Stasiun Solobalapan

29/12/2014 at 10:31 (novel)

Meilan kirim SMS ke Redpel Bimo. “tdk naik pswt tp ka argo lawu jmpt di gambir pkl 16.00  wib trims meilan. Sebenarnya Meilan bisa saja memberi uang ke Sarmin, agar ia naik bus, sementara ia sendiri naik pesawat. Tetapi ia tidak bisa mengorek cerita dari Sarmin. Bisa pula ia membelikan Sarmin tiket pesawat Surakarta, Jakarta, tetapi waktu untuk mengorek cerita itu juga sangat singkat. Paling baik memang ia naik kereta, sambil mewawancarai Sarmin sepanjang jalan. Maka pagi itu, ia naik kereta api Argo Lawu, Surakarta Jakarta, berdua dengan Sarmin. Sudah lama sekali Meilan tidak naik kereta. Terakhir naik kereta barangkali sudah lima atau enam tahun yang lalu, dan itu pun bukan kereta api biasa tetapi Tōkaidō Shinkansen dari Osaka ke Tokyo. “Tapi okeylah, sekali-sekali untuk variasi. Lagipula sekarang ini, paling tepat memang naik kereta api.”

Stasiun Solo Balapan itu sepi. Jumat seperti ini, terutama pada sore hari, yang berjubel pasti kereta api Jakarta Surakarta. Nanti pada Minggu sore atau Senin pagi, yang padat kereta api dari Surakarta, Yogya, atau Semarang, menuju Jakarta. Tetapi semenjak tiket pesawat terbang harganya murah, orang lebih senang naik pesawat terbang. Jadi yang masih padat tetap bus, dan kereta ekonomi. Kereta eksekutif seperti Argo Lawu, sekarang lebih banyak kosongnya. Rekan-rekannya di bagian administrasi, suka cerita, kalau naik kereta api dari Surakarta, Yogya, atau Semarang pada hari Minggu Sore atau Senin Pagi, pasti padat. Itu pada hari-hari biasa. Bukan di sekitar Lebaran, Natal dan Tahun Baru, atau ketika ada libur panjang, atau liburan anak sekolah.

Meilan memang tidak pernah naik kereta api di Indonesia. Dia naik kereta api terakhir, ketika masih SD, diajak oleh Oma dan Opanya, dari Bandung ke Jakarta, kemudian bokapnya juga pernah mengajaknya naik kereta api Senja ke Semarang. Tapi itu sudah dulu sekali. Kereta api Argo Lawu ini, ternyata boleh juga. Sarmin sebenarnya ingin mengangkat koper Meilan, tetapi Meilan melarangnya. “Jangan Pak Sarmin, biar saja mereka mengangkatnya. Pak Sarmin jangan takut atau kikuk ya, sekarang ini, jangan dianggap saya yang sedang menolong Pak Sarmin. Sebab Pak Sarmin juga sangat membantu pekerjaan saya. Duduklah saja santai, saya juga orang biasa seperti Pak Sarmin, jadi jangan takut.” Sarmin tersipu. “Saya bukan takut Ibu, tetapi kikuk. Saya kan belum pernah makan di tempat seperti tadi pagi itu Bu, saya juga belum pernah naik kereta api bagus yang ada tivinya seperti ini.”

“Saya sebenarnya juga tidak berani duduk di sebelah Ibu. Kalau boleh, sebenarnya saya ingin duduk sendiri saja di luar sana. Boleh kan Ibu?” Meilan menatap Sarmin yang tertunduk malu. “Boleh saja, Pak Sarmin, tetapi nanti, biar keretanya jalan dulu. Saya nanti juga akan merekam, dan mencatat cerita Pak Sarmin. Jadi jangan takut. Saya nanti juga akan memotret. Berapa modal untuk jualan bakso selama sehari Pak Sarmin? Duaratus limapuluh ribu? Saya nanti akan bantu ya, tetapi tolong jangan terlalu tegang dan takut. Nanti setelah turun di Jakarta, akan ada yang mengantar. Duduk saja yang rileks. Begini, kalau malu duduk jejer saya, sebentar, sampeyan berdiri dulu. Ini bangku toh kosong, coba dibantu diputar. Nah, sekarang saya duduk di sini, sampeyan tetap di situ.”

Mereka lalu duduk berhadap-hadapan. Kereta api Argo Lawu pagi ini  benar-benar kosong. “Mas-mas, coba saya ingin ketemu dengan kondektur atau pemimpin perjalanan kereta api ini. Ya, ya, bilangkan, kalau bisa di Yogya kursi ini jangan diisi, saya akan membelinya.” Pemimpin perjalanan kereta api itu berjas dan berdasi. “Ada yang bisa saya bantu Ibu? Tambah bangku? Oh, tidak usahlah Ibu. Di Yogya juga tidak banyak yang naik. Nanti sore dari Jakarta, itu akan padat sekali. Sudahlah, ibu duduk saja tidak apa-apa. Penumpang di Yogya, di Purwokerto, tidak akan banyak. Ya, Bu, sama-sama Bu. Selamat pagi.” Petugas itu pergi. Meilan mengambil laptop, tape kecil, dan kamera. Sarmin menggigil, karena ruang ber AC itu sangat dingin.

Ternyata ada ya kereta api yang sebagus ini. Namanya tadi apa itu? Argo Lawu. Lo kok seperti gunung Lawu, yang kata Sardi juga ada tempat keramatnya itu? Kereta api seperti ini pasti mahal sekali. Pasti hanya dibuat untuk orang-orang yang seperti Ibu, atau Mbak, wartawati ini. Dia, yang darah dan dagingnya terbuat dari singkong dan gaplek, hanya bisa naik bus atau kereta api ekonomi. Itu pun sudah sangat menyenangkan. Tetapi sekarang ini, perasaan Sarmin campur aduk. Sekarang ini saya senang, sedih, takut, atau apa? Barangkali Allah, atau Pangeran Samodro, atau Nyai Ontrowulan, telah mengabulkan doanya, hingga ia tidak terlantar di Gunung Kemukus, malah bisa naik kereta api bagus seperti ini.

* * *

Peluit kepala stasiun Solo Balapan dibunyikan. Peluit kereta juga melengking panjang. Kereta lalu bergerak pelan. Deretan pedagang di pelataran stasiun itu bergerak ke arah belakang. Lama-lama gerakan itu makin cepat, dan Stasiun Solo Balapan hilang di belakang sana. “Jadi Pak Sarmin ini asli Gunung Kidul ya? Tepatnya dimana? Pucanganom ya? Jualan bakso sudah lama? Limabelas tahun. Sudah lama juga ya? Jadi Pak Sarmin berangkat ke Kemukus sudah Rabu yang lalu ya? Rabu Legi ya? O, ya, rabu malam, naik apa Pak Sarmin? Bus ya? Dari? Kampung Rambutan. Di Jakartanya, Pak Sarmin tinggal dimana? Pasar Minggu ya. Istrinya namanya Wati, anaknya dua, perempuan semua. Masih kecil-kecil ya. Dulu mulai jualan bakso Pak Sarmin usia berapa?”

Kereta bergerak makin cepat, keluar dari kota Surakarta, lewat kampung, sawah-sawah. Beda dengan jalan mobil yang melintasi Kartosuro, jalan kereta api lewat agak ke selatan. “Beda sekali kereta api eksekutif di negeri ini dengan Tōkaidō Shinkansen Osaka Tokyo. Yah, inilah nasib menjadi rakyat di negara berkembang. Tapi tetap masih ada untungnya juga. Di negeri ini apa-apa masih murah. Di Jepang, rekan-rekan wartawati seperti dia, tidak mungkin bisa tinggal di apartemen semewah yang ia tinggali. Mereka tidak mungkin bisa terlalu sering makan malam di restoran jepang sekelas yang di Plaza Indonesia. Aku bisa. Tetapi inilah kereta api terbagus yang melayani rute Surakarta, Jakarta PP. Kapan di rute ini akan ada Shinkansen seperti yang menjalani rute kota-kota besar di Jepang?

“Mengapa pasangan Pak Sarmin, siapa namanya? Ibu Yuyun ya? Mengapa ia tidak datang? Tidak tahu ya? Padahal ini sudah yang ke tujuh bukan? Ke delapan? O, ya. Yang pertama Pak Sarmin keliru mendapat pasangan wanita yang PSK ya? O, begitu. Lalu baru yang kedua bisa ketemu Bu Yuyun. Dari mana ia? Ponorogo ya? O, pedagang beras. Pak Sarmin pernah ke sana? Ya, ya, sebelumnya pernah kontak telepon, kalau Jumat Pon minggu lalu ini akan datang. Pak Sarmin juga sudah menelepon HPnya melalui wartel. Tetapi tidak diangkat ya. O, tidak bunyi ya? Tetapi apa Pak Sarmin yakin bahwa kalau bisa ketemu Bu Yuyun sampai tujuh kali, biasanya dimana menginapnya? Di dekat sendang ya? Apakah kalau benar bisa ketemu sampai tujuh kali dagangan Pak Sarmin akan laris? Tidak yakin? Mengapa?”

Petugas restorasi menawarkan minuman dan nasi goreng. Makanan biasanya baru akan dibagikan setelah lewat Purwokerto. “Apa Pak Sarmin mau minum? Teh ya. Tolong minta teh manis satu, Coca Cola satu, ya pakai es. Masih kenyang kan Pak Sarmin? O, ya, sama. Saya juga masih sangat kenyang. Tapi nanti kita akan makan siang di kereta ini. Sebenarnya, saya minta jawaban jujur ya Pak Sarmin. Apakah Pak Sarmin percaya, bahwa kalau Jumat Pon kemarin bisa ketemu Ibu Yuyun, dagangan Pak Sarmin akan laris? Tidak juga? Mengapa ritual ini dijalani sampai delapan kali, dengan kedatangan pertama, dan ke delapan gagal? Tidak tahu ya? Setelah gagal kali ini, apakah Pak Sarmin masih akan datang lagi ke Gunung Kemukus? Tidak ya? Mengapa? Tidak terlalu yakin?

Kemarin ini bekalnya berapa? Tigaratus ribu ya? Modal untuk dagang sehari, ditambah tabungan? Istri bagaimana? Buruh mencuci ya? Coba ceritakan harapan Pak Sarmin, hingga terdorong untuk menjalani ritual ini. O, begitu ya. Padahal dulu pernah sangat laris baksonya? Ya mengapa kemudian  menurun? Mengapa tidak dilakukan seperti sebelum menikah dulu, dan kemudian malahan ke Gunung Kemukus? Dulunya ingin ke Pengging. Bagaimana kalau ke Pengging itu? Pengging Boyolali kan? Ya, ya, saya tahu. O, berendam dari tengah malam sampai subuh ya? Apa tidak dingin? Tidak ya? O, pernah mencoba dulu. Dimana? Di kali Oyo. Apa dekat dengan rumah? Jauh sekali ya? Boncengan sepeda motor dengan teman. Itu sudah di Jakarta atau sebelumnya. O, sebelumnya ya?

Jadi pertama-tama ada teman yang pernah ke Kemukus dan berhasil? O, bukan teman Pak Sarmin tetapi teman istri. Tetapi ke sananya tidak bareng ya? Ya, tetapi mengapa Pak Sarmin berani datang sendiri ke sana? Biasanya kan mereka yang sudah sukses, lalu membawa anggota baru, begitu seterusnya. Ya tidak apa-apalah. Tetapi, apakah sebenarnya Pak Sarmin benar-benar percaya kepada hal-hal seperti ini? Tidak percaya? Lalu mengapa tetap dijalani hal yang seperti ini? Hanya karena didorong oleh isteri? Tetapi bagaimana setelah berjalan sekian lama? Bu Yuyun itu baik sekali? Lo Pak Sarmin ini sebenarnya sedang menjalankan ritual, atau sedang janjian sama Bu Yuyun? O, dua-duanya ya?”

* * *

“Teh manis Pak ya, ibu tadi apa? O, Coca Cola. Adanya yang kaleng Ibu, yang botol tidak ada. Tidak apa-apa? Ya, ini Ibu, ini esnya. Semua ya? Sepuluh ribu Bu. Ya, terima kasih. Sarmin menyeruput teh manisnya. “Ibu, tiga hari saya hanya minum air Sendang Ontrowulan, karena duit saya habis. Sebenarnya masih Rp10.000,- Ibu, tetapi saya tidak berani otak-atik ini uang. Setelah ini Ibu, saya berjanji akan menabung paling sedikit Rp10.000,- setiap ada uang. Kalau saya kembali jualan bakso, saya akan tabung Rp10.000,- sokur bisa lebih banyak. Sebenarnya inilah yang dulu saya lakukan ketika masih bujangan Ibu, dan sudah terkumpul Rp11.000.000,- Ya, karena sebagian dipakai untuk mudik Bu. Rencananya waktu itu saya akan beli kios, dan gerobaknya akan dijalankan keponakan saya.”

“Mengapa tidak jadi Bu? Ya, saya kemudian menikah. Uang itu habis untuk biaya menikah, kontrak rumah, beli perabotan dan lain-lain. Dan sejak itu yang menabung Wati. Tetapi ternyata setiap kali selalu dia ambil. Di bank Ibu, saya selalu menabung di bank, di BRI. Saya memang juga mencoba sembunyi-sembunyi menabung. Suatu ketika ketahuan juga oleh istri saya, kemudian diambil semua, dan buyarlah uang itu. Sejak itu saya memang malas menabung. Sebenarnya beberapa kali saya ingin cerai dengan Wati, tetapi kasihan anak-anak. Mereka kan anak-anak saya Ibu. Saya takut kalau saya cerai, dan anak-anak itu ikut Wati, nanti akan dihajar untuk melampiaskan kemarahannya kepada saya. Aku takut sekali Ibu. Ya, itu memang kesalahan saya, tetapi mau apalagi?”

“Ya, saya salat lima waktu Ibu. Rutin, juga puasa. Wati tidak Bu, sudah saya minta, tetapi alasannya selalu ada saja. Apa Ibu? Ibu Kristen? Mengapa ibu yang Kristen mau menolong saya yang Islam? Dulu ketika masih bujangan dulu, langganan saya juga banyak yang Cina dan juga Kristen. Kalau sekarang habis Bu. Langganan saya lari semua, sebab bakso saya menjadi tidak enak. Saya tidak tahu bagaimana mengatasi Wati Ibu. Saya harus berani? Tidak boleh takut? Ya, memang benar ibu. Sebenarnya yang salah juga saya, karena saya kepala rumah tangga. Ya, Ibu. Sekarang ini ketika susah, yang susah juga saya sendiri. Untungnya anak-anak selalu sehat. Mereka sama sekali tidak pernah sakit Ibu. Yang pernah sakit malah Wati. Waktu itu saya memaksa dia menjual kalungnya untuk membeli obat.”

“Iya Ibu, malam itu saya Salat Tahajut, kemudian dzikir sampai pagi. Ya Ibu, sebenarnya lama-lama saya memang jatuh cinta juga sama bu Yuyun. Ya, dia lebih tua dari saya. Wati juga lebih tua dari saya. Ya, itulah Ibu. Sebenarnya dengan Wati itu, saya menikah secara tidak sengaja. Ketika saya pulang pas lebaran, Wati mengajak saya ke Baron. Pulang dari Baron sudah malam. Wati mengajak saya ke rumah uwaknya, rumah baru yang masih kosong. Ya, disitulah Ibu saya melakukannya pertamakali. Ya, namanya godaan Ibu. Saya tidak tahu. Lalu saya pulang ke Jakarta. Tiba-tiba teman yang punya HP menyampaikan pesan dari kampung, bahwa saya harus segera pulang. Saya mengira bapak atau simbok saya yang sakit, ternyata Wati hamil Ibu. Ya, saya tidak bisa apa-apa lagi.”

“Sebenarnya saya malu sekali menceritakan hal ini Ibu. Tetapi saya percaya kepada Ibu. Ya, dengan Yuyun, dia punya suami Ibu, suaminya petani biasa, anaknya empat. Katanya, dagangnya mundur, karena suaminya judi. Saya tidak terlalu tahu ibu. Saya memang pernah menyusul ke Ponorogo, kemudian kami berangkat bersama ke Kemukus, menginap dulu di Wonogiri. Tetapi waktu itu saya tidak ke rumahnya. Saya hanya ke pasar, tempatnya jualan. Jadi saya tidak tahu rumahnya, tidak tahu anak-anak dan suaminya. Tetapi saya percaya yang dikatakannya benar. Saya tidak tahu mengapa ia tidak datang. Dia memang masih lebih baik dari saya Ibu. Dia pakai kalung, pakai suweng, pakai gelang, punya HP, arlojinya juga bagus. Yang membayar penginapan, yang membayar makan juga dia.

Saya sebenarnya sangat takut Bu, jangan-jangan dia kecelakaan, atau mendapat musibah. Ya pasti tidak ada yang memberitahu saya. Sebab yang tahu saya kan hanya Ibu Yuyun sendiri. Ya, sebenarnya sama Juragan Badrun, yang dulu memperkenalkan saya dengan Ibu Yuyun. Tetapi Juragan Badrun kan tidak tahu alamat saya. Saya juga tidak punya HP Bu. Ya kalau nanti bakso saya makin laris, saya memang akan membeli HP. Ya, sebab sekarang ini HP kan sudah murah ya Bu? Ya Bu Yuyun kan katanya juga punya mobil, punya rumah bagus, ya yang jelas dia punya kios di pasar. Jadi jauhlah saya dengan Bu Yuyun itu. Saya bahkan sering membayangkan, jangan-jangan Nyai Ontrowulan itu ya seperti Bu Yuyun itu!” * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: