Bunga tujuh macam

26/01/2015 at 13:08 (novel)

Stasiun kereta api Tugu Yogyakarta. Kereta api Argo Lawu dari stasiun Solo Balapan Surakarta, masuk dengan sangat pelan dan berhenti di sepur 4. Penumpang yang turun sama sekali tidak ada. Penumpang yang naik juga hanya beberapa. Pedagang makanan, terutama bakpia Patok, dan kaos Dagadu, berlompatan naik,  tetapi tak lama kemudian mereka turun lagi, sebab penumpang sepi. Meilan duduk berhadap-hadapan dengan Sarmin. Bagi Sarmin, ini adalah pengalaman pertamanya bisa naik kereta api bagus, dan di depannya duduk seorang perempuan yang sangat cantik. “Pak Sarmin, ayo ceritanya dilanjutkan. Bagaimana awalnya Pak Sarmin kemudian bisa berangkat ke Kemukus? Tadi sampai di mana tadi? Istri Pak Sarmin ya? Siapa namanya? Wati?”

Tahun lalu, sebenarnya istri saya sudah ribut Bu. Dia minta agar saya segera berangkat ke Kemukus. Tetapi cara dia minta memang tidak mengenakkan hati. Dia menyuruh saya seperti menyuruh pembantu, sambil marah-marah, sambil membentak-bentak. Saya terpaksa mendiamkannya. Tapi dia tetap ngomel-ngomel tiap hari. Hati saya baru luluh Bu, ketika malam-malam dia menangis. Badannya panas. “Aku besuk tidak bisa mencuci. Tidak tahu Yu Ginah bisa membantu atau tidak. Kalau kamu tidak mau mencari srono, ya sudahlah. Memang sudah nasibku begini ini. Aku harus menjadi buruh mencuci seumur hidup. Akhirnya Ibu, saya memutuskan untuk menuruti permintaannya. Sebenarnya saya sudah merencanakan berangkat pada Jumat Pon, tanggal 26 Januari.

Tetapi pas saya mau berangkat, kembali Wati ngomel-ngomel. Saya memutuskan untuk tidak jadi berangkat. “Kalau kamu yang mau pergi ya sana pergi. Kalau sukses, nanti cucianmu akan tambah banyak, yang membantu kamu juga tambah banyak lagi, dan kamu jadi kaya.” Tetapi dia tidak mau. Dia mau saya yang berangkat. “Kepala keluarga itu kan kamu Min, bukan aku. Kecuali aku ini janda.” Maka bulan Februari aku merencanakan berangkat. Tetapi Februari tidak ada Jumat Pon. Hari Jumat Pon berikutnya jatuh pada 2 Maret. Pas tanggal itu anak saya yang kecil sakit Bu. Wati sebenarnya memaksa saya untuk berangkat. Saya yang tidak mau. Hingga saya baru benar-benar bisa berangkat pada hari Jumat Pon, tanggal 6 April.    Meskipun ketika itu, sebenarnya saya juga agak berat untuk pergi.

Rabu Legi saya sudah berangkat naik bis dari Kampung Rambutan Bu. Bis Jakarta Surakarta, lewat Semarang. Seperti pesan Wati, saya harus berhenti di Terminal Bis Tirtonadi. Dari sini saya ganti bis ke arah Purwodadi, dan turun di mana saya lupa Bu. Kata orang-orang, dari sini saya harus menyeberang pakai sampan atau rakit. Ternyata ketika saya datang, air sudah surut, hingga saya bisa jalan kaki. Memang harus lepas sandal dan menggulung celana. Tetapi jalan dan jembatan itu bisa dilewati. Orang-orang ada yang naik ojek sepeda motor. Saya jalan kaki tidak apa-apa, sebab tiap harinya saya juga jalan kaki sambil mendorong gerobak bakso. Banyak juga ibu-ibu yang datang ke gunung ini. Saya tidak tahu harus bagaimana sesampai di tempat itu. Saya lalu masuk warung dan minta kopi. Sebelum saya tanya macam-macam, pemilik warung itu sudah banyak bercerita.

Katanya saya harus membeli bunga, kemenyan, telur ayam kampung, dan ke dalam bungkusan bunga itu saya harus menyelipkan uang. Jumlahnya sukarela. Tetapi paling kecil lima ribu rupiah. Katanya, ada juga yang sepuluh ribu, duapuluh ribu, limapuluh ribu, bahkan ada yang sampai ratusan ribu. Tetapi kata pemilik warung itu, yang menyelipkan uang sampai ratusan ribu, biasanya yang sudah sukses. Mereka yang benar-benar sudah sukses, langsung memberikan uang itu kepada juru kunci, untuk selamatan. Katanya, ada juga yang setelah sukses, bukan hanya selamatan, melainkan memotong kerbau, dan menanggap wayang kulit semalam suntuk. Kata yang punya warung itu, yang gagal juga banyak. Mereka yang gagal itu, ada yang tetap rajin datang, tetapi ada pula yang kemudian berhenti.

Mereka yang gagal itu, kata pemilik warung, biasanya memang niatnya tidak tulus. Tidak serius. Ya ada yang hanya mau mencari perempuan, atau laki-laki, ada yang hanya mau pelesiran, atau memang kelakuan mereka tidak beres. Kalau orang bangkrut karena judi atau mabuk, atau suka main perempuan, katanya akan ditolak oleh Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan. Ya ada-ada saja halangan mereka. Tetapi terutama, yang paling sering terjadi, pasangan mereka tidak datang. Ya terpaksa harus mengulang lagi, atau mencari srono yang lain. Yang gagal biasanya tidak mau cerita-cerita. Yang berhasil, biasanya memang seperti sengaja dijodohkan. Jadi rombongan dari Cirebon misalnya, saling membawa orang baru, lalu barter pasangan dengan rombongan dari Nganjuk.

* * *

Maryo adalah blantik dari Purworejo. Dia sudah sejak remaja berdagang ternak, khususnya kambing. Kadang ia juga jual beli sapi dan domba, tapi yang utama kambing, khususnya kambing peranakan ettawa, yang orang-orang menyebutnya sebagai kambing gibas, atau kambing benggolo. Suatu ketika dia bangkrut, karena istri mudanya merongrong. Setelah cerai dari istri mudanya, ia kembali ke istri tua. Lalu ada yang menyarankan agar ia ke Gunung Kemukus untuk mencari srono. Sebenarnya sebagai blantik ia sudah punya bekal. Antara lain, ketika remaja dulu ia disuruh puasa tujuh hari tujuh malam, disuruh menghapal rapal. Ilmu itu kemudian dia praktekkan. Seorang peternak minta agar kambing jantannya seberat sekitar 70 kg. ngotot minta dibayar Rp1.000.000, sama sekali tidak boleh kurang.

Dia salami pemilik kambing itu, sambil menyodorkan uang Rp800.000,- sambil membaca rapal. Kambing lalu dituntunnya pergi, dan pemilik kambing itu diam saja. Tetapi ada pantangan yang kemudian ia langgar. Ia seharusnya tidak boleh marah-marah kepada anak istrinya, betapapun jengkelnya. Sejak itulah bisnis  blantikannya kacau. Ia mulai menjual tanah demi tanah, yang selama ini dia beli dari keuntungan usaha blantikannya. Sampai suatu saat ia sama sekali tidak punya apa-apa lagi. Ketika kemudian ia mencoba ke Kemukus, hasilnya segera tampak. “Tidak tahu mengapa, pelan-pelan usaha blantikan saya hidup lagi. Pasangan saya kebetulan bakul sate dan gule kambing dari Cirebon. Dia juga punya suami, dan kesini atas ijin suaminya.”

Disalah satu warung itulah Sarmin bertemu dengan Maryo. “Ya, kalau kamu baru sekali ini datang, harus sabar Mas. Saya sudah lima kali sekarang ini. Tapi Alhamdulillah, sejak kedatangan saya yang keempat, blantikan saya mulai hidup lagi. Asal itu tadi, pasangan kita cocok. Kalau tidak ya susah. Tapi bunga yang kita gunakan juga besar pengaruhnya lo Mas. Bunga itu harus tujuh macam. Maka saya tidak pernah membeli bunga di sini. Saya selalu membeli di Pasar Kembang di Solo sana. Di sini bunganya kan asal bunga saja. Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan, mensyaratkan kita membawa bunga tujuh macam. Mawar merah, mawar putih, melati, kantil, cempaka, kenanga, dan selasih. Perlu pula ditambah irisan daun pandan, dan baru kemudian kemenyan.”

“Di sekitar sini, yang dijual kan hanya mawar dan sedikit kenanga, lalu irisan daun pandan. Tidak mujarab. Meskipun masing-masing hanya satu kuntum, asalkan lengkap, akan lebih diterima oleh Pangeran dan Nyai, dari pada satu bungkus besar tetapi isinya hanya mawar. Untung dulu saya ada yang memberi tahu, hingga sejak datang pertama kali, sudah membawa tujuh macam bunga. Sebenarnya ini juga soal hati. Kalau sampeyan sudah mantap hanya dengan membeli bunga di sini, ya tidak apa-apa. Bahkan ada juga kok mereka yang hanya datang, ke makam, mandi, dan terus pulang, tetapi ternyata juga sukses. Tetapi mereka yang membawa tujuh macam bunga, semuanya sukses. Saya ini kan sebelumnya sama sekali tidak menduga. Baru datang tiga kali, ternyata bisnis sudah mulai membaik.”

“Sebentar lagi pasangan saya akan datang. Kalau ini yang kelima, berarti saya masih harus dua kali lagi datang. Demikian juga pasangan saya. Kata dia, sejak kedatangan kami yang ketiga, bisnisnya juga mulai membaik. Ceritanya kan begini. Warung sate Bu Ginah ini, dulunya sangat ramai. E, kena gusur. Lokasi yang baru ini sangat sepi. Ya langsung omsetnya ngedrop. Tapi sejak kedatangan ketiga, katanya omsetnya pelan-pelan mulai naik. Sampeyan ini bakso ya? Saya kira bakso juga sama saja. Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan itu tidak pilih kasih. Dagang bubur saja bisa diberi berkah kok. Ketika saya datang keduakalinya, ketemu dengan bakul bubur dari Brebes, pasangannya bakul bumbu dari Kuningan. Ketika itu mereka sudah datang ketujuh kalinya, dan katanya sudah sangat bagus bisnis mereka.

Tukang martabak dan warung tegal yang datang ke sini juga banyak. Ya mereka berpasangan dengan juragan beras, juragan telur, juragan buah, juragan sayuran, ya macam-macam. Waktu saya datang pertama kali dulu itu, ada juragan buah dari Malang, yang sudah datang kesini ini sekitar dua tahun. Memang apes dia. Pasangannya ganti-ganti terus, bahkan katanya ada yang meninggal. Nah, pas saya datang pertama itu dia berhasil rutin dengan pasangan tetap sampai ke tujuh kalinya. Dia agak royal ketika itu, hingga orang-orang banyak yang ditraktirnya. Itu, juragan buah itu, cantiknya luar biasa. Seperti bintang film India itu lo. Ya kasihan juga dia karena harus menerima cobaan sampai dua tahun lebih di sini.

* * *

Sarmin membeli bunga, telur ayam kampung, kemenyan, dan menyelipkan uang Rp10.000,- Jumlah itu dirasanya pas. Sebab Rp5.000,- bagi Sermin terlalu kecil. Tetapi Rp20.000,- sudah terlalu besar. Dia naik ke cungkup, melepas sandal lalu antre. Panjang sekali antrean sore itu. Ada sekitar 50 orang, dan tampaknya masih akan bertambah terus. Mereka yang ikut antre, terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan perbandingan yang seimbang. Tetapi tidak ketahuan mana yang baru pertama kali datang, dan mana yang sudah lebih dari satu kali. Mereka yang sudah datang lebih dari satu kali pun, bisa tidak antre bersamaan. Meskipun satu dua, tampak ada laki-laki dan perempuan yang sudah sangat akrab satu sama lain. Kemungkinan besar, mereka sudah datang lebih dari satu kali.

Di antara deretan panjang para pengantre itu, juga ada Kartien. Dia membeli bunga, telur ayam kampung, dan menyelipkan uang, cukup Rp5.000,- Kartien antre sambil mengamati calon korban. Mana di antara sekian banyak pengantre ini yang baru pertama kali datang, hingga belum punya pasangan. Setelah ritual ziarah selesai, para pengantre itu mandi, lalu dilanjutkan dengan pencarian pasangan. Setelah berkali-kali kenalan, dan saling merayu, Sarmin bertemu dengan Kartien. Mereka berdua juga saling memperlihatkan KTP. “O, Kartinah to, namamu. Kok Kartin. Bener kamu ini juragan selep? Kalau aku ini benar tukang bakso. Tapi kalau benar kamu ini juragan selep, jangan minta duit. Aku ini sedang susah, jadi kamu minta duit juga percuma.”

Kartien was-was. Jangan-jangan benar Sarmin ini tidak punya duit. Kalau begitu sia-sialah dia beli bunga, telur ayam kampung, dan selipan uang Rp5.000,- itu? Tapi ya cobalah, siapa tahu orang ini hanya sekadar menggertak, agar ia tidak minta bayaran terlalu mahal. Mereka berdua lalu ke kamar yang sudah disewa Kartien, yang lebih tepat disebut bilik, karena ukurannya yang sangat kecil, dan berdinding papan atau triplek. “Ini kalau seperti ini kan kedengaran dari sebelah-sebelah?” Kartien membentak. “Ya jelas kedengaran, dan ya biar saja. Mereka mendengarkan kita, kita juga ganti mendengarkan mereka. Gitu saja kok repot.” Maka Sarmin dan Kartien pun berhubungan seks, dengan keperluan yang berbeda. Sarmin berharap inilah langkah awal untuk memperbaiki nasib. Kartien berharap akan dibayar tinggi oleh Sarmin.

“Aku tadi kan sudah bilang, jangan minta duit. Kalau benar kamu memang juragan selep, mengapa minta uang ke aku? Juragan selep kan lebih kaya dari tukang bakso?” Kartien menangis. “Aku memang lonté, Mas. Tolong dong aku dibayar. Kalau tidak aku tidak bisa makan.” Sarmin mengambil dompetnya. “Kalau hanya untuk makan, aku akan kasih. Uangku itu pas-pasan. Ini untuk makan, ini untuk sewa kamar, ini untuk naik bis kembali ke Jakarta, ini untuk makan di jalan. Kamu kalau mau nglonté ya lihat-lihat dulu. Di sini ini bukan tempat cari duit, aku ini orang susah. Ini sepuluh ribu.” Kartien membelalak. “Apa? Sepuluh ribu? Mèmèkku hanya dibayar sepuluh ribu? Kamu ini keterlaluan, sepuluh ribu itu hanya untuk kamar tahu!” Sekarang Sarmin yang membentak. “Kamu  bilang minta untuk makan. Ya ini. Aku bukan membayar Mèmèk!”

Setelah ribut cukup lama, Sarmin dan Kartien sepakat dengan angka Rp 30.000,- Kartien masih bersungut-sungut. Tetapi Sarmin juga tak kalah keras ngomelnya. “Gagal kali ini saya. Tadi katanya juragan selepan. E, tahunya lonté. Berarti nanti pada Jumat Pon berikutnya, aku harus lebih hati-hati. Sudahlah, kalau mau ya itu, kalau tidak mau ya akan kukantongi lagi. Sana cari laki-laki yang kaya. Jangan saya yang hanya tukang bakso bangkrut. Kartinah lalu kembali dandan, membeli bunga, membeli telur ayam kampung, menyelipkan lembaran uang Rp 5.000,- lalu kembali antre di joglo makam Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan. “Mudah-mudahan kali ini aku dapat laki-laki yang kaya. Tidak kéré seperti Sarmin tadi. Kok ya ada laki-laki seperti itu datang ke Kemukus ini ya?”

Sarmin sebenarnya masih berusaha untuk mencari-cari perempuan yang memang benar-benar ingin mendapat pasangan. Tetapi dirinya memang tidak terlalu berani. Sebab sebenarnya, ketika itu ada dua ibu-ibu yang tampak termangu-mangu di depan warung. Penampilannya bersih dan rapi. Mungkin mereka berdua baru pertama kali datang, hingga kikuknya sulit disembunyikan. Tetapi Sarmin tidak berani mendekatinya, apalagi sampai menegur dan mengajaknya ngobrol. Ya kalau mereka menjawab dengan baik? Kalau ia dibentak-bentak seperti Wati membentak-bentaknya di rumah sana? Kan malu di tengah orang banyak seperti ini dibentak-bentak. Maka malam itu Sarmin seperti orang bingung. Dia harus mendapat pasangan baru, atau pulang dan mengulang lagi dari awal? * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: