Winery dan penggilingan gandum

24/11/2014 at 12:02 (novel)

“Aku sudah kontak ke Swis, untuk mendatangkan tukang dari Lavaux, yang akan membantu kalian membuat alat penggiling buah anggur, bak-bak fermentasi, dan drum penuaan anggur. Aku sudah konsultasi ke mereka, drum anggur tidak harus dari kayu oak. Kayu eukaliptus juga bisa. Aku harap, anggur yang tidak bisa dipasarkan segar, bisa dibuat wine. Lagi pula, anggur yang paling banyak kalian kembangkan bukan anggur buah, tetapi anggur wine. Padahal Pak Pedro, dulu tidak hanya membawa bibit anggur wine, tetapi juga anggur buah. Aku melihat, yang ditanam Pak Tom itu yang anggur buah. Memang hasilnya tidak sebanyak anggur wine, tetapi harganya kan bagus, terlebih kalau bisa dikirim ke Jakarta.”

“Nantinya juga harus ada pabrik botol disini. Idealnya di Lewoleba, atau, nanti kalau pelabuhan di Wulandoni sudah terbangun, pabrik itu bisa didirikan di Luki. Kalau disini tidak ada pabrik botol, biaya angkut botol kosong ke Lewoleba akan menjadi terlalu tinggi. Beda apabila yang diangkut ke sini material bahan botol. Selain itu, tenaga kerja di Lembata ini juga bisa terserap di pabrik tersebut. Pemasaran? Kalian tahu, bahwa jaringan bisnis papiku terentang dari Eropa sampai Amerika, dan disana dijual macam-macam minuman. Aku jamin, bahwa kalian tidak akan pernah mampu mengekspor wine dari Lembata ini. Mengapa? Karena aku yakin akan habis di Kupang, Denpasar, Surabaya, dan Jakarta.”

“Aku tidak mau, kalau kalian ingin winery modern, dengan mesin pulping, tangki fermentasi stainless steel dan lain-lain. Sebab selain mesin-mesin itu mahal, juga tidak akan dapat menyerap banyak tenaga kerja di Lembata. Mengapa Swis? Karena aku kenal baik dengan mereka. Kalau kalian kenal dengan winery di Australia yang milik Jesuit itu, ya silakan saja. Tetapi aku cenderung, membangun winery model Lavaux yang sederhana, dan semuanya dikerjakan secara manual. Ya, ya, kebun di atas sana, memang jangan pakai para-para, tetapi pagar. Atau Pak Pedro, aku pernah melihat di Santorini sana, batang anggur itu hanya dililitkan melingkar di batu vulkanis, seperti ular tidur, tanpa pagar, tanpa para-para dan hasilnya juga cukup bagus.”

“Ya, sebab kata para petani disana, anginnya kuat sekali, hingga anggur tidak bisa dirambatkan di pagar, apalagi di para-para. Di Kepulauan Kanari, malahan petaninya membangun benteng dari tumpukan batu, ya seperti Pak Pedro membuat terasering itu, tetapi tujuannya untuk melindungi tanaman anggur dari angin kencang. Di Lembata ini, hal itu tidak perlu. Hanya kalau di bukit-bukit di atas sana, janganlah gunakan para-para, melainkan pagar. Selain mudah pengelolaannya, dengan pagar, biaya yang harus kalian keluarkan juga akan menjadi lebih kecil. Ingat, itu uang kalian sendiri, bukan uang aku, bukan uang pemberian bank. Bank memberi pinjaman, dan koperasi kalian yang nantinya akan mengangsur, juga membayar bunganya.”

“Tentu saja, ijin akan dibantu aparat kabupaten, untuk mengurusnya ke Jakarta. Sebab winery menurut undang-undang dikaterogikan sebagai minuman keras, yang ijin untuk mendirikan pabriknya hanya bisa dikeluarkan oleh menteri perindustrian, atas nama presiden. Kalau ijin tidak diurus, Pak Pedro pernah bercerita, bahwa di Hokeng dulu ada pater yang membuat banana wine, dan sudah berhasil cukup baik. Lalu ada aparat polisi datang menggerebeknya, dan menyita alat-alat itu. Hal seperti ini tidak boleh terjadi di Lembata. Bukankah begitu Pak Pedro?” Pedro manggut-manggut mengiyakan Ola. Dulu ketika ia membabat padang alang-alang itu, sama sekali tidak terbayangkan kalau akan ada tanaman anggur, kemudian ada winery.

* * *

Hari itu ada rapat koperasi. Rapat anggota untuk memilih pengurus. Para anggota sepakat bulat secara aklamasi memilih Pedro sebagai ketua pengurus. Pedro menolak. “Janganlah memulai sesuatu dengan kebiasaan buruk. Aku bersedia hanya untuk menjadi penasihat, pembina, atau pengawas, tetapi bukan ketua pengurus. Ketua pengurus harus dicalonkan dari mereka, yang  selama ini sudah aktif mengurus kegiatan kelompok. Calonnya jangan calon tunggal, lalu pemilihannya juga jangan menggunakan sistem aklamasi. Pemimpin rapat mengusulkan, lalu peserta rapat menjawab setuju! Itu kan cara yang tidak baik. Janganlah takut menggunakan cara voting.”

Para anggota koperasi itu menurut. Rapat diskors, untuk melakukan lobi. Sesuai dengan harapan Pedro, rapat hari itu bisa memilih Martin sebagai ketua pengurus. Pedro kembali menyarankan, kalau “Pak Martin terpilih sebagai ketua dan menyanggupinya, harus segera lapor ke Romo Zebua, untuk minta berhenti sebagai ketua stasi. Kalau Pak Martin masih ingin menjadi ketua stasi, sebaiknya jangan menjadi ketua koperasi.” Pak Martin memutuskan untuk tidak bersedia menjadi ketua koperasi. Maka diadakan lagi pemungutan suara, dan terpilih Lukas, ketua Kelompok Tani Udak yang kemudian  melengkapi kepengurusan dengan wakil, sekretaris, bendahara, dan anggota, serta merekrut manajer koperasi.

Rapat pengurus dilanjutkan, untuk merancang bangunan silo, dan pengering. Sebab peralatan winery masih harus menunggu tukang dari Swis. “Jangan membangun satu silo, paling tidak tiga. Satu silo besar untuk gandum, dan dua silo kecil untuk padi, serta jagung. Karena kita merencanakan menanam gandum dalam areal 10 kalilipat padi ladang dan jagung, maka ukuran silo gandum juga harus 10 kali lipat silo padi dan jagung. Pengeringnya harus berbahan bakar limbah pertanian, biomasa, atau kayu. Sebab kayu kaliandra yang kita tebang volumenya sangat besar, tetapi habis kita bakar sia-sia. Yang akan dikeringkan oleh alat pengering ini bukan hanya gandum, padi dan jagung, melainkan juga gaplek, kopra, kemiri, mete, dan semua produk pertanian yang memerlukan pengeringan.”

“Dulu Ibu Ola pernah mengusulkan, bahwa koperasi kita tidak usah investasi penggilingan gandum, sebab penggilingan bisa dilakukan di Lewoleba. Tetapi kami berpendapat lain. Kalau kita menggilingnya ke Lewoleba, pertama akan keluar biaya angkutan. Kedua, sekamnya akan terbuang hingga tidak bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengering. Dedak, yang bisa untuk pakan ternak, juga akan menjadi hak pihak penggiling. Karena alat penggiling harganya tidak terlalu tinggi, pengurus dan manajer koperasi memutuskan untuk membeli mesin penggiling gandum, padi dan jagung. Genset untuk penggilingan itu, malamnya bisa tetap dihidupkan, untuk penerangan.”

Apakah Bapak Pedro setuju? “Kalau pengurus dan manajer koperasi sudah memutuskannya, penasehat harus setuju. Kalau keputusan ini ternyata salah, maka pengurus dan manajer harus mempertanggungjawabkannya pada rapat anggota yang merupakan badan tertinggi dalam sebuah koperasi. Jadi kalau kalian sudah ambil keputusan, tidak usahlah minta-minta nasehat ke penasehat. Kecuali Anda belum ambil keputusan. Ini agak menyimpang ya, kalian akan tanam gandum besar-besaran di musim mendatang ini, apakah benihnya tersedia?” Serentak orang-orang menjawab. “Tersedia Bapak, sekarang kami justru kekurangan benih jagung putih, hingga harus mendatangkannya dari Uruor.”

* * *

“Apakah ini Bapak Xafer dari PT Telaga Sari? Saya Ola Pak, saya berbicara atas nama Koperasi Petani Udak dan Uruor di Lembata. Begini Bapak, saya protes, sebab anak buah Anda di lapangan telah meneror pengurus Koperasi Petani Udak dan Uruor. Kami sudah menanam gandum, berproduksi, menggilingnya menjadi tepung terigu, ada sertifikat SNI, tetapi kami tidak bisa menjual produk ini di Lewoleba, di kampung halaman kami sendiri, dan anak buah Anda meneror kami. Pasar tepung terigu Lembata kan terlalu kecil dibanding Indonesia Pak, dan yang kami akan jual adalah produk petani di Lembata sendiri, bukan barang impor.”

“Bapak Xafer, apakah Bapak pernah mendengar nama Robby Tambayong? Ya, yang sekarang di Vegas? Saya ini puteri sulungnya Pak. Ya, memang saya yang telah membantu petani Lembata untuk menanam gandum. Benar Pak Xafer, saya memang akan mengajak para petani Indonesia untuk menanam gandum, agar kita tidak perlu impor. Kalau soal dagang, Pak Xafer kan bisa dagang apa saja. Ya, tetapi tolong pak, kendalikan orang-orang Anda di lapangan, agar jangan meneror para pengurus koperasi itu. Saya selalu ada waktu pak. Bapak tinggal kontak HP saya ini, sewaktu-waktu saya akan datang. Saya yang mendatangi Bapak, karena saya lebih muda. Langsung saja Pak, karena saya tidak punya staf, tidak punya sekretaris. Selamat sore Pak.”

Sejak Ola menelepon Pak Xafer, Presiden Direktur PT Telaga Sari, toko-toko di Lembata, terutama di Lewoleba, mau menerima tepung terigu produksi Koperasi Petani Udak dan Uruor. “Andai papiku orang biasa, atau bisnisnya bisnis biasa, Pak Xafer pasti tidak akan takut, dan hasil jerih payah petani itu, pasti tidak bisa diserap pasar. Bisnis tepung terigu adalah jaringan kapitalisme global, yang sulit untuk diputus rantai pasarnya. Mereka juga tak segan-segan menggunakan kekerasan untuk menundukkan pesaing. Sama sajalah dengan bisnis judi, pelacuran, dan drugs. Tetapi mereka tampak lebih terhormat, sementara pelacuran paling tampak hina di mata masyarakat.”

“Apa Lukas? Mereka mau terima tepung terigumu, tetapi dengan harga separo dari terigu Telaga Sari? Okey, aku akan pakai cara-cara mereka pula. Tenang saja kamu Lukas.” Hari berikutnya, koran lokal di Kupang memuat berita tentang gudang tepung terigu, beras, gula dan minyak goreng, di Lewoleba, semalam terbakar habis. Kerugian diperkirakan mencapai milyaran rupiah. Diduga, kebakaran diakibatkan oleh kortsluiting arus pendek listrik. HP Ola berdering, “Ola disini, ya, oh, Pak Xafer, Selamat pagi Pak. Apa? Ya lalu Bapak mau apa? Mengapa toko-toko hanya mau membayar harga 50% dari harga terigu Telaga Sari? Kalau mau perang ayo Pak. Aku juga bisa jailin yang di Surabaya, yang di Medan, yang di Jakarta, sementara sebenarnya aku hanya minta yang di Lembata.”

“Ya, Ibu, ini Lukas Ibu. Sekarang mereka sudah mau bayar seperti biasa, tetapi mereka juga minta sertifikat SNInya ditunjukkan ke mereka.” Ola makin jengkel. “Okey, segera aku kirim Lukas. Tapi pasti akan makan waktu paling cepat tiga hari. Sebab pesawat Kupang Lewoleba kan baru ada Lusa.” Baru saja ditaruh HP itu berdering lagi. “Halo, disini Ola, ya, oh, Pak Xafer lagi, bagaimana? Saya siap saja. Tetapi saya tidak ada urusan dengan mereka. Kalau Anda yang ingin ketemu saya, saya akan datang. Tetapi saya tidak ada urusan dengan orang-orang Anda.Ya, tetapi kalau orang Anda masih macam-macam, aku bisa bakar gudang di Surabaya. Aku tidak takut  sama Marinir Pak. Aku juga kenal Marinir US.” * * *

 

Fragmen Novel Lembata

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: