Kemukus

09/12/2014 at 13:37 (novel)

Jalan raya Surakarta Purwodadi itu mengarah ke utara. Sekitar 29 km dari Surakarta, atau setengah jam perjalanan, tiba-tiba tampak papan penunjuk yang sangat jelas: Gunung Kemukus. Panah itu menunjuk ke kiri, ke arah barat. Di sekitar papan penunjuk itu, bergerombol dusun Barong, Kedunguter, Kedungringin, Bulaksari, Soko, Sukorejo, dan Partoyasan. Dusun Bulaksari berada paling selatan, di sebelah kiri jalan. Di kanannya dusun Sukorejo. Setelah Bulaksari, dusun Kedungringin di kiri, dan Partoyasan di sebelah kanan jalan. Di balik Bulaksari, dan Kedungringin, bersembunyi dusun Soko, dan Kedunguter. Dusun Kedungringin, dan Kedunguter di sebelah selatan, berbataskan jalan dengan dusun Barong di sebelah utara.

Jalan yang mengarah ke barat, di antara Barong, dengan Kedungringin, dan Kedunguter inilah yang harus ditempuh Meilan untuk sampai ke Gunung Kemukus. Jarak antara jalan raya dengan Gunung Kemukus hanya sekitar 1 km. Hingga banyak peziarah yang jalan kaki. Ada yang sengaja jalan kaki karena memang ingin tirakat, ada yang karena menghemat, tetapi banyak pula yang lebih senang jalan daripada dikejar-kejar tukang ojek. Meskipun tarif ojek hanya Rp 5.000, tetapi ada saja peziarah yang bisa jadi korban. Tukang ojek itu akan menggetok dengan harga Rp 20.000. Ojek sepeda motor ini laris ketika jalan Barong Gunung Kemukus sudah tergenang air, tetapi sepeda motor masih bisa lewat.

Pada musim kemarau, jalan Barong Kemukus bisa dilewati pejalan kaki, sepeda motor maupun mobil. Sebab jalan yang melintasi Kali Kombo ini sudah berjembatan permanen. Tetapi pada musim penghujan, seluruh jembatan itu terendam genangan air waduk Kedungombo. Bahkan ketika air waduk penuh, genangan akan meluas ke sawah tadah hujan di sekitarnya. Tinggi genangan bisa mencapai lebih dari satu meter, sepanjang sekitar 200 meter. Ketika itulah jalan Barong Kemukus, sama sekali tidak bisa dilewati pejalan kaki maupun sepeda motor. Ketika itu pulalah perahu motor beroperasi penuh menyeberangkan orang, barang, bahkan juga sepeda motor. Mereka yang takut naik perahu, harus jalan memutar lewat Pungkruk.

Komplek Gunung Kemukus, sebenarnya hanya berstatus Rukun Tetangga, dari dusun Gunung Sari. Luas kompleks ini sekitar 10 hektar. Rumah-rumah di komplek ini terserak di sekitar Bukit Kemukus. Ada yang berada di kaki, di lerengnya. Di bagian barat dan utara, rumah penduduk itu berada dekat sekali dengan Cungkup  Pangeran Samodro, dan Nyai Ontrowulan. Meski disebut gunung, puncak Bukit Kemukus hanya berketinggian 128 meter di atas muka laut. Kalau dihitung dari muka air waduk, ketinggian Puncak Kemukus malahan hanya sekitar 50 meter. Permukaan air Waduk Kedungombo berkisar antara  70 meter, sampai dengan 90 meter di atas permukaan laut, dengan elevasi normal 80 meter.

Komplek Gunung Kemukus bertetangga dengan Dusun Tawangsari di sebelah utara, dan dengan “ibukota” Dusun Gunungsari di sebelah barat, di barat daya Dusun Ringinanom, serta Candirejo. Dusun Ringinanom, Candirejo, Kedunguter, Kedungringin, dan Partoyasan, masuk Desa Soko, Kecamatan Miri. Sedangkan Barong, Komplek Gunung Kemukus, dan Dusun Gunungsari, masuk Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang. Jalan yang menghubungkan Barong dengan Gunung Kemukus, bukan hanya batas dusun, melainkan juga batas desa, sekaligus batas Kec.  Sumberlawang, dengan Kec. Miri. Sebenarnya jalan itu pernah diaspal mulus, tetapi genangan air waduk telah menghancurkannya.

Bagi peziarah, jalan hancur bisa jadi masalah. Tetapi bagi tukang ojek, dan bagi pejabat PU di kabupaten sana, jalan hancur justru jadi berkah. “Kalau jalannya mulus, kan orang-orang senang jalan kaki, lalu ojek tidak laku. Kalau jalan tergenang seperti sekarang ini, kan enak. Tiap Jumat Pon kami panen.” Boss-boss di kabupaten itu lain lagi dalihnya. “Kalau dari Barong ke Kemukus jalannya dibagusin, diurug, dinaikkan barang satu sampai satu setengah meter, peziarah memang nyaman. Tetapi tukang ojek dan tukang perahu kasihan. Jadi ya biar saja seperti sekarang ini, yang penting semua bisa mencari makan dari berkah Pangeran dan Nyai. Wong yang datang ke Kemukus ini juga orang miskin kok. Lain dengan mereka yang ke Gunung Kawi yang umumnya kalangan atas.”

* * *

Awalnya, jalan dari Barong itu melewati perkampungan, dengan beberapa toko serta warung di kiri kanan. Setelah sedikit berbelok ke kiri, jalan agak menurun, bahkan kemudian menurun tajam, dan pemandangan menjadi terbuka. Di kiri kanan jalan yang tampak hanya sawah, dan kebun pisang. Pada puncak musim penghujan, air waduk akan meluap sampai ke batas rumpun pisang, dan gubuk di ujung petakan sawah itu. Tetapi ketika air surut, bekas genangan itu akan menjadi sawah, ladang singkong, jagung, dan sayuran. Ketika kemarau, debu di mana-mana, udara juga sangat panas. Jarak satu kilometar itu akan terasa lama sekali bagi pejalan kaki, pada siang hari bolong. Kalau naik ojek, dan berpapasan dengan ojek lain atau mobil, maka muka akan diterpa asap knalpot dan debu tebal.

Pada musim penghujan, jarak satu kilometar itu juga tetap tidak enak untuk dilewati. Terlebih ketika genangan masih tanggung. Mau naik perahu, air masih dangkal, jalan kaki sengsara, tetapi naik ojek juga belum tentu enak. Sebab ketika melewati genangan itu, celana panjang, rok, atau kain sarung, tetap akan basah kuyup. Tapi inilah ziarah. Bagi para pengalap berkah, jalan yang susah justru membuat mereka makin bersemangat. Dari batas desa Barong dan Kedunguter, Kompleks Gunung Kemukus sudah tampak sangat jelas. Bahkan pada malam hari, dari jalan raya Surakarta Purwodadi, terlebih ketika Jumat Pon, kompleks perziarahan itu tampak terang benderang, dengan lampu-lampu yang berkerlipan.

Perjalanan Barong Gunung Kemukus atau sebaliknya, selalu berubah sesuai dengan musimnya. Pada musim kemarau, peziarah bisa jalan kaki, naik ojek, atau membawa mobil langsung ke Gunung Kemukus. Ketika air waduk sudah menggenangi jalan, tetapi masih bisa dilewati pejalan kaki maupun ojek sepeda motor, maka peziarah mulai susah. Mobil juga harus memutar lewat Gemolong, atau Pungkruk. Lalu ketika genangan itu penuh, satu-satunya akses ke Gunung Kemukus hanyalah dengan memutar, atau menggunakan perahu. Perubahan ini menjadi bagian dari romantika peziarah. Mereka yang pertama datang pada musim kemarau, akan mengalami “puncak musim penghujan”. Sebaliknya yang mengawali ziarah pada musim penghujan, akan mengakhirinya pada musim kemarau.

Jalan dari Barong ini bukan hanya berakhir di Gunung Kemukus, melainkan terus menuju Ringinanom, Candirejo, dan Miri di arah Barat. Ke utara, jalan ini pecah jadi dua. Ada yang lewat sisi barat Gunung Kemukus ke arah Dusun Gunungsari, terus ke Tawangsari. Ada pula jalan yang mengitari sisi timur Gunung Kemukus, kemudian juga langsung ke arah Tawangsari. Tepat di pertigaan itu, berdirilah Gerbang Komplek Gunung Kemukus. Di gerbang ini, pengunjung harus membayar retribusi ke Pemkab Sragen Rp 4.000 per orang. Sekitar 10 meter dari gerbang, jalan kembali bercabang. Yang datar dan lurus ke arah timur menuju Sendang Ontrowulan, yang ke kiri, ke arah utara, dan menanjak, menuju kompleks makam.

Jalan menanjak menuju komplek makam, itu hanya selebar sekitar dua meter. Sudah disemen, dan pada beberapa bagian dibuat undak-undakan. Ketika Jumat Pon peziarah membludak, jalan utama ini macet total. Hingga peziarah yang sudah beberapa kali kemari, akan memilih jalan dari sebelah kiri atau kanan jalan utama. Komplek makam di puncak Kemukus itu memang dihubungkan oleh beberapa jalan, dari arah jalan utama yang mengitari kaki bukit. Sepanjang 50 meter di kiri kanan jalan utama di bagian bawah, penuh dengan rumah-rumah, yang sekaligus dijadikan warung dan tempat menginap. Tetapi 50 meter menjelang puncak bukit, hanya ada tanah kosong dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi.

Tanah kosong itu dibuat bertrap-trap, dengan tebing yang sebagian diberi batu dan semen. Bagian yang datar dari tanah kosong itu masih berupa tanah, sebagian lagi sudah disemen. Di situlah, setiap Jumat Pon, bermacam dagangan digelar. Ada yang ala kadarnya dengan selembar plastik dan berpenerangan lilin, sampai yang pasang tenda, berpenerangan listrik dari generator kecil, dengan sound sistem, yang akan menggemakan suara tukang obat, sampai ke sawah, dan air waduk nun di bawah sana.
Selain tukang obat, aneka dagangan digelar di bagian pelataran komplek ini. Mulai dari pakaian, sandal, alat dapur, tapi yang paling banyak adalah obat kuat, yang di komplek ini memang paling dicari-cari peziarah.

* * *

Komplek makam itu benar-benar berada di puncak bukit. Bangunan utama rapat tertutup tembok dan papan, seluas sekitar 150 m2, menghadap ke arah selatan.  Di bagian depannya ada bangsal terbuka, dengan luas 80 m2. Di bangsal inilah pengunjung antre menunggu giliran untuk masuk ke dalam cungkup, sambil menitipkan sandal serta sepatu. Barangkali karena melimpahnya pengunjung, maka di sisi timur bangunan cungkup dan bangsal ini, didirikan bangunan baru berdinding kaca, berlantai keramik. Meski di dalamnya ada tiga makam, pengunjung sangat tertolong untuk beristirahat di sini. Hanya sekitar lima meter di belakang bangunan cungkup, ada jalan dari arah utara, barat, dan timur, serta rumah-rumah penduduk.

Disinilah para peziarah mengarahkan hati mereka, untuk ngalap berkah dari Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan. Seluruh kompleks makam ini dikitari oleh pohon-pohon raksasa. Siang hari pada musim kemarau, suasana di sekitar komplek makam sangat teduh dan nyaman. Tapi sebaliknya, pada malam hari, terlebih pada musim penghujan, suasananya sangat kuyu, dan dingin. Kecuali pada malam Jumat Pon dan Jumlat Kliwon. Ketika itu seluruh Komplek Gunung Kemukus seperti pasar malam. Selain warung-warung yang menjual makanan dan minuman, selalu saja ada penjual obat, empedu ular, bahkan juga penjaja judi dengan menggunakan papan catur. Meilan, sama sekali tidak menduga bahwa tempat ziarah ini bisa menjadi seperti pasar malam.

Beda dengan jalan dari gerbang menuju komplek makam yang menanjak, jalan menuju Sendang Ontrowulan di sisi timur bukit, relatif datar dan luas. Jalan itu melingkari bukit dari ujung selatan, menuju timur, ke utara, dan bertemu dengan jalan yang melingkari bukit dari arah barat. Di pojok tenggara bukit, di belakang deretan warung, terletak Sendang Ontrowulan. Sekarang, komplek sendang ini berada hanya beberapa puluh meter dari permukaan air waduk Kedungombo. Komplek sendang juga dilengkapi beberapa bangunan kecil, untuk menaruh pakaian, barang-barang peziarah, dan ganti baju. Meskipun ritual perziarahan selalu dilakukan pada malam hari yang dingin, orang-orang tetap mandi di sendang ini.

Sebab sebelum datang ke komplek makam, jasmani, terlebih rohani, harus sudah bersih. Hingga mandi adalah lambang pembersihan diri. Yang disebut sendang, sebenarnya hanyalah sebuah cerukan dangkal yang berisi air jernih. Ada dua cerukan yang terpisah, dan dikitari oleh tembok. Cerukan yang satu digunakan untuk laki-laki, dan cerukan satunya lagi untuk perempuan. Dua sendang ini bukan hanya dipisahkan oleh tembok, tetapi juga oleh pohon beringin, dengan akar-akarnya yang menjuntai. Di sini, para peziarah bukan hanya sekadar mandi, melainkan juga menaruh bunga, dan membakar kemenyan. Peziarah yang baru pertama kali datang, dan belum punya pasangan, juga memanfaatkan sendang ini untuk memperoleh pasangan.

Mencari pasangan, memang tetap dilakukan oleh hampir semua peziarah. Selain di komplek sendang, biasanya peziarah mencari pasangan di jalan utama menuju makam, juga di bangunan baru di sebelah timur cungkup. Pasangan peziarah yang sudah beberapa kali datang, akan saling kontak dengan HP. Meskipun hampir semua peziarah datang berpasang-pasangan, namun yang memeriahkan malam Jumat Pon di Gunung Kemukus, justru bukan mereka. Sebab sekarang para PSK dari Surakarta, bahkan juga dari Semarang, selalu berdatangan tiap malam Jumat Pon. Mereka juga ingin mengalap berkah dari Pangerah Samodro dan Nyai Ontrowulan. Kedatangan mereka juga disambut hangat oleh mereka yang ingin mencari hiburan, di lokasi yang sangat aman.

“Ya sekarang ini kan serba susah ya Boss. Silir sudah ditutup. Tetapi prakteknya malah jadi liar ke mana-mana. Di Jakarta kan juga begitu. Kalau jamannya Pak Ali dulu, dia didamprat DPRD dan para ulama. Maka dia bilang begini, ini DKI ini tiap tahunnya tekor anggaran sekian milyar. Saya akan tutup itu tempat maksiat, tetapi para alim ulama harus siap mengganti uang yang saya terima dari sana. Apa sanggup? Kalau tidak ada yang sanggup, saya akan tetap buka itu tempat maksiat. Saya siap masuk neraka, dan kalian anggota DPRD serta alim ulama tidak usah ikut-ikutan ke sana. Biar saja soal neraka itu hanya menjadi tanggung jawab saya pribadi. Tetapi sekarang ini Boss, orang yang seperti Pak Ali itu kan langka ya? Maka Kemukus bisa menjadi semacam oasis bagi para PSK itu.” * * *

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: