Diserbu Massa

27/10/2014 at 15:14 (novel)

Meski peristiwa ekaristi moke dan jagung titi sudah berlangsung sekitar tiga bulan silam, tetap saja masih banyak orang yang ingin agar Pedro diberi pelajaran. Bahkan beberapa orang menginginkan Pedro dibunuh. “Dia telah menodai peristiwa paling suci dalam sebuah misa. Berarti mereka telah menghina gereja, sekaligus juga menghina kita semua. Benar saudara-saudara?” “Benaaarrr…..!” Rapat-rapat penggalangan kekuatan dilakukan. Dari Paroki Aliuroba sendiri, sebenarnya sudah tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Tetapi tidak dengan paroki-paroki lain di Lembata. Yang paling keras adalah beberapa umat dari Paroki Santo Petrus dan Paulus, Lamalera. Orang-orang Lembata yang di Jakarta juga ikut mensponsori gerakan penyucian kembali Ekaristi.

Awalnya, gerakan ini hanya terdiri dari satu dua orang di masing-masing paroki. Lama kelamaan berkembang menjadi ratusan orang. Terakhir sudah mencapai hampir seribu. Komunikasi mereka lakukan melalui SMS. Umat paroki Kalikasa pun ada yang ikut terprovokasi. Tetapi tidak sampai ke stasi Lewuka, terlebih umat di kampung Udak. Mereka, sekitar 200 orang, lalu berniat untuk menyerbu pondok tempat tinggal Pedro. Mereka membawa senter, parang, pentungan, bensin, dan obor. “Setan Pedro itu harus dieksekusi mati. Mereka menyewa empat buah truk, dan masih ada puluhan sepeda motor. Mereka berkumpul di Lewoleba, lalu pukul sembilan malam mulai bergerak ke arah Kerbau Kenoki, ke arah ladang Pedro.

Ada tiga umat dari paroki Kalikasa yang menjadi penunjuk jalan. Menjelang Kerbau Kenoki, rombongan truk dan sepeda motor itu berhenti. Mereka menuruni jalan setapak, di antara rimbunnya tajuk kaliandra dan pohon-pohon kemiri. Mereka memutar ke arah atas, menyeberangi parit kecil, kemudian melingkari punggung bukit, lalu sampailah di ladang garapan Pedro, yang sudah rapi. Disalah satu petakan itu, tampak sebuah pondok, dengan lampu kapal yang menerangi bagian depan. Di dalam ada api yang masih menyala, karena ada asap keluar dari pondok itu. Aroma kayu yang terbakar juga tercium dari jarak cukup jauh. Suara radio meskipun kresek-kresek juga terdengar cukup jelas dari dalam pondok. Rombongan itu lalu mengepung pondok Pedro.

Pimpinan rombongan, yang berdiri di depan pondok, berteriak lantang. “Setan Pedro, kamu keluar sekarang. Pondokmu sudah dikepung.” Tidak ada jawaban dari dalam. Tetapi kepulan asap masih ada, dan radio juga tidak dimatikan. Teriakan kedua, ketiga, ternyata juga tidak dijawab. Orang-orang itu kalap. “Bakar saja hidup-hidup berikut pondoknya. Salah satu lalu mengitari pondok itu, sambil menyiramkan bensin dari jerigen. Mereka lalu menyulutnya beramai-ramai sambil berteriak-teriak histeris. Dalam waktu tidak terlalu lama, pondok itu menjadi puing abu dan arang. Gundukan yang mengepulkan asap masih tampak di sana-sini. “Sekarang mari kita berdoa, agar arwah setan Pedro itu tidak mengganggu kita. Mereka pun lalu berdoa bersama, kemudian pulang.

Pagi-pagi sekali Pedro kaget. Dia masih tidur sangat nyenyak ketika di depan lubang tidurnya sudah banyak orang. Ia dibangunkan oleh Ansel. “Ada apa?” Bertha, istri Ansel, tampak menangis histeris. “Bapak Pedro, ternyata Bapak selamat. Tadi malam pondok Bapak dibakar orang.” Pedro, yang tidur di dalam lubang itu, memang sama sekali tidak mendengar apapun. Sebab pintu masuk ke lubang itu, menghadap ke arah berlawanan dengan pondok. Dia lalu bangun, keluar, dan melihat pondok itu sudah tinggal puing abu dan arang. “Kebakaran atau dibakar? Sebab aku memang selalu menyalakan api terus-menerus. “Dibakar Pak Pedro, orang-orang itu katanya datang dari  Lewoleba. Malam-malam kami dihubungi Romo Zebua, kami lalu mengumpulkan orang dan kemari, tetapi mereka sudah pergi.

* * *

Romo Zebua dengan tegas melarang Pedro tidur di ladang. “Dulu aku kan sudah melarang kau tidur di ladang, kau ngotot . Sekarang aku kasih instruksi. Mulai hari ini kau tidur di Udak. Allah telah melindungi kau. Tetapi sekarang mereka tahu kau selamat karena tidur di lubang. Mereka akan datang lagi sampai kau mati. Kalau di kampung, mereka tidak akan berani. Jadi Ansel, kau harus jaga Bapak Pedro, agar tidak tidur di ladang lagi. Pedro, anggap saja, dulu itu kau bertapa, dan tapamu sudah selesai. Kau akan jadi orang Udak sekarang.” Sejak itulah Pedro lalu pulang pergi ke ladang tiap hari, dengan orang-orang kampung. Malam ia juga tidak sendirian, karena selalu kumpul ngobrol dengan orang-orang kampung.

Musim hujan datang. Tapi hujan juga mengembalikan ingatan Pedro pada Ola. Ketika hujan itu datang pertama kali malam-malam, ia sedang membuka e-mail dari Ola. Ia lupa ketika itu Ola ada dimana dan bilang apa padanya. Tetapi ketika itu hatinya memang sedang berbunga-bunga. Ia sedang sangat bersemangat menjadi pastor pembantu di Aliuroba. Sekarang hujan itu datang  dan juga harus disambut dengan sukacita. Orang-orang akan menugal dan menebar jagung, padi ladang, tomat, tembakau, kacang tanah, dan lain-lain. Pagi-pagi benar, Pedro dan orang-orang Udak naik ke Kerbau Kenoki, dan kemudian berpencar ke ladang masing-masing. Pedro menugal dan menebar biji gandum. Dia membayangkan, nantinya gandum itu akan tumbuh subur dengan bulir-bulirnya yang bernas, seperti halnya gandum di Pasuruan itu.

Bibit anggur yang dibawanya, disemai terlebih dahulu di ladang di dekat mata air. Tetapi ada dua pohon ditanamnya di Kalikasa, dan dua pohon lagi dia coba di halaman rumah Kakek Tarsi. “Aku akan rawat itu anggur, agar cucu-cucuku kalau datang bisa memetik buah anggur dari halaman rumah kakeknya.” Dan ternyata, dua tanaman anggur di halaman rumah Kakek Tarsi, tumbuh paling subur dan paling pesat dibanding dengan yang di Kalikasa, maupun yang disemai Pedro di ladang. “Kalau begitu aku akan ambil benih yang di ladang itu, dan akan aku berikan ke orang-orang Udak sini, biar ditanam di halaman rumah masing-masing. Sekarang, semua halaman rumah di Udak, selalu ada tanaman anggurnya.

“Di Seririt sana, anggur diberi para-para. Tetapi kata Bu Lourens, bisa pula hanya dirambatkan di pagar, atau diberi tiang panjatan seperti halnya lada.” Tetapi orang-orang Udak, semuanya lalu membuatkan para-para bagi tanaman anggur mereka di halaman rumah masing-masing. Karena tanaman di halaman rumah Kakek Tarsi paling cepat pertumbuhannya, maka ialah yang pertama-tama harus membuat para-para. Tiangnya tidak dari kayu Reo seperti di Bali sana, tetapi dari bambu. Di Udak ini banyak sekali bambu. Tinggal mengambil dan menggotong pulang. Demikian pula dengan palang-palang di atas, juga terbuat dari bambu. “Kakek, kita harus mengarahkan sulur anggur ini, agar tidak liar ke mana-mana. Sulur itu harus diarahkan agar tumbuh mengitari para-para.

“Kapan akan berbuah Kakek?” tanya Anas kepada kakeknya. “Ya masih lama sekali, nanti kalau kamu sudah tinggi sekolahnya, anggur ini akan berbuah. Benar kan Oom Pedro?” “Benar, Anas, kalau kamu nanti sudah sekolah, anggur ini akan berbuah. Dalam waktu sekitar empat bulan, para-para anggur itu sudah penuh. Tetapi yang paling menggembirakan Pedro adalah, gandumnya tumbuh sangat baik, dan sebentar lagi akan panen. Hasil panen itu, pertama-tama akan dia bagi-bagikan ke orang Udak, yang mau ikut menanamnya. Kalau tersisa, baru akan ditepungkan. Seperti kata Zaenal, aktivis LSM di Pasuruan, di Lembata ini, gandum tumbuh dengan lebih baik dibanding dengan di Pasuruan. Sebab perbedaan kelembapan udara rendah, dan perbedaan suhu siang malam sangat tinggi.

* * *

Normalnya, anggur baru mulai berbuah pada umur dua setengah tahun setelah tanam. Tetapi anggur di halaman rumah Kakek Tarsi, sudah mau berbuah pada umur dua tahun. “Barangkali benih yang saya bawa ini, di Seririt sana sudah dipelihara selama lebih dari setengah tahun. Hingga dua tahun setelah ditanam Kakek Tarsi di Udak ini, tanaman langsung berbuah. Terlebih lagi, keadaan tanah, dan terutama suhu serta kelembapan udara di Udak ini sangat mendukung. Hampir tiap hari selalu saja ada orang yang menonton buah angggur di halaman rumah Kakek Tarsi itu. Orang-orang yang lewat juga selalu berhenti sejenak, melihat, dan memperbincangkannya. Selang beberapa bulan setelah tanaman Kakek Tarsi berbuah, anggur di halaman rumah lain di kampung Udak juga ikut berbuah pula.

“Nanti setelah buah berwarna hitam dan dipetik, harus mulai dihitung sampai 20 hari, dan tanaman segera dipangkas habis. Pedro mengawasi orang-orang itu memangkas. Ada beberapa orang yang membantah, mengapa tanaman bagus-bagus seperti ini harus diberondoli seluruh daunnya? Pedro menggunakan cara Romo Zebua. “Ini perintah, jangan dibantah.” Maka setelah buah dipetik, meski hanya satu dua dompolan, segera dipangkas habis. Ranting-ranting bekas pangkasan, dicoba disemai di tempat yang agak lembap, dan beberapa ada yang mau tumbuh. Tidak sampai sebulan setelah dipangkas, tanaman sudah bertunas, dan tunas itu kemudian menjadi bakal bunga, disusul munculnya tunas bakal daun.

Orang-orang Udak pun menjadi bergairah menanam gandum dan anggur.
Mereka berkeyakinan, bahwa harga anggur pasti lebih baik dari harga tomat. Selama ini mereka memang sudah terbiasa membudidayakan tomat chery yang buahnya kecil-kecil. Tetapi ketika semua orang sudah menanam, dan panen cukup banyak, mereka bingung untuk apa? Satu dua orang mencoba membawa anggur itu ke pasar Lewoleba, dan tidak ada yang mau membelinya. Mereka menganggapnya sebagai buah yang aneh. Terlebih kalau harganya antara Rp 3.000,- sampai Rp 4.000,- per kg, maka orang-orang menganggapnya terlalu mahal. Demikian pula dengan gandumnya. Romo Zebua terpaksa membeli gandum orang-orang itu, dan menitipkannya di lumbung Kakek Tarsi.

Romo Zebua juga pesan kepada Pedro: “Pokoknya, kalau ada petani memetik anggur, kau musti beli. Bisa dikirim ke dekenat dan Paroki Lewoleba sana untuk dimakan ramai-ramai. Jangan sampai anggur itu tidak terjual oleh petani. Ternyata diperlukan pekerjaan-pekerjaan teknis seperti membuat kotak dari kayu, untuk packing buah anggur itu. Juga diperlukan penggilingan gandum, agar bulir yang dipanen bisa menjadi tepung. Perlu menghubungi tukang roti di Lewoleba, agar mau membeli tepung gandum mereka. Dan banyak hal-hal teknis lainnya yang semuanya harus dikerjakan, tetapi oleh siapa? Makin lama, populasi tanaman anggur juga makin banyak. Demikian pula areal  tanaman gandum.

Selama ini, para petani itu masih bisa menjual biji gandum mereka, ke petani lain sebagai benih. Hingga tidak ada yang tidak terpasarkan. Tetapi suatu ketika, pasti datang saatnya, semua ingin menjual biji gandum. Pedro lalu menghadap Romo Zebua. “Itu memang permasalahan tersendiri Pedro. Kalau tidak ada yang tertarik ikut menanam, juga repot. Tetapi sekarang ini, ketika semua orang mau ikut menanam, juga bermasalah aspek pemasarannya. Dana talangan untuk membeli hasil petani memang ada. Tetapi yang menjadi masalah, lalu mau kita buang ke mana anggur dan gandum itu. Kalau hanya untuk anggur misa dan hosti, berapakah kebutuhannya? “Kau harus hati-hati Pedro, kalau tidak kau akan dibunuh oleh Orang Udak sendiri, karena dianggap telah menipu mereka. * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: