Anggur

23/10/2014 at 12:06 (novel)

Sepanjang jalan antara Gilimanuk Singaraja, Pedro melihat banyak sekali para-para tanaman anggur. Tiang para-para itu semua dari kayu Reo. Ia tidak tahu di Bali disebut apa, ternyata orang-orang menamakannya kayu jaran, atau jaranan. Tanaman anggur di para-para itu macam-macam fasenya. Ada yang baru saja dipangkas, hingga yang tampak hanya sulur-sulur batangnya yang cokelat. Ada yang berbuah lebat tetapi masih hijau. Ada yang sudah siap panen. Pedro hanya mengamatinya saja dari jendela angkutan umum. Di Lovina Pedro berhenti, karena tempat itu sangat ramai. Dia seperti pernah membaca buku, entah novel entah apa yang lokasinya di pantai Lovina, tetapi itu sudah lama sekali. Pedro memutuskan untuk menginap saja di Lovina.

Malam itu Pedro berjalan-jalan di pasir pantai. Memang tidak ada bulan, tetapi cuaca cerah. Banyak wisatawan, dan terutama anak-anak muda, yang berpasangan dan juga berjalan-jalan di pantai. Banyak diantaranya yang duduk-duduk di bangku, di bawah kerimbunan tajuk waru laut. Pedro juga ikut duduk di salah satu bangku. Dia memesan kopi. Apa pun rasa kopi itu, tidak menjadi masalah. Sebab suasana ini sudah cukup membuat apa pun yang diminum, terasa enak. Ketika makan-makan di rumahnya setelah ia memutuskan mundur dari imam, kopinya sangat enak, makanannya juga lezat-lezat. Tetapi Pedro tidak bisa menikmatinya. Sebab ketika itu pikirannya sedang galau. Mengapa kali ini perasaannya nyaman?

Sedang apakah kiranya Ola sekarang? Dan dimanakah dia? “Mungkin, sebenarnya aku telah jatuh cinta pada Ola, tetapi tidak mau jujur mengakuinya. Tetapi bisa pula tidak. Kedekatan seorang laki-laki dengan seorang perempuan, memang tidak harus selalu diartikan sebagai cinta asmara. Pedro pernah membaca sebuah tulisan, entah kapan dan dimana, yang mengatakan bahwa cinta sebenarnya hanyalah sebuah proses kimia di otak manusia, yang paling lama hanya akan bisa bertahan selama empat tahun. Bisa pula hanya setahun, sebulan, seminggu, atau sehari. Selama proses itu, denyut jantung lebih cepat, gelisah, nafsu makan hilang, emosional, dan susah tidur. Setelah  proses itu selesai semua menjadi normal lagi. Hingga sebenarnya cinta antar suami isteri yang telah menikah puluhan tahun, bukan lagi cinta asmara, tetapi sudah menjadi cinta antara suami isteri.

Malam itu Pedro tidur nyenyak, meskipun udara panas, sebab ia menginap di hotel tanpa AC. Paginya ia bangun kesiangan. Tetapi untuk apa memang bangun pagi-pagi. Capek karena perjalanan panjang, memang beda dengan capek karena bekerja keras dengan keringat bercucuran, tetapi hanya berdiam di satu tempat. Pedro mandi, sarapan, dan kemudian memesan sepeda motor sewa. “Di sini banyak sekali sepeda motor sewaan. Mobil juga ada. Mau dipakai sendiri boleh, dengan yang nyopir juga bisa. Jadi Bapak ini mau pesan mobil atau motor?” Motor saja? Mau dibawa sendiri atau mau dibonceng? Dibonceng? Boleh. Ya, sebentar lagi saya minta dia datang. O, sekalian menunjukkan jalan dan menjadi penerjemah. Ya bagus. Sebab banyak juga orang Bali yang tidak bisa bahasa Indonesia. Bapaknya ini darimana? Dari Flores? Oh, ya, tadi saya mengiranya dari Ambon.”

Pemilik sepeda motor itu masih sangat muda, namanya Nyoman. Yah, nama Bali memang juga hanya itu-itu juga Made, Wayan, Nyoman, Putu; samalah dengan nama Flores yang umumnya ya hanya singkatan dari nama baptis. “Kamu usia berapa Nyoman?” “Saya Pak, usia baru delapan belas.” “Apa kamu tidak sekolah atau kuliah?” “Ini libur Pak, jadi bisa mencari uang.” “Rumah kamu dimana?” “Di sini Pak, di Lovina, tetapi saya kuliah di Denpasar.”
“Begini Nyoman, aku minta tolong, untuk diantar ke petani anggur, siapa saja, tetapi petani yang baik, yang kebun anggurnya luas. Katanya juga sudah ada yang membuat wine ya? O, memang ada ya. Ya nanti kita juga ke sana. Aku akan sewa motor ini, dengan kamu yang mengantar, sampai sore, kalau perlu sampai malam.”

* * *

Pedro diantar Nyoman berpindah-pindah dari satu pemilik kebun ke pemilik lainnya. Bahkan ada juga yang hanya punya satu para-para di halaman samping rumahnya, tetapi tetap dirawat dengan cukup baik. “Kami harus selalu pangkas daun, dan ranting-ranting, supaya anggur mau keluar buah. Jadi paling lambat 20 hari setelah panen, kami harus pangkas. Ya, dengan gunting paling mudah. Begitu dipangkas, tanaman akan langsung bertunas. Dan tunas yang keluar pertama, justru akan menjadi bunga. Baru kemudian keluar daun dan pucuk ranting. Sekitar 90 hari sejak pangkas, anggur sudah bisa dipanen. Tetapi Pak, sebenarnya anggur itu masih asam kalau baru umur 90 hari. Kalau mau benar-benar manis harus 105 hari. Tetapi pedagang tidak mau anggur 105 hari, karena meskipun manis, akan mudah bonyok.”

“Jadi dalam setahun, kami bisa panen tiga kali. Tetapi kalau mau benar-benar manis, setahun tambah 10 hari, panen sebanyak tiga kali. Kata turis-turis itu, kalau di Australia sana, satu tahun ya hanya bisa panen satu kali. Tetapi di sana tanaman tidak perlu dipangkas. Hasilnya berapa kilo kami tidak pernah tahu Pak, sebab langsung dijual ke tengkulak ketika masih di pohon. Ini, satu para-para ini, bisa menghasilkan Rp 150.000,- Katanya, kalau di Jakarta dijual satu kilo Rp 6.000,- saya tidak tahu persis. Pupuknya, ya, kami tidak pernah memupuknya. Dulu pernah diberi pupuk oleh Pak Penyuluh, disuruh beli, dan panennya memang lebih banyak. Bapak nanti bisa mencicipi itu, buah yang saya sisakan di sana itu umurnya sudah 108 hari. Pasti sangat manis. Coba saya ambilkan ya.”

Dan memang benar manis sekali. Dulu, di pasar Larantuka, juga ada anggur seperti ini, tetapi asam sekali. “Itulah Pak, itu anggur umur 90 hari. Sebenarnya umur 80 hari juga sudah hitam. Namanya juga anggur hitam. Ya, yang bikin minuman juga ada. Itu di belakang sana saya juga mencoba satu ember, dan mungkin juga sudah jadi. Yang saya buat sebulan lalu sudah saya botolkan, dan mungkin juga masih ada sisa sedikit. Membuat minuman anggur, apa namanya? Wain? Ya, mudah saja. Tetapi harus buah yang umur 105 hari dan manis, tinggal dicuci, diremas-remas pakai tangan sampai hancur, ditaruh di ember plastik, lalu ditaburi ragi roti. Ya, itu yang dijual di pasar-pasar itu. Didiamkan 10 hari juga sudah jadi. Kalau mau bagus satu bulan. Setelah itu disaring dan diendapkan. Coba dicicipi ya?”

Pedro mencicipi red wine kampung Garokgak itu, dan rasanya memang benar-benar wine asli. “Ya pasti asli Pak, ini bahannya kan hanya buah anggur dan ragi. Tidak dicampur apa-apa. Tetapi kalau Hatten katanya dicampuri gula pasir. Sebab dia beli dari tengkulak, anggur 90 hari yang masih asam. Hatten itu wain bali asli. Anggurnya dari sini. Ya di sini ini kan banyak sekali anggur, katanya ada 700 hektar tetapi bukan kebun, ya hanya seperti ini. Pabriknya Hatten di sana Denpasar atau ….” “Di Sanur Pak!” Kata Nyoman menimpali. “Besuk Bapak kalau pulang kan dari Ngurah Rai kan, di sana juga dijual Hatten Wine. Tidak tahu pak harganya, tetapi pasti lebih murah dari yang impor.”
Pedro lalu berpindah lagi ke petani lain, tetapi cara mereka menanam, semua sama. Jenis anggurnya juga sama, yakni anggur hitam.

“Anggur hijau, yang orang-orang bilangnya anggur kuning atau anggur belgi, juga ada, tetapi tidak banyak. Nanti diantar saja ke Pak Pendit itu yang di ujung sana itu, dia punya banyak anggur hijau. Memang kalau anggur hijau rasanya lebih manis, juga kulitnya lebih renyah. Kalau anggur hitam ini kan kulitnya alot. Harga anggur hijau juga lebih mahal karena yang tanam sedikit. Kata orang hasilnya juga sedikit, tidak seperti anggur hitam ini. Namanya anggur hitam ini ya anggur bali begitu. Kalau orang-orang itu bilangnya Alfonso, atau apa begitu pak. Kalau Bapak mau beli bibitnya juga bisa. Kalau potongan ranting tidak usah beli, ambil saja sekuatnya. Yang harus beli itu kalau bibit sudah ada di polibag. Kalau mau pesan juga bisa. Tetapi kalau tidak banyak, beli saja sekarang, sebab membawanya juga tidak berat.”

* * *

Pedro bermalam di Kuta. Di sini ternyata juga ada counter Hatten Wine. Harga Table Winenya, yakti Haga Red yang biasa diminum sehabis makan, hanya Rp 55.000,- per botol. Sementara di hotel, sudah Rp 110.000,- di Ngurah Rai katanya lebih mahal lagi. Pedro membeli dua botol. Dia juga sempat diminta mencicipi oleh petugas counter. Setelah dari counter Hatten, Pedro pulang ke hotel. Karena merasa tidak ada yang dikerjakan, ia ke warnet untuk membuka internet. Dia masih sangat berharap ada kabar dari Ola. Ternyata kosong. Dia kemudian mencari-cari informasi tentang grape, dan wine. Awalnya dia menulis grape fruit, ternyata yang keluar jeruk. Bukan buah anggur. Grape fruit ternyata nama jeruk yang khusus dibuat jus untuk diminum sebelum sarapan. Kalau anggur cukup grapes.

Akhirnya dia dapat cukup banyak informasi, dan minta untuk diprint. Sebab ia sudah tidak punya komputer. Jangankan komputer, flasdish atau disket pun, sekarang ia sudah tidak punya. Ada sekitar 70 sampai 80 lembar yang harus dia print di warnet itu. Pedro lalu pulang dengan agak lesu. “Mengapa setelah membuka e-mail dan tak ada kabar dari Ola, aku kecewa? Bagaimana pun, selama empat tahun di Atma Jaya, aku hampir selalu berdua dengannya. Orang-orang memang mengatakan aku dan dia pacaran. Bahkan banyak yang meramalkan, bahwa hanya tinggal tunggu waktu, aku akan lepas jubah. Tetapi aku tetap bertahan. Kalau toh kemudian aku benar lepas jubah, bukan karena Ola, tetapi menyangkut hal yang lebih prinsipil.”

“Benarkah Pedro?” Kata suara dalam dirinya. “Kamu ingat kata Romo Zebua bukan? Kalau ada laki dan perempuan berdekatan, akhirnya ya asmara atau seks. Sekarang kamu kecewa kan Pedro? Ola sudah tidak mau lagi kirim kabar padamu. Ola sangat kaya Pedro. Dia bisa mencari laki-laki yang lebih gagah, lebih tampan, lebih hebat, dan lebih segala-galanya dari kamu. Kamu sendiri, bisakah mencari perempuan yang lebih hebat dari dia? Pedro, kamu menyesal bukan?” Pedro berjalan dengan lebih bergegas. Sebenarnya ia ingin sekali membentak keras-keras: “Tidak!” tetapi kalau itu dilakukannya, maka orang-orang disekelilingnya akan kaget. Dia lalu akan dianggap sebagai orang yang tidak waras. Maka ia pun buru-buru kembali ke hotel dan masuk kamar.

Malam itu Pedro membaca-baca hasil pencariannya di internet. Dia agak kaget, ternyata di Mesopotamia, red wine sudah dikeramatkan sejak jaman neolitikum atau sekitar 8500-4000 tahun SM. Ketika itu anggur sudah dianggap sebagai “darah tuhan”. Tetapi selanjutnya, anggur lalu menjadi minuman yang digunakan untuk mabuk-mabukan. Di kitab Perjanjian Lama, Pedro jelas tahu, bahwa Nabi Nuh pernah mabuk. Bahkan rekan-rekan frater di Ledalero sering bercanda demikian. Di Injil disebutkan bahwa mukjizat pertama Yesus yang dilakukan dalam sebuah pesta kawin di Kanna, juga menyangkut anggur. Karena tuan rumah kehabisan anggur, maka Yesus minta pelayan untuk mengisi seluruh tempayan tempat cuci kaki dengan air.

Ketika air itu dicicipi oleh pemimpin pesta, maka ia berkomentar. “Biasanya orang-orang mengeluarkan anggur paling enak pada awal pesta, baru kemudian anggur yang kurang enak. Kamu justru menyimpan anggur paling enak ini, sampai sekarang.” Para frater yang agak bandel, itu lalu berkomentar. “Jelas saja mereka menganggap air putih sebagai anggur terenak, karena semuanya sudah mabuk berat. Yang mereka minum itu, sebenarnya ya tetap saja air.” Tetapi menurut Pedro, yang dilakukan Yesus, sebenarnya hal yang luar biasa. Ia menganggap Yesus telah merevitalisasi makna “darah tuhan”, yang sudah ada sejak jaman neolitikum, agar masyarakat tidak memanfaatkan wine untuk mabuk-mabukan. * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: