Ke Rinca

10/11/2014 at 10:49 (novel)

Pedro, kali ini aku yang akan memaksa kamu, untuk ikut aku ke Rinca. Ke Komodo. Aku sudah sewa kapal cepat milik bupati. Sudah lama aku ingin datang ke Komodo, tetapi selalu saja tertunda-tunda. Kali ini tidak ada istilah menolak. Yang akan jalan hanya kita berdua, tentu bersama kru kapal. Aku mau serius bicara sama kamu. Sekarang kamu kan sudah bukan lagi imam. Jadi sudah tidak ada alasan untuk tidak mau menikah dengan aku. Tidak ada alasan lagi. Kamu tanya, kemana saja aku selama ini? Sejak Melina menghubungi aku di Amsterdam, dan kemudian aku menyusulnya ke Santorini, maka kami berdua terus lengket, Pedro. Ketika itu aku baru bisa merasakan bahwa asmara dan seks antar sesama perempuan, ternyata lebih berkualitas dibanding antara perempuan dengan lelaki.

Pedro, Melina adalah aktris Hollywood, mantan pacar papi aku. Aku dan Melina, kemudian berduaan terus seperti pengantin baru. Dari Santorini kami ke Athena, kemudian ke Roma, lalu ke Brasil. Di Brasil kami tinggal agak lama di satu apartemen  di Rio de Janeiro. Barangkali sekitar dua atau tiga bulan. Lalu kami ke Bolivia, dengan menyeberangi Andes, kemudian ke Peru. Di Peru kami tinggal di Cuscco, ibukota Region dan juga province Cuscco. Kota ini sangat indah, terletak di lembah berketinggian 3.500 m. dpl, diapit oleh pegunungan Andes. Di sini, aku dan Melina tinggal lebih lama lagi. Kami membeli rumah kecil di tepi jalan ke arah Machu Picchu. Ada dua hal yang menyebabkan aku pisah dengan Melina. Pertama, tahu-tahu dia pakai drugs. Aku yakin, baru di Peru inilah dia berkenalan dengan Cocain.

Kedua, dia juga tampak mulai tertarik dengan cewek Peru yang body, wajah, dan penampilannya persis Gabriella Sabatini. Aku memilih kabur. Agar tidak timbul masalah baru, aku kontak papi, lalu ada orangnya papi yang menjemputku. Sejak e-mailku tidak pernah kamu balas, aku memang malas kirim e-mail lagi. Tetapi Pedro, waktu itu aku memang sedang seperti pengantin baru dengan Melina. Aku tidak tahu dimana dia sekarang, dan bagaimana keadaannya. Mungkin papi masih sering kontak dengannya. Pedro, kamu kan pernah menjadi imam ya, apakah hubungan antara perempuan dengan perempuan itu dosa? Ya, dalam perjanjian lama juga sudah disebutkan hal itu. Tetapi kan hanya untuk lelaki dengan lelaki. Bukan antara perempuan dengan perempuan.

Ketika di Rio, kami pernah menghubungi seorang romo, untuk mengaku dosa agar kemudian bisa menikah. Dia mengatakan, gereja hanya mengakui hubungan asmara dan seks antara laki-laki dengan perempuan. Hingga gereja pun juga hanya menyetujui perkawinan laki-laki dengan perempuan. Tetapi kalau kalian memang sudah saling cinta, dan itu membahagiakan kalian, serta tidak merugikan orang lain, pada prinsipnya Allah akan memberkati kalian, tetapi gereja tidak. Pedro, aku tidak tahu apakah imam Brasil itu benar berkata begitu, atau hanya karena ia tidak terlalu tahu bahasa Inggris, hingga kurang tepat menangkap pengakuanku? Setelah lepas dari Melina, aku lama sekali di LA. Aku berbaikan dengan papi. Ternyata papi juga tidak sejelek dan sejahat yang selama ini aku pikirkan.

Dalam acara pertemuan masyarakat Indonesia di LA, aku berkenalan dengan seorang pengusaha, yang selama ini mondar-mandir ke NTT, termasuk ke Lembata. Aku tanya macam-macam. Termasuk soal kamu. Dari pengusaha inilah aku tahu bahwa kamu sudah bukan lagi imam, karena mempersembahkan misa dengan moke dan jagung titi. Hari berikutnya aku langsung pesan tiket ke Jakarta, kemudian Kupang, dan Lewoleba. Dan sampailah aku di sini. Sebenarnya aku merasa malu sekali datang kepadamu Pedro. Tetapi di LA aku juga masih sering diomeli papi. Dia bilang aku tidak punya semangat hidup. Tanpa orientasi jelas. Tanpa tujuan, dan lain-lain. Apakah semua itu benar Pedro?

* * *

Kapal cepat itu angkat jangkar dari Teluk Lewoleba, mengambil rute ke arah baratdaya, menuju laut Sabu. Kalau kapal ke Larantuka selepas dari Lewoleba akan masuk selat Solor, yakni celah sempit antara Pulau Solor dengan Adonara, maka kali ini kapal bupati itu terus jalan lurus, lewat Selat Lamalera, baru kemudian masuk Laut Sabu. Selepas tanjung Suba, haluan agak dibelokkan ke arah barat, sampai mencapai titik 9o LS dan 122o 10′ BT, haluan kapal diarahkan lurus ke barat. Perjalanan Lewoleba Rinca, dengan kapal cepat seperti ini, akan memakan waktu sekitar delapan jam. Kapal itu start dari Lewoleba sekitar pukul 09.00 witeng. Hingga mereka akan sampai di Rinca kurang lebih pukul 17.00 witeng, dan masih mungkin menyaksikan sunset.

Cuaca bulan Juli sangat cerah. Ombak juga tidak besar. Cuaca seperti inilah yang sangat didambakan oleh para pemburu paus dari Lamalera. Kapal itu diawaki oleh tiga orang, yakni nahkoda, juru mesin, dan tukang masak. Sepanjang perjalanan di Laut Sabu itu, mereka memancing tuna, dengan umpan bulu ayam, yang dilepas dengan kenur panjang dan ditarik di buritan. Di perairan ini memang banyak Yelowfin Tuna. tetapi bagi Ola dan Pedro dapat tongkol atau tenggiri pun sudah sangat menyenangkan. “Akan diapakan ikan ini No?” Tanya Pedro kepada tukang masak dan juru mesin yang sedang menangani ikan itu. “Paling enak yang ini dibakar, yang ini disteam, Baiklah, jangan lupa membuat sambal ya, kita akan makan siang dengan ikan bakar.”

“Pedro, apakah kamu masih menolak untuk menikah dengan aku?” Tanya Ola dengan wajah sangat serius. Mereka duduk di bangku yang dipasang di anjungan. Pedro menjawab dengan tegas. “Aku sudah memutuskan untuk hidup selibat seumur hidup. Apakah aku menjadi imam atau tidak, menjadi biarawan atau tidak, itu bukan soal.” Kekecewaan membayang di wajah Ola. “Seharusnya aku memang tidak usah menanyakan hal itu kepadamu Pedro. Sebab jawabanmu sudah aku duga juga. Baiklah, siang ini kita akan makan ikan bakar. Sebenarnya aku juga bisa masak rica, tetapi suasana hatiku sedang tidak nyaman. Memasak dengan suasana hati seperti ini, hasilnya juga tidak akan enak.”

“Aku ada sparkling wine Pedro. Kamu harus ikut minum, setelah makan siang ini nanti. Mereka makan siang di bawah, dan Ola minta mengeluarkan sparkling wine dari kulkas. Mereka lalu minum. Selepas tengah hari, mereka pindah duduk di buritan. Sebab sekarang mereka berjalan dengan menyongsong arah sinar matahari. Ola dan Pedro duduk menghadap ke arah belakang. Di sebelah kiri mereka, daratan Ende tampak dengan sangat jelas. “Kita memang akan terus menyusuri pantai selatan Pulau Flores Bapak. Sebentar lagi kita akan keluar dari laut Sabu, dan masuk ke selat Sumba. Kita akan merapat di dermaga Rinca sebelum sunset.” Pedro duduk dengan terkantuk-kantuk, sementara Ola masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di sofa.

Ternyata melalui radio, nahkoda kapal bupati itu sudah memesan kamar di resor Rinca, untuk Ola dan Pedro. Mereka sendiri, selama ini selalu tidur di kapal, makan di kapal. Mereka baru akan mendarat untuk belanja atau membeli rokok. Resort pantai itu seperti biasa, berupa rumah panggung, berlantai kayu, beratap alang-alang, tetapi bagian dalamnya dilapis wall paper, dan ber AC. Disitu juga ada bar, ada kafe, tetapi Ola ternyata membawa beberapa botol sparkling wine, red wine, juga gin dan vodka. Ola minta minuman itu dipindahkan dari kulkas kapal ke kulkas di kamar. Dari teras resor itu, Ola menyaksikan sunset dan kemudian ingat ketika dengan Melina, juga menyaksikan sunset seperti ini di Santorini. Ketika itu mereka duduk sangat rapat, dan Melina merangkulkan tangannya ke pundak dan lehernya. Mengapa Pedro tidak melakukan hal itu sekarang?

* * *

Ola dan Pedro makan malam di kafe resor itu. “Kamu akan makan apa Pedro?” Pedro menjawab dengan tegas. “Kalau di resor pantai seperti ini, kita harus makan seafood. Bisa ikan, kerang, kepiting, cumi, atau apa saja yang dari laut.” “Bukankah siang tadi kita sudah makan ikan? Apakah sekarang akan makan ikan lagi, Pedro?” “Nah, kamu sendiri mau makan apa?” “Aku akan minta sate kambing. Aku sudah lama sekali tidak makan sate kambing. Kamu mau Pedro?” “Tidak, aku makan ikan saja. Ikan apapun. Tuna juga boleh, kakap juga bisa. Nah itu dia, kalau ada kue aku minta kue saja. Tidak terlalu besar kan Mbak? Sekitar setengah kilo? Okey, dibakar ya? Pasti, dengan lalapnya, dengan sambalnya.”

Sebenarnya Pedro merasakan capek sekali. Sebab dia tidak terlalu menikmati perjalanan ini. Komodo? Bukankah bisa dilihat di kebun binatang, juga di televisi? Pedro lalu menghidupkan televisi. Kalau Ola hanya akan bertanya, apakah bersedia menikah dengannya, bukankah bisa diucapkan dimana saja? Tapi mungkin itulah kebiasaan perempuan. Setelah makan dan kembali ke kamar, Ola banyak sekali minum. Pedro sudah mengingatkan, tetapi tidak diperhatikan. “Apakah tubuhku tidak menarik bagi kamu Pedro? Aku lepas baju ya? Apakah kamu tidak melihat Pedro, sekarang aku sudah tidak berbaju bukan? Sekarang aku juga akan melepas jeans ini Pedro, lihatlah. Tidak cukup Pedro?”

“Baik, aku akan telanjang bulat Pedro. Sekarang kita hanya berdua. Kamu sudah bukan imam lagi. Apa masih takut kamu pada Uskup? Tidak ada urusan lagi bukan? Pedro, sekarang aku akan serahkan tubuh ini padamu, seperti dulu Yesus menyerahkan tubuhnya ke Laskar Romawi untuk dicambuk, dan disalibkan. Pedro, salibkanlah aku. Pentanglah tangan dan kakiku, paku dan pukullah dengan palu yang keras di dua tepi bed itu Pedro. Pedro, setelah terpentang di kayu salib, tentara Romawi itu juga menusuk Yesus dengan tombaknya yang panjang, runcing dan tajam. Tusuklah aku dengan tombakmu Pedro, aku siap mati di tanganmu. Pedro, kamu tidak impoten bukan? Kamu sudah ereksi bukan. Ayo Pedro.”

Pedro berdiri dari sofa, memindah chanel televisi dengan remote, lalu menuntun Ola ke kamar mandi. “Kamu mandi dululah Ola. Kamu belum mandi bukan? Dengan air dingin, jangan air panas. Ayo!” Pedro lalu mendidihkan air, menyiapkan cangkir dan kopi. Dia mendengar suara air dari shower mengguyur, tetapi kemudian juga kedengaran suara Ola muntah. Air itu mendidih, sebab Pedro hanya mengisinya persis satu cangkir. Pedro menuang air panas itu ke dalam cangkir yang sudah diisi kopi tanpa gula. Dia masuk ke kamar mandi. Ola yang telanjang bulat basah kuyup karena air shower menimpa tubuhnya. Tetapi dia berjongkok dan terus muntah-muntah.

Pedro menarik tubuh Ola, menyelimutinya dengan handuk, lalu menuntunnya ke luar kamar mandi. “Kau minum kopi ini. Harus habis. Pedro lalu membungkus tubuh Ola dengan selimut, dan menuntunnya ke bed. Kamu terlalu banyak minum hari ini.” Ola menurut. Sambil terus menggigil dia merebahkan diri di atas bed. “Tetapi Pedro, kamu mau kemana?” “Aku tidak mau ke mana-mana. Aku mau berdoa Ola.” Pedro lalu berlutut menghadap ke tembok dan berdoa, meski di tembok itu tidak ada apa-apa. “Pedro, mengapa kamu berdoa? Apa tubuhku ini kalah menarik dari tubuh Yesusmu itu Pedro. Pedro, aku ingin wine lagi Pedro, tidak, aku tidak mau kopi, aku mau Gin atau Vodka. Aku tadi membawa Gin bukan? Ini kan kopi Pedro …..” * * *

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: