Rumah Sarmin

12/01/2015 at 15:19 (novel)

Rumah bapak dan simbok Sarmin terletak di desa Pucanganom, Gunung Kidul, Yogyakarta. Rumah itu berdinding gedek, beratap genteng murahan, dan berlantai tanah. Meskipun sangat sederhana, rumah itu cukup luas, dengan pekarangan yang juga luas. Di samping kiri, kanan, depan, dan belakang rumah itu, masih ada tanah tersisa, yang ditanami singkong, pisang, temulawak, lamtoro, nangka, dan macam-macam. Rumah itu menghadap ke jalan desa. Rumah para tetangga, berbentuk sama, dengan bahan bangunan yang juga sama. Disitulah Sarmin lahir dengan bantuan bidan desa, dan kemudian tumbuh menjadi besar bersama dengan kambing, sapi, ayam, entok, burung prenjak, tikus, cicak, lalat, nyamuk, laba-laba, kelabang, dan kalajengking.

Sarmin merasa dirinya terbuat dari singkong. Tepatnya dari tiwul dan gatot. Dia merasa darahnya, dagingnya, tulang-tulangnya, jantungnya, ginjalnya, otaknya, semua terbuat dari singkong. Singkong memang dicampur sedikit jagung, kadang sedikit beras, lalu dimakan dengan tempe, ikan asin, cabai, garam, terasi, bawang putih, kadang kalau ada selamatan, maka ada pula ayam dan daging sapi. Tapi itu jarang sekali. Sarmin merasa bahwa dirinya adalah saripati singkong. Singkong segar itu dicabut pada bulan Juli yang panas, dikupas, dijemur sampai kering dan menjadi gaplek. Pada musim paceklik, gaplek ini ditumbuk, diayak, diberi sedikit air, digumpalkan, diremahkan, lalu dikukus menjadi tiwul. Tiwul itulah yang kemudian menjadi darah dan dagingnya, juga menjadi otak di kepalanya.

Kalau singkong yang telah dikupas itu hanya dijemur sebentar, disekap dalam tenggok bambu sampai berjamur menghitam, baru kemudian dijemur lagi sampai kering. Itulah gatot. Kalau akan dimakan, gatot kering itu harus direndam semalaman, dicuci, diremas-remas, baru kemudian dikukus sampai masak. “Gatot itu enak ya Mbok, kenyil-kenyil, dan di perut dingin, tidak panas seperti tiwul.” Simboknya biasanya hanya diam kalau Sarmin mengatakan hal itu. Kalau berkali-kali Sarmin terus mengucapkan kalimat-kalimat tadi dengan berbagai variasinya, simboknya akan segera menukas. “Jangan banyak bacot, cepat dihabiskan, lalu mencari rumput untuk kambing. Kasihan nanti kalau kambing itu keburu teriak-teriak mbak-mbèk terus karena lapar.” Sarmin lalu buru-buru menghabiskan gatotnya.

Sarmin sadar, bahwa otak yang terbuat dari gaplek dan gatot, tidak mungkin bisa menjadi profesor, jenderal, bupati, direktur, apalagi presiden. Maka ia sangat berbahagia ketika diajak pakliknya untuk ke Jakarta, dan membantunya mendorong gerobak bakso. “Min-min, bapak dan embokmu kan tidak mungkin membiayai kamu sekolah sampai SMA. Sudahlah, SMP saja cukup, lalu kamu ikut saya ke Jakarta, membantu jualan bakso.” Ingin rasanya Sarmin bersorak gembira. “Ke Jakarta? Yang ada tugu Monasnya itu? Yang ada Taman Mininya? Yang ada Ancolnya? Ada istananya Pak Presiden itu? Baik hati benar Paklik ini, hingga mau mengajak saya ke Jakarta!” Sejak itulah Sarmin meninggalkan kampung halaman di Gunung Kidul sana, dan tinggal di Jakarta, jualan bakso.

Di Jakarta ternyata tidak ada sapi, dan tidak ada kambing. Memang ada pohon pisang, tapi hanya beberapa rumpun. Ada pohon jambu air, tetapi tidak pernah ada buahnya. Apakah di Jakarta juga ada kelabang, ada kalajengking? Mungkin ada juga. Yang jelas ada ya cicak, tikus got, lalat dan nyamuknya banyak sekali. Di kampungnya dulu memang juga ada coro, tetapi kecil-kecil dan sedikit. Di Jakarta, coro itu besar-besar dan banyak sekali. Orang-orang Jakarta menyebutnya kecoak. Meskipun Pakliknya tinggal di rumah kotak, yang orang-orang menyebutnya rumah petak, tetapi Sarmin senang. Di situ ada televisi kecil, ada radio, dan ketika dia mendorong gerobak bakso, maka ia bisa melihat rumah yang bagus-bagus, tanaman yang indah-indah, dan orang-orang yang penampilannya seperti di televisi itu.

Orang-orang itu, yang laki-laki gagah dan ganteng. Perempuannya cantik-cantik, putih-putih. Tetapi Sarmin tidak berani kurangajar. Ya aku ini kan hanya orang Pucanganom yang bisa di Jakarya saja sudah harus bersukur pada Allah. Jakarta itu kan tempatnya orang-orang gagah dan orang-orang cantik itu. Aku ini badanku ini, otakku ini, kan hanya terbuat dari tiwul, dari parutan singkong. La orang-orang itu kecilnya makan apa ya? Apakah aku ini, suatu ketika bisa mendapat istri, atau paling tidak bisa berkesempatan tidur, dengan orang yang putih-putih dan cantik-cantik seperti itu ya? Tetapi mereka itu kan kaya-kaya, sementara aku ini, Paklikku, dan juga tukang-tukang bakso lainnya, miskin-miskin.

* * *

Sarmin jelas kerasan di Jakarta. Sebab dia tinggal bersama Pakliknya, Kang Surat, dan Saidi, prunannya Kang Surat. Mereka semua tinggal di deretan rumah petak kontrakan, yang terdiri dari tujuh pintu. Pakliknya menyewa satu pintu, patungan dengan Kang Surat, yang sudah beberapa bulan lalu membawa Saidi. Pintu-pintu lain di rumah petak itu, juga dihuni orang Jawa, kecuali pintu paling ujung yang dihuni orang Batak. Di sekitar rumah petak itu, juga masih banyak rumah kontrakan, yang sebagian besar juga dihuni orang Jawa, dan banyak di antaranya yang dari Gunung Kidul. “Kok seperti di kampung saja ya Pak Lik?” Komentar Sarmin ketika tahu tetangga-tetangganya hampir semua Jawa, dan sebagian besar dari mereka berasal dari Gunung Kidul.

Ada satu hal lagi yang sangat menggembirakan Sarmin. Sekarang setiap hari ia bisa mencium aroma daging sapi. Di kampungnya, dalam setahun, hanya beberapa kali ia bisa mencium aroma daging seperti ini. Ketika ada orang hajatan, atau lebaran. Tetapi, ketika Lebaran, yang lebih sering tercium adalah aroma opor ayam. Aroma daging sapi seperti ini, dipadu dengan aroma bawang putih, merica, bawang merah goreng, dan tangkai serta daun seledri yang dipotong kecil-kecil, lalu ditaburkan di kuah daging sapi, itulah yang selalu dirindukannya. Di kampungnya dulu, kalau mencium aroma seperti ini, kemudian menyeruputnya panas-panas, Sarmin merasa seluruh tubuhnya seperti sedang terangkat ke langit. “Ketika menyeruput kuah sop, atau kuah bakso, nyawaku seperti tersedot keluar, lalu aku melayang jauh sekali di langit tujuh.”

Selama sebulan sampai dengan tiga bulan di Jakarta, Sarmin sangat menikmati aroma daging sapi ini. Pagi-pagi sekali ia sudah harus ikut Pakliknya ke pasar. Di sini mereka membeli daging sapi segar, tepung tapioka, bawang putih, dan lain-lain bahan untuk bakso. Sarmin baru tahu kalau yang disebut tepung tapioka itu pati singkong. Lo, jebulnya bakso itu sama dengan tiwul to? Sama-sama terbuat dari singkong to? Daging dan tepung tapioka itu lalu dibawa ke tukang giling. Setelah digiling, jadilah adonan yang liat dan lengket. Sesampai di rumah kontrakan, mereka merebus air sampai mendidih. Adonan daging dan tepung itu lalu mereka bentuk bulat-bulat, kemudian dimasukkan ke dalam air mendidih. Seketika adonan yang telah dibentuk membulat itu akan melayang di air mendidih, dan jadilah bakso.

Sarmin sangat menikmati proses ini. Setelah beberapa bulan di Jakarta, Sarmin minta ijin ke Pakliknya untuk merokok. “Ya boleh saja kamu merokok, tapi jangan banyak-banyak.” Sarmin benar-benar menikmati rokok pada pagi buta, ketika dia dan Paklik itu harus berangkat ke pasar, dengan berjalan kaki, lalu disambung naik angkot. “Dalam udara dingin seperti ini, melihat Paklik menyedot keretek, tampak sangat nikmat.” Tetapi ketika Sarmin mencoba meniru Pakliknya itu, ia batuk-batuk. Rokok ternyata pahit dan membuatnya batuk-batuk. Tetapi lama-lama ia kebal juga. Hingga tiap berangkat ke pasar, Sarmin selalu menyelipkan rokok di pinggiran bibirnya, sambil menenteng ember plastik. Setelah hampir setahun mencium aroma daging sapi, caisim, seledri, merica, bawang goreng, maka hidungnya menjadi kebal. Dia lalu merindukan aroma tiwul, rumput, tahi sapi, dan tahi kambing.

Sarmin juga mulai bosan dengan aroma rokok keretek. Ia mulai ingat aroma tembakau semprul yang dilinting dengan kertas koran, dan selalu dirokok oleh Mbah Bejo di kampungnya sana. Ya, kalau tercium aroma tembakau semprul yang sengak itu, di sekitar situ pasti ada Mbah Bejo. Tetapi sekarang yang tercium hanyalah keretek. Rajangan tembakau, yang dicampur dengan cengkeh, dan diberi saus macam-macam. “Paklik, kita akan pulang kampung hari ke berapa bulan puasa?” Pakliknya menjawab. “Sekitar seminggu sebelum Lebaran, kita sudah harus ada di kampung.” Sarmin juga mulai merindukan tiwul, merindukan gatot, merindukan tempe lamtoro, dan tempe benguk yang dibacem, lalu digoreng setengah mateng. “Simbok, aku sudah mau pulang kampung Lo!

Lebaran adalah ritual paling penting bagi warga Gunung Kidul. Wong Gunung Kidul itu, sekarang lebih banyak hidup di perantauan daripada di kampungnya. Lalu Lebaran dijadikan waktu yang tepat untuk kumpul-kumpul. Setelah lebaran, mereka akan kembali meninggalkan kampung, sambil membawa anak-anak yang sudah tidak sekolah, untuk dididik kerja di Jakarta, di Bandung, di Semarang, di Surabaya, bahkan di mana saja. Pokoknya kalau ada bakso dan jamu, maka penjualnya pasti dari Gunung Kidul, atau dari Wonogiri. Di Banda Aceh, di Pontianak, di Tarakan, di Manado, di Ende, di Ternate, di Merauke, kalau sudah ada bakso, pasti ada orang Gunung Kidul.

* * *

Setelah tabungannya cukup, Sarmin diminta Pakliknya untuk mandiri. “Min, kamu sekarang harus jalan sendiri. Kamu beli angkring dulu, hingga bisa jual bakso pikulan. Kalau uangmu sudah cukup, pikulan diganti gerobak, hingga kamu tidak capek memikul. Nanti kalau uangnya lebih banyak lagi, beli kios, hingga tidak capek keluyuran mendorong gerobak. Tapi kamu harus gemi. Jangan boros. Rajin menabung.” Sarmin patuh pada titah Pakliknya. “Min, membuat bakso itu harus dengan hati. Bukan dengan tangan. Mengapa orang-orang itu ada yang sampai puasa Senin Kemis, mutih, kungkum di kali Oya, mengapa Min? Apa supaya dagangan mereka laris? Tidak Min, mereka melakukan semua itu, agar hatinya terbuka, dan kemudian bisa membuat bakso dengan hati, bukan dengan tangan. Tahu Min?”

“Tidak Paklik, bikin bakso kok dengan hati. Ya susah to Paklik. Yang penting aku beli daging, beli tapioka, beli bawang, beli merica, beli caisim, beli kecap, beli saus, beli mi, beli mecin, lalu menggiling daging, membentuknya jadi bulatan bakso, mencemplungkannya di air mendidih, merebus tulang dengan sumsumnya untuk kuah bakso, menggoreng bawang merah, mengiris seledri hingga jadi potongan kecil-kecil, menggiling cabai hingga jadi sambal. Sudah, lalu aku harus memikul angkring ini seanggun mungkin. Bukankah hanya itu saja sudah cukup Paklik? O, yang terakhir itu ya yang paling menentukan? Memikul dengan perasaan? Menciduk kuah dengan perasaan? Menaburkan bawang goreng dan seledri dengan perasaan? Kok semuanya harus dengan perasaan Paklik?”

Ketika Sarmin telah menikah dengan Wati, perasaan ringan itu hilang. Padahal, sekarang ia bukan memikul lagi, melainkan mendorong gerobak. Memikul tentu lebih berat dari mendorong bukan? Tetapi dulu, ketika masih memikul itu, mengapa rasanya lebih ringan? Dulu ketika menciduk kuah dan menuangkannya ke dalam mangkok, mengapa lebih ringan hati ini? Mengapa sekarang menjadi sangat berat Paklik? O, Paklik. Aku tidak mengira kalau kamu akan pergi secepat itu. Sakit apa kamu Paklik? Kamu tidak sempat melihat aku menikah, punya gerobak sendiri, tetapi kamu juga tidak bisa lagi membantuku, meringankan beban pikiran yang sangat berat ini. Aku merasa beban hidup ini menjadi sangat berat Paklik. Padahal, kontrakan rumahku, sekarang lebih luas dari kontrakan kita dulu.

Paklik, ketika aku sedang mendorong gerobak bakso, pikiranku sering melayang sampai ke jalan-jalan desa di Pucanganom sana. Mengapa ya Paklik? Ketika sedang tidur malam hari, lalu anak-anak itu nglilir, aku seperti sedang mendengar ada anak-anak kambing yang juga nglilir dan minta menyusu pada babon kambing. Ketika anak-anak itu ngompol Paklik, aku seperti sedang mendengar ada kambing atau sapi yang kencing di kandangnya? Apakah aku sebaiknya pulang kampung saja dan mencangkul, ya Paklik? Sayang sekali, aku sudah tidak bisa minta petunjuk darimu Paklik. Aku sebenarnya ingin minta pendapatmu tentang Wati Istriku. Berkali-kali dia memaksaku untuk mencari srono. Padahal Paklik kan selalu bilang bahwa hati kita itulah srono untuk jualan.

Paklik, ketika berhadapan dengan Wati, mengapa aku jadi seperti kambing atau sapi itu. Leherku seperti diikat, lalu aku menurut saja disuruh menarik bajak, disuruh menarik gerobak, disuruh makan rumput. Mengapa aku jadi kambing, jadi sapi, dan bukan jadi manusia Paklik. Aku sekarang ini dipaksa untuk berangkat ke Gunung Kemukus. Apakah srono Gunung Kemukus ini memang benar bisa membuka hati, atau justru membuntukan hati dan pikiran Paklik? Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Apalagi membuka hati. Sekarang ini aku malah mulai bertanya-tanya Paklik. Apakah sebenarnya aku ini masih punya hati? Atau hanya punya otot? Aku sedih Paklik. Kalau aku hanya punya otot, berarti sama dengan kambing dan sapi itu, yang hanya harus makan rumput serta daun-daun, dan nantinya harus disembelih.

Tetapi Paklik kan sudah tidak ada ya? Ya memang badannya sudah tidak ada. Tetapi aku yakin, Roh Paklik itu masih akan tetap ada, dan membimbing saya, dan menjaga saya, dan pasti juga tidak akan tega kalau melihat saya dan Wati, dan anak-anak saya, hidup susah. Paklik itu kan orang baik. Rohnya pasti ada di Surga sana, dan dari sana ia akan bisa melihat saya, lalu akan berusaha untuk meluruskan jalan saya, kalau jalan saya ini bengkok-bengkok. Dulu ketika baru belajar mendorong gerobak bakso, Paklik sering membentak-bentak saya. Min, ndorong gerobak bakso itu ya jangan seperti mendorong gledekan begitu. Perhatiannya harus ke gerobak itu. Bukan mata ke mana-mana melihat macam-macam. * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: