Kartien

19/01/2015 at 14:06 (novel)

Namanya Kartinah. Tetapi ketika dia terjeblos sebagai Pekerja Seks Komersial di Jakarta, maminya mengatakan, bahwa nama Kartinah tidak akan komersial. “Sejak sekarang kamu akan aku panggil Kartin, atau cukup Tin begitu saja. Supaya lebih komersial, nulis namanya jangan hanya Tin, tetapi Tien. Jadi sejak hari ini, namamu bukan lagi Kartinah, tetapi Kartien. Dengarkan ya genduk-genduk semua, mulai sekarang, kalian harus memanggil Kartinah ini dengan nama Kartien. Jangan Tinah ya? Kartien, kamu harus belajar bagaimana melayani tamu. Sekarang kamu bukan lagi Kartinah, gadis Donorojo di Wonogiri sana. Sekarang kamu Kartien, yang harus siap setiap saat melayani laki-laki. Paham kamu Tien? Paham yo Genduk Yo? Hidup ini memang berat, tetapi tetap harus dijalani dengan ringan.

Sejak itulah Kartinah hilang. Yang ada Kartien. Gadis desa yang lugu itu juga ikut hilang. Yang tinggal adalah perempuan yang siap untuk merayu laki-laki yang masuk ke dalam perangkapnya. “Tetapi Mami, mengapa laki-laki itu datang banyak sekali? Aku tidak mungkin mampu melayani laki-laki sebanyak itu. Bahkan semua anak-anak mami juga tidak akan mampu. Perempuan seluruh komplek ini juga tidak akan sanggup Mami! Apakah kami semua harus lari Mami?” Mami itu tertegun. “Genduk, itu bukan laki-laki yang mau mencari hiburan. Itu laki-laki yang marah genduk. Mereka itu orang-orang yang mengaku diri mereka suci, dan berniat membasmi kita-kita ini yang berlepotan dosa. Lebih baik kita mengalah genduk. Jangan melawan mereka. Menunduklah kalau mereka menatap kalian.”

Kawanan laki-laki itu lalu mengobrak-abrik apa saja. Kartien takut sekali. Dia segera mengemasi barang-barangnya yang memang tidak banyak, lalu pergi. “Mami, aku kabur ya Mi? Mami juga akan kabur? Tidak? Bagaimana kalau orang-orang itu membunuh Mami. Sokurlah kalau Mami bisa mengatasi mereka. Kalau aku takut sekali Mi, aku lebih baik pulang kampung, atau pindah ke lain tempat yang lebih aman, yang laki-lakinya tidak segarang di Jakarta ini. Apakah ini karena Jakarta, atau karena apa Mami? Mami juga tidak tahu. Baiklah Mami, aku akan naik bus ke Jawa Tengah. Entah sampai mana aku tidak tahu. Aku akan SMS Susy, apakah aku boleh ikut dia mencari uang di Semarang? Kalau boleh aku akan di Semarang saja. Sebab di kampung aku juga tidak tahu harus kerja apa.”

Di Semarang, Kartien menemui Susy. “Apakah di sini masih ada tempat Sus? Apakah Mamimu baik? Apakah di sini aman? Aku hampir saja menjadi korban Sus. Kalau saja aku tidak cepat kabur, barangkali sudah diseret oleh orang-orang kalap itu, disiram bensin lalu dibakar bersama dengan bèdèng-bèdèng itu. Aku takut sekali Sus. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana? Apakah lebaran kemarin ini kamu pulang kampung? Aku tidak mungkin mudik Sus. Aku tidak punya uang. Jakarta sekarang sangat sepi. Aku tidak tahu ke manakah perginya orang-orang itu? Apakah sejak sering diserbu, orang-orang itu lalu bertobat, dan takut datang ke kami. Mereka takut kepada Allah, atau kepada amukan pentungan? Mudah-mudahan mereka benar-benar takut kepada Allah, bukan sekadar kepada manusia.

Di Semarang ini modelnya lain ya Sus? Kita harus tinggal di kamar ini, melayani tamu di kamar ini, lalu kita membayar bulanan pada mami, dan mami tidak mau tahu apa kita ada tamu atau tidak. Di Jakarta kan lain Sus. Di sana kita kost atau kontrak rumah petak. Lalu tiap hari kita datang ke bar, lokasi, atau panti. Tamulah yang harus bayar kamar, sementara urusan kontrak dan kost, kita masing-masing. Sama-sama ada enaknya, dan ada tidak enaknya. Tetapi kamu jangan manggil-manggil dengan nama Tinah atau Nah begitu lo Sus. Nanti aku juga akan manggil kamu dengan Siyem, atau Yem begitu. Kamu sekarang sudah jadi Susy, dan aku Kartien. Kalau nasib berpihak pada kita Sus, sebenarnya kita-kita ini kan pantas jadi bintang sinetron. Tapi nasib kita memang hanya sampai di sini.

Lalu sebenarnya yang tidak adil itu siapa  to Sus? Apa Gusti Allah atau Pak Presiden? Ya kalau Ratu Adil, harusnya kan bisa mengurus rakyatnya hingga sekolahnya tinggi, hingga bisa hidup enak, hingga tidak keleleran, hingga tidak menjadi lonte seperti kita ini ya Sus? Apa ada orang ngudang anak perempuan mereka, dengan harapan supaya kalau besar menjadi lonte? Simbokku tidak begitu, Makmu kan juga tidak begitu to Sus? Ya memang tidak pernah ada anak perempuan yang cita-citanya ingin menjadi Lonte. Tapi kalau presidennya, menterinya, lurahnya, bahkan juga ustadnya, tidak bisa ngurus rakyat, ya mending jadi lonte. Tapi kalau sudah jadi lonte dirazia, diobrak-abrik, wong jadi lonte ya mèmèk- mèmèk kita sendiri kok pada sirik mereka itu.

* * *

Sus, katamu kamu punya strategi untuk menggaet tamu ya? Bagaimana? Apa kamu tidak mau mengajari aku ini Sus? Itu lagu lama Sus. Kau merayu tamu dengan mengatakan bahwa sudah lebih dari sebulan tak pernah terpuaskan, karena tamunya sudah tua-tua? Dan korban itu lalu dengan antusias bersedia untuk kamu tenteng ke kamarmu? Jitu ya Sus? Aku akan coba terapkan. Tapi apakah kamu tidak tahu model di Solo? Aku punya teman yang pernah ikut Mami di Solo. Maminya laki-laki lo Sus, bukan perempuan. Tapi dia okey banget strategi menggaet korban. Teman itu harus siap untuk ganti-ganti kostum dan peran. Sore ini jadi ibu guru TK, yang suaminya pemabuk. Tak lama kemudian harus jadi anak SMA yang orang tuanya suka berantem, dan ia harus membiayai adik-adiknya.

Kata teman itu, ia pernah harus menjadi mbok-mbok yang jualan sayur di pasar. Ia terpaksa pakai konde, pakai kain lurik dan kebaya. Tapi tak lama kemudian ia harus pakai blazer, karena sekarang  ia seorang sekretaris direktur yang sekaligus jadi simpanannya, tapi si Direktur itu sudah impoten. Malamnya ia harus ganti kostum wayang orang. Ia pemeran Srikandi dalam wayang orang itu, yang suaminya hanya tukang becak, dan anaknya masih kecil-kecil. Lucu ya Sus? Kata teman itu, ia pernah kepergok dengan tamu yang sama, tetapi dengan kostum yang berbeda, dan tamu itu marah-marah lalu tidak jadi memakainya. Apa kamu tidak pernah mendengar teman-teman yang suka ke Kemukus kalau malam Jumat Pon dan Jumat Kliwon? Di sana enak lo Sus, kita pura-puranya jadi pedagang yang sedang mencari srono.

Apa kau mau coba? Boleh juga Sus. Tetapi harus dengan Parti. Ya, dia memang sudah lama main di Kemukus. Tampang Parti kan gemuk, ya tampang mak-mak yang jualan beras di pasar itu. Dia mengaku sebagai Bu Parti dari Pacitan. KTPnya memang  KTP Pacitan. Jadi laki-laki itu percaya saja. Tapi setelah semuanya selesai, dia bilang kalau sudah kehabisan uang untuk pulang, dan minta berapa saja. Orang-orang itu pasti ngasi antara Rp 50.000,- sampai Rp 100.000,- Kalau selama semalam itu ia bisa dapat tiga korban, maka beberapa hari bisa agak rileks. Dan ndilalah ya Sus, dalam keadaan rileks demikian justru selalu saja ada yang memilih Parti. Padahal ia mengaku tidak punya pengasihan apa pun. Katanya, setelah mandi di Sendang Ontrowulan, memang selalu saja ada laki-laki yang mengejarnya.

Tetapi kata Parti, selalu saja ada tidak enaknya. Orang-orang itu kan pasti akan datang lagi pada Jumat Pon berikutnya. Ada kemungkinan juga akan ketemu lagi. Sebab berapa luas sih Kemukus? Kalau sudah demikian, ia yang repot. Sebab orang itu kan harus ketemu lagi dengan yang pernah diajaknya pada Jumat Pon sebelumnya. Malah beberapa orang tanya nomor HP segala. Sudah diumpet-umpetin, ada juga yang tahu. Parti selalu kasih nomor asal saja. Yang penting nomornya tetap terahasiakan. Apa kamu tidak akan ikut mencoba Susy? Aku akan mulai ikut Parti Jumat Pon depan ini. Tapi katanya, dandananku harus disesuaikan. Aku juga harus mengaku sebagai juragan selepan di Wonogiri. KTPku kan KTP Donorojo. Sebab orang-orang itu pasti minta ditunjukkan KTP, mereka juga menunjukkan KTPnya.

Kata Parti, kita naik bus saja ke Solo, turun di Tirtonadi, lalu ganti bus yang ke Purwodadi, nanti turun lagi dan naik perahu. Tidak tahu, kok harus naik perahu segala macam. Katanya menyeberangi Kedungombo. Tapi di sana memang enak Sus. Sebab orang-orang yang datang kan bukan untuk cari hiburan, melainkan mencari srono. Tetapi kita juga harus modal. Kita harus ikut beli kembang, membakar kemenyan, membeli telur ayam, memberi uang srono pada juru kunci, dan kemudian mandi di Sendang Ontrowulan. Katanya Parti pernah masuk angin, karena semalam harus mandi sebanyak lima kali. Tapi lumayan juga sebab dari lima tamu itu dia dapat hampir Rp1.000.000,- Dia bisa membayar Mami di sini untuk sebulan. Jadi dia bisa lebih rileks dan tidak kemrungsung.

Tetapi, Parti juga bilang, kalau temannya ada juga yang polos saja. Ya mereka itu Rabu Legi atau paling lambat Kamis Pahing sudah ada di Kemukus, lalu mencari mangsa. Mereka berdandan, dan juga bergaya sebagai PSK. Ya mereka jujur mengajak tidur, tarifnya Rp50.000 sekali main, kalau mau dimut ya Rp100.000 lalu tinggal tamunya mau atau tidak. Kalau kepepet, teman-teman Parti itu ya mau saja dibayar Rp30.000, asal jangan kurang dari itu. Sebab yang Rp10.000 untuk kamar, lalu yang Rp10.000 untuk makan, jadi masih ada sisa Rp10.000. Kalau pas ada mangsa yang baik hati, mereka bisa saja diberi Rp200.000, malah ada yang lebih.

* * *

Bagi Kartien, mengikuti Parti tidak mudah. Dia harus berdandan sebagaimana halnya seorang juragan selepan. Bisnisnya adalah penggilingan beras. KTPnya Donorojo. Ini tidak boleh keliru. Untuk itu dia harus tahu harga gabah. Berapa biaya solar untuk satu hari. Berapa upah nyelep. Satu kuintal gabah akan jadi berapa kilo beras. Dia juga harus tahu nama-nama gabah. IR 64, mentik wangi, pandan wangi, dan lain-lain. Kalau ngomong soal selepan tidak meyakinkan, maka mangsa akan curiga, dan sulit digaet. Kecuali mereka yang memang ingin mencari hiburan. Parti memang jago untuk hal satu ini. Potongan tubuhnya sudah pas sebagai juragan. Tinggal cara berpakaian, perhiasan, dan makeup. Lalu omongan harus disesuaikan. Cara merayu korban juga beda dengan mereka yang mau mencari hiburan.

“Ternyata sulit untuk mengubah kelakuan lonte menjadi juragan selepan, ya Parti ya?” Ketika itu Kartien sudah dandan. “Dan ketika berhasil Tien, aku pernah kena batunya. Ada anak muda ngakunya dagang baju di Mojokerto. KTPnya dia tunjukkan, ya KTP Mojokerto. Bodonya aku percaya begitu saja Tien. Padahal biasanya kalau orang dagang, KTP Mojokerto bisa saja dagangnya di mana-mana sampai ke Jakarta sana. Semua yang dagang kreditan kan dari Tasik, dan hampir selalu ber KTP Tasik. Aku percaya saja lalu masuk. Jebulé Tien, dia itu lonté lanang. Dia ikut ritual, bawa bunga, sajen, ke juru kunci, doa, mandi di sendang. Semua sangat meyakinkan. Aku kan nafsu juga karena dia muda sekali Tien. Tapi habis main dia mulai berlagu minta duit.”

“Lalu aku harus juga ngasi duit? Tidak! Aku bentak dia. Aku ini juga lonté! Dari tadi belum juga dapat duit. Malah kamu mau minta duit. Dia lalu minta-minta maaf, karena mengira aku ini benar juragan beras. Sudah modal beli kembang dan sajen, modal mandi, e, dapatnya cuma capek. Maka aku kapok merayu yang muda-muda, takut keliru. Meskipun aku pernah juga dapat yang masih sangat muda Tien! Umurnya baru 18 tahun dan pasti masih perjaka. Aku yakin dia benar akan mencari srono, karena datang dengan pamannya. Pamannya sudah datang empat kali, sama bakul sayuran dari Tegal. Keponakannya ini baru sekali. Dapat aku. Hanya aku tidak tega mau minta duit Tien. Maksudku supaya selapan kemudian dia datang lagi. E, tahunya juga sekali itu saja.”

Tiap Jumat Pon, dan juga Jumat Kliwon, areal Gunung Kemukus memang berubah menjadi seperti pasar malam. Ada orang yang mau ziarah. Hanya ziarah saja, tanpa embel-embel lainnya. Yang begini ini biasanya mereka yang sudah sukses, atau yang tidak tahu tradisi Kemukus. Kelompok kedua adalah laki-laki, dan perempuan yang ingin mencari srono, untuk itu harus mencari pasangan tetap, dan akan datang sebanyak tujuh kali setiap Jumat Pon. Kelompok ketiga adalah para pekerja seks komersial, baik perempuan, maupun laki-laki yang disebut Parti sebagai “lonte lanang”. Kelompok keempat adalah laki-laki yang datang sekadar untuk mencari hiburan. Khususnya anak-anak sekolah. Polisi pamong praja Kabupaten Sragen sering melakukan razia terhadap anak-anak sekolah ini.

Kartien sadar, bahwa dirinya, juga Parti dan Susy, hanyalah kelompok pekerja seks komersial, yang bermaksud menawarkan jasa bagi mereka yang ingin ngalap berkah. Susy mencoba trik yang sederhana, dan ternyata juga bisa berhasil. “Masé, aku ini memang lonté. Tapi sekarang ini mencari pasangan sama-sama pedagang kan juga susah. Sudahlah sama aku saja bayar murah. Aku ini sebenarnya kan juga dagang daging. Tapi yang didagangkan bukan daging ayam, daging kambing, atau daging sapi, melainkan daging sendiri. Jadi sama saja to Mas.” Biasanya laki-laki itu akan tanya berapa tarifnya, lalu Susy menjawab seratus, ditawar limapuluh, lalu jadilah sepakat tujuhpuluh lima ribu rupiah. Lumayan. Kalau selama malam Jumat Pon itu Susy bisa menggaet empat orang saja, berarti sudah dapat Rp300.000.

Ramainya Gunung Kemukus memang hanya tiap Jumat Pon. Tetapi Jumat berikutnya, yakni Jumat Kliwon sebenarnya juga ada tamu yang agak lebih ramai dibanding hari-hari biasa. Selasa Kliwon sebenarnya tamu juga sedikit lebih banyak dari hari-hari biasa. Hingga paling ramai memang Jumat Pon. Atau tiap tanggal Satu Suro. Karena Selasa Kliwon ke Jumat Pon dan Jumat Kliwon itu jaraknya hanya sebelas hari, kadang-kadang ada saja teman-teman Parti yang datang Selasa Kliwon, lalu pulang Jumat Kliwon minggu berikutnya. Hari-hari biasa memang sangat sepi, tetapi kadang-kadang ada saja orang iseng, terutama pada siang hari. Anak-anak sekolah dulu pernah ramai, sebelum dirazia oleh aparat kabupaten.* * *

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: