ternyata Bapak Pedro jauh lebih kuat dari kami.” Pedro menggeleng. “Tidak, aku menjadi kuat, karena mendapat dukungan, juga karena bisa banyak sekali belajar dari bapak-bapak. Tanpa itu semua, saya pasti gagal.”

* * *

Selang tiga bulan berada di ladang, Pedro merasakan kenyamanan yang luar biasa. Tubuhnya menjadi lebih kuat, kulitnya hitam legam, rambut kumis, cambang dan janggutnya memanjang. Giginya tampak mulai banyak yang menghitam, sementara bibir dan gusinya memerah, karena makan buah sirih. Dia juga menjadi lebih sering bekerja dengan bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana kolor. Orang-orang lalu sering mengolok-oloknya, bahwa sekarang ia mirip dengan Yesus, kalau saja mau mengenakan jubah, dan kulitnya menjadi putih. Dia selalu titip orang-orang Udak yang pergi ke pasar untuk membelikan sabun, garam, minyak goreng, ikan asin, cabai, bawang, terasi, minyak tanah, dan lain-lain kebutuhan.

Sementara ubi kayu, keladi, ubi jalar, dan sayuran, selalu ada yang mengantar. “Uangnya minta pada Kakek Tarsi, Ansel, atau Bertha. Sebab semua uang aku titipkan kepadanya. Kalau uang yang ada di Kakek Tarsi habis, dia akan minta ke Romo Zebua. Uangku yang masih ada di Bank, sebagian besar sudah aku masukkan ke rekening Romo Zebua.” Pedro juga tetap menyimpan beras dalam kantung plastik, corned, dan sardin. Tetapi selama ada di bukit, ia belum pernah memasaknya. Bahkan minum kopi atau teh pun, hanya dilakukannya pada sore hari, menjelang ia masuk ke dalam “lubang tidurnya”. Praktis, selama tiga bulan, Pedro hanya tiga kali ke Udak, dan menginap di rumah Kakek Tarsi. Selebihnya, siang hari ia hanya berada di Via Dolorosa, sementara malam harinya bersembunyi di lubang tidur.

Kadang-kadang, ada anak-anak muda Udak, dua orang, tiga orang, pernah sampai enam orang, yang menemaninya tidur di pondok. Pedro mulai malu pada dirinya sendiri. “Dulu, ketika aku menebas alang-alang di tengah hari bolong, mengangkat batu-batu di bawah terik matahari, aku membayangkan diriku seperti Yesus berjalan di Via Dolorosa. Tapi aku kan baru tiga bulan menikmati kesengsaraan ini. Tetapi bagaimana dengan masyarakat itu? Mereka sejak lahir, sampai mati, akan selalu berada di Via Dolorosa. Mereka yang masih setia menghuni kampung ini tentunya. Sebab mereka yang sudah keluar dari kampung, baik yang menjadi imam, yang menjadi bruder, menjadi suster, atau mereka yang gagal dan kemudian bertahan di kota-kota besar, meski juga berada di Via Dolorosa, tetapi berperan menjadi serdadu Romawi, dan para petinggi Yahudi. Mereka lupa pada Via Dolorosa di kampung mereka.

Pedro lalu berusaha untuk menjadi lebih rendah hati. “Tidak. Aku bukan pejuang apapun. Aku tidak sedang berjuang agar mereka menjadi lebih sejahtera. Aku hanyalah pastor gagal, yang kemudian frustrasi, lalu menyepi di tempat ini supaya tampak seakan-akan menolak kelaziman. Sebab lazimnya, imam yang mundur dari keimamannya, akan segera mencari pekerjaan yang layak, menikah, punya anak, lalu berusaha berprestasi sebaik-baiknya sesuai dengan bidang yang digelutinya. “Tetapi umumnya mereka akan kabur sebagai pastor karena tergoda perempuan? Aku tidak!” Tiba-tiba Pedro merasa ada bagian dari dirinya yang tertawa sangat sinis. “Tidak Pedro? Kamu, nekad mempersembahkan misa dengan moke dan jagung titi, bukankah karena Ola tak pernah lagi mengirim e-mail?”

“Ya, kamu pun sebenarnya juga keluar dari imam karena godaan perempuan. Benar kamu Pedro. Kamu benar. Lalu kamu memutuskan untuk menyepi di sini, bahkan sebelumnya, memutuskan untuk tidak menerima pinangan Ola pun, juga akibat kesombongan.” Pedro sore itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, menangis sesenggukan sendirian. “Bapa, Allah yang Maha Kuasa, ampunilah hambamu ini. Ternyata batas antara kesombongan dan kerendahhatian, juga sangat, sangat tipis, bahkan barangkali tidak ada. Tuhan, ampunilah aku, Pedro, yang selama ini lebih banyak menuruti perasaan hati, yang lebih mengagungkan kesombongan. Bukan kerendahhatian. Hambamu ini berjanji, Tuhan, akan terus berusaha untuk berada di jalan kerendahhatian, Amin.”

Usai menangis dan berdoa, Pedro merasakan dirinya nyaman sekali. Seperti ada sebuah katarsis agung yang berhasil dicapainya. Tiba-tiba ia lalu ingat. Ini semua kan berkat Romo Zebua, yang Flores, tetapi juga Batak, dan Jawa pula. Selama ini ia hanya menganggap Romo Zebua sekadar pastor yang baik dan bisa ia percaya. Tetapi sekarang tidak hanya itu. Ia benar-benar manusia hebat. Sebab ketika dirinya sedang oleng, ia segera menangkapnya. Menenangkannya, dan kemudian menaruhnya dalam posisi yang sangat tepat. Pagi itu ia bertanya pada orang-orang Udak yang punya HP, apakah Romo Zebua ada di Kalikasa? Ternyata ada. Maka hari itu pula ia segera bergegas ke sana dengan berjalan kaki, untuk mengaku dosa, bahwa dirinya sudah bersikap sombong. Ternyata Romo itu menanggapinya dengan enteng. “Ah, baru sekarang kau sadar bahwa diri kau itu sombong, Pedro!” * * *

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: