Sehabis Hujan

15/12/2014 at 12:17 (novel)

Sore itu, Rabu Legi, 5 Desember, hujan baru saja reda. Meilan merasa udara menjadi lebih dingin. Padahal matahari kembali bersinar dengan cahayanya yang putih dan tajam di barat sana. Meski sudah mengenakan jaket, Meilan masih menyedekapkan dua tangannya ke dada. Ia juga mencoba jalan-jalan di komplek Gunung Kemukus, agar badannya bisa sedikit lebih hangat. Untung dia tidak pakai rok, atau celana panjang berbahan tipis. Dia pakai jeans tebal, kaus kaki tebal dan sepatu kets. Ini atas instruksi, Pemred. Haryo. Kalau kamu dandanannya menor, akan ditawar orang karena dikira PSK. Kalau dandananmu seperti juragan, dikira salah satu dari pelaku yang akan ngalap berkah. Jadi pakailah pakaian sehari-harimu, kalau perlu bawa atribut wartawan yang paling jelas, yakni kamera. Kecuali kamu mau meliput dengan metode investigatif, partisipatif aktif.

Meski Meilan tidak mau meliput dengan cara yang aneh-aneh, ia tetap merasa perlu benar-benar masuk ke dalam obyek yang akan digarapnya. Maka ia bermaksud untuk bermalam di Kemukus barang semalam dua malam. Itulah sebabnya ia sudah standby sejak hari Rabu Legi. Ia merasa harus punya orientasi lapangan. Baik dengan alamnya, dengan obyek-obyek utamanya, dengan gerak kegiatanya, dan terutama  dengan manusia-manusia yang ada di lingkungan ini. Tetapi ia juga tidak mau ambil resiko. Koper, dan barang-barang lainnya dia taruh di Novotel di Surakarta. Dia sudah check in, dan barang-barang berharganya dia taruh di deposit box. Ke kemukus ia hanya membawa tas gemblok kecil, dan tas pinggang. Hingga di komplek Gunung Kemukus ini, Meilan bisa lebih mobil.

Meilan berdiri di tempat yang agak lapang di depan gerbang komplek. Dia memandangi pohon-pohon raksasa yang memenuhi gundukan tanah itu. Benar memang, kata Meilan dalam hati. Orang Jawa memang aneh. Gundukan tanah hanya kecil seperti ini, mereka sebut gunung. Gunung Tidar di Magelang, meski sebenarnya juga hanya bukit, masih lebih pantaslah disebut gunung. Orang asing sudah akan sangat heran andaikan gundukan tanah ini disebut hill, apalagi dinamakan mountain. Meilan manggut-manggut sendiri. Tapi itulah Jawa. Tipikal masyarakat yang menghuni pulau sangat kecil, ketika berhadapan dengan kultur Hindu, dan Cina, yang memang sangat besar. Kenyataannya India, Cina, dan juga Arab yang sangat berpengaruh terhadap kultur Jawa, memang bagian dari  sebuah benua.

Meilan merasa memperoleh pencerahan yang tidak pernah diperolehnya di bangku kuliah. Ya, orang Jawa menyebut gundukan tanah secuil ini dengan sebutan gunung, sama dengan Merapi, dan Merbabu, dengan maksud menyetarakannya. Mereka yang tinggal di pulau sangat kecil ini, harus merasa setara dengan mereka yang tinggal di benua raksasa itu. Benar juga wejangan Pemred. Haryo sebelum ia berangkat kemarin. Orang Jawa menyebut majikan, raja, dan Tuhan, dengan sebutan sama, yakni Gusti. Gusti Bendoro, Gusti Prabu, dan Gusti Allah. Majikan, bagi orang Jawa, dianggap setara dengan raja bahkan Allah. Dari sinilah, kata Pemred kemarin, muncul konsep manunggaling kawulo Gusti, menyatunya hamba dengan Allahnya. Entah apa maksud itu Pemred.

Udara makin dingin. Langit juga pelan-pelan jadi gelap. Matahari tak jelas kapan lengsernya, sebab di barat sana, tahu-tahu awan tipis menjadi semakin tebal. Hingga jejak sunset itu hanya tinggal seleret cahaya jingga di antara warna ungu, dan hitam yang seperti ditata bersap-sap. Meski puncak acara ritual baru akan terjadi besuk malam, tetapi peziarah dari kota yang jauh, sudah tampak berdatangan. Laki-laki maupun perempuan. Meski baru pertama kali datang kemari, Meilan segera bisa membedakan, mana peziarah yang baru pertamakali datang, mana yang sudah dua tiga kali, dan mana yang sudah sukses usahanya. Di antara mereka tampak pula lelaki iseng, PSK, dan wartawan lokal. Meilan menduga, wartawan lokal ini, pamit meliput, tetapi tampaknya mereka juga ingin sekalian mencari hiburan.

Dulu, Meilan, juga orang-orang redaksi semua, pernah geli dalam hati. Pak Eka itu kan selama ini dikenal teramat sangat alim. E, dia dapat tugas meliput diskotik. Tentu kantor mengalokasikan anggaran untuk cewek yang dibooking. Ketika laporan, uang itu dikembalikan. Orang keuangan kan tertawa semua. Lain lagi dengan Mas Yon. Dia itu kan tugasnya di Senayan, karena memang wartawan olahraga. La kok kepergok teman-teman di tempat begituan, lalu sambil gugup dia mengatakan sedang dapat tugas meliput di situ. Sekarang ini pun, Meilan melihat ada beberapa wartawan, kayaknya wartawan bodrek, yang sedang mencari hiburan, sekaligus mencari mangsa. Begitu ada pejabat, atau tokoh penting di sini, akan mereka jadikan obyek untuk diperas habis.

* * *

Meski tidak menggunakan metode peliputan investigatif, partisipatif aktif, Meilan memaksakan diri untuk memesan penginapan di salah satu rumah penduduk, yang sekaligus dijadikan warung. Rumah dan warung-warung kecil itu berderet mengitari bukit Kemukus. Dari awal, Meilan memang memilih rileks. Kalau perasaan enak, ya menginap, kalau tidak enak ya tinggal panggil taksi yang tadi mengantarnya kemari. Dia sudah mengantongi nomor HP sopir tadi, yang telah menyatakan siap untuk menjemput. Kalau saya kebetulan ngantuk atau tidak enak badan, ibu jangan khawatir, saya pasti akan minta teman saya untuk menjemput ibu kapan saja setiap saat. Tetapi dia merasa semuanya okey-okey saja, hingga memilih untuk memesan kamar. Yang disebut kamar itu hanya bilik yang sangat sempit, dengan dipan kayu, kasur kapuk yang sudah mengeras, dan seprei yang entah sudah berapa lama tidak dicuci.

Sore itu Meilan membaur dengan beberapa orang, laki perempuan, yang ada di warung, yang juga sempit. Dia memesan jahe panas, dan soto. Di tas gembloknya memang ada roti, biskuit, air, dan softdrink. Tetapi aku harus tahu, makanan mereka. Sambil menunggu jahe dan soto, Meilan mencomot tahu goreng yang masih panas. Di dekatnya ada seorang bapak. Ya Bu, enak itu, masih panas. Dingin-dingin begini enaknya memang mencari yang panas-panas. Saya Bu? Dari jauh, dari Cirebon. Ibu sendiri dari mana? Jakarta? Wah, ya lebih jauh dari saya. Ibu juga ziarah? O, wartawan. Wartawan apa bu? O, majalah. Saya paling takut dengan wartawan. Tetapi Ibu ternyata tidak serem. Biasanya wartawan di Cirebon itu serem-serem. Ya serem Bu. Kadang mereka kan lebih serem dari preman pasar. Benar Ibu, saya dagang beras.

Saya sudah empat kali ini datang, Bu. Berarti masih harus datang tiga kali lagi. Pertama datang, kebetulan ketemu ibu-ibu juragan selèpan dari Bantul. Tetapi dia barusan SMS, kalau mau datang besuk saja, bukan hari ini. Ibu tahu bukan, kalau untuk bisa ngalap berkah dari Pangeran, pasangan seperti kami ini, harus datang sampai tujuh lapan? Selapan itu 35 hari Bu, kalau salah satu dari kami absen tidak bisa datang, harus diulang dari awal lagi. Bisa dengan pasangan semula, bisa pula ganti pasangan. Tetapi saya jangan dipotret, jangan ditulis. Sebab istri saya tidak tahu hal ini. Kalau tahu ia akan ngamuk Bu. Juga anak-anak. Kalau pasangan saya itu, namanya Mbak Rini, dia kemari atas ijin suaminya. Malah setengahnya, suaminya yang mendorongnya pergi.

Cerita-cerita seperti inilah yang diharapkan Meilan. Polos, dan spontan. Memang ia tidak perlu memotret. Bahkan sejak ia berkenalan dengan lelaki yang mengajaknya ngobrol itu, Meilan memang tidak berniat untuk memotretnya. Tak lama kemudian ia pergi. Meilan sendirian menikmati soto. Ternyata soto ayam. Tidak lama kemudian jahe panas datang. Aku harus merasakan menu mereka, juga tahu harganya, hingga tulisanku bisa ada rohnya. Bukan. Bukan sekadar akurat atau tidak akurat. Kalau aku meliput hanya sambil lalu, menulis sekadar memenuhi deadline, maka orang-orang juga akan membacanya sambil lalu, kemudian melupakannya saat itu juga. “Ibu, berapa soto, dan jahenya, tambah tahu satu, Ibu. Berapa? Tigaribu limaratus? Sudah semua? Ibu itu lalu menjelaskan, soto dua ribu, jahe seribu, dan tahu lima ratus. Meilan tidak tahu, bahwa sebenarnya, pada hari-hari biasa, soto hanya seribu limaratus, jahe limaratus, dan tahu duaratus limapuluh.

Sebenarnya Meilan merasa belum terlalu ngantuk, tetapi badannya capek sekali. Dia lalu masuk kamar, membongkar tas gembloknya, yang sebagian rongganya disita oleh sleeping bag. Dia memutuskan untuk tidak mandi, sebab ia merasa udara terlalu dingin. Meilan masuk ke dalam sleeping bag, dan membayangkan, sudah berapa ratus, atau ribu pasangan yang berkencan di ruang ini? Bilik-bilik ini, tentu tidak kedap bunyi bukan? Dan tak berapa lama, di bilik sebelah, masuk pasangan entah dari mana, entah berprofesi apa. Mereka berbicara sepelan mungkin, tetapi masih saja tembus ke bilik Meilan. Selanjutnya, Meilan berusaha keras untuk memejamkan mata, tetapi sangat sulit. Agar tidak terganggu oleh suara dari bilik sebelah, Meilan menutup dua telinganya dengan earphone HP, dan musikpun disetelnya keras-keras.

Tetapi percuma. Polusi di kamar ini bukan sekedar suara. Pemandangan memang hanya bisa terarah ke dinding, ke atap tanpa plafon, dan ke bolam lampu yang hanya 10 wat, dengan voltase rendah. Meilan sebenarnya juga sangat terganggu dengan polusi aroma. Di bilik-bilik sewaan ini, aroma mesum tercium dengan tajam. Meilan sangat asing dengan aroma seperti ini, dan karenanya juga terganggu. Masak gue mesti pakai masker? Yang bener saja? Maka dia pun mulai membiasakan diri. Ya, gue cuma akan sebentar di sini. Tetapi bagaimana dengan mereka yang akan rutin kemari tiap Jumat Pon? Bagaimana dengan mereka yang dari kecil harus menghuni tempat ini? Sepertinya gue ini terlalu lama berada di lingkungan elite, dan kurang gaul dengan yang kumuh-kumuh begini.

* * *

Kamar di apartemen Meilan di kawasan Kebon Jeruk, sangat kedap suara. Kalau ia ingin bangun tepat waktu, dering HPlah yang membangunkannya. Demikian pula kalau Meilan meliput, selalu menginap di hotel bintang, yang kamarnya pasti kedap suara. Kali ini Meilan terbangun sekitar pukul 04.30, karena suara Azan, kokok ayam jantan, dan bunyi panci, penggorengan, piring, serta peralatan dapur lainnya yang saling beradu ketika dicuci, kemudian diletakkan di rak piring. Meilan juga mendengar bunyi air diguyurkan dengan sangat keras. Seluruh bunyi itu ia rekam. Karena masih ngantuk, Meilan kembali menutup telinganya, kemudian menarik resluiting sleeping bag sampai atas, lalu tidur lagi. Meilan terbangun lagi sudah hampir pukul tujuh.

Dia buru-buru menghubungi sopir taksi. “Bisa menjemput sekarang Pak? Bisa ya? Ya, di tempat kemarin itu. Benar. Kembali ke hotel yang kemarin juga. Terimakasih Pak.” Meilan lalu berkemas, membayar biaya menginap yang ternyata hanya Rp30.000, berjalan melewati deretan warung-warung, lalu turun menuju ke penyeberangan, sampan masih kosong, karena pagi itu semua ada di seberang. Tetapi setelah menunggu sejenak, ada seorang laki-laki yang bertanya. “Ibu mau ke Barong? Sebentar saya panggilkan. Dan tak lama kemudian sampan itu datang dari seberang. Meilan menyeberang seorang diri. Dan sesampai di jalan raya, taksi itu sudah menunggu. “Kok cepat sekali Pak?” Tanya Meilan heran. “Ketika Ibu hubungi tadi, saya ada di Adisumarmo, jadi ya cepat Bu.”

Tiba di hotel, Meilan mandi, ganti baju, memasukkan baju kotor ke kantong loundry, lalu turun untuk sarapan. Sambil menikmati sarapan, Meilan merevisi jadwal liputannya. Tadi malam dia menerima informasi bahwa, ramainya Gunung Kemukus, bukan hanya Jumat Pon, melainkan juga Jumat Kliwon. Kalau begitu, aku harus menunggu sampai Jumat depan ini. Hingga siang nanti ia harus kembali ke Kemukus, melihat aktivitas peziarah semalam suntuk, besuk pagi pulang ke hotel, kemudian tidur. Jumatnya harus rileks. Sabtu sampai Minggu, harus menyerap aktivitas weekend di kota Surakarta sendiri atau mencari bahan lainnya. Mungkin juga harus ke Kedungombo. Senin, Selasa, Rabu, harus wawancara dengan Pemkab Sragen, petugas Bandara Adisumarmo, kemudian ke Museum Radyapustaka, dan menghubungi siapa saja untuk memperkaya bahan.

Meilan juga ingin datang ke Kemukus pada hari biasa. Karena hanya akan sebentar saja, taksi akan dimintanya untuk menunggu. Dia ingin melihat, bagaimana aktivitas masyarakat Komplek Gunung Kemukus ketika sepi peziarah. Katanya, pada hari-hari biasa, sebenarnya tetap saja ada peziarah. Karena pada hari-hari tersebut juru kunci tidak terlalu sibuk, dia akan wawancara dengannya. Besuk malam, Kamis malam Jumat Pon, Meilan harus kembali lagi ke Kemukus dan ikut bergadang semalaman. Dia harus kembali menginap di bilik yang sempit dan pengab itu. Dia lalu menghubungi Redpel Bimo, ternyata belum bangun. Meilan lalu SMS, memberitahu jadwal liputannya di Surakarta, yang ternyata berubah dari proposal  sebelumnya. Setelah menghabiskan sarapannya, Meilan kembali ke kamarnya, dan tidur lagi.

Ketika satu maskapai penerbangan besar punya hasrat untuk menggarap rute Singapura-Jakarta-Surakarta, maka hotel, restoran, jasa angkutan darat, dan juga pemerintah daerah segera saja ramai-ramai mendukungnya. Hotel tempat Meilan menginap kali ini pun, juga salah satu sponsor, yang nantinya akan ikut berpromosi di Majalah Fidela. Hanya, Redpel Bimo memang tidak mau ada urusan dengan pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten. Nanti sajalah kalau mereka sudah melihat hasilnya, mau pasang iklan silakan, advertorial silakan. Kalau sekarang-sekarang ini kita datang ke mereka, biasanya rèsèknya lebih banyak. Hingga
Meilan menolak ketika aparat Pemkab Sragen akan menjemputnya di Bandara Adisumarmo. Terlebih ketika Pemkab akan menyediakan kendaraan dan sopirnya selama liputan.

Ogah ah. Bukan apa-apa, tetapi gue risih kalau diperlakukan seperti pejabat begitu. Ya biar saja naik bus, naik ojek, naik becak, emangnya kenapa? Naik taksi boros, boros bagaimana? Kalau memang harus naik taksi ya memang naik taksi. Yang namanya efisiensi itu kan bukan hanya soal rupiah kan? Waktu kan juga ada nilainya. Jadi gue bisa saja nyantai-nyantai naik perahu atau becak, tapi bisa saja gue carter taksi. Ya tergantung keadaanlah kalau sudah di lapangan begini. E, di Sapporo gue pernah selama tiga hari pakai taksi nonstop lo. Malah gue bayarnya dobel. Soalnya di sana tidak ada guide, lalu orang-orang itu kagak ada yang bisa ngomong Inggris. Sopir taksi ini kebetulan Inggrisnya bagus. Jadilah dia sopir taksi, guide, sekaligus penterjemah. * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: