Wati

05/01/2015 at 12:05 (novel)

Sebenarnya aku ini harus menjadi istri guru, Mas Bagus. Sekarang ia sudah kepala sekolah, sudah Mantri Guru. Orang-orang akan memanggil aku dengan panggilan Bu Guru, dan kemudian Bu Mantri. Betapa membanggakannya. Bapak simbok hanyalah petani miskin. Aku anak tertua, adikku enam orang. Kalau aku menjadi istri guru, kan nasibku akan terangkat naik. Sebenarnya aku ingin juga ke Arab untuk jadi TKI, tetapi aku takut. Aku takut kalau di sana aku mati. Sebab katanya banyak TKI yang disana dianiaya dan mati. Sebenarnya rencananku untuk menggaet Mas Bagus, sudah sangat matang. Pertama-tama aku rayu Sarmin. Yang penting, aku bisa hamil. Lalu aku dekati Mas Bagusku itu. Juga berhasil. Tetapi salahku, selang waktunya memang agak banyak. Ketika aku menuntut Mas Bagus untuk menikahiku, dia sélak.

Bodohnya aku ini. Baru seminggu tidur dengan Mas Bagus, aku sudah bilang sama simbok dan sama bapak, tentang kehamilanku. Dan bodohnya aku, aku bilang bahwa sudah sebulan lebih aku hamil. Dan di kampung itu, kabar ketika aku ke Baron dengan Sarmin juga sudah sampai kemana-mana. “Kamu jangan mempermalukan orang tua Wati, siapa sebenarnya yang telah menghamilimu? Mas Bagus atau Sarmin?” Terpaksalah aku mengaku, hingga akhirnya aku tidak jadi menjadi Ibu Guru, Ibu Bagus, tetapi menjadi istri tukang bakso yang miskin. Menjadi Mak Sarmin. Tetapi untuk memperbaiki nasib, caranya banyak. Aku harus bisa menunjukkan kepada Mas Bagus, bahwa Sarmin juga bisa kaya. Seperti Boss Ridwan, yang bisa membeli mobil, punya angkot dan gerobak baksonya puluhan.

Tetapi dasar suamiku itu memang lembek. Juga goblok. Dagang kok maunya jujur dan baik. Yang namanya ustad saja sekarang juga komersial, kok dagang maunya sosial. Tetapi suamiku itu juga keras kepala. Sudah lama aku minta ia mencari srono. Coba lihat itu Mas Woto. Dulunya ia juga hanya memikul angkring bakso keliling komplek perumahan, lama-lama bisa beli gerobak. Sekarang sudah punya kios dan gerobaknya ada enam. Dia punya sepeda motor, punya pickup. Kok bisa? Karena dia menurut sama istri. Dia mencari srono entah ke mana, tetapi memang anak sulungnya mati, katanya untuk tumbal. Tetapi mbèl! Mana ada tumbal-tumbal seperti itu. Anaknya mati ya jelas muntaber, kalau tidak demam berdarah. Orang-orang itu memang sok usil.

Mbakyu Gemi itu juga hebat. Hanya dengan kungkum di Kali Oya tujuh malam saja, dagangan jamunya laris sekali. Sekarang dia hanya thenguk-thenguk di rumah menghitung uang. Salesnya sekarang ada belasan. Ya memang bagi hasil, tetapi sekarang yang punya modal kan dia. Yang menggendong tenggok jamu atau ngontel sepeda orang lain. Kalau saja Sarmin mau kungkum di Kali Oya seperti Mbakyu Gemi. Katanya dulu waktu masih bujangan dia juga pernah diajak temannya kungkum disana. Mengapa sekarang tidak mau melanjutkan? Aku tidak percaya. Orang seperti suamiku ini, pasti tidak seberani Yu Gemi. Dengan aku saja dia takut, kok mau kungkum. Paling datang ke kedung sendirian pun dia tidak berani, apalagi sampai kungkum.

Entah ada apa kok tiba-tiba dia mau ke Kemukus. Padahal dari dulu aku juga sudah memintanya. Aku tidak akan cemburu Sarmin! Ini kan untuk saya juga, untuk anak-anak juga, dan terutama, kalau kita bisa kaya, kalau pulang ke kampung membawa mobil sendiri, akan aku tunjukkan ke Mas Bagus itu, bahwa Sarmin juga bisa kaya. Sarmin juga lebih hebat dari seorang guru kampung. Ya, sampeyan sekarang sudah Mantri Guru ya? Anak buahmu paling banyak kan enam. Aku akan minta Sarmin untuk membuat 10 gerobak, hingga anak buahnya bisa 10 orang. Aku memang memendam dendam yang kuat. Aku pernah kamu sakiti Bagus! Aku akan selalu nyenyuwun, agar suamiku bisa lebih hebat dari kamu. Tetapi dasar Sarmin yang tolol.

Meskipun sebenarnya, yang tolol itu ya aku ini ya? Sudah tahu Sarmin tolol seperti itu, kok ya saya ini mau jadi istrinya to? Sebenarnya kan bisa saja saya ini tidak menikah dengan Sarmin? Tetapi kata simbok, kalau pilih-pilih itu, katanya nanti keburu menjadi perawan tua, lalu seumur hidup tidak dapat jodoh. Lalu aku tidak punya anak, lalu kalau tua nanti mau bagaimana? Ya, kalau sudah tua dan jompo, dan tidak punya anak, tidak punya cucu, lalu bagaimana ya? Tetapi Den Broto itu, kan anaknya banyak, cucunya puluhan, tetapi hari tuanya juga menderita. Anak-anaknya, menantu-menantunya, cucu-cucunya, semuanya sibuk sendiri-sendiri. Apa tidak kualat ya mereka itu nantinya? Orang tua sebaik Den Broto kok disia-siakan begitu.

* * *

Aku heran pada Sarmin. Yang dia salahkan kok selalu istrinya. Padahal yang goblok ya dia sendiri. Kamu tahu Min, ketika mengucek dan menyikat cucian itu, aku sering nangis sendiri. Aku mbrebes mili Min. Harusnya yang aku cuci itu kan bajunya Mas Bagus. Sekarang kok bajunya Bang Togar, BHnya Mbak Nova, celana dalamnya Oom Lontoh. Oh, Gusti Allah yang Moho Adil, mengapa Mas Bagus menolak cintaku, menolak tubuhku? Mas Bagus, mengapa kamu lebih memilih Tarmi yang kerempeng dari Karangwuni? Kamu juga tahu kalau dia sudah tidak perawan kan Mas Bagus? Mengapa tidak memilih aku saja yang lebih montok, lebih berisi, kalau sama-sama sudah tidak perawan? Kamu sebenarnya juga sama bodohnya dengan Sarmin, padahal kamu kan pernah kuliah? Apa kamu kena peletnya Tarmi?

Mas Bagus, aku tidak hanya mencuci pakaianmu untuk membantu Sarmin. Berapakah upah tukang cuci? Aku juga harus bisa menangkap peluang untuk menjadi kaya dengan cepat. Aku rajin membeli Togel, Mas Bagus. Kalau aku nembus dan dapat 10 juta, aku akan beli mesin cuci. Aku akan cuci bajumu. Oh ya, itu bukan bajumu. Itu baju Oom Lontoh, baju Bang Togar. Tapi tidak apa-apa, aku selalu membayangkan yang kucuci itu bajumu. Lalu aku akan masak untukmu. Bukan untuk Sarmin. Dia sudah makan entah di mana, entah makan apa. Aku tetap istrimu lo Mas Bagus. Kalau nanti Togelku tembus, aku juga akan cari orang pintar, agar Tarmimu itu matèk, lalu aku akan minta cerai dari Sarmin, dan kita akan menikah. Kita akan ke KUA, lalu nanggap campursari. Mau kan Mas Bagus?

Prèk! Kalian kalau tidak mau makan tempe ya sana nyusul bapakmu sana  minta bakso. Atau nanti saja makannya kalau bapakmu pulang, siapa tahu membawa ayam kèntaki. Kalau mau ya tempe, kalau tidak mau ya lapar situ. Anak sekarang memang lain dengan anak dulu. Padahal makmu ini, dulu hanya makan tiwul, hanya tiwul. Kamu ini sudah ada nasi kok masih banyak tingkah. Nanti kalau otakku ini sudah buntu, akan kubeli baigon lalu kuminum segelas, dan kamu tidak punya emak lagi. Suruh kawin lagi sana bapakmu itu, biar kamu punya mak tiri yang galak. Biar kalian direbus di panci besar. Ya sudah, kalau hanya mau makan dengan kecap dan kerupuk ya terserah. Aku males kalau harus belanja, males aku kalau harus masak lagi, aku juga makan sama tempe itu, bukan sama dèndèng.

Lama-lama aku akan darah tinggi kalau harus ngurusi anak-anaknya Sarmin yang bandelnya minta ampun. Coba kalau aku masih ramping, masih ayu, aku bisa jadi TKI ke Arab, ke Malaysia, aku akan kaya. Pulang-pulang aku akan bawa mobil. Kalian akan aku ajak keliling ke Monas, ke Ancol, lalu makan ayam kèntaki, minum dawet ayu. Tapi aku juga takut, kalau nanti di sana dicambuk, disetrika, lebih baik aku menyetrika bajunya Mas Bagus. Ya baju siapa saja pokoknya kuanggap semua bajunya Mas Bagus. Kamu kok cerewet amat, tanya-tanya Mas Bagus itu siapa. Mas Bagus itu dulu ya pacarnya emak. Coba kalau bapakmu itu bukan Sarmin tapi Mas Bagus, tiap hari kamu akan makan ayam kèntaki, bukan tempe. Makanya kamu nanti  harus sekolah Nduk, kalian harus pinter, harus kuliah di Gajahmodo sana.

Sekarang bajuku juga sudah kekecilan semua. Mengapa badanku melar begini? Padahal aku tidak makan apa-apa, aku tidak makan banyak, mengapa jadi begini? Ya, kalau simbok memang senang sekali kalau anaknya gemuk. Katanya sekarang sudah mulyo. Mulyo apanya Mbok? Suaminya tukang bakso, kerjanya nyuci baju orang. Ya memang masih lebih enteng dari pada nggendong gaplek ke pasar Mbok. Tetapi sebenarnya aku kan bisa enak-enak mencuci bajunya Mas Bagus, masak opor untuk Mas Bagus. Tapi memang Gusti Alah itu tidak adil. Dari dulu kok ya tidak ada yang nembus nomerku. Nembus sekali hanya beli Rp5.000 coba kalau waktu itu bisa ngebom Rp100.000 pasti langsung kaya aku ini. Aku akan bisa beli baju selusin, hingga baju-baju yang kekecilan itu bisa kuloakkan.

Tetapi Pak Ustad itu kok bilangnya beli togel tidak boleh ya? Apa togel itu judi to? Ya tidak kan sebenarnya? Togel itu kan bisa membuat orang menjadi kaya? Ya kalau Pak Ustad itu, ngomongnya memang bisa enak saja karena sedikit-sedikit diundang, dia terima amplop, sedikit-sedikit pergi, terima amplop. La kalau saya ini? Terima uang kan kalau sudah mengucek baju, menjemurnya, dan menyeterikanya. Kalau tidak begitu ya tidak terima uang. Maka Togel itu menjadi satu-satunya harapanku. Kok enak saja Ustad itu bilangnya Togel sama dengan iblis. Memangnya dia pernah beli Togel apa? Memangnya dia pernah melihat iblis apa? Sekarang ini orang-orang sudah semakin ngawur ngomongnya.

* * *

Dari dulu aku kan sudah bilang, carilah srono. Tetapi kamu memang bodoh dan tidak cekatan. Kalau dari dulu kamu sudah punya srono, sekarang kita sudah kaya Min. Sudah kaya. Hingga nasibku tidak mengenaskan seperti sekarang ini. Srono itu penting, apa pun bentuknya. Bahkan kamu puasa Senin Kamis pun, sebenarnya juga sudah merupakan srono. Tetapi kamu tidak pernah mau. Dulu aku menganggap kamu tukang bakso yang sukses. Daganganmu laris, tabunganmu banyak, aku pikir kamu sudah punya srono. Ternyata polos. Usaha yang polos itu lemah Min. Memang, benar katamu, semuanya dari Allah. Tetapi setan itu kan juga ciptaan Allah. Allah menciptakan setan itu kan untuk dimanfaatkan manusia. Bukan sebaliknya, manusia seperti kamu itu yang dimanfaatkan setan.

Memang kadang kepikiran, aku ingin minta cerai saja. Tetapi cerai dalam keadaan kéré seperti ini, hanya akan jadi cibiran kiri kanan. Lain kalau aku minta cerai ketika Sarmin sedang jaya, maka orang tidak akan mencibir. Apalagi kalau alasanku, karena Sarmin punya selingkuhan, maka semua orang akan berpihak padaku. Maka nantilah, kalau masa kejayaan itu akan datang, dan kamu tergoda pada seseorang, aku akan segera menggugat cerai. Sebenarnya, sekarang ini aku sudah tidak tahan lagi mendampingimu. Tetapi kalau cerai, aku juga harus menghidupi anak-anak. Kamu pasti tidak akan mau membawa anak-anakmu. Akan kamu kasih makan apa mereka? Bakso basi setiap hari? Mereka akan sakit perut. Tetapi anak-anak kurangajar seperti itu memang sudah pas kalau sakit perut.

Sebenarnya aku juga ingin mencoba dagang. Tetapi kata anak-anak itu, apa pun daganganku tidak akan laku. Kata mereka karena aku galak, maka orang-orang tidak akan mau membeli. Apa benar? Anak-anak itu memang keterlaluan, sama emaknya sendiri kok seperti itu. Padahal aku kalau menghajar mereka sampai sakit tanganku ini. Memang dasar anak-anak tidak tahu diuntung. Kalau dengan emaknya saja seperti itu, mau jadi apa mereka nantinya. Memang, mereka adalah darah dagingku sendiri. Tetapi kalau darah tinggiku sudah kumat, inginnya memang melabrak mereka. Habis, siapa lagi yang bisa kulabrak? Kalau saja Sarmin ada, pasti dia yang kena labrak. Kalau saja aku punya pembantu seperti orang-orang kaya itu, pasti pembantu yang saya labrak.

Kalau sudah pusing, aku suka minum apa saja. Bodrek, Panadol, Paramex, Puyer Cap Macan, Bintang Toejoe, semua saya minum. Kalau satu tidak mempan, dua, dua tidak mempan tiga, tiga kurang lima sekalian. Pokoknya pusing ini segera hilang. Sarmin suka ngomel-ngomel kalau melihat aku minum obat. Tetapi sumber pusingku ini kan dia. Harusnya dia jadi kaya, maka pusingku akan hilang. Kata suamiku bodoh itu, kalau banyak-banyak minum obat seperti ini, katanya ginjalnya bisa rusak. Ginjal kok rusak? Ginjal kok disamakan dengan radio, dengan setrikaan listrik. Ginjal itu bisanya sakit Min, bukan rusak. Dasar mulutmu sendiri itu yang sudah rusak. Istri kok diharap-harapkan ginjalnya rusak. Yang bikin obat itu kan orang-orang pinter. Buktinya, begitu ditenggak, pusing itu langsung hilang.

Lalu kalau tidak menenggak obat, harus bagaimana lagi coba? Pagi-pagi aku harus mengambil cucian sudah pusing. Kalau seperti Oom Lontoh itu, memang pembantunya yang disuruh ngantar. Aku juga heran lo, ada pembantu kok disayang-sayang seperti itu. Harusnya kan dia yang nyuci. Mungkin sebenarnya dia pembantu komplit. Ya pembantu, ya diajak tidur. Tapi yang untung ya aku. Cucian lalu jatuh ke tanganku. Kalau aku pusing, harusnya Sarmin itu memijit-mijit kepalaku ini. Tetapi dia jualan ya? Memang aku harus terus minum obat. Kalau pusingnya datang tiap hari, ya harus tiap hari minum obat. Mungkin kalau suatu ketika aku dapat nomor bagus dan nembus, aku akan buka kios rokok, minuman dan obat-obat pusing. Jadi kalau pusingku kumat, tidak perlu lagi lari-lari ke warung.

Tapi aku pernah mendamprat si Kosim. Dia itu kerjanya kan tak karuan, ya ngamen, ya jadi gento, ya entah apa sajalah. Nah, supaya berani dan tampak galak, dia lalu minum pil. Katanya kalau minum pil itu, rasa takutnya hilang, lalu kekuatan dan keberanian berlipat-lipat. La kok aku ini pernah mau dikasih segepok begitu. Ini Mbaké, kalau mau nyuci minum ini dulu, nanti kan cepat kerjanya dan tidak capek. Minum ndasmu itu, minum ndasmu itu pecah. Itu kan narkoba kan? Kalau konangan polisi mampus kamu Sim. Kalau minum itu terus, sarapnya juga rusak kan? Nah kalau  minum narkoba sarapnya rusak, itu memang benar. Bukan seperti ilmunya Sarmin itu. Istrinya minum obat pusing kok dibilangnya ginjalnya akan rusak. Min, Min! * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: