Kantor Meilan

01/12/2014 at 13:16 (novel)

Ada orang tua yang menasehati orang-orang yang lebih muda seperti ini: “Kalau kamu mau sukses dan kaya secara instan, datanglah ke Gunung Kemukus. Kalau kamu ke Gunung Kawi, salah satu anak, keponakan, cucu, atau cucu keponakan, akan terlahir idiot. Kalau kamu memelihara tuyul, dan tuyul itu tertangkap, lalu salah satu tangannya dipaku, maka tanganmulah yang akan luka ditembus paku. Kalau kamu datang ke Jimbung, dan memelihara bulus, maka kulitmu akan belang-belang putih yang terus meluas. Ketika belang itu menyatu, maka kamu akan mati dan menjadi bulus. Kalau kamu jadi babi ngepet, dan tertangkap, akan langsung dibunuh orang. Paling aman memang ke Kemukus. Tidak ada resiko, tidak ada tumbal.

Tetapi kamu harus sabar. Sebab kamu baru akan berhasil menjadi kaya, setelah datang ke Gunung Kemukus sebanyak tujuh kali berturut-turut, pada setiap hari Jumat Pon. Antara Jumat Pon sekarang sampai Jumat Pon berikutnya, terentang jarak waktu 35 hari. Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu, semua ada tujuh. Hari Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing, semua ada lima. Tujuh kali lima ada 35. Karena kamu harus pergi sebanyak tujuh kali Jumat Pon, maka diperlukan waktu 7 X 35 hari, sama dengan 245 hari, atau sekitar delapan bulan. Kalau sampai kamu gagal, maka semua yang telah dilakukan dianggap tidak ada, dan kamu wajib mengulang dari awal.

Apa yang harus kamu lakukan di sana? Pertama-tama kamu harus berziarah ke makam Pangeran Samodro, dan Nyai Ontrowulan. Lalu kamu wajib mandi di Sendang Ontrowulan. Dan kemudian kamu harus berhubungan seks, dengan laki-laki, atau perempuan yang bukan muhrimmu, di alam terbuka. Laki-laki atau perempuan, itu tidak boleh seorang pekerja seks komersial. Juga tidak boleh mereka yang sudah kamu kenal sebelumnya. Hingga Gunung Kemukus tidak bisa  kamu jadikan ajang perselingkuhan. Niatmu harus murni. Hingga seks dalam hal ini hanyalah syarat, dan bukan tujuan. Tujuanmu sejak awal hanyalah mencari berkah dari Allah, melalui perantaraan Pangeran Samodro, dan Nyai Ontrowulan. Berkah itu bisa berupa sukses, kekayaan, dan tentu ketenteraman hidup.

Benar. Tidak ada resiko apa pun yang harus kamu jadikan jaminan, agar upayamu berhasil. Tentu, bahwa niatmu itu harus rasional. Tidak mungkin kalau kamu hanya berjualan beras di pasar induk, ingin menjadi sekaya pengusaha tambang emas. Sebagai pedagang beras, kamu hanya bisa minta, agar daganganmu laris, omsetmu naik terus dari tahun ke tahun, tetapi juga pasti dengan batas. Tidak mungkin kamu minta agar omsetmu naik terus tanpa pernah berhenti di satu titik. Kamu juga tidak bisa minta yang lain, selain urusan sukses dagang, dan usaha sejenis. Jadi kalau kamu seorang kopral, tidak bisa minta naik pangkat menjadi kolonel. Camat tidak bisa minta jadi bupati. Atau kalau kamu jomblo, jangan minta dapat gèbètan di Gunung Kemukus.

Profesi lain, misalnya penyanyi tarling, pemain sinetron, guru, terlebih ustad, kiai, pendeta, atau pastor, tidak layak mencari sukses di Kemukus.  Bahkan PSK pun, tidak cocok datang ke sana, agar dagangan laris lalu menjadi kaya. Untuk itu, mereka harus datang ke tempat lain lagi. Atau dengan memasang susuk, mencari aji pengasihan, pakai cincin batu kecubung, dan belajar ilmu pelet. Meskipun  sekarang banyak pekerja seks komersial, yang tiap malam Jumat Pon,  rajin mendatangi Kemukus. Mereka datang bukan untuk mencari srono, melainkan pindah praktek.  Ada yang dengan cara terang-terangan. Ada pula yang dengan cara menipu peziarah. Itulah nasihatku. Kamu percaya sokur, tidak percaya aku tidak rugi apa pun.”

Orang-orang muda yang diberi nasehat oleh orang yang lebih tua itu, ada yang menurut, ada yang tidak menurut, tetapi juga tidak berani bertanya-tanya, dan ada saja yang membantahnya. “Mbah, kalau orang mau kaya, bukankah harus kerja keras, jujur, dan rajin menabung? Kalau orang penghasilannya satu juta sebulan, tetapi pengeluarannya satu juta seratus sebulan, maka dalam setahun ia akan punya hutang satu koma dua juta rupiah. Sebaliknya, mereka yang pendapatannya limaratus ribu rupiah, tetapi pengeluarannya hanya empatratus ribu rupiah, dalam setahun ia akan punya tabungan satu juta duaratus ribu rupiah. Bukankah begitu Mbah? Eh, apakah Embah itu kaya juga karena ke Gunung Kemukus Mbah?”

* * *

Kantor Redaksi Majalah Fidela, Jakarta, sekitar pukul 10.00 pagi. Meilan cemberut berat. “Aku ini kan biasa jalan ke luar negeri, dan liputanku pasti fashion. Mengapa Redpel Bimo tiba-tiba bilang ke Yani, akan nyuruh aku liputan perklenikan, di Jawa lagi. Dia kan tahu aku ini Cina, tidak bisa ngomong Jawa sama sekali, apalagi tahu kulturnya. Ya memang, dia sih bilang ke Yani, ini semua karena Mas Ranu cuti panjang, dan sedang honeymoon ke Christmas Island. Tetapi honeymoonnya Mas Ranu kan sudah dirancang lama. Mengapa tiba-tiba aku yang disuruh ke Gunung Kemukus. Denger namanya saja baru kali ini. Cewek seperti aku kok disuruh naik gunung. Musim hujan lagi sekarang ini. Kalau memang tidak becus jadi Redpel, ya mundur saja. Banyak kok yang siap ngegantiin.”

“Mengapa kamu ngomel panjang lebar seperti itu Meilan? Kamu kan baru denger dari Yani. Belum dari aku. Aku menugaskan kamu untuk liputan Gunung Kemukus, pertama-tama karena ada desakan dari pemasaran, khususnya iklan. Ada maskapai penerbangan, yang akan membuka rute Jakarta Surakarta. Dia ingin promosi di majalah kita dengan pasang iklan di backcover, dan kontrak selama setahun. Tetapi ada syaratnya, kita harus ada serial tulisan, tentang obyek wisata atau obyek kultural di sekitar kota itu, di setiap edisi juga selama setahun. Aku tawarkan Tawangmangu, Pringgodani, Argodalem, Krendowahono, Candi Sukuh, Waduk Gajahmungkur, Keraton Kasunanan, Keraton Mangkunegaran, Museum Radyapustaka, Wayang Orang Sriwedari, situs Pengging, Makam Bayat, Trucuk, Pasar Klewer, dan masih banyak lagi. Semua ditolak.

Aku cerita ke Pemred Haryo. Dia tampak cuek saja, lalu setelah aku selesai ngoceh, dia nyeletuk pelan sekali. Ngapain kamu tidak tawarkan Kemukus? Maksud Bapak Gunung Kemukus? Bukankah obyek itu sudah lama tenggelam di dasar Waduk Kedungombo?  Tenggelam dengkulmu itu! Telepon sana ke Pemkab Sragen. Tanya sama dinas pariwisata atau kebudayaannya. Coba apa nanti jawabnya. Kalau benar Gunung Kemukus tenggelam ditelan Kedungombo, kamu langsung jadi Pemred, aku terima nasib jadi Redpel, atau cukup wartawan biasa. Aku lalu cek ke Pemkab Sragen, dan ternyata Gunung Kemukus memang masih ada, hanya sekarang lokasi perziarahan ini berada di tepi waduk. Kalau musim hujan, kita harus memutar atau  menyeberang untuk sampai ke sana. Aku lalu suruh Bagian Iklan, menawarkan obyek ini ke klient.

Aku juga heran. Ide dari Pemred itu langsung mereka terima, meskipun tetap dengan syarat. Meilan, coba tebak apa syarat yang mereka ajukan? Tidak tahu kan? Syarat mereka adalah, yang meliput dan menulis harus kamu. Tidak boleh yang lain. Aku lalu katakan, bahwa kamu kan kerjanya liputan fashion, dan hampir selalu ke luar negeri. Apa tahu tentang obyek gituan. Mereka jawab, justru itu yang diharapkan. Yang nulis harus orang yang sebelumnya sama sekali tidak tahu Gunung Kemukus, tidak bisa ngomong Jawa, dan pasti juga tidak tahu kultur Jawa, dengan tujuan agar tulisannya benar-benar mewakili mayoritas masyarakat pembaca, sekaligus pengguna jasa penerbangan. Mereka lalu memuji-muji tulisanmu. Tampaknya mereka sangat terkesan ketika kamu menulis tentang disain Aborigin Australia dulu itu.

Pertanyaan yang mereka ajukan ketika usulan Kemukus itu mereka terima adalah, apakah mbak siapa itu yang dulu menulis tentang Aborigin itu? Apakah dia masih di Fidela? Ya aku jawab masih. Memangnya kenapa? Kemungkinan besar kami akan ACC proyek ini, apabila yang meliput dan menulis mbak yang menulis Aborigin itu. Kalau tidak, kata mereka, ada kemungkinan kami tidak akan ACC. Apa itu tidak gila namanya? Tampaknya mereka lebih percaya sama kamu dibanding sama aku, sama Pemred, bahkan juga sama lembaga ini. Tapi namanya juga orang punya duit. Ya sudahlah. Lagi pula, alasan mereka minta kamu yang handle juga sangat kuat. Jadi ya sudahlah, saya dan Pemred langsung mengiyakannya.

Jadi apa sekarang kamu masih mau ngomel-ngomel lagi? Kalau tidak, mulai sekarang kamu cari bahan tentang itu barang, bikin outline kasar, bikin proposal, lalu minggu depan ini presentasi di rapat gabungan. Hasil presentasi, dan revisinya akan diajukan oleh bagian iklan ke klient. Kalau mereka ACC, kamu langsung jalan. Terserah, mau sehari, seminggu, sebulan, itu urusanmu.Yang penting selesai kamu tulis, masih harus dipresentasikan lagi ke mereka, sebelum naik cetak. Ini bisnis Meilan. Bukan mentang-mentang aku Redpel lalu sok kuasa. Sekarang pertanyaanku, apa kamu masih mau ngomel-ngomel lagi? Kalau tidak, aku mau ngopi, karena dari pagi ini perut belum kemasukan apa-apa.”

* * *

Meilan bertanya-tanya. Apa artinya kemukus? Dia membuka kamus. Kemukus ternyata nama tanaman, sejenis lada. O, pasti di gunung itu ada banyak sekali tanaman kemukusnya. Karena jurnalis wajib chek and rechek, maka ia menelepon Pemkab Sragen, menanyakan, apakah benar di Gunung Kemukus banyak tanaman kemukus? Pejabat dinas itu tertawa mendengar pertanyaan Meilan. Tidak ada tanaman kemukus disana Bu. Sebab kemukus itu kosakata bahasa Jawa. Dari kata kukus yang artinya asap atau uap, mendapat awalan ke, huruf k luluh menjadi m, hingga dibaca kemukus. Artinya di gunung itu banyak kukus. Entah mengapa disana disebutkan banyak kukus, apa karena dulunya ada kebakaran, atau ada letusan vulkanis. Kata legenda, karena di atas makam Pangeran Samodro itu, sering tampak asap putih.

Yang jelas kukus beda dengan kabut, yang dalam bahasa Jawa disebut pedhut. Meilan menarik napas panjang. Memang yang aku buka mestinya bukan Kamus Besar Bahasa Indonesia, melainkan Baoesastra Djawa. Tatapi aku sama sekali tidak bisa bahasa Jawa. Sekarang gunung, aku harus membuka ensiklopedi gunung. Dalam bahasa Inggris, gunung bisa berarti mountain, bisa pula volcano. Ada daftar mountain maupun volcano di Jawa. Tetapi nama Kemukus sama sekali tidak ada. Ternyata gunung dalam bahasa Jawa, tidak hanya diperuntukkan bagi gunung berapi, dan pegunungan besar, melainkan juga untuk bukit, bahkan bukit yang sangat kecil pun, disebut gunung. Contohnya Gunung Tidar di Magelang, Gunung Srandil di Cilacap, dan Gunung Kemukus ini. Bahkan kata gunung juga digunakan untuk nama tempat, yang jelas-jelas tidak ada gunungnya. Misalnya Gunung Mas, Gunung Sahari, Gunung Pati.

Meilan lalu mencari rute menuju Gunung Kemukus. Letak obyek ini di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Kota Sragen, terletak di jalur jalan raya Surakarta Ngawi. Jadi kalau naik bus bisa langsung Jakarta Sragen, Jakarta Ngawi lewat Surakarta, atau Jakarta Surakarta, kemudian naik bus Surakarta Sragen. Dari Sragen masih berapa kilometer? Ke arah mana, dan harus naik apa? Meilan kembali chek ke Pemkab. Sragen. Maaf Ibu Meilan, Gunung Kemukus memang ada di Kabupaten Sragen, tetapi untuk ke Gunung Kemukus, dari Surakarta arahnya tidak ke timur laut ke kota Sragen, melainkan ke utara arah Purwodadi. Sebab Gunung Kemukus terletak dekat perbatasan Kab. Sragen dengan Kab. Boyolali. Ibu masih bingung?

Begini saja Bu, entah ibu naik kereta api, bus, atau pesawat terbang, turunlah di Surakarta. Kalau ibu ingin naik bus sampai Gunung Kemukus, harus ke terminal Tirtonadi. Bisa juga ibu mencegat bus di jalan raya Surakarta Purwodadi. Sebab dari Bandara Adisumarmo, jalan raya Surakarta Purwodadi sudah sangat dekat. Kemudian Ibu minta turun di Barong. Kalau Ibu datang pada musim kemarau, dari sini ibu bisa naik ojek, atau jalan kaki. Pada musim penghujan, ibu harus naik perahu. Bisa pula dari Adisumarmo, Ibu naik taksi langsung sampai ke Kemukus. Kalau pakai mobil pribadi dari Jakarta, bisa ambil jalur utara lewat Semarang, bisa pula jalur selatan melalui Yogyakarta. Kalau lewat utara, dari Semarang jangan ambil jurusan Surakarta, melainkan langsung lewat Purwodadi. Sebab kalau ke Surakarta, berarti memutar terlalu jauh.

Memang benar Ibu, Gunung Kemukus sekarang ada di pinggir air waduk Kedungombo, hingga pada musim penghujan, sepintas tampak seperti pulau. Tetapi sebenarnya di sisi barat dan utara, masih berhubungan dengan daratan, hingga bisa dijangkau oleh sepeda motor atau mobil.  Sebenarnya, pada musim penghujan pun, Ibu tetap bisa mencapai Gunung Kemukus lewat darat, tetapi harus memutar dari Gemolong, masuk ke dalam melalui Miri. Bisa pula masuk lewat Pungkruk. Kalau Ibu datang dari Jawa Timur lewat Ngawi, dan Sragen, memang bisa langsung ke Sumberlawang, tanpa harus ke Surakarta terlebih dahulu, karena jaraknya lebih dekat. Kapan Ibu mau berkunjung ke Gunung Kemukus?

Iya ya, kapan aku siap untuk berangkat ya? Paling tidak aku harus ada di sana antara tiga hari sampai dengan satu minggu. Tetapi bisa pula lebih. Kalau hanya datang Kamis Pahing, lalu malamnya ada di sana, kemudian Jumatnya pulang, aku kira tidak akan dapat apa-apa. Hingga baiknya aku berangkat Rabu Leginya, lalu paling lambat pulang Minggu atau Seninnya. Kecuali kemudian ada perkembangan lebih lanjut, ya bisa saja molor. Sekadar untuk jaga-jaga, aku akan mengajukan SPJ untuk 10 hari, termasuk anggaran entertain. Kalau yang ngeliput beginian cowok, anggaran entertain ini pasti dialokasikan untuk membayar PSKnya. Tapi kalau aku? Masak aku harus membayar gigolo? * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: