Sarmin

22/12/2014 at 11:24 (novel)

Sebenarnya Sarmin tidak pernah percaya, bahwa ada orang sudah mati, bisa melariskan dagangan orang yang masih hidup. Pangeran Samodro itu siapa? Sarmin memang pernah mendengar nama Imam Samodro di televisi. Sarmin tahu bahwa Pangeran Samodro, dan Imam Samodro tidak sama. Lalu Nyai Ontrowulan? Apa bisa Nyai Ontrowulan melariskan dagangan baksonya? Bagi Sarmin, orang dagang itu, kalau mau berhasil harus tekun, jujur, dan mau kerja keras. Tidak ada rumus lain. Kalau hanya mau untung besar lalu dagingnya dikurangi dan tapiokanya ditambah, maka bakso akan bantat. Ada yang tidak menggunakan daging sapi, supaya lebih murah. Ada yang pakai boraks supaya kalau hari ini tidak habis, besok masih bisa dijual. Kata orang-orang, Bakso Lapangan Tembak bisa sukses, karena jujur dan tidak macam-macam sampai sekarang.

Bakso yang enak, harus menggunakan daging sapi yang belum dilayukan. Daging dan tapioka harus segera digiling, dengan dicampur sedikit garam dan bawang putih. Tidak boleh ada campuran lain. Bakso yang enak, perbandingannya satu kilo daging, paling banyak 1,5 ons tepung. Makin sedikit tepung, makin enak. Memang akan mahal, tapi tidak apa-apa. Kalau dagangan hari ini tidak habis, harus dibuang, atau diberikan ke orang yang mau makan. Tidak boleh disimpan untuk dijual besuknya lagi. Itulah resep utama dagang bakso, yang pernah diajarkan oleh Pakliknya, ketika pertama kali ia ikut ke Jakarta. Demikian juga dengan minya, sambal, sayuran, kecap, dan lain-lain, termasuk kuahnya. Semua harus sesuai dengan standar bakso. Setahu Sarmin, ketika masih bujangan dulu, baksonya laris, karena selalu menggunakan ajaran Pakliknya.

Untungnya memang kecil, tetapi ketika itu Sarmin tidak repot. Sebab kerjanya juga tidak capek, lalu tidak perlu pusing memikirkan, akan dibuang ke mana dagangan yang tidak laku ini. Sarmin tidak terlalu capek, karena teman-temannya masih keliling-keliling dengan gerobak atau pikulannya, dia sudah bisa istirahat di rumah. Ketika itu memang banyak teman-teman seprofesinya, yang bertanya, pakai penglaris apakah dia? Sarmin menjawab, tidak pakai apa-apa. Tetapi semua temannya tidak ada yang percaya. Ketika itu orang-orang di sepanjang rute gerobaknya sangat fanatik dengan bakso sarmin. Kalau bukan bakso sarmin jangan. Tunggu saja bakso Sarmin. Apa dia tidak jualan ya? Pamor Sarmin justru surut setelah ia menikah dengan Wati. Kata orang-orang, ilmu Sarmin luntur karena melanggar pantangan.

Ya, benar, sekarang aku memang sudah melanggar pantangan, yakni tidak menggunakan rumus satu setengah satu, satu setengah ons tepung, satu kilo daging. Kadang ia juga tergoda membeli daging yang sudah dilayukan. Banyak pantangan yang sudah kulanggar, tetapi bukan pantangan klenik. Saya tidak pakai klenik. Tetapi sekarang ia justru sedang mempraktekkan perklenikan itu, dan gagal. Kamu belum gagal Min, kata dirinya sendiri menghibur. Kamu hanya belum berhasil. Kamu bisa mulai lagi dari nol. Tidak. Sebab itu berarti delapan bulan lagi. Juga aku tidak tahu harus dengan siapa lagi? Kamu sedih karena upaya klenikmu gagal, atau karena tidak ketemu dengan Yuyun? Sarmin diam. Dia duduk di bawah pohon asam yang sangat besar. Dia tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang. Semua sudah habis. Sudah tak ada lagi yang bisa diharapkan.

Perutnya juga lapar. Ia juga haus. Kalau sedang mendorong gerobak baksonya, dia tidak pernah kelaparan. Memang dia tidak pernah makan bakso dagangan sendiri. Di kalangan pedagang makanan, ada pantangan untuk makan dagangan sendiri. Kalau pantangan ini dilanggar, dagangan tidak akan laku. Tapi alasan Sarmin bukan itu. Karena tiap hari urusannya dengan bakso, makan bakso jelas sudah tidak nafsu. Maka ia selalu berter dengan tukang ketoprak, tukang soto, atau siomai. Tetapi sekarang ia akan minta kepada siapa? Uangnya sudah habis untuk membayar kamar, makan, dan Kamis Pahing yang lalu, mengapa dirinya sempat tergoda oleh PSK, hingga Rp 50.000 melayang?. Sudah genap tiga hari ini ia puasa ngebleng, tidak makan apa pun. Kalau minum tidak sulit. Di penginapan itu selalu ada air teh tawar, atau air putih matang.

Ya, sebenarnya Mbak Tatik dan Mas Iksan, pemilik penginapan itu, wanti-wanti agar saya ini tetap makan di sana. Malah mbayarnya juga akan dikorting segala. Dia tidak tahu kalau bekal saya habis. Sebenarnya saya kan hanya akan di Kemukus dari Kamis Pahing pagi, sampai dengan Jumat Pon siang. Dan biasanya yang membayar penginapan serta makan selalu Bu Yuyun. Sekarang ia membayar penginapan selama seminggu, dan sebenarnya juga harus makan selama seminggu pula. Tetapi baru empat hari uang Sarmin habis. Kalau Kamis Pahing itu dirinya tidak tergoda PSK, ia pasti masih bisa makan sampai hari terakhir. Sarmin juga malu karena ritual ini diakhiri dengan ketidakhadiran Yuyun. Apa dia sakit? Jangan-jangan kecelakaan. Sebab kata Mas Iksan, HP Bu Yuyun tidak aktif. Ada apa ya? Sarmin lemas. Apa sebenarnya dia rindu pada Bu Yuyun?

* * *

Sebenarnya Sarmin sangat berharap, Yuyun akan datang pada Kamis Wage malam Jumat Kliwon, setelah tidak jadi datang pada Kamis Pahing malam Jumat Pon. Tetapi itulah nasib. Yuyun tidak datang. HPnya juga tidak bisa dihubungi. Seminggu ini adalah penantian yang melelahkan. Memang pagi Jumat Pon seminggu yang lalu, dia mendapat hiburan dari Evi. Tapi, ya, PSK itu kan hanya menginginkan uangnya saja. Meski Sarmin sebenarnya juga senang. Ternyata saya bisa merasakan PSK yang wajah dan perawakannya mirip salah satu pelanggannya. Sarmin duduk di tempat orang-orang mencari jodoh. Tapi sekarang kan Jumat Kliwon, hingga jauh lebih sepi dibanding Jumat Pon yang lalu. Setelah lewat pukul 10 malam, harapan Sarmin sebenarnya sudah pupus. Tetapi ia menghibur diri. Siapa tahu ia terlambat datang?

Pikiran itu kemudian dibantahnya sendiri. Sakarang ini Kamis Wage, malam Jumat Kliwon Min. Bukan Kamis Pahing malam Jumat Pon, janjimu dengan Yuyun kan minggu lalu, bukan sekarang. Malam Jumat Kliwon itu Sarmin ikut tuguran, berdoa semalam suntuk bersama orang-orang. Bedanya, kalau orang-orang itu kemudian masuk kamar dengan pasangan masing-masing, Sarmin tetap terus berdzikir di bangunan Makam. Pada saat Azan Subuh, Sarmin ikut Salat Subuh berjamaah di Mushola. Setelah itu, ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Dengan tas bututnya, ia lalu duduk di pinggir undak-undakan, di bawah pohon beringin. Ia masih berharap ada mukzizat, Yuyun akan datang. Tetapi apakah itu mungkin? Kesibukan orang-orang itu akhirnya menyurut. Kompleks makam itu berangsur sepi. Sarmin bingung. Bagaimana ia harus pulang? Apakah ia masih kuat untuk berpuasa beberapa hari lagi. Apakah ada barang berharga yang bisa dijualnya?

Apakah ia harus jalan kaki ke Gunung Kidul? Berapa hari baru akan sampai di kampungnya? Lalu mau apa dia di kampungnya itu? Dia toh tidak mungkin minta-minta uang ke orang tuanya, ke sanak familinya, terlebih ke mertua serta ipar-iparnya. Lagi pula, apakah juga mungkin jalan kaki dari Gunung Kemukus, ke Gunung Kidul sana? Kalau pun harus kembali ke Jakarta, ia juga harus mencari pinjaman modal ke mana lagi? Apa ia juga harus ikut orang-orang itu untuk hanya jadi buruh, dengan menjadi anggota dari salah satu  juragan bakso? Memang bisa, tetapi hasilnya harus dipotong setoran. Kalau ia tidak bisa setoran, maka paginya harus mencari uang lipat dua. Kalau akhirnya tidak dapat setoran juga, ia harus bekerja di tempat juragan itu tanpa dibayar, sampai setorannya lunas.

Karena pikirannya buntu, Sarmin menangis sesenggukan. Sebenarnya ia malu kalau sampai dilihat orang. Tetapi apa boleh buat. Hatinya sudah tidak kuat menanggung beban. Agar orang-orang tidak tahu kalau ia sedang menangis, maka kepalanya ia tundukkan dan ia taruh di atas dua telapak tangan di atas dua dengkulnya. Tetapi sesenggukannya tetap kelihatan, dan juga kedengaran. Ketika itulah Meilan lewat. Ia sudah mau pulang ke Novotel di kota Surakarta. Taksi sudah ia kontak, dan ia tinggal menyeberang meninggalkan Gunung Kemukus. Biarlah ia dimarahi oleh Redpel Bimo, sebab kenyataannya ia sudah gagal, tidak dapat bertemu dengan orang yang gagal ke Gunung Kemukus. Yang ia temui semuanya baru dalam proses, atau sudah berhasil.

SMS Redpel Bimo terakhir, sangat sadis: “lu hrs dpt itu obyek jngn plng sblm dpt, Bimo.” Sampai kapan aku harus tinggal di Kemukus ini? Biasanya orang yang gagal tidak pernah mau cerita. Dan orang yang gagal tidak mungkin ditemui di lokasi ini. Ia harus dicari di rumah masing-masing. Sebenarnya Meilan sudah mengantongi beberapa nama mereka yang gagal. Tetapi kebanyakan berdomisili di Cirebon. Itu pun belum tentu mereka mau mengakui kegagalannya. Bisa saja kepada Meilan ia akan mengatakan bahwa dirinya berhasil. Kalau Redpel gila itu ngomel-ngomel setelah ia datang, ia akan ke Cirebon, atau ya sudah, ia akan mengundurkan diri. Tetapi Pemred pasti akan menahannya. Ya, orang tua itu memang seakan telah menjadi bapak bagi semua wartawan dan seluruh karyawan redaksi.

Pemred Haryo itu, sebenarnya kalau mau ia bisa menjadi anggota DPR, bisa menjadi orang kaya. Kenalannya orang-orang penting di negeri ini, tetapi dia mengatakan bahwa jatahnya cukup hanya menjadi Pemimpin Redaksi. Semua orang pernah ditolongnya. Tetapi bukan itu. Dia selalu memperhatikan kepentingan banyak orang, terutama anak buahnya. Hal yang tidak pernah dimiliki oleh siapa pun di kantornya, termasuk oleh Pemimpin Perusahaan, termasuk Pemimpun Umum, dan si pemilik modal. Maka semua orang selalu hormat dengan Pemred Haryo. Dan Redpel Bimo itu memang juga hanya tunduk, dan takzim kepada Pemrednya. Sementara kepada Pemimpin Perusahaan, dia selalu frontal bermusuhan.

* * *

“Mengapa sampeyan menangis pagi-pagi? Saya Meilan, apakah saya bisa membantu Bapak?” Tanya Meilan tepat di depan Sarmin. Kaget sekaligus malu, Sarmin mendongakkan kepala. Tepat di hadapannya, berdiri seorang perempuan sangat cantik, dan berwibawa. Lama Sarmin tidak menjawab, baru kemudian dengan terbata-bata dia berkata.”Tidak apa-apa Bu, saya sedang susah.” Meilan mencoba membangunkan Sarmin. “Ayolah berdiri dulu Pak, tidak baik pagi-pagi begini duduk di tempat seperti ini, ayo kita ke warung sana.” Ketika berdiri, Sarmin sempoyongan dan hampir jatuh. Dia lupa tasnya, lalu Meilan mengingatkan. Pelan-pelan Pak jalannya. “Bapak sakit ya? Tidak? Tapi kok jalannya kelihatan lemah sekali, ayo kita minum dulu.”

Meilan dan Sarmin menuju warung terdekat. Meilan kontak sopir taksi. “Sudah sampai di mana Pak? Masih di Solo. Ya tidak apa-apa, saya tidak terlalu buru-buru sekarang. Santai saja pak.” Meilan lalu menawari Sarmin minum. “Bapak siapa namanya? Minum dulu ya, minum apa?” Masih dengan wajah sembab Sarmin menjawab. “Nama saya Sarmin Bu, saya tidak punya uang untuk membayar minum.” Meilan agak kaget. “Tidak apa-apa, aku nanti yang bayar, Bapak pesan apa saja, boleh minum, boleh sarapan juga. Atau hanya minum saja. Baik. Sarapannya nanti saja tidak apa-apa. Sekarang ceritakan mengapa Bapak susah. Malu di sini. Okey, Bapak percaya sama saya kan? Saya wartawan, saya akan membantu Bapak sebisa saya. Mau kan saya bantu? Baiklah.”

Aneh, kalau tadi perutnya melilit-lilit lapar sekali, sekarang tiba-tiba lapar itu hilang begitu saja. Sarmin hanya minta minum teh manis. Meilan minta jahe panas. Sebab bagi Meilan, di warung-warung seperti ini, minuman panas yang rasanya standar, hanyalah jahe panas. Kalau kopi, atau teh, pasti tidak enak. Mereka berdua minum. Sarmin tampak minum dengan enak sekali. Meilan pun sangat menikmati jahenya. Semalaman Meilan juga sudah melihat Sarmin, tampak khusuk berzikir, di bangunan joglo. Mengapa pagi-pagi dia menangis? Tetapi nantilah mengorek ceritanya. Setelah membayar minum, mereka berdua meninggalkan warung, menuju tempat penyeberangan. “Jangan takut Pak, maaf siapa tadi ya? Sarmin ya, diingat-ingat juga, nama saya Meilan.”

Sesampai di Hotel, Meilan mengajak Sarmin untuk sarapan. Kupon sarapan Meilan memang ada dua. Harus makan ya Pak Sarmin, ini mengambil piringnya di sini, makanannya memilih di sana, ini minumnya di sini. Meja kita di sini ya. Aku akan mengemasi barang dulu. Meilan lalu naik sebentar mengemasi barang, dan minta Bill Boy untuk mengangkatnya ke bawah. Rencananya hari itu ia akan terbang ke Jakarta. Ia kemudian kembali ke restoran, dan melihat Sarmin makan dengan sangat lahapnya. Meilan menunggu, sampai Sarmin makan dan minum. Ia juga sarapan. Karena mencium bau rawonnya enak sekali, Meilan mencoba rawon dengan sedikit nasi. Memang enak rawon itu, tetapi Meilan tahu kluwaknya kurang tua. Andai kluwaknya dipilih yang tua, rasa rawon itu akan lebih enak lagi.

“Saya kehabisan uang Ibu. Saya sudah datang ke Kemukus Jumat Pon yang lalu. Seharusnya, ini Jumat Pon terakhir. Tetapi pasangan saya tidak datang Bu. Saya menunggunya selama seminggu, tetapi tidak datang juga dan uang saya habis. Apakah benar Ibu akan menolong saya?” Meilan merasa, bahwa justru Sarminlah yang akan menolongnya. Bukan dia. “Pak Sarmin, aku harus menolong Pak Sarmin bagaimana?” Mata Sarmin menatap Meilan, penuh dengan harap.”Apakah Ibu mau meminjamkan uang untuk ongkos ke Jakarta? Ini Bu, jaminannya KTP saya Bu. Benarkah Ibu mau menolong?” Meilan menarik napas lega. “Pak, kalau hanya untuk pulang ke Jakarta, bisa ikut saya, saya yang akan membayar. Tidak usah meminjam. Tetapi maukah Pak Sarmin menceritakan pengalamannya dari pertama kali datang dulu?

Ya, saya ini wartawan. Tahu kan Pak Sarmin Wartawan. Saya wartawan Majalah Fidela. Saya mendapat tugas untuk meliput Gunung Kemukus. Saya datang Rabu Legi yang lalu. Lo Pak Sarmin juga datang Rabu Legi ya? Kok kita tidak sempat ketemu ya? Ya, kalau Jumat Pon memang ramai sekali. Lalu saya harus mewawancarai banyak orang. Yang masih kurang, mewawancarai mereka yang gagal ketemu pasangannya, atau yang dapat PSK. Lo Pak Sarmin juga pernah dapat PSK? Ya itulah, jadi sebenarnya bukan hanya saya yang akan membantu Pak Sarmin, tetapi Pak Sarmin juga bisa membantu saya. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Pak Sarmin pagi ini. * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: