Gandum

14/10/2014 at 13:06 (novel)

Setelah mandi, potong rambut, mencukur kumis, cambang dan janggutnya, Pedro mengenakan, jeans baru, gesper, sepatu kets baru, dan T-Shirt, yang juga baru. Adapula dua lusin celana dalam baru, beberapa potong celana panjang, T-Shirt, dan baju yang masih terbungkus rapi. “Jangan tanya-tanya siapa yang membelikan. Kau harus punya sikap sama dengan ketika masih jadi imam, kalau ada, pakai, kalau tidak ada mencari.” kata Romo Zebua, begitu melihat wajah Pedro yang menyiratkan pertanyaan. “Sekarang, ini ada uang. Bukan uangmu, dan juga jangan tanya darimana.  Pakailah untuk ke Pasuruan dan Bali. Anggap ini piknik. Di Pasuruan kaulihat orang tanam gandum, di Bali kau amati orang tanam anggur. Kau beli benihnya dan langsung pulang. Terserah kau mau pergi berapa hari, aku kira uang itu lebih dari cukup.”

Pedro tidak mampu membantah pastor yang satu ini. Dia patuh. Dari Kalikasa ia diboncengkan sepeda motor oleh koster, ke Lewoleba. “Aku sudah pesankan tikat ke Kupang, di Kupang kau cari tiket sendiri ke Surabaya, lalu ke Pasuruan, lalu ke Bali, ke  Kupang lagi lalu kembali ke Lewoleba.” Setengahnya Pedro tak percaya apa yang terjadi. Bukankah ia tidak pernah mengatakan bahwa akan ke Kalikasa? Mengapa Romo Zebua tahu, kalau ia akan datang, dan kemudian memintanya ke Bali, lalu sudah memesan tiket Lewoleba Kupang? “Pedro, di Jawa itu, ada orang yang disebut sebagai wali sembilan. Yakni mereka yang menyebarkan Islam di Jawa. Kata wali juga digunakan untuk Pemuka agama yang sudah berhasil mencapai tataran tinggi.”

“Ada dua macam wali Pedro, yakni wali yang kelihatan atau wali formal, dan ada pula wali yang tidak kelihatan atau wali informal. Dalam Katolik, ada uskup dan kardinal formal yang kelihatan, dan ada uskup yang tidak kelihatan. Aku adalah wali dan uskup yang tidak kelihatan itu, Pedro! Maka ketika aku bilang lebih pantas menjadi Uskup, sebenarnya tidak sedang main-main!” Sekarang Pedro agak pusing. “Ini Romo sedang serius, atau sedang bercanda?” Romo Zebua tertawa terbahak-bahak lagi. “Nah datang lagi bukti kebodohan kau Pedro. Membedakan aku sedang serius atau tidak pun, ternyata kau tak bisa. Ayo, jalan sajalah, itu koster sudah dari tadi menunggu. Kau kalau tidak diberi kesempatan jalan-jalan, akan jadi setan penunggu gunung, nantinya.”

Jalan Kalikasa aspalnya banyak yang sudah hilang. Debu di mana-mana. Koster itu ngebut. Ketika masuk jalan yang aspalnya masih bagus, koster tambah ngebut. Pedro ketakutan, dan tidak berani menegur koster. Tetapi benar juga dia. Sebab begitu sampai di airport, pesawat sudah ada. Pedro lalu menuju loket, dan bertanya, apakah sudah ada booking tiket untuknya? Benar. Dan menurut petugas loket, bookingnya dilakukan tiga hari lalu. Padahal katika itu, ia belum berencana untuk ke Kalikasa. Mengapa Romo Zebua tahu kalau ia akan ke Kalikasa? Padahal Romo Zebua sebenarnya memang sudah lama merencanakan hal ini, dan hari itu ia sedang suruhan orang untuk memanggilnya ke Kalikasa. Ternyata yang hendak dipanggil sudah datang. Pedro lalu membayar tiket, dan tak lama kemudian sudah terbang ke Kupang.

Di kota ini, Pedro lupa bahwa sekarang ia sudah bukan imam. Ketika masuk ke taksi, ia mengatakan “Ke wisma keuskupan!” Tak lama kemudian ia ralat sendiri, “ke hotel sajalah Pak, tetapi yang dekat-dekat dengan keuskupan.” Dan di kamar hotel itu, di ruang ber AC, Pedro merasakan sesuatu yang sebelumnya pernah ia rasakan sampai puluhan tahun, tetapi mengapa sekarang menjadi sesuatu yang asing? Suasananya terang benderang. Bukankah di Larantuka, di Hokeng, di Ledalero, di Jakarta, ia juga selalu tidur di ruang yang terang benderang? Tetapi karena selama sekitar tiga bulan ia tidur di dalam lubang yang sangat gelap, maka suasana seperti ini lalu menjadi asing. Dia juga bisa menonton televisi? Ini juga menjadi pengalaman yang sekarang terasa aneh.

* * *

Dengan naik becak, Pedro mencari-cari kantor Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Untung dia membawa surat pengantar dari Paroki Kalikasa, yang ditandatangani oleh Romo Zebua. Kalau tidak, dia pasti sulit untuk bisa bertemu dengan kepala dinas. Padahal, tanpa bertemu dengan kepala dinas, jangan terlalu berharap aparat pertanian pemerintah kabupaten bersedia melayaninya. Padahal, boss mereka, kepala dinas itu, orangnya ramah dan baik. “Bapak menginap dulu saja di Pasuruan, karena sekarang sudah sangat sore. Besuk, saya sendiri yang akan mengantar Bapak ke lokasi penanaman gandum. Nanti saya akan mengenalkan dengan kepala desa dan para petani. Bapak boleh tinggal di kampung itu sesuai keinginan Bapak.”

Areal penanaman gandum itu, terletak di Desa Tosari dan Wonokitri, di lereng utara serta barat laut pegunungan Tengger yang juga sangat dingin. Kepala Dinas Pertanian itu menawarkan ke Pedro, apakah sekalian mau melihat Gunung Bromo. “Hitung-hitung, saya mewakili Kepala Dinas Pariwisata. Dengan jeep dobel gardan, mereka naik ke Penanjakan. “Dari sinilah sebenarnya pemandangan melihat sunrise paling spektakuler Pak. Bukan hanya sunrise sebenarnya, tetapi juga kaldera Tengger, dengan gunung Batok, Bromo, Ider-ider, dan latar belakang gunung Semeru yang dalam interval sekitar 10 menit selalu menyemburkan asap tebalnya.” Tetapi orang-orang senangnya naik kuda dan mencapai puncak Bromo pada pagi hari.” Dari Penanjakan, jeep itu turun ke lautan pasir, dan kemudian berhenti di depan Pura, lalu kembali lagi ke Wonokitri. “Tidak sekalian ingin naik ke Bromo? Lain kali saja? Baiklah.”

Pedro menginap di rumah kepala desa. Di Wonokitri juga ada LSM yang membantu petani mengembangkan gandum. Zaenal, petugas LSM itu, sangat fasih bicara tentang komoditas ini. “Pak Pedro, jagung dan padi adalah tanaman tropis. Tetapi sekarang ini, jagung juga dibudidayakan di AS, dan Perancis, justru di kawasan sub tropis. Padi juga begitu. Padi jepang yang merupakan varietas sub tropis itu, dulunya juga dikembangkan dari padi liar Oriza sativa, yang sebenarnya tanaman tropis. Jadi gandum pun, bisa tumbuh sangat baik di kawasan tropis, nah ini buktinya Pak Pedro!” Mereka berdua, dengan seorang petani, berjalan di antara hamparan tanaman gandum yang siap untuk dipanen. Sebagian lagi sudah dipanen. Tampaknya, Zaenal benar-benar mengetahui komoditas gandum.

“Di dunia ini, Pak Pedro, total ada 23 spesies gandum. Yang terpenting adalah eikorn alias gandum purba, yang diploid atau berkromosom dua. Inilah gandum yang pertama dibudidayakan manusia. Meskipun disebut gandum purba, sampai sekarang eikorn masih tetap dibudidayakan secara terbatas di India dan Timur Tengah. Lalu ada emmer, durum, dan kamut yang semuanya berkromosom empat atau tetraploid. Emer dan durum adalah keturunan gandum liar Triticum dicoccoides. Gandum liar ini, diduga merupakan hasil persilangan alam antara rumput diploid Triticum urartu, dengan rumput kambing Aegilops searsii atau Aegilops speltoides. Emer dan durum, kemudian juga  disilangkan dengan rumput diploid Aegilops tauschii untuk menciptakan gandum berkromosom enam atau hexaploid.”

“Pak Pedro, gandum hexaploid inilah yang sekarang dikenal sebagai gandum biasa, common wheat atau Triticum aestivum. Gandum modern inilah yang saat ini paling banyak ditanam orang. Selain itu masih ada gandum spelt atau Triticum spelta, yang juga hexaploid. Itu tadi gandum jenis triticum yang disebut wheat. Selain itu masih ada gandum barley atau Hordeum vulgare, oat atau Avena sativa, dan Rye atau Secale cereale. Barley, oat dan rye, meskipun bisa ditepungkan dan dibuat roti, tetapi manfaat yang paling besar justru untuk bir, wisky dan pakan ternak. Pak Pedro, impor gandum Indonesia, tahun ini sudah mencapai lima juta ton, dengan nilai 7,2 trilyun rupiah. Makanya saya senang sekali Pak Pedro ingin mengembangkan gandum di Lembata.”

“Yang kita lihat ini Pak Pedro, adalah gandum tropis dari India Punjab-81,   WL-2265, dan A-75. Kita juga punya gandum tropis  Pakistan, Pavon-76, Soghat-90, Kiran-95, dan WL-711; yang dari RRC,  F-44, Yuan-039, dan Yuan-1045;  lalu yang dari Meksiko, DWR-162, dan DWR-195. Departemen Pertanian, juga sudah punya varietas lokal, yakni Nias, dan Dewata. Lalu Badan Tenaga Nuklir Nasional, ikut pula membantu mengembangkan beberapa varietas gandum tropis, antara lain galur harapan CPN-01, galur harapan CPN-02,  mutan baru CBD-16, 17, 18, 19, 20, 21 dan 23. Selain di Pasuruan ini Pak Pedro, gandum tropis juga sudah dibudidayakan di Cipanas, Kuningan, Kopeng, dan Ruteng, di lokasi yang rata-rata berketinggian 800 m. dpl. Namun sampai sekarang, belum ada upaya yang agak lebih serius, untuk menanamnya secara komersial dan dalam skala lebih besar.”

* * *

Sesuai dengan pesan Romo Zebua, Pedro membeli dua kilo benih gandum. Tetapi dia juga mencatat nama kontak person, alamat, dan nomor telepon para petani itu, hingga apabila diperlukan nanti, bisa dihubungi. Pedro juga melihat tatacara petani Pasuruan menanam gandum. Lahan mereka bertanah vulkanis yang sangat subur, dan sama sekali tidak berbatu-batu seperti lahan yang baru saja ia buka. Tetapi Lembata juga punya kelebihan, karena perbedaan suhu antara siang dan malamnya sangat tinggi, terutama pada bulan Juni sd. Agustus. Lalu kelembapan udara di Lembata juga lebih rendah dibanding Pasuruan. Dan itu semua, kata Zainal, sangat cocok untuk gandum. Oleh masyarakat, hasil panen mereka, mereka jemur, lalu dibawa ke penggilingan gabah dan jagung, untuk dibuang sekamnya, kemudian digiling menjadi tepung.

Pedro menginap di Wonokitri selama dua malam. Pada hari ketiga ia kembali turun ke Pasuruan. Menurut Kepala Dinas Pertanian Pasuruan, di Probolinggo juga ada kebun koleksi anggur milik Departemen Pertanian. “Kalau tidak salah lokasinya di kanan jalan, tidak jauh dari Pasuruan ini. Apa namanya kebun koleksi anggur itu Wan?” Wawan, yang ditanya Kepala Dinas itu kaget lalu mendekat.”Ada apa Pak?” “Ito lo, kebun koleksi anggur yang di kanan jalan itu apa namanya?” “Kebun Banjarsari Pak?” “Nah, iya itu. Banjarsari Pak Pedro. Nantilah biar diantar Wawan ke sana memakai motor. Kalau Pak Pedro nanti mau terus ke Bali, tinggal mencegat bus, di depan kebun itu, banyak sekali kalau sudah sore nanti.”

Hari itu baru pukul 11 siang. Pedro menjadi bingung, karena banyak sekali verietas anggur yang ada di Kebun Banjarsari. Ia disarankan oleh Ibu Lourens, untuk membawa saja semuanya. “Plastik dan tanahnya biar dibongkar dulu Pak, nanti dipacking yang rapi. Tidak apa-apa, satu minggu juga tahan. Setiba di rumah nanti, packing dibuka, dan disemai dulu biar kembali sehat.” Pedro lalu diajak berkeliling kebun yang tak seberapa luas itu, melihat-lihat aneka koleksi tanaman, dan membeli benih. Ternyata, menurut Bu Lourens, kalau mau melihat kebun anggur rakyat di bali, bukan naik bus ke Denpasar, melainkan naik saja bus ke Banyuwangi, turun di Ketapang. Dari sini menyeberang ke Gilimanuk, lalu naik angkot ke arah Singaraja. Bukan ke Denpasar.

“Sepanjang jalan dari Gilimanuk ke Singaraja itu banyak sekali para-para anggur. Tetapi sentranya  ada di Banyupoh, Garokgak, dan Seririt. Kalau tidak salah, di sana juga sudah ada yang membuat wine dari Alphonso Lavalie ini. Tidak tahu hasilnya seperti apa. Kalau Bapak siang ini berangkat dari sini, sore nanti juga sudah sampai. Menginapnya bisa di Singaraja, bisa di Lovina, tetapi sepanjang jalan dari Gilimanuk itu banyak sekali resor dan hotel. Jadi Bapak jangan takut tidak ada penginapan di Bali. Nanti Pak, dari Singaraja Bapak naik ke arah Bedugul, lalu terus ke Denpasar. Di Sentra anggur ini, Bapak juga bisa membeli benih. Anggur itu bandel pak, Bapak membawa potongan rantingnya pun, sesampai di rumah disemai juga akan tumbuh. Di Bali kalau tidak salah juga sudah dikembangkan verietas belgia yang buahnya hijau kekuningan. Orang-orang bilangnya anggur kuning kediri.”

Hari itu Pedro merasa seperti manusia yang terlahir kembali. Dia berdiri di anjungan fery Ketapang Gilimanuk. Jarak yang sangat pendek, dibanding dengan Lewoleba Larantuka. Pedro melihat gunung di pantai Jawa itu  tampak sangat besar dan tinggi sekali. Barangkali karena dekat. Ile Boleng di Adonara sana, tampak tidak terlalu besar, karena jarak antara kapal Lewoleba Larantuka, dengan daratan Adonara sudah agak jauh. Pedro melihat air selat Bali itu sangat biru dan gelap. Cuaca cerah, karena hujan belum juga datang. Panasnya bukan main. Tetapi bagi Pedro, panas ini tidak ada apa-apanya dibanding panasnya Via Dolorosa yang selama sekitar tiga bulan  dijalaninya. Apalagi, di selat bali ini angin bertiup sangat kencang, hingga panas menjadi tidak terlalu terasa. * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: