Koperasi

17/11/2014 at 11:32 (novel)

Ola berjanji akan membantu kelompok tani di Udak dan juga di Uruor. “Mengapa kalian ribut, bahkan sampai mau perang, karena berebut lahan? Bukankah lebih baik kalian duduk bersama untuk membicarakan batas lahan, yang akan digarap oleh penduduk Udak dan Uruor? Kalau kalian tidak mau rukun, tidak akan pernah bisa maju. Aku juga tidak mau membantu orang yang tidak mau rukun.” Janji Ola untuk membantu kelompok tani itu, dalam waktu singkat menyebar dari mulut ke mulut. Dan kemudian berita resmi yang keluar dari Dinas Pertanian Kabupaten Lembata adalah, ada investor besar dari Jakarta, yang akan menanam gandum dan anggur secara besar-besaran di antara kampung Udak dan Uruor.

Pro dan kontra di masyarakat meruak. Ada yang segera ingin menjual lahannya, dan meminta harga sangat tinggi. Ada yang mengatakan: “Ini lahan adat warisan nenek moyang. Tidak boleh ada yang bisa mengambilalih, meski dengan harga berapa pun. Orang-orang juga protes ke Pedro. “Bagaimana ini Bapak Pedro. Katanya ibu Ola itu mau membantu petani di sini. Mengapa sekarang dia justru ingin membeli lahan kami, untuk menanam gandum dan anggur?” Pedro menggeleng-gelengkan kepala. Kalian ada yang punya nomor HPnya ibu Ola? Kalau ada, cobalah telepon langsung dan menanyakannya pada beliau.” Lukas, Ketua Kelompok Tani Udak, segera menghubungi Ola. Ternyata Ola sedang ada di Jakarta.

“Apakah benar ibu akan investasi sampai milyaran rupiah di Udak, termasuk akan membeli lahan kami, untuk menanam gandum dan anggur? Ya, ibu, kabarnya sudah sampai ke mana-mana. Ya, terakhir ibu hadir dalam pertemuan kelompok, dan ibu berjanji akan membantu kami kalau kami rukun, dan bersedia untuk membentuk koperasi. Iya Ibu. Jadi tidak benar ya? Ya kami lebih percaya kepada ibu daripada kepada orang-orang kabupaten. Belum, Ibu. Ya, kami akan secepatnya membentuk koperasi. Ya, semoga dalam waktu sekitar satu bulan ini sudah akan terbentuk. Iya Ibu, gabungan antara Udak dengan Uruor. Baik, Ibu, kami akan selalu menghubungi Ibu sejak sekarang.”

“Bagaimana?” Tanya Pedro kepada orang-orang itu. Mereka masih bingung. “Kalau ibu Ola menyatakan tidak akan investasi di kawasan ini, lalu siapa yang selama ini menyebar orang-orangnya, untuk membujuk rakyat agar melepas lahan mereka?” Orang-orang itu berpenampilan gagah, memakai dasi, membawa tas bagus. Mereka naik jeep dobel gardan, dan menyusup masuk sampai ke Uruor, Udak, Kolirerek, Bakan dan Muda Lerek. Mereka berani memberi uang muka ratusan ribu rupiah, kepada mereka yang berniat menjual tanah. Mereka selalu mengatakan, bahwa akan ada investor dari Jakarta, namanya ibu Ola, yang akan menaman gandum dan anggur dalam satuan sampai ribuan hektar.”

“Meskipun kalian sudah menjual lahan ini, nantinya masih tetap bisa bekerja di proyek. Syaratnya, penduduk harus menyerahkan sertifikat tanah, atau girik, bagi yang tanahnya belum bersertifikat.” Pedro juga heran, mengapa orang-orang itu begitu bernafsu membujuk rakyat agar mau menjual lahan mereka. “Jangan-jangan mereka ini orang-orang suruhan para calo atau spekulan tanah, dalam rangka proyek tambang emas. Tetapi, setahu Pedro, lokasi tambang emas tidak sampai ke kawasan Paroki Kalikasa ini. Apakah memang benar secara diam-diam Ola ingin investasi menanam gandum dan anggur? Kalau itu benar, bukankah ia bisa mencari lahan di Sumba sana, yang tanahnya masih sangat luas?

* * *

Jalan Kecapi, Menteng, Jakarta Pusat. Satpam di rumah besar itu masuk ke dalam, melalui pafiliun. “Ibu, ada tiga orang dari Lembata yang mencari ibu, katanya utusan Bapak Bupati Lembata. Bagaimana Ibu? Diminta menunggu di ruang tamu? Baik Ibu.” Tiga orang yang awalnya mengaku sebagai utusan Bupati itu, kemudian  memperkenalkan diri mereka dari PT Mitra Usaha Prima Lembata, yang berkantor di kawasan Kemayoran. Mereka bertiga jelas bukan orang Lembata. Kemungkinan besar Jawa, menilik dari logat bahasa Indonesia mereka. Ola menemui mereka di ruang tamu, yang sebenarnya lebih berfungsi sebagai ruang tunggu. Papinya, biasa menerima tamu justru di ruang keluarga atau di pafiliun.

“Ibu, kami mendengar, ibu ada minat untuk investasi sektor agro di Kabupaten  Lembata. Bapak Bupati Lembata, sangat mendukung gagasan ibu untuk membuka sebuah proyek, yang diharapkan bisa membuka lapangan kerja di Lembata, hingga anak-anak muda Lembata tidak perlu menjadi TKI di Malaysia. Satu minggu yang lalu, kami dipanggil oleh Bapak Bupati, dan beliau menugaskan kami untuk memfasilitasi Ibu, dalam rangka merealisasikan proyek tersebut. O, ya, menurut Bapak Bupati, ibu akan menanam gandum dan anggur. Itu sangat didukung oleh Bapak Bupati, karena berarti nantinya kita tidak perlu lagi impor dua komoditas tadi. Kami juga sudah berkesempatan bertemu dengan Bapak Pedro, orangnya ibu yang ada di lapangan.”

“So, jadi Anda bertiga ini maunya apa ketemu aku? Pertama, aku tidak pernah mau membuat proyek di Lembata. Aku, memang pernah kesana beberapa waktu yang lalu, untuk membantu kelompok tani di Udak. Aku juga tidak memerlukan tanah, dan tidak akan membeli tanah. Ini, ya, aku sudah sambung dengan Bupati Lembata, Anda ini siapa namanya? Iwan, Widodo, dan Agus, Okey, sebentar…… Halo, saya Ola, Pak Bupati. Baik, saya ada di Jakarta. Ya, pasti. Dalam waktu dekat ini saya pasti ke Lembata. Begini Pak, di depan saya sekarang ini ada Pak Iwan, Widodo, dan Agus, dari PT Mitra Usaha Prima Lembata. Mereka mengaku sebagai utusan Pak Bupati. Tidak tahu? Jadi Bapak tidak tahu siapa mereka? Maaf, sebentar Pak, ya,”

“Ini telepon belum saya tutup, apa Anda mau bicara dengan Bupati Lembata? Tidak? Okey. …..maaf ini tadi Pak. Jadi mereka menawarlan lahan. Yang saya dengar dari ketua Kelompok Tani Udak, mereka juga sudah banyak membeli tanah rakyat. Okey Pak, yang penting Bapak sudah tahu. Pasti, Pak. Setiap saat saya pasti akan kontak Bapak. Selamat siang Pak. Nah ini tadi saya baru saja kontak Bupati Lembata. Konkritnya, Anda bertiga ini ketemu saya maunya apa? Beli tanah dari Anda? Kalau hanya perlu tanah, saya bisa beli sendiri, bisa menggerakkan orang-orang saya. Harap Anda catat ya, Pak Pedro bukan tangan kanan saya. Dialah yang justru minta saya untuk membantu Kelompok Tani di Udak dan Uruor.”

Dua hari kemudian, satpam di rumah Ola masuk lagi dan memberitahu, bahwa ada dua orang tamu, yang juga mengaku dari Lembata. Bagaimana Ibu, ditolak? Bilang Ibu tidak ada? Baik Ibu. Tetapi tidak lama kemudian HP Ola berdering. “Kamu ada di mana Ola? Di Jakarta? Di rumah? Ini Romo Zebua, dari Kalikasa. Ya, aku sudah ada di depan rumah kau sekarang ini. Satpam kau baru saja bilang kau tidak ada. Mengapa aku tidak boleh masuk ke rumah kau? Sombong kali kau ini Ola. Mentang-mentang aku Pastor dari Udik, kau tolak datang ke rumah Kau. Coba pastor dari paroki Theresia, Menteng, kau akan sambut dengan cium tangan. Yah, inilah, aku sengaja tidak kasih tahu kau, supaya surprais, ternyata kau tolak aku masuk. Apa? Ada orang-orangnya spekulan tanah? Okey, ya kamu keluar dululah. Aku takut sama satpam kau ini.”

* * *

“Baik, kalau banyak orang sudah terprovokasi spekulan tanah, tidak apa-apa. Untuk bisa mendirikan koperasi, hanya diperlukan minimal 20 orang. Ada kan 20 orang?” Orang-orang yang berkumpul di rumah Kakek Tarsi itu diam dan saling memandang satu sama lain. Ola berbicara lebih keras lagi. “Coba, siapa yang masih mau ikut mendirikan koperasi? Satu, dua, tiga, ya coba dibantu menghitung. Ada berapa? Empat belas? Yang tidak ikut pertemuan tetapi mau ada berapa? Empat orang? Kan sudah ada 18 orang. Pak Pedro tidak kalian hitung? Apa Pak Pedro tidak boleh menjadi anggota koperasi? Ya ada 19 belas. Dari Uruor ada berapa? Sekitar 15? Kan  sudah lebih 20 orang? Jadi kalian sudah bisa membuat koperasi bukan?”

“Pengurus koperasi, tidak boleh operasional mengurus kegiatan sehari-hari. Urusan sehari-hari ditangani oleh sekretaris eksekutif, manajer atau direktur, yang menerima gaji. Koperasi ini sebaiknya koperasi produksi, bukan koperasi serba usaha seperti halnya KUD, atau koperasi kredit seperti CU. Memang, aku mau membantu modal, bahkan juga peralatan. Tetapi seperti dulu pernah aku katakan di bawah sana, aku tidak mau menyumbang, juga tidak mau memberi pinjaman. Aku mau memberikan jaminan, agar koperasi kalian itu, nantinya bisa memperoleh pinjaman dari bank. Untuk itu, koperasi harus memenuhi berbagai persyaratan perbankan, kecuali persyaratan koleteral, karena itu akan aku tanggung.”

“Begini, mereka yang masih percaya bahwa aku akan investasi menanam anggur, kemudian membangun pabrik, biarkan saja. Ini sekarang ini aku berada di sini. Mengapa mereka lebih percaya kepada spekulan tanah, dan bukan kepadaku? Kalian jangan kecil hati. Diawali dengan anggota 20 sampai 30 orang tidak apa-apa. Yang penting orang-orang Udak dan orang Uruor bisa rukun. Apa masih ada yang bersengketa rebutan tanah? Apa? Sekarang yang berseteru orang Uruor dengan orang Uruor, dan orang Udak dengan orang Udak? Soal proyek ini? Ini bukan aku punya proyek. Ini kalian punya proyek. Yang jelas, aku tidak mau ada yang korupsi. Kalau sampai ada yang korupsi, harus diberhentikan sebagai karyawan maupun anggota.”

“Aku hanya mau mengajak siapa pun untuk menjadi anggota koperasi, asalkan mereka belum menyerahkan sertifikat tanah, atau girik, kepada orang-orang yang dulu mengaku sebagai suruhanku. Aku tidak pernah kenal dengan mereka. Mereka pernah datang ke rumah aku di Jakarta, dan mengaku-ngaku sebagai utusan bupati. Ya jelas aku tidak akan mau bertanggungjawab, atas sertifkat tanah yang sudah diserahkan ke orang-orang itu. Suruh mereka yang sudah menyerahkan sertifikat tanah itu, untuk lapor ke polisi. Bukan mencari-cari aku untuk menagih janji, tetapi ketika aku datang ke Udak ini, mereka juga tidak berani menampakkan diri bukan? Sebab memang bukan aku yang pernah meminta sertifikat tanah itu.”

Kelompok tani Udak itu, kemudian datang ke Uruor, untuk mematangkan rencana pendirian koperasi. “Jadi nantinya, akan ada Koperasi Petani Udak dan Uruor atau KPUU. Orang-orang Uruor yang menentang pembentukan koperasi, juga datang ke Udak, untuk melancarkan provokasi. “Sebenarnya, aku sudah bisa dapat komisi 5%, yang jumlahnya bisa mencapai Rp 3.000.000,- Tetapi karena orang-orang bodoh itu, komisi melayang.” Yang lain menimpali. “Aku sebenarnya sudah lama mengincar tanah di antara dua bukit yang banyak pohon enaunya itu. Tetapi sekarang menjadi sulit, karena pemiliknya sudah mau menjadi anggota koperasi. Tetapi orang dari PT Mitra Usaha Prima Lembata itu, mengapa sudah agak lama tidak datang ya?” * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: