Ola datang

03/11/2014 at 14:14 (novel)

“Bapak Pedro, Ibu Ola akan datang kemari. Tadi Ansel sudah terima SMS dari Romo Deken.” Teriak Bertha dari tempat yang masih sangat jauh. Hari itu sekitar pukul sembilan pagi. Seperti biasa, Pedro ke ladang. Ini sudah bulan Juli lagi. Orang-orang juga sudah mulai menebas. “Kamu bilang apa Bertha?” Tanya Pedro setelah ia agak dekat. “Bapak, tadi Ansel terima SMS dari Romo Deken. Katanya ada Ibu Ola mau datang kemari.” Pedro tentu saja kaget. “Ola siapa, Romo Deken tidak bilang? Lalu kapan mau datangnya?” Bertha sekarang yang bingung. “Ola, katanya pacarnya Bapak Pedro, dia akan datang ke Udak ya pagi ini, karena tadi malam sudah menginap di Lewoleba.”

Ola? Mau datang kemari? Ada perasaan ganjil pada dirinya sekarang. Dulu, Ola adalah teman kuliah di Ekonomi Atma Jaya, Jakarta. Sekarang? Ia hanya seorang petani yang menanam jagung, menanam padi ladang, ubi kayu, dan sedang mencoba gandum serta anggur. Dan Ola itu siapa? Untuk apa dia datang? Tetapi sekarang ini, ia tidak dapat bertanya-tanya kepada Bertha. “Suami kamu ada dimana sekarang Bertha?” “Ansel dari tadi ada di rumah. Dia sedang membetul-betulkan pintu kamar mandi yang mulai keropos.” “Lalu kamu datang kemari hanya untuk memberi tahu bahwa Ibu Ola akan datang?” “Benar Bapak Pedro, hanya itu. Lalu sekarang aku juga harus pulang untuk memasak.” “Tunggulah sebentar Bertha, dan bantulah aku mengemasi barang-barang. Sebab aku juga harus pulang.”

Belum sempat Pedro berkemas, nun jauh di jalan sana, terdengar suara mobil. Lalu Ola benar datang, diantar Albert sopirnya Romo Deken. Tertatih-tatih dia menuruni jalan setapak, dipandu oleh beberapa orang Udak. Pedro, dan Bertha lalu datang menyongsong. Di tengah jalan setapak, di dekat mata air itu, Pedro dan Ola bertemu. Sebentar mereka saling berpandangan. Ola lalu lari dan menubruk Pedro, memeluknya sangat erat, lalu menangis keras sekali. Orang-orang yang hadir hanya terdiam. Setelah lama Ola menangis, Pedro menuntun Ola, untuk duduk disalah satu batu yang cukup bersih dan datar. “Mengapa kamu jadi seperti ini, Pedro?” Tanya Ola masih dengan terisak, dan air matanya juga masih menetes.

“Duduklah dulu di sini. Apa ada yang punya minum?” Bertha lalu menuang air dari cerek ke dalam cangkir, dan memberikannya ke Pedro. Pedro ganti menyodorkannya ke Ola.  “Minumlah dulu ini.” Ola menerima cangkir itu, dan meminum isinya. Airmata dan isaknya agak mereda. “Kamu tinggal dimana Pedro? Benar kamu tinggal di hutan?” Pedro lalu mengajak Ola berdiri, dan yang lain-lain juga ikut berdiri. “Ayolah, jalan, aku tinggal di kampung, tidak jauh dari sini.” Rombongan itu lalu berjalan, melalui jalan setapak, yang dari arah ladang sangat menanjak. Berkali-kali Ola terpeleset daun-daun kemiri kering, di tanah yang berdebu itu. Mereka semua berjalan sangat pelan, karena mengikuti langkah Ola yang memang tidak bisa cepat.

Sesampai di jeep Romo Deken, Ola naik, Pedro dan Bertha juga ikut. Sebelum naik jeep, Pedro memperkenalkan Bertha kepada Ola. “Ini Bertha, istri Ansel, keponakan Kakek Tarsi yang rumahnya aku tumpangi.” Ayo kita naik. Orang-orang mengerumuni jeep itu, sampai berjalan dan hilang di tikungan. Dari ladang itu, Udak bisa ditempuh dalam waktu hanya beberapa menit dengan jeep. Sebab orang-orang yang jalan kaki mendaki dari Udak pun, hanya perlu waktu kurang dari satu jam. Mobil tentu lebih cepat, apalagi sekarang jalannya menurun. Di rumah Kakek Tarsi ternyata sudah banyak sekali orang. Mereka tentu ingin melihat, wajah Ibu Ola, yang tadi dibicarakan oleh Ansel dan Bertha.

* * *

Begitu turun dari mobil, semua yang hadir menyalami Ola dan juga Pedro. “Mengapa sekarang aku disalami, dan tadi tidak?” tanya Pedro menggoda orang-orang itu, yang kemudian tersipu-sipu. “Okey, ini yang namanya Ibu Ola, ayo silakan masuk. Nah, ini Kakek Tarsi, ini Nenek Tarsi, ini Ansel, suaminya Bertha tadi. Ayolah duduk. Ya di rumah Kakek Tarsi inilah aku tinggal. Dulu aku memang pernah tinggal di ladang, ketika menebas belukar pertamakali. Tentu kamu sudah banyak mendengar cerita tentang aku, dari Romo Deken. Tetapi aku belum tahu tentang kamu. Mengapa tiba-tiba kamu ingat Lembata. Padahal aku membayangkan, kamu telah menikah, kemudian punya anak, dan …..” Pedro tidak melanjutkan, karena tampak Ola akan kembali menangis.

“Pedro, aku juga membayangkan kamu menjadi imam yang hebat, diangkat menjadi Romo Dekenat, atau malahan sudah menjadi Bapak Uskup, atau paling tidak dikirim ke luar negeri untuk ngambil S2 dan S3. Tetapi mengapa sekarang jadi seperti ini?” Kembali Ola menangis. Pedro menenangkan. Aku tidak apa-apa. Aku sedang menanam gandum dan anggur. Kamu lihat itu di halaman itu, bagus kan anggurnya?” Ole menengok ke luar, dan memang tampak dompolan buah anggur bergelayutan di para-para. “Kamu masih terobsesi misa dengan anggur dan gandum yang ditanam di sini?” Pedro mengangguk. “Ya, aku harus lawan itu dominasi Amerika. Tetapi pelan-pelan. Aku tidak bisa terburu-buru seperti dulu lagi.”

Malam itu Ola menginap di rumah keluarga Ibu Bertus, yang tinggal hanya berdua dengan Nina, salah satu cucu perempuannya. Letak rumah Ibu Bertus, tidak terlalu jauh dari rumah Kakek Tarsi. Udara bulan Juli sangat dingin. Sebenarnya Ola ingin bicara berdua dengan Pedro, tetapi Pedro menolak. “Tidak baiklah kita bicara di sini. Nanti kita cari waktu dan tempat yang lebih tepat.” Malam itu, orang-orang masih berkumpul di rumah Kakek Tarsi. Mereka membicarakan rencana membuat minuman dari buah anggur. “Kata Bapak Pedro, di Bali orang-orang sudah biasa membuat minuman dari buah anggur seperti ini. Katanya seperti membuat tuak, malahan lebih mudah, karena tidak perlu memanjat pohon enau atau lontar.”

“Memang membuatnya sangat mudah. Yang aku takut, kalau sudah banyak yang membuat, lalu untuk apa? Di Bali, tidak ada masalah, karena wisatawan masuk sampai ke kampung-kampung. Di Lembata ini? Tetapi kalau kita mau mencoba sedikit-sedikit, tidak apa-apa.” Mereka juga mengatakan, bahwa sekarang orang-orang Lewoleba sudah mulai mau membeli anggur mereka. Sebab sebenarnya selama ini anggur bali juga sudah masuk sedikit-sedikit, tetapi menjualnya tidak di pasar. Pedagang anggur itu menjualnya di pelabuhan. Dan ketika ada orang Udak yang mencoba menjual anggur mereka di pelabuhan, langsung habis. Sebab harganya lebih murah dari anggur Bali, tetapi rasanya lebih manis.

Di Rumah Ibu Bertus, Ola kedinginan. Padahal rumah ibu Bertus juga berdinding tembok. Malam-malam Ola membangunkan  Nina, lalu mereka berdua duduk di dapur di depan tungku. Mereka ngobrol sampai entah pukul berapa. Lama-lama Ola mengantuk, Nina juga mengantuk lalu mereka masing-masing kembali tidur. Ada hasrat Ola, untuk pura-pura mengajak Nina tidur di kamarnya, dengan alasan agar tidak kedinginan. Tetapi hasrat itu dibuangnya jauh-jauh. “Nina itu masih anak-anak, dan dia baik. Biarlah, ngobrol berdua dengannya di depan tungku yang apinya membara pun, sudah sangat menyenangkan. “Nina sebenarnya ingin masuk aspiran PRR. Ibunya menentang keras. Maka ia pun kabur ke tempat neneknya.”

* * *

Pagi itu, Pedro bangun agak kesiangan. Ia heran, karena Ola tidak kelihatan di rumah Ibu Bertus. “Kemana pagi-pagi begini? Sebab Albert dan mobil Romo Deken masih ada disitu.” Nina yang mendengar pertanyaan Pedro, segera keluar. “Ibu Ola tadi tampak dengan orang-orang ke bawah sana. Entah untuk keperluan apa.” Kampung itu sangat kecil, dan hanya terdiri dari sekitar 40 KK. Di bawah, di rumah Lukas, ketua Kelompok Tani Udak, Ola tampak sedang terlibat pembicaraan serius dengan beberapa orang anggota kelompok tani tersebut. “Aku tidak pernah mau kasih uang kepada siapa pun, kecuali kepada gereja, dan untuk keperluan ibadat. Aku juga tetap mau membantu bapak-bapak semua, tetapi caranya bukan dengan memberi pinjaman, apalagi memberi sumbangan.”

“Yang jelas, kelompok ini perlu truk. Dari hitung-hitungan kasar, jelas masuk. Tetapi truk ini harus dikelola secara profesional. Untuk itu, bentuk dulu badan hukum koperasi. Koperasi inilah nantinya yang akan mengelola truk. Lalu truknya darimana? Ada dua cara. Pertama leasing, kedua membeli cash. Aku sarankan kelompok membeli cash, dengan uang yang dipinjam dari bank. Karena kelompok tidak punya koleteral, aku akan taruh deposito sebagai koleteral di BRI. Jadi prosedur peminjaman, angsuran, bunga dan lain-lain, kalian harus urus dengan serius. Kalau kelompok tidak melunasi pinjaman, deposito yang aku taruh di sana akan hilang. Tetapi peluang kelompok untuk mengajukan pinjaman baru, juga tertutup.”

“Sebaliknya, kalau kelompok bisa melunasi pinjaman, maka ajuan pinjaman baru akan lebih mudah, karena nama kelompok sudah ada di bank, kalian juga sudah kenal dengan para pegawai bank tadi, hingga hubungan selanjutnya pasti lancar, tanpa perlu ada jaminan dari uang saya. Apakah bapak-bapak ini paham? Tapi memang tidak perlu dijawab sekarang. Yang jelas aku mau bantu membeli truk, tetapi caranya begitu tadi. Bukan dengan memberi pinjaman, apalagi dengan membantu cuma-cuma. Nanti aku juga akan bicara dengan Romo Deken, agar keinginan kalian untuk punya  truk sendiri itu bisa cepat terlaksana. Selamat pagi, ini bapak-bapak akan ke ladang bukan? Aku juga masih ada acara lain.”

Hari itu, Ola harus kembali ke Lewoleba. Sebenarnya ia ingin mengajak Pedro ikut ke Lewoleba hari itu juga, tetapi Pedro masih ada beberapa urusan yang belum selesai. Maka Pedro berjanji, bahwa lusa ia akan ke Lewoleba, sekalian juga akan ke Kalikasa. Karena masih ada sedikit waktu, Ola juga ingin melihat ladang gandum orang-orang itu. Tanaman anggur sudah banyak dilihatnya di halaman rumah. Maka sambil pulang, Ola menyempatkan diri turun, lalu naik, melihat ladang Pedro. “Jadi benar kamu pernah tidur di sini sendirian?” Pedro mengangguk. Bukan hanya tidur. Aku memang tinggal di sini sendirian, selama sekitar tiga bulan. Sampai kemudian ada orang-orang datang menyerbu dan membakar pondokku.”

“Katanya mereka akan membunuhmu?” Kembali Pedro mengangguk. “Kalau tidak tidur di lubang itu, aku pasti sudah mati.” Kini Ola yang kaget. “Kamu tidur dimana?” Pedro lalu mengajak Ola untuk melihat lubang tidurnya. Aku membuatnya, karena ketika tidur di pondok pada sekitar bulan Juli, dinginnya luarbiasa. Maka aku membuat lubang ini, yang ternyata lebih hangat untuk tidur. Tetapi sudahlah. Orang-orang yang akan membunuhku itu kemudian sudah dipanggil oleh Romo Deken. Beliau cerita kepadamu kan Ola? Setelah melihat-lihat ladang, Ola kembali ke Lewoleba. Pedro masih harus turun ke Wulandoni untuk bertemu dengan kelompok nelayan di sana. Kasihan kalau mereka sudah siap, justru Pedro yang tidak datang. * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: